Hukum Memakai Cadar bagi Wanita


I.MUQADIMAH

Kita mengetahui bahwa perdebatan mengenai masalah-masalah khilafiyah itu tidak akan selesai dengan adanya makalah-makalah dan tulisan-tulisan lepas, bahkan dalam bentuk sebuah buku (kitab) sekalipun. Selama sebab-sebab perbedaan pendapat itu masih ada, maka ikhtilaf (perbedaan pendapat) itu akan senantiasa ada diantara manusia, meskipun mereka sama-sama muslim, patuh pada agamanya, dan ikhlas. Bahkan kadang-kadang komitmen dan keikhlasan terhadap agama menyebabkan perbedaan pendapat itu semakin tajam. Masing-masing pihak ingin mengunggulkan dan memberlakukan pendapat yang diyakininya benar sebagai ajaran agama yang akan diperhitungkan dengan mendapatkan pahala (bagi yang melaksanakannya) atau mendapatkan hukuman (bagi yang melanggarnya).

Perbedaan pendapat itu akan terus berlangsung selama nash-nashnya sendiri – yang merupakan sumber penggalian hukum – masih menerima kemungkinan perbedaan pendapat tentang periwayatan dan petunjuknya, selama pemahaman dan kemampuan manusia untuk mengistimbath (menggali dan mengeluarkan) hukum masih berbeda-beda, dan sepanjang masih ada kemungkinan untuk mengambil zhahir nash atau kandungannya, yang tersurat atau yang tersirat, yang rukhshah (merupakan keringanan) ataupun yang ‘azimah (hukum asal), yang lebih hati-hati atau yang lebih mudah. Perbedaan pendapat akan senantiasa muncul selama manusia masih ada yang bersikap ketat seperti Ibnu Umar a dan ada yang bersikap longgar seperti Ibnu Abbas a ; dan selama diantara mereka masih ada orang yang menunaikan shalat ashar di tengah jalan dan ada yang tidak menunaikannya melainkan di perkampungan Bani Quraizhah (setelah sampai di sana).Adalah merupakan rahmat Allah bahwa perbedaan pendapat seperti ini tidak terlarang dan bukan perbuatan dosa, dan orang yang keliru dalam berijtihad ini dimaafkan bahkan mendapat pahala satu. Bahkan ada orang yang mengatakan, “Tidak ada yang salah dalam ijtihad-ijtihad furu’iyah ini, semuanya benar.”

Para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik juga sering berbeda pendapat antara yang satu dengan yang lain mengenai masalah-masalah furu’ (cabang) dalam agama, namun mereka tidak menganggap hal itu sebagai bahaya. Mereka tetap bersikap toleran, dan sebagian mereka shalat di belakang sebagian yang lain, tanpa ada yang mengingkari. Dengan menyadari bahwa perbedaan pendapat itu akan senantiasa ada.

Ketika ulama berfatwa bukan berarti tidak mengacu kepada Rasulullah n , sehingga terkesan sebagian orang ingin meninggalkan fatwa ulama dan hanya mengacu kepada Rasulullah n saja. Ini adalah pemahaman yang keliru tentang fatwa. Sebab fatwa lahir dari ijtihad dan ijtihad itu adalah upaya sungguh-sungguh dari seorang yang punya kapasitas terntentu dengan menggunakan metode yang teramat ilmiyah untuk menyimpulkan hukum syariat Islam berdasarkan Al-Quran Al-Kariem dan Sunnah Rasulullah n.

Terkadang ada keterangan dari Rasulullah n yang sifatnya jelas, tegas dan to the point, Maka kita tidak butuh lagi fatwa dan para ulama pun tidak perlu lagi berijtihad. Semua orang cukup dengan sekali baca sebuah hadits atau ayat, langsung saat itu juga tahu hukum suatu masalah. Dalam kasus-kasus yang telah jelas dan terang dalilnya, kita tidak perlu lagi mengutak-atik hukumnya.

Namun ada sekian banyak permasahalahan yang tidak ada dalilnya yang sharih, bahkan terkadang hukumnya tersamar atau tidak disebutkan secara langsung atau tidak to the point tentang suatu hal. Sehingga sangat besar kemungkinannya untuk menimbulkan kesimpulan hukum yang berbeda antara satu orang dengan lainnya.

Tidak jarang dalil-dalil itu bukannya tidak ada, melainkan seakan satu sama lain saling bertentangan. Dan kasus ini bukan hanya dalam satu dua kasus, melainkan ada banyak kasus yang demikian.

Yang menarik, kerepotan dalam mengambil kesimpulan hukum ini bukan hanya dialami oleh kita di masa sekarang ini saja. Bahkan dahulu para shahabat sendiri pun pernah mengalami hal yang sama. Meski bunyi petunjuk dari Rasulullah n sama, namun mereka memahaminya dengan cara yang berbeda. Seperti kasus shalat ashar di perkambungan Bani Quraidhah yang terkenal itu.

Maka untuk bisa memahami hukum yang terkadung dalam sebuah dalil, diperlukan metode analisa yang tajam, aktual dan terpercaya. Yang mempu melakukannya tentu orang-orang yang punya kapasitas terutama dari sisi kafaah syar`iyah. Dan kegiatan ini disebut dengan ijtihad dan hasilnya adalah fatwa para ulama. Kalau antara satu fatwa dengan yang lainnya tidak sesuai benar, tugas kita adalah meneliti kembali manakala diantara fatwa-fatwa itu yang ditunjang dengan dasar yang lebih kuat. Bukannya kembali kepada Rasulullah n, sebab semua pun sedang berusaha kembali kepada Rasulullah n. Tapi manakah yang paling bisa diterima hujjahnya dalam rangka kembali kepada Rasulullah n.

Dan kita tidak perlu bingung berhadapan dengan banyak fatwa yang berbeda itu, silahkan lihat dasar pijakannya dan bandingkan antara satu dan lainnya. Yang paling kuat menurut anda itulah yang bisa anda pilih. Dan salah satu indikator yang paling kuat adalah yang dipegang oleh jumhur ulama, meski bukan satu-satunya indikator.

Maka mudah-mudahan Allah lmemberi taufik kepada penulis hingga mampu mengungkapkan pendapat yang benar, yang dapat memutuskan perselisihan atau memberikan solusi dalam perselisihan pada permasalahan cadar ini .

 

II.PENGERTIAN

Di katakan dalam kamus Al Muhith bawa kata cadar dalam bahasa arabnya (نقاب) Atau nikoob mempunyai arti : kain yang di gunakan untuk menutupi muka seorang wanita1.
Istilah cadar sendiri sudah di kenal pada awal di wajibkannya hijab, sebagaimana Shofiyah binti Sirin menjadikan jilbabnya sebagai cadar padahal umurnya melebihi enam puluhan. (lihat Jilbatul Mar’ ah Al Muslimah Oleh Syaikh Muhammad Nasrudin Al Baani ).

 

III. FATWA TENTANG CADAR DAN HUJJAHNYA

Masalah kewajiban memakai cadar sebenarnya tidak disepakati oleh para ulama. Maka wajarlah bila kita sering mendapati adanya sebagian ulama yang mewajibkannya dengan didukung dengan sederet dalil dan hujjah. Namun kita juga tidak asing dengan pendapat yang mengatakan bahwa cadar itu bukanlah kewajiban. Pendapat yang kedua ini pun biasanya diikuti dengan sederet dalil dan hujjah juga.

Dalam kajian ini, marilah kita telusuri masing-masing pendapat itu dan dengan dalil dan hujjah yang mereka ajukan. Sehingga kita bisa memiliki wawasan dalam memasuki wilayah ini secara bashirah dan wa’yu yang sepenuhnya. Tujuannya bukan mencari titik perbedaan dan berselisih pendapat, melainkan untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang dasar isitmbath kedua pendapat ini agar kita bisa berbaik sangka dan tetap menjaga hubungan baik dengan kedua belah pihak.

 

A.Kalangan Yang Mewajibkan Cadar

Perlu di ketahui bahwasanya cadar merupakan suatu amalan yang di wariskan secara turun –temurun sejak masa sahabat ghinggga generasi setelahnya dan suatu amalan yang di lakukan secara turun temurun ini merupakan hujjah syar’I yang mesti laksanakan . dan kaum muslimin pun telah sepakat akan hal ini dan telah di kenal pada masa permula’an Islam , masa sahabat dan masa Tabi’in. hal itu di sampaikan oleh sejumlah Imam ulama di antaranya : Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr v , Imam An-Nawawi v , Ibnu Taiimiyah v dan praktek ini tetap berlaku hingga sekitar pertengahan abad ke -14, yaitu masa tercabik-caiknya Daulah Islamiyah menjadi beberapa negara kecil.

Al-Hafizh Ibnu Hajjar v di dalam kitabnya Fathul al- Baari berkata : ”kebiasa’an para wanita dari zamam dahulu sampai kini, masih tetap menutupi muka mereka dari pandangan orang lain yang bukan muhrimnya 2.

Awal mula terjadinya pembangkangan itu di mulai dengan melepas kerudungn penutup muka di negara Mesir kemudian merambat ke negara Turki , Syam, Irak , dan menyebar luas di Maroko serta negara-negara Non -Arab. setelah itu barulah berkembang kepada fenomena–fenomena mempertonkon Aurat, dengan menanggalkan model pakaian yang bisa menutupi seluruh anggota tubuh –naa uzzu billahi min zalilk.

Mereka yang mewajibkan setiap wanita untuk menutup muka (memakai niqab) berangkat dari pendapat bahwa wajah itu bagian dari aurat wanita yang wajib ditutup dan haram dilihat oleh lain jenis Non- mahram.

Dalil-dalil yang mereka kemukakan antara lain :

 

  1. Surat Al-Ahzab : 59

                       

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzah : 59)

Imam Suyuthi v berkata : ”Ayat ini adalah ayat hijab yang berlaku bagi seluruh wanita. Di dalamnya berisi kewajiban untuk menutupi kepala dan wajah mereka .”

Abu ‘Ubaidah As-Salmani dan lainnya memperaktekkan cara mengulurkan jibab itu dengan selendangnya, yaitu menjadikannya sebagai kerudung, lalu dia menutupi hidung dan matanya sebelah kiri, dan menampakkan matanya sebelah kanan. Lalu dia mengulurkan selendangnya dari atas kepala sehingga dekat kealisnya, atau diatas alis.

Imam As-Suyuthi v berkata : Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, didalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.

Syaikh Bakar bin Abu Zaid v berkata 3 : Perintah mengulurkan jilbab ini meliputi menutup wajah berdasarkan beberapa dalil :

    1. Makna jilbab dalam bahasa Arab adalah : Pakaian yang luas yang menutupi seluruh badan. Sehingga seorang wanita wajib memakai jilbab itu pada pakaian luarnya dari ujung kepalanya turun sampai menutupi wajahnya, segala perhiasannya dan seluruh badannya sampai menutupi kedua ujung kakinya.
    2. Yang biasa nampak pada sebagian wanita jahiliyyah adalah wajah mereka, lalu Allah l perintahkan istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi n serta istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya ketubuh mereka. Kata idna yang ditambahkan hurup ‘ala mengandung makna mengulurkan dari atas. Maka jilbab itu diulurkan dari atas kepala menutupi wajah dan badan.
    3. Menutupi wajah, baju dan perhiasan dengan jilbab itulah yang difahami oleh wanita-wanita Shahabat.
    4. Dalam firman Allah l: Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah intuk dikenal, dan karena itu mereka tidak diganggu. “ Menutup wajah wanita merupakan tanda wanita baik-baik, dengan demikian tidak diganggu. Demikian juga jika wanita menutupi wajahnya, Maka laki-laki yang rakus tidak akan berkeinginan untuk membuka anggota tubuhnya yang lain. Maka membuka wajah bagi wanita merupakan sasaran gangguan dari laki-laki jahat. Maka dengan menutupi wajahnya, seorang wanita tidak akan memikat dan menggoda laki-laki sehingga dia tidak akan diganngu.
    5. Aisyah j berkata : “Para pengendara kendaraan biasa melewati kami, disaat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah n. Maka jika mereka mendekati kami, salah seorang dari kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya pada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)
    6. Asma’ binti Abu Bakar jberkata : “ kami menutupi wajah kami dari laki-laki, dan kami menyisir rambut sebelum itu disaat ihram. (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al. Hakim)

Ini menunjukkan bahwa menutup wajah bagi wanita sudah merupakan kebiasaan para wanita Shahabat.

Demikian juga mazhab Imam Ahmad yang mengatakan : Setiap bagian tubuhnya, termasuk kukunya adalah aurat. Ini juga pendapat Imam Malik. Semenjak turunnya Ayat 59 dari surat Al Ahzab para wanita muslimah ketika itu menutup wajah dari pandangan pria. Jadi wanita dahulu mengenakan Niqob ( cadar).

 

  1. Surat An-Nuur : 31

              

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya.” (QS. An-Nur : 31).

Ibnu Abbas a di dalam menafsirkan ayat ini : “ Zinatahunna illa maa dhoharo minhaa “Yang di maksud ayat ini adalah : Wajah dan kedua telapak tangan termasuk tidak boleh terlihat. Bahkan lebih jauh lagi beliau mengatakan : Dalam Ayat ini Allah l memerintahkan kepada kaum muslimah jikalau akan keluar rumah karena ada suatu keperluan untuk senantiasa menutup seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah kecuali satu mata kirinya yang di gunakan untuk melihat. Di riwayatkan dari Ali bin Abi , dan Tholhah h marfu’ dengan sanad baik/ jayiid. ( lihat Tafsir Imam Ath Thobari Jamiul Ahkam, Tafsir Al Qu’ranul Adzhim Imam Ibnu Katsir, Tafsirnya Imam As Syanqiti Adhwaaul bayan, dan Tafsir Imam Ibnul ‘Arobi Ahkamul Qu’ran )

Ibnu Mas`ud a berkata bahwa yang dimaksud perhiasan yang tidak boleh ditampakkan adalah wajah, karena wajah adalah pusat dari kecantikan. Sedangkan yang dimaksud dengan `yang biasa nampak` bukanlah wajah, melainkan selendang dan baju

Syafi’iyah dan Hanabilah mengatakan ayat ini secara mutlak mengharamkan sesuatu dari anggota tubuh secara mutlak untuk di tampakan begitu juga dengan perhiasan mereka di depan para lelaki asing kecuali yang biasa nampak darinya ( إلا ما ظهر منها )adalah yang dimaksud adalah biduni kosdin wala amdin (tidak sengaja ) semisal pakaiannya terkena sapuan angin lalu terlihat betisnya atau dari sesuatu dari anggota tubuhnya .dll.

Dari sini bisa di ambil kesimpulan bahwasanya para wanita di larang atau di haramkan menampakan wajah dan kedua telapak tangannya kecuali tersingkap dengan tidak di sengaja 4.

  1. Surat Al-Ahzab : 53

                                   

“Apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka , maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti Rasulullah dan tidak mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar di sisi Allah.”(QS. Al-Ahzab : 53)

Adapun konotasi ayat tersebut terhadap kewajiaban berhijab tediri dari tiga aspek:

Pertama: Pada sa’at ayat ini di turunkan, Rasulullah n beserta sahabatnyag seketika itu juga menutupi semua istri mereka . mereka menutupi muka, seluruh anggota tubuh dan perhiasan yang di pakai oleh istri mereka . tindakan semacam ini terus berlanjut bagi istri orang-orang beriman , dan bahkan merupakan ijma amali yang menunjukan umumnya hukum ayat ini bagi semua wanita yang beriaman.

 

Kedua : Di dalam firman Allah l ini terdapat pernyata’an :”

   

” Cara demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka ”

Ini merupakan ilah (alasan) terhadap kewajiban memakai hijab yang dalam firman Allah l :”

فسئلوا هن من وراء حجا ب

” Maka mintalah dari belakang tabir

Adapun hukum ilah di sini bersiafat umum terhadap hal yang di ilahkan , karena kesucian hati laki-lakidan perempuan serta keselamatannnya dari kecuriga’an adalah sesuatu yang di tuntut dari orang Islam, Maka kewajiban mengenakan hijab bagi istri kaum mu’minin tentunya menjadi sesuatu yang lebih di utamakan daripada kewajiban behijab bagi istri-istri Rasulullah n di karenakan istri Rasulullah n itu tanpa di ragukan lagi adalah wanita yang suci dan bersih dari semua cela dan semua kekurangan, Maka menjadi jelaslah, bahwa hukum kewajiban hijab di sini berlaku umum bagi semua wanita, tidak khusus untuk istri-istri Rasul, karena keumuman illah yang ada pada hukum ini merupakan bukti nyata yang menunjukan keumuman hukum ini.

 

ketiga; kaidah yang menyatakan :

االعبرة بعموم للفظ لا بحصوص السباب

“Bahwa dasar pertimbangan hukum adalah keumuman lafadz, bukan kekhususan sebab, kecuali ada dalil yang menyatakan kekhususannya.

Memang kebanyakan ayat al-Qur’an pada dasarnya memiliki sebab di turunkannya. namun membatasi hukum-hukum ayat itu hanya sebatas pada sebab-sebabnya saja, tanpa suatu dalil, merupakan upaya yang mematikan syariat. Jika seperti itu yang terjadi lalu di mana lagi bagian orang-orang beriman ?

 

  1. Hadits yang melarang Berniqab bagi Wanita Muhrim (Yang Ihram)

Menggunakan sebuah hadits yang diambil mafhum mukhalafanya, yaitu larangan Rasulullah n bagi muslimah untuk menutup wajah ketika ihram.

(ولا تنتقب المراة المحرمة وولا تلبس القفا زين)

“Janganlah wanita yang sedang berihram menutup wajahnya (berniqab) dan memakai sarung tangan (. Di dalam Ash-Shohih Bukhori dari Ibnu Umar a)

Dengan adanya larangan ini, Maka lazimnya para wanita itu memakai niqab dan menutup wajahnya, kecuali saat berihram. Sehingga perlu bagi Rasulullah n untuk secara khusus melarang mereka. Seandainya setiap harinya mereka tidak memakai niqab, Maka tidak mungkin beliau melarangnya saat berihram. ” Dan hadits ini pula menyatakan bahwa wanita yang sedang ihrom di larang mengenakan Niqob dan sarung tangan. Ini menunjukan bahwa niqob dan sarung tangan itu di kenakan oleh kaum wanita yang tidak ihrom. Berati wajah dan telapak tangan mereka tutupi.

 

  1. Hadits bahwa Wanita itu Aurat
    Rasulullah n bersabda:

المراة عورة فإذا خرجت أشتسرفها السيطان

“Wanita itu adalah aurat, bila dia keluar rumah, maka syetan menaikinya“. (HR.Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud a di katakan hadis hasan shohoh Ghorib dan Ibnu Hibban juga mertiwayatkannya)

Dari hadis ini bisa di ambil kesimpulan bahwa seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, termasuk wajah, tangan, kaki dan semua bagian tubuhnya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sebagian pengikut Asy-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah.

 

f) Mendhaifkan Hadits Asma j

Hadits Asma` binti Abu Bakar j yang berisi

أن أسماء بنت أبي بكر دحخلت على رسو ل الله ص وعليها ثياب رقا ق فأ عرض عنها رسول الله وقال لها : يأ سما ء إن المرأة إذا بلغت المحيض لم يصلح أن يرى منها إ لا هذا وهذا )) وأ شار إ لي وجهها وكفيها))

Di riwayatkan dari Aisyah :” bahwasanya Asma binti abu Bakar memasuki rumah Rsulullah saw dan Asma sedang memakai baju yang sangat tipis maka rasulullah saw langsung memalingkan mukanya lalu beliau berkata :”‘wahai Asma Seorang wanita yang sudah hadih itu tidak boleh nampak bagian tubuhnya kecuali ini dan ini” Sambil beliau memegang wajah dan tapak tangannya.(HR,Abu Dawud di katakan bahwa hadis ini adalah mursal))

Hadits ini dhoif dilihat dari dua hal :

Pertama: Keadaanya mursal karena kholid bin Darik tidak mendengar dari Aisyah, sebagaimana perkatan Abu Daud, Abu Hatim dan Ar Rozi.

Kedua: Di dalam sanadnya ada Said bin Basyir Al Azdi dikatakan bahwa orang tersebut dhoif.

Ketiga : Hadits tersebut bertentangan dengan nash yang lain yang memerintahkan menutup wajah dan kedua telapak tangannya dan seandainya hadits itu kuat, kemungkinan hadits tersebut sebelum turun perintah hijab.

Ke’empat: Hadits Jabir a : Dari Jabir Al Tsabit Ia berkata : ”Aku menyaksikan bersama Rasulullah n Sholat Ied. Beliau memulai dengan sholat sebelum berkhutbah tanpa memakai adzan dan iqamah. Kemudian beliau berdiri bersandar kepada Bilal. Beliau mewasiatkan untuk bertaqwa kepada Allah l dan menghasung untuk melakukan ketaatan dan memberi nasehat manusia. Kemudian beliau mendatangi kaum wanita dan memberi mereka nasehat dan mendatanginya dan berkata,”Shodaqohlah kalian karena kebanyakan kalian sebagai kayu bakar di jahannam.” Mendengar itu maka berdirilah seorang perempuan dari kerumunan para perempuan kehitam-hitaman pipinya. Dia bertanya,” Kenapa ya Rasululloh? Berkata Rasululloh n,” Karena kalian banyak mengadu dan ingkar kepada suami. ”Maka para wanita tadi mensedekahkan perhiasaan (anting-anting dan cincin mereka) dan melemparkannya ke hamparan kain Bilal. “

Dalam hadits tersebut ada tiga permasalahan:

  1. Perkataan Jabir “ kehitam hitaman pipinya” bukan merupakan dalil bahwa Nabi n melihatnya dalam keadaan terbuka, tetapi hadits tersebut menunjukkan bahwa Jabir melihat wajahnya dan tidak berarti bahwa perempuan tersebut membuka wajahnya secara sengaja.
  2. Kisah tersebut tidak hanya diriwayatkan oleh Jabir saja, seorang perowi-perowi lainnya tidak menyebut bahwa perempuan tersebut membuka wajahnya sebagaimana disebutkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya, dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan lain-lain.
  3. Penyebutan Jabir itu bukan berarti Jabir memuji perempuan tersebut ( Karena kecantikanya) tetapi sebaliknya penyebutan tersebut menampakkan bahwa perempuan itu tidak cantik dan tidak menarik, sebagaimana orang arab menyebutkan bahwa “kehitam hitaman pipinya” maksudnya bahwa orang tersebut hitam dan wajahnya berubah karena sakit, terkena musibah atau sehabis melakukan perjalanan yang melelahkan, yang mana sebagian ahlu Ilmi mangatakan : “Seorang yang jelek wajahnya, dan karena kejelekannya tersebut laki-laki tidak tertarik kepadanya, maka baginya hukum.

Ke’lima: Hadits Ibnu Abbas a

Dari Ibnu Abbas raa beliau berkata, “ Rasulullah n memboncengkan Al-Fadl bin Abbas, pada hari iedul Adha padahal unta beliau lemah. Fadhl adalah seorang pemuda ganteng, Nabi sa berhenti untuk memberi fatwa kepada masyarakat. Tiba-tiba datang seorang perempuan cantik dari suku Khats’am meminta fatwa kepada Rasulullah n. Al Fadl melihat wanita itu dan kagum dengan kecantikannya. Maka Rasulullah n memegang dagu al Fadl dan memalingkannya dari memandang perempuan itu. Perempuan itu bertanya,” Allah l mewajibkan haji pada hamba-hambanya, padahal ayah saya sudah tua renta .?

Dalam hadits tersebut terdapat beberapa masalah :

  1. Dalam hadits itu tidak dijelaskan bahwa dia membuka wajahnya bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa keadaan wanita tersebut adalah cantik dan dikenal bahwa wanita itu cantik, tidak dinyatakan bahwa Ia membuka wajahnya dengan sengaja, mungkin terbuka dengan tidak sengaja sehingga terlihat oleh beberapa laki-laki ( secara tidak sengaja )
  2. Bahwa Abdulloh bin Abbas a ( Yang meriwayatkan hadits ) ketika itu tidak hadir bersama Fadl, ketika dia melihat perempuan tersebut dan Fadl tidak mengatakan bahwa wanita tersebut membuka wajahnya, sedangkan Fadl memandang karena dikenal cantiknya, tidak diterangkan Ia membukanya secara sengaja, atau barangkali ia telah melihatnya sebelum ini atau telah mengetahui kecantikannya.
  3. Perkataan “ Wa’Jabaha Hasanaha “ bukan merupakan dalil yang jelas bahwa Ia melihat wajahnya karena kecantikan seseorang biasanya dikenal kemudian dia melihatnya karena dia mengetahui kecantikannya.
  4. Mayoritas ( kalau tidak mau dikatakan semua ) Sahabat Nabi adalah orang yang waro’ dan tidak melihat perempuan, Maka secara akal, syar’i dan keadilan tidak akan menolak bahwa tidak seorangpun diantara mereka melihat perempuan. Seandainya ada yang melihat perempuan, Maka akan dikatakan kepada Nabi n sebagaimana Fadl melihat perempuan. Dapat dipahami bahwa Nabi n memalingkan Fadl dari memandang wanita tersebut karena tidak ada jalan bagi seorang ajanabi untuk memandang perempuan muda, dan tidak seorang musafir sebagaimana hadits diatas. Maka jelaslah dalil diatas bahwa perempuan tersebut mengenakan hijab pada seluruh badannya.
  5. Hadis ini adalah sanadnya munkoti’e dan di sebagian perawinya adalah do’if dan tidak ada perawi lain yang meriwayatkan hadis ini kecuali Abu dawud dan bagaimana hadis ini bisa di jadikan hujjah sedangkan hadis ini ada sebelum ayat hijab turun 5.

 

g ) Secara Akal

Sesungguhnya seorang wanita tidak boleh di lihat karena di takutkan fitnah. dan wajah merupakan sumber kecantikan yang fitnahnya lebih besar ketimbang telapak kaki , betis , ataupun rambut.

 

B. Kalangan yang tidak mewajibkan cadar

Sedangkan mereka yang tidak mewajibkan cadar berpendapat bahwa wajah bukan termasuk aurat wanita. Mereka juga menggunakan banyak dalil serta mengutip pendapat dari para Imam mazhab yang empat dan juga pendapat salaf dari para shahabat Rasulullah n

a) Ijma Shahabat
Para shahabat Rasulullah n sepakat mengatakan bahwa wajah dan tapak tangan wanita bukan termasuk aurat. Ini adalah riwayat yang paling kuat tentang masalah batas aurat wanita.

b)Pendapat Para Fuqoha Ala-Madzahibi Al-Arba’ah Bahwa Wajah Bukan Termasuk Aurat Wanita.

  • Mazhab Hanafi

Dalam kitab al-Ikhtiyar, salah satu kitab Mazhab Hanafi, disebutkan: Tidak diperbolehkan melihat wanita lain kecuali wajah dan telapak tangannya, Jika tidak dikhawatirkan timbul syahwat. Dan diriwayatkan dari Abu Hanifah v bahwa beliau menambahkan dengan kaki, karena pada yang demikian itu ada kedaruratan untuk mengambil dan memberi serta untuk mengenal wajahnya ketika bermuamalah dengan orang lain, untuk menegakkan kehidupan dan kebutuhannya, karena tidak adanya orang yang melaksanakan sebab-sebab penghidupannya. Beliau berkata: Sebagai dasarnya ialah firman Allah l, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak daripadanya.” (an-Nur: 31 )

Para sahabat pada umumnya berpendapat bahwa yang dimaksud ayat tersebut ialah celak dan cincin, yaitu tempatnya (bagian tubuh yang ditempati celak dan cincin). Hal ini sebagaimana telah saya jelaskan bahwa celak, cincin, dan macam-macam perhiasan itu halal dilihat oleh kerabat maupun orang lain. Maka yang dimaksud disini ialah ‘Tempat perhiasan itu,’ dengan jalan membuang mudhaf dan menempatkan mudhaf ilaih pada tempatnya. Beliau berkata: Adapun kaki, Maka diriwayatkan bahwa Ia bukanlah aurat secara mutlak, karena bagian ini diperlukan untuk berjalan sehingga akan tampak. Selain itu, kemungkinan timbulnya syahwat karena melihat muka dan tangan itu lebih besar, Mka halalnya melihat kaki adalah lebih utama. Dalam satu riwayat disebutkan, kaki itu adalah aurat untuk dipandang, bukan untuk shalat.

 

  • Mazhab Maliki

Dalam Syarah Shaghir (Penjelasan ringkas) karya Ad-Dardir yang berjudul Aqrabul Masalik ilaa Malik, disebutkan: “Aurat wanita merdeka terhadap laki-laki asing, yakni yang bukan mahramnya, Ialah seluruh tubuhnya selain wajah dan telapak tangan. Adapun selain itu bukanlah aurat.” Ash-Shawi mengomentari pendapat tersebut dalam Hasyiyah-nya, katanya, “Maksudnya, boleh melihatnya, baik bagian luar maupun bagian dalam (tangan itu), tanpa maksud berlezat-lezat dan merasakannya, dan jika tidak demikian maka hukumnya haram.”  Beliau berkata, “Apakah pada waktu itu wajib menutup wajah dan kedua tangannya?” Itulah pendapat Ibnu Marzuq yang mengatakan bahwa ini merupakan mazhab (Maliki) yang masyhur. Atau, apakah wanita tidak wajib menutup wajah dan tangannya hanya si laki-laki yang harus menundukkan pandangannya? Ini adalah pendapat yang dinukil oleh al-Mawaq dari ‘Iyadh. Sedangkan Zurruq merinci dalam Syarah al-Waghlisiyah antara wanita yang cantik dan yang tidak, yang cantik wajib menutupnya, sedangkan yang tidak cantik hanya mustahab.

 

  • Mazhab Syafi’i

Asy-Syirazi, salah seorang ulama Syafi’iyah, pengarang kitab al-Muhadzdzab mengatakan:

“Adapun wanita merdeka, maka seluruh tubuhnya adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan – Imam Nawawi berkata: hingga pergelangan tangan- Berdasarkan firman Allah l: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak daripadanya.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Wajahnya dan kedua telapak tangannya.’

 

  • Madzhab Zahiri

Daud yang mewakili kalangan Zahiri pun sepakat bahwa batas aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuai muka dan tapak tangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam Nailur Authar. Begitu juga dengan Ibnu Hazm mengecualikan wajah dan tapak tangan sebagaiman tertulis dalam kitab Al-Muhalla.

c) Pendapat Para Mufassirin
Para mufassirin yang terkenal pun banyak yang mengatakan bahwa batas aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali muka dan tapak tangan. Mereka antara lain At-Thabari, Al-Qurthubi, Ar-Razy, Al-Baidhawi dan lainnya. Pendapat ini sekaligus juga mewakili pendapat jumhur ulama.

d)Dhai’ifnya Hadits Asma Dikuatkan Oleh Hadits Lainnya
Adapun hadits Asma` binti Abu Bakar yang dianggap dhaif, ternyata tidak berdiri sendiri, karena ada qarinah yang menguatkan melalui riwayat Asma` binti Umais yang menguatkan hadits tersebut. Sehingga ulama modern sekelas Nasiruddin Al-Bani sekalipun meng-hasankan hadits tersebut sebagaimana tulisan beliau ‘Hijab Wanita Muslimah’, ‘Al-Irwa`, Shahih Jamius Shaghir dan `Takhrij Halal dan Haram. Tetapi di dalam kitab Fiqh Islam wa Adilatuhu di katakan oleh Dr.Wahbah Az-Zuhayli bahwa hadis yang dari Aisyah j dan Ibnu Abbas a di riwayatkan oleh Imam al-Bayhaqi dan di katakan bahwa hadis itu adalah do’if.

e)Perintah Kepada Laki-laki Untuk Menundukkan Pandangan.
Allah l telah memerintahkan kepada laki-laki untuk menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar). Hal itu karena para wanita muslimah memang tidak diwajibkan untuk menutup wajah mereka.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat(QS. An-Nuur : 30)

Dalam hadits Rasulullah n kepada Ali a disebutkan bahwa,

“Janganlah kamu mengikuti pandangan pertama (kepada wanita) dengan pandangan berikutnya. Karena yang pertama itu untukmu dan yang kedua adalah ancaman / dosa“. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizy dan Hakim).

Bila para wanita sudah menutup wajah, buat apalagi perintah menundukkan pandangan kepada laki-laki. Perintah itu menjadi tidak relevan lagi.

Mereka yang berpendapat akan kebolehan membuka cadar adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’I dan dengan syarat terbebas dari fitnah6. begitu juga dengan pendapat para ulama Dan karena tidak adanya Nash yang jelas-Jelas memerintahkannya

 

Kesimpulan pembahasan:

Masalah hukum cadar ini masih diperselisihkan oleh para ulama, baik dari kalangan ahli fiqih, ahli tafsir, maupun ahli hadits, sejak zaman dahulu hingga sekarang. Sebab perbedaan pendapat itu kembali kepada pandangan mereka terhadap nash-nash yang berkenaan dengan masalah ini dan sejauh mana pemahaman mereka terhadapnya, karena tidak didapatinya nash yang qath’i tsubut (jalan periwayatannya) dan dilalahnya (petunjuknya) mengenai masalah ini. Seandainya ada nash yang tegas (tidak samar), sudah tentu masalah ini sudah terselesaikan. Mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan firman Allah l:

“… Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa tampak daripadanya …” (An-Nur: 31)

Mereka meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud a, dia berkata bahwa yang dimaksud dengan “kecuali apa yang biasa tampak daripadanya” Ialah pakaian dan jilbab, yakni pakaian luar yang tidak mungkin disembunyikan.

Mereka juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas a bahwa beliau menafsirkan “Apa yang biasa tampak” itu dengan celak dan cincin. Penafsiran yang sama juga diriwayatkan dari Anas bin Malik a. Dan penafsiran yang hampir sama lagi diriwayatkan dari Aisyah j. Selain itu, kadang-kadang lbnu Abbas a menyamakan dengan celak dan cincin, terhadap pemerah kuku, gelang, anting-anting, atau kalung.

Ada pula yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan “Perhiasan” disini ialah tempatnya. Ibnu Abbas a berkata, “(Yang dimaksud ialah) bagian wajah dan telapak tangan.” Dan penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Atha’, dan lain-lain.

Sebagian ulama lagi menganggap bahwa sebagian dari lengan termasuk “Apa yang biasa tampak” itu.

Ibnu Athiyah menafsirkannya dengan apa yang tampak secara darurat, misalnya karena dihembus angin atau lainnya.

Mereka juga berbeda pendapat dalam menafsirkan firman Allah l :

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-isti orang mukmin, ‘Hendaklah mereka, mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab:59)

 

  • Maka apakah yang dimaksud dengan “Mengulurkan jilbab” dalam ayat tersebut?

Mereka meriwayatkan dari Ibnu Abbas a yang merupakan kebalikan dari penafsirannya terhadap ayat pertama. Mereka meriwayatkan dari sebagian tabi’in – Ubaidah as-Salmani – bahwa beliau menafsirkan “mengulurkan jilbab” itu dengan penafsiran praktis (dalam bentuk peragaan), yaitu beliau menutup muka dan kepala beliau, dan membuka mata beliau yang sebelah kiri. Demikian pula yang diriwayatkan dari Muhammad Ka’ab al-Qurazhi.

Tetapi penafsiran kedua beliau ini ditentang oleh Ikrimah, maula (mantan budak) Ibnu Abbas a. Dia berkata, “Hendaklah Ia (wanita) menutup lubang (pangkal) tenggorokannya dengan jilbabnya, dengan mengulurkan jilbab tersebut atasnya.”

Sa’id bin Jubair a berkata, “Tidak halal bagi wanita muslimah dilihat oleh lelaki asing kecuali Ia mengenakan kain di atas kerudungnya, dan Ia mengikatkannya pada kepalanya dan lehernya.”

Disamping itu, banyak sekali ulama zaman sekarang yang berfatwa tidak wajibnya misalnya Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani v dalam kitabnya Hijabul Mar’atil Muslimah fil-Kitab was-Sunnah dan mayoritas ulama al-Azhar di Mesir, ulama Zaitunah di Tunisia, Qarawiyyin di Maghrib (Maroko), dan tidak sedikit dari Pakistan, India, Turki, dan lain-lain.

Meskipun demikian, dakwaan (klaim) adanya ijma’ ulama sekarang terhadap pendapat ini juga tidaklah benar, karena di kalangan ulama Mesir sendiri ada yang menentangnya.

Ulama-ulama Saudi dan sejumlah ulama negara-negara Teluk menentang pendapat ini, dan sebagai tokohnya, adalah ulama besar masjidil haram Syekh Abdul Aziz bin Baz , Syekh utsaimin dan juga syekh Abdullah Azzam dll.

( lihat juga pendapat Imam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya”Majmuatul fatawa.Kitab tafsir surat Al Ahzab 59.Jilid 15 hal. 410″ dan pendapat Syaikh Ibnu Jibrin maupun Syaikh Al Utsaimin di dalam kitab ” Fatawa Al Mar’ah hal.176-179 yang menekankan perlunya Niqob dan sarung tangan bagi wanita ).

Berkata As-Sinqiti : Sangat jauh sekali ( sangat tidak mungkin ) bahwa syari’at Alloh mengizinkan seorang wanita untuk membuka wajahnya didepan pria ajnabi, karena wajah merupakan dasar dari kecantikan. Maka memandang perempuan muda dan cantik adalah merupakan tabiat, perangai kemanusiaan yang sangat jelek dan membawa kepada fitnah dan itu sangat tidak diharapkan.

 

Pendapat yang membolehkannya tidak memakai cadar :

Mereka yang berpendapat akan kebolehan membuka cadar adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’I dan dengan syarat terbebas dari fitnah.7 begitu juga dengan pendapat para ulama dan karena tidak adanya Nash yang jelas-Jelas memerintahkannya. Banyak pula ulama Pakistan dan India yang menentang pendapat ini, mereka berpendapat kaum wanita wajib menutup mukanya. Dan diantara ulama terkenal yang, berpendapat demikian Ialah ulama besar dan da’i terkenal, mujaddid Islam yang masyhur, yaitu al-Ustadz Abul A’la al-Maududi dalam kitabnya al-Hijab . Adapun diantara ulama masa kini yang masih hidup yang mengumandangkan wajibnya menutup muka bagi wanita ialah penulis kenamaan dari Suriah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, yang mengemukakan pendapat ini dalam risalahnya Ilaa Kulli Fataatin Tu’minu billaahi (Kepada setiap Remaja Putri yang Beriman kepada Allah l) .

Begitu pula dengan Syekh shalih Al-Munajid v yang berijtihad untuk wajibnya memakai cadar setelah mempertimbangkan dari sisi maslahat dan mudharat yang akan di timbulkan dalam kondisi waki’I sekarang ini.

Yang berpendapat bahwa wajah wanita itu aurat adalah minoritas ulama mutaqadiin dan mayoritas ulama mutaakhirin. Sedangkan yang berpendapat bahwa wajah bukan aurat adalah mayoritas ulama muta’akhirin dan minoritas ulama mutaqodimin.

Dalam masalah ini pendapat terpilih menurut penulis yang didukung oleh dalil-dalil yang kuat dan setelah mempertimbangkan maslahat dan mudhorotnya yang di khawatikan terjadi. Adalah yang menyatakan wajibnya menutup wajah. Oleh karena itu seorang pemudi muslimah dilarang menampakkan wajahnya di hadapan lelaki asing yang bukan mahramnya demi mencegah terjadinya kerusakan. Dan hal itu lebih ditekankan lagi jika dapat menimbulkan fitnah (godaan). Ahli ilmu telah menetapkan bahwa sesuatu yang diharamkan dengan alasan mencegah terjadinya kerusakan, dapat dibolehkan jika terdapat maslahat yang lebih besar. Berdasarkan hal itu para ahli fiqih menyebutkan beberapa kondisi tertentu yang mana kaum wanita boleh menampakkan wajahnya di hadapan lelaki asing yang bukan mahramnya bila memang dibutuhkan. Sebagaimana mereka juga dibolehkan melihat kaum lekaki dengan syarat tidak melampaui batas-batas kebutuhan, sebab sesuatu yang dibolehkan kerena alasan darurat atau kebutuhan harus dibatasi sesuai kebutuhan tersebut tidak lebih dari itu.’’

 

IV.Kondisi-kondisi yang di perbolehkan bagi para wanita membuka cadarnya 8 :

 

Pertama: Saat khitbah (meminang)

Seorang wanita dibolehkan menampakkan wajah dan dua telapak tangannya di hadapan lelaki yang berkeinginan meminangnya agar si lelaki itu dapat melihatnya, dengan catatan harus disertai dengan mahram dan tidak menyentuhnya. Karena wajah menunjukkan cantik atau tidaknya si wanita dan kedua telapak tangan menunjukkan subur atau tidaknya badan si wanita Abul Faraj Al-Maqdisi berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang bolehnya melihat wajah wanita (saat meminangnya), sebab wajah adalah pusat kecantikan dan tempat tertumpunya pandangan. “Banyak sekali hadits nabi yang menunjukkan bolehnya seorang peminang melihat wanita yang dipinangnya, di antaranya:

  1. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad a Ia berkata: “Seorang wanita datang menemui Rasulullah n lalu berkata: “Wahai Rasulullah, saya datang untuk menyerahkan diri saya kepada Anda! Rasulpun mengangkat pandangan kepadanya dan mengamatinya dengan saksama. Kemudian beliau menundukkan pandangan. Mengertilah wanita itu bahwa Rasulullah n tidak berminat kepada dirinya, maka Ia pun duduk. Kemudian bangkitlah seorang lelaki dari sahabat beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah n, Jika Anda tidak berminat maka nikahkanlah Ia kepada saya” (H.R Al-Bukhari VII/19, Muslim IV/143, An-Nasa’i VI/113 (lihat Syarah Suyuthi) dan Al-Baihaqi VII/84).
  2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah a bahwa Ia berkata: “Suatu saat saya berada di sisi Rasulullah n, lalu datanglah seorang lelaki mengabarkan kepada beliau bahwa Ia ingin menikahi seorang wanita Anshar.
    Rasulullah n berkata kepadanya: “Apakah engkau sudah melihatnya?” “Belum!” katanya. Beliau berkata: “Kalau begitu temui dan lihatlah wanita Anshar itu karena pada mata mereka terdapat sesuatu.”(H.R Ahmad II/286&299, Imam Muslim IV/142 dan An-Nasa’i II/73)
  3. Diriwayatkan dari Jabir a, Ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda:

Jika salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka bila ia bisa melihat sesuatu daripadanya yang dapat mendorong untuk menikahinya hendaklah ia melakukannya.” (Hr. Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad hasan, diriwayatkan juga dari Muhammad bin Maslamah dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Dan dari hadits Abu Humeid yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Bazzar, silakan lihat Fathul Bari (IX/181).
Az-Zaila’i berkata: “Namun ia tidak dibolehkan menyentuh wajah dan dua telapak tangan wanita tersebut meskipun tanpa syahwat, karena wanita itu belum menjadi istrinya dan tidak ada kebutuhan mendesak untuk itu.”
Dalam buku Durar Al-Bihar disebutkan: “Qadhi, saksi dan peminang tidak boleh menyentuh wanita (yang dipinang atau diadili) meskipun tanpa syahwat karena hal itu memang tidak perlu dilakukan
9.

Ibnu Qudamah berkata: “Seorang pria dilarang berkhalwat (berdua-duaan tanpa mahram) dengan seorang wanita yang ingin dipinangnya. Yang disebutkan dalam syariat hanyalah sebatas melihatnya saja, Maka hukum berkhalwat dengannya tetap haram.
Dan mungkin saja terjadi hal-hal yang membahayakan jika dibiarkan berdua-duaan. Rasulullah n bersabda:

“Janganlah seorang pria berdua-duaan dengan seorang wanita, sebab yang ketiga adalah setan.”

Ia juga tidak boleh melihatnya (wanita yang dipinang) dengan syahwat dan tidak juga dengan keraguan. Shalih meriwayatkan dari Imam Ahmad v yang berkata: “Ia boleh melihat wajah dan tidak boleh memandangnya dengan syahwat. Ia juga boleh terus memandanginya dan memperhatikan kecantikannya, karena hanya dengan begitulah tujuan dapat diwujudkan.”

 

Kedua: Saat bermu’amalah (berinteraksi sosial).

Wanita juga dibolehkan menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya dalam proses jual beli jika memang dibutuhkan. Sebagaimana halnya penjual boleh melihat wajahnya untuk menyerahkan barang dan menerima uangnya, selama tidak menimbulkan fitnah. Dan hal itu dilarang jika sampai menimbulkan fitnah.

Ibnu Qudamah berkata: “Jika seorang pria mengadakan transaksi jual beli atau sewa menyewa dengan seorang wanita, Maka Ia boleh melihat wajah wanita itu untuk mengetahui identitasnya sekaligus meminta uang pembeliannya. Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau membenci hal itu terhadap para pemudi dan dibolehkan terhadap wanita lanjut usia. dan juga makruh hukumnya terhadap orang yang khawatir tertimpa fitnah atau tidak begitu mendesak melakukan transaksi tersebut. dan dibolehkan jika memang diperlukan dan tidak disertai dengan syahwat 10.
Ad-Dasuuqi berkata: “Persaksian wanita yang mengenakan cadar tidak diterima hingga ia membuka cadarnya. Hal ini berlaku umum, baik persaksian dalam pernikahan, jual beli, hibah, utang piutang, wakalah dan sejenisnya. Itulah pendapat yang dipilih oleh syaikh kami.

 

Ketiga: Saat pengobatan.

Kaum wanita juga boleh membuka tempat yang terkena penyakit pada wajah atau bagian tubuhnya yang terkena penyakit kepada dokter untuk diobati. Dengan syarat harus disertai mahram atau suaminya. Hal itu jika tidak ada dokter wanita yang mampu mengobatinya. Sebab melihat aurat sesama wanita tentu lebih ringan bahayanya. Dan hendaknya dokter tersebut bukan seorang kafir bila masih ada dokter muslim yang mampu mengobatinya. Ia tidak boleh membuka kecuali bagian tubuh yang sakit. Dan para dokter hanya boleh melihat dan menyentuh bagian tubuh yang sakit saja, tidak boleh lebih dari yang dibutuhkan. Sebab yang dibolehkan karena alasan darurat harus dibatasi sekedar kebutuhan saja

Ibnu Qudamah berkata: “Seorang dokter dibolehkan melihat bagian tubuh wanita yang sakit bila perlu diperiksa. Sebab bagian tubuh itu memang perlu dilihat.

Diriwayatkan dari Utsman a bahwa dibawa ke hadapannya seorang bocah yang didapati telah mencuri, beliau berkata: “Periksalah dalam sarungnya!” yakni bulu kemaluannya yang menunjukkan apakah Ia sudah baligh atau belum. Setelah diperiksa ternyata bulu kemaluannya belum tumbuh, beliaupun tidak memotong tangannya11.
Ibnu Abidin berkata: “Dalam kitab Al-Jauharah disebutkan: Jika penyakit tersebut menyerang seluruh tubuh si wanita maka dokter boleh melihatnya saat pengobatan, kecuali alat kelamin yang vital. Sebab hal itu termasuk darurat. Jika tempat yang sakit adalah kemaluan, maka hendaknya diajari seorang wanita lain untuk mengobatinya. Jika tidak ada juga sementara keselamatan jiwanya sangat mengkhawatirkan atau dikhawatirkan tertimpa penyakit yang tidak mampu ia tahan, maka hendaklah mereka menutup seluruh tubuhnya kecuali tempat yang sakit itu (yakni kemaluan) lalu dipersilakan dokter mengobatinya dengan tetap menahan pandangan semampunya kecuali terhadap bagian yang tengah diobati.”
12

Demikian pula dibolehkan bagi para perawat orang sakit untuk mewudhu’kan atau membantu istinja’nya meskipun yang dirawat seorang wanita.

Muhammad Fu’ad berkata: “Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya kaum pria mengobati kaum wanita -dengan batasan-batasan yang telah disebutkan tadi- adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz ia berkata: “Kami pernah berperang bersama Rasulullah n . Tugas kami adalah memberi minum dan membantu pasukan, dan membawa pasukan yang tewas dan terluka ke Madinah. (H.R Al-Bukhari VI/80 & X/136, lihat Fathu Bari. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari Anas V/196, Abu Dawud VII/205, lihat ‘Aunul Ma’bud, dan Imam At-Tirmidzi V/301-302, ia berkata: Hadits ini hasan shahih)
Imam Al-Bukhari v menulis Bab: Bolehkah Kaum Lelaki Mengobati Kaum Wanita Dan Kaum Wanita Mengobati Kaum Lelaki?
13

Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani v berkata: “Hukum bolehnya kaum pria mengobati kaum wanita diambil secara implisit. Imam Al-Bukhari tidak menegaskan hukum tersebut karena masih ada kemungkinan hal itu terjadi sebelum turunnya ayat yang memerintahkan berhijab. Atau masing-masing wanita ketika itu hanya mengobati suaminya atau mahramnya saja. Secara umum hukumnya: kaum wanita boleh mengobati kaum pria pada saat-saat darurat, dan harus dibatasi sesuai kebutuhan khususnya berkaitan dengan melihat dan memegang pasien atau semisalnya.14 .

 

Keempat: Saat menjadi saksi atau sebagai orang yang diberi persaksian.

Seorang wanita boleh menampakkan wajahnya dalam memberikan persaksian atau diminta oleh saksi membuka cadarnya (sebagai orang yang diberi persaksian). Sebagaimana halnya hakim boleh melihatnya untuk mengenalinya demi menjaga hak-hak orang lain.

Syaikh Ad-Dardiir berkata: “Persaksian wanita yang mengenakan cadar tidak diterima hingga ia membuka cadarnya. Supaya dapat dikenal dengan jelas identitas dan karakternya, setelah itu barulah ia boleh memberikan persaksian15.

Ibnu Qudamah mengatakan: “Saksi boleh melihat terdakwa supaya persaksiannya tidak salah alamat. Imam Ahmad a berkata: Tidak boleh memberikan persaksian terhadap seorang terdakwa wanita hingga Ia mengenali indentitasnya dengan pasti 16.

 

Kelima: Saat persidangan.

Seorang wanita boleh membuka penutup wajahnya di hadapan hakim yang menyidangnya, baik hakim itu bertindak sebagai pembelanya ataupun penuntut. Si hakim boleh melihat wajah wanita itu untuk mengenalinya, demi menjaga hak-hak manusia agar tidak tersia-sia. Kriteria hukum yang berlaku pada bab persaksian sama persis dengan bab persidangan, karena alasan hukum keduanya adalah sama17.

Keenam: Di hadapan bocah laki-laki kecil yang sudah mengerti namun belum punya hasrat kepada kaum wanita.

Seorang wanita boleh menampakkan kepada bocah laki-laki yang belum punya hasrat kepada kaum wanita apa-apa yang boleh ia tampakkan kepada mahramnya, karena mereka belum punya hasrat kepada wanita. Ia boleh melihat semua itu.

Syaikh Abul Faraj Al-Maqdisi berkata: “Bocah laki-laki yang belum punya hasrat kepada kaum wanita boleh melihat tubuh wanita kecuali bagian tubuh antara pusar dan lutut, menurut satu riwayat (dari Imam Ahmad). Sebab Allah l berfirman:

“Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). (QS. 24:58)

Dalam ayat lain Allah l berfirman:

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. (QS. 24:59)

Ayat di atas membedakan antara anak yang sudah baligh dan yang belum. Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata: “Abu Thayyibah membekam istri-istri Nabi n pada saat itu ia masih seorang bocah kecil.”
Menurut riwayat lainnya dari Imam Ahmad a disebutkan bahwa batasan aurat terhadap bocah kecil tersebut seperti halnya batasan aurat terhadap mahram, bila Ia sudah mengerti aurat wanita, berdasarkan firman Allah
l :

“…atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. (QS. 24:31)

Pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad v : Bilakah seorang wanita harus menutup wajahnya terhadap seorang bocah? Beliau menjawab: “Jika bocah itu telah berusia sepuluh tahun. Jika Ia sudah punya hasrat kepada kaum wanita, Maka batasan aurat terhadapnya sama seperti batasan aurat terhadap para mahram. Berdasarkan firman Allah l:

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. (QS. 24:59)

Dalam riwayat lain masih dari Imam Ahmad v disebutkan bahwa batasan aurat terhadap bocah kecil sama seperti batasan aurat terhadap lelaki bukan mahram. Sebab ia sudah terhitung baligh dan punya syahwat. Itulah tujuan diperintahkannya hijab dan diharamkannya memandang wanita bukan mahram. Berdasarkan firman Allah l:

“…atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. (QS. 24:31)

Adapun anak kecil yang belum mengerti tentunya tidak wajib menutup diri darinya18.

Ketujuh: Di hadapan laki-laki yang sudah tidak punya nafsu syahwat.

Seorang wanita boleh menampakkan kepada laki-laki yang sudah tidak punya nafsu syahwat apa-apa yang boleh ditampakkan kepada mahram. Mereka boleh melihat semua itu karena mereka sudah tidak punya hasrat lagi kepada kaum wanita dan sudah tidak memperhatikan urusan wanita.

Ibnu Qudamah berkata: “Terhadap lelaki yang sudah tidak punya nafsu syahwat lagi, karena sudah lanjut usia, lemah syahwat, sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, lelaki yang mengebiri diri atau lelaki banci yang tidak punya hasrat kepada kaum wanita, maka batasan aurat yang boleh diperlihatkan kepada mereka sama seperti batasan aurat kepada para mahram. Berdasarkan firman Allah l:

“atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita).” (QS. 24:31)

Yaitu lelaki yang tidak punya hasrat kepada kaum wanita. Ibnu Abbas a berkata: Yakni laki-laki yang kaum wanita tidak merasa segan kepadanya. Dinukil juga dari beliau: Yakni lelaki banci yang impoten. Mujahid dan Qatadah berkata: Yaitu laki-laki yang tidak punya keinginan syahwat kepada kaum wanita. Jika lelaki itu banci namun ia punya nafsu syahwat kepada wanita dan tahu seluk beluk wanita maka batasan aurat terhadapnya sama seperti batasan aurat kepada laki-laki bukan mahram. ‘Aisyah jpernah bercerita:

“Seorang lelaki banci masuk menemui istri-istri nabi, mereka menganggap lelaki banci itu termasuk ‘lelaki yang tidak punya keinginan kepada kaum wanita’ yang tersebut dalam ayat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu datang menemui kami sementara lelaki banci itu tengah menceritakan lekuk tubuh seorang wanita, katanya jika wanita itu dilihat dari depan akan tampak empat lekukan, jika dari belakang akan tampak delapan lekukan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku lihat lelaki ini tahu apa yang ada di dalam sini, janganlah ia dibiarkan masuk menemui kalian!” Merekapun berhijab darinya.
(H.R Abu Dawud dan lainnya)

Ibnu Abdil Bar berkata: “Yang dimaksud banci di sini bukanlah banci yang dibuat-buat, akan tetapi banci dalam arti gen wanita pada dirinya lebih dominan sehingga gaya bicara, memandang dan berpikirnya juga menyerupai kaum wanita. Bila begitu keadaannya tentu ia tidak punya hasrat kepada kaum wanita dan tidak mengerti tentang seluk beluk kaum wanita. Ia tergolong ‘lelaki yang tidak punya hasrat kepada wanita’ yang dibolehkan masuk menemui kaum wanita. Bukankah Rasulullah n tidak melarang lelaki banci itu masuk menemui istri-istri beliau, namun begitu mendengar lelaki banci itu menceritakan lekuk tubuh puteri Ghailan dan ternyata mengerti seluk beluk wanita, Rasulullah n memerintahkan supaya berhijab darinya.19


Kedelapan: Wanita lanjut usia yang sudah tidak menggairahkan lagi.

Wanita lanjut usia yang sudah tidak menggairahkan lagi boleh membuka penutup wajahnya dan bagian-bagian tubuh yang biasa tampak di hadapan lelaki bukan mahramnya. Hanya saja mengenakan cadar tentunya lebih utama baginya. Simaklah firman Allah l berikut ini:

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:60)

Ibnu Qudamah berkata: “Wanita lanjut usia yang sudah tidak menggairahkan boleh dilihat sebatas apa-apa yang biasa tampak padanya. Berdasarkan firman Allah l:

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. (QS. 24:60)

Berkaitan dengan ayat :

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. (QS. 24:30)

Dan ayat:

Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, (QS. 24:31)

Ibnu Abbas a berkata: “Kedua ayat di atas dibatasi kandungannya, dikecualikan darinya wanita-wanita yang tidak ingin kawin lagi. Termasuk juga wanita yang buruk rupanya dan sama sekali tidak menarik20.

Kesembilan: Hukum membuka cadar di hadapan wanita-wanita kafir.

Ahli ilmu berbeda pendapat tentang batasan aurat wanita muslimah di hadapan wanita kafir.

Ibnu Qudamah berkata: “Batasan aurat antara sesama wanita sama seperti batasan aurat antara sesama pria, tidak ada beda antara sesama kaum muslimin, antara muslimah dengan wanita dzimmiyah, antara seorang muslim dengan pria kafir. Imam Ahmad v berkata: Sebagian orang melarang wanita muslimah membuka cadarnya di hadapan wanita Yahudi atau Nasrani. Menurut pendapat saya, wanita-wanita kafir itu tidak boleh melihat alat kelamin wanita muslimah. Dan mereka tidak boleh menangani wanita muslimah yang melahirkan, karena mereka akan melihat aurat vital kecuali dalam keadaan darurat, sebagaimana yang telah dijelaskan.”

Dalam riwayat lain dari Imam Ahmad v disebutkan bahwa wanita muslimah tidak boleh menampakkan kemaluannya kepada wanita dzimmiyah. Berdasarkan firman Allah l:

“atau wanita-wanita Islam,” (QS. 24:31)

Kelihatannya pendapat pertama lebih kuat, sebab wanita-wanita kafir dari kalangan Yahudiyah dan lainnya juga masuk menemui istri-istri nabi, mereka tidak memakai hijab dan tidak diperintahkan memakai hijab. Aisyah j berkata: “Datang seorang wanita Yahudi bertanya kepadanya, ia berkata: “Semoga Allah menyelamatkan saudari dari siksa kubur.” ‘Aisyah j menanyakan ucapan wanita itu kepada Rasulullah n …”

Asma’ jmenuturkan: “Ibuku yang masih musyrik dan membenci Islam datang menemuiku. Akupun bertanya kepada Rasulullah n apakah aku boleh meladeninya? Beliau menjawab: “Boleh!” Sebab alasan disyariatkannya hijab antara kaum lelaki dengan kaum wanita tidak terdapat pada wanita muslimah dengan wanita dzimmiyah. Maka tidak perlu diperintahkan berhijab antara keduanya, sebagaimana halnya antara pria muslim dengan pria dzimmi. Dan juga syariat hijab ini harus ditetapkan dengan nash atau qiyas, sementara dalam masalah ini tidak ada nash maupun qiyas.
Berkaitan dengan firman Allah
l:

“atau wanita-wanita Islam,” (QS. 24:31)21 kemungkinan maksudnya adalah sejumlah kaum wanita.
Ibnul Arabi Al-Maliki berkata: “Menurut saya pendapat yang benar adalah hal itu mencakup seluruh wanita (baik yang muslimah maupun non muslimah). Penyebutan dhamir (kata ganti) dalam ayat tersebut hanyalah untuk menyelaraskan dengan kata-kata sebelumnya (yang seluruhnya diimbuhi dhamir), di dalam ayat ini terdapat lima belas dhamir, hal itu tidak terdapat dalam ayat lainnya dalam Al-Qur’an. Oleh karena itulah kata an-nisaa’ diimbuhi dhamir hunna
22.
Al-Aluusi berkata: “Fakhrur Raazi berpendapat bahwa dalam masalah ini batasan aurat terhadap wanita kafir sama seperti batasan aurat terhadap wanita muslimah, ia berkata: “Menurut Madzhab kami batasan auratnya sama seperti batasan aurat terhadap wanita muslimah, yang dimaksud ‘nisaa’ihinna (wanita-wanita mereka)’ dalam ayat di atas adalah seluruh kaum wanita. Dalam hal ini ucapan ulama salaf yang mengharuskan berhijab terhadap wanita kafir dibawakan kepada makna istihbab (anjuran bukan wajib)” Ia melanjutkan: “Itulah pendapat yang lebih memudahkan bagi umat manusia sekarang ini, sebab hampir tidak mungkin mengharuskan hijab atas wanita muslimah di hadapan wanita dzimmiyah.
23

Muhammad Fu’ad berkata: “Jika kata Al-Aluusi hal itu lebih memudahkan bagi mereka pada saat itu, tentu saja jauh lebih memudahkan bagi kita sekarang ini. Terutama bagi orang-orang yang terpaksa bermukim di negeri-negeri non Islam yang mana wanita muslimah dan wanita dzimmiyah tercampur baur, kebutuhan hidup juga sangat mendesak, yang mana berhijab di hadapan mereka justru menimbulkan berbagai kesulitan.

 

Kesepuluh: Seorang wanita harus membuka wajah dan kedua telapak tangannya saat berihram (mengenakan kain ihram) untuk haji ataupun umrah.

Ia tidak boleh mengenakan cadar ataupun kaus tangan. Berdasarkan sabda Rasulullah n:

Wanita yang berihram janganlah memakai cadar dan kaus tangan.”
Jika ia terpaksa menutup wajahnya, misalnya karena ada laki-laki yang lewat di dekatnya, ataupun wajahnya sangat cantik hingga menarik pandangan kaum pria, ia boleh mengulurkan kain untuk menutupi wajahnya, berdasarkan hadits ‘Aisyah j ia berkata: “Pernah suatu kali rombongan pria melewati kami saat kami mengenakan ihram bersama Rasulullah, ketika rombongan itu mendekat kamipun mengulurkan jilbab untuk menutupi wajah kami. Setelah rombongan lewat kamipun menyingkapnya kembali.”

Diriwayatkan dari Al-Al-Juzeiri, Ia berkata: “Wanita yang mengenakan ihram boleh menutup wajahnya untuk suatu keperluan, seperti pada saat rombongan lelaki lewat di dekatnya. Tidaklah mengapa ia melekatkan kain penutup pada wajahnya, sebab hal itu merupakan keluasan baginya dan untuk menghilangkan kesulitan.”24

Itulah kondisi yang dibolehkan bagi kaum wanita untuk membuka penutup wajahnya dan kaus tangannya, menurut perincian yang telah dijelaskan dan diurai oleh para ulama dan ahli fiqih di atas tadi. Tinggal satu persoalan yang perlu diperhatikan, yaitu dalam kondisi terjepit yang memaksa seorang wanita untuk membuka penutup wajahnya. Bagaimanakah hukumnya dalam kondisi demikian?

Kesebelas:Dalam kondisi terpaksa.

Sebagian negara-negara sekuler menetapkan undang-undang sesat yang melanggar syariat, undang-undang yang menentang perintah Allah dan Rasul-Nya. Undang-undang itu melarang wanita muslimah mengenakan hijab. Sebagian negara melarangnya dengan keras dan paksa. Bahkan meneror wanita-wanita bercadar serta memperlakukan mereka dengan kasar dan keras.
Wanita-wanita bercadar terus ditekan dan diganggu sebagaimana yang terjadi di negara-negara Eropa, bahkan kadangkala menjurus kepada pelecehan terhadap Dienul Islam dan Rasulullah n . Oleh karena itu, mereka boleh membuka cadar dalam kondisi yang mana wanita bercadar pasti mendapat gangguan yang tidak dapat diatasinya. Tentu saja memilih pendapat yang lemah lebih utama daripada menjerumuskan diri dalam bahaya gangguan lelaki jahat

Jikalau dalam kondisi yang belum sampai kategori ‘terpaksa’ ia boleh membuka cadar dan kaus tangannya, tentu saja lebih dibolehkan membukanya dalam kondisi yang membahayakan diri dan agamanya. Terutama jika dalam mempertahankan hijabnya orang-orang jahat akan menarik atau merobek hijab dari wajahnya. Atau masyarakat akan mengganggunya. Dalam keadaan darurat perkara-perkara yang sebelumnya dilarang menjadi dibolehkan. Dan sesuatu yang dibolehkan karena darurat harus dibatasi sekadar kebutuhan, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh ahli ilmu. Tidak boleh bersikap simplifikatif dalam perkara ini, harus benar-benar diukur menurut keadaan dan kondisi setempat. Dan harus mempelajari pengalaman yang terdahulu atas orang lain. Sehingga tidak keliru dalam menetapkan suatu kondisi sebagai kondisi darurat, tidak disertai hawa nafsu dan kelemahan dalam bersikap.
Dalam kondisi di atas, meskipun kaum wanita dibolehkan membuka cadar dan kaus tangannya, namun ia tetap tidak boleh menampakkan perhiasan yang mencolok pandangan. Sebab haram hukumnya bagi kaum wanita menampakkan perhiasan di hadapan lelaki yang bukan mahram, menurut pendapat mayoritas ahli fiqih dan berdasarkan firman Allah
l:

“dan janganlah menampakkan perhiasan mereka,”(QS. 24:31)

Dan juga karena tidak ada kebutuhan mendesak untuk menampakkannya25

 

 

 

 

 

 

 

 

V.PENUTUP

Demikianlah apa yang patut kita ketahui tentang hukum memakai cadar. Dan setelah itu marilah kita melihat kenyataan hari ini di mana kita hidup di dalamnya !!!………… maka kita akan mendapatkan fitnah ada di mana-mana. Rasulullah n sudah menginggatkan kita akan besarnya fitnah wanita terhadap laki-laki sebelum beliau wafat. Dan Sabdanya : Bertaqawalah akan fitnah dunia dan fitnah wanita. Karena sesungguhnya fitnah yang pertama sekali menimpa bani isroil adalah adalah fitnah wanita. [Muslim : 17/55 ]

Dan hanya wanita-wanita yang hina sajalah yang tidak mengenaikan jilbab (menutup auratnya) bahkan di zaman Rasulullah n wanita-wanita yang tidak memakai cadar adalah para budak. Sehinggah di ceritakan dalam tafsir “Adhwa’aul Bayan”: Wanita-wanita budak tidak memakai cadar sehingga mereka diganggu. Maka untuk membedakan antara wanita budak dengan wanita merdeka di perintahkan untuk menutup muka dengan menurunkan jilbabnya. Sebagaian para ulama berpendapat seorang laki-laki lebih tertarik di karenakan melihat wajahnya dari pada melihat kakinya. Dan kita bisa melihat wanita-wanita yang tidak menutup auratnya yang sering menjadi korban pelecehan saksual oleh lelaki yang tidak bermoral. Hanya kepada Allah lsajalah kami memohon agar memperbaiki keadaan kaum muslimin. Shalawat dan salam semoga tercurah atas nabi kita Muhammadn.

Allahu A’lam bish showab.

Referensi:

  1. Tafsir Jami ‘ul Bayan fie Tafsir il Qur’an , Imam Ath-Thabari.
  2. Tafsir Qur’anul Adzim , Ibnu Katsir .
  3. Tafsir Fahrur Razy, Imam Muhammad Ar-Razy.
  4. Tafsir Adwaaul Bayan, Imam Asy- Syinqity.
  5. Tafsir Ahkamul Qur’an , Imam Ibnul Aroby.
  6. Rawaiul Bayan Tafsiru Ayati Ahkam, Ali Ash-Shobuni.
  7. Majmu’atul fataawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
  8. Fiqh Ala Mazhaibil Arba’ah, Syaikh Abdurrahman Al -Jazairi.
  9. Fiqh Islam wa Adilatuhu, Dr.wahbah Az-Zuhaily.
  10. Tuhfatul Ahwaadzi Syarh Tirmizi, Imam Al Hafidz Abu Bakar Ahmad Al – Jazairi.
  11. Hijabul Mar’ah wa libasuha fie As Sholah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (dan di tahqiq oleh Syaikh Muhammad Nasruddin Al Baani)
  12. Purdah And the Status Of Woman In Islam, Abu A’la Al Maududi.
  13. Fatawal Mar’ah, lajnah Ad Daaimah. ( Syaikh Abdullah bin Baz, Syaikh Al Utsaimin, Syaikh Ibnu Jibrin ).
  14. . Jilbab Wanita Muslimah , Syekh Nasirudien Al-Bani
  15. Hirasatul al-Fadhilah, Syeikh Abu Bakar Abdullah Abu Zaid.
  16. Masuliyah Mar’ah Al-muslimah,Abdullah bin jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah.
  17. Majalatul Buhuts Al Islami , Lajnah Ad Daimah.
  18. Lisanul Arab, Ibnul Manzur.
  19. Tartibul Qomus Al Muhith, Thohir Ahmad Ar- Roozi
  20. www.Al-Manhaj.or.id

1. kamusAl-Muhit, 4/421.

2. Fathul Baari, 9/24 .

3. Hirasatu al-Fadhilah , Abu Bakar bin Abu Zaid, 41-90.

4. Rawaiul Bayaan Tafsirul Ayatil Ahkam , Ali Ash-Shobuni, 2/ 155.

5. Rowa’iul Bayaan Tafsirul Ayatil Ahkam , 2/156-157.

6. lihat Fiqh ala Mazaaibil Arba’ah Jilid :1 hal 583 ; fiqh islam Wa adilatuhu, Dr.wahbah Az-Zuhayli, 1/744-755.

7. lihat Fiqh ala Mazaaibil Arba’ah Jilid : 1 hal 583 ; Fiqh Islam Wa Adilatuhu, Dr.Wahbah Az-Zuhayli, 1/744-755.

81. Islam tanya & Jawab , Sholeh Al-Munajid (www.islam Qa-com)

9. Raddul Mukhtar ‘Alaa Ad-Durr Al-Mukhtar , V/237.

10. kitab Al-Mughni VII/459, Kitab Syarah Al-Kabir ‘Ala Matan Al-Muqni’ VII/348 dan Kitab Al-Hidayah Ma’a Takmilah Fathul Qadir X/24 Hasyiyatud Dasuuqi ‘ala Asy-Syarh Al-Kabir IV/194).

11. kitab Al-Mughni , VII/459 dan kitab Ghadzaaul Albab, I/97.

12. Raddul Mukhtar , V/237 dan lihat juga Al-Hidayah Al-’Alaaiyah, hal 245.

13. Fathul Bari, X/136.

14.ibid.

15. Syarah Al-Kabir karangan Syaikh Ad-Dardiir IV/194)

16. lihat kitab Al-Mughni VII/459, Syarah Al-Kabir ‘Alal Muqni’ VII/348 dan Al-Hidayah ma’a Takmilah Fathul Qadir X/26.

17. Ad-Durar Al-Mukhtar V/237, Al-Hidayah Al-’Alaaiyyah, hal. 244 dan Al-Hidayah Ma’a Takmilah Fathul Qadir, X/26.

.

18. lihat kitab Syarah Al-Kabir ‘Alaa Matan Al-Muqni, VII/349; Al-Mughni VII/458 dan Ghadzaaul Albab, I/97.

19. kitab Al-Mughni VII/463, Syarah Al-Kabir ‘ala Matan Al-Muqni’, VII/347-348.

20. kitab Al-Mughni , VII/463, Syarah Al-Kabir ‘ala Matan Al-Muqni, VII/347-348)

 

21. Al-Mughni VII/464 dan Syarah Al-Kabir ‘ala Matan Al-Muqni,’ VII/351.

22. Ahkamul Qur’an, III/326.

23. Tafsir Al-Aluusi, 19/143.

24. kitab Al-Fiqh ‘Ala Madzhab Al-Arba’ah, I/645.

25. Hijab Al-Mar’ah Al-Muslimah Baina Intihaalal Mubthiliin wa Ta’wilal Jahiliin, hal. 239.

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: