Wanita Yang Ditinggal Suaminya Dalam Qurun Waktu Yang Tak Terbatas


Segala puji hanya milik Allah I. Kepadanya kita menyembah dan memohon pertolongan. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rosulullah r , keluarganya, shahabat-shahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang yang senantiasa berpegang teguh kepada kebenaran.

Seiring dengan perjalanan sejarah, kita memahami bahwa seorang muslimah     memiliki peranan yang sangat penting dan telah memberikan kontribusi yang besar dalam proses pembangunan masyarakat islam. Demikianlah, wanita diibaratkan sebagai senjata yang bermata dua. Apabila mereka baik dalam menunaikan fungsi dasarnya sesuai dengan garis yang telah ditetapkan kepadanya niscaya akan terbangun masyarakat islam yang teguh memegang agamanya dan berakhlak mulia.  

Akan tetapi, apabila wanita menyimpang dari fungsi dasar yang telah digariskan oleh islam kepadanya, berjalan pada jalur kesesatan, dan jauh dari rambu-rambu kebaikan, saat itulah wanita menjadi senjata yang dapat merusak dan menghancurkan masyarakat. Oleh karena itu, kita melihat bahwa islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada kaum wanita. Islam telah menjaga wanita dengan mendidik dan memberikan perlindungan kepada mereka serta memberikan hak-hak mereka sesuai dengan fitroh dan qodratnya. Perhatian ini adalah sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh umat manapun sepanjang masa.

Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, kaum wanita telah banyak mengalami berbagai macam erosi, mulai dari kepribadian, akhlak, bahkan aqidah. Salah satunya adalah krisis figur teladan. Wanita muslimah semakin jauh meninggalkan teladan sejati mereka yang telah terbukti mampu memainkan peran positif mereka, baik sebagai pribadi maupun sebagai istri. Semakin hari semakin besar tantangan yang harus mereka hadapi.

Apalagi akhir-akhir ini muncul sebuah fenomena yang sangat merisaukan dan mencemaskan kaum hawa  (muslimah). Mereka hidup tanpa disertai oleh suami-suami yang sangat mereka sayangi. Baik suaminya pergi karena kesengajaan, atau karena kondisi yang memaksanya, atau suaminya menghilang tanpa diketahui kabar serta nasib yang menimpanya. Hal ini dipicu oleh munculnya para suami yang tidak mengetahui akan hak dan kewajiban yang harus mereka penuhi, atau bahkan karena maraknya penangkapan dan berbagai macam bentuk penculikan lainnya, yang dilakukan oleh orang yang benci terhadap tegaknya islam dimuka bumi  ini.         Sehingga istri yang ditinggalkan berada pada kondisi serba salah antara menikah lagi, tetapi merasa malu atau takut dicemooh dan dituduh sebagai seorang istri yang tidak setia kepada suami, baik dari tetangga ataupun dari saudara-saudaranya sendiri. Akan tetapi jika ia tidak menikah lagi, banyak masalah yang  tidak mungkin dapat ia selesaikan sendiri tanpa adanya seorang suami. Maka dengan makalah ini kami berharap segala permasalahan yang kami ungkapkan didepan dapat terselesaikan dengan baik, berdasarkan dalil-dalil atau pendapat para ulama yang ada. Bagaimana  sebenarnya islam menjawab permasalahan ini !

  1. A. Definisi wanita yang ditinggal suaminya
  2. a. Secara bahasa

Secara bahasa iddah berasal dari kata  عَدَّ- يَعُدُّ- عَدًا-  adalah ism dari kata kerja  عَدَّ ِبمَعْنىَ إحْصَاءً وَمَعدٌوْدًا  artinya menghitung atau dihitung.[1] Sedangkan jika dikatakan عِدَةُ المَرْأَةِ  , maka artinya: أَيَامُ أَقْرَائِهَا yaitu masa-masa suci bagi seorang wanita.[2]

b.  Secara istilah

Hari-hari dimana wanita yang dithalaq (menjalani masa penantian). Pada masa-masa tersebut, ia tidak boleh menikah dan tidak boleh minta dinikahi. Ini wajib hukumnya bagi setiap wanita yang berpisah dengan suaminya, karena thalaq atau karena suaminya meninggal dunia.[3] Masa menanti atau menunggu bagi seorang wanita ketika rusaknya ikatan pernikahan atau pernikahan yang syubhat dari bentuk pernikahan fasid atau hubungan yang syubhat ( tidakjelas )[4]

Maka sebelum kita membicarakan masalah ini, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa sebenarnya hak-hak seorang istri yang harus dipenuhi oleh suami.

 

  1. B. Hak-hak istri yang harus dipenuhi oleh suami

Diantara hak-hak istri atas suaminya adalah sebagai beikut:

  1. Menafkahi istrinya dalam bentuk makanan, minuman, atau tempat tinggal dengan cara yang baik, karena Rosulullah Shalallohu ‘alaihi wasallama pernah bersabda kepada orang yang bertanya tentang hak istri tehadap suami,

تُطْعِمُهَا إِذَا أَكَلْتَ وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّافِي الْبَيْت

“Engkau memberi makan jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau berpakain, tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekanya, dan engkau jangan mendiamkanya kecuali didalam rumah.”  (Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Hiban. Hadist ini dishahihkan Ibnu Hiban).

2. Memenuhi kebutuhan biologisnya. Jadi suami wajib menggauli istrinya kendati cuma sekali dalam setiap bulan jika tidak mampu memberikan layanan yang cukup baginya.

3. Menginap dirumahnya semalam dalam setiap empat malam, karena itulah yang diputuskan pada zaman pemerintahan Umar Rodhiyalloh ‘Anhu .

4. Istri mendapatkan bagian yang adil dari suaminya jika suaminya mempunyai istri       yang lain. Karena Rusulullah shalallohu ‘alaihi wasallama  pernah bersabda ;

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ يَمِيلُ لِإِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَجُرُّ أَحَدَ شِقَّيْهِ سَاقِطًاأَوْ مَائِلاً

“Barang siapa mempunyai dua istri kemudian ia condong ke salah satu dari keduanya dari pada istri satunya, maka pada hari kiamat ia datang dengan keadaan menarik salah satu pundaknya dalam keadaan jatuh dan miring.” (Diriwayatkan Ahmad)

5. Suami berada disisi istrinya pada hari pernikahan dengannya selama seminggu jika istrinya gadis dan selama tiga hari jika istrinya janda, Karena Rosulullah Shalallohu ‘alaihi wasallama bersabda:

لِلْبِكْرِ سَبْعَةُ أَيَامٍ وَلِلْثَّيِّبِ ثَلاَثٌ ثمُ َّيَعُوْدُ إِلىَ نِسَائِهِ

“Gadis mempunyai tujuh hari dan janda mempunyai hak tiga hari, kemudian ia (suami yang mempunyai istri lebih dari satu) kembali menemui istri-istrinya.” (Diriwayatkan Muslim).

6. Suami disunnahkan mengizinkan istrinya melawat salah seorang dari mahramnya, atau melihat jenazah salah seorang dari mahramnya yang meninggal dunia, atau mengunjungi sanak kerabatnya jika kunjunganya tidak merugikan kemaslahatan suami.[5]

 

  1. C. Keadaan suami yang meninggalkan istri:

a. Kesengajaan dari sang suami

Jika suami pergi meninggalkan istrinya karena kesengajaannya, maka mengenai hal ini perlu didudukkan terlebih dahulu inti permasalahannya. Karena kejadian seperti ini banyak kemungkinan yang melatarbelakangi. Akan tetapi, jika suaminya pergi, tidak meninggalkan  nafkah bagi istrinya serta tidak diketahui keberadaannya. Maka mengenai hal ini, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi telah menjelaskan hal tersebut  didalam kitabnya minhajul muslim sebagai berikut:

Jika suami pergi, tidak diketahui domisilinya, tidak meninggalkan nafkah untuk istrinya, tidak mewasiatkan sesorang untuk menafkahi istrinya, tidak ada orang lain yang menafkahi istrinya, istri tersebut tidak memiliki sesuatu apapun untuk menafkahi dirinya atau mencari suaminya. maka ia berhak membatalkan pernikahan melalui hakim agama. Ia membawa masalahnya kepengadilan agama, pengadilan agama harus menasehatinya, dan menyuruhnya bersabar. Jika istri tersebut menolak nasehat pengadilan dan tidak bisa bersabar, maka hakim agama menulis laporan dangan perantara saksi-saksi yang kenal dengan wanita tersebut dan kenal dengan suaminya. Semua saksi berskasi tentang kepergian suami wanita tersebut dan tidak kemampuannya memberikan nafkah kepada istrinya. Setelah itu, pernikahan keduanya dibatalkan dan pembatalan tersebut adalah talak ruju’ dalam arti jika suami wanita tersebut pulang maka berhak kembali kepada wanita tersebut.[6]

Hal ini dikuatkan dengan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ketika beliau ditanya, mengenai seorang wanita yang menikah dengan seoramg laki-laki. Setelah itu suaminya pergi, meninggalkannya dalam kurun waktu 6 tahun dengan tidak meninggalkan nafkah baginya. Kemudian wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain. Maka bagaimana hukumnya?

Beliau menjawab: “Apabila pernikahannya  yang pertama telah dibatalkan, karena suami tidak bisa memberikan nafkah. Setelah itu ia menjalani masa iddah, kemudian menikah dengan orang lain, maka pernikahan tersebut dianggap syah. Akan tetapi jika wanita tersebut menikah dengan orang lain, sedangkan pernikahannya yang pertama belum dibatalkan, maka pernikahan tersebut batil tidak (syah).[7]

Pendapat di atas senada dengan pendapat jumhur ulama: Seorang suami jika merasa kesusahan mencukupi nafkah istrinya, setelah itu istrinya lebih memilih  untuk bercerai. Maka keduanya diceraikan dengan adanya udzur tersebut. Hal disandarkan kepada hadist Rosulullah r yang diriwayatkan oleh Imam Darut Qutni dari Abu Hurairah, ketika beliau bersabda tentang seorang suami yang tidak mendapatkan sesuatu untuk menafkahi istrinya, maka beliau bersabda:

قَالَ يُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا (رَوَاهُ الدَّارُ اْلقُطْنِي)

“Maka keduanya diceraikan” ( Diriwayatkan Ad-Darul Qutni)[8]

b. Dalam kondisi terpaksa ( Ditawan atau dipenjara )

a. Hukum wanita yang suaminya ditawan atau dipenjara

  • Menurut Doktor Wahbah Az-Zuhaili

Beliau telah menjelaskan mengenai hal ini, Apabila orang yang ditawan tidak diketahui kabar serta nasib yang menimpanya, juga tidak diketahui ia masih hidup atau sudah meninggal serta tidak diketahui kemurtadannya. Maka ia dihukumi sebagai orang yang hilang. Dengan demikian, hartanya tidak boleh dibagikan dan istrinya tidak boleh menikah, sehingga keberadaannya diketahui dengan jelas.

  • Menurut Doktor Yusuf Al-Qaradawi

Ketika beliau ditanya tentang seorang istri dinegara palestina yang suaminya dihukumi penjara sangat lama, apakah ia boleh meminta cerai?

Beliau menjawab, seorang istri hendaknya bersabar dan menunggu suaminya kembali. Tugas seorang istri yang dalam berjihad adalah bersabar atas suaminya yang menjadi tawanan musuh, jika ia mempunyai anak. Tetapi jika tidak mempunyai anak, atau yang masih muda belia dan masih berstatus sebagai pengantin baru, tidak apa-apa ia minta cerai kepada suaminya yang dijatuhi hukuman cukup lama, sebab menurut pendapat salah satu mazhab islam, apabila seorang suami meninggalkan istrinya lebih dari empat tahun karena dipenjara atau karena alasan-alasan lain, sang istri boleh meminta cerai kepadanya.

Dalam keadaan ini idealnya sang suami yang mengambil inisiatif, hendaknya ia segera menemui istrinya untuk memberikan pilihan dan menyerahkan urusan kelangsungan kehidupan rumah tangganya kepadanya. Sebelum terpaksa istri menuntut perceraian kepengadilan. Ini adalah cara terbaik bagi hubungan seorang laki-laki dan perempuan sesama muslim. Apalagi kalau keduanya termasuk aktivis islam  dibidang dakwah dan perjuangan.[9]

  • Sedangkan menurut ijma’

Bahwa istri dari seseorang yang di tawan tidak boleh menikah sampai ia yakin akan kematian suaminya.  Ini adalah pendapat An-Nakhoi, Az-Zuhri, Yahya Al-Ansor Makhul, As-Syafi’i, Abu ‘Ubaida, Abi Saur, Ishaq dan Ashabul ro’yi. [10] hal ini dikuatkan oleh kesepakatan seluruh mazahib bahwa, jika ketidakberadaannya tidak terputus (hubungannya dengan istrinya) sama sekali dimana laki-laki tersebut masih diketahui tempatnya dan masih pula diterima kabar beritanya. Maka, istriya tidak boleh menikah dengan laki-laki lain.[11]

  1. c. Hilang tidak diketahui kabar keberadaannya

a. Defenisi Mafqud (orang yang hilang):

Mafqud adalah hilangnya seseorang dari suatu tempat, tidak di ketahui kabar dan keberadaannya secara pasti, serta tidak diketahui apakah dirinya masih hidup atau sudah meninggal dunia.

Maka hakim mengambil sebuah keputusan berdasarkan petunjuk yang ada. Misalnya: Pertama, dengan persaksian orang-orang yang dapat dipercaya. Maka pada kondisi seperti ini, orang tersebut dihukumi sebagai orang yang telah meninggal secara hakiki karena adanya saksi. Kedua, berdasarkan tanda serta alamat yang ada, karena tidak ada petunjuk yang jelas mengenainya yaitu setelah berlalunya waktu (yang lama). Dan pada kondisi  seperti ini, hakim menghukuminya sebagai orang yang telah meninggal secara hukumi, karena berlalunya waktu yang lama, karena masih ada kemungkinan orang tersebut masih hidup.[12]

b. Hukum wanita yang hilang suaminya

Mengenai hal ini ada dua kemugkinan yang terjadi:

  1. Seorang yang hilang tersebut secara dzhohir di ketahui akan keselamatannya.  Seperti orang yang pergi untuk mengadakan perdagangan ditempat yang aman, menuntut ilmu, atau untuk keperluan siyahahah. Maka dalam hal ini, menurut Imam Malik dan As-Syafi’i (al qodim) sebagai berikut,
  2. Orang yang hilang tersebut secara dzohir  telah meninggal dunia. Seperti, orang yang hilang ketika malam atau siang hari ditengah-tengah keluarganya, atau hilang ketika pergi kemasjid, atau pergi ketempat yang dekat untuk memenuhi kebutuhanya kemudian tidak kembali, atau hilang ditengah-ditengah shof pertempuran, atau hilang ketika menaiki kapal kemudian tenggelam sebagian penumpangnya, atau orang yang hilang ditempat yang tidak aman seperti didataran hijaz atau yang semisalnya. Maka dalam hal ini para ulama berbeda pendapat:

Maka dalam hal ini, Seorang istri pada kondisi seperti  ini hendaknya menunggu 4 tahun, kemudian setelah itu beriddah dengan iddah seorang istri yang ditinggal mati suaminya, yaitu selama 4 bulan lebih 10 hari. Setelah itu halal baginya untuk menikah lagi. Hal ini disandarkan kepada perkataan Umar Rodhiyalloh ‘Anhu mengenai seorang istri yang suaminya menghilang, beliau berkata;

أَيُّمَا امْرَأَةٍ فَقَدَتْ زَوْجَهَا فَلَمْ تَدْرِ أَيْنَ هُوَ فَإِنَّهَا تَنْتَظِرُ أَرْبَعَ سِنِينَ ثُمَّ تَعْتَدُّ أَرْبَعَةَأَشْهُرٍعَشْرًا ثُمَّ تَحِلّ

“Setiap perempuan yang kehilangan suaminya dan tidak tahu dimana suaminya berada, maka ia menunggu selama 4 tahun, setelah itu ia beriddah selama 4 bulan 10 hari, kemudian halal baginya untuk menikah lagi.” (Diriwayatkan Imam Malik di dalam muwatho’).

Pendapat di atas berdasarkan pendapat Imam Ahmad, Malik dan mazhab hambali dan pendapat merupakan pendapat Umar, Ustman, Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ato’, Amru bin Abdul Aziz, Al-Hasan, Az-Zuhri, Qotadah, As-Syafi’i (al-qodim ) dan  imam Malik  Beliau berkata, Waktu yang di perlukan untuk menghukumi kematian seseorang yang hilang ialah 4  tahun, karena Umar Rodhiyalloh ‘Anhu  beliau pernah berkata:.[13]

Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan Umar bin Khattab, kepada seorang wanita yang ditinggal suaminya, kemudian menghilang tidak diketahui kabar keberadaannya. Maka datanglah istri tersebut kepada Umar Rodhiyalloh ‘Anhu  dengan mengutarakan hal tersebut,  Maka Umar Rodhiyalloh ‘Anhu  berkata kepadanya:

تَرَبَّصِيْ أَرْبَعَ سِنِيْنَ؟ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَتَتْهُ فَقَالَ تَرَبَّصِيْ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا؟ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَتَتْهُ فَقَالَ أَيْنَ وَلَيُّ هَذَا الرَّجُلُ ؟ فَجَاؤُوْا  بِهِ فَقَالَ طَلِّقْهَا ؟ فَفَعَلَ فَقَالَ عُمَرُ تَزَوَّجِي مَنْ شِئْتِ؟

“Tunggulah 4 tahun?” kemudian wanita tersebut melaksanakan perintah tersebut. Setelah berlalu 4 tahun, (perempuan tersebut datang kembali) menghadap Umar Rodhiyalloh ‘Anhu. Maka umar berkata kepada dirinya (untuk kedua kalinya), “Beriddahlah 4 bulan 10 hari?” kemudian wanita tersebut melaksanakan perintah tersebut. Setelah berlalu waktu tersebut, maka wanita tersebut datang kembali menghadap Umar Rodhiyalloh ‘Anhu. Maka Umar berkata kepadanya untuk (ketiga kalinya), “Dimana wali suamimu ?”. Setelah itu wanita tersebut (pulang), kemudian datang kembali bersama wali suaminya. Maka umar berkata kepada walinya, “Ceraikanlah istri anakmu ini?”. Kemudian wali tersebut melaksanakan apa yang diperintahkan Umar kepadanya. Setelah itu Umar berkata kepada Wanita tersebut, “Nikahlah kepada siapa saja yang engkau kehendaki. (Diriwayatkan oleh Darut Qutni )[14]

  1. b. Orang yang hilang dimedan peperangan
  • Imam Malik berkata :

Tidak ada masa menunggu bagi seorang wanita yang suaminya hilang di medan

perang.

  • Said bin Musayib berkata:

Orang yang hilang ditengah shof pertempuran,  maka bagi istrinya cukup menunggu satu tahun saja. Karena kemungkinan meninggalnya itu lebih besar daripada ditempat  lainya.[15] Sedangkan dalam riwayat Asyhab dan Ibnu Nafi’ dari Malik, Beliau memberi waktu satu tahun bagi seorang istri supaya menunggu suaminya yang hilang di medan peperangan. Kemudian setelah itu, istrinya boleh menikah setelah beriddah. Hal ini boleh dilakukan ketika suaminya ikut peperangan seperti perang khondak, andalus, atau dinegara-negara yang sering terjadi peperangan atau peperangan yang terjadi dinegara kaum muslimin.[16]

 

D. Jika suami kembali sedangkan istrinya sudah menikah dengan orang lain

Jika istri yang ditinggal suaminya, menikah dengan orang lain. Namun setelah pernikahan tersebut dilaksanakan, suami yang pertama datang kembali. Maka dalam hal ini Imam Ali berkomentar, sebagaimana telah diriwayatkan oleh Imam syafi’i didalam musnad bahwa beliau berkata:

هِيَ اِمْرَأَتُهُ إِنْ شَاءَ طَلَقَ وَإِنْ شَاءَ أَمْسَكَ وَلاَ تُخَيِّرْ

“Wanita tersebut tetap menjadi istrinya. Akan tetapi jika ia menghendaki, ia boleh menthalak atau menahannya.”  (Diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dan Al-Baighowi). Dan imam Ali juga pernah berkata:

لَوْ تَزَوَجَتْ فَهِيَ اِمَرَأَةُ اْلأَوَّلِ دَخَلَ بِهَا أَوْ لَمْ يَدْخُلْ

“Seandainya sudah menikah lagi, maka tetap ia menjadi istrinya, baik sudah digauli atau belum digauli.”[17]

Abu Hanifah dan Imam Malik berkata, Jika seorang istri yang ditinggal suaminya tersebut menikah dengan orang lain, dan teryata sudah digauli. maka ia tetap menjadi istri dari suami yang pertama. Begitu juga halnya jika dirinya belum digauli. Hal ini sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Abdur Rozak, Baihaqi dan ibnu Abi Syuaibah bahwasannya Umar Rodhiyalloh ‘Anhu:

خَيَّرَ اْلمَفْقُوْدَ بَيْنَ اِمْرَأَتَهِ أَوْ اْلصَدَاقِ الَّذِي أَصْدَقَهَا فَاخْتَارَ الصَدَاقَ لِأَنَّ زَوْجَتَهُ قَدْ حَبِلَتْ

“Beliau (Umar Rodhiyalloh ‘Anhu) menawarkan kepada orang yang hilang (kemudian kembali lagi), untuk memilih antara kembali kepada istrinya atau mengambil maharnya saja. Kemudian orang tersebut memilih untuk mengambil maharnya, karena istrinya telah hamil (dari pernikahannya dengan suami yang kedua). (Diriwayatkan oleh Abdur Rozak, Baihaqi dan ibnu Abi Syuaibah)[18]

Imam As-Syafi’i juga telah menjelaskan hal ini, tentang suami pertama jika datang setelah istrinya menikah, maka ia tetap menjadi istrinya dalam kondisi apapun juga. Setelah itu dilihat, jika belum digauli dengan suami yang kedua, maka ketika itu juga keduanya disuruh bercerai. Setelah itu dirinya menjadi halal bagi suami yang pertama.  Akan tetapi jika sudah digauli. Maka ketika itu juga dirinya disuruh bercerai dengan suami yang kedua, dan melaksanakan iddah. dan dilarang bagi suami pertama untuk menggaulinya dimasa iddahnya, sampai waktu iddahnya selesai.  Jika sudah berlalu masa iddahnya, maka menjadi halal baginya.”[19]

Mengenai hal ini sudah ada ketetapan ijma’ para sahabat sebagai berikut, apabila orang yang hilang itu datang sebelum istrinya menikah, maka tetap wanita tersebut adalah istrinya. Akan tetapi jika suaminya datang setelah istrinya menikah, akan tetapi belum digauli, maka ia tetap menjadi istrinya juga. Sedangkan Jika suami pertama datang setelah istrinya digauli, maka dirinya memilih antara kembali kepada istrinya atau meminta maharnya saja.

Seandainya ia memilih untuk kembali kepada istrinya, maka wanita tersebut menjadi istrinya yang hak sesuai akad yang pertama. Dengan demikian tidak perlu bagi suami yang kedua untuk menthalaknya, karena kondisi yang mengharuskan pernikahannya itu dibatalkan. Dan jika suami pertama lebih memilih untuk meminta maharnya, maka ia berhak mengambil maharnya dari suami yang kedua, yang ia berikan kepada istrinya.[20]

E.  Nafkah Istri yang ditinggal suami

ü   Menurut Imam Ibnu Qudamah

Apabila seorang istri lebih memilih bersabar, sampai perkara suaminya menjadi jelas. Maka ia berhak mendapatkan nafkah seumur hidupnya,  sampai ia mengetahui  perihal yang menimpa suaminya. Karena, pada kondisi ini ia masih dihukumi sebagai seorang istri. Maka dirinya tetap mendapatkan nafkah dari suami yang meninggalkannya. Begitu juga halnya, ketika suaminya diketahui masih hidup. Akan tetapi, jika ternyata suaminya telah meninggal dunia.         Maka istriya mendapatkan  nafkah, sampai dirinya mengetahui kabar kematian suaminya atau kejelasan kabar mengenainya. Dan seandainya ada sisa, maka   sisa harta  tersebut harus dikembalikan. Begitu juga halnya, ketika perkara tersebut dibawa dan diadukan kepada seorang hakim. Jika setelah itu, hakim menentukan baginya masa menanti, maka baginya nafkah dimasa penantian dan dimasa iddahnya. Akan tetapi jika setelah beriddah ia menikah, atau hakim menceraikan hubungan keduanya, maka terputuslah nafkah yang ia dapatkan dari suaminya yang pertama. Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan daru Al-Atsrom dan Al-Juzajani bahwa Ibnu Umar dan Ibnu Abbas pernah berkata,

يُنْفَقُ عَلَيْهَا بَعْدَ فِيْ اْلعِدَةِ بَعْدَ اْلأَرْبَعِ سِنِيْنَ مِنْ مَالِهِ زَوْجِهِ جَمِيْعُهُ أَرْبَعَةَ أَشْهُرِ وَعَشْرًا

“Wanita yang ditinggal pergi suaminya diberi nafkah dari harta suaminya, ketika masa menanti, yaitu selama 4 tahun dan Masa iddahnya yaitu selama 4 bulan lebih 10 hari. ( Diriwayatkan Al-Baihaqi )[21]

Apabila seorang istri yang ditinggal suaminya memilih bersabar, menunggu sampai datang kejelasan kabar mngenai suaminya. Maka ia berhak mendapatkan nafkah serta tempat tinggal selama ia menunggunya. Akan tetapi jika dihukumi cerai maka terputuslah nafkahnya dengan terpisahnya hubungan mereka berdua [22]

ü      Menurut Imam As-Syafi’i berkata :

Seorang wanita berhak mendapatkan nafkah dari  suami yang meninggalkannya sejak hari kepergiannya, sampai diketahui dengan yakin kabar kematian suaminya. Jika hakim menyuruh istrinya supaya menunggu 4 tahun lamanya, maka ia tetap mendapat nafkah, begitu juga ketika masa iddahnya. Lain halnya kalau wanita tersebut menikah dengan orang lain, maka ia tidak berhak mendapatkan nafkah dari suami yang meniggalkannya..[23]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1]. Kamus Al-munjid fi lughoh: 490

[2]. Kamus al-muhit: 3/169

[3]. Minhajul muslim: 378

[4] .Al Aziz sarhul wajiz al ma’ruf bis syarhil kabir: 9/422-423

[5].  Minhajul muslim: 362

[6]. Minhajul muslim:361

[7]. Majmu’ fatawa Ibnu Taimiyah: 32/200, dan Taisirul ‘alam syarhul ‘umdatil ahkam: 2/350

[8]. Nailul Author syarhul muntaqol akhbar: 7/132-133.

[9]. Fatwa-fatwa kontemporer: D.r Yusuf Al-Qaradawi 713

[10]. Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 11/247

[11]. Fikh Lima mazhab: 204

[12]. Fiqh sunnah: 2/453

[13]. Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 11/247-249

[14]. Al-Fiqh al-islami wa adilatuhu: 7/643-644

[15]. Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 11/247-249

[16]. Mawahib aljalil lisyarhi mukhtasor kholil: 5/506

[17]. Syarhul sunnah: 5/498

[18]. As-Salsabil fima’rifati dalil: 4/76

[19]. Al-Majmu’ Syarhul Muhazab: 19/ 237-241

[20] . Al-Kafi, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi i:3/314-315

[21]. Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 11/255

[22] Al-kafi, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi:  3/316

[23] Al umm: 6/240

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: