IBNU TAIMIYAH


 

“Apa hasil yang di perbuat oleh musuhku ? aku, syurgaku dan kebunku ada didadaku. Dimana aku berada ia selalu bersamaku tidak akan pernah berpisah, aku penjara khalwat, membunuhku syahadah, pengusirangku adalag siyahah atau wisata“.

DUNIA ARAB MASA IBU TAIMIYAH.

  1. Ligkungan Politik

kondisi pemerintahan di dunia arab sebagaiman tertulis dalam sejarah, mengalami perubqahan kekuasaan yang berkala, mulai dari khulafaurrasyidin, bani umayah, bani abasiyah dengan segala problematikanya yang mengakibatkan perpecahan dan kelemahan yang tidak dapat dihindarkan.

 

Puncaknya adalah penyerangan besar-besaran terhadap bagdad bangsa mongol yang di pimpin oleh hulagu khan, cucu dari jengis khan pada tanggal 10 Februari 1253 M dengan membantai habis khalifah beserta keluarga dan 300 pemuka lainnya. Kaum muslimin di bantai hingga darah membanjiri bagdad dan udara busuk akibat mayat yang tidak di kuburkan.

 

penyerbuan atas bagdad tersebut mrnyebabkan kehancuran yang sanga menyedihkan dalam berbagai sendi kehidupan. Hal ini membuat bani amluk di Mesir untuk mendirikan kekhilafahan di Mesir. Dengan datangnya Amir abul Qasim, putera khalifah mu’tasim yang melarikan diri, maka baibers beserta Qadli dan rakyatnya berbait kepadanya.

 

Selain itu islam masih harus menghadapi serangan dari front barat, terutama dari kristen eropa sehingga meletus perang salib yang di pimpin Shalahuddin al Ayyub. Perang Salib berlangsung kurang lebih tujuh kali. Demikianlah, serangan tartar dan franka (kristen) memberikan bekas tersendiri dalam pertumbuhan ibnu Taimiyah.

 

  1. lingkungan sosial

masyarakat kala itu terbagi menjadi gua golongan :

 

tingkatan pertama

ialah terdiri dari Emir, yang dipimpin sultan. Mereka memunyai kedudukan yang istimewa untuk mengatur dan mengeluarkan undang-undang.

 

Tingkatan kedua

Golongan kedua ini terdiri dari ulama, fuqaha’, pemuka-pemuka agama dan sebagainya. Mereka juga mempunyai kedudukan penting dalam masyarakat. Merekalah yang behadapan langsung dengan dengan rakyat.

 

Pada masa ibnu taimiyah ini juga banyak berkembang agama dan aliran kepercayaaan. Disana terdapat agama nasrani, yahudi, kristen, ismailiyah, rafidah, syiah, kaum sufi dan sebagainya. Panatisme madzhab juga sangat menonjol dirasakan. Ahli Fikih, filsafat dan ilmu kalam bermunculan bak jamur.

 

Dengan Madarsah-madrasah  menjadi berkembang terutama di iskandariyah, mesir, dan syam. Lingkungan yang kaya ilmu pengetahuan mempunyai pengaruh erendiri bagi ibnu taimiyah.

 

 

HIDUP IBNU TAIMIYAH

 

Nama beliau adalah taqiyuddin ahmad bin abdul halim bin taimiyah. Dilahirkan di harran pada hari senin 109 rabiul awal tahun 661 H. ayahnya bernama syihabuddin abu ahmad bin abdil halim bin abdissaam ibnu abdillah bin taimiyah.

 

Tatkala bagdad diserabng tahun 667, ia dibawa lari ke damaskus oleh ayah dan kakeknya. Di damaskus inilah beliau memulai menuntut ilmu berbagai ilmu pengetahua, dengan kelebihan yang allah berikan berupa kecerdasan, cepat menghapal dan sukar lupa, hingga diakui ulamak sejamannya.

 

Imam mawardi mentebutkan setelah belajar khat, hisab, dan mengahapal al-qur’an beliau belajar fiqhn dan bahasa arab. Kemudia setelah paham beliau mempelajari ilmu ushul fiqh. Semuanya itu ditempuhnya dibawah umur 10 tahun. Pada usia 17 tahun pengetshuan ilmiyahnya sudah mulai tampak di forum-forum diskusi. Ia telah menguasai hadits pada kutubussittah sehingga ada ungkapa setiap hadits yang tidak diketahui ibnu taimiyyah maka bukanlah hadits. Selain itu ia menguasai ilmu rijalul hadit5r, jarhu wa ta’dil, dan funun nilmu hadits.

 

Umur 19 tahun beliu sudah memberikan fatwa. Pada uur 20 ayahnya meninggal seingga membuatnya sedih. Kesedihannya itu beliau palingkan dengan menafsirkan qur’an. Dalam sehari semalam beliau menulis empat buah buku kecil. Karangannya hingga kini mencapai lima ratus jilid buku.

 

Imam kamaluddin bin zamlakani, seoang ulama syam bermazhab syafi’i menulis beberapa buku yang sebagian mengkritisi pendapat ibnu taimiyah. Namun disisi lain ia memujinya.diantara pujiannya adalah bahwa tidak seorangpun bertanya pada ibnu taimiyah melainkan ia mengira tidak ada seoarangpun yang mengetahui ilmu itu kecuali ibnu taimuiyah. Beliau tidak pernah kalah dalam berdiskusi.

 

Selain menulis, kegiatannya adalah mengajar dan memberikan fatwa. Beliau menyadari bahwa islam adalah akidah dan amal. Suatu perintah yang amat menancap di hati ibnu taimiyah adalah jihadx fi sabilillah, sebab ia merupakan syarat lelngkapan dan kesempurnaan iman seseorang.

 

Ahli- bid’ah dan khurafat merupakan musuh bebuyutannya. Ibnu taimiyah memerangi mereka lewat pena dan kemahiran diplomasi. Beliau yakin memerangi pembuat bid’ah dan ahli kaam yang menggunakan rasio dengan pena lebih ampuh daripada dengan pedang. Dua buah buku kritikannya yaitu “naqdlun nathiqi” dan “arraddu ‘ala Nathiqiyyin”.

 

Adzzahabi, seorang ahli tarikh (1274-1348) mengatakan tentangnya :” beliau lebih mengedepankan sunnah Muhammad san sistem salaf dengan mengemukakan hujjah-hujjah penguat, mukadimah-mukadimah, dan hal-hal yang belum ada sebelumnya’.beliau banyak dikritik ulama mesir dan syam karena ia berani menggunakan kata-kata yang dihindari orang terdahulu maupun yang akabn datang setelahnya

 

Kesungguhan ibnu tqaimiyah ini ditujukan untuk pelurusan akidah dan menyeran g perusaknya dari kesyirikan dan bid’ah. Ia berkata ” jihad kami dalam hal ini sebagaimana kami menyerang qazan, jabaliyah, jahmiyah, dan ittihadiah,. Perang dalam al ini merupakan nikmat besar yang dikaruniakan allah namun kebanyakan mansia tidak mengetahuinuya.

 

Setelah itu namanya masyhur menyaingi ulamu pendahulunya, tak jarang menimbulkan dendam bagi yang merasa tersaingi. Keberaniannya banyak ia tiru dari imamnya imam ahmad bin hanbal.

 

Diantara perkataan masyhurnya yatu :” sesungguhnya di dunia itu ada syurga yang barang siapa  belum pernah memasukinya dia tidak akan masuk syurga Akhirat. Apa yang telah diperbuat musuh-musuhku terhadap diriku? Aku syurgaku dan kebunku ada didadaku. Dimana aku berada disanalah aku mendapatkannya, sebab ia tidak pernah berpisah denganku. Aku tahannku adalah khalwat, kematianku adalah syahid, dan pembuanganku adalah siyahah”.

 

Pada tahun 700 M, negri syam dalam bahaya. Tentara tar-tar hendak menyerang negeri itu. Dengan sigap belia mendatangi wali kota syam, dan minta izin untuk berperang. Awal jumadil ula tahun 700 M, wali kota minta bantuan pada sultan di kairo. Degan bantuan tentara tersebut aum muslimin beroleh kemenangan.

 

Emudian berlanjut dengan peperangan yang lain seperti perang syu’qub, pembebasan kota Akka, dan seagainya. Dalam peperangan melawan tartar ibnu taimiyah mempunyai peran yang amat besar.

 

Pada tahun 698 H, antara waktu dhuhur dan asar beliau mendapat ujian hamawiyah, aitu sebuah surat berisi pertanyaan theologis mengenai sifat-sifat Allah dari hamat, sebuah daerah yang disebut epiphana pada masa bani suluk. Dan beliau berhasil memenangkannya.

 

Kaum muslimin tatkala itu sepakat dengan jawaba ibnu taimiyah mengenai sifat-sifat Allah. Beliau menyatakan alirannya adalah aliran salaf sebagai aliran yang tidak mengandung kesesatan. Dalam masalah akidah beliau berada di tengah-tengah antara ta’thil dan tasybih. Beliau menamakan itab akidah karangannya dengan aqidah washitiah.

 

Tahun 705 beliau mendapat ujian dari para ulama kesultana untuk mempertanggung jawabkan pendatnya dalam aqidah washutiyah karena menimbulan suasana kegoncangan kala itu. Tanggal 22 ramadlan beliau sampai di kairo untuk mendatangi majelis yang telah disiapkan untuk memojokkkannya. Para penantangnya itu kebanyakan dari kaum tasawuf seperti syekh nasr al munjabi dan ibnu makhlf yang mempunyai hubungan dekat dengan sultan.

 

Setelah cara diskusi dan dialog selalu dimenangkan ibnu tamiyah, maka meeka menggunakan cara licik dengan menggugat beliau di pengadilan dengan tuduhan bahwabeliau mepmpunyai paham aqidah yang sesat. Dengan demikian beliau dipenjaraka selama 1 tahun beberapa bulan di penjara jubb.

 

 

Pada bulan rabiul awal tahun 707 beliau di bebaskan setelah emir arab yang bernama hisamuddin mahna menjenguknya atas izin sultan. Namun beliau kembali dijebloskan ke penjara kembal pada tahun yang sama dengan tuduhan telah menjele-jelekkkan ibnu arabi seorang ulama sufi berpaham wihdatu wujud. Beliau membantah bah wa yang beliau jekkkan adalah pendapat-pendapatnya semata.

 

Karena mahkamah bertinak curang belau kembali dihaapkan dua pilihan yaitu diasingkan ke damaskus atau di penjarakan. Beliau mmilih penjara. Namun demkian atas bujukan para saabatnya eliau mengjukan diri untuk ke damaskus.Tak berapa lama beliau di damaskus kembal kesultanan memanggil dan memenjarakannya.

 

Tahun 709 beliau di bebaskan dengan turunnya raja baibers dari tahtanya digantikan raja qawalun. Raja qawalun meminta persetujuannya untuk menagkap semua musuhnya bila perlu membunuhnya, namun beliau justru memaafkan musuh-musuhnya.

 

Tahun 712 ia kembali ke damaskus. Di sanana beliau memberikan fatwa, menulis dan mengajar. Salah satu permasalahan yag menimbulkan gejolak kembali adalah fatwanya mengenai al hafu bith thalak. Ia berpendapat bahwa hal itu tidak menjadikan thalak itu jatuh. Maka aopabila si halif berbohong dengan sumpahnya maka ia harus membyar kafarah yamin. Selain itu pila ia mengatakan bahwa thalak tiga dengan satu lafadz tidak terjadi.

 

Dengan fatwanya yang demikian, para ulama terutama musuhnya menganggap sangat berbahaya maka mereka mendesak sultan untuk mengeluarkan pelarangan ibnu taimiyah berfatwa masalah thalak. Namun itu sermua tidak beliau gubris sehingga menebabjab ia di tangkap dan di penjarakan lagi tahun 719.

 

Setelah bebas ia menfatwakan masalah syaddur rihal yang intinya melarang kaum muslimin berziarah makam wali. Nabi untuk mengharapkan berkah. Hal menyebabkan musuh-musuhnya menuduh beliau menginjak-injak dan merusak citra makam wali dan nabi maka sultan mengeluarkan perintah penangkapannya dan para pengikutnya tahun 728. sebagian pwngikutnya kemudian di bebaskan kecuali adiknya yang menemaninya an mrid kesayangannya ibnu Qoyyim al jauziyah. Hal inilah yang mebuatnya tenah.

 

Di dalam penjara beliau giat menilis meskipun dengan fahm atau arang. Setahun di penjara beliau menyelesaikan bukunya yang berjudu “roddun ‘alabni akhnai al maliki”, sebuah bantahan atas pemikiran Akhnai al maliki.

Hal ini membuat peralatan tulis dan buku bukunya di rampas. Ha ini membuatnya sedih sesedih-sedihnya. Ia hanya bisa mendekatkan diri pada Alla hingga ia sakit selama 20 hari hingga wafat di penjara qal’ah dimana ia di penjara fari senin 20 dzulqa’dah 728 H. kaum muslim sangat bersedih dengang kepergiannya, hingga menurut riwayat pelayatnya menyaingi jenazah imam ahmad, kurang lebih jumlahnya mencapai 200 ribu orang. Selain di Damaskus, di tempt lain eperti mesir, irak, yaman, bashroh bahkan Cina kaum muslimin melaksana shalat ghaib.

 

Perkataan beliau yang terkenal sebagaimana di nukil ibnu qoyyim ia pernaha berkata” sesungguhnya di dunia ada surga barang siapa yang belum memasukinya, dia tidak akan memasuki syurga akhirat”

 

Beliau juga berkata” apa hasil yang di perbuat oleh musuhku ? aku, syurgaku dan kebunku ada didadaku. Dimana aku berada ia selalu bersamaku tidak akan pernah berpisah, aku penjara khalwat, membunuhku syahadah, pengusirangku adalag siyahah atau wisata”.

 

 

 

PEMIKIRAN IBNU TAIMIYAH

 

Ibnu taymiyah muncul dengan pemikiran tersendiri dari ulama-ulama lain semasanya. Maka tak heran jika mengundang banyak pertentangan. Karena kuatnya memegang sistem pemikiran dan tetap teguh berpijak pada methode, ibnu taimiyah berkali-kali dimasukkan ke penjara.

 

Adapun sistem pemikiran dan keseluruhan studi ibnu taimiyah keistimewaan sebagai berikut:

  • bersumberkan al qur’an dan hadits

ibnu taimiyah selalu mengembalikan segala masalah kepada al-qur’an dan hadits-hadits mutawati dari rasulullah. Kemudian bersandar kepada pendapat para sahabat, meskipunterkadang dia pun mengambil pendapat dari tabi’in dan atsar-atsar yang mereka riwayatkan, khususnya dalam debat, tukar pikiran dan diskusi.

 

Aliran salaf ibnu taimiy ini hanya percaya kepada syariat dan akidah serta dalil-dalil yang ada nashnya, dan menghindari 4 methode menyimpang menurutnya yaitu :

  1. aliran filsafat yang mengatakan bahwa al-qur’an berisi dalil khithabi dan iqna’i (penenang dan pemuas hati bukan pemuas pikiran)
  2. aliran mu’tazilah mendahulukan akal rasional sebelum mempelajari dalil-dalil al qur’an.
  3. aliran maturudiyaah yang mempercaya al-qur’an suatu berita yang dijadikn pangkal penyelidikan akal pikiran.
  4. aliran asy’ariyah yang mempercayai dalil al-qur’an tetapi disamping itu menggunakan dall pikiran pula.

 

  • memfungsikan akal pikiran

 

kita tidak perlu keburu menuduh ibnu yaimiah mengabaikan akal. Untuk memahami al-qur’an dan hadits kita butuh kepada hati yang terbuka dan akal yang bekerja. Namun demikian ibnu timiyah mengetahui keterbatasan akal untuk bergerak menafsirkanal-qur’an dan hadits. Maka dalam mempergunakan akal seseorang harus mengetahui batas kemampuannya.

 

Maka dalam hal ini beliau mengkritsi golongan mu’tazilah yang mendewakan akal, terlebih dalam masalah dzat allah (metafisika). Seperti al ghazali yang menerjunkan diri dalam masalh ta’wil secara mendalam dan berlebihan.

 

Ta’wil menurut kenanyakan ulama, filsuf dan mutakallimin adalah mengubah lafadz dari makna yang ditunjuk padanya dan dimengerti darinya, kepada makna lain yang bertentangan. Sedang menurut ibnu taimiyah alah mengubah sesuatu lafaz dari makna yang kongkret kepada makna abstrak.

 

Namun meskipun begitu beliau tidak meremehkan akal dalam pembahasan-pembahasannya, sebab dengannya dia dilebihkan diatas makhluk-makhluk yang lain.

  • membuang jauh fanatisme dan kejumudan

ibnu taimiyah tidak pernah mengikuti secara buta pendapat orang lain yang tidak berdasar kepada dalil yang kuat. Pendapat yang jelas taklid dan tampak kesalahannya di buang jauh-jauh. Dia bebas berfikir dengan patokan yang tetap berada pada lingkaran al quran dan hadits.

 

Berikut ini akan kita tlusuri sejauh mana eliau mewarnakan sistem pemikiran dan methode pembahasan dalam tulisan dan risalah-risalahnya.

 

  1. ilmu tafsir

mengenai ilmu tafsir, ibnu taimiyah telah menulis buku berjudul “ushulut tafsir” yang didalamnya memuat pendapat-pendapatnyab tentang bagaimana sistem yang beliau gunakan dalam menafsirkan qur’an dan bagaimana pula pendapatnya tentagtafsie yag baik.

 

Mempelajari cara penafsiran dan sistem ta’wil para sahabat dan tabi’in, akhirnya ibnu taimiyah mengabl kesimpulan yang diadikan dasar methode tafsir sebagai berikut

    • tafsir al qur’an dengan al qur’an
    • tafsir alqur’an dengan sunnah rasul
    • tafsir alqur’an dengan aqwal sahabat
    • tafsir val que’an dengan aqwal tabi’in.

ibnu taimiyah berkata dalam penutup bukunya tersebut ” jika mereka bersepakat maka jangan diragukan untuk mengambilnya, namun bila mereka berselisih janganlah dijadikan hujjah. Masalah yang diperselisihkan haruslah dikembalikan kepada bahasa al-qur’an, atau kepada pendapat sahabat”.

 

Demikian cara ibnu taimiyah mnafsirkan alqur’an. Ia tidak menyetujui tafsair beraliran mu’tazilah, seperti tafsi al-kasyaf Zamakhsyari.

  1. ilmu kalam

 

dalam kitab ma’arujul wushul beliau menerangkan bahwa allah telah menerangkan pokok-pokok dien (ushuluddin) yang merupakan objek pembahasan ilmu kalam, kepada nabi muhammada secara lengkap di dalam kitab akl-qur’an. Kitab itun telah memberi petunjuk kepada manusia buntuk berfikir mencari dali-alil yang rasional. Dengannya mereka dapat menetapkan rububiyah Allah wahdaniyah dan sifat-sifatnya.

  1. fiqh dan ushul

 

dalam masalah fiqh ini, beliau tetap berpijak pada methode dan sistem yang dia pergunakan dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, yaitu alqur’an, hadits, ijma’ dan qiyas yang benar ytang dikembalikan pada qur’an dan hadits.beliau juga menghindari kejumudan dan ta’ashub atas suatu paham. Denbgan demikian dialah ulama yang tetap mempertahankan sistem dan metodenys hingga akhir hayar. Tak heran beliau dikenalsebagai mujaddid yang lain ndari yang lain.

 

Pikiran pikiran ibnu taimiyah

 

  1. tafsir

 

dalam masalah tafsir, beliau tidak menafsirkan seluruh ayat tetapi hanya sebagian saja. Ayat yang elah jelas tidal beliau tafsrkan. Tasir yang sampai kepada kia hanyalah sebagian saja.

  • Surat al I’la

 

Beliau nmemulai sari segi etimologi. Al a’la dengan wazn af’ala dari isim tahdlil berarti yang paling tinggi. Kemudian menerangkan perbedaannya anta uluw, kibriya’, dan ‘adzmah, yang tipis perbedaanya, sebagaimana sabda nabi :

“keagungan adalah sarungku, kebesaran adalah selendangku, barang siapa yang mengambilnya dariku, aku akan mengadzabnya”. (AL-HADITS)

 

ayat selanjutnya seperti beliau terangkan tentang keterbatasan(muqayad) dalam ayat penciptaan dalam ayat kedua meliputi mpenciptaan dan penyempurnaan yang keduanya mengandung sifat yang umum.

 

Ayat ketiga beliau meneangkan ayat “dan yang menentukan kadar masing-masing dan mem memberi petunjuk” dengan menyebutkan pendapat ahli tafsir yang  seperti qatadah mengenai masalah pekerjaan manusia dan hubungannya dengan taat dan berbuat dosa. Dirangkan olehnya bahwa pekerjaan manusia allah lah yang menjadikannya,karena Dia byang menciptakan kehendak bagi manusia, an Allah sangat mampu berbuat segala sesuatu. dengan demikian menyelisihi jahmiyah dan qadariyah. Demikiuan beliau lanjutkan dengat ayat selanjutnya dengan enjelasan yang pangjang.

 

  • surat al falaq

 

surat ini berisi pokok-pokok isti’adzah yaitu, istiadzah itu sendiri, tempat berlindung, dan yang dimintai perlindungan. Ketiganya di jelaskan bnu taimiyah secara terperinci diantaranya:

-          isti’adzah adalah sebuah hakikat yang maknanya ialah lari dari sesuatu yang membawa kepada sesuatu yang membahayakan.

-          Kejahatan makhluk bersumber dari diri makhluk itu sendiri bukan dari allah, sebab kejahatan samsa sekaliu tidak masuk dalam sifat Allah.

-          Ghassaq memilik dua makna dingin dan kegelapan malam. Belia memilih yang kedua.

-          Manusia diminta untuk berlindung dari sihir kepada allah yang mampu melindunginya dari kejahatan shir itu.

-          Belia menerankan hakikat dengki, sebab-sebabnya, perbedaannya dengn sihir, dan tingkatannya.

 

  • Surat annas

Didalamnya beliau menerangkan musta’adz bihi yaitu allah mengenai makana idhofah di dalahnya :

-          Rabbun nass mengab dung idhofah rububiyah mencaku bpenciupotaan, pengaturan, tadbir, dan tarbiyah.

-          Malikinnas mengtandung idhofah mulk tercakup didalamnya kerajaan-Nya, dan senua makhluk yang diatur menurut kehendaknya.

-          Khannas mengandung makna tersembunyi setelah tampak seperti bintang karena setan akan masuk jika hamba lengah mengingat allah namun bila ia ingat ia lari darinya.

-          Jinnah(jin) dan nas (manusia) mengandung makna tersendiri yang tidak dapat disatukan.

Dari dua contoh penafsiran dapat kita simpulkan bahwa ibnu taimiyah seorang salaf yang menafsirkan qur’an dengan sangat menarik.

 

  1. ushul fiqh

 

ibnu taimiyah bukanlah imam mazhab yang mempunyai dasar-dasar pokok. Hukum-hukum fiqhnya ia istinbathkan bersandar kepada imamnya yaitu imam ahmad bin hanbal. Ibnu qoyyim menyebutkan ada lima dasar pokok yaitu nash dalam qur’an dan hadits, fatwa sahabat, memilih pendapat yang paling benar, dan qiyas.

  • Kitab dan sunnah

Alqur’an adl sebgai umber pertama sedang sunnah sebagai sumber kedua. Ibnu taimiyah membagi sunnah menjadi tiga macam:

-          sunnah mutawatirah yang menafsirkan alqur’an

-          sunnah mutawatirah yang tidak menafsirkan alqur’an melainkan berdiri sendiri.

-          Sunnah yang ahad

 

  • Ijma’

Ibnu taimiyah dalam kumpulan fatawanya menjelaskan masalah makna ijma beliau mengatakan bahwa hendaknya hendaknya ulama sepakat dalam suatu hukum, maka apabila hal itu telah ditetapkan maka tidak boleh keluar seorang pun dari ijma’ tersebut. Suatu umat tidaiklah bersepakat atas suatu kesesatan. Namun banyak masalah yang disangka sebagian orang telah diijma’ ulama’, akan tetapi pendapat lain bisa menjadi jelas mengenai qur’an dan sunnah. Maka ijma’ hendaknya tetap bersandar pada keduanya.

 

Kemudian menanggapi pertnyaan yang mengatakan bagaimana jika ada prtentangan antara ijma’ dengan nash yang datang darin rasul, mana yang harus didahulukan ? beliau menjawab bahwa tidak mungkin terjadi perseluisihan antara keduanya. Jika memang terjadi pertentangan, maka disamping ijma’ iu ada nash lain yang menerangkan penghapusan ash yang pertama.

  • Qiyas

Menurut ibnu taimiyah qiyas ada dua macam yaitu qiyas yang shahih dan yang fasid. Qiyas yang shahih berdasar pada qur’an dan sunnah memiliki syarat :

-          illah hukum syar’i yang terdapat dalam asal, harus terdapat juga pada cabang, tanpa ada pertentanan dalam cabang yang menjadi penyebab terlarang penentuan illah itu.

-          Qiyas dengan pembatalan pembeda antara dua bentuk itu tidak boleh ada pembeda yang mempengaruhi syarat.

 

Ibnu taimiyah mengkrtik golongan mu’tazilah yang menjadikan qiyas sebagai ajang tempat pemikiran, sehingga meninggalkan nas qur’an dan sunnah.

  • Istishab

Ibnu taimiyah mendefenisikan istishab sebagai”tetap berpegang pada hukum asal selama hukum itu belum diketahui tetap ada atau telah di rubah menurut syara’. Ia merupakan hujjah bagi ketiadak adaan keyakinn terhadap ittifak.

  • Mashalih mursalah

Jumhur ulama menolak mashalih mursalah secara mulak, hanya imam malik yang menerimanya secara mutlak. Hal ini cukup mengherankan, karena ibnu taimiyah dan muridnya ibnu qoyyim al-jauziyah menerapkannya sebagai ketetapan hukum fiqh.

 

Kita telah mengetahui pada masa ibnu taimiyah terdapat banyak aliran dan pemikiran sesat seperti filsafat, sufi dan sebagainya. Sebagian sultan atau Raja mempergunakan pakaian tertentu dengan maksud dan keyakinan dapat menolak bahaya yang datang.

 

Oleh karena itu ibnu taimiyah ragu untuk menyatakan secara lantang pengambilan dalil mashalih mursalah. Namun harus dicermati bahwa keraguan itu berarti mengandung makna seruan agar tidak ceroboh dan sembarangan dalam menggunakan masalah mursalah sebagai sumber dalil. Dia sangat berhati-hati dalam menggunakannya, sehingga tidak memberi peluang bagi pembinaan hukum yang didasarkan pada keinginan dan hawa nafsu semata.

 

  1. Fiqh

Walaupun dikenal pengikut madzhab hanbali, namun kita ketemukan pendapat ibnu taimiyah tidak sama dengan imamnya, maka para ulama mengatakan bahwa beliau adalah mujtahid yang baru. Pendapat-pendapatnya itu dibagi menjadi tiga golongan :

-          pendapat-pendapat yang berisi pendapat imamnya ahmad bin hanbal.

-          Pendapat yang tidak mencirikan madzhab tertentutetapi itu pbuah pemikiran ibnu taimiyah sendiri.

-          Pendapt yang bertentangan dengan keseluruhan madzhab islam.

 

Berikut ini pendapatnya dalam masalah fiqh, diantaranya :

v     Dalam masalah zakat, Ia berpendapat bahwa jika zakat dipindahkan atau diberikan kepada orang-orang yang berhak menerima zakat yang btinggal dikota, seperti sepersepuluh zakat yang dikumpulkan di mesir di berikan kepada orang dikairo kareana penduduk mesir telah makan dari hasil ladangnya maka hal itu diperbolehkan. Selain itu, Zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang tidak mempergunakan untuk taat kepada allah sampai bertaubat.

v     Ia membolehkan mengqhashar shalat dalam perjalanan jauh maupun dekat

v     Barang siapa yang makan bulan ramadlan, dengan keyakinan bahwa waktu ia mekan malam hari, padahal siang hari, ia tidak tidak mengqadlo haumnya, sesuai riwayat shahih dari umar dan lain sebagainya

 

  1. thelogi atau ilmu kalam

berbagai golongan sesat dan menyesatkan yang tumbuh saat tu, menggerakkan inu taimiyah untuk turut berbicara masalah theologi. Bagi ibnu taimiyah, masalah-masalh theologi islam seperti sifat-sifat allah, perbuatan manusia, kemakhlukan qur’an, kesemuanya beliau golongkan dalam satu persoalan yaitu tauhid, yang secara jelas beliau jelaskan dalam bukunya aqidah washitiyah.

  1. Sosial

Ibnu taimiyah selalu berusaha dan berjuang untuk menciptakan satu tatanan masyarakat islam yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Ibnu taimiyah selanjutnya menerangkan bahwa para raja mempunyai tiga maksud dari pengangkatannya syuro yaitu :

v     Memberikan info-info yang tidak diketahui menenai keadaan dan situasi negara.

v     mengatur rakatnya dan membendung serangan ari musuh negara

v     menyebarkan kasih sayang kepada seluruh rakyatnya, dan mampu berbuat adil dan tidak bertindak sewenang-wenang.

 

  1. politik

beliau membahas ketatanedaraan dalam bukunya “siyasahsyar’iyah” mencakup hal berkut:

  • kepemimpinan

ibnu taimiyah menyatakan bawa pengangkatan seorang menjadi pemimpin merupakan salah satu dari perintah agama yang paling ppenting. Nabi mewajibkan pngangkatan seseorang diantara kelompok kecil sebagai isyrat keharuan berijtima’ guna melakukan perintah Allah, amar ma’ruf nahi mungkar, pelaksanan hudud, dan sebagainya. Semuanya tidak akan terwuud tanpa adanya imaroh.

 

Untuk mewujudkan keimarohan yang baik hendaknya dipilh pemimpin-pemimpin kaum muslimin yang mempunyai kemampuan dan ketaqwaan, yang dipilih sesuai ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

  • masalah harta

ibnu taimiyah menyatakan harta sebagai amanat kedua setelah kepemimpinan yang harus di tunaikan kepada yang berhak menerimanya baik pemimpin maupun rakya.

 

Beliau juga mengatakan bahwa sumber devisa negara di peroleh dari zakat, shadaqah dan fai’ sebagai sumber keuangan yang kaya bagi kaum muslimin.

  • masalah hudud dan hak

terbagi menjadi dua :

  1. undang-undang allah yang berkaitan dengan hak-hak ilahi dan mrnyangkut masalah orang banyak seperti zina, merampok, dan sebagainya.
  2. undan allah yang kaitannya dengan hukum yang berlaku bagi orang tertentu seperti pembunuhan.

 

PENUTUP

 

Sebenarnya inti dari ajaran ibnu taimiyah adalah dalam rangka mensucikn i’tiqad kaum muslimin agar tidak menyimpang kepada kesesatan. Maka beliau menyelesaikan segala permasalahanna dengan mengembalikjan pada sumber hukum yang jelas.

 

Warna hukum yang dilaksanakan di saudi arabia adalah bentuk perealisasuan dari ajaran-ajaran ibnu taimiyah yang di sebaruaskan oleh syekh muhammad bin abdul wahab yang dikenal sebagai pendiri gerakan wahabi.

 

Ajaran ibnu taimiyah sampai ke indonesia pertama kali dibawa oleh haji miskin, seorang yokoh paderi, sumbar. Ulama-ulama lain yang aktif dalam dakwah ini diantaranya kh. Ahmad dahlan, A. Hasan, Ahmad Syurkati dan sebagainya.

 

Orang indonesia yang mempelajari ajaran ibnu taimiyah ini belumlah banyak. Dari karyanya yang berjumlah 500 buah hanya beberapa saja yang telah di terjemahkan dalam bahasa Indonesia. Wallahu ‘alam bish showab.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: