SEKULER-LIBERAL BARAT DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERADABAN DUNIA


SEKULER-LIBERAL BARAT DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERADABAN DUNIA

HARI 19 AGUSTUS 2007 PDF | Cetak | E-mail Ditulis oleh Administrator

Barat Bukan saja menjadi ancaman bagi Islam, tapi juga agama-agama di dunia pada umunya, khususnya Kristen sendiri. Hari Ahad, (19/8) kemarin, Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Malaysia kembali menggelar diskusinya bertema ?Mengapa Barat Menjadi Sekuler-liberal?? Kali ini menghadirkan Adian Husaini, pakar peradaban Islam dan Barat. Diskusi ini dihadiri 25-an pesrta dari berbagai kampus di Kuala Lumpur; UM, UIA, ISTAC, dll. Nampak hadir juga Dr. Anis Malik Thoha, Dr. Syamsuddin Arif, Dr. Hadi Suyono, Nirwan Syafrin, MA. Menurut Adian, saat ini, realitanya, Barat adalah peradaban yang sedang menguasai dunia. Mau tidak mau sekarang umat ini hidup dalam hegemoni kemodernan Barat. Oleh karena itu, hampir seluruh agama, ketika bicara tentang modernitas, harus menanggapi modernitas itu. Ada kemudian yang merespon dengan mengadopsi total, ada pula yang mengambil jalan adaptasi. ?Jadi, lari dari kemodernan memang tidak realistis, harus kita hadapi,? ujarnya. Dari sini kemudian Adian mengambil kesimpulan bahwa permasalahan Barat, sebenarnya, bukan saja permasalahan Islam, tapi permasalahan semua agama yang ada. Agam Kristen, misalkan, dalam hal ini Katolik, ketika pemilihan paus Benediktus ke-XIV, mereka menyatakan bahwa saat ini tantangan terberat datang dari Barat, dan oleh karenanya perlu memilih paus yang berasal dari Barat, karena ia yang akan lebih mengerti, memahami sejarah dan kultur Barat. Lebih jauh lagi, salah satu program penting paus sekarang ini adalah ?Battling dictatorship of relativism?, memerangi kediktaoran relativisme. Ralativisme inilah yang kini diyakini sebagai ancaman bagi eksistensi mereka. Akibat relativisme ini, orang Kristen di Barat tidak lagi merasa penting berurusan dengan agamanya. Ejekan menggunakan media agama sudah sangat biasa di Barat. Singkatnya, walaupun mereka beragama, mereka tidak peduli lagi dengan agamanya. Malapetaka peradaban seperti ini, kata Adian, sebenarnya sudah diperingatkan sejak lama oleh Iqbal. Dia menyatakan, ?Conviction anabled abraham to wade into the fine: conviction is an intoxicant which makes man sacrificing; know you, on victims of modern civilization lack of conviction is worse then slavery? Al-Attas juga mengatakan bahwa banyak tantangan yang muncul di tengah-tengah kita, dan yang paling serius adalah tantangan peradaban Barat, ?Many challenges have arisen in the midst of man?s confusion throughout the ages, but none perhaps more serious and destructive to man than today?s challenge possed by western civilization? (diambil dari buku Powerful Idea: 2002). Kemudian Al-attas mengambil isu-isu paling serius dan sentral yang harus dihadapi oleh umat Islam, yakni konsep ilmu Barat yang sekuler (westernized epistemology) . Oleh karena itu, untuk menjawab mengapa Barat menjadi sekuler-liberal, Adian mengajukan 3 poin utama; (1) karena trauma sejarah ? khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan ?, (2) problema teks Bible, dan (3) problema teologis Kristen. Ketiga problema itu terkait satu dengan lainnya, sehingga memunculkan sikap traumatis terhadap agama, yang pada ujungnya melahirkan sikap berpikir sekular-liberal dalam sejarah tradisi pemikiran Barat modern. Trauma Sejarah Barat Traumatis Barat terhadap agama ini sangat kuat. Sejarah yang paling penting sangat ditakuti Barat adalah mahkamah Inquisisi, peradilan Gereja yang sangat keras. Mereka sangat kreatif membuat alat-alat penyiksaan, seperti kursi berpaku besi, alat penghancur kepala, alat perusak payudara, alat pengebor vagina, dll. bagi mereka yang dianggap menentang Gereja. Dan ini dinyatakan Karen Armstrong, penulis buku ?Holy War: The Crusades and Their Impact on Today?s World?, bahwa kita harus mengakui bahwa peradilan Inquisisi adalah peradilan paling kejam dalam sejarah kemanusiaan. Sehingga, bagi masyarakat Barat, kalau disebut agama, apa yang terbayang dari benak mereka adalah penyikasaan- penmyikasaan yang mengerikan. Maka, kemudian, lahirlah gerakan anti pendeta di Eropa pada abad ke-19. Sehingga ada semboyan ?Hati-hati terhadap perempuan jika anda ada di depannya. Hati-hati jika anda berada dibelakang keledai. Tapi hati-hati jika anda berada di depan dan di belakang pendeta.? Jadi, pendeta itu makhluk yang lebih rendah martabatnya dari perempuan dan keledai. Makanya di Barat perempuan disebut ?femina?, Fedes (iman) dan minus (kurang), dari bahasa Greek. Jadi perempuan itu digambarkan sebagai makhluk yang ?minus iman?, dan Pendeta lebih rendah lagi dari perempuan. Lebih jauh tentang perempuan, menurut Adian, justru korban Inquisisi paling banyak adalah perempuan. Jadi, dulu Gereja menyiksa perempuan seekstrem-ekstremny a, dan sekarang membebaskan perempuan sebebas-bebasnya. Dulu membuka peluang poligami seluas-luasnya, tanpa batas, sekarang menutupnya serapat-rapatnya. Dulu melarang homoseksual sekuat-kuatnya, kini membebaskannya sebebas-bebasnya, hingga ada sebuah Gereja khusus untuk kaum homoseks. Nah di sinilah Barat mengalami suatu titik ekstrem dan menuju titik ekstrem lainnya. Berbeda dengan Islam, ia stabil dari dulu hingga kini. Islam menempatkan perempuan sesuai fitrahnya, tidak ekstrem. Hal itu bisa dilihat dari konsep nikah dalam Islam. Nikah sebagai Ibadah, sunnah dan perempuan sebagai patner laki-laki mendekatkan diri kepada Tuhannya, bukan sebagai pengganggu sebagaimana diyakini dalam dunia Kristen, sehingga larangan kawin bagi pendeta masih dipertahankan sampai sekarang. Sebagai catatan pemateri, kalau seandainya Islam bukan agama fitrah, agama wahyu, dan sebagai agama yang tergantung pada zaman, maka Islam akan mengikuti kecenderungan zamannya yang merendahkan perempuan serendah-rendahnya dan melarang menikah bagi para imamnya. Padahal Nabi Muhammad sendiri orang yang paling rajin ibadahnya dan tidak meninggalkan menikah. Itulah kestabilan Islam dari dulu hingga kini. Jadi, traumatis Barat terhadap agamanya sangat luar biasa. Trauma ini yang kemudian memunculkan paham sekularisme dalam politik, memisahkan antara agama dengan politik. Mereka selalu beralasan, bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi ?politisasi agama?; agama haruslah dipisahkan dari negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi dan politik (negara) adalah wilayah publik; agama adalah hal yang suci sedangkan politik adalah hal yang kotor dan profan. Trauma ini kemudian mempengarui secara besar-besaran terhadap cara pandang mereka terhadap agama. Begitu di sebut agama, ?religion?, di Barat, maka seperti yang disebutkan psikolog Barat, Scott Peck (London:1990) , menyetakan ?… yang tergambar dalam benak mereka adalah: ? inquisisi, tahyul, lemah semangat, paham dogmatis, munafik, benar sendiri, kekakuan, kekesaran, pembakaran buku, pembakaran dukun, larangan-larangan, ketakutan, taat aturan agama, pengakuan dosa, dan kegilaan. Apakah semua ini yang Tuhan lakukan untuk manusia atau apa yang manusia lakukan terhadap Tuhan. Ini merupakan bukti kuat bahwa percaya kepada Tuhan sering menjadi dogma yang menghancurkan.? Problem Teks Bible Bagaimanapun orang Kristen berbicara tentang Bible, jelas Adian, tetap saja Bible adalah kitab suci paling bermasalah. Orang yang berpikiran sehat sulit menerima teks Bible ini. Hal demiakian bertolak belakang dengan yang terjadi dalam Islam. Seperti di Indonesia, misalnya, setiap tahun ada muktamar i?jazul Quran. Kalau Bible tidak bisa dibuat demikian. Karena memang orang Kristen tak punya teks kitab suci yang otentik sebagaimana orang Islam. Lebih jauh Adian menjelaskan, bahwa sekarang banyak pemikir mengatakan, ?Islam itu tekstualis?. Menurutnya, memang Islam itu tekstualis, karena memang mempunyai teks teks otentik. Sedangkan Kristen tak seperti itu. Namun demikian Islam bukan harus diukur dengan terkstual-kontekstu al, karena cara ukur demikian adalah cara-cara Barat dalam menilai teks Bible. Orang Islam tidak boleh ikut-ikutan tradisi mereka ini, karena di Islam, walaupun tekstual, bukan berarti tidak kontekstual, tapi mempunyai mekanismenya sendiri. Seperti dalam Al-Quran, fi?il amar misalnya, walaupun mufassir harus berpegang teguh pada teks itu, namun bukan berarti amar itu menghasilkan hukum wajib semua, mengikuti mekanismenya, mekanisme tafsir, dan bukan mekanisme tekstual-kontekstua l. Jadi, selain Barat tidak punya teks kitab suci yang otentik, Barat juga tidak mampu memahami teks Bible secara mudah. Mereka akhirnya terpaksa meninggalkan teks dan menuju konteks, yang pemahamannya sangat membingungkan dan menyesatkan. Bahkan, mengubah teks demi kepentingan masing-masing terpaksa ditempuh. Seperti, misalnya, teks tentang konsep trinitas yang sangat membingungkan adalah contoh betapa confuse-nya teks mereka, dan penulisan ?babi? pada al-Kitab di Indonesia berubah menjadi ?babi hutan? adalah contoh konkret betapa tidak otentiknya teks Bible di dunia Kristen. Problem teologi Kristen Teologi Kristen menjadi problematis karena Kristen yang dikenal saat ini bukan berasal dari zaman Yesus, tetapi dari Konsili Nicea, yang dicapai melalui voting. Selain itu sosok Yesus itu sendiri dipertanyakan apa betul ia benar-benar ada atau sekedar tokoh fiktif dan simbolik? Problem-problem ini sebenarnya berawal dari ketidakotentikan teks Bible sendiri. Konsep ketuhanannya menjadi membingungkan, sehingga untuk memutuskan ketuhanan Yesus saja mereka perlu kongres, yakni Konsili Nicea. Kerumitan konsep Tuhan di Barat bisa dicontohkan dengan ketidakmampuan mereka menyebut nama Tuhan yang sebenarnya. Kata ?God? dan ?Lord? sebagai sebutan Tuhan di Barat, sebenarnya bukan nama Tuhan. Sehingga, penyebutan Allah oleh umat kristiani di Indonesia sekarang sudah dipermasalahkan, dari mana mereka mengambil istilah ini. Kalau mengikuti negara-negara asalnya, di Barat, maka semestinya mereka hanya menyebut Tuhan Bapa, bukan Allah. Bahkan, sambung Dr.Anis Malik Thoha, yang sempat hadir dalam diskusi ini, menyatakan bahwa Bible edisi Arab, kitab al-Muqaddas, pun tidak menyebut nama Tuhan. Di sana hanya disebut rabbul ilah, Tuhan Bapa. Lalu di mana mereka mengambilnya? Sejarah Kristen Barat ini menganut teori ?development? (perkembangan) atau ?evolution? (perubahan), sehingga dalam sejarahnya, Kristen selalu berubah dan berkembang. Konsekuensinya Kristen berkembang dan berubah dalam semua aspeknya; aspek teologi, kitab suci, dan aspek-aspek lainnya. Teori ini yang kemudian diikuti oleh sarjana-sarjana Islam akhir-akhir ini, seperti Nasr Hamid Abu Zaid yang menyatakan Al-Quran produk budaya, Arkun yang menganggap wahyu mengalami transformasi dari kalam Tuhan ke ucapan manusia, Prof. Harun Nasution menerapkannya ke dalam periodissasi sejarah Islam, bahkan Ulil Abshar dalam artikelnya yang berjudul ?Menyegarkan Kembali Pemahaman Umat Islam? jelas-jelas menyatakan: ?Saya meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah organisme yang hidup, sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 masehi, lalu dianggap sebagai patung indah yang tak boleh disentuh oleh tangan sejarah.? Lebih parahnya lagi, dalam teori perkembangan sejarah; perkembangan keyakinan manusia dari animisme ke dinamisme, politeisme ke monoteisme, diterapkan dalam sejarah Islam. Itu artinya, Islam diletakkan dalam serentetan ?perkembangan? sejarah. Ini mengindikasikan secara kuat bahwa tauhid dalam Islam melalui proses animisme, dinamisme, politeisme dan baru monoteisme. Padahal itu tidak betul. Dari sejak nabi Adam hingga nabi Muhammad tauhid umat Islam tak ada perubahan. Inilah cara-cara Barat dalam melihat agama, di mana agama mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan seperti itu dalam Islam tidak ada. Islam sejak dulu adalah agama tauhid, dan tetap tauhid sampai kapanpun. Islam itu dari dulu satu, dan sampai kini tetap satu. Maka tidak betul kalau kemudian Islam ditambah dengan embel-embel lainnya, seperti ?Islam Substantif?, ?Islam Aktual?, ?Islam Fundamentalis? , ?Islam Liberal?, ?Islam Eksklusive?, ?Islam Inklusive?, ?Islam Ortodoks?, dan embel-embel lainnya. Akhirnya, pemateri mengajak untuk berhati-hati dan menyiapkan diri menghadapi tantangan pemikiran, yang utamanya datang dari Barat, termasuk juga kristenisasi yang gencar menyebar di Nusantara dengan berbagai metodenya. Mambo is Free Software released under the GNU/GPL License.

HARI 19 AGUSTUS 2007 PDF | Cetak | E-mail Ditulis oleh Administrator

Barat Bukan saja menjadi ancaman bagi Islam, tapi juga agama-agama di dunia pada umunya, khususnya Kristen sendiri. Hari Ahad, (19/8) kemarin, Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Malaysia kembali menggelar diskusinya bertema ?Mengapa Barat Menjadi Sekuler-liberal?? Kali ini menghadirkan Adian Husaini, pakar peradaban Islam dan Barat. Diskusi ini dihadiri 25-an pesrta dari berbagai kampus di Kuala Lumpur; UM, UIA, ISTAC, dll. Nampak hadir juga Dr. Anis Malik Thoha, Dr. Syamsuddin Arif, Dr. Hadi Suyono, Nirwan Syafrin, MA. Menurut Adian, saat ini, realitanya, Barat adalah peradaban yang sedang menguasai dunia. Mau tidak mau sekarang umat ini hidup dalam hegemoni kemodernan Barat. Oleh karena itu, hampir seluruh agama, ketika bicara tentang modernitas, harus menanggapi modernitas itu. Ada kemudian yang merespon dengan mengadopsi total, ada pula yang mengambil jalan adaptasi. ?Jadi, lari dari kemodernan memang tidak realistis, harus kita hadapi,? ujarnya. Dari sini kemudian Adian mengambil kesimpulan bahwa permasalahan Barat, sebenarnya, bukan saja permasalahan Islam, tapi permasalahan semua agama yang ada. Agam Kristen, misalkan, dalam hal ini Katolik, ketika pemilihan paus Benediktus ke-XIV, mereka menyatakan bahwa saat ini tantangan terberat datang dari Barat, dan oleh karenanya perlu memilih paus yang berasal dari Barat, karena ia yang akan lebih mengerti, memahami sejarah dan kultur Barat. Lebih jauh lagi, salah satu program penting paus sekarang ini adalah ?Battling dictatorship of relativism?, memerangi kediktaoran relativisme. Ralativisme inilah yang kini diyakini sebagai ancaman bagi eksistensi mereka. Akibat relativisme ini, orang Kristen di Barat tidak lagi merasa penting berurusan dengan agamanya. Ejekan menggunakan media agama sudah sangat biasa di Barat. Singkatnya, walaupun mereka beragama, mereka tidak peduli lagi dengan agamanya. Malapetaka peradaban seperti ini, kata Adian, sebenarnya sudah diperingatkan sejak lama oleh Iqbal. Dia menyatakan, ?Conviction anabled abraham to wade into the fine: conviction is an intoxicant which makes man sacrificing; know you, on victims of modern civilization lack of conviction is worse then slavery? Al-Attas juga mengatakan bahwa banyak tantangan yang muncul di tengah-tengah kita, dan yang paling serius adalah tantangan peradaban Barat, ?Many challenges have arisen in the midst of man?s confusion throughout the ages, but none perhaps more serious and destructive to man than today?s challenge possed by western civilization? (diambil dari buku Powerful Idea: 2002). Kemudian Al-attas mengambil isu-isu paling serius dan sentral yang harus dihadapi oleh umat Islam, yakni konsep ilmu Barat yang sekuler (westernized epistemology) . Oleh karena itu, untuk menjawab mengapa Barat menjadi sekuler-liberal, Adian mengajukan 3 poin utama; (1) karena trauma sejarah ? khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di zaman pertengahan ?, (2) problema teks Bible, dan (3) problema teologis Kristen. Ketiga problema itu terkait satu dengan lainnya, sehingga memunculkan sikap traumatis terhadap agama, yang pada ujungnya melahirkan sikap berpikir sekular-liberal dalam sejarah tradisi pemikiran Barat modern. Trauma Sejarah Barat Traumatis Barat terhadap agama ini sangat kuat. Sejarah yang paling penting sangat ditakuti Barat adalah mahkamah Inquisisi, peradilan Gereja yang sangat keras. Mereka sangat kreatif membuat alat-alat penyiksaan, seperti kursi berpaku besi, alat penghancur kepala, alat perusak payudara, alat pengebor vagina, dll. bagi mereka yang dianggap menentang Gereja. Dan ini dinyatakan Karen Armstrong, penulis buku ?Holy War: The Crusades and Their Impact on Today?s World?, bahwa kita harus mengakui bahwa peradilan Inquisisi adalah peradilan paling kejam dalam sejarah kemanusiaan. Sehingga, bagi masyarakat Barat, kalau disebut agama, apa yang terbayang dari benak mereka adalah penyikasaan- penmyikasaan yang mengerikan. Maka, kemudian, lahirlah gerakan anti pendeta di Eropa pada abad ke-19. Sehingga ada semboyan ?Hati-hati terhadap perempuan jika anda ada di depannya. Hati-hati jika anda berada dibelakang keledai. Tapi hati-hati jika anda berada di depan dan di belakang pendeta.? Jadi, pendeta itu makhluk yang lebih rendah martabatnya dari perempuan dan keledai. Makanya di Barat perempuan disebut ?femina?, Fedes (iman) dan minus (kurang), dari bahasa Greek. Jadi perempuan itu digambarkan sebagai makhluk yang ?minus iman?, dan Pendeta lebih rendah lagi dari perempuan. Lebih jauh tentang perempuan, menurut Adian, justru korban Inquisisi paling banyak adalah perempuan. Jadi, dulu Gereja menyiksa perempuan seekstrem-ekstremny a, dan sekarang membebaskan perempuan sebebas-bebasnya. Dulu membuka peluang poligami seluas-luasnya, tanpa batas, sekarang menutupnya serapat-rapatnya. Dulu melarang homoseksual sekuat-kuatnya, kini membebaskannya sebebas-bebasnya, hingga ada sebuah Gereja khusus untuk kaum homoseks. Nah di sinilah Barat mengalami suatu titik ekstrem dan menuju titik ekstrem lainnya. Berbeda dengan Islam, ia stabil dari dulu hingga kini. Islam menempatkan perempuan sesuai fitrahnya, tidak ekstrem. Hal itu bisa dilihat dari konsep nikah dalam Islam. Nikah sebagai Ibadah, sunnah dan perempuan sebagai patner laki-laki mendekatkan diri kepada Tuhannya, bukan sebagai pengganggu sebagaimana diyakini dalam dunia Kristen, sehingga larangan kawin bagi pendeta masih dipertahankan sampai sekarang. Sebagai catatan pemateri, kalau seandainya Islam bukan agama fitrah, agama wahyu, dan sebagai agama yang tergantung pada zaman, maka Islam akan mengikuti kecenderungan zamannya yang merendahkan perempuan serendah-rendahnya dan melarang menikah bagi para imamnya. Padahal Nabi Muhammad sendiri orang yang paling rajin ibadahnya dan tidak meninggalkan menikah. Itulah kestabilan Islam dari dulu hingga kini. Jadi, traumatis Barat terhadap agamanya sangat luar biasa. Trauma ini yang kemudian memunculkan paham sekularisme dalam politik, memisahkan antara agama dengan politik. Mereka selalu beralasan, bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi ?politisasi agama?; agama haruslah dipisahkan dari negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi dan politik (negara) adalah wilayah publik; agama adalah hal yang suci sedangkan politik adalah hal yang kotor dan profan. Trauma ini kemudian mempengarui secara besar-besaran terhadap cara pandang mereka terhadap agama. Begitu di sebut agama, ?religion?, di Barat, maka seperti yang disebutkan psikolog Barat, Scott Peck (London:1990) , menyetakan ?… yang tergambar dalam benak mereka adalah: ? inquisisi, tahyul, lemah semangat, paham dogmatis, munafik, benar sendiri, kekakuan, kekesaran, pembakaran buku, pembakaran dukun, larangan-larangan, ketakutan, taat aturan agama, pengakuan dosa, dan kegilaan. Apakah semua ini yang Tuhan lakukan untuk manusia atau apa yang manusia lakukan terhadap Tuhan. Ini merupakan bukti kuat bahwa percaya kepada Tuhan sering menjadi dogma yang menghancurkan.? Problem Teks Bible Bagaimanapun orang Kristen berbicara tentang Bible, jelas Adian, tetap saja Bible adalah kitab suci paling bermasalah. Orang yang berpikiran sehat sulit menerima teks Bible ini. Hal demiakian bertolak belakang dengan yang terjadi dalam Islam. Seperti di Indonesia, misalnya, setiap tahun ada muktamar i?jazul Quran. Kalau Bible tidak bisa dibuat demikian. Karena memang orang Kristen tak punya teks kitab suci yang otentik sebagaimana orang Islam. Lebih jauh Adian menjelaskan, bahwa sekarang banyak pemikir mengatakan, ?Islam itu tekstualis?. Menurutnya, memang Islam itu tekstualis, karena memang mempunyai teks teks otentik. Sedangkan Kristen tak seperti itu. Namun demikian Islam bukan harus diukur dengan terkstual-kontekstu al, karena cara ukur demikian adalah cara-cara Barat dalam menilai teks Bible. Orang Islam tidak boleh ikut-ikutan tradisi mereka ini, karena di Islam, walaupun tekstual, bukan berarti tidak kontekstual, tapi mempunyai mekanismenya sendiri. Seperti dalam Al-Quran, fi?il amar misalnya, walaupun mufassir harus berpegang teguh pada teks itu, namun bukan berarti amar itu menghasilkan hukum wajib semua, mengikuti mekanismenya, mekanisme tafsir, dan bukan mekanisme tekstual-kontekstua l. Jadi, selain Barat tidak punya teks kitab suci yang otentik, Barat juga tidak mampu memahami teks Bible secara mudah. Mereka akhirnya terpaksa meninggalkan teks dan menuju konteks, yang pemahamannya sangat membingungkan dan menyesatkan. Bahkan, mengubah teks demi kepentingan masing-masing terpaksa ditempuh. Seperti, misalnya, teks tentang konsep trinitas yang sangat membingungkan adalah contoh betapa confuse-nya teks mereka, dan penulisan ?babi? pada al-Kitab di Indonesia berubah menjadi ?babi hutan? adalah contoh konkret betapa tidak otentiknya teks Bible di dunia Kristen. Problem teologi Kristen Teologi Kristen menjadi problematis karena Kristen yang dikenal saat ini bukan berasal dari zaman Yesus, tetapi dari Konsili Nicea, yang dicapai melalui voting. Selain itu sosok Yesus itu sendiri dipertanyakan apa betul ia benar-benar ada atau sekedar tokoh fiktif dan simbolik? Problem-problem ini sebenarnya berawal dari ketidakotentikan teks Bible sendiri. Konsep ketuhanannya menjadi membingungkan, sehingga untuk memutuskan ketuhanan Yesus saja mereka perlu kongres, yakni Konsili Nicea. Kerumitan konsep Tuhan di Barat bisa dicontohkan dengan ketidakmampuan mereka menyebut nama Tuhan yang sebenarnya. Kata ?God? dan ?Lord? sebagai sebutan Tuhan di Barat, sebenarnya bukan nama Tuhan. Sehingga, penyebutan Allah oleh umat kristiani di Indonesia sekarang sudah dipermasalahkan, dari mana mereka mengambil istilah ini. Kalau mengikuti negara-negara asalnya, di Barat, maka semestinya mereka hanya menyebut Tuhan Bapa, bukan Allah. Bahkan, sambung Dr.Anis Malik Thoha, yang sempat hadir dalam diskusi ini, menyatakan bahwa Bible edisi Arab, kitab al-Muqaddas, pun tidak menyebut nama Tuhan. Di sana hanya disebut rabbul ilah, Tuhan Bapa. Lalu di mana mereka mengambilnya? Sejarah Kristen Barat ini menganut teori ?development? (perkembangan) atau ?evolution? (perubahan), sehingga dalam sejarahnya, Kristen selalu berubah dan berkembang. Konsekuensinya Kristen berkembang dan berubah dalam semua aspeknya; aspek teologi, kitab suci, dan aspek-aspek lainnya. Teori ini yang kemudian diikuti oleh sarjana-sarjana Islam akhir-akhir ini, seperti Nasr Hamid Abu Zaid yang menyatakan Al-Quran produk budaya, Arkun yang menganggap wahyu mengalami transformasi dari kalam Tuhan ke ucapan manusia, Prof. Harun Nasution menerapkannya ke dalam periodissasi sejarah Islam, bahkan Ulil Abshar dalam artikelnya yang berjudul ?Menyegarkan Kembali Pemahaman Umat Islam? jelas-jelas menyatakan: ?Saya meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah organisme yang hidup, sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 masehi, lalu dianggap sebagai patung indah yang tak boleh disentuh oleh tangan sejarah.? Lebih parahnya lagi, dalam teori perkembangan sejarah; perkembangan keyakinan manusia dari animisme ke dinamisme, politeisme ke monoteisme, diterapkan dalam sejarah Islam. Itu artinya, Islam diletakkan dalam serentetan ?perkembangan? sejarah. Ini mengindikasikan secara kuat bahwa tauhid dalam Islam melalui proses animisme, dinamisme, politeisme dan baru monoteisme. Padahal itu tidak betul. Dari sejak nabi Adam hingga nabi Muhammad tauhid umat Islam tak ada perubahan. Inilah cara-cara Barat dalam melihat agama, di mana agama mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan seperti itu dalam Islam tidak ada. Islam sejak dulu adalah agama tauhid, dan tetap tauhid sampai kapanpun. Islam itu dari dulu satu, dan sampai kini tetap satu. Maka tidak betul kalau kemudian Islam ditambah dengan embel-embel lainnya, seperti ?Islam Substantif?, ?Islam Aktual?, ?Islam Fundamentalis? , ?Islam Liberal?, ?Islam Eksklusive?, ?Islam Inklusive?, ?Islam Ortodoks?, dan embel-embel lainnya. Akhirnya, pemateri mengajak untuk berhati-hati dan menyiapkan diri menghadapi tantangan pemikiran, yang utamanya datang dari Barat, termasuk juga kristenisasi yang gencar menyebar di Nusantara dengan berbagai metodenya. Mambo is Free Software released under the GNU/GPL License.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: