DARI NOL KEMBALI KE NOL


Oleh: Selfi Syarifah S.

Alun-alun kota, tempat yang selalu meninggalkan kesan istimewa dari sebuah perjalanan hidupku. Setiap pagi, aku yang bermodal andong milik sang juragan sudah bersiap untuk mengais rezeki. Menanti turis lokal hingga turis asing yang membutuhkan jasaku.

Yah, begitulah pekerjaankuMengantarkan para turis itu berkeliling menikmati suasana kota beserta tetek-bengeknya. Meski penghasilannya tak seberapa, pekerjaanku itu terbilang sangat menyenangkan. Aku bisa belajar berbagai ragam bahasa asing meski sedikit dan tak selancar turis asli. Gratis pula!

Dari pembelajaran secara otodidak itu, aku bisa menjalin hubungan keluarga dengan turis asing dari Amerika Serikat, namanya Mr David. Dia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi keluargaku saat berlibur. Aku ingat kesan pertama saat aku ajak dia ke rumah gubuk tua peninggalan orang tuaku.

Betapa sangat terkejutnya David, saat dia tahu aku harus menghidupi seorang istri yang menderita TBC dan tiga anak yang masih kecil-kecil. Padahal, aku hanya bekerja sebagai penarik andong.

David sangat mengerti kondisi itu sehingga dia ikut membantu meringankan beban keluargaku. Mulai biaya berobat istri sampai sembuh dari TBC hingga memberikan modal untuk membuka warung sederhana.

Bantuan sederhana dari seorang David yang sangat berarti dan “mahal” bagiku itu merupakan awal pencerahan kehidupan kami. Dengan itu, aku dan istriku bisa menyekolahkan anak-anak. Uang hasil jualan di warung dan hasil menarik andong sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kami.

Bahkan, masih ada sisa untuk ditabung. Mengingat, kejadian demi kejadian di masa lalu sangat memberikan motivasi bagi kehidupan keluargaku saat ini. Terlebih, bencana besar datang menghancurkan semua harta benda yang telah kami dapatkan dengan menabung selama bertahun-tahun.

Yaah… Rumah yang kami beli dari hasil jualan, narik andong, dan menabung bertahun-tahun serta hasil impor kerajinan tanah liat yang dibuat tangan anak-anakku habis dihantam reruntuhan bangunan dan pohon-pohon yang tumbang karena gempa besar.

Di bawah terik matahari, aku hanya bisa memandangi serpihan dinding dan atap rumahku. Begitu pula anak-anakku yang termangu melihat ratusan hasil karyanya tak lagi berbentuk seraya memikirkan kerugian yang amat sangat besar.

Bencana itu membuat kami tinggal di desa yang biaya sewa rumahnya sangat murah. Hal itu mengingatkanku kembali dengan kehidupan yang lalu. Yaitu, saat anak-anakku masih kecil dan masih sangat bergantung pada kami, orang tuanya.

Mr David, sahabatku juga sangat terkejut dan prihatin dengan musibah ini. Lain dengan belasan tahun lalu, kini Mr David tak lagi bisa membantu. Sebab, dia sudah pensiun dari pekerjaannya dan tinggal bersama anak-anaknya yang sudah mapan. Meski keadaan kami seperti ini, kami masih tetap bisa menjalin silaturahmi sampai kapan pun.

Aku, istriku, dan anak-anakku yang sudah dewasa tak begitu asing dengan hidup kami sekarang ini. Kami sangat menyadari bahwa kehidupan itu selalu berputar seperti roda dan tak pernah lepas dari kuasa Tuhan.

Dulu, kami mengawali hidup dari nol. Meski merasakan “hidup enak,” kini kami tak bisa mengelak saat Tuhan menghendaki hidup kami harus kembali lagi ke nol. (*)

Mahasiswi FISIP Universitas Bhayangkara Surabaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: