Elegi Cinta Seorang Pengamen


Elegi Cinta Seorang Pengamen

Seperti hari-hari biasa, pada hari minggu yang cerah itu, wajah kumalku mengajak untuk memelas dan memeras kasih sayang mereka yang berlalu-lalang. Sambil membawa alat musik yang tersusun dari beberapa tutup botol minuman, aku nyanyikan sebuah lagu idola para kawula muda. Juga idola pengamen jalanan sepertiku. Lagu “Walau habis terang”, telah membuat orang terperdaya dan tersihir, sehingga merekapun rela menerogoh saku dan menyumbangkan beberapa rupiah. Sebenarnya, aku tak hafal benar lirik lagu itu. Toh, tanpa menghafal seluruhnya, aku sudah bisa berkicau seperti kicauan burung beo yang baru saja mandi

Dengan bermodal suara ala kadarnya, ku tunjukkan bakat yang sebenarnya tak pernah ku pendam sejak lahir. Ini adalah sebuah keterpaksaan, sekaligus jalan kehidupan yang harus ku telusuri. Menjadi pengamen jalanan adalah impian terburuk semua orang. Juga bagi diriku sendiri. Tapi apa boleh buat. Yang penting lambung masih bisa diajak kompromi. .

Perempatan jalan raya dan lampu merah ini telah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi teman terbaikku dalam mengarungi hidup yang serba rumit, sempit, dan pahit. Aku tak tahu, mungkin inilah garis takdir yang harus ku jalani. Entah sampai kapan. Yang pasti otakku hanya berpikir kalau tiap hari aku butuh makan. Tanpa berpikir berganti penampilan atau mengikuti mode, layaknya anak muda sekarang.

Mungkin, minggu itu adalah hariku yang paling ungu dibanding minggu-minggu yang lain. Betapa tidak, ketika aku ngamen di depan sebuah mobil berplat merah, ada sorot mata tajam yang menatapku. Sorot mata yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ya, sepasang mata yang bisa menghayati lagu indahku. Detak jantung yang sebelumnya berjalan normal, tiba-tiba gelagapan. Karena saking cepatnya, akupun dibuat kerepotan. Keringat dingin menetes dari kedua pelipis dan membasahi kedua pipiku yang lugu. Bibir tipisku tak bisa melanjutkan perjuangan. Otakku kehilangan kesadaran. Nyanyianku berhenti sebelum saatnya. Kedua tanganku terasa diikat dari belakang. Aku tak habis pikir. Ada apa gerangan? Apa hanya karena tatapan matanya yang begitu silau itu yang akhirnya membuatku seperti kehilangan kesadaran.

“Ini mas, makasih ya. Lagunya enak banget.”

Dengan mengulurkan tangannya yang lembut. Juga jemari yang lentik. Ia memberikan uang seribu rupiah dan senyuman manis, yang sampai saat ini masih membekas pada dinding hatiku. Senyuman itulah yang membuat gairah hidupku muncul kembali dan bisa bertahan melawan kerasnya kehidupan kota yang begitu keras. Tapi, senyuman itu pula yang menghancurleburkan kehidupanku, hingga relung yang terdalam.

Tanpa sengaja, tanganku yang lusuh itu menyentuh tangannya yang sangat halus. Terasa ada getaran dan sengatan yang belum pernah ku rasakan. Akupun tak sadar dengan apa yang telah ku perbuat.

Setelah peristiwa itu, setiap hari aku banyak melamun. Hanya karena ingin bertemu kembali dengan gadis yang membuat hati bergetar. Hingga usiaku yang ke-20 ini, belum pernah aku merasakan sebuah rasa yang begitu dahsyat. Rasa yang sempat mengguncang jiwa. Apakah ini yang dinamakan cinta?.

Penulis adalah pelajar UIN Malang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: