Gadis Periang Itu Bernama Sabria


Gadis Periang Itu Bernama Sabria
Oleh: Selfi Syarifah S, Mahasiswi Universitas Bhayangkara Surabaya

Gadis kecil duduk tersenyum menikmati suasana di depan kaca jendela rumahnya. Rumah yang juga kios bunga milik orang tuanya. Hujan deras yang turun waktu itu adalah saat paling menyenangkan. Bibir mungil Sabria, si gadis kecil itu, menyungging senyum seraya menatap ke arah luar jendela. ”Ternyata bunga itu terlihat lebih indah kalau tersetuh air hujan, ya?” gumamnya.

Sabria adalah gadis kecil yang selalu menjinjing keranjang kecil berisi rangkaian bunga-�bunga nan cantik. Sambil berlarian dan tersenyum ramah, dia menyapa setiap orang yang dijumpainya. ”Bunganya, Tante… masih segar lho!” begitulah salah satu cara dia menawarkan dagangannya.

Semangat yang tinggi dan tak kenal lelah menjadikan hidupnya sangat indah. Meski kehidupannya yang secara ekonomi hanya bergantung pada kios bunga itu, dia tetap semangat menjalani hidup. Yang dia inginkan hanyalah menjadi seorang Sabria kebanggaan kedua orang tuanya.

Lagi-lagi hujan yang turun adalah saat indah bagi Sabria. Benar saja, bunga-bunga yang cantik semakin tampak lebih merekah saat hujan turun. Udara sejuk dan semilir angin yang membawa aroma tanah basah bercampur wangi bunga membuat Sabria terlelap. Matanya yang bulat dan indah itu terpejam.

”Braaaaak…!” Badannya yang mungil itu terpelanting. Rangkaian bunga-bunga yang dibawanya dari kios pun berserakan. Dia terbujur lemah di tengah hujan yang deras. Kepalanya mengeluarkan darah segar. Sabria tak sadarkan diri.

Perlahan dia membuka matanya yang bulat dan indah. Peristiwa kecelakaan itu masih diingatnya dengan jelas. Saat hujan turun. Saat yang mungkin tak lagi menjadi sesuatu yang indah sejak peristiwa itu. Kecelakaan yang nyaris membunuh semangat hidupnya.

Tak ada lagi Sabria yang selalu berlarian kecil saat menjajakan bunga-bunga. Yang ada hanyalah Sabria, gadis remaja yang kini sedang duduk di kursi roda seraya memandangi hujan yang turun dari balik jendela rumahnya.

”Bunga-bunga itu masih tetap indah saat hujan turun seperti ini, Nak,” bisik ibunya sambil memegang pundak Sabria.

”Bapak dan ibumu ini rindu pada Sabria yang salalu ceria dan semangat menjalani hidupnya dalam kondisi apa pun.” Kali ini Sabria merasakan getaran yang mendalam dari perkataan kedua orang tuanya.

Bunga-bunga indah di luar sana seperti magnet yang menarik hatinya. Motivasi dari kedua orang tuanya membangkitkan kembali semangat hidup Sabria. Dia teringat kembali akan keinginannya yang selalu menjadi kebanggaan kedua orang tua.

***

Di sekolahnya, Sabria sangat dikenal sebagai siswa yang sangat cerdas. Lumpuh yang dideritanya sejak kecelakaan itu justru membuatnya menjadi bersemangat. Dia ingin menunjukkan bahwa hal itu tidak menjadi hambatan yang berarti. Beasiswa yang selalu didapatkannya adalah buah dari kegigihan Sabria.

”Bu, Sabria akan ikut lomba pidato itu,” katanya dengan senyum yang mengembang. Begitulah ekspresi wajahnya dengan penuh semangat.

”Apa pun yang Sabria ingin lakukan, demi kebahagiaan Sabria, bapak dan ibu pasti mendukungmu, Nak,” kata ibu sambil menggenggam tangan anaknya seolah memberikan semangat.

Di atas kursi roda, Sabria mempersiapkan materi-materi pidato. Di atas kursi roda itu pula, Sabria berlatih dan terus berlatih untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya. Semua yang dia lakukan tak sia-sia. Di atas panggung megah, seorang Sabria yang dikenal dengan senyum khasnya tampil dengan penuh percaya diri. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: