Kinanti si Tukang Beras


OLEH: IMRON ROSYADI

Kinanti mengucek kedua matanya yang masih setengah terbuka. Baru kemudian, saat memandang ke arah jam dinding berbentuk bintang yang terpasang di tembok kamar, matanya berubah jadi terbelalak. Tujuh lebih lima, padahal gerbang sekolah ditutup jam setengah delapan pas. “Kenapa sih nggak ada yang bangunin? Malah ditinggal kerja sama kuliah. Huh!” Kinanti mengomel kepada dirinya sendiri. Rasanya sebal sekali melihat orang rumah sepertinya nggak peduli kalau dia terlambat. Baru kemudian, dia sadar lantas membekap mulutnya. “Astaghfirullah, puasa-puasa gini aku kok marah-marah. Nggak jadi marah ya Allah.” Kekesalannya kepada ayah, ibu, serta Kak Sari langsung menguap.

Bukan salah ayah dan ibu juga kalau dia tidak dibangunkan. Mungkin dia sudah dibangunkan tapi dia sendiri saja yang nggak bangun. Kinanti jadi ingat, setiap sahur saja kedua orang tuanya sampai geleng-geleng kepala karena harus membangunkan dia susah payah.

Terburu-buru Kinanti masuk kamar mandi. Secepat kilat ia membasuh muka dan menyikat gigi. Tidak ada waktu lagi buat mandi. Toh saat sekilas memandang ke kaca, wajahnya tidak jauh beda dengan orang mandi. “Ah sama aja. Sama manisnya.”

Seragam sekolahnya disambar dengan cepat. Sambil memakai sepatu, Kinanti sibuk berpikir, sepertinya, masih ada yang terlupakan. Buku-buku pelajaran sudah semua, tugas menggambar juga sudah di tas, mukena sudah, apalagi ya. “Astaga!” Kinanti memeriksa isi dompetnya. Hanya tersisa selembar uang lima ribu rupiah. Padahal, hari ini merupakan hari terakhir pengumpulan zakat di sekolah.

Kemarin Pak Hasan, guru agamanya, sudah mengingatkan lewat radio sekolah. “Anak-anak berhubung sebentar lagi sekolah libur, sekolah mengimbau agar menyegerakan membayar zakat,” perkataan Pak Hasan masih terngiang jelas. Benar juga sih, sebentar lagi kan sudah mau libur Lebaran. Tapi, Kinanti lupa minta uang kepada mamanya. Buru-buru Kinanti putar otak, cari akal. Daripada malu ditagih zakat. Duh, masak bayar zakat harus berutang dulu ke teman-temannya. Kinanti berlari ke dapur, ia mengubek-ubek laci mencari kresek. Lalu, ia mengisinya dengan beras dari dalam tempat penyimpanan. “Seberapa banyak sih?” Sepertinya, guru agama di sekolah pernah menjelaskan tentang masalah pembayaran zakat, tapi ia tidak mendengarkan malah asyik main game di handphone-nya. Karena tidak tahu, Kinanti mengisi beras sebanyak-banyaknya. Diikatnya kresek itu sambil berlari keluar rumah.

Ia bermaksud berjalan keluar kompleks ketika berpapasan dengan Zulmi. “Mau berangkat sekolah Kin?” Zulmi memelankan laju motornya berusaha menjejeri Kinanti. “Iya, aku telat nih.” Kinanti mempercepat langkahnya. Kalau telat bisa kena marah kuadrat. Hari ini ada kuis matematika yang mematikan alias susahnya minta ampun. “Kamu mau jualan, Kin?” tanya Zulmi.

Mengerti apa yang dimaksud Zulmi, Kinanti langsung melengos. “Ih, ketahuan, ya, puasa-puasa nggak pernah bayar zakat. Ini tuh buat zakat,” jelas Kinanti. “Iya, tapi perasaan nggak sebanyak itu deh. Kamu yakin mau ngasih segitu banyaknya,” tidak menanggapi Zulmi, Kinanti pasang tampang polos. Cowok di sampingnya itu menunjuk jok belakang motornya. “Aku anterin ya, Kin.” Wah, tawaran yang menarik. Mana puasa-puasa gini kalau jalan kaki bisa batal puasanya. Tanpa babibu, Kinanti melompat ke jok motor Zulmi. Dengan kecepatan tinggi, Zulmi berhasil membawa Kinanti sampai di sekolah. Tepat saat satpam sekolah akan menutup pintu gerbang.

Pulang sekolah, Kinanti celingukan di sekitar meja tempat pembayaran zakat. Waktu istirahat tadi dia sudah mengincar meja tersebut, tapi dia mengurungkan niat lantaran tidak ada satu pun temannya yang membayar zakat dengan beras. Seluruhnya memilih mengeluarkan uang yang dianggap lebih praktis. “Kasih nggak ya?” Kinanti bergumam.

“Hei, ngapain Kin?” Gilang menepuk pundak Kinanti yang membuat jantungnya hampir copot. “Eits! Nggak ngapa-ngapain kok, Lang,” pelan-pelan Kinanti menutupi kresek berasnya dengan jaket. Gilang ini gebetannya yang super duper ganteng. Baru di dekatnya saja, Kinanti sudah mau pingsan gara-gara jantungnya loncat-loncat. Bisa jatuh harga dirinya kalau ketahuan Gilang dia bawa-bawa beras. Pasti dipikirnya Kinanti udik. Mau zakat kok pakai beras. Kalau nekat mengumpulkan zakatnya, pasti ketahuan sekali kalau itu punya Kinanti

“Nggak pulang?” tanya Gilang sambil tersenyum. Hati Kinanti mendadak jadi adem di tengah panasnya cuaca Surabaya. “Yap, bentar lagi mau pulang kok. Kamu duluan aja deh. Dadahh,” Kinanti melambaikan tangannya. “Wah, aku diusir nih ceritanya,” ujar Gilang sambil bercanda. “Ya sudah, aku pulang dulu. Kamu hati-hati di jalan,” Gilang membalikkan badannya menyusul segerombolan teman-temannya di tim basket yang sama-sama hendak menuju tempat parkir.

Setelah Gilang pergi, Kinanti menyesal setengah mati. Harusnya dia bisa ngobrol-ngobrol dulu dengan Gilang. Bukannya malah mengusir pergi. Bisa-bisa dikira Kinanti sombong. Tapi, menyelamatkan mukanya jauh lebih penting. Gengsi banget deh kalau sampai ketahuan Kinanti yang manis menggotong beras ke sana-kemari. “Berat banget sih!” umpat Kinanti kesal. Lagi-lagi dia lupa kalau sedang menjalani uji pengendalian diri lewat puasa.

Dia harus melanjutkan misi memberikan beras ini ke panitia zakat. Tapi, kok panitianya nggak nongol-nongol, ya. Kalau menunggu lebih lama lagi, Kinanti merasa bisa batal puasa gara-gara dehidrasi. “Pulang ah!” Kinanti memutuskan. Lupa pada niat awalnya untuk berzakat.

Di dalam bemo yang membawanya menuju jalan pulang, Kinanti melonjorkan kakinya. Udara panas ditambah penuh sesak bemo membuatnya ingin buru-buru sampai. Tapi, sepertinya, si bemo tidak mengerti, jalannya seperti siput. Setelah lima penumpang turun, ruang di bemo terasa lebih longgar. Kinanti menggerak-gerakkan tangan dan kakinya agar tidak mengantuk. Krek! Kresek yang dibawanya tersangkut ritsleting tas. Beras di dalamnya langsung mengucur hingga menimbulkan suara cukup berisik. Seluruh orang di bemo menoleh ke arahnya.

“Mbak, dagangannya jatuh semua tuh,” celetuk seorang laki-laki di sampingnya. Kinanti mendelik kesal. Dasar si beras bikin sial. “Duh, Mbak eman banget. Mending saya masak di rumah,” seorang ibu paro baya dengan konde di kepalanya ikut berkomentar. Kinanti menyumbat kresek yang lubang dengan cara mengikatnya membentuk simpul. Sementara itu, ia berusaha tidak menghiraukan serakan beras di sekitar kakinya. Orang-orang satu bemo masih asyik menertawainya, sedangkan Kinanti pasang senyum kecut. Turun dari bemo, ia langsung ambil langkah seribu. Sisa beras di tangannya ia berikan kepada seorang pemulung di perempatan jalan menuju rumah.

Sesampai di rumah, Kinanti sudah membayangkan bisa tidur siang sambil menyetel AC di kamarnya. Nggak ada yang lebih nikmat selain tidur siang, apalagi ditemani lagu-lagunya Vierra. Siapa tahu juga nanti Gilang jadi tamu di dalam mimpinya. Kinanti sudah senyum-senyum sendiri sambil menanggalkan atribut sekolahnya.

“Kinan!” panggil mama dengan suara tegas. “Iya, Ma. Ada apa?” Kinanti mendatangi mamanya yang sedang memotong-motong sayuran. Ia mencium aroma akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kenapa sih hari ini bukannya puasa bawa berkah tapi malah banyak cobaannya. Apa gara-gara tadi nggak salat Subuh, ya? Kinanti baru sadar setelah sahur, dirinya jarang salat Subuh. Alih-alih salat yang ada, dia malah langsung tidur lagi. “Mati deh aku!” ujarnya komat-kamit sendiri.

Mama menunjuk tempat penyimpanan beras. “Kok berasnya mama tinggal sedikit?” Tuh kan, ada masalah baru lagi. Kinanti menjawab dengan cepat. “Dipakai bayar zakat, Ma.” Semoga mamanya mau menerima alasan ini. Masak sih mamanya mau marah, kan niat Kinanti baik. “Bayar zakat itu cuma 2,5 kilo aja, bukannya dibawa sampai habis begini. Bukannya mama nggak ikhlas, tapi lain kali tanya dulu,” suara mama kali ini terdengar melunak. Sepertinya sih berusaha sabar kepada putri tersayangnya yang selebor ini. Kinanti mengangguk lemas. Seandainya mama tahu kalau beras yang dibeli dari hasil kerja kerasnya malah terbuang percuma di dalam bemo, entah apa jadinya. Ini semua cuma gara-gara dia menuruti gengsi di depan Gilang si gebetannya. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: