Misteri Terselubung Nomor 43


Misteri Terselubung Nomor 43
Oleh : ir.IMRON ROSYADI

Setiap orang tentu memiliki nomor-nomor favorit dalam hidupnya. Maradona lebih memilih angka 10 di punggung kausnya. Ronaldo lebih senang memilih angka 9 sebagai nomor keberhasilannya. Sejak mengenal dunia olahraga, aku memang belum pernah memilih nomor baju sendiri.

Aku memang pemain basket cukup andal di sekolahku dulu. Apalagi ada pesta bola basket pelajar se-Jawa Timur yang lebih dikenal dengan DBL. Ketika aku masih di SMP, dua kali aku ikut bergabung dalam tim basket sekolahku. Selama dua kali aku mengikuti DBL, tim sekolahku hanya mampu mencapai babak delapan besar.

Persaingan sangat ketat. Selama dua kali itu pula, nomor bajuku selalu berganti. Yang pertama aku memakai nomor 2 karena dipilih sebagai wakil kapten tim. Yang kedua, aku disuruh memakai nomor 8. Guru dan pelatihku yang memilih nomor baju tersebut.

Kali ini aku sudah berada di bangku SMA. Walau yakin pasti bisa masuk tim inti, syarat untuk menjadi pemain DBL harus kelas dua. Sama dengan ketika aku di SMP dulu. Aku harus tahan dulu napas juga nafsuku untuk bermain basket. Aku yakin bahwa atmosfer DBL di tingkat SMA jauh lebih heboh dan lebih dasyat. Itu terbukti ketika aku ikut menonton ketika salah satu tim SMA bertanding.

Heboh penonton, gebyar panitia, dan superdahsyat permainannya. Belum lagi atraksi selingan dari panitia yang membuat pertandingan terasa aduhai dan heboh. Memang Kota Surabaya di bulan Juli sampai Agustus beberapa tahun terakhir ini sangat meriah. Adanya gedung mewah yang sangat reprensentatif, yakni DBL Arena, menjadi jujukan para pencinta olahraga basket di daerah ini.

Aku telah menjadi seorang pelajar di sebuah sekolah swasta kota ini. Hasratku menjadi seorang pebasket terpaksa aku tunda dulu. Aku hanya boleh menjadi penonton yang setia sambil meniru-niru gaya seniorku yang bertanding. Aku menjadi suporter yang paling setia ketika tim sekolahku berrtanding.

Ketika aku memilih bersekolah di tempat ini. Ayahku tak pernah membantah. “Kalau itu pilihanmu, jalani saja dengan rasa enjoy,” demikian pesan ayahku. “Kau harus bisa menunjukkan bahwa kau mampu bermain basket. Pilihlah angka 7 sebagai nomor punggung,” ujarnya.

Kenapa harus nomor 7 ayah? Kenapa bukan nomor yang lain saja? Tanyaku ingin tahu nomor kesukaan ayah itu. “Sebetulnya, ayah sangat suka kalau kamu mengenakan baju bernomor 43, tapi itu tidak mungkin. Tapi nggak apa-apa nanti kalau peraturan DBL boleh mengenakan pakaian dengan nomor 43, kamu wajib memilih nomor itu,” ujarnya.

Itu nomor kebanggaan ayah. Aku masih tetap penasaran dengan pesan ayah tentang nomor itu. Kok, seolah-olah nomor ini misterius banget. Hampir setiap saat pergi dan pulang sekolah, aku berusaha menemukan jawabannya. “Atau kamu pakai saja nomor 12 kalau kamu tak kebagian nomor 7,” pesan ayah lagi. Lagi-lagi aku dibuat semakin penasaran.

Sejak kata-kata ayah itu diucapkan kepadaku, aku semakin penasaran. Setiap hari aku ingin mencari makna kata-kata ayah tersebut. Ibuku hanya tersenyum setiap aku tanyakan hal ini. “Ayahmu memang paling senang membuat orang penasaran,” kata ibu. Sejak kali pertama berkenalan dengan ibu, ayahmu sudah memberikan pekerjaan rumah seperti itu. Nggak perlu dipikir terlalu jauh, nanti juga ketemu jawabannya.

Demikian kata-kata ibuku setiap aku bertanya. “Ah, ayah dan ibuku sama saja, setali tiga uang,” gumamku sambil berlalu. Aku mencoba membuka internet, kucari lagi makna kata-kata ayah tersebut. Yah, angka 7 yang menjadi angka kesayangan itu. Dalam internet, aku cuma menemukan angka 3 yang menjadi nomor kebanggaan Paolo Maldini, pemain legendaris AC Milan.

Mantan kapten Rosoneri itu memang mengenakan kaus Milan bernomor punggung 3 selama dia berkarir di klub Italia tersebut. Setelah Maldini pensiun karena dimakan usia, nomor 3 untuk sementara disimpan sambil menunggu generasi Maldini berikutnya. Hampir satu jam lebih, aku duduk di depan komputer kesayanganku. Namun, aku belum menemukam jawaban sama sekali.

Sesaat setelah aku berada di kamar, aku mencoba-coba menarik seutas benang merah. Mungkin ayahku penggemar pesepak bola asal Portugal yang bernama Christiano Ronaldo ketika menjadi pemain MU dengan nomor punggung 7.

Ayahku memang pemain basket, tapi apakah ayahku suka menegenakan nomor punggung 7? Belum ada jawaban yang pasti atau yang mendekati kepastian melintas di kepalaku. Diam-diam aku mulai mengingat-ingat sesuatu.

Aku mencari kartu susunan keluargaku. Aku temukan di kartu itu. Ayahku lahir 4 Maret, sedangkan ibuku lahir 3 Agustus. Aku sendiri dilahirkan 7 Oktober. Adikku lahir 12 Mei. Satu jawaban sudah hampir aku temukan.

Aku mulai berkhayal lagi. Ternyata, ini juga jawaban yang hampir mendekati kebenaran. Ketika ayahku bersekolah di SMA, ternyata beliau memilih sekolah di Jalan Kalianyar Nomor 43. Ibuku juga menempuh pendidikan di SMA yang sama dengan ayahku, hanya mereka berbeda tahun.

Ketika ayahku duduk di bangku kelas 3, ibuku baru masuk kelas 1. Mereka bertemu pada saat acara perkenalan sekolah atau sekarang lebih dikenal dengan istilah MOS (masa orientasi siswa). Lebih seru lagi, ayahku kali pertama menyatakan cinta kepada ibuku juga tepat 7 Februari, seminggu sebelum hari Valentine.

Semua info tersebut aku peroleh setelah aku bermanja-manja bersama ibuku. Mungkin itu juga yang membuat ayah dengan mantap memilih tanggal pernikahan dengan ibuku juga tanggal 7 setelah enam tahun mereka berpacaran.

Beberapa hari kemudian, aku mengusulkan kepada ibuku agar kami mengadakan makan malam bersama. Pesertanya ayah, ibu, aku, dan adikku. Aku meminta ibu memasak makanan kesukaan ayah.

“Terima kasih ayah,” kataku kepada ayah sebelum acara makan malam bersama di rumah. “Aku sudah menemukan jawaban dari saran ayah tentang misteri angka 7 bagi keluarga kita. Ayah kaget, ibuku juga. Mereka berusaha menjawab pertanyaanku yang agak unik.

Tapi, aku terus saja memberikan pernyataan bahwa ini sebuah jawaban yang agak lama aku temukan. Aku terus saja mengutak-atik angka 7. Aku seolah merasa menang dengan tebakanku tersebut. “Aku sudah temukan saran ayah tentang nomor punggung itu ayah,” kataku penuh gembira.

Ayahku hanya tersenyum kecil. Aku mulai dengan angka 7 yang pertama, yakni tanggal kelahiran ayah dengan ibuku, bila dijumlah akan menjadi angka 7. Ayahku mulai menyatakan cintanya kepada ibuku tepat tanggal 7, bahkan hari pernikahan pun tanggal 7.

Aku dilahirkan tepat tanggal 7. Adikku dilahirkan tanggal 12. Bukankah empat kali tiga adalah 12? Ketika di SMA, ayah dan ibu juga bersekolah di SMA yang terletak di Jalan Kalianyar Nomor 43.

Bukankah dua angka itu bila dijumlah juga mencapai angkah 7? Ayahku hanya manggut-manggut tanda setuju dengan analisaku tersebut. Mungkin dalam hati ayahku memujiku karena aku mampu menjawab rekaan ayah. “Terima kasih anakku. Engkau benar, itu kata-kata pujian ayahku. Mari kita makan bersama,” ujarnya.

Namun, ayah hanya berpesan, jadikan angka 7 itu sebagai simbol kebanggaan kita. Sebab, hari ketujuh adalah hari Tuhan, anakku. Saat ayah berkata demikian, kulihat ada setetes air mata bergantung di balik kacamatanya. Aku juga dapat mengira-ngira dalam hati, mungkin ayah semakin bangga jika aku selalu menang dalam setiap pertandingan dengan nomor 7 di punggung. Atau mungkin juga ayahku berharap semoga aku mampu menemukan jodohku di sekolah ini seperti ayah dulu. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: