HAL HAL YANG MEWAJIBKAN MANDI


 

Hal-Hal Yang Diwajibkan Untuk Mandi[1]

  • Mandi dikarenakan junub:

Hukum Mandi junub:

–         Wajib, Dari Aisyah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Jika bertemu dua kemaluan maka wajib mandi.” (H.S.R. Muslim)

–         Madzhab Syafi’I, jumhur shahabat dan tabi’in: Memasukkan kemaluan di farji (kemaluan) perempuan, duburnya, dubur laki-laki, dubur hewan atau kemaluannya, baik itu bernyawa atau tidak: Wajib mandi walaupun tidak keluar mani.

–         Dawud, begitu juga sebagian sahabat (Utsman bin Affan, ‘Ali, Ubay bin ka’ab, Zaid bin tsabit, Mu’ad bin Jabal, Abu Sa’id Al Khudri): Tidak wajib mandi jika tidak keluar mani.

–         Abu hanifah: Tidak wajib mandi orang yang menyetubuhi hewan atau mayit.

Hukum mandi orang yang ihtilam (mimpi):

–         Ijma’ Ulama’: Diwajibkan mandi orang yang keluar mani baik karena jima’, mimpi, onani, karena ada sebab maupun tidak, baik keluar karena syahwat atau lainnya, sedikit maupun banyak, laki-laki maupun perempuan. Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “al maa’ minal maa’ (wajib mandi jika  keluar mani)” (H.S.R. Muslim dan Baihaqi)

Hukum orang yang ihtilam (mimpi) tapi tidak keluar mani:

–         Ibnu Mundzir, ijma’ ulama’: jika tidak keluar mani maka tidak wajib mandi. Dari Aisyah ra, sesugguhnya Rasulullah saw ditanya tentang orang yang bangun tidur dan mendapatkan pakainya basah (mani) tapi dia tidak ihtilam (mimpi), beliau menjawab: Dia wajib mandi. Dan tentang orang yang mimpi akan tetapi ketika bangun dia tidak mendapai basah (mani) pada pakaiannya, Beliau menjawab: “Dia tidak wajib mandi”. (H.R. Abu Dawud, At Turmudzi dan Ad Darimi)

Hukum keluar mani setelah mandi:

–         Madzhab Syafi’I dan pengikutnya, Al Laits, Ahmad: Wajib menglangi mandinya.

–         Malik, Ats Tsauri,Abu Yusuf, Ishaq bin Rahawih dan diceritakan Inu Mundzir dari ‘Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Atha’, Az Zuhri dll):  Tidak wajib mengulangi mandinya.

–         Abu Hanifah: Jika sebelum mandi tidak kencing, kemudian setelah mandi keluar mani maka tidak wajib mandi karena yang keluar sisa mani, akan tetapi jika dia kencing sebelum mandi maka wajib mandi.

Hukum keluar mani bukan dari kemaluan:

–         Mawardi, Ruyani, Asy Syasyi: Yang benar tidak wajib mandi.

–         Al Baghawi: Wajib mandi.

Hukum Madzi:

–         Najis, cara membersihkannya: Madzhab Syafi’I dan jumhur:  Tempat yang najis saja. Malik, Ahmad: Wajib mencuci seluruh kemaluan. Dari ‘Ali ra dari Nabi saw bersabda,”Keluar madzi wajib wudlu'” (H.R. Turmudzi, hasan shahih)

Hukum mandi orang yang keluar madzi dan wadi:

–         Ijma’ ulama’: Tidak wajib mandi, Dari Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Saya adalah orang yang sering keluar madzi, maka saya perintahkan kepada Miqdad untuk menanyakan hal ini kepada Rasulullah saw, beliau bersabda, “Wudlu dan cucilah kemaluanmu.” (H.S.R. Abu Dawud, An Nasa’I, Al Baihaqi)

Perbedaan mani, madzi dan wadi:

–         Mani: Dinamakan mani karena ketika keluar mencurah, dan keluar terasa nikmat.

–         Madzi: Air yang berwarna putih, keluar ketika bersyahwat dan keluarnya tidak terasa.

–         Wadi: Air yang berwarna putih seperti mani, bedanya kadarnya sedikit dan tidak bau serta keluar setelah kencing.

Larangan bagi orang yang berhadats besar:

–         Shalat, thawaf, menyentuh dan membawa mushaf Al Aqur’an, berdiam dimasjid, membaca Al Qur’an.

Hukum orang junub tidur sebelum mandi:

–         Madzhab Syafi’I, Ibnu Mundzir dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Abu Sa’id Al Khudri, Sadad bin Aus, Aisyah, Hasan Bashri, Atha’, An Nakha’I, Malik, Ahmad, Ishaq: Hukumnya makruh. Dari Aisyah ra, “Bahwasanya Rasulullah saw jika ingin tidur sedangkan beliau dalam keadaan junub, beliau mencuci kemaluannya kemudian wudlu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hukum Orang yang haid, junub membaca Al Qur’an:

–         Madzhab Syafi’I dan pengikutnya, Umar, Ali, Jabir, Al Hasan, Az Zuhri, An Nakha’I, Qatadah, Ahmad, Ishaq: Haram baik sedikit maupun banyak.

–         Dawud dari Ibnu Abbas, Ibnu Musayyib: boleh. Dari Aisyah ra, “ Sesungguhnya Rasulullah saw berdzikir kepada Allah swt dalam keadaan apapun.”

–         Malik: Orang yang junub diperbolehkan membaca ayat-ayat yang mudah sedangkan orang haidh terjadi ikhtilaf.

–         Abu Hanifah: Orang yang junub diperbolehkan membaca potongan ayat saja.

Hukum orang junub berdiam dimasjid:

–         Madzhab Syafi’I, Ibnu Mundzir dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Sa’id bin Musayyib, Hasan Bashri, Sa’id bin Jubair, Amru bin Dinar, Malik: Haram, jika hanya lewat diperbolehkan. Dalil : An Nisa’: 43

–         Ats tsauri, Abu Hurairah, Ishaq: Tidak boleh lewat didalam masjid kecuali tidak ada jalan lain dan harus wudlu terlebih dahulu.

–         Al Mazini, Dawud, Ibnu Mundzir: boleh secara mutlak. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Orang muslim itu tidak najis.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hukum orang yang Junub, haidh dan hadats membaca ayat Al Qur’an dan dzikir:

–         An Nawawi: haram, begitu juga ayat-ayat yang ada dikitab-kitab fiqih.

–         Pengikut Imam Syafi’I (Al Khurasaniyin): Diperbolehkan ketika naik kendaraan membaca surat Az Zukhruf: 13.

–         Boleh, jika hanya dengan melihat tanpa menyentuh mushaf dan membacanya dengan hati. (tidak ada perselisihan)

–         Ijma’ kaum muslimin: Orang yang  berhadats kecil diperbolehkan membaca Al Qur’an, lebih utama dalam keadaan suci.

–         Ijma’ kaum muslimin: Diperbolehkan Membaca tasbih, tahlil, takbir tahmid, shalawat dan dzikir lain.

 

  • Mandi suci dari haidh dan nifas

Hukum mandi suci dari haidh dan nifas:

–         Wajib, dalil: Al Baqarah: 222.

Rasulullah saw pernah berkata kepada Fathimah binti Abi Jaisy“Jika engkau haidh dan sudah suci, maka jika akan shalat mandilah.” (H.S.R. Bukhari dan Muslim)

–         Begitu juga khuntsa, jika keluar darah seperti darah haidh maka wajib mandi.

Hukum orang yang melahirkan tetapi tidak mengeluarkan darah:

–         Mawardi, Ibnu Suraij, Madzhab Malik: Wajib mandi.

–         Abu ‘Ali bin Abu Hurairah, Madzhab Abu Hanifah: Tidak wajib mandi.

Hal-hal yang disunahkan untuk mandi

  • Mandi Jum’at

Hukum Mandi Jum’at:

–         Hukumnya: Pengikut Syafi’I, jumhur: sunah. Sebagian salaf: Wajib. Ada juga yang mengatakan sunah bagi orang yang menghadiri jum’at saja baik laki-laki maupun perempuan.

Waktu mandi Jum’at:

–         Imam Syafi’I dan pengikutnya: Mulai terbit fajar sampai shalat. Lebih utama ketika pagi hari, jika mandi sebelum fajar tidak termasuk mandi jum’at. Fudhail bin Iyadh: termasuk mandi jum’at.

  • Mandi Hari raya Idul Fithri dan Idul Adha

Hukum mandi pada hari raya:

–         Sunah baik laki-laki maupun perempuan, terutama orang yang menghadirinya.

Waktunya:

–         Setelah terbit fajar, diperbolehkan juga sebelumnya.

  • Hal-hal lain yang disunahkan untuk mandi

–         Mandi akan shalat kusuf (gerhana matahari), khusuf (gerhana bulan) dan istisqa’ (minta hujan).

–         Mandi orang yang masuk islam

–         Mandi setelah sadar dari pingsan dan gila

–         Mandi ketika haji (Ihram, masuk makah,wukuf, akan melempar jumrah)

 

Hal-hal yang dianjurkan untuk mandi

–         Mandi setelah memandikan mayit.

–         Mandi setelah bekam.

–         Mandi setelah masuk hamam (kamar mandi).

–         Mandi ketika akan berkumpul dengan orang banyak. Seperti: Menghadiri undangan dll.

 

 

Bab :

Sifat-sifat mandi besar

Tata-cara mandi besar:

–         Membaca bismillah.

–         Niat untuk mandi besar.

–         Mencuci telapak tangan tiga kali sebelum memasukkannya ke dalam bejana.

–         Mencuci kemaluan.

–         Berwudlu.

–         Memasukkan jari-jari kedalam air kemudian menyela-nyelakan  kerambut dan jenggot.

–         Menyiram kepala tiga kali.

–         Menyiramkan air keseluruh tubuh.

–         Mencuci kedua kaki.

Dalil: Diceritakan oleh Aisyah dan Maimunah (Bukhari-Muslim). Tata-cara tersebut tidak wajib urut, akan tetapi disunnahkan mulai dari kepala dan anggota badan yang kanan.

Tata-cara yang wajib:

–         Niat, Mencuci kemaluan dan menyiramkan air keseluruh tubuh. Dari Jabir bin Muth’im ra berkata, “Kami menyebutkan cara mandi junub dihadapan Rasulullah saw, beliau bersabda, “Sedangkan saya cukup menyiramkan air ke kepala dan kemudian menyiramkan air keseluruh tubuh.”

Tata-cara mandi junub wanita (junub dan haidh):

–         Seperti mandi junub laki-laki.

–         Pengikut Syafi’i: Untuk mandi junub, wanita gadis tidak wajib memasukkan air kedalam kemaluanya.

–         Qadhi Husain, Al Baghawi: Wajib memasukkan air kedalam kemaluaannya karena banyak kotorannya (najis).

–         Untuk orang yang  haid dan nifas wajib memasukkan air kedalam kemaluannya untuk menghilangkan kotorannya, adapun orang yang junub tidak wajib.

–         Memberi wangi-wangian pada bekas darah (kemaluan), Fudhail bin Iyadh: Jika tidak ada boleh dengan air.

Ukuran air untuk mandi besar:

–         Wudlu: Minimal 1 mud, Mandi: minimal 1 sha’= 4 mud = 8 rithl.

–         Ijma’: Tidak ada ukuran yang pasti, yang penting air mencukupi untuk mencuci semua anggota wudlu/mandi.

Hukum berlebih-lebihan dalam wudlu dan mandi:

–         Bukhari: Ahlul ilmi memakruhkannya.

–         Pendapat yang masyhur: Makruh karahah tanzih.

–         Al Baghawi, Al Mutawali: Haram. Dari Abdullah bin Mughafal berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya akan ada pada umat ini suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam menggunakan air (bersuci).” (H.R. Abu Dawud, isnad shahih)

Hukum mandi besar ditempat yang tidak mengalir:

–         Imam Syafi’I dan pengikutnya: Makruh baik airnya sedikit maupun banyak. Dari Abu Hurairah ra berkata, “Bersabda Rasulullah saw, “Janganlah seseorang diantara kalian mandi junub di air yang tidak mengalir.”

 

Seputar masuk hamam (kamar mandi terbuka)

Hukum masuk hamam:

–         Diperbolehkan bagi laki-laki, dengan syarat harus menutup aurat, menjaga pandangan, dan dimakruhkan untuk perempuan kecuali ada udzur, nifas dll.

Adab-adab masuk hamam:

–         Membaca ta’awudz dan do’a masuk hamam. Do’anya: “Bismillahirrahmaanirrahiim A’udzu billahi minarrijsi wan najasi al khabiis al mukhbis  asy syaithaanirrajiim.”

–         Niat untuk bersuci atau membersihkan badan.

–         Tidak melaksanakan shalat didalamnya.

–         Tidak membaca Al Qur’an dan mengucapkan salam didalamnya.

Mengucapkan Istighfar dan shalat dua rakaat setelah keluar.


[1] Hal: 104

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: