IKHLAS


I  K  H  L  A  S

 

Segala puji  bagi Allah, Dzat yang telah menyinari hati setiap kaum beriman. Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada  junjungan kita Nabi Muhammad `. Para sahabat, tabi’in dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya.

Seluruh manusia akan celaka kecuali mereka yang beramal. Semua orang yang beramal akan celaka kecuali mereka yang mukhlisun (yang ikhlas). Dan orang-orang   yang ikhlas di atas pangkat yang agung.[1]

Permasalahan niat adalah permasalahan yang sangat urgen dan penting sekali, berapa banyak ayat dan hadits Rasulullah ` yang menerangkan dan menggambarkan akan pentingnya niat  itu. Disatu sisi Allah memuji orang-orang yang benar niatnya dan disatu sisi Allah mencela orang yang salah niatnya. Allah l  berfirman:

وَقَدِمْنَآ إِلَى مَاعَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَآءً مَّنثُورًا {23}

”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al Furqon :23)

 

Imam Syafi’I t, Imam Ahmad bin hambal t, Ibnu Mahdi t, Ibnu Madini t, Imam Abu Dawud t, dan Imam Daru Quthni t, dalam hal  niat telah bersepakat bahwa niat adalah sepertiga dari ilmu. Bahkan sebagian yang lain, mengatakan seperempat dari ilmu. Imam Baihaqi t memberikan suatu alasan kenapa niat termasuk sepertiga dari ilmu. Perbuatan manusia itu senantiasa berhubungan dengan  tiga unsur:

1. Hati

2. Lisan

3. Anggota tubuh

Diantara tiga hal yang ada ini, niat adalah satu yang terpenting, bahkan terkadang niat merupakan ibadah yang tersendiri (Mustaqillah) dan ibadah yang lain mengikut padanya. Maka dapat dikatakan bahwa niat seorang mu’min itu lebih baik dari amalnya.[2]

Dalam atsar salaf disebutkan bahwa mereka senantiasa menjaga dan memelihara keikhlasan dalam ibadah. Dari Bakar bin Maiz t berkata: “Rabi’ tidak pernah menampakkan sholat tathowwu’ di masjid kaumnya sedikitpun kecuali hanya sekali saja.”[3]

Ayyub t berkata: ”Mengikhlaskan niat itu lebih berat dari pada perbuatan.”[4]

 

I. Pengertian

A. Bahasa

Al Ikhlas adalah masdar dari: أخلص [5] yang berarti memurnikan. Kebalikan ikhlas adalah syirik maka orang yang tidak mukhlis adalah musyrik, meskipun syirik ada beberapa derajat.[6]

B. Istilah

1. Memurnikan tujuan hanya kepada Allah dari setiap bentuk ketaatan [7]

2. Amalan hati yang diperuntukkan hanya kepada wajah Allah semata bukan untuk yang lain.[8]

3. Melepaskan diri dari pandangan manusia  (mahluk) dan senantiasa memandang Allah l.[9]

4. Ikhlas adalah memurnikan maksud dan tujuan taqorrub  kepada Allah  dari segala bentuk syawaib.[10]

II. Dalil-dalil tentang ikhlas

A. Al Qur’an

وَمَآأُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ {5}

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah:5)

“Sungguhnya Allah telah memuji orang-orang  yang senantiasa berbuat ikhlas kepada Allah yaitu orang-orang yang menafyikan segala bentuk keinginan dan tujuan kepada selain Allah. Riya’ adalah sebaliknya.

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا بَشَرٌ مِّثْلَكُمْ يُوحَى إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلاَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

”Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al kahfi:110)

 

B. Hadits

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ[11]

 

“Nabi ` berkata kepada Mu’adz z:”Ikhlaskanlah dienmu, niscaya akan cukup amalmu yang sedikit itu.[12]

III. POTRET SALAFUS SHOLIH DALAM KEIKHLASAN

  1. Dari Abu bakar bin Maiz t: “Tidak pernah Robi’ terlihat mengerjakan sholat  sunnah di masjid oleh   kaumnya kecuali hanya sekali.”[13]
  2. Dari Mundir dari Robi’ bin khutsaim t berkata: “Segala sesuatu yang dikerjakan bukan untuk mengharap ridho Allah l adalah rusak.”[14]
  3. Dari Abi Hamzah Ats-Tsumali t berkata: “Adalah Ali bin Husain memanggul karung yang berisi roti pada malam hari dan bersedekah dengannya, ia berkata: “Sesungguhnya  sodaqoh secara sembunyi-sembunyi bisa memadamkan murka Allah Azza wajalla.”[15]
  4. Dari Amru bin Tsabit berkata: “ketika  Ali bin  Husain  wafat mereka memandikannya. pandangan mereka tertuju pada bakar hitam  yang ada diatas punggung Ali, dan berkata: Apa ini ? maka dijawab: “Ini adalah bekas beliau memanggul karung yang berisi  roti pada malam hari dan memberikannya kepada para fuqoro’ pernduduk Madinah. [16]
  5. Dari Abi Ja’far  Al-Hadz-dza, ia berkata: “Saya mendengar Ibnu Uyainah t berkata: “Apabila yang tersembunyi sesuai dengan yang nampak maka itu adalah keadilan, sedang apabila yang tersembunyi itu lebih baik dari pada yang nampak maka itu adalah keutamaan, sedang apabila yang nampak lebih baik dari yang tersembunyi maka itu adalah kedurhakaan.”[17]
  6. Dari Abdullah bin Mubarok t, ia berkata: Dikatakan kepada Hamdun bin Ahmad, apa yang menyebabkan pekataan salaf lebih bermanfaat dari pada perkataan kita? beliau menjawab: “Karena mereka berbicara untuk kemulyaan Islam dan keselamatan jiwa serta keridhoan Allah Azza wajalla, sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan nafsu dan mencari dunia serta keridhoan manusia.”[18]

 

IV. IKHLAS MERUPAKAN SYARAT  DITERIMANYA AMAL

 

Ikhlas adalah syarat diterimanya amal. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali hanya ikhlas kepadaNya.[19]

Barang siapa yang ikhlas niatnya dalam suatu kebenaran meskipun itu atas dirinya sediri maka Allah akan mencukupkan antara dia  dan manusia. Dan barang siapa yang membaguskan amalnya (riya’) Maka Allah akan menampakkan keburukannya.” Kedua kalimat ini adalah merupakan gudangnya ilmu dan termasuk infak yang paling bagus, darinya orang lain mengambil manfaat  yang sangat banyak. Adapun kalimat pertama adalah sumber dan asal dari segala kebaikan sedangkan yang kedua adalah merupakan sumber dari segala keburukan dan kejahatan.[20]

Telah jelas bahwa amal yang tidak karena Allah adalah mardud (tidak diterima) sedangkan yang diperuntukkan kepada Allah adalah diterima. Kemudian bagaimana dengan bagian yang ketiga yaitu amal itu dikerjakan karena Allah dan karena yang lain, Tidak hanya kepada Allah juga tidak hanya untuk manusia. Bagaimana hukum terhadap yang demikian ini ? Apakah semua amal menjadi batal atau sebagian yang karena Allah diterima sedangkan yang karena selain Allah akan tertolak?

Dalam permasalahan ini ada tiga bentuk:

  1. Semula dorongan pertama adalah ikhlas, kemudian timbul riya’ atau menginginkan untuk selain Allah  pada pertengahan amal. Maka Perubahannya hanya terdapat dalam niat pertama. Selama belum ada keinginan yang kuat untuk ditujukan kepada selain Allah. Maka dalam hal ini hukumnya adalah terputusnya niat pada pertengahan ibadah dan batalnya niat.
  2. Sebaliknya, dorongan pertama adalah bukan karena Allah. Kemudian pada pertengahannya timbul niat ikhlas kepada Allah. Maka yang demikian amalnya yang telah berlalu tidak dihitung  sedangkan amal setelah ada perubahan dalam hatinya dihitung. Kemudian jika ibadah itu yang akhirnya tidak syah kecuali jika yang pertama syah seperti sholat, maka wajib baginya untuk mengulang. Jika tidak demikian seperti ketika melakukan ihrom niatnya kepada selain Allah kemudian ketika wukuf atau thowaf hatinya kembali ikhlas kepada Allah, maka yang demikian ini tidak wajib untuk diulangi.
  3. Jika permulaannya memang diperuntukkan untuk Allah dan manusia. Ia menginginkan dalam ibadahnya itu untuk membebaskan beban kewajibannya, mencari balasan (jaza’) dan terima kasih dari manusia, hal demikian seperti orang yang sholat karena upah (jika ia tidak mengambil ujroh ia tetap melaksanakan sholat) melaksanakan sholat karena Allah dan upah. Atau seperti orang yang melaksanakn haji dalam rangka membebaskan diri dari beban kewajiban haji  dan untuk dikatakan fulan adalah seorang haji atau memberikan zakat dalam rangka seperti ini maka amal yang demikian tidak diterima.[21]

 

V. URGENSI DAN HAKEKAT IKHLAS

 

Seorang hamba tidak akan benar-benar beribadah kepada Allah (iyya kana’budu) kecuali dengan dua pokok:

1.   Mengikuti Rasulullah ` .

2.   Ikhlas hanya kepada Allah l.

Pembagian manusia ditinjau dari dua pokok ini terdiri dari empat bagian:

  1. Ahli Ikhlas kepada Allah dan mengikuti Rasulullah `. Mereka adalah ahlu iyyaka naa’budu secara  sebenarnya.
  2. Mereka yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti.
  3. Mereka yang ikhlas dalam amalnya, tetapi tidak mengikuti ajaran.
  4. Mereka yang amalannya mengikuti ajaran tetapi tidak ikhlas kepada Allah.[22]

 

VI. PEMBAGIAN MANUSIA DALAM KAITANNYA DENGAN IKHLAS

 

Senantiasa memperbaharui hati itu lebih diutamakan daripada amalan anggota badan (jawarih). Karena hanya amalan hati itulah yang membenarkan amalan jawarih.[23]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

Dari Ibnu Abbas z berkata, dari Nabi ` bersabda dari yang diriwayatkan dari RobNya kberkata: “Sesungguhnya Allah mencatat setiap kebaikan dan keburukan kemudian menerangkannya. Barangsiapa yang punya niat untuk melaksanakan kebaikan, tetapi ia belum  melakukannya, maka Allah akan mencatat baginya disisiNya satu kebaikan sempurna. Jika dia berniat untuk melaksanakan kebaikan kemudian melaksanakannya, maka Allah akan mencatatnya sepuluh kebaikan disisiNya sampai  tujuh ratus kali dan sampai berlipat ganda. Barangsiapa yang berniat untuk melaksanakan kejahatan kemudian ia tidak melaksanakannya, maka Allah mencatat sebagai kabaikan yang sempurna tetapi jika ia berniat untuk melakukan kejahatan kemudian ia melakukannya maka Allah mencatatnya satu kejahatan baginya.”

(HR Muttafaq Alaih)

 

Hadits ini dapat diambil pelajaran: ”Bahwasanya orang yang berkeinginan untuk melaksanakan kebaikan maka akan dicatat baginya suatu kebaikan meskipun belum dilaksanakan. Karena keinginan untuk melaksanakan kebaikan adalah sebab untuk dilaksanakanya. Dan Semua sebab yang menuju kepada kebaikan adalah kebaikan tersendiri. Yang kedua bahwasanya orang yang punya keinginan untuk melaksanakan kejelekan kemudiaan ia tobat karena Allah semata dan bukan untuk yang lainya, maka dicatat baginya suatu kebaikan. Karena taubat ia dari keinginan jelek adalah merupakan kebaikan.maka diberi pahala dalam menjahuinya dengan kebaikan.[24]

 

VII. BAHAYA RIYA’ DALAM BERAMAL

A. Pengertian riya’

 

Riya’ adalah mengharapkan kedudukan dan pangkat dengan amalan-amalan ibadat. Ketahuilah bahwa riya’ adalah perbuatan yang haram. Sedangkan orang  yang berbuat riya’ disisi Allah adalah orang yang sangat tercela. Beberapa ayat dan hadits telah membuktikan akan hal itu.[25]

 

B. Dalil tentang tercelanya riya’

1. Al Qur’an

Sebagaimana firman Allah l :

فَوَيْلُُ لِّلْمُصَلِّينَ {4} الَّذِينَ هُمْ عَن صَلاَتِهِمْ سَاهُونَ {5} الَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ {6}

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (QS. Al Mauun: 4-6)

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فِلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُوْلَئِكَ هُوَ يَبُورُ {10}

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS. Al Fatir :10)

 

Mujahid t berkata: ”Mereka adalah ahlu riya’.

Amal tanpa niat adalah sia-sia dan niat tanpa didasari dengan ikhlas adalah riya’ dan ikhlas tanpa adanya tahqiq (ilmu) adalah bagaikan debu beterbangan. Firman Allah l :

وَقَدِمْنَآ إِلَى مَاعَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَآءً مَّنثُورًا

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS.Al Furqon:23)

Bagaimana akan benar niatnya kalau tidak didasari dengan pengetahuan hakekat ikhlas.

 

2. Al Hadits

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

”Aku adalah yang paling cukup dari persekutuan, barang siapa mengamalkan amalan dengan menserikatkan Aku dengan yang lain, maka Aku akan meningalkannya dan sekutunya.” (HR Muslim)

 

Rasulullah ` berkata: ”Allah Azza wa Jalla berfirman: ”Barangsiapa yang melakukan amalan karena aku dan mensyerikatkanKu dengan yang lain, maka saya meninggalkannya dan meninggalkan serikatnya.” Dan dalam satu riwayat yang lain, “Maka Aku (Allah) berlepas diri dari apa yang dilakukakannya”.[26]

Hadits ini   memberikan pelajaran bahwa di balasnya amalan dengan pahala itu tergantung dari ikhlas dan benarnya niat.[27]

 

عَنْ أَبِي كَبْشَةَ الْأَنْمَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ هَذِهِ الْأُمَّةِ كَمَثَلِ أَرْبَعَةِ نَفَرٍ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ فِي مَالِهِ يُنْفِقُهُ فِي حَقِّهِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يُؤْتِهِ مَالًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ هَذَا عَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُمَا فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يُؤْتِهِ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ يُنْفِقُهُ فِي غَيْرِ حَقِّهِ وَرَجُلٌ لَمْ يُؤْتِهِ اللَّهُ عِلْمًا وَلَا مَالًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ هَذَا عَمِلْتُ فِيهِ مِثْلَ الَّذِي يَعْمَلُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُمَا فِي الْوِزْرِ سَوَاءٌ

 

Dari Abu Kabsyahal Anshory berkata: Rasulullah  ` bersabda: ”Perumpamaan umat ini adalah seperti empat orang, yaitu  satu orang   yag diberi oleh Allah harta dan ilmu kemudian ia mempergunakan (menginfakkannya) sesuai dengan haknya. Dan seorang yang diberi Allah ilmu dan tidak diberi harta kemudian ia berkata: ”Seandainya aku memiliki harta seperti hartanya niscaya aku akan berbuat seperti ia berbuat. Maka Rasulullah  ` berkata: ”Maka kedua dari orang ini sama dalam pahalanya. Dan seseorang yang diberi Allah harta tetapi tidak diberi ilmu sehingga ia menghambur-hamburkannya, menginfakkannya tidak sesuai dengan hak harta tersebut. Dan seseorang yang tidak di beri harta dan ilmu oleh Allah SWT kemudian ia berkata: ”Seandainya aku memiliki harta seperti apa yang dia miliki, niscaya aku akan melakukannya seperti apa yang ia lakukan.. Maka Rasulullah  ` bersabda: ”Maka kedua dari orang ini sama dalam hukumannya.”[28]

 

3. Perkataan Salaf

Adapun dari sebuah atsar yang telah terjadi pada diri Umar z, bahwa ia pernah melihat seorang laki-laki yang merundukkan kepalanya kemudian ia berkata: ”Wahai pemilik leher! Angkat lehermu, khusu’ bukanlah di leher tetapi khusu’ itu ada dihati.”[29]

Basyar Al hafi t berkata: ”Mencari dunia dengan seruling itu lebih aku sukai dari pada aku mencari dunia dengan dien. [30]

 

C. Hakekat dan derajat riya’

Barang siapa yang memahami arti ikhlas terbatas hanya memurnikan taqorrub hanya kepada Allah semata, dari berbagai syawaib, maka jika tujuan taqorrub ini tercampur dengan riya’ atau yang lain dari keinginan-keinginan nafsu, maka ia telah keluar dari lingkaran ikhlas. Contohnya adalah: seperti melakukan shoum untuk digunakan sebagai usaha diet yang dapat dihasilkan dari shoum itu dengan disertai tujuan taqorrub kepada Allah atau melaksanakan haji  untuk menjadi sehat tempratur tubuhnya dengan perjalanannya itu atau untuk menghindari dari musuh atau  melaksanakan sholat malam dalam rangka untuk mencari maksud duniawi atau belajar hanya dalam rangka untuk ilmu ansih atau menjenguk orang sakit dalam rangka biar  dikunjungai ketika ia sakit, atau ikut dalam mengantar jenazah dengan tujuan agar mereka mengantar jenazah apabila keluarganya meninggal atau melaksanakan segala bentuk kebaikan dalam rangka untuk dikenang kebaikannya atau untuk diperingati.[31] Meskipun yang mendorong untuk melaksanakan hal ini adalah dalam rangka taqorrub kepada Allah, tetapi karena digabung dengan maksud-maksud yang demikian ini maka sungguh telah keluar amalannya dari batasan-batasan ikhlas dan ia telah keluar dari kategori orang  yang mukhlis kepada Allah semata dan terkena kesyirikan yang telah hinggap padanya.[32]

 

Adapun derajat-derajat riya’ adalah sebagai berikut:

  1. Yang paling besar dan paling berat. Yaitu tidak ada keinginan akan mendapatkan pahala dari ibadah yang dilakukan. Seperti melaksanakan sholat apabila disekitar manusia, jika ia sendirian niscaya ia tidak akan melaksanakannya.
  2. Punya tujuan mencari pahala dengan disertai riya’, jika ia sendirian ia tidak melaksanakannya. Ini hampir sama dengan yang pertama dimana sangat dibenci oleh Allah l.
  3. Punya tujuan riya’ dan mencari pahala yang sama-sama derajatnya. Jika salah satu dari kedua tujuan ini tidak ada, maka ia tidak terdorong untuk melaksanakannya. Maka yang demikian ia telah membuat kerusakan sebagaimana ia telah membuat kebaikan dan ia tidak terlepas dari dosa.
  4. Pandangan manusia menjadikannya semangat dalam beramal dan jika tidak ada yang melihat ia masih tetap melaksanakan ibadah. Maka yang demikian ia diberi pahala sesuai dengan niatnya yang benar dan diberi hukuman sesuai dengan niatnya yang rusak. Mungkin lebih dekatnya adalah bahwa riya’ ini masih berhubungan dengan cabang (sifat) ibadah dan bukan berhubungan dengan pokok ibadah. Sebagaimana orang yang sholat sedang keinginannya adalah meringankan ruku’ atau sujud, tidak memanjangkan qiro’ah, jika dilihat oleh manusia ia senantiasa memperbaiki sholatnya. Maka yang demikian itu termasuk dari riya’ yang dilarang dikarenakan ada unsur mengagungkan manusia  tetapi hal ini tidak masuk dalam riya’ yang menyangkut dalam urusan pokok agama.[33]

 

E. Cara mengobati riya’

Ada beberapa cara  dalam mengobati riya’, diantaranya:

  1. Mencabut akar pokoknya dimana sifat riya’ itu timbul.
  2. Menolaknya jika sewaktu-waktu muncul dalam benak.

Untuk yang pertama:

Ketahuilah bahwa pokok riya’ adalah cinta kedudukan, jabatan, atau jika disimpelkan akan terkumpul dalam tiga hal, yaitu cinta akan kenikmatan, suatu pujian, lari dari rasa sakit, dan tamak dan rakus terhadap  apa yang dimiliki oleh manusia. Hal ini dapat disaksikan dalam sebuah hadits shohih dari hadits Abi Musa z, berkata: ”Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ` kemudian berkata: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu terhadap orang laki-laki yang berperang karena keberanian, berperang karena kebangsaan, berperang karena riya’, maka diantara ini manakah yang dijalan Allah? Kemudian Rasulullah ` bersabda: ”Barangsiapa yang berperang dalam rangka menegakkan kalimat Allah, maka dia ada di jalanNya.”[34]

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al Qur’anul karim
  2. Shohih al Bukhory
  3. Shohih Muslim
  4. I’lamul Muwaqiin Ibnu Qoyyim Al Jauziyah Darul Jail, Beirut
  5. Tazkiyatunnafs, Ibnu Qudamah, Ibnu Qoyyim
  6. Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim Al Hauziyah
  7. Nuzhatul Muttaqin, syarh Riyadhus Sholihin, Imam nawawy, Muasassah risalah cet. 14114 H/1993M
  8. Mukhtashor Minjahul Qosidin, Ibnu Qudamah, Darul fikr, Beirut, cet. 1408 H/1987 M
  9. Syarh Al Arba’in Nawawi
  10. Tahdzib Mau’idlotul Mukminin, Imam Jamaluddin al Qosimy, Dar Ibnu Qoyyim, cet,1411 H/1990 M.
  11. Sifatus shofwah

[1] Lihat minhajul  qosidin hal: 348

[2] Syarh matan arbain  Nawawy hal:23

[3] Aina nahnu min akhlaqi salaf hal :9

[4] Tazkiyatunnafs hal:17

[5] Nuzhatul muttaqin

[6] Tahdzib mauidlotul mu’minin hal:427

[7] Tazkiyatunnafs hal 13

[8] Nuzhatul nuttaqin hal:1/19

[9] Tazkiyatunnafs hal:13

[10] Mauidlotul mu’minin hal:427

[11] HR.Muslim

[12] HR. Al hakim, dalam Mustadrok dan   Ibnu Abid dunya dalam al Ikhlas. Munqothi’ dan dloif.

[13] Shifatu As-Shofwah : 3/61

[14] Shifatu As-Shofwah : 3/61

[15] Shifatu As-Sofwah : 2/96

[16] Shifatu As-Shofwah:2/96

[17] Shifatu As-Shofwah : 2/234

[18] Shifatu As-Shofwah : 4/122

[19] Nuzhatul muttaqin hal:1/19

[20] I’lamu muwaqqi’in hal 182

[21] I’lamul Muwaqiin hal:182

[22] Madarijus salikin hal:1/95

[23] Nuzhatul muttaqin hal:1/24-25

[24] Nuzhatul muttaqqqin  hal:1/28

[25] Tahdzib mauidlotul mu’minin hal:427

[26] Tahdzib mauidlotul mu’minin hal:427

[27] Nuzhatul muttaqin hal:1/24-25

[28] HR Ahmad Musnad imam Ahmad 4/230, Ibnu Majah,nomor hadits ;4228

[29] Tahdzib mauidlotul mu’minin hal:426-427

[30] minhajul  qosidin hal:203

[31] Tahdzib mauidlotul mu’minin hal:427

[32] Tahdzib mauidlotul mu’minin hal:427

[33] Ibid hal:206

[34] HR. Bukhori  1/43,dan Muslim 6/46



Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: