Perjanjian dengan Imah


Perjanjian dengan Imah

Seperti biasanya, Minggu ini aku mengantarkan ibu ke tempat kerjanya di JMP (Jembatan Merah Plaza). Mungkin agak aneh Minggu kok masuk kerja? Ibuku bekerja pada sebuah butik. Setiap Minggu aku selalu menemani beliau bekerja. Sambil menunggu ibu selesai bekerja jam lima sore, aku berjalan-jalan sepanjang pertokoan.

Aku masuk sebuah restoran cepat saji, membeli satu paket makanan burger, kentang, dan minuman ringan. Aku menempati meja yang berdekatan dengan dinding kaca di ujung. Dengan begitu, aku bisa melihat pemandangan di luar sana. Aku makan perlahan sambil melempar pandanganku jauh ke luar.

Teriknya panas udara di luar tidak terasa di dalam sini, tergantikan sejuknya udara AC. Di luar sana orang-orang tampak berjalan bergegas memasuki plaza. Kebanyakan mereka adalah ibu-ibu. Ya, plaza ini memang pusat grosir, banyak pedagang yang kulakan di plaza ini. Orang-orang itu terlihat begitu terburu-buru. Seakan-akan mereka takut barang yang mereka cari telanjur dibeli orang.

Di sana aku bisa melihat berbagai macam kegiatan manusia dan rupa mereka. Tanpa kusadari seorang gadis kecil menghampiriku.

”Mbak, njaluk kacamatane po’o,” kata-kata gadis itu membuatku terkejut.

”Mau ini?” tanyaku sambil mengangkat kacamata tiga dimensi yang kubawa. Pertanyaanku disambut anggukan kepala. Aku diam sejenak.

”Nih,” kataku sambil menyerahkan kacamata itu kepadanya. Dia sangat gembira saat menerimanya. Kemudian dia hendak pergi. Tapi kutahan, dia pun terlihat heran. ”Temani mbak ngobrol ya,” pintaku. Ajakanku tak segera dijawabnya. Tapi, dia kemudian duduk di sampingku.

”Siapa namamu?” tanyaku.

”Imah,” jawabnya singkat. ”Cuma Imah?” tanyaku kemudian.

”Nur Halimah,” jawabnya. Kuperhatikan dia dengan saksama, kemudian kuterka berapa usianya, hmm… sekitar 9 tahun, pikirku.

”Kamu kok nggak sekolah?” tanyaku.

”Nggak boleh sama bapak, katanya cuma buang-buang uang aja,” jawabnya lugu.

”Trus, kalo nggak sekolah, kamu ngapain?” kembali aku bertanya.

”Ya… bantuin ibu kerja,” katanya lagi.

”Mau es krim?” tawarku.

”Mbak mau beliin Imah es krim?” ucapnya tak percaya.

Aku mengangguk dan mengajaknya pergi ke salah satu penjual es krim di dekat situ. Dia memilih satu di antara sekian banyak pilihan. Itu pun dengan waktu yang cukup lama. Kami kembali ke tempat duduk semula. Imah terlihat lahap makan es krim. ”Enak, ya?” tanyaku. Imah mengangguk sambil menjilati es krimnya.

”Kenapa kamu mau disuruh kerja, kan teman-teman seumuran kamu pada sekolah?”

”Kalo nggak kerja, bapak suka marah-marah,” katanya sambil sesekali melahap es krim di tangannya. “Ya… kalo aja Imah anak orang kaya, Imah juga mau sekolah, main-main ama teman, bisa jalan-jalan, nggak harus kerja kayak gini,” ucapnya kemudian.

Seketika aku tercenung, pasti di luar sana masih banyak Imah-Imah yang lain. Apa yang mereka lakukan sekarang? Apa juga bekerja keras, menghabiskan waktu di jalanan? Pasti mereka juga punya keinginan-keinginan yang hampir sama dengan keinginan Imah. Kesempatan untuk bersekolah, kehidupan yang layak, waktu bermain yang cukup. Kasih sayang yang penuh dari kedua orang tua dan keinginan-keinginan lain. Akankah keinginan itu terwujud bagi mereka?

”Lho Mbak, kok ngelamun?” tanyanya.

”Eh…oh… minggu depan kamu ke sini lagi, ya,” kataku.

”Ada apa?” tanya Imah heran.

”Mau belajar nggak?” tanyaku.

”Mau… mau… Mbak,” kata Imah antusias, aku tersenyum melihatnya.

”Tiap Minggu kita ketemu di sini, nanti Mbak membawa buku-buku untuk kamu belajar,” kataku.

”Terima kasih ya, Mbak. Kalo gitu aku balik kerja dulu, minggu depan ketemu di sini lagi,” katanya, lalu berlari menuju teman-temannya yang lain. Aku tak bisa memberikan apa-apa pada Imah, apalagi sesuatu yang mewah. Aku hanya bisa memberi ilmu yang aku punya. Sebenarnya itu belum seberapa jika dibandingkan dengan keinginan-keinginan Imah yang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: