TAYAMUM


Bab : Tayamum

Hukum Tayamum:

–         Rukhsah (keringanan) bagi kaum muslimin. Dalil: An Nisa’: 43.

Rukun tayamum (madzhab Syafi’i):

–         Niat, hukumnya wajib

–         Mengusap wajah.

–         Mengusap kedua tangan.

–         Wajah terlebih dahulu kemudian tangan.

–         Debu.

–         Harus Muwalah (urut).

Syarat sah tayamum:

–         Mutayamim (orang yang tayamum) adalah orang yang diwajibkan thaharah.

–         Menggunakan debu.

–         Orang yang tayamum karena ada udzur seperti tidak ada air, sakit dll.

–         Dilakukan setelah masuk waktu shalat wajib, jika dilakukan sebelumnya tidak sah tayamumnya (madzhab Syafi’I, madzhab Malik, Ahmad, Dawud, jumhur). Abu Hanifah: Boleh sebelum masuk waktu shalat.

Alat-alat yang digunakan untuk tayamum:

–         Madzhab Syafi’i: Tidak sah kecuali dengan debu.

–         Abu Hanifah, Malik: Boleh apa saja, seperti batu dll.

–         Sebagian pengikut Malik: Boleh dengan kayu, es dll.

–         Al Auza’I, Ats Tsauri: Boleh menggunakan apa saja yang ada dibumi. Rasulullah saw bersabda, “Dijadikan untukku bumi (tanah) sebagai masjid dan untuk bersuci.” (H.R. Bukhari-Muslim)

Tata-cara tayamum:

–         Membaca bismillah.

–         Menepukkan kedua tangan pada debu.

–         Mengusap wajah dan kedua tangan.

Pendapat ulama’ seputar jumlah menepuk tangan pada debu:

–         Madzhab Syafi’i: dua kali, sekali untuk wajah dan sekali untuk kedua tangan sampai siku-siku.

–         Mayoritas Khurosaniyyin: Tidak mensyaratkan dua kali.

–         Ibnu Mundzir dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, hasan Bashri, sAsy Sya’bi, Salim, Malik, Al Laits, Ats Tsauri, ashabu ra’yi, Abdul Aziz bin Abi Salamah: wajib dua kali tepukan.

–         Ibnu Sirin: Tiga kali: untuk wajah, telapak tangan dan hasta.

–         Ibnu Mundzir dari Atha’, Makhul, Al Auza’I, Ahmad, Ishaq: Wajib sekali untuk wajah dan telapak tangan.

Pendapat ulama’ tentang batasan mengusap tangan:

–         Abu Tsaur, Atha’: Cukup mengusap telapak tangan. Dari Amar berkata, “Saya junub dan berguling-guling didebu kemudian shalat. Nabi saw bersabda,”Cukuplah kamu lakukan seperti ini: Nabi saw menepukkan kedua  telapak tangannya pada tanah dan meniupnya kemudian mengusapkan ke wajah dan kedua telapak tangannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

–         Madzhab Syafi’I, Malik, Abu Hanifah, mayoritas ulama’: Kedua tangan sampai siku-siku.

–         Az Zuhri: Sampai ketiak.

Hukum-hukum seputar tayamum:

–         Orang yang haid dan nifas tayamum kemudian mendapatkan air: Madzhab Syafi’i: Harus mandi, Abu Salamah bin Abdurrahman: Tidak wajib mandi.

–         Hukum tayamum dari najis: Pengikut Imam Syafi’I dan jumhur: Tidak boleh, Ahmad: Boleh, Abu Tsaur, Al Auza’I, Ats Tsauri: Mengusap najis dengan debu bukan dengan tayamum.

–         Hukum tayamum dengan debu bekas kayu yang dibakar: Jumhur: Tidak boleh. Fudhail bin Iyadh: Boleh. Qadhi Abu Thayib: Jika terbakar semua tidak boleh.

–         Hukum tayamum dengan debu yang bercampur dengan benda lain: Pengikut Imam Syafi’i: Boleh. Pendapat yang benar masyhur: Tidak sah.

–         Qadhi Husain, Al Baghawi: Jika berhadats setelah mengambil debu dan sebelum mengusapkannya pada wajah dan tangan, maka harus mengulangi mengambil debu.

–         Jika tangan putus, maka yang diusap adalah sisa tangannya, kecuali yang putus diatas siku.

–         Orang yang tayamum disebabkan bukan karena tidak ada air seperti karena sakit, maka harus mengulangi tayamumnya jika ingin melaksanakan amalan lain. Seperti tayamum untuk shalat wajib kemudian ingin shalat sunah maka harus tayamum lagi.

–         Al Mawardi: Jika tidak ada air tetapi memungkinkan menggali tanah untuk mendapatkan air, maka wajib menggali tanah tersebut.

–         Syafi’I dan pengikutnya: Jika dikapal tidak bisa mengambil air maka boleh tayamum.

–         Madzhab Syafi’I, Abu Dawud, Ahmad: Jika tidak ada air tidak boleh tayamum kecuali sudah mencarinya. Abu Hanifah: Jika yakin tidak ada air disekitarnya boleh langsung tayamum.

–         Orang yang tayamum diperbolehkan menjama’ shalat.

–         Jika ada air yang dijual dan dia mampu membelinya, maka wajib membelinya untuk wudlu.

–         Jika tempat air jauh dan ditakutkan waktu shalat habis, maka boleh tayammum tanpa harus pergi ke tempat tersebut.

–         Lebih utama shalat di awal waktu dengan bertayamum daripada shalat di akhir waktu dengan berwudlu.

–         Barang siapa yang shalat dengan tayamum kemudian ingat kalau dia punya air, maka menurut madzhab Syafi’I: Wajib mengulangi. Ahmad, Malik, Abu Hanifah, Abu Tsaur, Dawud: Tidak wajib mengulangi.

–         Jika berhadats, junub dan haid serta dibadanya ada najis. Dan dia memiliki air tapi tidak cukup untuk membersihkan semuannya, mana yang harus didahulukan ? Pengikut Imam Syafi’i: Membersihkan najis. Madzhab Malik: Untuk berwudlu.

–         Jika  terdapat mayit, orang yang junub, haidh, berhadats, mana yang harus didahulukan ? Abu Yusuf: Orang yang hidup lebih berhak daripada mayit. Pengikut Imam Syafi’i: Yang shahih mayit lebih berhak.

–         Jika terdapat rang yang junub dan haidh, mana yang harus didahulukan ? Pengikut Imam Syafi’i: Yang shahih orang yang haidh lebih berhak karena hadatsnya lebih banyak. Yang lain mengatakan orang yang junub lebih berhak, karena banyak perintah baik Al Qur’an, sunah dan ijma’

–         Jika terdapat orang yang junub dan berhadats, mana yang lebih didahulukan ? Jika airnya cukup untuk berwudlu, maka yang lebih berhak adalah orang yang berhadats.

–         Orang yang shalat dengan berwudlu boleh bermakmum dengan orang yang shalat dengan tayamum.

–         Diperbolehkan sekali tayamum untuk shalat wajib dan sunnah.

–         Tayamum untuk menghilangkan hadats besar seperti junub, haidh, Diperbolehkan shalat, membaca Al Qur’an, tinggal dimasjid dll. Sebagaimana diperbolehkannya setelah mandi junub/suci dari haidh.

–         Madzhab Syafi’i: jika tayamum baik untuk menghilangkan hadats kecil maupun besar, kemudian mendapatkan air maka batal tayamumnya dan wajib wudlu atau mandi dengan air tersebut.

–         Imam Syafi’i: Bagi orang yang muqim shalat dengan tayamum kemudian selesai shalat mendapatkan air, maka wajib mengulangi shalatnya. Abu Hanifah, Ats Tsauri, Al Mazini: Ketika safar juga batal tayamumya.

Hukum Orang yang tidak mendapatkan air dan debu :

–         Madzhab Syafi’I : Shalat dalam keadaan apapun dan wajib mengulangi shalatnya jika mendapatkan air atau debu ditempat tersebut.

–         Tidak wajib shalat akan tetapi harus mengqadha’ shalatnya.

–         Diharamkan shalat dan wajib mengqadha’nya.

–         Shalat dalam keadaan apapun dan tidak diwajibkan mengulangi shalatnya jika mendapatkan air atau debu, seperti orang haidh.

–         Menurut Ibnu Mundzir dari Al Auza’I, Ats Tsauri: Tidak boleh shalat sampai mendapatkan air. Dari Ibnu Umar ra sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, ” Allah SWT tidak akan menerima sholat tanpa bersuci.” (H.R. Muslim)

–         Dawud, Malik, Al MAzini: Shalat dan tidak wajib mengulangi shalatnya jika mendapatkan air atau debu.

Hukum sekali tayamum untuk dua shalat:

–         Madzhab Syafi’I, Ibnu Mundzir dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Asy Sya’bi, An Nakha’I, Qatadah, Rabi’ah, Yahya Al Anshari, Malik, Al Laits, Ahmad, Ishaq: Tidak boleh.

–         Ibnu Musayyib, Hasan, Az Zuhri, Abu Hanifah, Yazid bin Harun: Diperbolehkan selama belum berhadats.

Tata-cara shalat dalam keadaan telanjang:

–         Shalat dengan sempurna, berdiri, rukuk, sujud dll.

–         Shalat dengan duduk.

Begitu juga orang yang tidak mendapatkan kain kecuali kain yang najis maka dia harus shalat dengan telanjang, adapun caranya dengan duduk anpa harus menyempurnakan rukuk dan sujudnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: