HUKUM MEMAKAI CADAR BAGI WANITA


HUKUM MEMAKAI CADAR BAGI WANITA

Oleh : QOSIM

 

MUQODIMAH

 

Alhamdullihi Robbil ‘alamin, atas segala limpahan nikmatnya dan rahmatnya. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan buat nabi-Nya Muhammad yang telah bersusah payah membawa umatnya kejalan yang diridhoi Allah yaitu kepada islam. Sungguh musibah yang sangat besar yang telah menimpah kaum muslimin hari ini yang belum pernah menimpah sejarah didalam Islam yaitu dihinakannya kaum muslimin dengan runtuhnya khilafah pada tanggal 3 maret 1924. Sejak itulah kaum muslimin tidak lagi punya pijakan yang kokoh untuk sekedar bertahan dari ganasnya makar-makar musuh Islam, apatah lagi untuk melawan.

Sejak itu pulalah pondasi aqidah umat ini hancur dan hancur ibarat puing-puing bangunan yang tekena badai dan gempah yang amat dahsyat, Umat dimana-mana dibantai, fitnah mengelilingi kita.

Dan fitnah yang terbesar yang kita dapati hari ini adalah orang-orang yang paling memusuhi Islam justru datang dari orang-orang yang mengaku Islam itu sendiri. Ini tak lain dan tak bukan karena mereka tidak lagi memahami hakikat Islam yang sebenarnya. Orang yang ingin kembali kepada Islam secara kaffah dianggap aliran sesat, mubtadi’ (pelaku bid’ah) dan exstrim serta gelar-gelar lainnya yang menjijikan.

Demikian juga dengan masalah jilbab sampai masalah cadarpun dianggap aneh, tabu dan dianggap kuno serta terbelakang.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Al Ghozali semoga Allah merahmatinya: “Tidaklah musibah yang paling besar yang menimpah umat ini selain hilangnya Ad Din”. Bukankah khilafah bagian dari pada Ad Din yang mempunyai peranan yang amat penting dalam mengatur kehidupan kita??…….

Sengaja saya bawa pemikiran kita kepada awal penyebab rusaknya tatanan Islam ini (yaitu runtuhnya khilafah Islamiyah) supaya kita dapat memahami kenyatan hari ini selanjutnya untuk bisa berbuat banyak untuk mengembalikan Islam pada posisi yang semestinya sebagaiman di masa Rasulullah n . Semoga risalah ini bermanfaat bagi keislaman kita dan sebagai bukti keingin kembalian kita terhadap Dinul Islam secara kaffah. Amiin…..

 

PENGERTIAN CADAR

Di katakan dalam kamus Al Muhith bawa kata cadar dalam bahasa arabnya äÞÇÈ: atau ÞäÇÁ yang mempunyai arti: kain yang di gunakan untuk menutupi muka seorang wanita.

(Tartiibul Qomus Al Muhith Zuz : 4 hal. 421 )

Istilah cadar sendiri sudah dikenal pada awal diwajibkannya hijab, sebagaimana Shofiyah binti Sirin menjadikan jilbabnya sebagai cadar padahal umurnya melebihi enam puluhan. ( lihat Jilbatul Mar’ ah Al Muslimah Oleh Syaikh Muhammad Nasrudin Al Baani ).

 

DALIL-DALIL DI WAJIBKANNYA HIJAB

a. Dalil-dalil dari Al Quran :

Firman-Nya :

1. (lihat surat An Nur ayat 30 dan 31 ).

2. ( lihat surat al ahzab ayat 59 ).

b. dalil-dalil dari As Sunah :

Dalam sebuah hadist dari Ummul Mukminin Aisyah semoga Allah meridhoinya berkata :

Artinya :Bahwasanya Asma binti Abi Bakar datang menghadap Rasulullah e padahal Asma memakai pakaian tipis maka Rasulullah e berpaling darinya lalu berasabda : “Sesungguhnya seorang wanita jikalau sudah mendapatkan haidh maka tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini sambil menunjuk wajah dan tangannya”.

Tetapi Imam Abu Daud mengatakan bahwa hadits ini adalah mungkar karena di dalam hadits tersebut terdapat seorang rowi yang bernama Ya’kub bin Duraik padahal Ia tidak pernah bertemu dengan Aisyah. Begitu juga yang di katakan oleh Imam Al Hafidz Abu Bakar Ahmad Al Jarjany :hadist ini adalah Dhoif kerena sanad dari Said bin Basyir padahal Ia lemah.Dikatakan juga hadist ini yang di dalam sanadnya dari Qotadah dari Kholid adalah seorang yang Mudalis.

2. dalam hadist Shofiyah binti Syaibah semoga Allah meridhoiya berkata :”saya melihat Aisyah ketika sedang di rumah Allah (ihrom ) mengenaikan cadar”.

3. Demikian juga hadist dari Aisyah semoga Allah meridhoinya lainnya :

Artinya :”Para penunggang binatang akan melewati kami, padahal kami bersama Rasulullah e dalam keadaan ihrom. Maka ketika mereka hampir melewati kami, kami menjadikan jilbab diatas kepala kami sebagai penutup muka ( cadar ) sampai meraka melewati barulah kami membukanya kembali “.[ Ahmad : 6/30 ]

 

PENJELASAN DALIL-DALIL DI ATAS

Dalam hukum cadar ini sendiri terjadi ikhtilaf di antara para ulama sehingga menjadi dua pendapat sebagaimana yang di katakan pengarang kitab “Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud” Imam Abu Bakar Ahmad Al jarjany.

Pendapat yang menekankan perlunya memakai cadar :

Yaitu :mereka yang menekankan pentingnya memakai cadar jika di kwatirkannya terjadinya fitnah, baik di zaman dahulu maupun sekarang. Yang berpendapat seperti ini adalah Imam Ibnu Abas, Ubaidah As Samany, Syaikh Al Utsaimin semoga Allah I merahmati mereka semua.

Ibnu Abbas di dalam menafsirkan ayat ini : “ … jinatahunna illa maa dhoharo minhaa “

Yang di maksud ayat ini adalah :Wajah dan kedua telapak tangan termasuk tidak boleh terlihat.

Bahkan lebih jauh lagi beliu mengatakan :Dalam Ayat ini Allah I memerintahkan kepada kaum muslimah jikalau akan keluar rumah karena ada suatu keperluan untuk senantiasa menutup seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah kecuali satu mata kirinya yang di gunakan untuk melihat. Di riwayat dari Ali bin Abi Tholhah marfu’ dengan sanad baik/ jaiid.

( lihat tafsir Imam Ath thobari Jamiul Ahkam…, Tafsir Al Qu’ranul Adzhim Imam Ibnu Katsir, Tafsirnya Imam As Syanqiti Adhwaaul bayan, dan tafsir Imam Ibnul ‘Arobi Ahkamul Qu’ran )

Demikian juga mazhab Ahmad yang mengatakan :Setiap bagian tubuhnya, termaksuk kukunya adalah aurat. Ini juga pendapat Imam Malik. Semenjak turunnya Ayat 59 dari surat Al Ahzab para wanita muslimah ketika itu menutup wajah dari pandangan pria. Jadi waniata dahulu mengenaikan Niqob ( cadar ). Di dalam “ash Shohih ” terdapat hadits yang menyatakan bahwa wanita yang sedang ihrom di larang mengenakan Niqob dan sarung tangan. Ini menunjukan bahwa niqob dan sarung tangan itu di kenakan oleh kaum wanita yang tidak ihrom. Berati wajah dan telapak tangan mereka tutupi. Syaikh Muhmmad Nasrudin Al Banii menambahkan :ini benar tetapi bukan berati menjadi wajib bagi mereka. (Al Hijab , hal. 40 )

(lihat juga pendapat Imam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya”Majuatul fatawa.Kitab tafsir surat Al Ahzab 59.Jilid 15 hal. 410″ dan pendapat Syaikh Ibnu Jibrin maupun Syaikh Al Utsaimin di dalam kitab ” Fatawa Al Mar’ah hal.176-179 yang menekankan perlunya Niqob dan sarung tangan bagi wanita).

 

Pendapat yang membolehkannya tidak memakai cadar :

Mereka yang berpendapat yang seperti ini adalah Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’I dengan syarat terbebas dari fitnah. ( lihat Fiqh ala Mazaaibil Arba’ah Jilid :1 hal 583 ). Dan karena tidak adanya Nash yang jelas-Jelas memerintahkannya.

 

KESIMPULAN

Sebenaranya dua pendapat tersebut tidaklah bertentangan bahkan saling mengkuatan antara satu dengan yang lainnya yaitu : pentingnya memakai cadar ketika di kwatirkan fitnah dan jikalau tidak dikwatirkan terjadinya fitnah maka boleh untuk tidak memakai cadar.

 

PENUTUP

Demikianlah apa yang patut kita ketahui tentang hukum memakai cadar. Dan setelah itu marilah kita melihat kenyataan hari ini di mana kita hidup didalamnya !!!………… maka kita akan mendapatkan fitnah ada di mana-mana. Rasulullah e sudah menginggatkan kita akan besarnya fitnah wanita terhadap laki-laki sebelum beliau wafat. Dan Sabdanya : Bertaqawalah akan fitnah dunia dan fitnah wanita. Karena sesungguhnya fitnah yang pertama sekali menimpa bani isroil adalah adalah fitnah wanita. [Muslim : 17/55 ]

Dan hanya wanita-wanita yang hina sajalah yang tidak mengenaikan jilbab ( menutup auratnya ) bahkan di zaman Rasulullah wanita-wanita yang tidak memakai cadar adalah para budak. Sehinggah di ceritakan dalam tafsir ” Adh waa,ul bayan” : Wanita-wanita budak tidak memakai cadar sehingga mereka diganggu”. Maka untuk membedakan antara wanita budak dengan wanita merdeka di perintahkan untuk menutup muka dengan menurunkan jilbabnya. Sebagaian para ulama berpendapat seorang l;aki-laki lebih tertarik di karenakan melihat wajahnya dari pada melihat kakinya. Dan kita bisa melihat wanita-wanita yang tidak menutup auratnya yang sering menjadi korban pelecehan saksual oleh lelaki yang tidak bermoral.

Allahu alam bish showab.

 

MAROJI’:

1. Hijabul mar’ah wa libasuha fie As Sholah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.(dan di tahqiq oleh Syaikh Muhammad Nasruddin Al Baani

2. Purdah And the Status Of Woman In Islam. Abu A’la Al Maududi.

3. Fatawal Mar’ah, lajnah Ad Daaimah. ( syaikh Abdullah Bin Baz, syaikh Al Utsaimin, Syaikh Ibnu Jibrin ).

4. Majmu’atul fataawa. Sýyaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

5. Tafsir Jami’ul Bayan Fie Tafsirul Qur’an. Imam Ath Thobari.

6. Tafsir Qur’anul Adhim. Imam Ibnu Katsir.

7. Tafsir Adh waaaul bayan. Imanm Asy Syanqity.

8. Tafsir Ahkamul Qur’an. Imam Ibnul Aroby.

9. Majalatul Buhuts Al Islami.Lajnah Ad Daimah.

10. Fiqh Ala Mazhaibil Arba’ah.syaikh Abdurrahman Al Jazairi.

11. Musnad Imam Ahmad.

12. Tuhfatul ahwaadzi Syarh Tirmizi. Imam Al Hafidz Abu bakar Ahmad Al jazairi.

13. Tartibul Qomus Al Muhith.Thohir Ahamad Ar Roozi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: