HAID


Kitab : Haidh

Pengertian haidh:

Haidh : Sayalan (mengalir). Al Harwi: Haidh adalah darah yang keluar pada waktunya setelah wanita baligh, sedangkan istihadhah: Darah yang keluar bukan pada waktunya. Dalil tentang haidh: Surat Al Baqarah: 222. Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda tentang darah haidh, “Inilah sesuatu yang telah ditetapkan oleh  Allah SWT atas kaum wanita.” (H.R. Bukhari)

Nama-nama haidh:

Ada 6 nama: Haidh, Ath Thamtsu, Al ‘Urak, Adh Dhahak, Al Ikbar, Al I’shar.

Batas umur wanita mengalami haidh:

–          Ketika umur 9 tahun (shahih).

–          Sekitar berumur 9 tahun

–          Umur 8,5 tahun.

Madzhab Ulama’ tentang lamanya wanita mengalami haidh:

–          Pengikut Imam Syafi’i: Minimal sehari semalam (shahih).

–          Ijma’ ulama’, Ibnu Mundzir: Tidak ada batas minimal atau maksimal.

–          Madzhab Malik: minimal dif’atan (sekejap).

–          Madzhab Syafi’I, Atha’, Ahmad, Abu Tsaur: Minimal sehari semalam dan maksimal 15 hari.

–          Ats Tsauri, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad: Minimal 3 hari dan maksimal 10 hari.

–          Ahmad: maksimal 17 hari.

Larangan bagi orang yang haidh:

–          Shalat : Dari Aisyah ra berkata, “Kami mengalami haidh pada zaman Rasulullah saw, kami tidak melaksanakan shalat dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’nya.” (H.R. Bukhari-Muslim)

–          Puasa : Menurut pendapat Turmudzi, Ibnu Mundzir, Ibnu Jarir: Wajib mengqadha’nya. Dari Aisyah ra berkata, “Kami diperintahan untuk mengqadha’ shaum dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (H.R. Muslim)

–          Jima’ : dalil: Surat Al Baqarah: 222. Rasulullah saw bersabda, “Perbuatlah sekehandakmu kecuali nikah (jima’). (H.R. Muslim). Apakah orang yang melakukannya wajib membayar kafarah ? Madzhab Syafi’I, madzhab Malik, Abu Hanifah, Ahmad: Tidak wajib kafarah. Ibnu Mundzir dari Atha’, Ibnu Abi Malikah, Asy Sya’bi, Anb Nakha’I, Makhul, Az Zuhri, Ayub, Abu Zanad, Rabi’ah, Hamad, Ats Tsauri, Al Laits: Wajib membayar kafarah 1,5 dinar.

–          Thawaf : Rasulullah saw bersabda, “Lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang haji, kecuali thawaf di baitullah.” (H.R. Bukharai-Muslim)

–          Menurut Pengikut Imam Syafi’i: Sujud tilawah, sujud syukur juga diharamkan karena syarat sahnya adalah thaharah.

Hukum-hukum seputar haidh:

–          Hukum tasbih dan dzikir bagi wanita yang haidh: Madzhab Syafi’I, madzhab jumhur, Al Auza’I, Malik, Ats Tsauri, Abu Hanifah dan pengikutnya, Abu Tsaur: Tidak boleh. Hasan Bashri: Bertasbih diperbolehkan.

–          Hukum membaca Al Qur’an: Tidak diperbolehkan, Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda, “Orang yang junub dan haidh tidak boleh membaca sedikitpun dari Al Qur’an.” (H.R. At Turmudzi, Al Baihaqi (dha’if)

–          Hukum istimta’ antara pusar dan paha: Madzhab ulama’: Abu Hanifah, Malik, Ibnu Mundzir dari Sa’id bin Musayyib, Thawus, Syuraih, Atha’, Sulaiman bin Yasar, Qatadah: Haram. Ikrimah, Mujahid, Asy Sya’bi, An Nakha’I, Al Hakam, Ats Tsauri, Al Auza’I, Muhammad bin Al Hasan, Ahmad, Abu Tsaur, Ishaq, Dawud: Boleh. Al Qadhi Husain: Qaul jadid: Boleh, qaul qadim: haram.

–          Hukum jima’ dengan wanita yang suci dari haid tetapi belum mandi: Madzhab Syafi’I, jumhur: Haram. Ibnu Mundzir dari Salim, Sulaiman, Az Zuhri, Rabi’ah, Malik, Ats Tsauri, Al Laits, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur: Boleh akan tetapi wudlu terlebih dahulu.

Hal-hal seputar haidh:

–          Madzhab Syafi’i: Jika mendapati 15 hari darah keluar berwarna merah, kemudian 15 hari lagi berwarna hitam, maka darah yang berwarna hitam itulah yang haidh.

–          Madzhab Syafi’i: Jika mendapati 15 hari darah berwarna merah kemudian setengah hari berwarna hitam, maka haidnya yang berwarna merah dan warna hitam suci. Adapun jika mendapati pada siang hari darah berwarna merah kemudian malam hari berwarna hitam, maka semuanya darah haidh.

–          Jika melihat darah keluar melebihi kebiasaan, maka dia tetap wajib menahan diri dari hal-hal yang dilarang bagi wanita yang haidh.

–          Jika lupa terhadap waktu kebiasaan keluarnya darah haidh, akan tetapi bisa menentukan ini darah haid atau bukan dengan melihat ciri-cirinya seperti warna dll. Maka hukum kembali kepada ciri-ciri darah tersebut.

–          Abu Zaid Al Mawarzi: Jika suci sebelum matahari terbenam, maka wajib mengqadha’ shalat Dhuhur dan Ashar. Dan jika suci sebelum matahari terbit, maka wajib mengqadha’ shalat Isya’ dan Subuh.

 

Nifas

Pengertian Nifas:

Menurut ahli fiqih : Nifas yaitu darah yang keluar dari kemaluan wanita setelah melahirkan.

Status wanita yang nifas:

Wanita yang nifas dihukumi sebagaimana orang yang haidh, mereka diharamkan melakukan sesuatu yang diharamkan kepada orang yang haidh, seperti shalat, jima’ dll. Adapun perbedaanya:  Orang nifas tidak berkaitan dengan masalah baligh, dan tidak ada istibra’ bagi orang yang nifas.

Batas waktu nifas:

–          Pengikut Imam Syafi’I : Batas minimal tidak ada, maksimal 60 hari.

–          Imam Syafi’I : Maksimal 40 hari.

–          Riwayat Abu Tsaur, Al Mazini dari Syafi’I : Minimal dif’atan (sekejap).

Hal-hal seputar darah nifas:

–          Madzhab Syafi’I : Nifas tidak harus bayi yang keluar dalam keadaan hidup dan sempurna.

–          Madzhab Syafi’I : Jika darah  nifas sudah berhenti suami boleh menyetubuhinya. Dari Ali bin Abi Thalib, Ahmad: Makruh, jika berhentinya sebelum 40 hari.

–          Orang yang menggugurkan bayi wajib mengqadha’ shalat pada hari-hari nifas, karena dia telah berbuat maksiyat, adapun yang shahih dan masyhur tidak wajib.

–          Tidak dimakruhkan makan-makan, mencium, istimta’ (atas pusar dan bawah lutut) dengan wanita haidh.

–          Orang yang merdeka dengan budak sama saja dalam masalah haidh.

–          Tanda berhentinya darah haidh: Darah tidak keluar lagi serta keluar cairan yang berwarna kuning dan keruh.

 

Istihadhah

Hal-hal seputar Istihadhah:

–          Madzhab Syafi’I, Jumhur (Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Aisyah, Urwah, Abu Salamah, Abu Hanifah, Malik, Ahmad): Bersuci dari istihadhah yaitu dengan wudlu bukan mandi. Rasulullah saw bersabda, “Jika engkau haidh dan sudah suci, maka jika akan shalat mandilah.” Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Atha’: Wajib mandi setiap akan shalat. Dari Ali, Ibnu Abbas, Aisyah: Mandi setiap hari sekali.

–          Pengikut Imam Syafi’i: Wanita yang istihadhah ingin mengerjakan shalat sedangkan darahnya keluar terus-menerus, maka dia harus membersihkan kemaluannya sebelum shalat, untuk manjaga dari hadats dan najis.

–          Madzhab Syafi’i: Tidak boleh wanita yang istihadhah sekali bersuci (wudlu) untuk dua kali shalat atau lebih. (haditsnya dha’if)

–          Hukum wudlu sebelum masuk waktu shalat: Madzhab Syafi’i: Tidak sah karena itu merupakan thaharah darurat dan tidak boleh melakukan hal yang darurat sebelum masuk waktunya.

–          Hukum salsal (beser/keluar air kencing terus-menerus) dan madzi: Seperti darah istihadhah, wajib mencuci kemaluan serta wudlu ketika akan shalat. Untuk orang yang beser shalatnya dengan duduk agar tetap terjaga kesucianya. Al Qafal: shalat dengan berdiri.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: