TENTANG IDDAH



Soal : Kami telah membaca dalam kitab “Fatwa-fatwa tentang wanita” buah karya Syaikh Utsaimin yaitu : bahwa wanita yang masih dalam masa iddahnya masih tinggal di rumah suaminya dan boleh membuka hijab, berhias dll ( sebagaimana biasanya suami-istri), namun yang tidak diperbolehkan adalah jima’. Bagaimana dengan hal itu sebenarnya ?

 

Jawab : Pada masa iddahnya seorang wanita, suami-istri tidak boleh tinggal dalam satu rumah, karena akan menyebabkan mereka berkhalwat, namun dikecualikan dengan dua hal :

1. Kalau didalam rumah itu ada mahrom istri yang laki-laki dan mahrom suami yang   perempuan atau yang termasuk mahrom.

Menurut Imam Syafi’ie :”Syarat mahrom itu harus baligh, tamyiiz, bukan orang yang gila dan anak kecil”.

Menurut Abu Thayyib :”Bagi orang yang belum baligh, tidak ada beban baginya karena belum dapat membedakan”.

Menurut Abu Hamid :”sudah cukup bagi kami yang menjadi mahrom itu adalah seorang anak yang hampir baligh, dan perempuan yang terpercaya”.

Diceritakan dari Shahabat bahwa : Dua orang laki-laki tidak boleh berkhalwat dengan seorang perempuan, dan dibolehkan seorang laki-laki berkhalwat dengan dua orang perempuan,karena malunya perempuan dengan perempuan lebih besar daripada malunya laki-laki dengan laki-laki.

Jadi diperbulehka jika didalam rumahnya ada tempat lain untuk istrinya, jika tidak demikian maka suami memberikan ketenangan pada istrinya dengan memisahkan dirinya dengan istrinya dari rumah itu, dan diperbolehkan jika ada mahrom keduanya, namun hal itu sebenarnya makruh karena tidak mungkin terbebaskan dari berpandangan.

2. Jika didalam rumah itu ada ruangan kamar yang berbeda, sehingga apabila suami ingin tinggal di rumah itu, maka istrinya ditempatkan di kamar yang berbeda dengan kamarnya dengan syarat kamar itu harus seperti layaknya rumah yang bersebelahan (ada kamar mandi, dapur, ruang istirahat dll), sehingga tidak diperbolehkan tinggal dalam satu rumah yang tidak memiliki syarat-syarat seperti diatas.

 

Jadi bagaimana dengan permasalahan diatas, yach…menurut Imam Nawawy dalam kitabnya ” Majmu’ syarhul muhadzdzab ” tidak diperbolehkan.

 

Maraji’ :

– Majmu’ Syarhul Muhadzdzab juz 19 halaman 247-248 : Abu Zakariya Muhyiddien bin Syarof an-Nawawy.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: