HUKUM SEORANG WANITA YANG DI TINGGAL SUAMINYA DALAM QURUN WAkTU YANG TAK TERBATAS


  1. A. Muqodimah

إِنَ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِِِِِِ أَنْفُسِنَا وَسِيِّئَاتِ أَعَمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَّ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Segala puji hanya milik Allah I. Kepadanya kita menyembah dan memohon pertolongan. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rosulullah r , keluarganya, shahabat-shahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang yang senantiasa berpegang teguh kepada kebenaran.

Seiring dengan perjalanan sejarah, kita memahami bahwa seorang muslimah     memiliki peranan yang sangat penting dan telah memberikan kontribusi yang besar dalam proses pembangunan masyarakat islam. Demikianlah, wanita diibaratkan sebagai senjata yang bermata dua. Apabila mereka baik dalam menunaikan fungsi dasarnya sesuai dengan garis yang telah ditetapkan kepadanya niscaya akan terbangun masyarakat islam yang teguh memegang agamanya dan berakhlak mulia.          Akan tetapi, apabila wanita menyimpang dari fungsi dasar yang telah digariskan oleh islam kepadanya, berjalan pada jalur kesesatan, dan jauh dari rambu-rambu kebaikan, saat itulah wanita menjadi senjata yang dapat merusak dan menghancurkan masyarakat. Oleh karena itu, kita melihat bahwa islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada kaum wanita. Islam telah menjaga wanita dengan mendidik dan memberikan perlindungan kepada mereka serta memberikan hak-hak mereka sesuai dengan fitroh dan qodratnya. Perhatian ini adalah sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh umat manapun sepanjang masa.

Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, kaum wanita telah banyak mengalami berbagai macam erosi, mulai dari kepribadian, akhlak, bahkan aqidah. Salah satunya adalah krisis figur teladan. Wanita muslimah semakin jauh meninggalkan teladan sejati mereka yang telah terbukti mampu memainkan peran positif mereka, baik sebagai pribadi maupun sebagai istri. Semakin hari semakin besar tantangan yang harus mereka hadapi.

Apalagi akhir-akhir ini muncul sebuah fenomena yang sangat merisaukan dan mencemaskan kaum hawa  (muslimah). Mereka hidup tanpa disertai oleh suami-suami yang sangat mereka sayangi. Baik suaminya pergi karena kesengajaan, atau karena kondisi yang memaksanya, atau suaminya menghilang tanpa diketahui kabar serta nasib yang menimpanya. Hal ini dipicu oleh munculnya para suami yang tidak mengetahui akan hak dan kewajiban yang harus mereka penuhi, atau bahkan karena maraknya penangkapan dan berbagai macam bentuk penculikan lainnya, yang dilakukan oleh orang yang benci terhadap tegaknya islam dimuka bumi  ini.  Sehingga istri yang ditinggalkan berada pada kondisi serba salah antara menikah lagi, tetapi merasa malu atau takut dicemooh dan dituduh sebagai seorang istri yang tidak setia kepada suami, baik dari tetangga ataupun dari saudara-saudaranya sendiri. Akan tetapi jika ia tidak menikah lagi, banyak masalah yang  tidak mungkin dapat ia selesaikan sendiri tanpa adanya seorang suami. Maka dengan makalah ini kami berharap segala permasalahan yang kami ungkapkan didepan dapat terselesaikan dengan baik, berdasarkan dalil-dalil atau pendapat para ulama yang ada. Bagaimana  sebenarnya islam menjawab permasalahan ini !

  1. B. Definisi wanita yang ditinggal suaminya
  2. a. Secara bahasa

Secara bahasa iddah berasal dari kata  عَدَّ- يَعُدُّ- عَدًا- تَعَدَّادًا yang artinyaإحْصَاء ُ  yaitu menghitung.[1] Iddah adalah ism dari kata kerja  عَدَّ ِبمَعْنىَ إحْصَاءً وَمَعدٌوْدًا artinya menghitung atau dihitung.[2] Iddah juga diartikan  إحْصَاءُ الشَيئِ     yang artinya menghitung sesuatu, sebagaimana firman Allah I Ta’ala, فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّاٍم أُخَر maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. [3] Sedangkan jika dikatakan عِدَةُ المَرْأَةِ  , maka artinya: أَيَامُ أَقْرَائِهَا yaitu masa-masa suci bagi seorang wanita.[4]

b.  Secara istilah

–  Hari-hari dimana wanita yang dithalaq (menjalani masa penantian). Pada masa-masa tersebut, ia tidak boleh menikah dan tidak boleh minta dinikahi. Ini wajib hukumnya bagi setiap wanita yang berpisah dengan suaminya, karena thalaq atau karena suaminya meninggal dunia.[5]

–  Menurut mazhab Hanafi  ada dua ta’rif

a. Waktu yang tersisa bagi seorang wanita untuk menyelesaikan hubungan pernikahan dengan suaminya.

b. Seorang wanita menjalani masa penantian untuk waktu tertentu setelah rusaknya hubungan pernikahan, baik pernikahan yang syah atau pernikahan yang syubhat.

–  Menurut mazhab maliki :

Waktu yang dilarang bagi seorang wanita untuk menikah karena thalak, atau kematian suaminya, atau rusaknya hubungan pernikahan.

–  Menurut mazhab syafi’i :

Hari- hari dimana seorang perempuan menjalani masa penantian untuk mengetahui kekosongan rahimnya sebagai bentuk ibadah, atau sebagai wujud rasa sedihnya terhadap suami (yang meninggalkannya).

–  Menurut mazhab Hambali:

Masa penantian bagi seorang wanita secara syar’i, artinya waktu yang ditentukan oleh syareat kepada seorang wanita. Pada waktu itu tidak halal baginya menikah, baik karena dithalak oleh suami atau karena  ditinggal mati suaminya.”[6]

–  Masa menanti atau menunggu bagi seorang wanita ketika rusaknya ikatan pernikahan atau pernikahan yang syubhat dari bentuk pernikahan fasid atau hubungan yang syubhat ( tidakjelas )[7]

–  Sebuah nama untuk waktu tertentu, dimana seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya atau dithalak menjalani masa penantian dan dilarang menikah diwaktu itu.”[8]

Maka sebelum kita membicarakan masalah ini, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa sebenarnya hak-hak seorang istri yang harus dipenuhi oleh suami.

 

  1. C. Hak-hak istri yang harus dipenuhi oleh suami

Diantara hak-hak istri atas suaminya adalah sebagai beikut:

1. Menafkahi istrinya dalam bentuk makanan, minuman, atau tempat tinggal dengan cara yang baik, karena Rosulullah Shalallohu ‘alaihi wasallama pernah bersabda kepada orang yang bertanya tentang hak istri tehadap suami,

تُطْعِمُهَا إِذَا أَكَلْتَ وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا

فِي الْبَيْت (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَاِبُنُ حِبَانُ)

“Engkau memberi makan jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau berpakain, tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekanya, dan engkau jangan mendiamkanya kecuali didalam rumah.”  (Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Hiban. Hadist ini dishahihkan Ibnu Hiban).

2. Memenuhi kebutuhan biologisnya. Jadi suami wajib menggauli istrinya kendati cuma sekali dalam setiap bulan jika tidak mampu memberikan layanan yang cukup baginya.

3. Menginap dirumahnya semalam dalam setiap empat malam, karena itulah yang diputuskan pada zaman pemerintahan Umar Rodhiyalloh ‘Anhu .

4. Istri mendapatkan bagian yang adil dari suaminya jika suaminya mempunyai istri       yang lain. Karena Rusulullah shalallohu ‘alaihi wasallama  pernah bersabda ;

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ يَمِيلُ لِإِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَجُرُّ أَحَدَ شِقَّيْهِ سَاقِطًا

أَوْ مَائِلاً (رَوَاهُ أَحْمَدُ)

“Barang siapa mempunyai dua istri kemudian ia condong ke salah satu dari keduanya dari pada istri satunya, maka pada hari kiamat ia datang dengan keadaan menarik salah satu pundaknya dalam keadaan jatuh dan miring.” (Diriwayatkan Ahmad)

5. Suami berada disisi istrinya pada hari pernikahan dengannya selama seminggu jika istrinya gadis dan selama tiga hari jika istrinya janda, Karena Rosulullah Shalallohu ‘alaihi wasallama bersabda:

لِلْبِكْرِ سَبْعَةُ أَيَامٍ وَلِلْثَّيِّبِ ثَلاَثٌ ثمُ َّيَعُوْدُ إِلىَ نِسَائِهِ (رَوَاهُ مُسْلِمُ)

“Gadis mempunyai tujuh hari dan janda mempunyai hak tiga hari, kemudian ia (suami yang mempunyai istri lebih dari satu) kembali menemui istri-istrinya.” (Diriwayatkan Muslim).

6. Suami disunnahkan mengizinkan istrinya melawat salah seorang dari mahramnya, atau melihat jenazah salah seorang dari mahramnya yang meninggal dunia, atau mengunjungi sanak kerabatnya jika kunjunganya tidak merugikan kemaslahatan suami.[9]

  1. D. Keadaan suami yang meninggalkan istri:

a. Kesengajaan dari sang suami

Jika suami pergi meninggalkan istrinya karena kesengajaannya, maka mengenai hal ini perlu didudukkan terlebih dahulu inti permasalahannya. Karena kejadian seperti ini banyak kemungkinan yang melatarbelakangi. Akan tetapi, jika suaminya pergi, tidak meninggalkan  nafkah bagi istrinya serta tidak diketahui keberadaannya. Maka mengenai hal ini, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi telah menjelaskan hal tersebut  didalam kitabnya minhajul muslim sebagai berikut:

Jika suami pergi, tidak diketahui domisilinya, tidak meninggalkan nafkah untuk istrinya, tidak mewasiatkan sesorang untuk menafkahi istrinya, tidak ada orang lain yang menafkahi istrinya, istri tersebut tidak memiliki sesuatu apapun untuk menafkahi dirinya atau mencari suaminya. maka ia berhak membatalkan pernikahan melalui hakim agama. Ia membawa masalahnya kepengadilan agama, pengadilan agama harus menasehatinya, dan menyuruhnya bersabar. Jika istri tersebut menolak nasehat pengadilan dan tidak bisa bersabar, maka hakim agama menulis laporan dangan perantara saksi-saksi yang kenal dengan wanita tersebut dan kenal dengan suaminya. Semua saksi berskasi tentang kepergian suami wanita tersebut dan tidak kemampuannya memberikan nafkah kepada istrinya. Setelah itu, pernikahan keduanya dibatalkan dan pembatalan tersebut adalah talak ruju’ dalam arti jika suami wanita tersebut pulang maka berhak kembali kepada wanita tersebut.[10]

Hal ini dikuatkan dengan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ketika beliau ditanya, mengenai seorang wanita yang menikah dengan seoramg laki-laki. Setelah itu suaminya pergi, meninggalkannya dalam kurun waktu 6 tahun dengan tidak meninggalkan nafkah baginya. Kemudian wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain. Maka bagaimana hukumnya?

Beliau menjawab: “Apabila pernikahannya  yang pertama telah dibatalkan, karena suami tidak bisa memberikan nafkah. Setelah itu ia menjalani masa iddah, kemudian menikah dengan orang lain, maka pernikahan tersebut dianggap syah. Akan tetapi jika wanita tersebut menikah dengan orang lain, sedangkan pernikahannya yang pertama belum dibatalkan, maka pernikahan tersebut batil tidak (syah).[11]

Sedangkan menurut jumhur ulama: Seorang suami jika merasa kesusahan mencukupi nafkah istrinya, setelah itu istrinya lebih memilih  untuk bercerai. Maka keduanya diceraikan dengan adanya udzur tersebut. Hal disandarkan kepada hadist Rosulullah r yang diriwayatkan oleh Imam Darut Qutni dari Abu Hurairah, ketika beliau bersabda tentang seorang suami yang tidak mendapatkan sesuatu untuk menafkahi istrinya, maka beliau bersabda:

قَالَ يُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا (رَوَاهُ الدَّارُ اْلقُطْنِي)

“Maka keduanya diceraikan” ( Diriwayatkan Ad-Darul Qutni)[12]

b. Dalam kondisi terpaksa ( Ditawan atau dipenjara )

a. Hukum wanita yang suaminya ditawan atau dipenjara

Menurut Doktor Wahbah Az-Zuhaili didalam kitabnya, beliau telah menjelaskan mengenai hal ini,

Apabila orang yang ditawan tidak diketahui kabar serta nasib yang menimpanya, juga tidak diketahui ia masih hidup atau sudah meninggal serta tidak diketahui kemurtadannya. Maka ia dihukumi sebagai orang yang hilang. Dengan demikian, hartanya tidak boleh dibagikan dan istrinya tidak boleh menikah, sehingga keberadaannya diketahui dengan jelas.

Menurut Mazhab Maliki

Jika seorang suami pergi tanpa udzur yang dapat diterima, atau mendapat hukuman penjara lebih dari 3 tahun. Maka diperbolehkan bagi istrinya, setelah berlalu satu tahun dari hari kepergiannya atau semenjak suaminya dipenjara, memohon cerai kepada hakim. Meskipun suami tersebut memiliki harta yang cukup untuk dinafkahkan kepada istrinya.[13]

Sedangkan menurut Doktor Yusuf Al-Qaradawi, ketika beliau ditanya tentang seorang istri dinegara palestina yang suaminya dihukumi penjara sangat lama, apakah ia boleh meminta cerai?

Beliau menjawab, seorang istri hendaknya bersabar dan menunggu suaminya kembali. Tugas seorang istri yang dalam berjihad adalah bersabar atas suaminya yang menjadi tawanan musuh, jika ia mempunyai anak. Tetapi jika tidak mempunyai anak, atau yang masih muda belia dan masih berstatus sebagai pengantin baru, tidak apa-apa ia minta cerai kepada suaminya yang dijatuhi hukuman cukup lama, sebab menurut pendapat salah satu mazhab islam, apabila seorang suami meninggalkan istrinya lebih dari empat tahun karena dipenjara atau karena alasan-alasan lain, sang istri boleh meminta cerai kepadanya.

Dalam keadaan ini idealnya sang suami yang mengambil inisiatif, hendaknya ia segera menemui istrinya untuk memberikan pilihan dan menyerahkan urusan kelangsungan kehidupan rumah tangganya kepadanya. Sebelum terpaksa istri menuntut perceraian kepengadilan. Ini adalah cara terbaik bagi hubungan seorang laki-laki dan perempuan sesama muslim. Apalagi kalau keduanya termasuk aktivis islam  dibidang dakwah dan perjuangan.[14]

Sedangkan menurut ijma’, bahwa istri dari seseorang yang di tawan tidak boleh menikah sampai ia yakin akan kematian suaminya.  Ini adalah pendapat An-Nakhoi, Az-Zuhri, Yahya Al-Ansor Makhul, As-Syafi’i, Abu ‘Ubaida, Abi Saur, Ishaq dan Ashabul ro’yi. [15]

Adapun jika ketidakberadaannya tidak terputus (hubungannya dengan istrinya) sama sekali dimana laki-laki tersebut masih diketahui tempatnya dan masih pula diterima kabar beritanya. Maka kesepakatan seluruh mazahib, istriya tidak boleh menikah dengan laki-laki lain.[16]

b. Warisan orang yang ditawan atau oramg yang dipenjara

1.     Tawanan yang tidak diketahui keberadaannya, akan tetapi diketahui dirinya masih hidup.

Doktor Wahbah Az-zuhaili didalam kitabnya, beliau telah menjelaskan terntang hal ini,  sebagai berikut:

Jika tawanan diketahui masih hidup, maka ia mendapatkan warisan dan hartanya tidak boleh diwariskan kepada ahli waris yang lain. Jelasnya, ia diperlakukan seperti halnya orang yang masih hidup.  Karena secara hukum, ia sama seperti halnya kaum muslimin yang lain dalam hal warisan, selama ia masih memegang dienya. Jika diketahui ia telah murtad dari diennya maka ia dihukumi sebagaimana hukuman bagi orang murtad menurut agama islam.[17]

Sedangkan menurut jumhur ulama, seorang tawanan yang tidak diketahui kabar keberadaannya serta nasib yang menimpanya, akan tetapi diketahui ia masih hidup, maka ia berhak mendapatkan harta warisan.[18]

2. Tawanan yang tidak diketahui kabar beritanya serta keberadaannya.

Orang yang ditawan dihukumi layaknya seperti orang yang masih hidup lainnya, sampai datang  waktu dimana tidak mungkin ia hidup diwaktu itu, maka saat itu ia dihukumi mati. Hal ini berdasarkan Mazhab As-Syafi’i, Malik dan Abi Hanifah.[19]

Pendapat ini diperkuat dengan perkataan Imam Nawawi bahwa beliau berkata, Apabila orang yang ditawan atau orang yang hilang tersebut tidak diketahui kabar beritanya. Maka bagian hartanya tidak boleh dibagikan, hingga berlalunya waktu yang sangat mungkin orang tersebut telah meninggal. Jika waktu itu orang yang akan mewariskan hartanya meninggal, maka harta warisan tersebut dibagikan kepada ahli waris yang lain, dengan mengambil bagian lebih sedikit dari bagian orang yang ditawan atau orang yang hilang, dan sisanya tetap (tidak dibagikan) hingga jelas perkaranya (sudah meninggal). Begitu juga menurut Abi Mansur dan yang lainnya.

Sedangkan menurut Doktor Wahbah Az-zuhaili didalam kitabnya, beliau menjelaskan hal ini sebagai berikut,

Apabila orang yang ditawan tidak diketahui kabar beritanya dan nasib yang menimpanya serta tidak diketahui ia masih hidup atau sudah meninggal. Maka ia dihukumi sebagai orang yang hilang seperti yang kami paparkan diatas. Maka hartanya tidak boleh dibagikan dan istrinya tidak boleh menikah hingga kabar keberadaannya diketahui.[20]

Sedangkan pendapat yang benar  menurut jumhur ulama

Apabila waktu (menanti) yang ditentukan hakim terhadap seorang wanita telah berlalu. Pada waktu itu sangat mungkin bagi suaminya telah meninggal dunia. Maka hartanya boleh dibagikan dan tidak ada batasan waktu mengenai hal ini. Melainkan cukup mengambil dugaan yang kuat yang memastikan suami tersebut telah meninggal dunia.”[21]

  1. c. Hilang tidak diketahui kabar keberadaannya

a. Defenisi Mafqud (orang yang hilang):

Mafqud adalah hilangnya seseorang dari suatu tempat, tidak di ketahui kabar dan keberadaannya secara pasti, serta tidak diketahui apakah dirinya masih hidup atau sudah meninggal dunia.

Maka hakim mengambil sebuah keputusan berdasarkan petunjuk yang ada. Misalnya: Pertama, dengan persaksian orang-orang yang dapat dipercaya. Maka pada kondisi seperti ini, orang tersebut dihukumi sebagai orang yang telah meninggal secara hakiki karena adanya saksi. Kedua, berdasarkan tanda serta alamat yang ada, karena tidak ada petunjuk yang jelas mengenainya yaitu setelah berlalunya waktu (yang lama). Dan pada kondisi  seperti ini, hakim menghukuminya sebagai orang yang telah meninggal secara hukumi, karena berlalunya waktu yang lama, karena masih ada kemungkinan orang tersebut masih hidup.[22]

b. Hukum wanita yang hilang suaminya

Orang yang hilang atau pergi meningalkan istrinya tidak lepas dari dua keadaan: Pertama, hilang tetapi ketidakberadaannya tidak terputus (hubungannya dengan istrinya) sama sekali dimana laki-laki tersebut masih diketahui tempatnya dan masih pula diterima kabar beritanya. Kedua, hilang  tidak di ketahui kabarnya, serta tempat tinggalnya.

Pertama, Orang itu hilang akan tetapi ketidakberadaannya tidak terputus Orang yang hilang akan tetapi ketidakberadaannya tidak terputus (hubungannya dengan istrinya) sama sekali dimana laki-laki tersebut masih diketahui tempatnya dan masih pula diterima kabar beritanya.. Maka menurut seluruh Ahlu Ilmi, sebagai berikut

Pada kondisi seperti ini, seyogyanya istri yang ditinggalkan tidak menikah lagi, kecuali jika suaminya tidak bisa memberikan nafkah kepadanya, maka di perbolehkan baginya membawa masalah tersebut kepada hakim setempat  dalam rangka  meminta cerai dengan suaminya.  Sudah menjadi ijma’ bahwa, istri dari seorang yang di tawan tidak boleh menikah sampai ia yakin akan kematian suaminya, ini adalah pendapat An-Nakhoi, Az-Zuhri, Yahya al-Ansor Makhul, As-Syafi’i, Abu ‘Ubaida, Abi Saur, Ishaq dan Ashabul ro’yi.[23]

Kedua, seorang suami tersebut pergi, kemudian tidak di ketahui kabarnya, serta di mana ia tinggal,

Mengenai hal ini ada dua kemugkinan yang terjadi:

1. Seorang yang hilang tersebut secara dzhohir di ketahui akan keselamatannya.  Seperti orang yang pergi untuk mengadakan perdagangan ditempat yang aman, menuntut ilmu, atau untuk keperluan siyahahah. Maka dalam hal ini, menurut Imam Malik dan As-Syafi’i (al qodim) sebagai berikut,

Seorang istri pada kondisi seperti  ini hendaknya menunggu 4 tahun, kemudian setelah itu beriddah dengan iddah seorang istri yang ditinggal mati suaminya, yaitu selama 4 bulan lebih 10 hari. Setelah itu halal baginya untuk menikah lagi. Hal ini disandarkan kepada perkataan Umar Rodhiyalloh ‘Anhu mengenai seorang istri yang suaminya menghilang, beliau berkata;

أَيُّمَا امْرَأَةٍ فَقَدَتْ زَوْجَهَا فَلَمْ تَدْرِ أَيْنَ هُوَ فَإِنَّهَا تَنْتَظِرُ أَرْبَعَ سِنِينَ ثُمَّ تَعْتَدُّ أَرْبَعَةَ

أَشْهُرٍعَشْرًا ثُمَّ تَحِلّ ُ( رَوَاهُ ُ مَالِكُ في اْلمُوَطَأ)

“Setiap perempuan yang kehilangan suaminya dan tidak tahu dimana suaminya berada, maka ia menunggu selama 4 tahun, setelah itu ia beriddah selama 4 bulan 10 hari, kemudian halal baginya untuk menikah lagi.” (Diriwayatkan Imam Malik di dalam muwatho’).

2. Orang yang hilang tersebut secara dzohir  telah meninggal dunia. Seperti, orang yang hilang ketika malam atau siang hari ditengah-tengah keluarganya, atau hilang ketika pergi kemasjid, atau pergi ketempat yang dekat untuk memenuhi kebutuhanya kemudian tidak kembali, atau hilang ditengah-ditengah shof pertempuran, atau hilang ketika menaiki kapal kemudian tenggelam sebagian penumpangnya, atau orang yang hilang ditempat yang tidak aman seperti didataran hijaz atau yang semisalnya. Maka dalam hal ini para ulama berbeda pendapat:

Seorang istri hendaknya menunggu terlebih dahulu selama 4 tahun, kemudian beriddah dengan iddah istri yang ditinggal mati suaminya yaitu 4 bulan lebih 10 hari. setelah itu halal baginya untuk menikah lagi. Hal ini berdasarkan mazhab Imam Ahmad, Malik dan mazhab hambali dan pendapat merupakan pendapat Umar, Ustman, Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ato’, Amru bin Abdul Aziz, Al-Hasan, Az-Zuhri, Qotadah, As-Syafi’i (al-qodim ) dan  imam Malik  Beliau berkata, Waktu yang di perlukan untuk menghukumi kematian seseorang yang hilang ialah 4  tahun, karena Umar Rodhiyalloh ‘Anhu  beliau pernah berkata:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ فَقَدَتْ زَوْجَهَا فَلَمْ تَدْرِ أَيْنَ هُوَ فَإِنَّهَا تَنْتَظِرُ أَرْبَعَ سِنِينَ ثُمَّ تَعْتَدُّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ

وَعَشْرًا ثُمَّ تَحِلُّ ( رَوَاهُ ُ مَالِكُ في اْلمُوَطَأ)

“Setiap perempuan yang kehilangan suaminya dan tidak tahu dimana suaminya berada, maka ia menunggu selama 4 tahun, setelah itu ia beriddah selama 4 bulan 10 hari, kemudian halal baginya untuk menikah lagi.” (Diriwayatkan Imam Malik di dalam muwatho’).[24]

Hal ini juga sebagaimana perkataan Umar Rodhiyalloh ‘Anhu kepada seorang wanita yang ditinggal suaminya, kemudian menghilang tidak diketahui kabar keberadaannya. Maka datanglah istri tersebut kepada Umar Rodhiyalloh ‘Anhu  dengan mengutarakan hal tersebut,  Maka Umar Rodhiyalloh ‘Anhu  berkata kepadanya:

تَرَبَّصِيْ أَرْبَعَ سِنِيْنَ؟ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَتَتْهُ فَقَالَ تَرَبَّصِيْ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا؟ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَتَتْهُ

فَقَالَ أَيْنَ وَلَيُّ هَذَا الرَّجُلُ ؟ فَجَاؤُوْا  بِهِ فَقَالَ طَلِّقْهَا ؟ فَفَعَلَ فَقَالَ عُمَرُ تَزَوَّجِي

مَنْ شِئْتِ؟ (رَوَاهُ الدَّارُ اْلقُطْنِي)

“Tunggulah 4 tahun?” kemudian wanita tersebut melaksanakan perintah tersebut. Setelah berlalu 4 tahun, (perempuan tersebut datang kembali) menghadap Umar Rodhiyalloh ‘Anhu. Maka umar berkata kepada dirinya (untuk kedua kalinya), “Beriddahlah 4 bulan 10 hari?” kemudian wanita tersebut melaksanakan perintah tersebut. Setelah berlalu waktu tersebut, maka wanita tersebut datang kembali menghadap Umar Rodhiyalloh ‘Anhu. Maka Umar berkata kepadanya untuk (ketiga kalinya), “Dimana wali suamimu ?”. Setelah itu wanita tersebut (pulang), kemudian datang kembali bersama wali suaminya. Maka umar berkata kepada walinya, “Ceraikanlah istri anakmu ini?”. Kemudian wali tersebut melaksanakan apa yang diperintahkan Umar kepadanya. Setelah itu Umar berkata kepada Wanita tersebut, “Nikahlah kepada siapa saja yang engkau kehendaki. (Diriwayatkan oleh Darut Qutni )[25]

Hal ini dikuatkan  oleh perkataan Imam Ahmad bahwa beliau berkata, Apabila orang yang hilang dan kemungkinan besar telah meninggal, seperti orang yang hilang dimedan perang, atau hilang ketika pergi sholat isya’, atau orang yang pergi pada suatu tempat yang tidak jauh untuk memenuhi kebutuhannya, kemudian tidak kembali lagi serta tidak diketahui kabar keberadaannya. Setelah berusaha mencarinya dengan berbagai macam sarana yang  memungkinkan untuk mengetahui keberadaanya akan tetapi masih belum ketemu. Maka ia dihukumi sebagai orang yang telah meninggal dunia, setelah berlalunya 4 tahun. Sedangkan orang yang hilang, akan tetapi ada kemungkinan besar dirinya masih selamat ( hidup ), maka urusannya diserahkan kepada hakim. Dialah yang akan memutuskan perkara tersebut, setelah berlalunya waktu yang sudah ditentukan. Setelah adanya usaha keras untuk mencari kabarnya dengan berbagai sarana yang ada.[26]

Dan hal ini juga telah dijelaskan Abu Bakar Jabir Al-Jazairi didalam kitabnya minhajul muslim sebagai berikut:

Masa iddah bagi istri yang ditinggal pergi suaminya dan tidak diketahui kabar keberadaannya, apakah masih hidup ataukah sudah meninggal dunia. Maka baginya menunggu selama 4 tahun sejak ia tidak mendapatkan berita tentang suaminya, kemudian menjalani masa iddah seperti iddah wanita yang ditinggal mati suaminya yaitu 4 bulan 10 hari. Jika setelah iddahnya habis, ia menikah dengan laki-laki lain, kemudian setelah itu suami yang pertama datang, maka ia kembali kepada suami yang pertama jika ia mau. Tapi, jika suami yang kedua telah menggaulinya maka ia beriddah dengan iddah talak, dan jika belum digauli maka ia tidak mempunyai masa iddah. Jika suami yang pertama merelakan menikah dengan suami yang kedua, maka tidak lagi diperlukan akad, jika itu terjadi, maka suami pertama meminta mahar kepadanya, dan suami kedua berhak meminta mahar tersebut dari istrinya. Ini adalah keputusan Ustman bin Affan Rodhiyalloh ‘Anhu.[27]

c.   Orang yang hilang dimedan peperangan

Imam Malik berkata :

Tidak ada masa menunggu bagi seorang wanita yang suaminya hilang di medan perang.

Said bin Musayib berkata:

Orang yang hilang ditengah shof pertempuran,  maka bagi istrinya cukup menunggu satu tahun saja. Karena kemungkinan meninggalnya itu lebih besar daripada ditempat  lainya.[28] Sedangkan dalam riwayat Asyhab dan Ibnu Nafi’ dari Malik, Beliau memberi waktu satu tahun bagi seorang istri supaya menunggu suaminya yang hilang di medan peperangan. Kemudian setelah itu, istrinya boleh menikah setelah beriddah. Hal ini boleh dilakukan ketika suaminya ikut peperangan seperti perang khondak, andalus, atau dinegara-negara yang sering terjadi peperangan atau peperangan yang terjadi dinegara kaum muslimin.[29]

Warisan Suami yang hilang

Ada dua macam kedudukan seorang suami yang hilang, bisa jadi dia adalah orang yang akan menerima warisan atau yang akan mewariskan hartanya.

  1. Orang yang hilang tersebut berkedudukan sebagai pemilik harta warisan.

Maka hartanya tetap menjadi miliknya, tidak boleh di bagikan kepada ahli waris yang lain, sampai ada bukti yang menunjukkan kematiannya atau menurut keputusan hakim. Akan tetapi kalau orang tersebut terbukti telah meninggal dunia atau hakim telah menghukumi hal tersebut, maka hartanya boleh diwariskan kepada orang yang berhak menerimanya.

  1. Orang yang hilang tersebut berkedudukan sebagai orang yang berhak menerima warisan.

Maka bagiannya tetap utuh sebagai harta warisannya, sampai hakim menghukuminya sebagai orang yang telah meninggal. Jika telah dihukumi meninggal, maka harta yang menjadi bagiannya itu diwariskan kepada orang yang berhak mewarisinya. Akan tetapi, jika setelah dihukumi sebagai orang yang telah meninggal, dan ternyata ia masih hidup maka ia berhak mengambil bagiannya yang berada di tangan ahlu waris yang lain yang seharusnya adalah haknya.[30]

Dilihat dari keadaan orang yang hilang, Ibnu Qudamah membagi menjadi dua keadaan:

u Orang yang hilang tersebut kemungkinan besar telah meninggal dunia.

Maka ditunggu selama empat tahun, jika sudah berlalu waktu tersebut akan tetapi  belum ada kabar yang jelas mengenainya, maka hartanya boleh dibagikan. Hal ini sebagaimana telah di nashkan oleh Imam Ahmad dan Abu Bakar As-Shidiq.

 

 

v Orang yang hilang tersebut kemungkinan besar masih hidup.

Seperti seorang musafir yang pergi untuk mengadakan perdagangan, menuntut ilmu, siyahah atau kebutuhan yang lainnya, akan tetapi tidak diketahui kabar keberadaannya, dalam hal ini para ulama berpendapat:

  • Imam As-Syafi’i dan Muhamad bin Hasan berkata,

Hartanya tidak boleh di bagikan, istrinya tidak boleh menikah sampai di ketahui secara yakin akan kematian suaminya,  atau berlalunya waktu yang sangat lama yang kemungkinan suaminya itu telah meninggal. Urusan ini harus di kembalikan kepada ijtihad seorang hakim.

  • Sedangkan menurut Abdullah Ibnu Abdil Hakam beliau berkata :

Orang yang hilang tersebut di tunggu selama 70 tahun dihitung semenjak suaminya menghilang” beliau mengambil hujjah dari sabda Nabi Muhamad shalallohu ‘alaihi wasallama :

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجَوِّزُ ذَلِكَ (رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَاِبْنُ مَاجَةُ)

“Umur atau usia umatku berada diantara 70 atau 60 tahun, dan sangat sedikit dari umatku yang berumur lebih dari itu.” ( Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. dan Ibnu Majah).

E  Para Imam Madzahib telah bersepakat bahwa, orang yang hilang  dihukumi seperti halnya orang yang hidup lainya. Mengenai harta yang ia miliki, maka hartanya tetap menjadi miliknya dan ia berhak atas hak-haknya yang lain. Sampai adanya bukti yang menunjukkan akan kematiannya, atau sang hakim menghukuminya dengan hal yang serupa. Harta orang yang hilang tidak boleh dibagikan kepada ahli waris yang lain, melainkan  seorang hakim yang berhak membagikan harta tersebut kepada istri, anak dan saudara-saudaranya. Karena mereka berhak mendapatkan nafkah darinya, baik ketika ia dirumah ataupun ketika ia tidak berada dirumah.

Hakim berperan sebagai wakil yang bertugas menjaga hutang-hutang dan hartanya. Harta orang yang hilang di jaga sampai terungkap keberadaannya, jika  ternyata ia masih hidup maka ia berhak untuk mengambil harta-hartanya, dan jika ternyata ia sudah meninggal dengan adanya tanda yang syar’i,  maka ia dinyatakan meningal secara sah. Setelah itu ahli waris berhak mendapatkan warisan darinya, sejak orang yang hilang tersebut dinyatakan meninggal dunia.[31]

  1. C. Jika suami kembali sedangkan istrinya sudah menikah dengan orang lain

Jika istri yang ditinggal suaminya, menikah dengan orang lain. Namun setelah pernikahan tersebut dilaksanakan, suami yang pertama datang kembali. Maka dalam hal ini Imam Ali berkomentar, sebagaimana telah diriwayatkan oleh Imam syafi’i didalam musnad bahwa beliau berkata:

هِيَ اِمْرَأَتُهُ إِنْ شَاءَ طَلَقَ وَإِنْ شَاءَ أَمْسَكَ وَلاَ تُخَيِّرْ ( أَخْرَجَهُ الشَّافِعِي وَاْلبَغَوِي)

“Wanita tersebut tetap menjadi istrinya. Akan tetapi jika ia menghendaki, ia boleh menthalak atau menahannya.”  (Diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dan Al-Baighowi). Dan imam Ali juga pernah berkata:

لَوْ تَزَوَجَتْ فَهِيَ اِمَرَأَةُ اْلأَوَّلِ دَخَلَ بِهَا أَوْ لَمْ يَدْخُلْ

“Seandainya sudah menikah lagi, maka tetap ia menjadi istrinya, baik sudah digauli atau belum digauli.”[32]

Abu Hanifah dan Imam Malik berkata, Jika seorang istri yang ditinggal suaminya tersebut menikah dengan orang lain, dan teryata sudah digauli. maka ia tetap menjadi istri dari suami yang pertama. Begitu juga halnya jika dirinya belum digauli. Hal ini sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Abdur Rozak, Baihaqi dan ibnu Abi Syuaibah bahwasannya Umar Rodhiyalloh ‘Anhu:

خَيَّرَ اْلمَفْقُوْدَ بَيْنَ اِمْرَأَتَهِ أَوْ اْلصَدَاقِ الَّذِي أَصْدَقَهَا فَاخْتَارَ الصَدَاقَ لِأَنَّ زَوْجَتَهُ قَدْ حَبِلَتْ

(رَوَاهُ عَبْدُ الرَّزَاقِ وَاْلبَيْهَقِي وَاِبْنُ أَبِي شَيْبَةِ)

“Beliau (Umar Rodhiyalloh ‘Anhu) menawarkan kepada orang yang hilang (kemudian kembali lagi), untuk memilih antara kembali kepada istrinya atau mengambil maharnya saja. Kemudian orang tersebut memilih untuk mengambil maharnya, karena istrinya telah hamil (dari pernikahannya dengan suami yang kedua). (Diriwayatkan oleh Abdur Rozak, Baihaqi dan ibnu Abi Syuaibah)[33]

Imam As-Syafi’i juga telah menjelaskan hal ini, tentang suami pertama jika datang setelah istrinya menikah, maka ia tetap menjadi istrinya dalam kondisi apapun juga. Setelah itu dilihat, jika belum digauli dengan suami yang kedua, maka ketika itu juga keduanya disuruh bercerai. Setelah itu dirinya menjadi halal bagi suami yang pertama.  Akan tetapi jika sudah digauli. Maka ketika itu juga dirinya disuruh bercerai dengan suami yang kedua, dan melaksanakan iddah. dan dilarang bagi suami pertama untuk menggaulinya dimasa iddahnya, sampai waktu iddahnya selesai.  Jika sudah berlalu masa iddahnya, maka menjadi halal baginya.”[34]

Adapun Jika seorang istri yang ditinggal, menikah dengan orang lain dan dari hubungan tersebut lahir seorang anak, beberapa bulan setelah penikahannya dengan suami yang kedua. Kemudian pada waktu itu juga, suami yang pertama datang. Akan tetapi  dia tidak mau mengakui anak tesebut, maka jelas anak tersebut adalah anak hasil hubugan istrinya dengan suami yang kedua. Hal itu dikarenakan suami pertama pergi lebih dari empat tahun, dan itu adalah waktu yang cukup bagi seorang wanita untuk mengkosongan rahimnya dari suami yang pertama.

Jika seorang istri yang ditinggal menunggu empat tahun, kemudian beriddah dengan iddah seorang istri yang ditinggal mati suaminya, kemudian setelah itu ia menikah. Akan tetapi setelah pernikahan tersebut, suami yang pertama datang. Maka suami pertama berhak untuk memilih antara ia mengambil maharnya kembali atau memilih untuk kembali kepada istrinya. Hal ini sebagaimana keputusan yang telah diambil oleh sahabat Ustman dan Ibnu Zubair. Dan juga keputusan ini telah tersebar dikalangan para sahabat dan tidak ada seorangpun yang mengingkari, maka hal ini menjadi ijma’ para sahabat.[35]

Mengenai hal ini sudah ada ketetapan ijma’ para sahabat sebagai berikut, apabila orang yang hilang itu datang sebelum istrinya menikah, maka tetap wanita tersebut adalah istrinya. Akan tetapi jika suaminya datang setelah istrinya menikah, akan tetapi belum digauli, maka ia tetap menjadi istrinya juga. Sedangkan Jika suami pertama datang setelah istrinya digauli, maka dirinya memilih antara kembali kepada istrinya atau meminta maharnya saja.

Seandainya ia memilih untuk kembali kepada istrinya, maka wanita tersebut menjadi istrinya yang hak sesuai akad yang pertama. Dengan demikian tidak perlu bagi suami yang kedua untuk menthalaknya, karena kondisi yang mengharuskan pernikahannya itu dibatalkan. Dan jika suami pertama lebih memilih untuk meminta maharnya, maka ia berhak mengambil maharnya dari suami yang kedua, yang ia berikan kepada istrinya.[36]

g.  Nafkah Istri yang ditinggal suami

ü    Imam Ibnu Qudamah menjelaskan didalam kitabnya, tentang nafkah seorang istri yang ditinggal pergi suaminya, sebagai berikut :

Apabila seorang istri lebih memilih bersabar, sampai perkara suaminya menjadi jelas. Maka ia berhak mendapatkan nafkah seumur hidupnya,  sampai ia mengetahui  perihal yang menimpa suaminya. Karena, pada kondisi ini ia masih dihukumi sebagai seorang istri. Maka dirinya tetap mendapatkan nafkah dari suami yang meninggalkannya. Begitu juga halnya, ketika suaminya diketahui masih hidup. Akan tetapi, jika ternyata suaminya telah meninggal dunia. Maka istriya mendapatkan  nafkah, sampai dirinya mengetahui kabar kematian suaminya atau kejelasan kabar mengenainya. Dan seandainya ada sisa, maka   sisa harta  tersebut harus dikembalikan. Begitu juga halnya, ketika perkara tersebut dibawa dan diadukan kepada seorang hakim. Jika setelah itu, hakim menentukan baginya masa menanti, maka baginya nafkah dimasa penantian dan dimasa iddahnya. Akan tetapi jika setelah beriddah ia menikah, atau hakim menceraikan hubungan keduanya, maka terputuslah nafkah yang ia dapatkan dari suaminya yang pertama. Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan daru Al-Atsrom dan Al-Juzajani bahwa Ibnu Umar dan Ibnu Abbas pernah berkata,

يُنْفَقُ عَلَيْهَا بَعْدَ فِيْ اْلعِدَةِ بَعْدَ اْلأَرْبَعِ سِنِيْنَ مِنْ مَالِهِ زَوْجِهِ جَمِيْعُهُ أَرْبَعَةَ أَشْهُرِ وَعَشْرًا

( أَخْرَجَهُ اْلبَيْهَقِي )

“Wanita yang ditinggal pergi suaminya diberi nafkah dari harta suaminya, ketika masa menanti, yaitu selama 4 tahun dan Masa iddahnya yaitu selama 4 bulan lebih 10 hari. ( Diriwayatkan Al-Baihaqi )[37]

Apabila seorang istri yang ditinggal suaminya memilih bersabar, menunggu sampai datang kejelasan kabar mngenai suaminya. Maka ia berhak mendapatkan nafkah serta tempat tinggal selama ia menunggunya. Akan tetapi jika dihukumi cerai maka terputuslah nafkahnya dengan terpisahnya hubungan mereka berdua [38]

ü  Ar-Rafa’i berkata :

Orang yang pergi meninggalkan istrinya, akan tetapi masih diketahui kabar beritanya, maka hubungan pernikahannya tetap utuh seperti semula. Seorang hakim bertugas memberi istrinya nafkah dari harta yang dimiliki suaminya, langkah tersebut diambil jika suaminya mempunyai harta dirumahnya. Akan tetapi jika suaminya memiliki harta dinegeri tempat ia pergi, maka hakim setempat menghubungi hakim di negeri suaminya itu tinggal, supaya mengambil nafkah tersebut, kemudian diberikan kepada istri yang ditinggal. Akan tetapi jika kabar keberadaannya terputus (tidak diketahui), maka ia tetap  menjadi suaminya, sampai di ketahui secara pasti akan kabar kematiannya.

ü  Imam As-Syafi’i berkata :

Seorang wanita berhak mendapatkan nafkah dari  suami yang meninggalkannya sejak hari kepergiannya, sampai diketahui dengan yakin kabar kematian suaminya. Jika hakim menyuruh istrinya supaya menunggu 4 tahun lamanya, maka ia tetap mendapat nafkah, begitu juga ketika masa iddahnya. Lain halnya kalau wanita tersebut menikah dengan orang lain, maka ia tidak berhak mendapatkan nafkah dari suami yang meniggalkannya..[39]

ü  Menurut Doktor Wahbah Az-Zuhaili

Seorang wanita tetap mendapatkan nafkah dari suami yang meninggalkannya ketika ikatan pernikahan mereka berdua masih ada. Begitu juga anak-anaknya yang masih kecil dan juga anak-anak fakir (zamani) baik laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi jika suaminya tidak mempunyai harta, melainkan ia hanya mempunyai harta titipkan saja. Maka nafkahnya diambil dari harta tersebut, hal itu boleh dilakukan jika harta tersebut berbentuk makanan, minuman, pakaian, dirham atau berbentuk dinar.

Jika harta tersebut tidak berbentuk dirham, dinar, makanan atau pakaian akan tetapi berbentuk barang perniagaan atau harta milik yang tidak bergerak seperti tanah dan rumah. Dengan demikian hakim tidak bisa menafkahkan harta tersebut, kecuali jika dijual terlebih dahulu. Penjualan barang tersebut dilakukan wali dari suaminya, karena seorang walilah yang berhak mengurusi barang anaknya. Lain halnya dengan harta yang tidak bergerak seperti tanah dan rumah, maka seorang wali tidak mempunyai hak untuk menjualnya, sebelum hakim mengizinkannya.[40]

H. Kesimpulan

Setelah menelaah dan memahami berdasarkan literatur yang ada, yang bersumber dari nash-nash dan perkataan para ulama. Maka kami mengambil kesimpulan bahwa, suami yang  meninggalkan istrinya itu tidak lepas dari tiga kemungkinan

Pertama, Hukum wanita yang ditinggal suami karena kesengajaan dari sang suami.

Pada keadaan yang pertama ini seorang wanita yang ditinggal suaminya dengan sengaja dan tidak meninggalkan nafkah baginya. Maka diperbolehkan baginya membawa masalahnya kepengadilan agama, pengadilan agama harus menasehatinya, dan menyuruhnya bersabar. Jika istri tersebut menolak nasehat pengadilan dan tidak bisa bersabar, maka hakim agama menulis laporan dangan perantara saksi-saksi yang kenal dengan wanita tersebut dan kenal dengan suaminya. Semua saksi bersaksi tentang kepergian suami wanita tersebut dan tidak kemampuannya memberikan nafkah kepada istrinya. Setelah itu, pernikahan keduanya dibatalkan dan pembatalan tersebut adalah talak ruju’ dalam arti jika suami wanita tersebut pulang maka berhak kembali kepada wanita tersebut.

Kedua, Hukum wanita yang ditinggal suami dalam kondisi terpaksa ( Ditawan atau dipenjara ).

Maka ada dua keadaan yang pasti pada point ini

a.         Jika ketidakberadaannya tidak terputus (hubungannya dengan istrinya) sama sekali dimana laki-laki tersebut masih diketahui tempatnya dan masih pula diterima kabar beritanya. Maka kesepakatan seluruh mazahib, istriya tidak boleh menikah dengan laki-laki lain. Tetapi jika seorang suami meninggalkan istrinya lebih dari empat tahun karena dipenjara atau karena alasan-alasan lain, sang istri boleh meminta cerai kepadanya.

b.         Akan tetapi jika tidak diketahui kabar serta nasib yang menimpanya. Pada kondisi ini, suaminya dihukumi sebagai orang yang hilang. Dengan demikian hukum yang berlaku terhadapnya adalah hukum orang yang hilang.

Ketiga, Hukum wanita yang ditinggal suami karena menghilang.

Mengenai hal ini ada dua keadaan;

a.   Suami tersebut hilang dalam qurun waktu yang tak terbatas, akan tetapi di ketahui kabar beritanya. Maka menurut seluruh Ahlu Ilmi,

Pada kondisi seperti ini, seyogyanya istri yang ditinggalkan tidak menikah lagi, kecuali jika suaminya tidak bisa memberikan nafkah kepadanya, maka di perbolehkan baginya membawa masalah tersebut kepada hakim setempat  dalam rangka  meminta cerai dengan suaminya.

b.  Seorang suami tersebut pergi, kemudian tidak di ketahui kabarnya, serta di mana ia bertempat tinggal.

Seorang istri pada kondisi seperti  ini hendaknya menunggu 4 tahun, kemudian setelah itu beriddah dengan iddah seorang istri yang ditinggal mati suaminya, yaitu selama 4 bulan lebih 10 hari. Setelah itu halal baginya untuk menikah lagi.

I. Penutup

Al-Hamdulillah dengan izin Allah I, dan karunianya, kami telah menyelesaikan topik pembahasan ini. Tentunya  didalamnya masih banyak terdapat kekurangan serta ketidaksesuaian, baik dari segi penulisan maupun dari segi penyusunannya. Kami berharap makalah ini bisa menjadi panduan serta solusi bagi kaum muslimin umumnya dan lebih terkhusus bagi kaum muslimah yang mengalami keadaan dan kondisi sebagaimana yang  kami sebutkan diatas. Wal hasil, mudah-mudahan Allah I mempermudah jalan kita semua untuk menggapai ridhanya dan petunjuknya, Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

J. Daftar Pustaka:

  1. Al-Qur’an Al-karim
  2. Al-Mughni, Ibnu Qudamah, Cet: II 1412H / 1992M, Hijr (Al-qohiroh).
  3. Taisirul ‘alam syarhul ‘umdatil ahkam, Abdilah bin Abdir Rahman bin Shalih Ali Basam, Cet: 1, 1414H / 1994M, Maktabah darul fikha’, maktabah darus salam.
  4. Nailul Author syarhul muntaqol akhbar, Muhamad bin Ali bin Muhamad As-Syaukani, Darul fikr.
  5. As-Salsabil fima’rifati dalil, Syaikh Sholeh bin Ibrahim al-balaihi, Cet:1, 1417H / 1996M, Maktabah al-mukaromah (riyadh).
  6. Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Cet: I, 1384H / 1964M, Darul fikr.
  7. Kitabul fiqh ‘ala mazahib al-arba’ah, Abdur Rahman Al-Jazairi, Darul kutub al-‘ilmiyah.
  8. Ar-Raudhul murbi’ bisyarhi zadul mustaqni’, Al-‘Alamah Syaikh Mansur bin yunus Al-Bahuti, Cet (th) 1405 H / 1985 M, ‘Alamul kitab (bairut).
  9. Fatwa-Fatwa kotemporer D.r. Yusuf Qhardawi Cet:3, 2002M

10.  Al-Aziz Syarhul Wajiz al-ma’ruf bisyarhil kabir, Muhamad Abdul karim Ar-Rofi’i Al-Quzaini As-Syafi’i, Cet: I, 1417H / 1997M, Darul kutub al-ilmiyah (bairut – libanon).

11.  Al-Maju’ syarhul muhazab, Abi Zakaria Muhyidin bin Syarof An-Nawawi, Cet: I, 1417H / 1996M, Darul fikr (bairut – libanon).

12.  Al-Fiqh al-islami wa adilatuhu, Ad-Duktur Wahbah Az-Zuhaili, Cet: III, 1409H / 1989 M, Darul fikr (Dimasci).

13.  Syarhul sunnah, Abi Muhamad bin Mas’ud Al-Baghowi, Cet: 1414H / 1994M, Darul fikr ( Bairut-Libanon )

14.  Al-Umm, Muhamad Idris As-Syafi’i, Darul Ma’rifah, ( Beirut-Libanon )

15.  Fiqh Sunnah, As-Sayid Sabiq, Cet: IV, 1403H / 1983M, Darul fikr ( Beirut-Libanon ).

16.  Al-Munjid filughoh, Luwis Ma’luf, (Darul masriq).

17.  Kamus Al-Munawir arab-indonesia, Ahmad Warson Munawir, Cet: 1984, jogjakarta.

18.  Lisanul Arab, Ibnu Mandzur Al-Afriqi Al-Misri, Darus shodir ( Beirut-Libanon )

19.  Majmu’ fatawa, Syaikul Islam Ahmad ibnu Taimiyah, Cet: 1418 / 1997

20.  Fiqh lima mazhab, Muhamad jawad Mughniyah, Basrie pres.

21.  Mawahib Al-Jalil lisyarhi mukhtasor kholil, Muhamad bin Abdur rahman Al-Maghribi Cet,1, 1416/1995M

22.  Al-kafi, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Cet:5,1408H/1988M, Al-maktabah al-islamiyah bairut-libanon.

23.  Qomus Al-muhith, At-Thohir Ahamad Ar-rozi, Cet: 4, 1417H/1996M, Darul ‘alam al-kutub

 

 


[1]. Kamus munawir: 2/969

[2]. Kamus Al-munjid fi lughoh: 490

[3]. Kamus lisanul ‘arab: 3/281

[4]. Kamus al-muhit: 3/169

[5]. Minhajul muslim: 378

[6]. Kitabul fiqh ‘ala mazahib al-arba’ah: 4/451-455

[7] .Al Aziz sarhul wajiz al ma’ruf bis syarhil kabir: 9/422-423

[8]. Fiqh sunnah: 2/277

[9].  Minhajul muslim: 362

[10]. Minhajul muslim:361

[11]. Majmu’ fatawa Ibnu Taimiyah: 32/200, dan Taisirul ‘alam syarhul ‘umdatil ahkam: 2/350

[12]. Nailul Author syarhul muntaqol akhbar: 7/132-133.

[13]. Al-Fiqh al-islami wa adilatuhu: 4/125

[14]. Fatwa-fatwa kontemporer: D.r Yusuf Al-Qaradawi 713

[15]. Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 11/247

[16]. Fikh Lima mazhab: 204

[17]. Al-Fiqh al-islami wa adilatuhu: 8/425

[18]. Al-Mughni: 9/191

[19]. Al-Majmu’ syarhul muhazab: 17/203

[20]. Al-Fiqh al-islami wa adilatuhu: 8/425

[21]. Al-Majmu’ syarhul muhazab: 17/203

[22]. Fiqh sunnah: 2/453

[23]. Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 11/247

[24]. Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 11/247-249

[25]. Al-Fiqh al-islami wa adilatuhu: 7/643-644

[26]. Fiqh Sunnah: 3/452

[27]. Minhajul Muslim: 361

[28]. Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 11/247-249

[29]. Mawahib aljalil lisyarhi mukhtasor kholil: 5/506

[30]. Fiqh sunnah: 3/453

[31]. Al-Fiqh al-islami wa adilatuhu: 8/420

[32]. Syarhul sunnah: 5/498

[33]. As-Salsabil fima’rifati dalil: 4/76

[34]. Al-Majmu’ Syarhul Muhazab: 19/ 237-241

[35]. Al-Aziz Syarhul Wajiz al-ma’ruf bisyarhil kabir: 9/489- 490

[36] . Al-Kafi, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi i:3/314-315

[37]. Al-Mughni, Ibnu Qudamah: 11/255

[38] Al-kafi, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi:  3/316

[39] Al umm: 6/240

[40]. Al-Fiqh al-islami wa adilatuhu: 5/785

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: