IDDAH BAGI WANITA MUSLIMAH


 

A. Muqodimah

Alhamdulillah. Segala puji hanya bagi Allah I yang telah melimpahkan segala hidayah dan inayah-Nya kepada kita, serta shalawat dan salam semoga senantiasa tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad r, keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman nanti.

Dengan masuknya budaya barat dalam tubuh umat Islam, maka banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai ke-Islam-an, yang membuat Islam itu sendiri menjadi rancu pada diri pemeluknya. Masuknya budaya barat tidak terlepas pula dari semakin permisifnya masyarakat menerima perubahan pola hidup. Mereka terima begitu saja tanpa ada filter yang cukup. Padahal budaya yang asing masuk (atau sengaja dimasukkan) jelas-jelas bertentangan dengan budaya asli bangsa ini, yang sarat dengan nilai-nilai moral yang sangat tinggi.

Pergaulan bebas yang nota benenya merupakan budaya barat, sekarang seakan-akan sudah menjadi budaya bangsa ini. Maraknya kasus perselingkuhan, dan perceraian pada suami istri merupakan salah satu dampak dari adanya budaya tersebut. Belum lagi kasus-kasus perzinaan yang selalu menghiasi berita-berita di surat kabar, yang sekaligus menandakan (seakan-akan) bahwa zina kini menjadi sebuah kebutuhan seperti halnya makan dan tidur, dan yang lebih parah lagi itu semua terjadi pada negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Ini menjadi bukti bahwa masyakat sudah tidak lagi peduli dengan tatanan moral dan susila.

Pernikahan yang merupakan perkara yang mulia di dalam Islam tidak lagi mereka perhatikan. Dengan mudahnya mereka bercerai dan menikah tanpa memperhatikan ketentuan-ketentuannya. Sebagaimana menikah ada ketentuannya, maka, ketika terjadinya perceraian atau perpisahan juga ada ketentuan yang harus dipenuhi, diantaranya ialah iddah.

Allah I telah mensyariatkan iddah bukan hanya sebagai suatu bentuk ibadah saja, tetapi disana juga ada tujuan-tujuan dari disyari’atkannya hal tersebut, diantaranya yaitu untuk menjaga bercampurnya nasab dan menjaga nasab itu sendiri. Islam sangat memperhatikan kebersihan nasab, bukan hanya karena rancunya nasab seseorang akan mempersulit bagi dirinya mendapatkan warisan tetapi di dalamnya juga termasuk hak seorang anak.

Di dalam makalah ini sedikit kami jelaskan berbagai persoalan tentang masalah iddah. Kami berharap apa yang ada di dalam makalah ini dapat membantu memecahkan berbagai problem atau masalah yang berkaitan dengan hal ini dan sebagai jalan untuk semakin memperdalami hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan ini.

Semoga apa yang terkandung dalam makalah ini bermanfaat bagi diri kami pribadi dan seluruh kaum muslimin. Amin

B. Definisi Iddah

1. Secara bahasa Secara bahasa kata العِدَّة berasal dari kata  عَدَّ- يَعُدُّ- عَدًا- تَعَدَّادًا الشَّئ yang bermakna أَحْصَاهُ (yang dihitung).[1] Sebagaimana di dalam firman Allah ‘, وَأَحْصُوْا العِدَّة (sempurnakanlah bilangan itu), atau yang terhitung seperti  فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّاٍم أُخَرَ  (maka [wajiblah baginya berpuasa] sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain).[2]

Adapun kata العِدَّة jamaknya adalah عِدَد yang maknanya جَمَاعةَ (kelompok atau kumpulan), misalnya: عِدَّةُ كُتُب (kumpulan beberapa buku) dan عِدَّةُ اْلمَََرْأَةِ (hari-hari bersedihnya wanita atas [kematian] suami).[3]

2. Secara istilah

  • Menurut mazhab Hanafi, ada dua definisi secara istilah:

Pertama: Iddah adalah batasan waktu tertentu untuk menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan hubungan pernikahan;

Kedua: Iddah adalah penantian bagi seorang wanita pada masa yang telah ditentukan setelah terhapusnya hubungan pernikahan yang sah atau syubhat. Disebabkan dia telah berjima’ atau kematian suaminya.

  • Menurut mazhab Maliki, iddah adalah masa dilarangnya bagi seorang wanita untuk menikah karena ditalaq (dicerai) oleh suaminya atau suaminya meninggal, atau rusaknya pernikahan.
  • Menurut mazhab Syafi’ie dan Jumhur, iddah adalah masa penantian bagi seorang wanita untuk mengetahui kebersihan rahimnya, juga sebagai suatu bentuk ibadah kepada Allah, dan bersedih atas (kematian) suaminya.[4]
  • Menurut mazhab Hambali, iddah adalah masa penantian yang ditentukan oleh syar’ie bagi seorang wanita, yang di dalamnya dia tidak diperbolehkan menikah karena ditalaq oleh suaminya atau kematian suaminya.

Berdasarkan seluruh definisi iddah di atas, maka, dapat disimpulan bahwa iddah secara istilah adalah batasan waktu tertentu bagi seorang wanita untuk menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan pernikahan. Dan ini merupakan definisi yang mencangkup seluruh pembahasan iddah yang akan kami bahas di bawah ini.[5]

C. Jenis-Jenis Iddah Beserta Dalilnya

1. Iddah dengan hitungan masa suci atau haid

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Wanita-wanita yang ditalaq hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2] : 228)

Tentang asbabun nuzul ayat ini, ada riwayat bahwa Asma’ binti Yazid bin Sakan al Anshariyyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Saya telah ditalaq pada masa Rasulullah r dan belum ada iddah bagi wanita yang ditalaq (pada masa itu). Maka, Allah I menurunkan ayat yang menerangkan tentang iddah bagi wanita yang ditalaq, adapun ayat yang pertama kali turun yakni وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ .”[6]

2. Iddah dengan hitungan bulan

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 234)

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ

“Dan perempuan-perempuan yang putus asa dari haid di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. “ (QS. Ath-Thalaq [65] : 4)

3. Iddah dengan kehamilan

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنّ

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Thalaq [65] : 4)

Ayat ini diturunkan berkaitan dengan perkataan Ubay bin Ka’ab t  kepada Rasulullah r, “Sesungguhnya iddah bagi wanita yang tidak haid dikarenakan masih (berusia) muda, telah lanjut usia dan yang hamil tidak disebutkan dalam al Kitab (Al-Qur’an)”. Sehingga turunlah ayat di atasِ.”[7]

Ayat-ayat di atas juga sebagai dalil tentang masyru’iyahnya iddah.

Bagi siapakah iddah diwajibkan?

Secara global, umat telah bersepakat bahwa iddah diwajibkan bagi wanita muslimah, tetapi mereka berselisih pada macam-macamnya.[8]

Adapun bagi wanita selain muslimah, menurut pendapat Abu Hanifah iddah wajib bagi mereka, jika mereka istri orang muslim. Juga ahlu dzimmi (kaum ahlul kitab yang berada di bawah kekuasaan pemerintahan kaum muslimin), menurut mazhab Hambali dan Jumhur. Berdasarkan keumuman ayat,

 

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari.” (QS. Al-Baqarah [2]:234)

Disebabkan pula dia ditalaq setelah digauli, sebagaimana wanita muslimah.

Jadi, iddah mereka sebagaimana wanita muslimah, kecuali pada iddah yang disebabkan oleh kematiannya suami, yaitu, dia beriddah dengan sekali haid, menurut pendapat Imam Malik. Adapun menurut pendapat yang rajih (lebih kuat) mereka beriddah sebagaimana wanita muslimah, berdasarkan keumuman firman Allah I di atas.[9]

Apakah bagi laki-laki juga ada iddah?

Bila dilihat dari seluruh definisi iddah -secara istilah- di atas, dapat disimpulkan bahwa bagi laki-laki tidak ada iddah, kecuali pada definisi pertama yang diberikan oleh mazhab Hanafi. Sedangkan penantian yang dilakukan seorang laki-laki pada waktu tertentu tanpa menikah tidak dapat disebut dengan iddah secara syar’ie.

Tetapi biasanya penantian yang dilakukan oleh seorang laki-laki disebabkan iddahnya seorang wanita atau lainnya. Contoh: ada seorang laki-laki ingin menikahi saudara perempuan atau bibi atau keponakan dari wanita yang telah ia talaq, maka ia tidak diperbolehkan menikahi salah satu dari mereka hingga habisnya masa iddah wanita yang telah ia talaq. Dan bila seorang suami mentalaq istrinya dengan talaq bain (talaq yang ketiga), kemudian ia ingin menikahinya kembali, maka ia tidak boleh menikahinya kembali hingga dia dinikahi laki-laki lain lalu diceraikan dan masa iddahnya telah habis. Masih banyak lagi contoh-contoh yang lain, keseluruhannya berkaitan dengan wanita yang haram  dinikahi untuk sementara waktu (mu’aqotah).

Jadi bagi laki-laki tidak ada iddah yang ada hanya intidzar (penantian).[10]

D. Hikmah Disyari’atkannya Iddah

1. Iddah wafat

Hikmah disyari’atkannya iddah wafat atau iddah setelah kematian (suami), diantaranya yaitu; untuk mengingatkan nikmat pernikahan, menjaga kebersihan rahim, menjaga hak suami serta kerabatnya. Oleh karena itu pada iddah ini seorang wanita diperbolehkan berkabung atas kematian suaminya. Para pengikut mazhab Syafi’ie dan Hambali berkata, “Tujuan terpenting (terbesar) disyari’atkannya iddah ialah untuk menjaga hak suami, bukan mengetahui kebersihan rahim. Atas dasar inilah, maka iddah wafat dengan menggunakan bulan, serta diwajibkan bagi seorang wanita untuk beriddah atas kematian suaminya, walaupun belum pernah digauli, sebagai ketaatan kepada Allah  dan menjaga hak suami.[11]

2. Iddah pada talaq ba’in

Hikmah disyari’atkannya iddah pada talaq ba’in serta perpisahan yang disebabkan rusaknya pernikahan atau jima’ syubhat, diantaranya adalah untuk menjaga kebersihan rahim wanita atau memastikan dia tidak hamil, sebagai bentuk pencegahan terhadap bercampurnya nasab dan menjaga nasab. Sehingga, bila dia hamil maka iddahnya hingga melahirkan, agar tercapai tujuan dari pada iddah itu sendiri.

3. Iddah pada talaq raj’i

Di antara hikmah disyari’atkannya iddah pada talaq raj’i yaitu, untuk memantapkan keinginan seseorang laki-laki ketika ingin ruju’ (kembali) kepada wanita yang telah ia talaq. Di dalamnya juga ada hak bagi suami, Allah I dan bagi wanita yang dinikahi kembali. Hak suami agar mantap untuk kembali ruju’ pada masa iddah tersebut, hak Allah ialah dia melaksanakan kewajiban syari’at-Nya (iddah), hak anak agar nasabnya jelas, serta hak wanita baginya nafkah selama masa iddah -karena kedudukan dia masih sebagai seorang istri yang mewarisi dan diwarisi-. Adapun dalil yang menunjukkan bahwa iddah merupakan hak suami atas istrinya ialah, firman Allah U :

“Maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta  menyempurnakannya.” (QS. Al-Ahzab [33]:49)

Dan firman-Nya:

“Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah.” (QS. Al-Baqarah [2]:228)[12]

E. Sebab dan Syarat Diwajibkannya Iddah

1. Iddah dengan hitungan masa suci (iddah quru’)

Ada beberapa sebab yang mewajibkan iddah dengan hitungan masa suci bagi seorang wanita, yang terpenting ada tiga hal, yaitu pada:

1)  Perpisahan yang terjadi dalam pernikahan yang sah, disebabkan talaq atau lainnya. Diwajibkannya iddah dengan hitungan masa suci ini untuk membersihkan rahimnya, dan mengetahui kebersihan rahimnya dari janin.

Syarat wajibnya ialah digaulinya wanita tersebut (jima’) atau semisalnya. Seperti khalwah shahih, menurut selain mazhab Syafi’ie. Jika khalwah shahih tersebut terjadi pada pernikahan yang sah, bukan pernikahan yang rusak, menurut mazhab Hanafi dan Hambali. Sedangkan menurut mazhab Maliki, juga pada pernikahan yang rusak.

Jadi, iddah ini tidak diwajibkan bila tanpa jima’ dan khalwah shahih.

2) Perpisahan yang terjadi dalam pernikahan yang rusak, baik berdasarkan ketetapan hakim atau damai. Syaratnya jima’, menurut Jumhur selain mazhab Maliki. Dan khalwah, menurut mazhab Maliki.

Adapun tentang khalwah, Jumhur berpendapat bahwa berkhalwat pada pernikahan yang rusak menyebabkan wajibnya iddah walaupun tidak berjima’, berdasarkan riwayat Imam Ahmad dan Astrom, dari Zuroroh bin aufa, beliau berkata, “Khulafaur Rasyidin menetapkan bahwa barangsiapa yang menutup pintu dan menurunkan sater (berkhalwat), wajib membayar mahar dan menunaikan iddah.[13]

Begitu pula mazhab Maliki karena khalwah adalah madzonnatu wiqo’ (sebab dicurigainya berjima’). [14]

Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad, berkhalwat sama dengan berjima’ dalam ketentuan membayar mahar dan wajibnya iddah, berdasarkan perkataan Umar dan Ali Radhiyallahu ‘Anhuma, “Bila pintu ditutup dan sater diturunkan (berkhalwat) maka baginya (wanita) seluruh mahar dan menunaikan iddah.”[15]

Adapun menurut mazhab Syafi’i di dalam qoulun jadidnya, berkhalwat tidak mewajibkan iddah berdasarkan firman Allah U :

“Kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” (QS. Al-Ahzab [33]:49)[16]

3)      Jima’ yang terjadi pada akad yang syubhat, misalnya: mendatangkan kepada pengantin laki-laki pengantin perempuan yang bukan istrinya lalu dia menggaulinya. Maka kedudukan yang syubhat sebagaimana yang hakiki demi kehati-hatian. Oleh sebab itu diwajibkannya iddah pada kejadian ini, sebagai bentuk kehati-hatian.

Dan para ulama telah bersepakat bahwa iddah diwajibkan pada jima’ syubhat. Disebabkan pengaruhnya terhadap rahim dan bercampurnya nasab sama dengan pernikahan yang sah.

Apakah yang dimaksud dengan khalwah shahih?

Maksud dari khalwah atau khalwah shahih ialah, berkumpulnya sepasang suami istri setelah akad nikah yang sah pada suatu tempat yang tidak terlihat oleh orang lain, seperti, di dalam rumah yang tertutup dan terkunci. Sedangkan, bila berkumpul di jalan, masjid, rumah yang pintu dan jendelanya terbuka serta di halaman yang terbuka, atau di tempat yang tidak ada sater (penutup)nya, tidak dapat disebut khalwah shahih.[17]

2. Iddah dengan hitungan bulan

Iddah dengan hitungan bulan ada dua macam: Pertama, yang diwajibkan sebagai pengganti dari iddah haid; Kedua, kewajibkan pada asalnya.

Iddah dengan bulan yang diwajibkan sebagai pengganti dari iddah dengan masa haid ialah iddah bagi wanita yang  pada mulanya tidak haid, disebabkan masih kecil (muda) atau tua memasuki masa tidak haid (menopause) -setelah terjadinya talaq-. Dan sebab wajibnya sama dengan sebab wajibnya iddah dengan hitungan masa suci. Sedangkan syarat wajibnya ada dua :

1)  Masih kecil (muda) atau tua (menopause) atau tidak haid pada asalnya.

2) Berjima’ atau khalwah shahih pada pernikahan yang sah, menurut selain mahdzab syafi’i, dan pada pernikahan yang rusak, menurut mahdzab Maliki.[18]

Adapun iddah dengan hitungan bulan yang wajib pada asalnya ialah iddah wafat, sebab wajibnya adalah kematian suami -walaupun belum pernah berjima’ sama sekali-, baik sang istri dalam keadaan haid atau tidak -disebabkan masih muda (kecil) atau tua (menopause)-, berdasarkan firman Allah ‘:

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah [2]:234)

Adapun syarat wajibnya hanyalah pernikahan yang sah.[19]

3. Iddah dengan kehamilan (iddah hamil)

Iddah dengan kehamilan yaitu iddah bagi wanita yang ditalaq atau ditinggal mati suaminya dalam keadaan hamil. Sebab wajibnya perpisahan atau kematian (suami), agar tidak bercampurnya nasab dan terjadi  kerancuan dalam kandungan.[20]

Syarat wajibnya, adanya kehamilan dari hasil pernikahan yang sah atau rusak, disebabkan berjima’ pada pernikahan yang rusak mewajibkan iddah.

Menurut mazhab Hanafi dan Syafi’ie tidak diwajibkan iddah pada kehamilan yang disebabkan berzina, karena zina tidak mewajibkan iddah. Bila ada seorang laki-laki menikahi wanita yang sedang hamil karena berzina, maka hal itu diperbolehkan, menurut Abu Hanifah dan Muhammad, tetapi tidak boleh baginya berjima’ hingga dia melahirkan, supaya airnya tidak menyirami tanaman orang lain (bercampurnya dua sperma laki-laki).

Menurut mazhab Syafi’ie diperbolehkan menikahi wanita yang hamil karena berzina dan menyetubuhinya, bila tidak ada kehormatan pada dirinya.[21] Dan menurut mazhab Hambali haram menikahi wanita yang berzina hingga ia bertobat.[22]

Apakah yang dimaksud dengan quru’?

Secara bahasa   القرءyang mengandung arti haid, suci dan waktu. Kata القرء jamaknya adalah  أقراء   قروء  أقرء.  Sedangkan di dalam menafsiri lafadz quru’, ada dua pendapat di kalangan fuqoha’:

Pertama: Menurut mazhab Hambali dan Hanafi, bahwa yang dimaksud dengan quru’ ialah haid, karena haid dapat mengetahui bersihnya rahim, dan itulah yang maksud dengan iddah. sebagaimana firman Allah I :

“Dan perempuan-perempuan yang putus asa dari haid di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.” (QS. Ath-Thalaq [65]:4)

Maka iddah bagi wanita yang tidak haid adalah iddah dengan hitungan bulan. Dalil yang juga menunjukkan bahwa quru’ adalah haid diantaranya, sabda Nabi r:

تَدَعُ الصَّلَاةَ أَيَّامَ أَقْرَائِهَا

“Perintahkanlah meninggalkan shalat pada hari-hari aqra’nya (haid).” (HR. Ibnu Majah)[23]

Kedua: Menurut mazhab Syafi’ie dan Maliki bahwa yang dimaksud dengan quru’ adalah suci, karena Allah I memakai التاء pada hitungan ثلاثة (tiga) yang menunjukkan bahwa yang dihitung mudzakkar, yaitu الطهر (suci) bukanالحيضة  (haid), juga dalam firman-Nya: فَطَلِّقُوْهُنَّ لِعِدَّةِهِنَّ  (pada waktu mereka dapat [menghadap] iddahnya [yang wajar]), sedangkan talaq haram dilakukan pada waktu haid dan diperbolehkan pada waktu suci. Disebutkan juga dalam hadist Ibnu Umar t :

مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ لِيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطْهُرَ ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ. فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ

“Perintahkan untuk rujuk padanya, kemudian menunggunya hingga suci kemudian haid, kemudian suci, kemudian setelah itu boleh menahannya (tidak mentalaq) atau mentalaq sebelum menggaulinya. Itulah masa iddah yang diperintahkan Allah I dan dengannya engkau mentalaq para istri.” (HR. Bukhari dan Muslim)[24]

Mereka berpendapat pula bahwa lafadz القرء merupakan pecahan dari الجمع, maka asal dari القرء adalah اللإجتماع (berkumpul). Dan pada masa suci darah berkumpul, sedangkan pada masa haid darah keluar dari rahim. Dan yang sesuai dengan asal kata yaitu suci.[25]

Adapun faedah dari perselisihan di atas: Jika talaq tersebut terjadi pada saat wanita yang ditalaq dalam keadaan suci. Maka menurut pendapat yang kedua iddahnya habis dengan datangnya haid yang ketiga, karena suci pada saat ia ditalaq dihitung. Dan menurut pendapat yang pertama, iddahnya tidak habis kecuali setelah haid yang ketiga selesai, berdasarkan riwayat bahwa Umar  dan Ali Radhiyallahu ‘Anhuma berkata: ” Diperbolehkan bagi suaminya untuk menikahinya, sampai dia mandi setelah haid yang ketiga.” Riwayat ini merupakan salah satu dalil yang menguatkan pendapat yang pertama.[26]

Sedangkan pendapat yang rajih (lebih kuat) menurut Dr. Wahbah az Zuhaili adalah pendapat yang pertama, karena sesuai dengan kenyataan dan maksud dari iddah, yaitu seorang perempuan menunggu datangnya haid hingga tiga kali lalu habislah masa iddahnya, dan kebersihan rahim tidak diketahui kecuali dengan adanya haid. Dan apabila seorang wanita haid maka sudah jelas bahwa dia  tidak hamil, tetapi jika dia suci maka lebih cenderung kepada hamil.[27]

F. Batasan-Batasan Iddah

1. Iddah hamil

Sebab diwajibkannya ialah talaq atau kematian suami. Iddahnya hingga melahirkan, menurut kesepakatan para ulama. Berdasarkan firman Allah I:

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS.Ath-Thalaq [65]:4)[28]

Karena kebersihan rahim tidak mungkin terjadi pada wanita yang sedang hamil. Sehingga, bila seorang wanita mengandung kemudian ditalaq atau ditinggal mati suaminya, maka iddahnya hingga melahirkan walaupun suaminya baru saja meninggal, dalilnya ialah, bahwasannya Subai’ah al Aslamiyyah melahirkan, satu malam setelah  kematian suaminya, lantas dia datang kepada Nabi r, minta izin untuk menikah, lalu Rasulullah r mengizinikannya. Maka menikahlah ia.[29]

Syarat-syarat selesainya iddah dengan melahirkan :

1)      Menurut Jumhur selain mazhab Hanafi, lahirnya seluruh kandungannya atau seluruh bagian-bagian tubuhnya. Sehingga, masa iddahnya belum bisa dikatakan  telah habis hanya dengan lahirnya salah satu kandungan, bila kembar. Atau sebagian anggota  tubuhnya.

Menurut mazhab Maliki, iddahnya telah habis walaupun yang lahir hanya berupa segumpal daging. Sedangkan, mazhab Syafi’ie dan Hambali mengharuskan, janin yang dapat memenuhi syarat habisnya masa iddah, ada keterangan yang menunjukkan bentuk manusia seperti kepala, tangan atau kaki, atau segumpal daging, yang dapat diterima bahwa dia menunjukkan kemiripan dengan bentuk manusia atau manusia, berdasarkan keumuman firman-Nya,

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Thalaq [65]:4)

Imam Taqiyuddin al Husaini berpendapat, jika terjadi keraguan-raguan antara daging manusia atau bukan, maka semua hukum-hukum ini tidak dapat ditetapkan, tanpa ada khilaf.[30]

2)      Kandungannya dinisbatkan kepada shahibul iddah (suami), walaupun masih kemungkinan, sebagaimana wanita yang dili’an (dilaknat). Karena, tidak menutup kemungkinan bahwa janin tersebut darinya, dengan dalih seandainya dia mengakui janin tersebut, maka ia telah menghubungkan nasabnya dengan janin tersebut. [31]

Lalu, bagaimana bila ada seorang wanita yang merasa ragu dengan kehamilannya?

Apabila, ada seorang wanita yang beriddah karena ditalaq atau kematian suaminya merasakan tanda-tanda kehamilan, seperti: gerakan, perut membesar dan sebagainya, lalu dia ragu, apakah hamil atau tidak. Maka, masalah ini tidak keluar dari salah satu tiga hal dibawah ini:

1)   Dia ragu-ragu sebelum habis masa iddahnya. Maka, dia tetap iddah sebagaimana semestinya, berupa iddah talaq atau wafat hingga hilang keragu-raguannya. Apabila ia hamil, maka masa iddahnya habis dengan melahirkan. Apabila telah usai masa kehamilannya tetapi ia tidak hamil, maka masa iddahnya dengan quru’ atau bulan.

2)   Dia merasa ragu setelah habisnya iddah dan telah menikah. Maka pernikahannya sah, karena secara dzohir (lahiriyah) masa iddahnya telah habis, dan kehamilan yang dia merasa ragu terhadapnya tidak membatalkan pernikahannya. Tetapi, tidak diperbolehkan bagi suaminya untuk menggaulinya, karena akan menimbulkan keraguan pada kesahan pernikahan. Sabda  Rasulullah r:

لَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ يَعْنِي إِتْيَانَ الْحَبَالَى

“Tidak halal bagi seorang laki-laki yang beriman kepada Allah dan hari akhir  menyiramkan airnya pada tanaman orang lain yaitu mendatangi wanita yang hamil.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Darimi)[32]

kemudian kita perhatikan, bila dia melahirkan kurang dari enam bulan sejak pernikahannya yang kedua dan ia telah digauli, maka pernikahannya batal. Disebabkan, laki-laki tersebut menikahi wanita yang sedang hamil. Sedangkan, bila ia melahirkan pada masa lebih dari enam bulan, maka pernikahannya sah dan anak tersebut menjadi haknya.

3)      Munculnya keraguan setelah habisnya masa iddah dan ia belum menikah. Maka,  ada dua   pendapat:

Pertama, tidak boleh baginya menikah. Jika menikah maka pernikahannya batal, karena dia menikah dalam keadaan ragu terhadap kehamilannya setelah habisnya masa iddah. Sehingga, pernikahannya tidak sah, sebagaimana jika dia mendapatkan keraguan tersebut pada masa iddahnya, karena seandainya disahkan akan terjadi kebimbangan pada pernikahan tersebut, sah atau tidak. Sedangkan pernikahan tidak boleh dilaksanakan dalam keadaan ragu-ragu pada kebersihan rahim.

Kedua, diperbolehkan menikah dan sah. Karena, ia dihukumi masa iddahnya telah habis, sehingga diperbolehkan baginya menikah serta tidak lagi mendapatkan nafkah dan tempat tinggal. Dengan dalih, tidak diperbolehkan meniadakan segala yang dihukumi dengan keraguan-raguan, yang muncul. Karena, oleh sebab inilah biasanya seorang hakim tidak dapat memutuskan suatu hukum pada ijtihadnya dan ruju’nya saksi (mencabut kesaksiannya).[33]

Iddah istri seorang anak kecil setelah kematiannya :

Jika ada, seorang suami yang masih kecil, yang tidak bisa menghamili istrinya meninggal, sedangkan istrinya dalam keadaan hamil, dengan bukti ia melahirkan setelah enam bulan dari kematiannya. Maka iddahnya, menurut Imam Abu Hanifah dan Ahmad dengan melahirkan, berdasarkan keumuman firman Allah I,

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Thalaq [65]:4).

Sedangkan, bila kehamilannya terjadi setelah kematiannya, maka iddahnya empat bulan sepuluh hari. Karena, ini merupakan iddah yang diwajibkan baginya ketika kematian seorang suami. Tetapi, nasab anaknya pada dua kejadian ini tidak dapat dinisbatkan kepada suaminya, dikarenakan seorang anak kecil tidak bisa keluar maninya, sehingga dia tidak dapat menghamili.

Menurut Imam Malik dan Syafi’ie, iddahnya dengan bulan yaitu empat bulan sepuluh hari, dan  bukan dengan melahirkan dan nasabnya tidak dinisbatkan kepadanya.[34]

2. Iddah bagi wanita yang suaminya meninggal

Telah kita ketahui, bahwasannya wanita yang ditinggal mati suaminya bila hamil maka iddahnya hingga melahirkan, walaupun waktu kelahirannya dekat atau jauh dari waktu kematian.

Adapun jika keadaannya tidak hamil, maka iddahnya menurut kesepakatan para ulama empat bulan sepuluh hari berserta malamnya dari waktu kematian berdasarkan firman-Nya,

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari.” (QS. Al-Baqarah [2]:234)

Sebagai bentuk bersedih atas kematian suami, baik ia telah berjima’ dengannya atau belum, kecil (muda) atau tua (menopause), atau pada usia haid, berdasarkan keumuman ayat di atas. Dan tidak ada pengkhususan dengan berjima’. Karena dalam nash al Qur’an telah ada pengecualian bagi wanita yang belum pernah digauli jika dia ditalaq, yaitu pada firman Allah I :

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya,”. (QS.       Al-Ahzab [33]:49)[35]

Tetapi syarat wajibnya beriddah empat bulan sepuluh hari bagi wanita yang suaminya meninggal, yaitu pernikahan yang sah, dan pernikahan tersebut berjalan hingga kematian yang mentalaq, telah berjima’ atau tidak.

Adapun, pada pernikahan yang rusak, maka iddahnya, menurut mazhab Hanafi dan Hambali tiga kali haid, bila dia haid. Atau tiga kali suci, menurut mazhab Maliki dan Syafi’ie. Karena, tujuan dari panjangnya waktu iddah ialah menujukkan rasa bersedih (berduka) atas kematian suami.[36]

3. Iddah bagi wanita yang ditalaq

Apabila ia hamil, maka iddahnya hingga melahirkan, sebagaimana telah dijelaskan di atas. Sedangkan, jika tidak hamil, tetapi ia sudah mengalami haid. Menurut kesepakatan para ulama, iddahnya tiga kali quru’ (haid menurut mazhab Hanafi dan Hambali, suci menurut mazhab Maliki dan Syafi’ie), dalilnya,

“Wanita-wanita yang ditalaq hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.” (QS. Al-Baqarah [2]:228)

Jadi, wajib bagi wanita yang ditalaq untuk menahan diri (menunggu) hingga tiga kali quru’.

Adapun jika wanita tersebut tidak haid karena masih kecil (muda), atau tua memasuki usia tidak haid (menopause), atau memang pada dasarnya tidak haid setelah mencapai umur lima belas tahun. Maka, iddahnnya tiga bulan, berdasarkan firman-Nya,

“Dan perempuan-perempuan yang putus asa dari haid di antara perempuan-perempuanmu          jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan;” (QS. Ath-Thalaq [65]:4)[37]

Lalu, kapan mulai dihitung masa iddah wanita yang ditalaq?

Jika berdasarkan mazhab Hambali dan Hanafi, yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan quru’ ialah tiga kali haid yang sempurna tanpa terputusnya haid, maka, jika seorang laki-laki mentalaq istrinya, ketika terjadinya talaq belum dihitung dengan satu kali haid. Dan dia tidak halal bagi selain suaminya untuk menikahinya­, jika darah haidnya yang terakhir terputus hingga ia mandi, menurut mazhab Hambali.

Adapun menurut mazhab Maliki dan Syafi’i, yang berpendapat bahwa quru’ ialah suci. Menurut mereka, quru’ bukan tiga kali suci yang sempurna jika seorang wanita ditalaq pada saat suci. Tetapi, sisa sucinya  dihitung sebagai qar’an yang sempurna walaupun hanya sebentar, dan ia beriddah dengannya ditambah dengan dua kali quru’ setelahnya, dan semuanya dihitung tiga kali quru’.

Maka wanita yang ditalaq pada saat suci, iddahnya habis dengan dimulainya haid yang ketiga. Dan jika ditalaq pada saat haid, maka iddahnya habis dengan masuknya haid yang keempat, dihitung dari haid pada saat ditalaq.[38]

4. Iddah bagi wanita yang tidak haid karena masih muda (kecil) atau tua disebabkan  memasuki umur tidak haid, dan yang pada asalnya tidak haid

Iddahnya tiga bulan, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Dan perempuan-perempuan yang putus asa dari haid di antara perempuan-perempuanmu          jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan;” (QS. Ath-Thalaq [65]:4)

Sedangkan yang dimaksud umur tidak haid ialah umur yang apabila seorang wanita telah mencapainya maka dia tidak mengalami haid, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah batasannya.

Menurut mazhab Hambali, batasan usia tidak hamil lima puluh tahun, berdasarkan perkataan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha: “Sekali-kali kamu tidak akan melihat didalam perutnya (wanita) seorang anak setelah berumur lima puluh tahun.”[39]

Begitu pula mazhab Hanafi, menurut mereka ketidakhamilan (menopause) terjadi pada usia lima puluh lima tahun.

Sedangkan menurut mazhab Syafi’ie, usia tidak hamil maksimal pada usia enam puluh dua tahun.[40]

Dan mazhab Maliki menentukan, bahwa usia tidak hamil tujuh puluh tahun. Maka, darah yang dilihat seorang wanita setelah umur ini tidak disebut haid.

Sedangkan usia mulai haid, paling cepat pada umur sembilan tahun, berdasarkan kejadian yang ada.[41]

Dan usia baligh, rata-rata jika tidak haid lima belas tahun, berdasarkan kesepakatan para ulama madzahib.

5.         Iddah bagi wanita yang tiba-tiba haidnya berhenti (sucinya panjang) dan yang mustahadhoh

Wanita pada usia haid terbagi menjadi tiga, yaitu: mu’tadah, murtabah dan mustahadhoh.

Mu’tadah ialah wanita yang haidnya sebagaimana biasanya. Iddahnya tiga kali quru’.

Adapun murtabah ialah wanita yang tiba-tiba haidnya berhenti, atau wanita yang sucinya panjang. Yaitu, wanita yang haidnya berhenti, tanpa diketahui sebabnya, baik karena hamil, menyusui atau sakit. Hukumnya, menurut mazhab Syafi’ie dan Hanafi, ia menanti selama-lamanya hingga ia haid atau mencapai umur tidak haid, kemudian beriddah dengan tiga bulan. Karena, bila ia melihat haid, maka iddahnya dari haid, sehingga ia tidak diperbolehkan beriddah dengan selainnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Baihaqi, Usman t menghukumi seperti itu pada wanita yang menyusui.

Menurut mazhab Maliki dan Hambali, iddahnya setahun setelah terputusnya haid, dengan berdiam (tidak menikah) selama sembilan bulan, yang merupakan rata-rata usia kehamilan, kemudian beriddah selama tiga bulan, hingga lengkaplah setahun, dan ia diperbolehkan menikah. Ini jika terputusnya haid disebabkan sakit atau tidak diketahui sebabnya, menurut mazhab Maliki. Karena, tujuan dari pada iddah untuk mengetahui kebersihan rahim dan bebasnya dari kehamilan. Dan ini dapat diketahui dengan lamanya masa iddah.[42]

Jika terputusnya haid disebabkan menyusui, maka iddahnya, menurut mazhab Maliki satu tahun, dimulai setelah habisnya masa menyusui yaitu dua tahun. Apabila dia melihat keluarnya darah haid walaupun pada hari terakhir pada tahun tersebut dia tetap menunggu hingga tiga kali haid.[43]

Sedangkan, yang dimaksud mustahadhoh ialah wanita yang darahnya terus menerus keluar, yaitu yang lupa dengan kebiasannya (haid). Menurut mazhab Hanafi, iddahnya tujuh bulan dengan ketentuan setiap masa sucinya (dihitung) dua bulan, sehingga keseluruhan masa sucinya menjadi enam bulan, dan tiga kali haid dengan satu bulan, sebagai bentuk kehati-hatian. Ada pula yang mengatakan, iddahnya dengan tiga bulan. Dan jika darahnya terus mengalir, maka ia akan mengetahui kebiasaannya, dan ia kembali kepada kebiasaannya.

Menurut mazhab Hambali dan Syafi’ie, bahwa iddahnya wanita mustahadhoh yang lupa dengan waktu haidnya, sebagaimana wanita yang tidak haid (ayyisah), yaitu tiga bulan. Karena, Nabi r menyuruh Hamnah binti Jahsyi Radhiyallahu ‘anha untuk menetapkan pada setiap bulan enam atau tujuh hari, sebagai waktu haidnya pada tiap bulan, dengan ketentuan ia meninggalkan shalat dan yang semisalnya pada saat itu. Dan apabila ia telah mengetahui kebiasaannya, atau ia dapat membedakannya, maka beriddah dengannya.

Mazhab Maliki berpendapat, bahwa wanita yang mustahadhoh yang tidak dapat membedakan darah haid dan istihadhoh, sebagaimana wanita yang haidnya tiba-tiba berhenti. Yaitu ia menunggu selama satu tahun penuh, sembilan bulan untuk mengetahui kesucian (istibra’), agar hilang keragu-raguannya. Karena, rata-rata waktu kehamilan sembilan bulan, dan tiga bulan sebagai waktu iddah. Jadi iddah wanita mustahadhoh yang tidak dapat membedakan masa suci dengan masa haidnya, dan wanita yang haidnya terlambat tanpa adanya sebab, atau dengan sebab selain menyusui, satu tahun penuh. Adapun wanita mustahadhoh yang dapat membedakan masa suci dengan masa haidnya, dan wanita yang haidnya terlambat karena menyusui, iddahnya tiga kali quru’. [44]

G. Bercampur, Berubah serta Berpindahnya Iddah

Terkadang terjadi pada wanita yang beriddah dengan bulan atau aqra’, suatu keadaan yang mengharuskan ia merubah iddahnya, sehingga ia wajib beriddah sesuai keadaan tersebut.

1. Dari iddah dengan bulan berpindah ke iddah dengan hitungan masa suci (quru’)

Apabila ada seorang wanita yang tidak haid, disebabkan masih kecil atau telah memasuki usia tidak haid, beriddah. Disyari’atkan baginya beriddah dengan bulan. Kemudian, bila dia haid sebelum masa iddahnya selesai, dia harus berpindah kepada iddah aqra’, dan iddahnya yang lalu menjadi batal. Iddahnya tidak habis, kecuali dengan tiga kali haid yang sempurna, menurut mazhab Hanafi dan Hambali. Dengan tiga kali suci, menurut mazhab Syafi’ie dan Maliki. Karena, pada asalnya iddah dengan bulan sebagai ganti dari iddah dengan aqra’, maka tidak boleh beriddah dengan bulan bila ada asalnya.

Begitu pula sebaliknya, jika iddahnya dengan bulan telah habis lalu dia haid, dia tidak diharuskan menggantinya dengan iddah dengan hitungan masa suci (quru’), karena haidnya terjadi setelah habisnya iddah dan setelah tercapai tujuan dari penggantian iddah. Maka, haid yang terjadi setelah selesainya masa iddah dengan bulan tidak membatalkan hukumnya dengan adanya yang asal (iddah quru’). Sebagaimana, orang yang shalat dengan tayamum kemudian mendapatkat air setelah usainya waktu shalat, dia tidak wajib berwudhu dan mengulangi shalatnya.

2. Dari iddah dengan aqra’ berpindah ke iddah dengan bulan atau melahirkan

Apabila ada seorang wanita yang ditalaq beriddah dengan aqra’, kemudian tampak pada dirinya tanda-tanda kehamilan. Menurut mazhab Syafi’ie dan Maliki bila wanita yang hamil melihat darahnya terputus-putus, hilanglah hukum aqra’, dan dia beriddah hingga melahirkan, karena aqra’ menunjukkan kebersihan rahim secara dzahir, sedangkan  kehamilan–jelas–menunjukkan keadaan rahim. Sehingga, hilanglah yang dzahir dengan yang sudah jelas.

Adapun, jika seorang wanita yang dapat haid ditalaq, kemudian dia haid sekali atau dua kali lalu tiba-tiba dia tidak haid lagi, maka iddahnya berpindah dari iddah aqra’ kepada iddah dengan bulan. Dan ia tidak beriddah dengan bulan, menurut mazhab Hanafi, kecuali bila telah mencapai usia tidak hamil (55 tahun). Bila telah mencapai usia tidak hamil maka iddahnya tiga bulan, yang  merupakan iddah bagi wanita yang tidak haid.

Mazhab Maliki dan Hambali berpendapat, dia beriddah setahun. Sembilan bulan dia menanti semenjak ditalaq untuk mengetahui kebersihan rahimnya, karena ini adalah kebanyakan  waktu kehamilan, kemudian baru beriddah dengan iddah wanita yang tidak haid, yaitu tiga bulan. Berdasarkan perkataan Umar t .

Sebagaimana mazhab Hanafi, mazhab Syafi’ie pada qoulun jadid berpendapat,: iddahnya menjadi selama-lamanya hingga dia haid atau hingga usia tidak haid, kemudian dia baru beriddah dengan tiga bulan. Karena, beriddah dengan bulan terjadi setelah usia tidak haid, dan tidak boleh sebelumnya, sedangkan dia bukan wanita yang tidak haid karena umurnya. Oleh karena dia berharap darahnya mengalir kembali, maka dia tidak beriddah dengan bulan, sebagaimana kalau jarak haidnya semakin menjauh.

3. Berpindah ke iddah wafat

Apabila ada seorang laki-laki meninggal dunia ditengah-tengah masa iddah istrinya yang telah ia talaq dengan talaq raj’i. Menurut ijma’ dia berpindah dari iddahnya dengan bulan atau aqra’ kepada iddah wafat (empat bulan sepuluh hari), baik ia ditalaq dalam keadaan sehat atau sekaratnya (suami). Karena, wanita yang ditalaq raj’i masih sebagai istri selama masa iddah, dan kematian seorang suami mewajibkan atas istrinya melaksanakan iddah wafat, sehingga batallah seluruh hukum yang berkaitan dengan talaq raj’i, dan tetaplah hukum-hukum yamg berkaitan dengan iddah wafat, seperti ihdad dan lain-lain.

Adapun, jika seorang laki-laki meninggal pada saat iddah istrinya yang ditalaq ba’in, maka iddah(istri)nya tidak berpindah kepada iddah wafat, tetapi ia tetap menyempurnakan masa iddahnya. Sebab, dia sudah bukan istrinya lagi, dan dia menyempurnakan iddahnya dan tidak ada hidad baginya, baginya hanya nafaqoh, bila hamil.

4. Iddah dengan yang lebih panjang dari pada dua iddah (talaq dan wafat)

Ada dua pendapat dikalangan para fuqoha:

Pertama: Mazhab Abu Hanifah, Muhammad dan Ahmad. Mereka berpendapat, bila ada seorang suami yang mentalaq istrinya dengan tujuan untuk mencegahnya mendapatkan harta warisan. Dengan cara mentalaqnya pada saat sakit yang menyebabkan dia meninggal (sekarat), dengan tujuan mengharamkan istrinya untuk mendapatkan harta warisan. Maka, jika ia kemudian meninggal pada saat iddahnya, iddahnya berpindah dari iddah talaq kepada iddah yang lebih panjang dari pada iddah wafat dan iddah talaq sebagai bentuk kehati-hatian. Yaitu, dengan menanti selama empat bulan sepuluh hari dari waktu kematian. Dan bila dia tidak melihat haid, maka dia beriddah setelahnya dengan tiga kali haid, menurut mazhab Hambali dan Hanafi. Sedangkan, bila masa sucinya memanjang, ia tetap beriddah hingga memasuki usia tidak haid. Karena, takkala seorang wanita dapat mewarisi suaminya, hal ini menunjukkan secara hukum pernikahannya belum habis ketika dia wafat, sehingga wajib baginya melaksanakan iddah wafat. Dan pada talaq bain pernikahannya telah usai, sehingga dia tidak diwajibkan iddah wafat, tetapi iddah talaq. Melihat dari kedua hal ini maka berkumpullah dua iddah, dan dia beriddah dengan kedua-duanya.[45]

Kedua: Mazhab Imam Malik, Syafi’ie dan Abu Yusuf. Mereka berpendapat, bahwa istri yang ditalaq dengan tujuan agar tidak mendapatkan warisan, tidak beriddah dengan iddah yang lebih panjang dari dua iddah, iddah wafat atau tiga kali quru’. Tetapi dia melengkapi iddah talaq. Karena, suaminya meninggal dan dia bukan lagi istri baginya, disebabkan dia  telah bain (terputus) dari pernikahan, sehingga dia tidak menjadi wanita yang dinikahi. Sedangkan menurut Imam Malik, pernikahannya dianggap masih tetap, tetapi pada hak mendapatkan harta warisan saja, bukan pada masalah iddah, karena sesuatu yang telah ditetapkan menyelisihi asal tidak dapat meluas.

Wanita yang iddahnya lebih panjang dari pada dua iddah menurut mazhab syafi’i yaitu bila seorang laki-laki mentalaq salah satu istrinya dengan talaq bain lalu dia meninggal sebelum jelas istrinya yang ditalaq, maka kedua-duanya beriddah dengan yang lebih panjang dari pada iddah wafat dan tiga kali quru’; karena kedua-duanya wajib melaksanakan iddah talaq, dan iddah yang lain menyerupainya dengan adanya  kematian, maka wajib baginya beriddah dengan yang lebih panjang dari kedua-duanya agar yakin, sebagaimana shalat yang menyerupai dua shalat, maka dia harus melaksanakan kedua-duanya.

Seorang wanita beriddah dengan yang yang lebih panjang dari dua iddah menurut mazhab Maliki sebagaimana telah diterangkan, pada saat berpindah ke iddah wafat, ketika seorang suami yang dapat rujuk meninggal pada saat iddahnya.[46]

H. Waktu dimulainya iddah dan tanda diketahui selesainya iddah

1. Dimulainya iddah

Mazhab Hanafi menerangkan secara rinci tentang waktu dimulainya iddah, sebagai berikut: 

Pertama: Pada pernikahan yang sah.

Iddah dimulai setelah terjadinya talaq, perpisahan dan kematian suami. Menurut kesepakatan para fuqoha iddah pada talaq dan yang semisalnya dimulai setelah terjadinya talaq, begitu pula iddah wafat dimulai setelah kematian. Dan iddah tetap dilaksanakan walaupun wanita tersebut tidak mengetahui bahwa ia telah ditalaq atau suaminya telah wafat. Karena, menurut mereka iddah adalah sebuah batasan, sehingga tidak disyaratkan mengetahui batasan yang telah berlalu.

Seorang wanita tetap dianggap telah memenuhi masa iddahnya, walaupun dia tidak mengetahui bahwa dia telah ditalaq atau suaminya telah wafat. Sehingga, bila suami mentalaq istrinya yang sedang hamil atau dia meninggal dunia dalam keadaan istrinya hamil, dan istrinya tidak mendapat kabar bahwa ia telah ditalaq hingga melahirkan. Maka, menurut kesepakatan para ulama masa iddahnya telah habis.

Kedua: Pada pernikahan yang rusak.

Iddahnya dimulai setelah keputusan berpisah bagi suami istri dari qadhi (hakim), atau setelah wanita yang digauli ditinggalkan dan tampak keinginan untuk meninggalkan pada diri orang yang menggaulinya dengan mengucapkan ”saya telah meninggalkannya” atau yang semisalnya, dan dia telah mentalaqnya dan mengingkari pernikahannya dengan wanita tersebut pada saat diaberada di hadapannya. Bila tidak, maka penginkarannya tidak dapat disebut sebagai sebuah bentuk perpisahan.[47]

Ketiga: Pada jima’ yang syubhat.

Ibnu Abidin berkata, “Saya belum pernah melihat ada pendapat tentang waktu dimulainya iddah pada jima’ syubhat yang tanpa adanya akad. Dan sebaiknya (bila hal tersebut terjadi) iddahnya dimulai pada akhir terjadinya jima’, takkala hilang syubhatnya dengan diketahui bahwa dia bukan istrinya. Dan dia tidak halal karena tidak ada akad pada jima’ tersebut, dan tidak ada sebab iddah (pada permasalahan ini) kecuali jima’.”

Ini pendapat yang benar, bila iddah dimulai dengan adanya penyebab terjadinya iddah. Dan jima’ yang terjadi dalam jima’ syubhat adalah sebab iddah ini, sehingga iddah dimulai darinya.[48]

Waktu iddah mulai dihitung semenjak seorang laki-laki memisahkan istrinya. Jika dia memisahkannya pada pertengahan malam atau siang, maka dia beriddah sejak saat itu menurut perkataan para ahlul ilmi. Abu Abdullah bin hamid berkata, “Tidak dihitung pada saat itu juga, tetapi dihitung pada awal malam atau siang. Sehingga bila dia mentalaq istrinya pada siang hari, masa iddahnya baru dihitung pada awal malam setelahnya, begitu juga sebaliknya.” Begitu juga perkataan Imam Malik, disebabkan perhitungan yang dimulai pada saat itu juga menyulitkan, sehingga ditinggalkan. Adapun mazhab Hambali berpendapat, firman Allah I فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ menunjukkan tidak boleh baginya menambahkan masa iddah tanpa dalil, dan perhitungan yang dimulai pada saat itu juga mungkin, baik dalam keadaan yakin atau hati-hati. Sehingga tidak ada alasan untuk menambah pada sesuatu yang telah diwajibkan oleh Allah I.[49]

Masuknya (bercampurnya) dua iddah:

Jika, muncul sebab iddah yang baru, ditengah-tengah masa iddah seorang wanita. Maka, apakah dua iddah tersebut dapat bercampur menjadi satu? Atau dia melanjutkan iddahnya yang pertama?

Mazhab Hanafi berpendapat, bahwa dua iddah dapat menjadi satu, baik disebabkan oleh satu sebab atau dua sebab terjadinya iddah, baik dari satu laki-laki atau dua laki-laki. a) Misal dari satu sebab dan dari satu laki-laki yaitu, jika wanita yang ditalaq menikah pada masa iddahnya dengan laki-laki lain, lalu laki-laki itu menggaulinya, dan kemudian mereka berpisah. Maka, dalam hal ini baginya iddah yang baru (lain), sehingga masuklah dua iddah; b) Misal dari dua sebab dan dari dua laki-laki yaitu, jika wanita beriddah disebabkan suaminya yang wafat, berjima’ dengan syubhat, sehingga baginya iddah yang lain dan masuklah dua iddah  menjadi satu.

Karena iddah menurut mereka (mazhab Hanafi) adalah batasan waktu untuk menyelesaikan segala pengaruh pernikahan. Berbeda dengan Jumhur yang menjadikan iddah itu sebagai sebuah penantian.

Menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf, bahwasannya jika seorang suami mentalaq istrinya yang telah ia gauli dengan talaq bain sugro, kemudian dia menikahinya kembali sebelum masa iddahnya habis, dan mentalaqnya kembali sebelum ia gauli, maka wajib bagi wanita tersebut memulai iddahnya dengan iddah yang baru dan dia tidak beriddah dengan iddah yang pertama. Karena akadnya kembali menjadi kepada keadaan yang semula, dan iddah yang pertama masuk kedalamnya. Sehingga, jika dia ditalaq, secara hukum, talaqnya sebagaimana talaq yang terjadi setelah berjima’, sehingga wajib baginya melaksanakan iddah yang berdiri sendiri, dan dia mendapatkan seluruh mahar. Adapun Imam Malik dan Muhammad, tidak mewajibkan baginya iddah yang baru, tetapi menyempurnakan iddah yang pertama dan baginya setengah dari mahar yang telah ditentukan.[50]

Jumhur berkata, “Jika dua iddah bagi satu orang laki-laki dan dari satu jenis maka masuklah dua iddah. Sebagaimana seorang laki-laki yang mentalaq istrinya kemudian dia menggaulinya pada masa iddahnya yang dengan hitungan masa suci atau bulan, dan dia tidak tahu bahwa talaqnya adalah talaq bain. Atau, yang dia ketahui dia bisa ruju’, padahal tidak. Sehingga, masuklah dua iddah dan iddahnya dimulai dengan aqra’ atau bulan setelah terjadinya jima’. Dan termasuk didalamnya sisa iddah talaqnya, karena tujuan dari iddah talaq dan jima’ sama, sehingga tidak ada artinya untuk menggabungkannya, dan sisa itu menjadi hasil dari dua jenis.”[51]

Begitu pula, dua iddah masuk bila keduanya berbeda dan dari dua jenis, baik salah satunya dari kehamilan dan yang lain dari aqra’. Misalnya seorang laki-laki mentalaq istrinya dalam keadaan hamil, kemudian ia mengaulinya sebelum istrinya melahirkan. Atau, dia mentalaqnya dalam keadaan tidak hamil kemudian dia menggaulinya ditengah-tengah masa iddah dengan hitungan masa sucinya sehingga dia hamil. Maka dia melaksanakan dua iddah dengan melahirkan, baik dia melihat darah bersama kehamilan atau tidak. Dan bagi suaminya pada talaq raj’i untuk ruju’ sebelum dia melahirkan.[52]

Adapun dua iddah dari dua orang terjadi. Bila ada seorang wanita pada masa iddah pernikahan atau pada masa iddah jima’ yang syubhat, berjima’ dengan syubhat atau melakukan pernikahan yang rusak, serta yang menggaulinya bukan shohibul iddah yang pertama. Atau dia seorang istri yang beriddah dari jima’ yang syubhat, kemudian dia ditalaq setelah jima’ yang syubhat, maka tidak dapat bersatu. Berdasarkan atsar dari Ali t yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’ie. Jika dia mendapatkan kehamilan maka dia beriddah hingga melahirkan terlebih dahulu, sedangkan bila tidak hamil dia menyempurnakan iddah talaq walaupun jima’ syubhat mendahului talaq, disebabkan kuatnya iddah talaq berdasarkan pada akad yang diperbolehkan dan sebab yang disahkan, kemudiaan dipisahkan keduanya karena batalnya pernikahan, maka dia beriddah dengan sisa iddah dari yang pertama, kemudian baru beriddah dengan yang lain.

Dan seandainya wanita yang ditalaq menikah pada masa iddah talaqnya, maka dia beriddah dengannya dan dengan yang kedua (dobel), kemudian mereka berdua dipisahkan karena pernikahan mereka batil. Jadi, dia beriddah dengan sisa iddahnya dari pertama kemudian dia beriddah dari yang kedua.[53]

Adapun menurut mazhab Hanafi dia beriddah dari yang kedua setelah perpisahannya, dan iddahnya menjadi iddah dengan hitungan masa suci dari yang kedua dari sisa iddah yang pertama dan yang kedua (menjadi satu), karena tujuan daripada iddah mengetahui kebersihan rahim, dan kebersihan rahim dapat tercapai dengannya dari keduanya sekaligus.

Jika hamil, maka melahirkan mencangkup dua iddah menurut kesepakatan para ulama, sebagaimana  telah kami terangkan.

2. Cara mengetahui selesainya iddah

Jika terjadi perselisihan pada masa habisnya iddah, antara suami dengan istri yang ditalaq. Manakah yang dapat dibenarkan, suami atau istri ?

Masa habisnya iddah, dapat diketahui dengan perkataan atau perbuatan :

Dengan perbuatan, contohnya: wanita tersebut menikah dengan laki-laki lain setelah berlalunya masa yang sesuai dengan masa habis iddahnya. Kalau, wanita itu menyatakan (setelah menikah), “Masa iddah saya belum habis”. Maka, pernyataannya tersebut  tidak dapat dibenarkan, baik oleh suaminya yang pertama dan tidak pula oleh suaminya yang kedua. Dan pernikahannya dengan suami yang kedua diperbolehkan. Karena, keberaniannya menikah setelah berlalunya suatu masa, dimana masa (batasan waktu) tersebut dapat menunjukkan masa iddahnya telah habis, dikarenakan menyerupai masa habis iddahnya yang telah ditentukan sebelumnya. Dan ini dapat menjadi bukti bahwa masa iddahnya telah habis.

Dengan perkataan yaitu, pemberitahuan yang dilakukan oleh seorang wanita yang beriddah, bahwa masa iddahnya telah habis, pada masa yang dapat menunjukkan masa iddahnya telah usai, pada masa serupa dengan masa iddahnya. Contohnya, seorang wanita mengatakan, “Masa iddah saya telah berlalu”, dan masa ketika mengatakan hal tersebut menyerupai masa habis iddahnya. Jadi, bila suaminya menganggap ia telah berbohong, sebelum wanita tersebut bersumpah atas perkataannya. Maka, bila masa ketika ia menyatakan hal tersebut tidak serupa masa habis iddahnya, perkataannya tidak dapat diterima. Karena, perkataan yang dapat dipercaya, dibenarkan takkala tidak menyelisi dzahirnya (yang tampak).

Batasan waktu yang paling cepat (minimal), bagi seorang wanita untuk menyatakan, bahwa masa iddahnya telah usai pada waktu tersebut, sehingga pernyataannya dapat dianggap benar. Secara rinci, dalam mazhab Hanafi disebutkan sebagai berikut :

1)      Dari segi bulan. Pernyataannya tidak dapat dianggap benar, jika kurang dari tiga bulan, pada iddah talaq. Dan pada iddah yang disebabkan kematian suaminya, pernyataannya tidak dapat dibenarkan, jika kurang dari empat bulan sepuluh hari.

2)      Dari segi aqra’ (haid). Bila ia wanita yang beriddah dikarenakan kematian suaminya. Maka, pernyataannya tidak dapat dibenarkan, jika kurang dari empat bulan sepuluh hari. Sedangkan, jika ia wanita yang beriddah karena ditalaq: a) Bila, ia memberitahukannya, pada masa yang serupa dengan masa habis iddahnya, maka perkataannya diterima (dipercaya); b) Begitu pula sebaliknya, bila ia memberitahukannya, pada masa yang tidak sesuai dengan masa habis iddahnya, maka perkataannya tidak dapat diterima. Kecuali, bila ia menjelaskan perkataannya dengan berkata, “Saya telah mengugurkan janin yang telah jelas berbentuk manusia (atau berbentuk salah satu bagiannya).” Sehingga, perkataannya dapat diterima. Karena, ia menjaga (berhati-hati) dalam memberitahukannya, dari habis masa iddahnya. Dan Allah I menganggapnya dapat dipercaya pada masalah itu, dengan firman-Nya:

وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنّ

“Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya.” (QS. Al-Baqarah [2]:228)

Di dalam tafsir dikatakan: bahwa yang dimaksud yaitu, haid dan janin (kandungan). Dan perkataannya, perkataan yang dapat dipercaya dengan sumpahnya.

Jadi, ketika ia memberitahukan bahwa masa iddahnya telah usai, pada masa yang serupa dengan masa habis iddahnya, perkataannya diterima. Begitu pula sebaliknya, bila ia memberitahukannya pada masa yang menyelisihi masa habis iddahnya, perkataannya tidak dapat diterima. Karena, perkataan yang dapat dipercaya (jujur), diterima pada sesuatu yang tidak dianggap bohong oleh yang dzahir, sedangkan yang dzahir disini, menganggapnya bohong.

Adapun masa yang paling cepat (minimal) yang dapat membenarkan wanita yang beriddah dengan aqra’ telah habis masa iddahnya :

Abu Hanifah berkata: Masa yang paling cepat bagi wanita yang merdeka enam puluh hari. Mengambil jalan (dasar), dengan pertengahan masa haid yaitu lima hari (pertengahan antara 1dan7), karena biasanya masa haid itu tujuh hari. Maka, tiga kali haid menjadi lima belas hari. dan suci empat puluh lima hari bila dimulai dengan suci, maka jumlahnya menjadi enam puluh hari

Shohibani berkata: tiga puluh sembilan hari, mengambil jalan dengan haid yang paling sedikit yaitu tiga hari, maka jumlah haid menjadi sembilan hari bila dimulai dengan haid tiga hari, kemudian suci lima belas hari, kemudian haid tiga hari, kemudian suci lima belas hari, kemudian haid tiga hari, maka menjadi tiga puluh sembilan hari.

Adapun tentang pendapat mazhab yang lain telah kami terangkan di atas.[54]

I.    Hukum-Hukum Seputar Iddah atau Hak-Hak dan Kewajiban Bagi Wanita Yang Melaksanakan  Iddah

1. Dilarang  melamar wanita yang sedang melaksanakan iddah, dengan jelas

Dilarang bagi seorang laki-laki mengkhitbah (melamar) wanita yang sedang melaksanakan iddah, dengan jelas. Baik dia beriddah karena ditalaq atau ditinggal mati suaminya. Pada wanita yang ditalaq dengan talaq raj’i dilarang karena mereka masih dihukumi sebagai istri, sehingga tidak perbolehkan mengkhitbahnya. Demikian pula pada wanita yang ditalaq tiga (bain) dan yang ditinggal mati suaminya, masih ada sebagian pengaruh pernikahan.[55]

Tetapi, diperbolehkan bagi seorang laki-laki melamar wanita yang sedang beriddah pada iddah wafat, berdasarkan firman Allah I :

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. “ (QS. Al-Baqarah[2]: 235)

2. Diharamkan menikah

Berdasarkan ijma’ dilarang bagi laki-laki ajnabi menikahi wanita yang sedang beriddah, pada segala jenis iddah apapun, firman Allah I :

“Dan janganlah kamu ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis iddahnya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 235)

yaitu janganlah kamu mengadakan akad nikah hingga habis masa iddah yang telah ditetapkan Allah I padanya. Disebabkan, dia masih terikat dengan pernikahannya pada talaq raj’i, serta masih ada sebagian pengaruh pernikahan pada talaq yang ketiga dan bain. Dan untuk mencegah bercampurnya dua air dan rancunya nasab.

Jadi, bila dia menikah maka pernikahannya batal. Dia dilarang menikah disebabkan hak suaminya yang pertama. Sehingga bila dia menikah, sama halnya dia menikah di dalam pernikahannya yang pertama, dan wajib memisahkan keduanya. Bila belum digauli, maka dia melanjutkan iddahnya dan tidak terputus dengan adanya akad yang kedua, karena batil.[56]

3. Dilarang keluar dari rumah

Dalam masalah ini (keluar rumah bagi wanita yang sedang beriddah) para fuqoha berbeda pendapat. Mazhab Hanafi, membedakan hukumnya antara wanita yang ditalaq dengan yang ditinggal mati suaminya. Mereka mengatakan, haram bagi wanita yang ditalaq dalam keadaan balig, berakal, merdeka, dan muslimah yang sedang iddah, keluar pada malam dan siang hari dari rumahnya, baik ia beriddah disebabkan talaq bain, ketiga atau raj’i. Berdasarkan firman Allah I tentang talaq raj’i:

“Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.” (QS. Ath-Thalaq[65]:1)

“Perbuatan keji yang terang” mencangkup zina, sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhum. Mencangkup pula segala perbuatan keji (kotor) yang dilakukan kepada keluarga suaminya, sebagaimana perkataan Ubay bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Ikrimah, dan selain mereka Radhiyallahu ‘Anhum.[57] Maka, jika  ia telah berbuat keji diperbolehkan mengeluarkannya. Misalnya berzina, ia dikeluarkan untuk menegakkan had atasnya.[58] Abu Hanifah berpendapat, “Perbuatan keji (fahisah)” disini yaitu keluar itu sendiri, berdasarkan firman Allah I :

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal.” (QS. Ath-Thalaq[65]:6)

Dan perintah untuk bertempat tinggal pada ayat ini menunjukkan larangan untuk keluar. Adapun pada talaq yang ketiga (talaq bain) dilarang keluar rumah, berdasarkan keumuman ayat tentang larangan untuk keluar rumah, yang bertujuan untuk menjaga nasab dan bercampurnya air.[59]

Sedangkan wanita yang ditinggal mati suaminya, ia tidak diperbolehkan keluar dari rumahnya pada malam hari, tetapi diperbolehkan baginya keluar dari rumahnya pada siang hari untuk memenuhi kebutuhannya. Dia membutuhkan keluar pada siang hari untuk mencari nafkah, disebabkan, dia tidak mendapatkan nafkah dari suaminya yang telah wafat, tetapi nafkahnya ditanggung sendiri.[60] Berbeda dengan wanita yang ditalaq, nafkahnya masih ditanggung oleh suaminya, sehingga, dia tidak membutuhkan keluar dari rumahnya untuk mencari nafkah.

Dan tidak diperbolehkan bagi wanita yang sedang iddah pada talaq bain atau raj’i, keluar dari rumah tempat ia beriddah didalamnya, untuk bepergian. Walaupun untuk melaksanakan haji, yang fardhu (wajib), jika dia beriddah pada pernikahan yang shahih (sah). Tidak dibolehkan juga bagi suaminya bepergian bersamanya, berdasarkan firman Allah I :

“Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar.” (QS. Ath-Thalaq [65]:1)

Bagi wanita yang iddah pada pernikahan yang rusak diperbolehkan keluar; karena hukum-hukum seputar iddah hanya mengatur perkara-perkara pada pernikahan yang sah. Dan diperbolehkan juga bagi wanita yang masih kecil atau gila untuk keluar dari rumahnya bila bukan pada talaq raj’i, diizinkan  suaminya atau tidak. Karena, hak Allah I pada iddah tidak diwajibkan pada anak kecil dan yang gila, disebabkan wanita yang masih kecil tidak memiliki anak, maka bagi suami tidak hak. Tetapi diperbolehkan bagi suami melarang wanita yang gila keluar untuk menjaga airnya dan menjaganya dari ikhtilat. Adapun jika pada talaq raj’i tidak boleh bagi wanita yang masih kecil keluar tanpa izin suami, karena dia istrinya.

Ini semua jika berdasarkan keinginannya sendiri. Adapun bila dalam keadaan darurat diperbolehkan baginya keluar rumah.[61]

4. Tetap tinggal dirumahnya dan mendapatkan nafkah

Ini adalah hak bagi istri yang wajib dilaksanakan oleh suami,  menurut firman Allah I :

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertaqwalah kepada Allah Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.” (QS. Ath-Thalaq[65]: 1)

Rumah yang dimaksud ialah rumah yang ditempatinya ketika terjadi perpisahan, baik dia wanita yang ditalaq atau wanita yang suaminya wafat.

Mazhab Hanafi berpendapat, diperbolehkan bagi wanita yang ditalaq raj’i tinggal satu tempat dengan suaminya, dan bagi suaminya jika ingin kembali (ruju’) hendaknya menggaulinya setelah dia talaq, karena, pada talaq raj’i baginya tidak haramkan untuk menggaulinya, menurut pendapat mereka yang rajih. Sehingga, bila wanita yang ditalaq berjima’ dengan yang mentalaq, jima’nya menjadikannya ruju’.

Adapun, pada talaq bain dan talaq tiga, maka harus ada pemisah antara laki-laki dengan wanita yang ditalaq. Jika rumahnya luas, maka wanita yang ditalaq tinggal di dalam salah satu kamar, dan tidak boleh bagi laki-laki yang mentalaq melihatnya dan bersamanya di dalam kamar tersebut. Sedangkan, bila rumahnya sempit atau hanya ada satu kamar, diwajibkan bagi yang mentalaq untuk keluar dari rumah tersebut hingga ia menyelesaikan masa iddahnya. Dikarenakan, tinggalnya seorang wanita yang ditalaq di dalam rumahnya ketika menjadi suami istri selama waktu talaq wajib menurut syar’ie. Agar tidak terjadi khalwat dengan laki-laki ajnabiyah.

Tetapi, jika rumah tersebut sempit dan suaminya fasik. Maka, wanita yang ditalaq atau yang suaminya meninggal ma’dzur dan diperbolehkan baginya untuk keluar dari rumah tersebut. Dan suaminya yang menentukan tempatnya untuk berpindah, pada iddah talaq. Adapun pada iddah wafat, maka yang menentukan dia sendiri. Begitu juga, bila tetangganya mengganggunya, diperbolehkan baginya keluar dari rumah tersebut, menurut mazhab Hanafi.

Adapun bagi wanita yang suaminya meninggal, di sana ada perbedaan pendapat. Di alam mazhab Syafi’ie ada dua pendapat:

Pertama: Dia tidak mendapatkan tempat tinggal, tetapi terserah dia, dan ini adalah perkataan Ali, Ibnu Abbas, dan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhum.

Kedua: Dia mendapatkan tempat tinggal, dan ini pendapat yang as shah. Ini perkataan Umar, Ustman, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhum dan lain-lain.[62]

Nafkah bagi wanita yang sedang iddah :

Diwajibkan bagi seorang suami yang mentalaq istrinya untuk memberikan nafkah kepada istrinya (wanita) yang sedang beriddah, dengan perincian sebagai berikut :

1)   Pada wanita yang ditalaq dengan talaq raj’i.

Dia berhak mendapatkan nafkah dari suaminya dengan segala macamnya, baik berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal, menurut kesepakatan para ulama. Karena, wanita yang iddah masih sebagai istri selama dia dalam masa iddah.

2)   Jika wanita yang beriddah disebabkan talaq bain.

Apabila dia hamil, menurut kesepakatan para ulama, ia berhak mendapatkan nafkah dari yang mentalaqnya, dengan segala macamnya, berdasarkan firman Allah I,

“Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah di talaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka itu nafkahnya hingga mereka bersalin.” (QS. 65:6)[63]

Dan bila dia tidak hamil, maka ia tidak berhak mendapatkan nafkah, menurut, mazhab Hambali, berdasarkan dalil bahwa suami Fatimah binti Qais telah mentalaqnya dalam keadaan lapar, sedangkan Rasulullah r tidak mewajibkan baginya mendapatkan nafkah dan tempat tinggal, tetapi beliau bersabda,

إِنَّمَا النَّفَقَةُ وَالسُّكْنَى لِلْمَرْأَةِ إِذَا كَانَ لِزَوْجِهَا عَلَيْهَا الرَّجْعَة

“Sesungguhnya nafkah dan tempat tinggal bagi seorang wanita jika suaminya dapat ruju’ padanya.” (HR. Nasai)[64]

Tetapi ia berhak mendapatkan tempat tinggal saja, menurut mazhab Maliki dan Syafi’ie, berdasarkan firman Allah I,

“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu. (QS. Ath-Thlaq [65]:6)

Maka ia berhak mendapatkan tempat tinggal secara mutlak, baik ia dalam keadaan hamil atau tidak. Tetapi ia tidak wajib baginya mendapatkan nafkah berupa makanan dan pakaian, sebagaimana yang dapat dipahami dari firman Allah I,

“Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah di talaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka itu nafkahnya hingga mereka bersalin.” (QS. Ath-Thalaq [65]:6)

karena, secara tidak langsung, ayat ini menunjukkan  ketidak wajibannya memberikan nafkah kepada wanita yang tidak hamil.

3)   Pada wanita yang beriddah disebabkan oleh kematian suaminya.

Ia tidak mendapatkan nafkah, baik dalam keadaan hamil atau tidak, dan tidak ada perselisihan di kalangan ahlul ‘ilmi.[65]

4)   Pada wanita yang beriddah dari pernikahan yang rusak atau syubhat.

Tidak ada nafkah baginya menurut Jumhur. Karena, pada pernikahannya yang rusak tidak ada nafkah baginya, jadi tidak ada nafkah baginya pada saat iddah walaupun hamil.[66]

Tetapi mazhab Maliki mewajibkan baginya untuk mendapatkan nafkah, jika kehamilnya dari laki-laki yang telah menggaulinya. Karena, dia hamil disebabkan olehnya. Adapun, bila ia tidak hamil atau pernikahannya rusak dikarenakan adanya  li’an. Maka,  dia hanya berhak mendapatkan tempat tinggal saja, pada tempat dia berada.[67]

5. Ihdad atau hidad

Secara bahasa kata الحداد atau الإحداد maknanya yaitu meninggalkan perhiasan karena sedang melaksanakan iddah.[68]

Secara istilah yaitu, meninggalkan wangi-wangian, perhiasan, celak dan minyak (yang wangi maupun tidak), yang kesemuanya dipakai khusus bagi tubuh. Tetapi tidak dilarang memperbagus tempat tidur, karpet dan peralatan rumah tangga yang lainnya.

Diperbolehkan pula bagi seorang wanita untuk tidak berhias (berhidad) disebabkan kematian keluarganya, seperti: ibu, ayah dan saudaranya selama tiga hari saja. Tetapi diharamkan bila lebih dari tiga hari, pada kematian selain suaminya. Berdasarkan hadist shahih,

لاَيَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ, أَنْ تحََِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَ ثٍ, إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ, أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Tidak halal (boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat)          berkabung atas mayat lebih dari tiga hari kecuali atas seorang suami empat bulan sepuluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)[69]

Sedangkan bagi suami, diperbolehkan untuk melarangnya berhidad atas kematian kerabatnya. Karena, hidad adalah hak suami. Dan waktu berhidad atas kematian seorang suami yaitu empat bulan sepuluh hari.

Menurut Jumhur, hidad mencangkup setiap istri pada pernikahan yang sah, baik tua atau muda, gila atau tidak, muslimah atau ahlul kitab. Begitu pula pada budak wanita yang telah dijadikan istri, menurut mazhab Hambali. Dan tidak diwajibkan hidad pada budak perempuan menurut mazhab Maliki dan Syafi’ie, karena dia tidak termasuk dalam kategori istri.

Tidak ada ihdad bagi wanita selain istri, seperti: ummu walad jika majikannya meninggal, budak wanita yang digauli majikannya, wanita yang digauli dengan syubhat, wanita yang berzina dan wanita yang menikah dengan pernikahan yang rusak. Karena, hadist di atas mengkhususkan hidad hanya bagi seorang suami, dan dikarenakan wanita yang menikah dengan pernikahan yang rusak, sejatinya bukan seorang istri.

Ihdad wajib menurut syar’i bagi para istri, dan para fuqoha telah bersepakat bahwa ihdad tidak wajib bagi wanita yang ditalaq raj’i. Karena,  secara hukum ia masih seorang istri, dan hendaknya ia berhias untuk suaminya, serta mendekatinya agar ia mencitainya dan mengembalikannya sebagai seorang istri (meruju’nya).

Mereka (para fuqoha) juga bersepakat bahwa hidad wajib bagi wanita yang suaminya meninggal, berdasarkan hadist di atas.

Adapun Jumhur, tidak mewajibkan baginya berhidad pada talaq bain, tetapi mustahab saja. Dikarenakan, suaminya telah menyakitinya dengan talaq bain. Oleh karena itu, dia tidak diharuskan menampakkan kesedihan dan duka atas pernikahannya. Tetapi baginya hidad hanya mustahab, agar tidak terjadi kerusakan atau fitnah jika ia  berhias.[70]

6. Bersambungnya nasab, anak yang lahir pada masa iddah

Tentang masalah ini, di dalam mazhab Hanafi dijelaskan sebagai berikut:

Pertama: Menurut mereka, nasab anak dari wanita yang ditalaq raj’i tetap bersambung bila ia melahirkan dalam jangka waktu dua tahun atau lebih, sekalipun waktunya panjang. Karena, ini menunjukkan bahwa masa sucinya panjang, dan kehamilannya telah terjadi pada masa iddah, selama ia belum menyatakan bahwa masa iddahnya telah habis dan waktunya sesuai dengan lamanya masa iddah.

Kedua: Nasab anak yang dilahirkan dari seorang wanita yang telah ditalaq tiga tetap bersambung, tanpa adanya perselisihan. Selama ia belum menyatakankan bahwa masa iddahnya telah habis, dan ia melahirkannya pada masa kurang dari dua tahun. Sebab hal ini menandakan, bahwa janin anak tersebut telah ada di dalam rahim pada saat terjadinya talaq. Dan masa kehamilan menurut mereka (mazhab Hanafi) tidak dapat lebih dari dua tahun. Oleh karena itu, jika ia melahirkan dalam jangka waktu lebih dari dua tahun terhitung semenjak dari hari perpisahannya, maka nasab anak tersebut tidak bisa ditetapkan bersambung dengan suami (yang mentalaq). Sebab hal ini menunjukkan, bahwa kehamilannya terjadi setelah ia ditalaq. Sehingga, anak tersebut tidak mungkin berasal darinya, dikarenakan pula bisa berarti dia telah berjima’ dengan haram. Kecuali, bila suaminya menyatakan bahwa ia telah menggaulinya. Dan ini menunjukkan, bahwa ia telah menggaulinya dengan syubhat pada masa iddah.

Ketiga: Nasab anak yang dilahirkan dari seorang wanita yang suaminya telah meninggal tetap bersambung, walaupun ia tidak pernah menggaulinya. Selama ia belum menyatakan bahwa masa iddahnya telah habis dan kelahiran tersebut terjadi dalam tempo kurang dari dua tahun semenjak waktu kematian.

Keempat: Apabila ada seorang wanita yang telah mengetahui bahwa masa iddahnya telah habis, kemudian dia melahirkan seorang anak pada waktu kurang dari enam bulan semenjak waktu penetapan (habisnya masa iddah). Maka, nasab anak tersebut tetap bersambung. Adapun, bila tampak dengan jelas kebohongan pada dirinya, maka batallah ketentuan ini. Sedangkan, bila ia melahirkan pada masa enam bulan atau lebih, maka nasab anaknya tidak dapat bersambung.[71] Karena, sudah jelas bahwa dia mengalami kehamilan setelahnya.

Berbicara tentang masalah ini, di dalam mazhab yang lain dibahas hingga masa paling lama dalam kehamilan, menurut mazhab Syafi’ie dan Hambali adalah empat tahun.[72]

7. Tetapnya harta warisan bagi wanita yang ditalaq jika suaminya wafat pada masa     iddah

Apabila ada seorang suami yang mentalaq istrinya dengan talaq raj’i wafat, sebelum habis masa iddahnya wanita (istri) yang ia talaq. Maka, mereka tetap dapat saling mewariskan. Di dalam masalah ini tidak ada perselisihan diantara para ulama, baik talaq itu terjadi ketika dalam keadaan sakit atau sehatnya suami yang mentalaq. Sebab, secara hukum mereka masih suami istri dan ini merupakan sebab berhaknya mendapat harta warisan bagi seorang suami atau istri.

Sedangkan, bila suami tersebut mentalaq istrinya dengan talaq bain atau talaq tiga dalam keadaan suami sakit, dan istrinya (yang ditalaq) rela dengan talaq tersebut, maka, ia tidak dapat mewariskan, menurut ijma’. Begitu pula sebaliknya, bila ia tidak rela dengan talaq tersebut, maka ia dapat mewarisi dari suaminya, menurut Jumhur. Berdasarkan riwayat  jama’ah dari sahabat, diantaranya: Umar, ustman, Ali, Aisyah dan Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhum.

Adapun, bila tindakan pada diri (suami) yang mentalaq berlawanan dengan tujuannya. Maka, inilah yang disebut dengan talaq firor (talaq yang dilakukan pada saat sakitnya orang yang mentalaq, dengan tujuan agar wanita (istri) yang ditalaq tidak mendapatkan harta warisan), sebagaimana penjelasan diawal. Maka, ia tidak dapat mewarisi, menurut mazhab Syafi’ie. Sebab, pernikahannya telah hilang dengan adanya ibanah (talaq tiga). Dan wanita yang ia talaq tidak mendapatkan harta warisan.[73]

J. Penutup

Akhirnya, dengan kerendahan hati kami mohon maaf sebesar-besarnya jika terdapat kekurangan dan kelemahan dalam makalah kami ini. Ini semua tidak terlepas dari segala kekurangan dan terbatasnya kemampuan pada diri kami. Kami berharap saran dan kritik dari pembaca demi menuju perbaikan yang lebih sempurna. Kita memohon kepada Allah I, semoga kita menjadi hamba-hambanya yang senantiasa bepegang teguh dengan kitab-Nya.

Washalatu Wassalam ‘ala Muhammad r          

Wallahu a’lam bish showab

Daftar Pustaka

Al Qur’an dan terjemahannya.

Abdullah Bin Abdurrahman. Taisirul ‘Alam syarh ‘Umdatul Ahkam. Daarul Fikr.        Cet:VII. Th: 1987 M.

Al Baghowi, Abi Muhammad al Husain bin Mahmud. Syarhus Sunnah. Daarul Fikr.     Beirut. Cet: 1994 M.

Al Husaini, Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad. Kifayatul Akhyar Terjemah.           Bina Iman. Surabaya.

Al-Jazairi, Abdur Rahman. Kitabul fiqh ‘ala Mazahib al ‘Arba’ah. Darul Kutub Al      ‘Ilmiyah. Beirut. Th: 1990 M.

Al Jazairi, Abu Bakar Jabir. Minhajul Muslim Terjemah. Darul Falah. Cet: I. Th: 2000M.

Al Jauziyah, Ibnu Qoyyim.Zaadul Ma’ad. Ar Risalah. Beirut. Cet: III. Th: 1998 M.

Al Misri, Ibnu Mandzur Al Afriqi. Lisanul Arab. Darus ٍShodir. Beirut.

Al Mughniyyah, Muhammad Jawad. Fiqih Lima Mazhab. Basrie Press. Jakarta. Cet:I.             Th:1994 M.

Al Maghribi, Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Abdir Rahman. Manahibul Jalil           Syarh Mukhtasar Khalil. Daarul Kutub Al ‘Ilmiah. Beirut. Cet: I. Th: 1995M.

An Nawawi, Abi Zakaria Muhyidin bin Syarof. Al-Majmu’ syarhul muhazab. Daarul Fikr.       Beirut. Cet: I. Th: 1417 H / 1996 M.

Ar Rofi’i, Muhamad Abdul karim. Al-Aziz Syarhul Wajiz al-ma’ruf bisyarhil kabir. Darul        kutub Al ‘Ilmiyah. Beirut. Cet: I. Th: 1417 H / 1997 M.

Ashalul Madarik. Daarul Kutub Al ‘Ilmiah. Beirut. Cet: I. Th: 1995 M.

Asy Syafi’i, Muhamad bin Idris. Al-Umm. Daarul Ma’rifah. Beirut.

Asy Syirazi, Imam Majiduddin Muhammad bin Ya’qub. Qomus Al Muhith. Daarul Kutub         Al ‘Ilmiah. Beirut. Cet: I. Th: 1995 M.

Ath-Thabari, Imam Ibnu Jarir. Jami’ul Bayan. Daar al-Fikr. Beirut. Cet: I. Th; 2001M.

Az Zuhaili, Duktur Wahbah. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Daarul Fikr. Dimasqa.   Cet: III. Th: 1409 H / 1989 M.

Bukhori. Shohih Bukhori. Daarus Salam. Riyadh. Cet: I. Th: 1997 M.

Ibnu Katsir, Abu Fida’ Isma’il. Tafsir Al Qur’anul Adzim. Maktabah ‘Asriyah. Beirut.   Cet:III. Th: 2000 M.

Ibnu Qudamah. Al-Mughni. Hijr. Qohiroh. Cet: II. Th: 1412H / 1992 M.

Ibnu Taimiyah, Syaikul Islam Ahmad Majmu’ fatawa. Th: 1418H / 1997 M.

Malik, Imam. Al- Muwatha’. Daarul Fikr. Beirut. Cet: III. Th: 2002 M.

Ma’luf, Luwis..Al-Munjid fil Lughoh. Darul masriq. Beirut.

Munawir, Ahmad Warson. Kamus Al-Munawir Arab-Indonesia. Yogjakarta. Cet: 1984M.

Muslim, Imam. Shohih Muslim. Daarus Salam. Riyadh. Cet: I. Th: 1998 M.

Nasai, Imam. Sunan Nasai. Daarus Salam. Riyadh. Cet: I. Th: 1999 M.

Sabiq, Sayid. Fiqh Sunnah. Darul Fikr. Beirut. Cet: IV. Th: 1403 H / 1983 M.

 


[1] Al Munjid fie lughoh, hlm:490.

[2]ِِِِِِ Al Aziz syarh al wajiz, jilid 9, hlm:422.

[3] Al Munjid fie lughoh, hlm:490, Lisanul Arab, jilid 3, hlm:282, Kamus al muhith, jilid 3, hlm:169, dan Mu’jam al wasith : 587.

[4] Al Aziz syarh al wajiz, jilid 9, hlm:423.

[5] Kitabul fiqh ala madzahib arba’ah, jilid 4, hlm:451 dan  Al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm:624.

[6] Ibnu Katsir, TafsirAl-Qur’anul ‘Adzim, beliau berkata: ini adalah hadist gharib, jilid 2, hlm:236.

[7] Jami’ul Bayan, jilid 4, hlm:158.

[8] Al Mughni, jilid 11, hlm:193.

[9] Ibid, hlm:193-194.

[10] Kitabul fiqh’ ala madzahib arba’ah, jilid 4, hlm:452 dan  al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm:629.

[11] Al FiqhulIslami, jilid 7, hlm:128.

[12] Zaadul ma’ad, jilid 5, hlm:590-592, dan al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm:628.

[13] Al Mughni, jilid 10, hlm:153 dan al Kaafi, jilid 3, hlm:301.

[14] Al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm:628.

[15] Al Aziz syarh al wajiz, jilid 8, hlm:250.

[16] Al Majmu’ syarh al muhadzab, jilid 19, hlm:209, al Mughni, jilid 10, hlm:153 dan al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm:629.

[17] Al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm:321

[18] Ashlmul Madarik, jilid 2, hlm:26.

[19] Al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm:633.

[20] Zaadul ma’ad, jilid 5, hlm:528.

[21] Majmu’ syarh al muhadzab , jilid 7, hlm:385.

[22] Zaadul ma’ad, jilid 5, hlm: 646 dan al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm: 632.

[23] Sunan Ibnu Majah, hlm: 617.

[24] Shahih Bukhari, hlm: 5251dan Shahih Muslim, hlm: 1471.

[25] Zaadu ma’ad, jilid 5, hlm:546, Kitabul fiqh ala madzahib al arba’ah, jilid 4, hlm: 474 dan al Fiqhul Islami, jilid: 7, hlm:630.

[26] Al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm: 630.

[27] Ibid.

[28] Al Ghoyah wa taqrib, hlm: 48 dan al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm: 634.

[29] Shahih Bukhari, hlm: 5320.

[30] Kifayatul Akhyar, jilid 2, hlm :260.

[31] Al Aziz syarh al wajiz , jilid 9, hlm: 446, Majmu’ syarh al muhadzab, jilid 19, hlm: 220, Al Mughni, jilid 11, hlm: 227, Kitabul fiqh  ala madzahib al  arba’ah, jilid 4, hlm: 456-465 dan Zaadul Ma’ad, jilid 5, hlm: 530.

[32] Sunan Abu Dawud, hlm: 1844, musnad Imam Ahmad , hlm: 16376 dan Sunan Ad Darimi, hlm: 2366.

[33] Al Mughni, jilid 11, hlm: 221, al Aziz syarh al Wajiz, jilid 9, hlm: 449 dan al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm: 637.

[34] Al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm: 638, al Aziz syarh al wajiz , jilid 9, hlm: 444 dan al Mughni , jilid 11, hlm: 235.

[35] Syarhus Sunnah, jilid 5, hlm: 497 dan Al mughni, jilid 11, hlm: 223.

[36] Al mughni, jilid 11, hlm: 195.

[37] Al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm: 639.

[38] Al mughni, jilid 11, hlm: 203.

[39] Ibid, hlm: 210.

[40] Al aziz syarh al wajiz, jilid 9, hlm: 441.

[41] Al Mughni, jilid 11, hlm: 211.

[42] Al Mughni, jilid 11, hlm: 214, al Aziz syarh al wajiz , jilid 9, hlm: 437 dan Manahibul Jalil , jilid 5, hlm: 475.

[43] Al Mughn, jilid 11, hlm:216 dan Al fiqhul Islami, jilid 7, hlm: 642.

[44] Al Mughni, jilid 11, hlm:219 dan Ashlmul Madarik, jilid 2, hlm: 37.

[45] Al Mughni, jilid 11, hlm: 226.

[46] Al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm: 647.

[47] Ibid, hlm: 648.

[48] Al Fiqhul Islami, jilid : 7, hlm: 649.

[49] Al Mughni, jilid 4, hlm: 208-308.

[50] Ibid, hlm: 244.

[51] Al Aziz syarh al wajiz, jilid 9, hlm: 458.

[52] Ibid, hlm: 464.

[53] Ibid, hlm: 461.

[54] Al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm: 651.

[55] Al Fiqhul Islam, jilid 1,  hlm:653.

[56] Al Mughni,  jilid 11,  hlm:237.

[57] Tafsir Al-Qur’anul Adzim jilid 4,  hlm:341.

[58] Syarhus Sunnah, jilid 5,  hlm:485.

[59] Al Fiqhul Islami,  jilid 7,  hlm:654.

[60] Syarhus Sunnah,  jilid 5,  hlm:485 dan Al Mughni,  jilid 11, hlm:297.

[61] Al Fiqhul Islami jilid:7  hlm:654-655 dan  Al mughni, jilid 11,  hlm:303.

[62] Syarhus Sunnah, jilid 5, hlm.490.

[63] Ashlmul Madarik, Jilid 2, hlm. 38.

[64] Sunan an Nasai,  kitab: Talaq, bab: Rukhsoh fie dzalik, no. 3432.

[65] Syarhus Sunnah, jilid 5, hlm. 490.

[66] Ibid hlm. 489.

[67] Al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm. 658.

[68] Kamus al Muhith, jilid 1, hlm.297, Lisanul ‘Arab ,jilid 3, hlm.143, dan Al Munjid, hlm. 121.

[69] Shahih Bukhari, kitab: Talaq, bab: Tuhiddu al mutawaffa anha, no. 5334 dan Shahih Muslim, kitab: Talaq, bab: Wujubul Ihdad, no. 3726.

[70] Al Mughni, jilid 11, hlm:284 dan Ashlmul Madarik, jilid 2,  hlm:34.

[71] Al Mughni, jilid 11, hlm: 234.

[72] Al Fiqhul Islami, jilid 7, hlm: 663.

[73] Ibid, hlm: 764.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: