WANITA JADI IMAM ?


Muqqadimah

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi telah kita ketahui bahwa telah muncul pada zaman sekarang ini syubhat-syubhat yang menyamakan derajat laki-laki dengan perempuan sehingga muncul peristiwa seorang perempuan (Aminah wadud) menjadi khatib serta imam bagi laki-laki dan perempuan dalam gereja. Yang intinya adalah membikin syubhat dalam agama ini sehingga yang dilarang menjadi boleh , yang haram  menjadi halal. Maka kami di sini akan mencoba menguraikan sedikit permasalahan wanita yaitu tentang keimaman wanita dalam shalat bagi laki-laki. Yang mana mereka para orientalis berdalil bahwa perempuan boleh menjadi pemimipin negara dengan bolehnya perempuan menjadi imam bagi laki-laki. Maka mari kita kupas apakah boleh seorang perempuan itu menjadi imam shalat bagi laki-laki? Sehingga mereka berdalil dengan masalah ini untuk melancarkan misi mereka.

Dalil–Dalil yang Dianggap Membolehkan

عن أمي ورقة بنت عبدالله بن نوفل الأنصارية أن النّبي لما غزبدرا قالت قلت لهه يارسول الله ائذن   لي فالغزو معك أمرّض مرضكم لعل الله أن يرزقني شهادة قال قرّى قي بيتك فإن اللهتعالى يرزقك الشهادة قال فكانت تسمى الشهية قال وكانت قد قرأت القرآن فاستأذنت النبي أن تتخذ في دارها مؤذنا فأذن لها قال وكانت قد دبّرت غلاما لهاوجارية فقاما إليها بالليل فغمّاها بقطيفة لها حتى ماتت وذههب فأصبح عمر فقام في الناس فقال من كان عنده من هذين علم أومنم رآهما فليجئ بهما فصلبافكنا أوّل مصلوب بالمدينة……

Artinya: Dari Ummu Waraqah bin Naufal al Anshari, sesungguhnya ketika Nabi perang Badar saya berkata kepada beliau: wahai Rasullullah, izinkanlah saya ikut perang bersama tuan supaya saya dapat merawat orang-orang tuan yang sakit, sehingga mudah-mudahhan Allah memberikan kepadaku kematian syahid. “beliau bersabda :”Tinggallah di rumahmu sesungguhnya Allah akan memberikan kepadamu kematian syahid . Rowi berkata: Maka kemudian ia disebut perempuan syahid.”Rowi berkata:”dia adalah perempuan yang bisa membaca al-Qur`an, lalu ia meminta izin kepada Nabi agar di rumahnya diangkat seorang laki-laki sebagai muadzin. Beliau pun memberinya izin. Pada waktu itu ia telah menetapkan seoarang budak laki-laki dan budak perempuanya menjadi merdeka setelah ia meninggal. Teryata kedua budak ini pada malam hari pergi ke tempatnya, lalu menyekap mukanya dengan selimutnya sampai mati, lalu kedua orang itu pergi pada pagi harinya Umar mengetahui, lalu dia memberi tahu kepada orang banyak . Ia berkata: ‘Barang siapa yang mengetahui atau melihat dua orang budak tersebut, hendaklah ia membawa keduanya (kepadaku),”kedua orang itu pun ia perintahkann untuk disalib”. Inilah kedua orang yang pertama dihukum salib di kota Madinah….. [1]

عن أمي ورقة بنت عبدالله بن الحارث بهذاالحديث قال وكان رسول الله يزورها في بيتها وجعل لها مؤذنا يؤذن لها وأمرها أن تؤم أهل دارها قال عبدالرحمن فأنارأيت مؤذنها شيخا كبيرا.

Artinya: Dari Umi Waroqoh putri Abdullah bin Harist, tentang kisah di atas dan disebutkan, “Dan Rasulullah pernah mengunjunginya di rumahnya dan beliau mengakat seorang laki-laki sebagai muadzin untuknya yang mengumandangkan adzan untuk dirinya dan beliau menyuruh perempuan itu mengimami penghuni rumahnya (dalam shalat).” Abdurrahman berkata: “Saya sendiri melihat bahwa laki-laki yang menjadi muadzinnya adalah seorang laki-laki yang sudah sangat tua.[2]

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu dawud menunjukkan bahwa seorang perempuan bernama Ummu Waraqah dibenarkan oleh Rasulullah menjadi imam dalam keluarganya.

Hadits Ummu Waraqah di atas menerangkan adanya persetujuan Rasulullah menjadi imam bagi anggota keluarganya. Keluarga Ummu Waraqoh pada waktu itu terdiri dari seorang budak laki-laki remaja, dan seorang budak laki-laki yang sudah berusia lanjut. Budak laki-laki tua inilah yang ditunjuk oleh Rasulullah sebagai muadzin bagi Ummu Waraqah setiap kali tiba waktu shalat. Rasulullah juga menyuruh Ummu Waraqah menjadai imam di tengah keluarganya yang terdiri dari orang -orang tersebut

Hadits Abu Dawud tersebut memberikan data jelas bahwa yang menjadi anggota keluarga Ummu Waroqoh hanyalah para budak, sekalipun budak tersebut laki-laki. Akan tetapi karena setatus budaknya mereka lebih rendah daripada perempuan merdeka, yaitu Ummu Waroqoh. Laki-laki yang menjadi budak secara hukum berada dalam kekuasaan orang yang merdeka sekalipun dia seorang perempuan. Dengan itu Rasulullah menunjukkan bagaimana kedudukan hukum perempuan merdeka di atas laki-laki budak. Kasus ini merupakan pengecualian atau khusus yang hanya berlaku dalam lingkungan perempuan sebagai orang merdeka yang menguasai kaum laki-laki sebagai budaknya, tidak berlaku secara umum.

Dengan memahami latar belakang kasus seperti itu, menggunakan kasus Ummu Waroqoh sebagai dalil hukum yang berlaku umum sama sekali tidaklah benar. Menggunakan kasus ini untuk hukum yang berlaku umum bertentangan dengan surat al-Baqoroh: 228 dan Q.S an-Nisa’: 34 serta hadits-hadits yang menegaskan larangan perempuan sebagai pemimpin pemerintah dan negara atau mengurus kaum laki-laki.

Pengarang kitab Aunul Ma’bud (Abu Toyib Muhammad Syamsul Haq Azim Abadi dan Ibnul Qoyim al-Jauzi), pensyarah sunan Abu Dawud (jilid 2 hal. 302) mengomentari hadits di atas sebagi berikut:

“Hadits ini menerangkan bahwa seorang perempuan mengimami anggota keluarganya adalah sah sekalipun di antara mereka itu ada lelakinya, karena Ummu Waroqoh mempunyai seorang muadzin lelaki yang telah berusia tua seperti tersebut dalam riwayat di atas. Menurut pernyataan, Ummu Waroqoh mejadi imam lelaki tua, seorang remaja lelaki budaknya dan seorang remaja perempuan yang menjadi budaknya. Dan yang berpendapat perempuan boleh menjadi imam adalah Abu Tsaur, Muzammi, dan Thobari, tetapi mayoritas ulama menentangnya.[3]

Dalil-Dalil yang Melarang

Sabda Nabi:

روي أن النّبي صلى الله عليه وسلم قال:لاتؤم امرأة رجلا

Artinya: “Diriwaytkan bahwa Nabi bersabda “Janganlah seorang perempuan mengimami laki-laki.”[4]

Sabda Nabi:

روى ابن ماجه من حديث جاير: ولاتؤمن امرأة رجلا ولااعرابي مهاجرا, ولافاجرا مؤمنا

Ibnu majah meriwayatkan dari hadis Jabir : “Janganlah kaum wanita mengimami kaum laki-laki, janganlah orang pedalaman mengimami kaum muhajir, dan janganlah orang fajir mengimami orang mikmin.[5]

Sabda Nabi:

أن النّبي صلى الله عليه وسلم قال: ……..خير صفوف النساء اخرها

Nabi bersabda: (…….sebaik-baik sof bagi perempuan adalah yang paling belakang). (HR. Muslim)[6]

Sabda Nabi:

لايفلح قوم ولّوا أمرهم امرأة

Artinya: “Tidaklah beruntung suatu kaum jikalau mereka mengambil perempuan sebagai pemimpin mereka”.[7]

 

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

ÉA$y_Ìh=Ï9ur £`ÍköŽn=tã ×py_u‘yŠ 3 ª!$#ur ͕tã îLìÅ3ym

Artinya: “Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”[8]

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

ãA%y`Ìh9$# šcqãBº§qs% ’n?tã Ïä!$|¡ÏiY9$# $yJÎ/ Ÿ@žÒsù ª!$# óOßgŸÒ÷èt/ 4’n?tã <Ù÷èt/ !$yJÎ/ur (#qà)xÿRr& ô`ÏB öNÎgÏ9ºuqøBr&

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”[9]

Dari dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa shalat di belakang perempuan tidak boleh.

Tarjih Diantara Dua Pendapat

Setelah kita mengetahui dali-dalil yang membolehkan dan dalil yang melarangnya, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perempuan tidak boleh menjadi imam dalam shalat bagi laki-laki. Dan jumhur fuqaha telah sepakat tentang tidak bolehnya perempuan menjadi imam shalat bagi laki-laki akan hal tersebut. Karena perempuan adalah aurat, disamping itu bahwa laki-laki adalah pemimipin bagi  perempuan, karena suatu kaum tidak akan beruntung jika mereka mengambil perempuan sebagai pemimipin mereka, seperti yang telah disebutkan dalam hadis.

Akan tetapi ada yang memperbolehkan perempuan menjadi imam bagi laki-laki khusus dalam shalat tarawih, seperti; Abu Tsaur, al-Muzani, Muhammad Jarir at-Thabari, mereka membolehkannya jika tidak ada Qori` selain perempuan. Akan tetapi dilakukan dengan berdiri di belakang laki-laki, dengan dalil:[10]

قوله النبي صلالله عليه وسلم: أخر هن من حيث أخّر هن الله (أخرجه عن ابن مسعود عبدالرزاق في مصنف)

Akan tetapi pendapat mereka tidak ada dalil sama sekali dari Rasul, maka yang paling rojih bahwa perempuan tidak boleh menjadi imam shalat bagi laki-laki. Permasalahannya, apakah sah orang yang telah shalat bersama perempuan dan apakah dia harus  mengulanginya?

Shalatnya tidak sah dan dia harus mengulanginya. Sama halnya ia shalat bersama orang gila maka dia harus mengulanginya. Sedangkan Abu Tsaur dan al-Muzani berpendapat tidak mengulangi slalat bagi orang yang shalat di belakang perempuan kalau dia tidak mengetahui[11].

Imam syafi`i berkata: Jika perempuan shalat bersama dengan laki-laki dan anak laki-laki, maka perempuan itu mendapat pahala sedangkan shalatnya laki-laki dan anak laki-laki itu tidak mendapat pahala. Karena Allah telah menjadikan laki-laki sebagai pemimmpin bagi perempuan. Maka, tidak boleh seorang perempuan menjadi imam bagi laki-laki dalam keadaan apapun. Dan saya lebih suka agar shalatnya diulangi karena saya menganggap shalatnya tidak mendapat pahala.[12]

Sedangkan banci tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki karena dia tidak jelas,  karena dia bisa jadi perempuan, dan janganlah mengimami banci seperti dia, karena dia boleh menjadi imam bagi perempuan dan boleh menjadi makmum bagi laki-laki. Dan tidak boleh perempuan mengimaminya karena bisa jadi dia itu laki-laki.[13]

Kesimpulan

  • Hadis Abu Dawud yang meriwayatkan kasus Ummu Waraqah menjadi imam shalat bagi anggota kelurganya yang terdiri dari dua orang laki-laki dan perempuan yang berstatus budak merupakan kasus khusus dan tidak berlaku umum karena laki-laki yang menjadi makmum adalah budak.
  • Perempuan merdeka statusnya kebih tinggi daripada laki-laki budak.
  • Tidak ada pratek lain tentang perempuan menjadi imam shalat bagi makmum laki-laki di dalam kelurga pada masa Nabi dan para sahabat. Oleh karena itu, kasus ini  hanya berlaku khusus bagi keluarga Ummu Waraqah.
  • Hadis Abu dawud di atas sama sekali tidak dapat dijadikan dalil oleh para ulama dahulu untuk membenarkan  perempuan menjadi imam shalat secara umum bagi laki-laki seperti yang telah lumrah berjalan. Akan tetapi, hadis tersebut hanya berlaklu khusus pada kasus Ummu Waraqah di atas.
  • Bahwa, kebanyakan para fuqaha telah sepakat tentang tidak diperbolehkannya perempuan menjadi imam bagi laki-laki.

 

REFERENCE

  1. Al Um, Oleh Imam Muhammad Bin Idris Asy-Syafi`I
  2. Al Bayan Fii Madzhabi Imam Asy-Syafi`I
  3. Subulus Salam, Oleh Muhammad Bin Isma`Il Al-Amir Ash-Shan`Ani
  4. Taudhi`Ul Ahkam, Oleh  Abdullah Bin Abdurrahman Al-Basam
  5. Ta`Liqat Radhiyah `Ala Raudhatin Nadiyah, Oleh Al-`Alamah Hasan Khan , Bilqolami Nashirudin Al-Bani
  6. Al-Mughni, Oleh Ibnu Qudamah
  7. 17 Alasan Membenarkan Wanita Menjadi Pemimpin, Oleh Drs. Muhammad Thalib.

[1]. HR Abu Dawud

[2]. HR. Abu Dawud

[3]. 17 belas alasan membenarkan wanita menjadi pemipin .Drs. muhamad Thalib,62-66.

[4]. Dikelurkan oleh Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah ra, di dalamnya ada Abdullah al `Adawi Matruk dan Ali bin Zaid bin Jud`an dha`if

[5]. Subulus Salam, 76

[6]. Syrahu mumti`, 4/222

[7]. HR. Bukhari. 4425. (Tadi`ul Ahkam Abdullah bin Abdurrahman Al Basam, 2/491.

[8]. QS. Al Baqarah: 228

[9]. QS. An Nisa`:34

[10]. Bayan fi Madhab Imam As-Syafi`I, 2/399

[11]. Al Mugni, Ibnu Qudamah, 2/199

[12]. Al-um, 2/320

[13]. Al Mugni, Ibnu Qudamah, 2/199

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: