DZIKIR BERSAMA SETELAH SHALAT


DEFINISI DZIKIR BERSAMA

Secara Etimologi (Bahasa)

Adz-dzikrul al-Jama’ie atau dzikrul jamaah (dzikir bersama) terangkai dari dua kata:

Pertama, Dzikir secara bahasa berasal dari kata: (Dzakaro–yadzkuru–dzikron) Artinya: menyebut, mengucapkan, mengagungkan, mengingat-ingat.1

Adz-dzikru berarti sesuatu yang mengalir melalui lisan.2 Terkadang diartikan dengan menyimpan sesuatu. Dzikir secara bahasa berarti mengingat.3 Dzikrullah berarti mengingat dengan memuji Allah. Al-Qur’an juga disebut dzikir, karena ia menjadi jalan mengingat Allah. Shalat juga disebut dzikir kaena ia media mengingat Allah.

Ar-Raaghib dalam “Al-Mufradat” menjelaskan: “Terkadang dzikir diartikan sebagai kondisi jiwa yang memungkinkanya menghafal pengetahuan yang didapatkannya.”4

Oleh sebab itu, ada dua jenis makna dzikir. Dzikir yang berarti ingat sesudah lupa, dan dzikir yang berarti ingat tanpa berkaitan dengan lupa, tapi karena lekatnya hafalan.5

Kedua, Makna jama’ie yakni apa yang diucapkan oleh orang-orang yang berkumpul dengan satu suara saat melantunkan dzikir, apa yang diucapkan sebagian, sama dengan apa yang diucapkan sebagian yang lain (serempak).6

Secara Terminologi

Dzikir menurut syari’at adalah setiap ucapan yang dirangkai untuk tujuan memuji dan berdo’a. Yakni lafal yang digunakan untuk beribadah kepada Allah, berkaitan dengan pengagungan terhadap-Nya dan pujian terhadap-Nya dengan menyebut nama-nama atau sifat-Nya, dengan memuliakan dan mentauhidkan-Nya, dengan bersyukur dan mengagungkan dzat-Nya, dengan membaca al-kitab-Nya, dengan memohon kepada-Nya atau berdo’a kepada-Nya.7

Sayyid Syabiq berkata: “Dzikir ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah, memuji dan menyanjung-Nya, menyebut-nyebut sifat-sifat dan kebesaran, keagunggan-Nya,serta sifat sifat indah yang dimiliki-Nya”. 8

Dzikir adalah mengucapkan lafadz-lafadz yang dianjurkan untuk banyak memuji Allah seperti سبحان الله و الحمد لله . Dzikir juga berarti menjalankan apa yang perintahkan oleh Allah atau dianjurkan oleh Rasululllah seperti membaca al-Qur’an, mendalami hadits, mempelajari ilmu dan menjalankan shalat sunnat serta menyebut Allah dengan hati, lisan dan perbuatan.9

Adapun pembahasan disini adalah bahwa dzikir jama’ie atau dzikir bersama yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Seperti dzikir bersama sesudah shalat-shalat wajib atau waktu dan kondisi lain yang mana berkumpul untuk bersama–sama melantunkan dzikir, do’a dan wirid di bawah komando satu orang maupun tanpa dikomando. Yang jelas mereka melantunkan dzikir tersebut secara serempak. Inilah fokus pembicaraan ini.

SEJARAH MUNCULNYA DZIKIR BERSAMA

Awal mula munculnya tradisi bersama adalah pada zaman shahabat lalu para sahabat mencegah bid’ah tersebut di awal kemunculannya, maka semakin surutlah penyebaran tradisi tersebut hingga akhirnya lenyap berkat upaya pencegahan yang dilakukan para ulama salaf terhadapnya.10

Di zaman pemerintahan al-Makmun, ia justru memerintahkan untuk menyebarkan tradisi tesebut. Ia menulis surat kepada Ishaq bin Ibrahim, Gubernur Baghdad kala itu, yang berisi perintah agar dia menyuruh masyarakat muslim melakukan takbir (berjamaah) setiap selesai menjalankan shalat wajib lima waktu. Imam ath-Thabari meceritakan dalam tarikhnya berkaitan dengan beberapa peristiwa yang terjadi ditahun 216 H.

Pada itu al-Makmun menulis surat kepada Ishaq bin Ibrahim, memerintahkannya agar menyiapkan barisan tentara mengawasi kaum meslimin bertakbir sesudah shalat. Mereka memulanya di masjid al-Madinah dan ar-Rasafah pada hari jumat, selama 14 malam terakhir bulan Ramadhan, pada tahun itu juga.11

Sementara dalam tarikh Ibnu Katsir disebutkan, Pada tahun itu juga al-Makmun menulis surat kepada Ishaq bin Ibrahim Gubernur Baghdad kala itu,memerintahkannya agar menyuruh kaum muslimin untuk bertakbir setiap usai shalat lima waktu.12

Tradisi itu terus berkembang di kalangan kaum Syi’ah Rafidhah dan kalangan Sufi serta golongan-golongan yang terpengaruh oleh ajaran mereka.13

Pencipta pertama bid’ah takbir jama’i adalah Muadhad bin Yazid al-‘Ajili dan teman-temannya di Kufah. Lalu Ibnu Mas’ud melarang mereka dan melempari mereka dengan kerikil. Yang demikian itu terjadi sebelum wafatnya Ibnu Mas’ud tahun 33 H. Dan sungguh mereka telah menghentikan perbuatan tersebut, sampai perbuatan itu kemudian dimunculkan lagi oleh kaun Sufi atau orang-orang Tasawuf pada masa Makmun (198 H-218 H/813-833 M) dan setelahnya, sedang masa itu ada orang tasyayyu’ (syiah mengkultuskan Ali), dialah yang menciptakan bid’ah baru, bertakbir jama’i setelah shalat di masjid-masjid.14

ANJURAN UNTUK BERDZIKIR

Dari al-Qur’an

  

Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan jangan ingkar terhadap nikmat-nikmat-Ku”.15

   

Artinya: “Dan sebutlah nama Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksa-Nya) tidak mengeraskan suara dipagi dan di sore hari, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.16

Dari as-Sunnah

Pertama, “Perumpamaan orang-orang yang menyebut nama Rabb-nya dengan orang yang tidak menyebut nama-Nya, laksana orang hidup dan orang mati.”17

Kedua, “Sesungguhnya seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at-syari’at Islam telah banyak aku ketahui, maka kabarkanlah kepadaku sesuatu yang jadikan pegangan! Beliau bersabda: “Tidak hentinya lidahmu basah dari dzikir kepada Allah” .18

CARA BERDZIKIR DAN MACAM-MACAMNYA

Karena dzikir merupakan ibadah, maka tidak akan diterima Allah kecuali dengan dua syarat:

Pertama, Ikhlas karena Allah.

Kedua, Sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah.

Allah ta’ala telah menetapkan cara berdzikir seperti yang terungkap dalam surat al-A’raaf: 205 dan Ali Imran: 191, bahwa dzikir itu dilakukan dengan khusyu’ dan suasana lirih serta dalam kondisi duduk, berdiri dan tiduran. Dalam banyak kondisi disebutkan cara-cara dzikir Rasulullah tapi tak satupun yang menunjukkan dzikir bersama beramai-ramai dikomandoi oleh seorang komando.

   

Artinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”.

        

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Namun ada hadits umum yang bisa dipahami seperti do’a bersama secara keras seperti riwayat Ibnu Abbas. Ibnu Abbas berkata: “Sungguh mengeraskan suara dalam dzikir ketika orang-orang (sahabat) selesai dari shalat adalah pernah terjadi di masa Nabi. Kemudian ia (Ibnu Abbas) berkata: “Aku mengetahui dzikir dengan keras setelah mereka selesai shalat dan aku mendengarnya”.19

Imam Nawawi mengomentari kedudukan hadits ini sebagai berikut: Imam Syafi’i menyebutkan tentang hadits ini bahwa dzikir secara keras itu hanya sebentar untuk mengajarkan cara berdzikir, tidak terus menerus mengeraskannya. Pendapat yang paling kuat bahwa iman dan makmum agar berdzikir sesudah shalat dengan tidak mengeraskan suara kecuali untuk mengajari orang.20

Hal itu dikuatkan oleh seorang tabi’in yang melihat para sahabat yang bernama Qais bin Abbad bahwa shahabat-shahabat Rasulullah itu membenci mengeraskan suara saat berdzikir dalam tiga hal: Saat mengantarkan jenazah, saat berdzikir dan saat perang.21

  • Menurut ulama ahli dzikir bahwa dzikir itu ada tujuh macam cara:

1. Dzikir mata dengan banyak menangis karena Allah.

2. Dzikir telinga dengan mendengarkan sesuatu yang diridhai Allah.

3. Dzikir lisan banyak menyebut dan memuji Allah.

4. Dzikir tangan dengan memperbanyak sedekah karena Allah.

5. Dzikir badan dengan menggunakan,menjalankan dan membela agama Allah.

6. Dzikir hati dengan menumbuhkan rasa cinta, takut dan harap kepada Allah.

7. Dzikir ruh dengan bertawakkal dan pasrah kepada Allah.

  • Sedangkan Ibnul Qayyiim menyebutkan dzikir dalam tiga hal:

1. Dzikrullah dengan kemantapan hati.

2. Dzikrullah dengan melalui ucapan lisan.

3. Dzikrullah dengan mendalami hukum–hukum Allah.

ARGUMEN MEREKA YANG MEMBOLEHKAN DZIKIR BERSAMA

Mereka berargumen sebagai berikut:

Pertama, Nash-nash syariat ynag menyebutkan tentang pujian bagi orang-orang yang suka berdzikir menggunakan lafal jama’ (lebih dari dua orang), sehingga mengindikasikan adanya anjuran untuk berdzikir kepada Allah secara berjama’ah. Misalnya riwayat dalam shahih “Al-Bukhari” dan Muslim dari Abu Hurairah, dari Nabi, bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para Malaikat yang sdelalu berjalan untuk mencari majelis-majelis dzikir. Ketika mendapatkan majelis yang di dalamnya ada dzikir, mereka akan duduk bersama orang-orang di situ. Mereka akan saling menaungi di antara mereka dengan sayapnya sehingga memenuhi ruang antara mereka dengan langit dunia. Saat majelis bubar, mereka pun terbang dan naik ke atas langit. “Perawi melanjutlkan: “Kemudian mereka ditanya oleh Allah. Padahal Allah lebih mengetahui daripada mereka ..: “Dari mana saja kalian ?” Mereka menjawab: “Kami datang dari suatu tempat disisi para hamba Mu di muka bumi. Mereka bertasbih kepada Mu, bertakbir, bertahlil dan bertahmid serta memohon kepada Mu. Di akhir hadits disebutkan bahwa Allah berfirman: “..Mereka telah diampuni dan Aku akan memberikan apa yang mereka mohon, Aku pun akan memberikan perlindungan kepada mereka seperti yang mereka minta”.22

Mereka yang memperbolehkan dzikir bersama berpandangan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan berdzikir secara berjamaah dan dengan suara keras, dilakukan oleh seluruh orang-orang yang ikut berdzikir.

Kedua, Banyak hadits-hadits lain yang diriwayatkan berkaitan dengan keutamaan majelis dzikir, diantaranya adalah:

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhori dan Muslim dari hadits Abu Hurairah berkata: Rasululah bersabda: Allah ta’ala berfirman: “Aku tergantung persangkaan hamba-Ku. Dan Aku selalu bersama hamba-Ku, selagi ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia berdzikir sendirian, maka akupun mengingatnya sendirian. Kalau ia berdzikir kepada-Ku di tengah keramaian, maka Aku pun akan mengingatnya di tengah keramaian yang lebih baik lagi“.23

Sisi pengambilan dalil dalam riwayat tersebut adalah ucapan: “… Kalau ia berdzikir kepada-Ku di tengah keramaian, menunjukkan diperbolehkannya dzikir berjamaah.24

ARGUMEN MEREKA YANG MELARANG DZIKIR BERSAMA

Argumen mereka adalah, sebagai berikut:

Pertama, Dzikir bersama tidak pernah diperintahkan oleh Nabi dan tidak pula beliau anjurkan kepada kaum muslimin. Sekiranya beliau memerintahkan atau setidaknya menganjurkannya, tentu akan diriwayatkan dari beliau. Tapi ternyata tidak ada riwayat dari beliau tentang do’a berjamaah usai shalat bersama para shahabat beliau.

Imam asy-Syathiby mengatakan: “Do’a bersama yang dilakukan secara rutin tidak pernah dilakukan oleh Rasululaah”.25

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak pernah seorang perawi pun yang meriwayatkan, bahwa Nabi shalat mengimami kaum muslimin, beliau berdo’a seusai shalat bersama makmum semua. Baik ketika shalat shubuh, ashar atau shalat lainya. Bahkan diriwayatkan dengan shahih dari beliau bahwa beliau biasa menghadap ke arah para shahabat seusai shalat, lalu berdzikir kepada Allah dan mengajarkan kepada mereka cara berdzikir kepada Allah usai shalat”.26

 

Kedua, Berdasarkan apa yang dilakukan oleh kaum salaf dari kalangan shahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka menegur orang yang melakukan bid’ah semacam itu.

Ketiga, Nash-nash umum yang berisi larangan berbuat bid’ah dalam agama, seperti hadits Aisyah secara marfu’:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ

Artinya: “Barangsiapa yang mengada–adakan suatu amalan dalam ajaran agama kita yang tidak ada syari’atnya, maka amalan tersebut tertolak“.27

Keempat, Pendapat yang mengatakan dianjurkan dzikir bersama berarti sengaja meralat syari’at Nabi. Karena para pelaku bid’ah itu membuat hukum baru yang tidak ditetapkan sebagai syari’at oleh Nabi. Padahal Allah telah berfirman: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk merekaagama yang tidak diizinkan Allah“.28

Kelima, Diantara dalil para ulama yang melarangnya melihat bahwa dzikir bersama itu menyerupai kebiasaan kaum Nashrani yang biasa yang berkumpul di gereja-gereja untuk melakukan kebaktian, menyanyikan lagu keagamaan secara bersamaan. Padahal banyak sekali dalil dalam al-Qur’an dan hadits yang secara tegas melarang meniru ahli kitab, bahkan memerintahkan kita membedakan diri dari mereka.

Keenam, Diantara dalil orang–orang yang melarang dzikir bersama adalah bahwa dzikir bersama bisa menimbulkan banyak kerusakan yang bisa terhindar ketika amalan itu dilarang. Apalagi amalan tersebut dianggap mengembangbiakkan berbagai manfaat sebagaimana yang diklaim oleh pihak yang memperbolehkannya.

HUKUM DZIKIR BERSAMA

Para ulama salaf menganggap dzikir bersama adalah perbuatan bid’ah dalam agama yang belum dilakukan oleh Nabi maupun para shahabat baliau yang lain. Demikian pula halnya dengan do’a berjama’ah, baik usai shalat wajib atau di waktu yang lain. Mereka menganggapnya bid’ah, kecuali yang ada dalilnya.

Pendapat para ulama mengenai dzikir bersama:

    1. Imam Alaa-uddin al-Kaasaani al-Hanafi dalam bukunya “Bada I’ush Shanaa-ie fii Tartiebsy Syaraa-ie”29 dari Abu Hanifah berkata: “Mengeraskan suara takbir pada asalnya adalah bid’ah, karena takbir adalah dzikir. Sunnahnya dzikir diucapkan dengan suara lembut. Allah berfirman:

 

Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” 30

Nabi bersabda:

Do’a yang terbaik adalah yang diucapkan dengan suara lembut”.31

  1. Al-Alamah al-Mubarrakfuri dalam kitab “Tuhfatul Ahwadzy”32 berkomentar: “Ketahuilah bahwa pengikut madzhab Hanafi pada masa ini selalu menekuni berdo’a sambil mengangkat kedua tangan setiap usai shalat wajib. Seolah-olah mereka menganggapnya sebagai kewajiban. Oleh karena itu mereka mengingkari setiap orang yang selesai mengerjakan shalat wajib langsung mengucapkan:

اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والإكرام.

“Allahumma antas salam wa minkas salam tabarakta ya dzal jalaali wal ikram” (Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan dan darimulah keselamatan, Maha suci Engkau. Wahai Raab Yang Maha Agung lagi maha mulia “Kemudian langsung berdiri tanpa berdo’a dan mengangkat kedua tangannya. Padahal perbuatan mereka itu menyelisihi pendapat Imam mereka al-Imam Abu Hanifah, juga menyelisihi apa yanag terdapat dalam kitab pegangan mereka”.

  1. Sikap madzhab Imam Malik terhadap dzikir bersama, disebutkan dalam kitab “Ad Durrats Tsamin” karya asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad Miyarah. Imam Malik beserta ulama membenci kebiasaan para imam yang memimpin para jamaah masjid untuk berdo’a bersama dengan suara keras di setiap selesai shalat wajib.33
  2. Al-Imam asy-Sathiby telah menukil dalam kitabnya “Al I’tishaam” tentang kisah seorang laki-laki dari kalangan pembesar kerajaan yang terhormat, terkenal dengan sifat keras dan kasar. Laki-laki itu singgah di sebuah rumah tetangga Ibnu Mujahid. Sementara Ibnu Mujahid tidak pernah berdo’a setiap selesai melakukan shalat wajib lantaran ia berpegang pada madzhab Imam Malik yang mengatakan makruh.34
  3. Sikap madzhab asy-Syafi’i, beliau telah berkomentar dalam kitabnya “Al Umm”, “Pendapat yang aku pilih perihal imam dan makmum, hendaknya keduanya berdzikir kepada Allah setiap usai shalat wajib tanpa mengeraskan dzikir, kecuali bagi seorang imam yang berkewajiban untuk mengajarkan kepada para makmumnya. Hingga ketika imam melihat bahwa mereka telah mampu, diapun kembali berdzikir dengan suara pelan.35 Karena Allah telah berfirman:



Artinya: “….dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya“.36

  1. Al-Imam an-Nawawi dalam “Al-Majmuu’” berkata: “Imam Syafi’i beserta para pengikutnya sepakat atas disunnahkannya berdzikir setiap selesai shalat. Hal ini disunnahkan bagi seorang imam, makmum, sendirian, laki-laki, perempuan, orang musafir dan lainnya. Adapun kebiasaan orang-orang atau kebanyakan mereka yang mengkhususkan do’a seorang imam dalam dua waktu shalat, yakni shubuh dan ashar tidak ada dalilnya.37

Imam an-Nawawi sendiri dalamm kitab “Tahqiq” dimana beliau berkata: “Disunnahkan berdzikir dan berdo’a dengan suara rendah setiap selesai shalat. Dan jika seorang imam ingin mengajari para makmum, boleh baginya mengeraskan dzikirnya, dan apabila mereka sudah mengerti, imam itu kembali merendahkan suara dzikirnya.38

  1. Sikap madzhab Hanabilah, Imam Ibnu Qudamah telah berkata “Al-Mughni”: “Disunnahkan berdzikir dan berdo’a di setiap selesai shalat. Hal itu disunnahkan sesuai dengan apa yang telah diriwayatkan dalam hadits. Beliau menyebutkan sejumlah hadits mangenai dzikir yang pernah diucapkan oleh Rasulullah setiap usai shalat wajib.39

Saikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang do’a setelah shalat. Beliau menyebutkan sebagian hadits dari Rasulullah tentang dzikir-dzikir setelah shalat. Kemudian beliau berkata: “Tak seorang pun ulama hadits yang telah meriwayatkan hadits Nabi tentang imam dan makmum berdo’a bersama selesai shalat.40 Allah ta’ala telah berfirman:

  

Artinya: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”41

Telah diriwayatkan beberapa pendapat mengenai dua ayat tersebut. Dalam satu riwayat: “Maka apabila kamu selesai shalat, berdo’alah kepada Raabmu dan mohonlah kepada-Nya segala keperluanmu. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Jarir ath-Thabary42 dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hatim43, asy-Syam’any44, al-Qurthuby45, Ibnul Jauzi46, Ibnu Katsir47, asy-Syaukany48, as-Sya’di, dan Ahli tafsir yang lainnya.

  1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Berkumpul untuk membaca al-Qur’an, berdzikir dan berdo’a adalah perbuatan baik dan disunnahkan, selama hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan rutin seperti halnya cara-cara berkumpul yang disyariatkan dan selagi tidak dicampuri dengan bid’ah yang munkar”.49

SISI BURUK DZIKIR BERSAMA

  1. Menyelisihi petunjuk Nabi dan para shahabatnya. Karena sesungguhnya tidak ada satu hadits pun yang telah dinukil dari mereka mengenai hal itu.
  2. Menghilangkan sikap sopan dan beradab. Karena dzikir bersama itu seringkali menyebabkan tubuh seseorang bergoyang, bahkan terkadang menari dan melakukan hal sejenis itu.
  3. Mengganggu orang yang senang shalat dan yang membaca al-Qur’an. Hal itu terjadi apabila dzikir bersama dilakukan di dalam masjid.
  4. Seringkali orang-orang yang melakukan dzikir tersebut memenggal ayat al-Qur’an tidak pada tenpatnya
  5. Membiasakan dzikir bersama seringkali menggiring sebagian orang jahil dan awam untuk meninggalkan dzikir kepada Allah ketika belum mendapatkan teman untuk dzikir.
  6. Sesungguhnya memberikan peluang dzikir bersama, terkadang menggiring masing-masing golongan untuk mengikuti dzikir seorang syaikh tertentu dan menirukan apa yang diucapkannya.
  7. Menjatuhkan wibawa dan karisma yang seharusnya dijaga oleh seorang muslim.

KESIMPULAN

Bahwa dzikir secara bersama-sama setelah melaksanakan sholat adalah perkara yang bid’ah, tetapi bila tujuannya untuk mengajari orang lain sesekali saja maka hal itu diperbolehkan, tetapi tidak dilakukan setiap hari. Wallahu A’lam Bisshawab.

1 Almunjid :236

2 Muhammad bin Abdurrahman bin Al Khumais.Dzikir bersama bid’ah atau sunnah?,Hal:26 yang dinukul dari Al Qaamuusul Muhieth (507) dan lisanul ‘Arab oleh Ibnu Manzhur Jilid 5,Hal:48.

3 Ibrahim Musthafa,Majmu Fatawa,Hal:313

4Muhammad bin Abdurrahman bin Al Khumais.Dzikir bersama bid’ah atau sunnah?,Hal:26.

5Muhammad bin Abdurrahman bin Al Khumais.Dzikir bersama bid’ah atau sunnah?,Hal:27.Yang dinukil dari mufradaat oleh Ar Raaghib,Hal:328.

6 Lihat Al Mausuuath Al Fiqhiyah 21/252.

7 Lihat Al Mausuu’ah Al Fiqhiyah 21/220,juga Al Fatuhat Ar Rabbaniyah I/18.

8 Fiqh Sunnah 4/213

9 Syaikh Ibnu Hajar Al Asqalany.Fathul Majid, (II/212).

10Muhammad bin Abdurrahman bin Al Khumais, Dzikir bersama bid’ah atau sunnah?, Hal: 29.

11 Tarikh Umam wal Muluuk: 10/281.

12 Al Bidayah wan Nihayah: 10/282.

13 Dirasat fil Ahwan, hal: 282.

14 Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan paham sesat diindonesia, hal: 272, yang dinukil dari Al Bidayah Wan Nihayah 10/270.

15 Al Baqoroh :153

16 Al A’raaf :205

17 HR. Bukhori dalam kitab Fathul Bari, hal:11/208

18 HR At Tirmudzi 5/458,Ibnu majah 2/317

19 Diriwayatkan oleh Bukhori dalam fathul Bari II/378-379 dan Muslim dalam syarh Nawawi 5/236-237 dan begitu juga Abu Dawud

20 Starh Nawawi 5/237

21 HR.Baihaqi 4/74.

22 Diriwayatkan oleh Bukhori (6408) dan Muslim (2689) dari Abu Hurairah ra.

23 .Diriwayatkan dalam shahih Bukhori (7405) dan Muslim (2657) dari hadits Abu Hurairah

24 Maa Jaa Fiil Bidaa’ie Hal:18 no,25.

25Al I’thisam jilid:I,Hal:219.

26 Al Fataawa AL Kubra II/467.

27 Dikeluarkan oleh Bukhari (2697) dan Muslim (1718) dari Aisyah.

28 Asy Syura: 21.

29 Bada I’ush shanaa-ie fii tartiebsy syaraa-ie II/196.

30 QS.Al A’raaf:55.

31 Dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnad nya III:44 Abu Ya’la dalam musnadnya II/81 dan 731,Ibnu Hibban dalam shahihnya III/91 dan 809 dan dikelurkan oleh Al Haitsami dalam majma’ Az Zawaaid 10/81.Ia berkata:Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya’la,dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Abdurrahman bin Labib,ia dianggap sebagai perawi yang dapat dipercaya oleh Ibnu Hibban,namun dianggap lemah oleh Ibnu Ma’in.Sisa perawinya adalah para perawi ash shahih.

32 Tuhfatul Ahwadzy

33 Kitab Ad durrats tsaminwal maurodul mu’ayyan,karya Asy Syaikh Muhammad bin Ahmad Miyarah,Hal:173,212.

34 Al I’tishaam karya Asy syathiby II/275 dengan perubahan.

35 Al Umm, karya Imam Asy Syafi’i, (I/11).

36 Al Israa’: 110.

37 Al Majmuu’, karya Imam An Nawawi (III/465-469).

38 Kitab At Tahqiq Karya Imam An Nawawi Hal: 219.

39 Al Mughny,Karya Ibnu Qudamah II/251.

40 Majmu’ Fatawa,Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 22/515.

41 QS.Alaam Nasrah: 7-8.

42Dzikir bersama bidah atau sunnah? Karangan Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais, hal:97. dinukil dari kitab Tafsir ath thabary, (12/628-629).

43Ibid, dinukil dari kitab Tafsir Ibnu Abi Hatim (10/344)

44Ibid, dinukil dari kitab Tafsir Asy Syam’any (6/252) terbitan Dar al wathon.

45Ibid, dinukil dari kitab Tafsir Al Qurthuby (20/74) terbitan darul kutubal ilmiyah

46Ibid, dinukil dari kitab Tafsir Ibnul Jauzi (9/166) terbitan al maktab al islami.

47Ibid, dinukil dari kitab Tafsir Ibnu Katsir (/497) terbitan darul kutub al ilmiyah

48 Dzikir bersama bidah atau sunnah? Karangan Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais, hal:97. dinukil dari kitab Tafsir Asy Syaukany (5/462) terbitan darul wafa’

49 Al Iqtidhaa’:III/304.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: