HUKUM MENGGAMBAR


I. Mukadimah

Segala puji bagi Allah , Rabb semesta alam yang telah menjadikan manusia sebagai makhluk terbaik, Dia pula yang menjadikan manusia ke dalam keadaan yang paling rendah. Tiada pantas bagi seorang makhluk untuk menyombongkan diri kepada-Nya, seolah lupa akan penciptanya.

Shalawat dan salam selalu teruntukkan bagi Nabi mulia, Rasulullah j yang selalu tunduk atas segala perintan-Nya, mengajak manusia ke jalan yang benar berdasarkan wahyu dari Ilahi.

Sebuah fenomena yang telah menjalar di masyarakat kita sekarang ini berkenaan dengan gambar (dalam hal ini adalah gambar sesuatu yang bernyawa) karena itu merupakan penyerupaan terhadap ciptaan Allah , bisa dikatakan sudah teramat parah dan ditambahi lagi dengan bingkai kemajuan zaman.

Disadari ataupun tidak mereka telah menganggap gambar-gambar tersebut sebagai hal yang sepele, padahal banyak hadits Rasulullah j yang menjelaskan akan keharaman gambar-gambar tersebut, mengapa demikian?.

Barangkali bisa kita tengok sebentar ke belakang, semenjak kecil para pendidik kita telah membiasakan kita untuk menggambar (terutama adalah menggambar binatang), bahkan hal itu terjadi ketika kita belum duduk di bangku sekolah.

Semakin kita dewasa, tak terasa permasalahn gambar menjadi hal yang tak terpisahkan dalam rumah kita. Sebagai warga Negara yang baik, bersedia untuk memajang gambar atau photo Presiden dan Wakilnya beserta Garuda Pancasila, bahkan hal tersebut menjadi suatu keharusan adanya di dinding rumah-rumah kita. Meskipun pada mulanya gambar tersebut dianggap hanya sebagai pajangan doang, namun tak menutup kemungkinan akan memunculkan rasa pengagungan. Selain juga, gambar-gambar yang ada di dalam rumah menjadi penghalang bagi para Malaikat untuk memasuki rumah tersebut.

Begitu besar fitnah akan gambar ini, sehingga terkadang kita tidak menyadari jika tempat-tempat yang sering kita lewati; baik di terminal, tepi-tepi jalan yang memancing mata untuk memandangnya, dipenuhi oleh gambar-gambar yang tidak pantas untuk diperlihatkan di sana. Manusia saling berlomba dalam menyebarkannya demi sepeser uang yang ingin dimilikinya dengan menerbitkan majalah, koran, tabloid dan lain sebagainya.

Adapun dari gambar-gambar tersebut diantaranya menampilkan; gambar para artis, penyanyi, bintang film, bintang olah raga, berita kriminal dan tak ketinggalan adalah pornografi. Yang kesemuanya itu adalah lebih banyak mendatangkan madharat daripada manfaat; para peggemar artis berusaha semampu mungkin untuk bisa menumpuk-numpuk gambar-gambar artis, para pengemar olah raga mengoleksi poster-poster bintang mereka dari cabang olah raga tertentu. Olah raga sepak bola misalnya, ia adalah jenis olah raga yang saat sekarang ini paling banyak penggemarnya yang setiap hari memakai kaos bintangnya masing-masing yang mereka bangga dengan lambang dan nama bintang yang menempel pada kaosnya. Padahal telah kita ketahui bahwa mayoritas mereka adalah orang-orang kafir, membuka aurat di sepan umum, juga bisa sampai pada taraf pengagungan. Begitu pula dengan olah raga lainnya dari tinju, bola basket, bola volly, motor cross, balap mobil.

Fenomena yang tak kalah hebatnya dalam masalah gambar ini adalah apa yang terjadi pada orang-orang yang notabenenya doyan ngaji, dengan mengagungkan ulama’. Kita melihat gambar para para ulama’ yang terpampang di dinding, begitu besar pengagungan mereka terhadap ulama’ tersebut, sehingga meskipun hanya berupa gambar tetap dikhawatirkan nantinya akan terjerumus ke dalam kesyirikan sebagaimana dahulu kala yang pernah terjadi kesyirikan pada kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam, awalnya mereka hanya membuat gambar orang-orang shalih pada masa tersebut, yaitu; Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Hal ini mereka lakukan dengan tujuan agar ketika beribadah bisa lebih semangat dengan mengingat orang shalih tersebut. Namun pada akhirnya generasi penerus mereka yang tidak paham akan dibuatnya gambar dan patung tersebut, justru menjadikannya sebagai sesembahan.

Oleh karena fitnah yang besar di atas, kami merasa perlu untuk menulis sebuah makalah yang berkenaan dengan hal tersebut yang kami beri judul “Hukum Menggambar dalam Tinjauan Syar’i”.

Di dalamnya kami paparkan; ta’rif tashwir, berbagi riwayat hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, macam-macam bentuk tashwir, perkataan papa ulama’ tentang hukum tashwir dan hukum gambar, batasan kategori tashwir, tashwir yang dibolehkan, hal-hal yang ditimbulkan akibat gambar, tidak masuknya para Malaikat sebuah rumah yang di dalamnya ada gambar, sejarah awal mulanya gambar dan patung-patung disembah.

 

 

 

 

 

 

 

Penulis,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. Pengertian

Dalam Bahasa Arab berkaitan dengan gambar penyebutannya berbeda-beda, terkadang dengan kata(صَوَّرَ) atau kata (الصُّوْرَةُ), ataupun kata (التَّصْوِيْرُ) kesemuanya adalah bermuara pada satu kata (صور), kata tersebut terdiri dari tiga huruf yaitu shaad, waawu dan raa’.1

Kata (صَوَرَ) mengandung arti condong dan bengkok.2 Sedangkan kata (الصُّوْرَةُ) mengandung beberapa arti, yaitu: gambaran,3 bentuk,4 Sifat,5 dan patung.6

Allah telah berfirman:

{ الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ * فِي أَيِّ صُوْرَةٍ مَا شآءَ رَكَّبَكَ }

Artinya,” (Allah ‘Azza Wa Jalla) Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan susunan tubuhmu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”(Al-Infithar: 7-8).7

Kata tersebut (الصُّوْرَةُ) bentuk jama’(plural)nya adalah (صُوَرٌ), sebagaimana firman Allah :

{ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ }

Artinya,” Dialah (Allah ) yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya.”( QS. Ali Imran: 6 ).8

Sementera kata (صَوَّرَ) dan (التَّصْوِيْرُ) yang bentuk jama’nya adalah (التَّصَاوِيْْرُ) memberikan pengertian, yaitu: menggambar sesuatu atau manusia di atas kertas, dinding ataupun semisalnya dengan menggunakan bolpoin, jangka ataupun segala jenis alat untuk menggambar. Allah telah berfirman:

{ هُوَالَّذِيْ يُصَوِّرُكُمْ فِي اْلأَََرْحَامِ كَيْفَ يَشآءُُ }

Artinya,” Dia (Allah ) membentuk rupamu dan membaguskan rupamu.” ( QS. At-Taghabun: 3).9

Allah adalah (المُصَوِّرُ) yaitu Dzat yang membuat semua yang ada dan mengaturnya serta memberinya segala sesuatu diantaranya ada pemberian yang khusus begitu pula dalam kedaan tertentu (yang berbeda-beda ) sesuai keberadaan dan jumlahnya masing-masing.10

Dalam masalah menggambar ada yang namanya (التَّصْوِيْرُ الشَمْسِيُّ) yaitu mengambil gambar dengan menggunakan kamera atau photografi.11

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. Firman Allah

{ إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا }

 

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela’natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”(QS. Al Ahzab: 57)

Imam Ikrimah Rahimahullah berkata, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan terhadap para perupa.12 Dan bahwasanya mereka berlawanan terhadap amalan yang tidak layak untuk dilakukan kecuali oleh Allah , seperti membuat gambar dan lainnya. Rasulullah j juga telah bersabda,” Allah melaknat para perupa.”13

Imam Al Qurthubi Rahimahullah berkata,” Hal inilah yang menguatkan Imam Mujahid dalam pendapatnya yang malarang untuk menggambar pepohonan dan yang lainnya.”14

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. Hadits-hadits Rasulullah j

Hadits-hadits Rasulullah j berkenaan dengan masalah tashwir adalah telah mencapai derajat mutawatir.15 Hadits-hadits tersebut diriwayatkan dari sahabat Rasulullah j, yaitu: Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud, A’iysah, Abu Hurairah, Abu Sa’id Al Khudri, Abu Thalhah Al Anshari, Jabir bin Abdullah, Imran bin Haththan, Abu Juhaifah, Abul Hayyaj Hayyan bin Hushain radhiallahu’anhum.

Diriwayatkan oleh imam-imam ahli hadits dalam kitab-kitab mereka. Periwayatan hadits-hadits tersebut semuanya dalam kitabul-libas, akan tetapi dalam riwayat imam Al Bukhari juga terdapat dan terulang penyebutannya dalam kitab lain (tidak hanya kitabul-libas).

Adapun sanad-sanadnya terkadang berbeda-beda, maka dalam riwayat imam Muslim adalah paling banyak, dikarenakan periwayatannya beda sanad. Lebih lengkapnya periwayatan hadits-hadits gambar adalah diriwayatkan oleh:

  • Al Bukhari dalam Ash shahih Kitabul Libas, Kitabush Shalat dan Kitabul Ambiya’, Kitabut Ta’bir dan Kitabut Tauhid (sekitar 30 hadits).
  • Muslim dalam Ash shahih Kitabul Libas waz Zinah (34 hadits).
  • At Turmudzi dalam As Sunan atau Al Jami’ Abwaabul Adab, bab maa jaa’a annal Malaikata laa tadkhulu baitan fiihi shuratun walaa kalbun (3 hadits) dan Kitab Shifati Jahannam(1 hadits).
  • Abu Daud dalam As Sunan Kitabul Libas babun fish shuwar (9 hadits).
  • An Nasa’i dalam As Sunan atau Al Mujtaba Kitabul Libas (19 hadits).
  • Ibnu Majah dalam As Sunan Kitabul Libas (5 hadits).
  • Malik dalam Al Muwaththa’ Kitabul Libas (3 hadits).
  • Ahmad dalam Al Musnad, Al Baihaqi dalam As Sunan.
  • Abdurrazaq dalam Al Mushannaf.
  • Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Ausath.
  • Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah Kitabul Libas babut tashwir wa wa’idil mushawwirin (12 hadits).

Hadits-hadits gambar juga dikumpulkan dan disebutkan oleh para ulama’ dalam kitab-kitab mereka, seperti:

  • Al Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id.
  • An Nawawi dalam Riyadhush Shalihin.
  • Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair.
  • Ibnul Atsir Al Jazari dalam Jami’ul Ushul fii Ahadits ar-Rasul (25 hadits).
  • Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Fatawa wa Maqalat dan kitab Al Jawab Al Mufid fi Hukmit Tashwir (sekitar 23 hadits).
  • Syaikh Al Utsaimin dalam Fatawa Al Aqidah dan lain-lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Larangan Menggambar, Celaan Bagi Penggambar dan Ancamannya

 

Hadits Pertama

عَنِ ابْنِ عُمَرَ d أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ jقَالَ : (( إِنَّ الَّذِيْنَ يَصْنَعُوْنَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ :أَحْيُوْا مَا خَلَقْتُمْ )) (رواه البخاري ومسلم والنسائي وأحمد)

Dari Ibnu Umar d berkata: bahwasanya Rasulullah j bersabda,” Mereka yang membuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat dan akan dikatakan kepada mereka,” hidupkan apa yang telah kamu ciptakan!”” (HR Al Bukhari, Muslim, An Nasa’I, Ahmad).16

Maksud dari kalimat “hadzihi ash-shuwar” adalah gambar yang memiliki ruh. Adapun kalimat “hidupkan apa yang telah kamu ciptakan” memberikan pengertian yaitu jadikanlah di dalam apa-apa yang telah kamu buatnya sebagai penyerupaan terhadap ciptaan Allah Ta’ala, permintaan di sini menunjukkan akan kelemahan atau ketidakmampuan manusia untuk melakukannya.

 

Hadits kedua

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ d قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَ j قَالَ : (( إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَاباً يَوْمَ اْلقِيَامَةِ اْلمُصَوِّرُوْنَ )) (رواه البخاري ومسلم والنسائي وأحمد)

Dari Ibnu Mas’ud d berkata,”Aku mendengar Rasulullah j bersabda,” Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya pada hari kaiamat adalah para penggambar (perupa).”(HR Al Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad)17

 

Hadits ketiga

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ jمِنْ سَفَرٍ وَقَدْ سَتَرْتُ سَهْوَةً لِي بِقِرَامٍ فِيْهِ تَمَاثِيْلُ فَلَمَّا رَآهُ رَسُوْلُ اللهِ jَ تَلَوَّنَ وَجْهُهُ وَقَالَ :(( يَا عَائِشَةُ أَشَدُّ النّاَسِ عَذَاباً يَوْمَ اْلقِيَامَةِ الَّذِيْنَ يُضَاهِئُوْنَ بِخَلْقِ اللهِ )) فَقَطَعْنَاهُ فَجَعَلْنَا مِنْهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَانِ (رواه البخاري ومسلم و النسائي وأحمد ومالك )

Dari A’isyah Radhiyallahu ‘anha berkata,”Rasulullah datang dari bepergian, sedang di dalam rumah aku memasang tabir yang ada gambarnya, maka tatkala Rasulullah melihatnya berubahlah wajah beliau serambi bersabda,”Wahai A’isyah ketahuilah bahwa manusia yang paling pada hari kiamat adalah mereka yang menyaingi ciptaan Allah .” Kamudian kami memotongya dan kami jadikan darinya satu bantal atau dua bantal.” (HR Al Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad)18

Kalimat ”talawwana wajhuhu” atau “berubahlah wajahnya” menunjukkan tanda dari kemarahan. Adapun kalimat”yudhahi’un bi khalkillah” adalah menyerupakan dengan ciptaan Allah Ta’ala dari gambar yang telah mereka buat. Sedangkan kalimat “faqatha’nahu” atau “kami memotongnya” adalah menunjukkan akan hilangnya kategori gambar yang diharamkan.

 

 

 

 

Hadits keempat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ d قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ j يَقُوْلُ : ((قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَنْ أَظْلَمُ ِمّمَنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوْا ذَرَّةً أَوْلِيَخْلُقُوْا حَبَّةً أَوْلِيَخْلُقُوْا شَعِيْرَةً )) (رواه البخاري ومسلم و أحمد والبغوي )

Dari Abu Hurairah d berkata:aku mendengar Rasulullah j bersabda,“Allah berfirman: siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang mencoba menciptakan seperti ciptaan-Ku, hendaklah mereka menciptakan seekor semut kecil atau sebutir biji-bijian atau sebutir biji gandum.”(HR Al Bukhari, Muslim,Ahamad)19

Di dalam bahasa arab kalimat “man azhlamu” atau “siapakah yang lebih zhalim” adalah menunjukkan pengingkaran dan peniadaan terhadap sesuatu, jadi maksudnya adalah tiada seorangpun yang lebih dzalim daripada orang yang menyerupakan dengan ciptaan Allah Ta’ala. Adapun kalimat “fal yakhluquu” atau “hendaklah mereka menciptakan” memberika pengertian yaitu benar-benar menciptakan yang belum ada menjadi ada. Sedangkan kata “dzarrah” adalah bagian terkecil dari benda yang tidak dapat dibagi lagi.

Di dalam hadits tersebut juga memberikan faidah, bahwa amalan para perupa adalah sangat jelek dan cacat dikarenakan karena penyerupaan dengan ciptaan Allah Ta’ala tersebut. Begitu pula amalan tersebut mereka lakukan karena lemahnya din mereka akan hal itu.

Hadits kelima

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ d قاَلَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ j يَقُوْلُ : ((مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فِي الدُّنْياَ كُلِّفَ أَنْ يُنْفَخَ فِيْهَا الرُّوْحَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَ لَيْسَ بِنَافِخٍ )) (رواه البخاري و مسلم وأبوداود و الترمذي والنسائي وأحمد)

Dari Ibnu Abbas d berkata,”Aku mendengar Rasulullah j bersabda,” Barangsiapa yang menggambar suatu gambar di dunia, maka akan dibebani pada hari kiamat untuk memberi ruh padanya. Padahal dia tidak akan mampu untuk melakukan hal itu (memasukkan ruh ke dalamnya).”(HR Al Bukhari, Muslim, At Turmudzi, Abu Daud, An Nasa’I, Ahmad)20

Kata “kullifa” atau ”dibebani” adalah memaksa dan melemahkan (menunjukkan kelamahan) baginya. Sedangkan “laisa bi naafikhin” adalah benar-benar tidak bisa untuk melakukannya dan tidak bisa mendatang sesuatu dari perintah tersebut.

 

Hadits keenam

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ d عَنِ النَّبِيِّ j قَالَ:((….وَمَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً عُذِّبَ وَ كُلِّفَ أَنْ يُنْفَخَ فِيْهَا وَ لَيْسَ بِنَافِخٍ )) (رواه البخاري و مسلم والبغوي )

Dari Ibnu Abbas d, dari Rasulullah j bersabda,” …… dan barangsiapa yang menggambar suatu gambar, maka akan diadzab dan dibebani untuk memberi ruh padanya. Padahal dia tidak akan mampu untuk melakukan hal itu (memasukkan ruh ke dalamnya).”(HR Al Bukhari, Muslim dan Al Bagwawi)21

 

Hadits ketujuh

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ dقاَلَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ j يَقُوْلُ : ((كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ يُجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ )) وَقاَلَ ابْنُ عَبَّاسٍ d: إِنْ كُنْتَ لاَ بُدَّ فَاعِلاًفاَصْنَعِ الشَّجَرَ وَمَا لاَ نَفْسَ لَهُ)) (رواه البخاري ومسلم والنسائي وأحمد واللفظ لمسلم )

Dari Ibnu Abbas d berkata,”Aku mendengar Rasulullah j bersabda,” Setiap pelukis di Neraka, dijadikan baginya dari setiap gambar yang digambarnya yang jiwa yang kemudian kemudian menyikasanya di neraka Jahannam”Ibnu Abbas d berkata: jika kamu harus melakukannya maka buatlah pohon dan apa-apa yang tidak bernyawa.” (HR Al Bukhari, Muslim, Ahamad dan lafadz milik Muslim)22

Kalimat “bi kulli shuuratin” atau “dengan setiap gambar” maksudnya adalah hal tersebut sebagai sebabnya atau sebagai gantinya. Sedangkan perintah dari kalimat “buatlah” dari perkataan Ibnu Abbas Radliyallahu ‘anhu yaitu untuk melakukan pembuatan gambar tersebut.

 

Hadits kedelapan

عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ d عَنِ النَّبِيِّ j أَنَّهُ لَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَ مُوَكِّلَهُ وَ لَعَنَ اْلمُصَوِّرُوْنَ (رواه البخاري )

Dari Abu Juhaifah d , dari Nabi j, bahwasanya beliau melaknat orang yang memekan riba, yang berserikat dengannya dan melaknat para perupa.(HR Al Bukhari dan Ahmad)23

 

 

 

 

Hadits kesembilan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ d قاَلَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللهُ j :(( تَخْرُجُ عُنُقٌ مِنَ النَّارِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ لَهَا عَيْناَنِ تَبْصِرَانِ وَأُذُناَنِ تَسْمَعَانِ وَلِسَانٌ يَنْطِقُ يَقُوْلُ:إِنِّي وُكِّلْتُ بِثَلاَثٍ:بِكُلِّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَ مَنْ دَعَا مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ وَبِاْلمُصَوِّرِيْنَ)) (رواه الترمذي وأحمد)

Dari Abu Hurairah d, Rasulullah j bersabda,” Akan keluar dari Neraka pada Hari Kiamat sebuah kepala yang (memiliki dua mata yang bisa melihat, dua telinga yanga mendengar dan satu lisan yang bisa berbicara), berkata: sesungguhnya aku diserahkan kepada tiga golongan yaitu setiap orang yang bertindak sewenang-wenang lagi keras kepala, setiap yang menyekutukan Allah dan para perupa (tukang menggambar).”(HR At Turmudzi dan Ahamad)24

 

  1. Hadits-hadits Berkenaan dengan Hukum Gambar

 

Hadits kesepuluh

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ dعَنْ أَبِي طَلْحَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ j قاَلَ: (( لاَ تَدْخُلُ اْلمَلاَئِكَةُ بَيْتاً فِيْهِ كَلْبٌ وَ صُوْرَةٌ )) (رواه البخاري ومسلم والترمذي)

Dari Ibnu Abbas d, dari Abu Thalhah d, dari Nabi j bersabda,” Para Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.”(HR Al Bukhari, Muslim,At Turmudzi, Abu Daud, An Nasa’I, Ibnu Majah, Abdurrazaq)25

 

Hadits kesebelas

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ dقاَلَ: أَنَّ النَّبِيَّ j لَمَّا رَآ الصُّوْرَةَ فِي اْلبَيْتِ يَعْنِي اْلكَعْبَةِ لَمْ يَدْخُلْ حَتَّى أَمَرَ بِهَا فَمُحِيَتْ وَ رَآ إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَائِيْلَ بِأَيْدِيِّهِمَا اْلأَزْلاَمُ فَقَالَ j: (( قَاتَلَهُمُ اللهُ وَاللهِ إِنِ اسْتَقْسَمَا بِاْلأَزْلاَمِ قَطٌّ)) (رواه البخاري وعبد الرّزاق)

Dari Ibnu Abbas d, berkata,” bahwasanya tatkala Nabi j melihat gambar di al Bait(Ka’bah), maka beliau tidak mau masuk sehingga beliau memerintahkan untuk dihapusnya gambar tersebut dan beliau melihat gambar Ibrahim dan Ismail dengan panah di tangan keduanya, maka Nabi j bersabda,” Allah memerangi mereka, Demi Allah, keduanya tidak ada ikatan sama sekali dengan panah-panah itu”(HR Al Bukhari, Abdurrazaq)26

 

Hadits keduabelas

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: أَنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَاعَدَ النَّبِيَّ j فِي سَاعَةٍ يَأْتِيْهِ فِيْهَا فَجَاءَتْ تِلْكَ السَّاعَةُ وَلَمْ يَأْتِهِ وَفِي يَدِهِ عَصَا فَأَلْقَاهَا مِنْ يَدِهِ وَقَالَ: مَا يُخْلِفُ اللهُ وَعْدَهُ وَلاَ رُسُلُهُ ثُمَّ اْلتَفَتَ فَإِذَا جَرْوُ كَلْبٌ تَحْتَ سَرِيْرِهِ فَقَالَ: يَاعَائِشَةَ مَتَى دَخَلَ اْلكَلْبُ هَهُنَا فَقَالَتْ: وَاللهِ مَادَرَيْتُ فَأَمَرَ بِهِ فَأَخْرَجَ فَجَاءَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ j : وَاعَدْتَنِي فَجَلَسْتُ لَكَ فَلَمْ تَأْتِ فَقَالَ: مَنَعَنِيَ اْلكَلْبُ الَّذِيْ كَانَ فِي بَيْتِكَ إِنَّا لاَ نَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ كَلْبٌ وَلاَصُوْرَةٌ (رواه البخاري ومسلم )

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha: bahwasanya Jibril as telah bejanji kepada nabi j dan akan mendatanginya pada suatu saat, maka tatkala waktu yang telah dijanjikan itu berlalu tetapi dia belum juga datang, sementara di tanmgan beliau ada tongkat seraya bersabda ,” Tidaklah Allah ‘Azza Wa Jalla itu mengingkari janji-Nya begitu pula para utusan-Nya, kemudian beliau memengok ternyata ada seekor anjing yang lari dari tempat tidurnyamaka beliau bersabda ,” wahai A’isyah kapan anjing ini masuk kesini!?, A’isyah berkata:Demi Allah ‘Azza Wa Jalla ku tidak tahu.(Rasulullah j menyuruhnya untuk mengeluarkan anjaing tersebut, maka keluarlah anjing itu), baru setelah itu datanglah Jibril maka Rasulullah j bertanya kepadanya:bukankah Engkau telah berjanji kepadaku, aku telah duduk lama menunggumu tetapi Engkau tidak kunjung datang?, Malaikat Jibril berkata,” aku tercegah oleh anjing yang ada di dalam rumahmu dan sesungguhnya kami tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjindan gambar.”(HR Al Bukhari, Muslim dan lafadznya milik Muslim)27

 

Hadits ketigabelas

عَنْ عِمْرَانِ بْنِ حَطَّان ٍd: أَنَّ عَائِشَةَ حَدَثَتْهُ أَنَّ النَّبِيَّ j لَمْ يَكُنْ يَتْرُكُ فِي بَيْتِهِ شَيْئًا فِيْهِ تَصَالِيْبُ إِلاَّ نَقَضَهُ (رواه البخاري و البغوي)

Dari Imran bin Haththan d (dia diceritai oleh A’isyah), “Bahwa nabi j tidak pernah meninggalkan di rumahnya gambar-gambar salib melainkan beliau melepasnya.”(HR Al Bukhari dan disebutkan pula oleh Al Baghawi ) 28

 

 

 

 

Hadits keempatbelas

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ j أَنَّهُ خَرَجَ فِي غَزَاةٍ قَالَتْ: فَأَخَدْتُ نَمَطًا فَسَتَرْتُهُ عَلَى اْلبَابِ فَلَمَّا قَدِمَ فَرَآهُ النَّمَطَ عَرَفْتُ اْلكَرَاهَةَ فِي وَجْهِهِ فَجَذَبَهُ حَتَّى هَتَكَهُ أَوْ قَطَعَهُ وَقَالَ: إِنَّ اللهَ لَمْ يَأْمُرْنَا أَنْ نَكْسُوَ اْلحِجَارَةِ وَالطِّيْنَ قَالَتْ: فَقَطَعْنَا مِنْهُ وِسَادَتَيْنِ وَحُشُوْتَهُمَا لَيِّفًا فَلَمْ يُعِبْ ذَلِكَ عَلَىَّ (رواه مسلم وأبو داود)

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, dari Rasulullah j,“Bahwasanya beliau keluar pada suatu peperangan. A’isyah berkata: aku mengambil permadani yang kujadikan sebagai tirai sebuah pintu, tatkala beliau kembali maka terlihatlah olehnya permadani tersebut yang kulihat ada kebencianpada wajahnya.kemudian beliau menariknya, merobek dan memotongnya seraya bersabda,” sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla tidak memerintahkan kami untuk mengukir batu dan tanah.” A’isyah berkata: maka kemudian kami memotongnya dan kami jadikan dua bantal kecil yang berisikan kapas sedang hal itu tidak membuatku aib.(HRMuslim dan Abu Daud)29

 

Hadits kelimabelas

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ d قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ j:(( أَتَانِي جِبْرِيْلُ فَقَالَ: إِنِّي كُنْتُ أَتَيْتُكَ اْلبَارِحَةَ فَلَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَكُوْنَ دَخَلْتُ عَلَيْكَ اْلبَيْتَ الَّذِيْ كُنْتَ فِيْهِ إِلاَّ أَنَّهُ فِي بَابِ اْلبَيْتِ تِمْثَالُ الرِّجَالِ وَكَانَ فِي اْلبَيْتِ قِرَامٌ سُتَرَ فِيْهِ تَمَاثِيْلُ وَكَانَ فِي اْلبَيْتِ كَلْبٌ فَمَرَّ بِرَأْسِ التِّمْثَالِ الَّذِيْ بِاْلبَابِ فَلْيَقْطَعْ فَيَصِيْرُ كَهَْئَةِ الشَّجَرَةِ وَمَرَّ بِالسَّتَرِ فَلْيَقْطَعْ وَيُجْعَلُ مِنْهُ وِسَادَتَيْنِ مُنْتَبِذَيْنِ تُوْطَآنِ وَمَرَّ بِاْلكَلْبِ فَيَخْرُجُ ))(رواه الترمذي وأبو داود و البغوي)

 

Dari Abu Hurairah d, Rasulullah j bersabda,” Jibril mendatangiku seraya berkata: semalam aku mendatangimu akan tetapi di pintu rumah ada patung berbentuk manusia, kain penutup yang di dalamnya ada patung-patung serta adanya anjing (maka Rasulullah diperintahkan untuk memotong kepala patung tersebut, kemudian terpotonglah dan menjadi seperti pohon, begitu pula dengan kain itu dan dijadikan dua buah bantal akan tetapi bukan untuk diinjak dan memerintahkan untuk mengeluarkan anjing maka dikeluarkannya anjing tersebut).”(HR At Turmudzi dan dia berkata: hadits hasan shahih, juga diriwayatkan oleh Abu Daud, Ahmad serta Al Baghawi)30

 

Hadits keenambelas

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ d أَنَّ جِبْرِيْلَ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ j فَعَرَفَ رَسُوْلُ اللهِ صَوْتَهُ فَقَالَ: أُدْخُلْ فَقَالَ:إِنَّ فِى اْلبَيْتِ سَتْرًا فِى اْلحَائِطِ فِيْهِ تَمَاثِيْلُ فَاقْطَعُوْا رُؤُوْسَهَا وَاجْعَلُوْهُ بَسَطًا وَوَسَائِدَ فَأَوْطَئُوْهُ فَإِنَّا لاَنَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ تَمَاثِيْلُ (رواه أحمد وعبدالرزاق)

Dari Abu Hurairah d, “bahwasanya Jibril datang dan mengucapakan salam atas Nabi j maka mengertilah Rasulullah akan suaranya kemudian berkatalah beliau: masuklah. Jibril berkata:sesungguhnya di dalam rumah ada kain di dinding yang di dalamnya ada gambar-gambar, maka pootnglah kepalanya dan jadikanlah sebagai hamparan serta bantal-bantal juga injaklah ia. Sesungguhnya kami tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar.”(HR Ahmad, Abdurazaq dan Al Baghawi)31

 

 

 

 

Hadits ketujuhbelas

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ j مِنْ غَزْوَةٍ وَ فِي سَهْوَتِهَا سَتَرٌ فَهَبَّتْ رِيْحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةُ السَّتَرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ :فَقَالَ: مَاهَذَا يَاعَائِشَةُ ؟ قَالَتْ: بَنَاتيِ وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرْسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ فَقَالَ: مَاهَذَا وَسَطُهُنَّ ؟ قَالَتْ: فَرْسٌ. قاَلَ:وَمَاهَذَاالَّذِيْ عَلَيْهِ؟ قَالَتْ: جَنَاحَانِ. قَالَ: فَرْسٌ لَهُ جَنَاحَانِ؟ قَالَتْ: أَمَّاسَمِعْتُ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلاً لَهــــَا أَجْنِحَةٌ قَالَتْ فَضَحِكَتْ (رواه أبوداود والبغوي)

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha berkata,”Sekembalinya Rasulullah j dari suatu peperangan, sementara kain yang ada pada dinding terhembus angin maka tersingkaplah sudut tirai tersebut dan nampaklah bonekanya A’isyah (mainan). Bersabdalah beliau: wahai A’isyah apa ini ?, dijawabnya: bonekaku. Kemudian beliau melihat (diantara boneka tersebut) ada kuda yang memiliki dua sayap dari kain tambalan lalu bertanya: apa ini yang ada di tengahnya ?, dijawab oleh A’isyah,”kuda. Rasulullah j bertanya kembali: yang di atasnya apa?, dijawabnya:dua sayap. “kuda memiliki dua sayap?”(ungkap beliau). A’isyah berkata: adapun yang pernah aku dengar(ketahui) bahwa nabi Sulaiman ‘alaihis salam memiliki kuda yang bersayap banyak dan kemudian berkata,”Maka Rasulullah j tertawa.”(HR Abu Daud dan Al Baghawi)32

 

Hadits kedelapanbelas

عَنْ أَبيِ اْلهَيَّاجِ حَيَّانَ بْنِ حُصَيْن ٍd قَالَ: قَالَ لِي عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ d أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَابَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ j ؟ أَنْ لاَ تَدَعَ صُوْرَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهَا (رواه مسلم والترمذي)

Dari Abu Al Hayyaj Hayyan bin Hushain berkata: Ali bin Abi Thalib d berkata kepadaku,” maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah j mengutusku?, yaitu jangan kamu biarkan suatu gambar kecuali kamu musnahkannya dan jangan kamu biarkan kuburan yang menonjol kecuali kamu ratakan dengan tanah!” (HR Muslim, At Turmudzi, Abu Daud, An Nasa’I, Ahamad)33

 

Hadits kesembilanbelas

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ d قَالَ: دَخَلَ النَّبِيُّ j اْلبَيْتَ فَوَجَدَ فِيْهِ صُوْرَةَ إِبْرَاهِيْمَ وَ صُوْرَةَ مَرْيَمَ فَقَالَ: أَمَّا هُمْ فَقَدْ سَمِعُوْا أَنَّ اْلمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ صُوْرَةُ هَذَا إِبْرَاهِيْمَ مُصَوَّرٌ فَمَالَهُ يَسْتَقْسِمُ (رواه البخاري)

Dari Ibnu Abbas d berkata,”Nabi j masuk suatu rumah dan didapati di dalamnya gambar Ibrahim dan Maryam, maka beliau bersabda:bukankah mereka telah mendengar bahwa para Malaikat itu tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada gambar dan ini adalah Ibrahim yang digambar padahal dia tidak ada ikatan sama sekali.”(HR Al Bukhari)34

 

Hadits keduapuluh

عَنْ جَابِرٍd قَالَ: نهََــَى رَسُوْلُ اللهِ j عَنِ الصُّوْرَةِ فِي اْلبَيْتِ وَنَهَـــى أَنْ تــُـصْنَعَ ذَلِكَ (رواه الترمذي)

Dari Jabir d berkata,”Rasulullah j melarang gambar di dalam rumah dan juga melarang untuk membuatnya.”(HR At Turmudzi, beliau berkata: hadits Jabir adalah hadits hasan shahih)35

 

Hadits keduapuluh satu

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيْبَةَ وَ أُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيْسَةً رَأَيْنَهَا بِاْلحَبْشَةِ فِيْهَا تَصَاوِيْرُ لِرَسُوْلِ اللهِ j فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: (( إِنَّ أُولئِكَ إِذَا فِيْهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَ صَوَّرُوْا فِيْهِ تِلْكَ الصُّوَرَ أولئِكَ شِرَارُ اْلـخَلْقِ عِنْدَاللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ )) (رواه البخاري ومسلم والنسائي )

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha: bahwasanya Ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebut akan gereja yang pernah keduanya lihat di negeri Habsyi(Ethiopia) kepada Rasulullah j yang didalamnya ada gambarnya, maka Rasulullah bersabda,” sesungguhnya dahulu diantara mereka ada orang shalih yang kemudian meninggal dunia dan selanjutnya mereka membangun di atas kuburannya sebuah masjid, kemudian digambarlah di dalamnya. Ketahuilah bahwa mereka adalah sejahat-jahatnya manusia di sisi Allah di hari Kiamat.”(HR Al Bukhari dan Muslim)36

 

Hadits keduapuluh dua

عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِاللهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى أَبِي طَلْحَةَ اْلأَنْصَارِيِّ يَعُوْدُهُ قَالَ: فَوَجَدَ عِنْدَهُ سَهْلَ بْنِ حُنَيْفٍ فَدَعَا أَبُوْ طَلْحَةَ إِنْسَانًا فَنَزَعَ نَمَطًا مِنْ تَحْتِهِ فَقَالَ لَهُ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ لِمَ تَنْزِعُهُ؟ قَالَ: ِلأَنَّ فِيْهَا تَصَاوِيْرَ وَقَدْ قَالَ فِيْهِ النَّبِيُّ j مَا قَدْ عَلِمْتَ، فَقَالَ سَهْلُ: أَوَلَمْ يَقُلْ: إِلاَّ مَا كَانَ رَقْمًا فِي ثَوْبٍ (رواه مالك والترمذي)

Dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud bahwasanya dia (Ubaidullah) masuk ke dalam rumah Abu Thalhah Al Anshari, maka sekembalinya dia berkata: bersamanya Sahl bin Hunaif, maka Abu Thalhah memanggil seseorang, lalu melepas permadani (kain) dari bawahnya. Kemudian berkatalah Sahl bin Hanif kepadanya: kenapa kamu melepasnya?. Abu Thalhah menjawab: karena di dalamnya ada gambarnya, dan nabi j pernah bersabda sebagaimana yang engkau ketahui. Kemudian Sahl berkata: bukanakah beliau menyebutkan,” kecuali tulisan yang ada pada baju.”(HR Malik dan At Turmudzi, sanadnya shahih)37

Kata “illa raqman fits tsaub”, dikatakan oleh syaikh Al Utsaimin Rahimahullah berkata,” Kami melihat bahwa hadits “illa raqman fits tsaub”, merupakan nash yang mutasyabih, adapun ka’idah yang benar adalah bahwa dia harus dibawa ke yang muhkam, sebagaiman firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata,” Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.(Ali Imran:7). Oleh karenanya tidaklah terdapat penyerupaan dan hadits tersebut, mencakup raqm secara umum; meliputi gambar hewan, pepohonan dan yang lainnya. Jika terbawa mak dibawa ke dalam nash-nash yang muhkam yang menjelaskan maksud dari dari raqm yang bukan gambar hewan atau manusia sampai nash tersebut diterpkan dan disepakati.”38

 

Hadits kedua puluh tiga

عَنْ إِسْحَاقَ بْنُ عَبْدِاللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ : أَنَّ رَافِعَ بْنَ إِسْحَاقَ أَخْبَرَهُ قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَعَبْدُاللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ عَلَى أَبِي سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيِّ نَعُوْدُهُ فَقَالَ أَبُوْسَعِيْدٍ: أَخْبَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ j (( أَنَّ اْلمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ تـَمَاثِيْلُ أَوْ صُوْرَةٌ))

Dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah berkata: bahwasanya Rafi’ bin Ishaq memberi kabar kepadanya: aku dan Abdullah bin Abi Thalhah masuk kepada Abu Sa’id Al Khudri, maka Abu Sa’id berkata: kami telah dikabari oleh Rasulullah j,” bahwasanya para Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada patung-patung dan gambarnya” (HR Malik dan At Turmudzi)39

 

Hadits keduapuluh empat

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا أَخَبَرَتْهُ أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيْهَا تَصَاوِيْرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُوْلُ اللهِ j قَامَ عَلَى اْلبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَعَرَفْتُ فِي وَجْهِهِ اْلكَرَاهَةَ فَقُلْتُ: يَارَسُوْلَ اللهِ أَتُوْبُ إِلَى اللهِ وَإِلَى رَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَاذَا أَذْنَْتَ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ j : ((مَابَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ؟ قُلْتُ: اشْتَرَيْتُهَالَكَ لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَ تُوَسِّدَ بِهَا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ j : إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يُعَذَّبُوْنَ فَيُقَالُ لَهُمْ: اَحْيَوْا مَا خَلَقْتُمْ وَقَالَ: إِنَّ اْلبَيْتَ الَّذِيْ فِيْهِ الصُّوْرَةُ لاَ تَدْخُلُهُ اْلمَلاَئِكَةُ)) (رواه البخاري ومسلم ومالك)

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia membeli kain yang ada gambarnya, maka tatkala Rasulullah j melihatnya nampaklah rasa tidak suka pada dirinya. Kemudia aku bertanya kepadanya,” Wahai Rasulullah aku bertaubat kepada Allah Ta’ala dan rasul-Nya, dosa apakah yang telah aku perbuat. Rasulullah j bersabda,” Apa-apaan dengan kain ini?, aku berkata: aku membelinya agar engakau bisa duduk dan bersandaran di atasnya. Kemudian beliau bersabda,” Sesungguhnya Mereka yang membuat gambar ini akan disiksa pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka,” Hidupkanlah dari apa yang telah kamu buat.” Dan sabdanya pula,” Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar, maka tidak akan dimasuki para Malaikat.”(HR Al Bukhari, Muslim dan Malik)40

 

 

 

 

V. Macam-macam jenis tashwir atau menggambar 41

Tashwir bisa berbentuk macam-macam, diantaranya:

  1. Menggambar yang ada ruhnya (berbadan) dalam bentuk patung atau berhala, baik dari; kayu, batu, tanah ataupun kapur. Bentuk ini adalah haram.
  2. Menggambar yang ada ruhnya, tetapi hanya berupa gambaran saja. Dalam bentuk ini ada beberapa macam dan ikhtilaf, diantaranya:

1. Digantung di dinding untuk diagungkan dan dihormati, seperti gambar para penguasa, pembesar, pemimpin, ataupun ulama’. Bentuk ini adalah diharamkan.

2. Untuk kenangan. Dalam hal ini adalah tidak dibolehkan, ditinjau dari beberapa hal:

  • mewajibkan keterikatan dengan hati
  • sesunggunya sebab tidak masuknya Malaikat adalah balasan bagi amalan yang diharamkan
  • beralasan untuk keindahan dan hiasan, adalah tidak dihalalkan.
  1. Menggambar yang tidak ada ruhnya, seperti; gambar pemandangan alam, gunung, lautan, pepohonan, matahari, bulan, bintang dan semacamnya. Menurut jumhur hal ini adalah diperbolehkan.

VI. Macam-macam Bentuk Shurah/Gambar

Adapun mengenai bentuk dari gambar, diataranya;

  • Patung atau berhala
  • Gambar yang dihinakan, baik pada karpet atau bantal
  • Photografi
  • Hanya berbentuk tulisan saja
  • Berhubungan dengan TV
  • Gambar yang ada di majalah, surat kabar/koran, lembaran
  • Gambar yang ada pada pakaian, karpet, tirai dan sejenisnya serta pemakaiannya
  • Gambar untuk anak kecil dan mainan anak/ boneka
  • Gambar yang digantungkan, dipajang
  • Gambar yang sulit dihindari dan telah menjadi musibah bagi kaum muslimin
  • Gambar kartun
  • Gambar karikatur

 

VII. Batasan Sesuatu disebut yang Masuk dalam Kategori Gambar

 

1. Apakah kategori Kategori Gambar disyaratkan mengandung bayangan

Ada syubhat berkenan dengan masalah gambar, segolongan orang menganggap bahwa gambar yang tidak diperbolehkan adalah gambar yang memiliki bayangan, sedangkan yang tak memiliki bayangan dianggap tidak apa-apa. Ketahuilah bahwa ini adalah pendapat bathil yang menyelisihi keumuman hadits-hadits Rasulullh shalallahu ‘alaihi wa salam dan juga keterangan jumhur Ulama’ yang menyatakan bahwa gambar tersebut meliputi bayangan ataupun tidak adalah sama saja.

a. Yang berpendapat sama

Ibnu Baththal Rahimahullah berkata,” Bahwa Abu Hurairah memahaminya (tashwir itu) meliputi yang mempunyai bayangan dan juga yang tidak serta hal ini adalah pengingkaran terhadap gambar yang di dinding.”42

Telah benar dari perkatan Ibnul Arabi Rahimahullah, bahwasanya gambar yang tidak memiliki bayangan, jika masih sisa bentuknya adalah haram, baik dihinakan ataupun tidak.43

Imam An Nawawi Rahimahullah menyebutkan, bahwa tidak ada bedanya antara yang memiliki bayangan dan yang tidak memiliki bayangan. Hal tersebut yang juga dikatakan oleh jumhur dari para shahabat dan para tabi’in, demikian pula perkataan Ats Tsauri, Malik, Abu Hanifah dan Asy Syafi’I.44

Imam Ibnu Hajar Rahimahullah, menyabutkan pekataan Ibnul ‘Arabi dari madzhab Maliki bahwasanya gambar yang memiliki bayangan adalah haram secara ijma’, baik itu dihinakan atau tidak.45

Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah berkata,” Dan penunjukan hadits itu umum untuk segala macam tashwir, baik yang memiliki bayangan ataupun tidak, gambaran itu di dinding, tirai, cermin, kertas atau selainnya. Karena nabi Shallallahu’alaihi wa sallam tidak membedakan antara yang memilki bayangan dan yang tidak memiliki bayangan.”46

Syaikh Al Utsaimin Rahimahullah berkata,” Sama saja kedudukannya, baik gambar tersebut memiliki bayangan ataupun tidak, begitu pula dengan gambar untuk bermain-main atau gurauan dan apa yang digambar di papan tulis untuk menjelaskan pemahaman para siswanya, seorang guru tidak boleh menggambar manusia ataupun binatang. Adapun jika terpaksa maka dia hendaknya menggambar bagian dari anggota badan tersebut dan tanpa menggambar dengan sempurna, misalnya dia menggambar kaki saja, yang kemudian dihapus. Tangan saja kemudian dihapus, dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan, Insa Allah Subhanahu wa Ta’ala hal ini tidak mengapa.”47

b. Yang berpendapat tidak sama

b.i. Yang menyamakan secara mutlak

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata,” Adapun gambar yang tidak memiliki bayangan, seperti; lukisan di dinding, di kertas dan gambar yang ada pada pakaian , tirai, gambar photografi maka kasemuanya ini adalah dibolehkan. Adalah semua jenis menggambar pada awal mulanya dilarang, berdasarkan hadits:

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha berkata,”Rasulullah datang dari bepergian, sedang di tengah rumah aku memasang tabir bergambar maka tatkala Rasulullah melihatnya berubahlah wajah beliau serambi bersabda,” wahai A’isyah ketahuilah bahwa manusia yang paling pada hari kiamat adalah mereka yang menyaingi ciptaan Allah ‘Azza Wa Jalla”(HR Al Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad).

Kemudian datanglah setelah itu akan rukhshah (keringanan) hukum gambar, berdasarkan hadits:

Dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud bahwasanya dia masuk ke Abu Thalhah Al Anshari sekembalinya, dia berkata: didapatinya Sahl bin Hunaif, maka Abu Thalhah memanggil seseorang maka dia melepas kain dari bawahnya kemudian berkata kepada Sahl bin Hunaif: kenapa kamu melepasnya?………….(HR Malik dan At Turmudzi, sanadnya shahih), Juga hadits:

Dari A’isyah, dia berkata: kami memiliki kain yang di dalamnya ada patung burung, dan di dalam jika beliau masuk maka menghadapnya, Rasulullah j bersabda: pindahkanlah barang ini, karena ketika aku melihatnya maka aku teringat akan dunia!(HR Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa hal tersebut tidak haram, sendainya haram maka beliau akan memusnahkannya dan tatkala mencukupkan dengan merubah wajahnya. Disebutkan bahwa alasan mengubah wajahnya adalah mengingat dunia, hal ini juga dikuatkan oleh Ath Thahawi(Imam madzhab Hanafi) yang berkata,” Sesungguhnya larangan syari’at pada awal mulanya adalah keseluruhan, meskipun hanya berupa tulisan karena pada masa itu mereka juga memanfaatkan untuk bentuk peribadatan. Kemudian ditetapkan larangan dari hal tersebut akan kebolehannya jika bentuknya hanya tulisan pada pakaian karena kemudharatan, dibolehkan pula yang dihinakan (diinjak) karena aman (tidak dikawatirkan) bagi orang bodoh untuk mengagungkannya, maka yang ada adalah larangan bagi gambar yang tidak dihinakan.”48

b.ii. Yang membolehkan gambar yang tidak memiliki bayangan dengan syarat

Imam Al Haramain Rahimahullah menyebutkan, bahwa gambar yang tidak memiliki bayangan yang dirukhshahkan adalah gambar pada tirai/kain atau bantal, adapun yang berada di dinding dan atap.49

2. Apabila terpotong kepalanya

Imam Ibnul Arabi Rahimahullah berkata,” Kesimpulannya…jika gambara tersebut dalam bentuk badan sempurna maka ia haram, namun jika terpotong kepalanya atau bagiaan-bagian tertentu, maka boleh dan ini yang benar.50

Beliau juga menyebutkan jika gambar itu terpotong kepalanya dan terpisah kedaannya maka ini dibolehkan. Ini juga pendapat Az Zuhri dan dikuatkan oleh An Nawawi.51

Imam Ar Raafi’I Rahimahullah, menukil dari jumhur bahwasanya jika gambar itu dipotong maka hilanglah larangan tersebut52

Imam Al Baghawi Rahimahullah berkata,” Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah d, Rasulullah j bersabda,” Jibril mendatangiku seraya berkata: semalam aku mendatangimu akan tetapi di pintu rumah ada patung berbentuk manusia, kain penutup yang di dalamnya ada patung-patung serta adanya anjing (maka Rasulullah j diperintahkan untuk memotong kepala patung tersebut, kemudian terpotonglah dan menjadi seperti pohon, begitu pula dengan kain itu dan dijadikan dua buah bantal akan tetapi bukan untuk diinjak dan memerintahkan untuk mengeluarkan anjing maka dikeluarkannya anjing tersebut).” Menunjukkan bahwa keberadaan tashwir jika dicabut sampai terpotong penyambungnya maka boleh untuk dipakai.”53

 

VIII. Perkataan Ulama’ seputar hukum menggambar

 

Imam Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah,54 berkata,” Hadits-hadits tersebut jelas adanya tentang pengharaman menggambar hewan dan bahwasanya ia merupakan pengharaman yang keras.”55

Imam Ibnul Arabi Rahimahullah berkata,” Kesimpulannya bahwa menggambar itu jika penggambaran tersebut berbentuk fisik maka ia adalah haram secara ijma’, namun jika hanya berbnentuk tulisan saja maka ada empat perkataan:

  • Boleh secara mutlak, berdasarkan hadits Nabi Sallahu ‘Alaihi wa Sallam shalallahu ‘alaihi wa salam yang menyebutkan “kecuali gambar pada pakaian.”
  • Dilarang secara mutlak hatta ar raqma.
  • Jika gambara tersebut dalam bentuk badan sempurna maka ia haram, namun jika terpotong kepalanya atau bagiaan-bagian tertentu maka boleh dan ini yang benar.
  • Jika dipakai sebagai barang yanga dihinakan (diinjak )maka boleh dan jika digantungkan maka tidak boleh.56

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata,” Tidak boleh membuat sesuatu yang sia-sia, seperti: menggambar hewan, patung, salib dan lain sebagainya dari hal-hal yang diharamkan pemakaiannya.”57

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata,” Para sahabat kami berkata: bahwa menggambar binatang (manusia tentunya lebih layak, pen) adalah haram, sekeras-kerasnya pengharaman dan termasuk dosa besar karena mendapat ancaman yang keras (sebagaimana di dalam hadits), baik membuatnya untuk dihinakan ataupun tidak maka ia adalah haram dengan segala keadaan dan karena merupakan penyerupaan terhadap ciptaan Allah ‘Azza Wa Jalla, baik itu di pakaian, karpet, dinar dan dirham, mata uang ataupun gambaran di dinding.”58

Imam Asy Syaukani Rahimahullah berkata,” Hal ini menunjukkan bahwa taswir adalah diharamkan karena ancaman atasnya pelakunya diadzab di neraka dan juga karena pelakunya dilaknat, hal ini tidak akan terjadi kecuali atas keharaman yang nyata dan juga termasuk penyerupaan terhadap ciptaan Allah ‘Azza Wa Jalla.”59

Syaikh Al Qar’awi hafidzhullah,60 menyebutkan akan keharaman menggambar dzat yang bernyawa.61

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah,62 berkata,” Telah banyak hadits-hadits dari Rasulullah j yang menunjukkan akan dilarangnya menggambar, dilaknatnya orang yang menggambar dan ancaman bagi mereka, maka orang Islam tidak boleh menggambar sesuatu yang bernyawa.”63

Syaikh Al Utsaimin Rahimahullah,64 berkata,” Adapun menggambar dengan tangan maka hukumnya dalah haram, bahkan ia merupakan dosa dari dosa-dosa besar karena nabi j melaknat pelakunya dan tak ada bedanya gambar tersebut memiliki bayangan ataupun tidak, halini sesuai dengan perkataan yang rajih dari keumuman hadits. Jika taswir merupakan dosa besar maka seseorang yang meminta tolong kepada orang lain untuk menggambar dirinya berarti dia telah memberi kuasa atas dosa dan permusuhan dan hal itu tidak dihalalkan.”65

Al-Lajnah Ad-Da’imah ditanya mengenai hukum menggambar, maka dijawabnya,” Pada dasarnya menggambar setiap apa-apa yang ada ruhnya, baik manusia ataupun seluruh hewan adalah haram, sama saja hal tersebut berbentuk badan ataupun melukisdi atas kertas atau pula gamabaraan di dinding dan begitu pula dengan photografi sesuai dengan keumuman yang ditunjukkan oleh hadts-hadts Rasulullah j.”66

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata,” Banyak hadits-hadits yang jelas melarang membuat patung dan menggambar apa-apa yang bernyawa, baik berupa manusia, hewan ataupun bangsa burung.”67

Syaikh Al Buraikan hafidzhullah, menyebutkan bahwa tashwir adalah diharamkan dan alasan pengharamannya karena meninggalkan adab terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu dengan menyerupakan dengan makhluk-Nya, begitu pula bahwa di sana shurah tersebut dijadikan sebagai sesembahan. 68

 

IX. Ancaman bagi para perupa serta hinaan bagi para perupa

 

Imam Al Qurthubi Rahimahullah (dalam Al Mufhim) berkata,” Barangsiapa yang menggambar sesuatu yang bernyawa untuk beribadah kepadanya maka hukumannya adalah lebih keras daripada yang bukan untuk beribadah”.69

Imam Al Khithabi Rahimahullah berkata,” Sesungguhnya beratnya siksa para perupa adalah karena gambarnya merupakan sesembahan selain Allah Ta’ala.”70

Ibnu Hajar Rahimahullah berkata,” Keadaan mushawwir (perupa) adalah orang yang paling keras siksanya, lalu bagaimana dengan frman Allah ‘Azza Wa Jalla,” Masuklah wahai pengikut Fir’aun kedalam adzab yang paling keras”, maka hal tersebut dijawab oleh Imam Ath Thabari yang maengatakan,” Maksud dari ayat tersebut adalah bagi yang menggambar dan ditujukan untuk beribadah serta dia mengetahui dari maksud tersebut maka sesungguhnya dia telah kafir (dengan perbuatannya tersebut) dan tidak jauh jika dimasukkan ke dalam pengikut Fir’aun, sedang orang yang menggambar tapi tidak ditujukan untuk hal itu maka dia telah bermaksiat dengan menggambarnya saja”.71

Imam As Sindi Rahimahullah berkata,” Telah dijadikannya tujuan adzab dengan meniupkan nyawa dan Dia memberi kabar bahwa orang yang menggambar tersebut tidak akan bisa melakukannya maka selayaknya baginya untuk tetap berada di dalam keadaan diadzab selalu dan ini adalah hak bagi yang kufur dengan melukis dan menganggap halal atau untuk disembah adalah pada dasarnya dia kafir. Adapun selain itu maka dia adalah bermaksiat dengan mengerjakan hal tersebut namun tidak menganggapnya halal dan tidak bermaksud untuk disembah maka dia disiksa jika dia belum diampuni, kemudian lepas dari adzab.”72

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah,73 menyebutkan akan kandungan dari hadits seputar gambar, yaitu; Ancaman berat bagi para perupa makhluk bernyawa, dengan alasan tidak berlaku sopan santun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaiman firmannya,” Dan tiada yang bertindak lebih dzalim daripada orang yang bermaksud mencipta seperti ciptaan-Ku.”. Firman-Nya,” Maka cobalah mereka menciptakan seekor semut kecil atau sebutir biji-bijian, atau sebutir biji gandum”, menunjukkan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kelemahan manusia. Ditegaskan dalam hadits bahwa para perupa adalah manusia yang paling pedih siksanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menciptakan roh dari setiap gambar yang dibuatnya guna menyiksa para perupa tersebut dalam neraka Jahannam. Para perupa dibebani untuk meniupkan ruh ke dalam gambar yang dibuatnya. Perintah untuk memusnahkan gambar apabila menjumpainya.74

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Rahimahullah,75 berkata ,” Seorang perupa ketika membentuk sesuatu yang menyerupai apa yang diciptakan Allah berupa manusia dan binatang. Dia membuat serupa terhadap makhluk Allah, maka apa yang dia serupakan dengan makhluk-Nya itu menjadi adzab baginya pada hari kiamat. Dia dituntut supaya meniupkan ruh ke dalamnya, dan dia tidak mampu meniupkannya. Dia adalah manusia yang paling keras siksanya, karena dosanya adalah dosa yang paling besar.”76

Syaikh Sulaiman Rahimahullah,77 berkata,” Merupakan balasan dan adzab dari Allah ‘Azza Wa Jalla bagi mereka, nabi j telah menyebutkan dengan alasan sebagai menyamakan dengan ciptaan Allah ‘Azza Wa Jalla karena hanya bagi Allah ‘Azza Wa Jalla ciptaan dan segala urusan, Dia adalah Rabb segala sesuatu dan Pemiliknya, Pencipta segala sesuatu, Dialah yang telah membentuk segala makhluk-Nya dan yang menjadikan nyawa yang dengannya makhluk tersebut bisa hidup, sebagaimana firman-Nya dalam surat As sajdah: 7-9.”78

Penulis Kitab Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhush Shalihin berkata,” Larangan yang keras dan pengharaman yang kuat terhadap pembuat gambar karena pelakunya diadzab pada hari Kiamat sesuai dengan kadar yang digambarnya serta dia diminta untuk menghidupkan dengan meniupkan ruh pada gambar tersebut. Juga karena hal itu merupakan dosa besar, barangsiapa yang menghalalkan menggambar padahal dia tahu akan keharamannya juga ijma’ menyatakan seperti itu, maka dia kekal di neraka dan adapun jika tidak demikian maka tinggalnya di neraka akan lama.”79

Syaikh Abul Walid hafidzahullah berkata,” Setiap perupa diadzab di neraka disebabkan oleh gambarnya yang dia gambar.”80

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata,” Dan sama saja membuatanya untuk dihinakan ataupun tidak, maka membuatnya adalah haram.”81

Syaikh Al Munajjid hafidzhullah berkata,” Setiap gambar harus dikeluarkan dari rumah atau dihancurkan, kecuali gambar-gambar yang memang sulit sekali untuk dihilangkandan sungguh ini adalah bencana umum umat Islam, seperti gambar-gambar yang ada di dalam kaleng-kaleng makanan, gambar-gambar dalam kamus, buku-buku referensi dan buku-buku yang ada manfaat di dalamnya, tetapi dengan tetap berusaha menghilangkannya jika memungkinkan, terutama gambar-gambar yang kotor dan jauh dari akhlak Islam. Dan dibolehkan menyimpan gambar-gambar yang sangat dibutuhkan, seperti photo dalam KTP, sebagian ulama’ juga ada yang membolehkan gambar pada perabot-perabot rumah seperti pada karpet untuk alas lantai (yang diinjak kaki). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,” Maka bertakwalah kamu kepada Allah semampumu.”(At Taghabun: 16).”82

 

X. Perkataan para ulama’ seputar bentuk gambar

    • Photografi

Al-Lajnah Ad-Da’imah ditanya tentang hukum photografi, maka dijawabnya,” Tidak boleh menggambar benda yang bernyawa dengan menggunakan alat taswir (photografi), kecuali dalam keadaan dharurat seperti pembuatan KTP ataupun paspor.”83

Syaikh Al Utsaimin Rahimahullah berkata,” Dalam pandangan kami bahwa photografi adalah hanya sebuah alat, sehingga yang mengeluarkan gambar tersebut bukanlah manusia dan ia tidak termasuk dalam kategori mengambar karena sesungguhnya ia hanya merupakan pemindahan gambar yang dibuat oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dengan perantara alat, sedangkan hadits dalam masalah menggambar terjadi karena perbuatan seorang hamba yang mempersamakan dengan ciptaan Allah ‘Azza Wa Jalla, akan tetapi jika photografi tersebut ditujukan untuk sesuatu yang haram maka ia menjadi haram karena perantara bukan dzatnya.”84

Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthi hafidzahullah berkata,” Ada sebuah kemusykilan di kalangan manusia tentang hukum photografi, apakah ia masuk dalam kategori gambar yang dilakukan dengan tangan atau baginya ada hukum lain. Sebagian dari mereka memahami dengan ilat (alasan) taswir sebagaiman yang dikatan oleh An Nawawi. Jadi dengan demikian bahwa phtografi bukanlah termasuk penggambaran yang dilakukan dengan tangan dan tidak menampakkan di dalamnya bentuk penyerupaan terhadap ciptaan Allah, melinkan ia adalah bentuk pemindahan dari suatu alat yang menggambarnya. Adapun mengenai pemanfaatan gambarnya, maka hukumnya adalah sama saja dengan yang lainnya. Jika digunakan untuk menggambar wanita yang jelas hal itu mendatangkan madharat maka ia haram dan jika digunakan untuk menggambar hal-hal yang mendatangkan maslahat maka semoga saja hal tersebut rukhshah, Wallahu a’lam.”85

Dr. Al Buraikan hafidzhullah berkata,” Dari keumuman lafadz-lafadz hadits adalah untuk segala jenis gambar, baik itu gambar yang membentuk badan, lukisan atau gambar photografi dan bahkan yang terakhir alasannya adalah paling berat; karena tempatnya lebih luas serta menampakkan pada diri seseorang yang belum tentu nyata adanya. Sebagai tambahan bahwa menyebarkan gambar menjadikan orang-oranmg yang digambar hadir di benak orang yanag melihatnya sehingga akan menampakkan ikatan di dalam hati mereka, dan yang demikian itu akan menuju kepada pengagungan. Hal ini sebagaimana bahwa alasan adanya gambar menjadi perantara penyembahan terhadap berhala yang ditunjukkan oleh sejarah dan tidak mungkin untuk dipungkiri. Syirik memiliki bentuk yang macam-macam dan tidak mengharuskan hanya dengan berhala saja. Akan tetapi cukup sampainya keterikatan hati mereka dan menarik ketika dipandang, juga menampakkan keinginan yang tersembunyi di dalam hati yang terkadang muncul karena kecintaan dan yang lain karena kebencian, karena senang, rasa takut serta lafadz-lafadz dari hal-hal yang tidak diperbolehkan untuk menuju ke sana.86

    • Perkataan ulama’ berkenaan masalah gambar untuk kenangan:

Al Lajnah Ad Da’imah ditanya mengenai masalah ini, maka dijawabnya,” Tidak boleh

Bagi seseorang memiliki gambar untuk kenangan, bahkan dia harus melenyapkannya.”87

Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah berkata,” Tidak boleh bagi orang Islam, baik itu laki-laki ataupun wanita, untuk menyimpan gambar dari Bani Adam dengan alasan kenangan. Bahkan wajib baginya untuk melenyapkannya, berdasarkan hadits rasul j sallam, Dari Abu Al Hayyaj Hayyan bin Hushain berkata: Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku,” Maukah kamu aku utus sebagaimana j mengutusku?, yaitu jangan kamu biarkan suatu gambar kecuali kamu musnahkannya dan jangan kamu biarkan kuburan yang menonjol kecuali kamu ratakan dengan tanah!”(HR Muslim, At Turmudzi, Abu Daud, An Nasa’I, Ahamad)88

Syaikh Al Utsaimin Rahimahullah berkata,” Menyimpan gambar untuk kenangan adalah haram, karena Rasulullah j telah memberitakan bahwa Malaikat tidak masuk rumah yang ada gambarnya. Ini menunjukkan akan diharamkannya menyimpan gambar di dalam rumah.”89juga perkataannya,” Barang siapa memiliki gambar (photo) untuk kenangan maka wajib baginya untuk melenyapkannya, dan sama saja photo tersebut ditempatkan di dinding ataupun disimpan di album atau yang lainnya, karena adanya photo tersebut menuntut haramnya masuknya Malaikat.”90

Syaikh Al Munajjid hafidzahullah berkata,” Ada yang mengatakan, gambar itu sebagai kenangan, ini tidak benar. Sebab tempat mengenang (misalnya kepada keluarga atau saudara sesama muslim) adalah di hati, dengan mendo’akan agar mereka diampuni oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mendapatkan rahmat-Nya.”91

    • Gambar yang dihinakan, baik pada karpet atau bantal

Dinukil oleh An Nawawi Rahimahullah dari jumhur ulama’ (para sahabat), tabiin (diantaranya; Ats Tsauri, Malik, Abu Hanifah, Syafi’I dan madzhab Hambali) akan kebolehan memanfaatkannya.

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata,” Dan sama saja membuatanya untuk dihinakan ataupun tidak, maka membuatnya adalah haram.”92

    • Berhubungan dengan TV

Al Lajnah Ad Da’imah memberikan fatwa,” Adapun TV, maka dia adalah tidak terkait

dengan hal itu dan hukumnya tergantung pada hukum pemanfaatannya. Diharamkan di dalamnya; musik, gambar dan lainnya dari bentuk kemungkaran serta dibolehkan apa-apa yang menampilkan keislaman, penyebaran perdagangan, perpolitikan dan lainnya yang tidak dilarang oleh syari’at. Jika kejelekannya lebih dominan, maka hukumnya adalah yang lebih dominan.”93

    • Gambar yang ada di majalah, surat kabar/koran, lembaran

A l Lajnah Ad Da’imah memberikan fatwa akan keharaman menggambar di majalah atau surat kabar.94

Syaikh Al Utsaimin Rahimahullah berkata,” Melihat gambar di majalah, tabloid, TV jika gambar tersebut bukan berbentuk manusia maka tidak mengapa, namun dia tidak mengumpulkan gambar tersebut dan jika gambar tersebut dia saksika untuk pemuas nafsu atau menikmatinya, maka hal ini adalah haram.”95 Beliau juga berkata,” jika kamu membeli koran dikarenakan hanya ingin melihat gambarnya saja maka ia haram, adapun jika dikarenakan ingin mengetahui berita yang ada di dalamnya maka hal tersebut dibolehkan.”96

Syaikh Abdullah bin Jibrin hafidzahullah berkata,” …sesungguhnya gambar yang ada di selebaran atau najalah terdapat khilaf, akan tetapi yang benar adalah bahwa gambar tersebut masuk dalam ancaman dan pengharaman yang ada. Oleh karena itu kami sampaikan, bahwa barangsiapa yang memilikinya, hendaklah ia melenyapkan wajahnya atau menyamarkannya agar tidak nampak jelas, kecuali di saat sangat membutuhkan untuk membaca di dalamnya dan hendaknya ia tidak mendatangkan selebaran dan majalah kecuali yang di dalamnya ada manfaatnya.”97

    • Gambar yang ada pada pakaian, karpet, tirai dan sejenisnya serta pemakaiannya

Imam Asy Syaukani Rahimahullah berkata,” hadits tersebut menunjukkan tidak bolehnya menggunakan pakaian, karpet, tirai dan lain-lainnya yang di dalamnya ada gambar sesuatu yang bernyawa, juga menunjukkan bolehnya mengubah kemungkaran dengan tangan tanpa harus meminta izin dari pemiliknya, baik dari istri ataupun yang lainnya.”98

Imam Al Baghawi Rahimahullah berkata,” Dimakruhkan memberi sater di dinding dengan pakian yang diwarnai atau ada tulisannya, sebagaiman diriwayatkan dari A’isyah Radhiyallahu ‘anha, dari Rasulullah j, “Bahwasanya beliau keluar pada suatu peperangan.A’isyah berakata:aku mengambil permadani yang kujasikan sebagai tirai sebuah pintu, tatkala beliau kembali maka terlihatlah olehnya permadani tersebut yang kulihat ada kebencianpada wajahnya.kemudian beliau menariknya, merobek dan memotongnya seraya bersabda,” Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla tidak memerintahkan kami untuk mengukir batu dan tanah.” A’isyah berkata: maka kemudian kami memotongnya dan kami jadikan dua bantal kecil yang berisikan kapas sedang hal itu tidak membuatku aib.”(HRMuslim dan Abu Daud)99

Syaikh al Utsaimin Rahimahullah berkata,” Tidak boleh bagi seseorang untuk memakai pakaian yang di dalamnya ada gambar hewan atau manusia, dan tidak boleh pula memakai ghutrah atau simaghan serta yang menyerupai dengannya dan di dalamnya ada gambar manusia dan hewannya. Karena nabi shalallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda,” Bahwasanya para Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada patung-patung dan gambarnya”(HR Malik dan At Turmudzi)100

    • Gambar untuk anak kecil dan mainan anak/ boneka

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah berkata,” Dibolehkan bagi anak kecil secara khusus akan gambar dan tidak halal selain mereka. Dan semua gambar adalah haram kecuali hal tersebut, begitu pula tulisan pada pakaian adalah dibolehkan (seraya menyebutkan hadits dari Zaid bin Khalid dari Abu Thalhah).”101

Imam Al Khithabi Rahimahullah berkata,” Yang ditunujukkan oleh hadits ini adalah bahwa mainan anak tidak seperti gambar yang ada ancamannya dan dirukhshahkan bagi ‘Alaihis Salam’isyah karena pda waktu itu dia masih kecil/belum baligh.”

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah berkata,” Hadits ini menunjukkan bolehnya menggambar bagi anak kecil dan mainanan (boneka) bagi mereka, serta pengkhususan dari umumnya hadits.”

Dinukil dari dan dikuatkan oleh Iyadh bahwa mereka membolehkan jual beli mainan anak-anak untuk pendidikan mereka di aktu kecil. Adapun yang lain menyatakan bahwa hadits ini mansukh, demikian kecondongan Ibnu Baththal diriwayatkan dari Ibnu Abi Zaid bahwa Malik membinci orang yang membeli gambar untuk anaknya. Juga dirajihkan oleh Ad Dawudi bahwa ia mansukh.

Syaikh Al Utsaimin Rahimahullah berkata,” Mainan anak-anak tergolong rukhshah (dibolehkan) dan tidak mencegah dari masuknya Malaikat ke dalam rumah, karena A’isyah memiliki mainan ini di rumah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sedang beliau tidak melarangnya dan hendaknya diketahui bahwa mianan tersebut tidak berbentuk shurah (gambar), seolah hanya batangan saja ; tidak memiliki mata, telinga begitu pula mulut, meskipun dia meiliki tangan dan kaki, hal ini sebagaimana yang ada dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Abu Daud.”102.103 Beliau juga berkata: “Adapun boneka yang bisa bergerak dan berbicara, maka menurutku adalah tidak boleh. Akan tetapi tidak menentukan akan keharamannya, karena baginya adalah rukhshah yang tidak menjadi rukhshah bagi orang yang sudah besar (baligh).juga karena anak kecil mempunyai tabiat untuk bermain dan butuh hiburan.”104

    • Gambar yang digantungkan atau dipajang

Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah berkata,” Hukum mengantungkan gambar yang bernyawa adalah haram, baik berupa gambaran bani Adam atau yanglainnya, hal ini sesuai dengan sabda nabi j yang diriwayatkan dari Abu Al Hayyaj Hayyan bin Hushain berkata: Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku,” maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah j mengutusku?, yaitu jangan kamu biarkan suatu gambar kecuali kamu musnahkannya dan jangan kamu biarkan kuburan yang menonjoli kecuali kamu ratakan dengan tanah!”(HR Muslim, At Turmudzi, Abu Daud, An Nasa’I, Ahamad)105 dan juga hadits dari A’isyah Radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia membeli …..(HR Al Bukhari, Muslim dan Malik)106

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah berkata,” Melukis pembesar, pemimpin penguasa atau ulama’ dengan tujuan untuk mengagungkannya serta menggantungkannya di dalam rumah adalah haram. Demikian pula menggambar ahli ibadah yang ta’at kepada Allah Ta’ala dan diletakkan di dalam rumah untuk meminta keberkahan darinya, ini juga haram.”107

Syaikh Al Utsaimin Rahimahullah berkata,” Mengantungkan gambar di dinding apalagi yang besar adalah haram, meskipun hal itu hanya berupa sebagian badan saja, kepala. Dan apabila ditujukan untuk pengagungan maka hal ini adalah jelas merupakan dasar dari kesyirikan, ini merupakan perbuatan ghulu sebagaiman telah dikatakan oleh Ibnu Abbas bahwa patung-patung kaum nabi Nuh yang disembah mereka adalah nama-nama orang shalih yang digambar untuk mengenang dan memberikan semangat ketika beribadah, maka setelah waktu berlalu lama orang-orang selanjutnya menyembahnya.”108

Al Lajnah Ad Da’imah ditanya masalah ini, maka dijawabnya,” Menggambar sesuatu yang memiliki ruh dan menggantungkannya adalah haram, hal itu berlaku baik berbentuk badan ataupun tidak, baik penghormatan kepada penguasa, ulama’ atau orang-orang shalih. Berdasarkan keumuman hadits dari Abu Al Hayyaj Hayyan bin Hushain berkata: Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku,” Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutusku?, yaitu jangan kamu biarkan suatu gambar kecuali kamu musnahkannya dan jangan kamu biarkan kuburan yang menonjoli kecuali kamu ratakan dengan tanah!”(HR Muslim, At Turmudzi, Abu Daud, An Nasa’I, Ahamad)109

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata,” Sebagaimana diharamkan membuat patung dan menggambar, maka diharamkan juga menyimpan dan menaruhnya di dalam rumah. Dan merupakan suatu kewajiban untuk melenyapkannya, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Imran bin Haththan (dia diceritai oleh A’isyah), bahwa nabi j tidak pernah meninggalkan di rumahnya gambar-gambar salib melainkan beliau melepasnya.”(HR Al Bukhari dan Al Baghawi ). Juga hadits dari Ibnu Abbas, dari Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhum, dari Nabi Sallalahu ‘Alaihi wa Sallam Sallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,” Para Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar”(HR Al Bukhari, Muslim,At Turmudzi, Abu Daud, An Nasa’I, Ibnu Majah, Abdurrazaq)110

    • Gambar yang sulit dihindari dan telah melanda bagi kaum muslimin

Gambar-gambar yang dimaksudkan di sini adalah yang sudah terlanjur ada dan sulit untuk mengubahnya, baik gambar itu terdapat di buku-buku kurikulum dan buku-buku referensi, kaleng-kaleng makanan, gambar di mata uang ataupun yang tedapat di dalam perabotan rumah tangga.

Syaikh Al Munajjid hafidzahullah berkata,” Setiap gambar harus dikeluarkan dari rumah atau dihancurkan, kecuali gambar-gambar yang memang sulit sekali untuk dihilangkandan sungguh ini adalah bencana umum umat Islam, seperti gambar-gambar yang ada di dalam kaleng-kaleng makanan, gambar-gambar dalam kamus, buku-buku referensi dan buku-buku yang ada manfaat di dalamnya, tetapi dengan tetap berusaha menghilangkannya jika memungkinkan, terutama gambar-gambar yang kotor dan jauh dari akhlak Islam. Dan dibolehkan menyimpan gambar-gambar yang sangat dibutuhkan, seperti photo dalam KTP, sebagian ulama’ juga ada yang membolehkan gambar pada perabot-perabot rumah seperti pada karpet untuk alas lantai (yang diinjak kaki). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,” Maka bertakwalah kamu kepada Allah semampumu.”(At Taghabun: 16).”111

    • Gambar kartun

Syaikh Al Utsaimin Rahimahullah berkata,” Jika yang keluar dari TV dalam bentuk Adami (mirip dengan manusia/bentuk aslinya), maka melihat kepadanya terdapat kesamaran, apakah mirip dengan aslinya atau tidak?. Jika tidak berbentuk adami maka tidak mengapa menyaksikannya tidak mengapa denga syarat tidak dibarengi dengan hal-hal yang mungkar (musik atau lainnya) dan tidak melalaikan dari kewajiban.”112

        • Gambar karikatur

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafidzahullah berkata,” ….dan di sana ada yang disebut dengan karikatur, di dalamnya terdapat bentuk pelecehan terhadap ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia tidak menciptakan hidung yang panjang, telinga yang besar atau mata yangf melotot sebagaimana yang mereka buat, akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baik ciptaan.”113

            • Gambar untuk mengajari anak yang buta dan tuli

Syaikh bin Jibrin hafidzahullah menyebutkan, bahwa gambar yang digunakan untuk mengajari anak yang bisu dan tuli adalah diperbolehkan, baik di papan tulis atau di kertas , halitu dailakukan sebagai untuk lebih menjelaskan apa-apa yang diterangkan oleh seorang pengajar, misalnya mengambarkan orang yang sedang shalat.114

            • Menggambar yang Diperbolehkan

Menggambar yang tidak ada ruhnya, seperti; gambar pemandangan alam, gunung, lautan, pepohonan, matahari, bulan, bintang dan semacamnya. Dalam bentuk ini telah disepakati hukumnya yaitu boleh.115, kecuali Imam Mujahid yang tetap tidak membolehkannya dan beliau berkata,” Setiap yang tumbuh tidak boleh digambar meskipun tidak memiliki ruh, berdasarkan hadits rasul Shallallahu’alaihi wa sallam,” Allah Ta’ala berfirman,” Siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang mencoba menciptakan seperti ciptaan-Ku, hendaklah mereka menciptakan seekor semut kecil atau sebutir biji-bijian atau sebutir biji gandum.”(HR Al Bukhari, Muslim,Ahamad)116

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafidzahullah, menyebutkan tentang gambar dan bentukan yang diperbolehkan, diantaranya yaitu:

  1. Diperbolehkan menggambar pohon, bintang, matahari, bulan, gunung, batu, laut, sungai, pemandangan yang indah. Begitu pula dengan tempat-tempat yang suci, seperti; Makkah, Madinah, Al Masjidil Aqsha dan masjid-masjid lainnya selama tidak ada gambar manusia dan hewannya dan apa-apa yang memiliki ruh. Dasarnya adalah perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma
  2. Gambar-gambar yang pembuatannya karena terpaksa, seperti; paspor, SIM, dan lainnya dari hal-hal yang penting, maka diperbolehkan karena dharurat.
  3. Gambar para penjahat dari pembunuhan, pencuri dan lainnya demi tertangkapnya mereka untuk diqishash, demikian pula yang dibutuhkan dalam berbagai bidang ilmu, seperti kedokteran.
  4. Dibolehkan bagi anak-anak wanita mainan yang terbuat dari الخرق di rumahnya dalam bentuk anak kecil yang memakai pakaian, membersihkannya dan tanmiyahnya, yang demikian itu adalah sebagai pendidikan bagaiman nanti kalaua ia sudh menjadi seorang ibu, dasarnya adalaha perkataan A’isyah Radhiyallahu ‘anha: kuntu al’abu bilbanat ‘inda nabi shalallahu ‘alaihi wa salam (al Bukhari). Dan tidak boleh membeli boneka orang asing diperunyukkan anak apalagi boneka yang di jalanan yang terbuka, maka akan belajar darinya dan akana menirunyaserta merusak masyarakat, dinisbatkan pada peredaran uang ke negeri orang asing dan yahudi.
  5. Diperbolehkan gambar jika terpotong kepalanya, karena yang namanya shurah adalah kepal sehingga jika dipotong kepalanya tidak ada ruhnya dan menjadi seperti benda mati. Jibril pernah berkata kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam Jibril berkata:sesungguhnya di dalam rumah ada kain di dinding yang di dalamnya ada gambar-gambar, maka pootnglah kepalanya dan jadikanlah sebagai hamparan serta bantal-bantal juga injaklah ia. Sesungguhnya kami tidak akan masuk rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar.”(HR Ahmad, Abdurazaq dan Al Baghawi)117

 

XI. Adanya Gambar menjadi penyebab tidak masuknya para Malaikat ke dalam rumah

Banyak nash-nash hadits yang menunjukkan, bahwa adanya gambar di dalam rumah akan menyebabkab para Malaikat engggan untuk masuk ke dalamnya. Hal ini tidak diragukan lagi, oleh karenanya bagi kita selayaknya untuk mmelanggarnya. Para ulama’ juga menyatakan demikian, akan tetapi mereka berbeda pendapat akan halnya Malaikat tersebut; apakah dimutlakkan untuk semua Malaikat atau tertentu.

Imam Al Khithabi Rahimahullah berkata,” Sesungguhnya tidak masuknya para Malaikat ke dalam suatu rumah yang di dalamnya ada anjingnya atau gambar yang diharamkan pembuatannya baik dari anjing atau gambar, adapun yang tidak diharamkan dari jenis anjing adalah anjing buruan, penjaga dan pejalan serta gambar yang diinjak di dalam karpet dan bantal maka tidak mencegah masuknya Malaikat dengan sebab adanya benda tersebut.”118

Imam Ibnu Wadhdhah Rahimahullah juga menetapkan sebagaimana yang dikatan oleh Al Khithabi.119

Imam Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah mengatakan sebagaiman Al Khthabi dan beliau juga menyebutkan, bahwa dalil ini yang jelas umum untuk setiap anjing dan gambar, dan mereka mencegah berdasarkan kemutlakan hadits.”120

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata,” Sebab tercegahnya Malaikat untuk masuk rumah yang ada gambarnya karena berupa; maksiat dan perbuatan keji, penyerupaan terhadap ciptaan Allah Ta’ala, dan sebagian adalah sesembahan selain Allah Ta’ala. Adapun para Malaikat yang tidak masuk rumah adalah Malaikat pembawa rahmat, berkah dan peminta ampunan, sedangkan para Malaikat penjaga maka mereka tetep saja masuk.”121

Imam Ibnu Hajar menyebutkan,” akan tetapi Al Qurthubi berkata dan demikian pula yang dikatakan ulama’ kami: dzahir dari hadits tersebut adalah umum, sedang yang yang mengkhususkan yakni dalil yang menunujukkan tentang penjagaan tidak mencegah masuknya Malaikat sebuah rumah adalah bukan nash hadits.”122

Imam Asy Syaukani Rahimahullah berkata,” para malaikaat yang tidak masuk rumah adalah Malaikat siyahiin(yang berkeliling) bukannya Malaikat penjaga dan Malaikat maut.”123

Penulis kitab Nuzhatul Muttaqin berkata,” para malikat yang tidak masuk rumah adalah Malaikat rahmat dan tidak mutlak semua Malaikat, karena penjagaan tidak memisahkan akan sebab tersebut serta adanya gambar di tempat itu menjadi sebab tercegahnya rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”124

Syaikh Abul Walid As Sa’idani hafidahullah berkata,” Bahwa para malikat yang tidak masuk rumah adalah Malaikat rahmat.”125

Syaikh Al Munajjid hafidzahullah berkata,” Seharusnya setiap Muslim tidak menyimpan di rumahnya gambar-gambar dari makhluk yang bernyawa, karena hal itu akan menjadi sebab enggannya Malaikat masuk rumah. Rasulullah j besabda,” Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar-gambar.”(HR Al Bukhari).”126

Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah berkata,” Dalam hadits Abu Hurairah menunjukkan bahwa gambar jika dipotong kepalanya adalah boleh ditinggal di dalam rumah, sedangkan jika yang dipotong bukan kepalanya (memotong setengahnya ke bawah dan semisalnya) maka tidak cukup dan tidak boleh dimanfaatkan karena hal itu masih mencegah masuknya Malaikat, juga wajah merupakan permulaan dari penciptaan dan gambaran yang tidak ada pada bagian badan. Pengecualian dari gambar yang mencegah masuknya Malaikat karena dihinakan dan dipotong kepalanya, maka barangsiapa yang mendakwakan selain dari kedua hal ini hendakla ia mendatangkan dalil dari kitabullah dan sunnah rasullullah.”127Beliau juga berkata,” Dalam hadits Abu Thalhah dan Sahl bin Hanif ”kecuali tulisan” ini merupakan pengecualian dari gambar yang mencegah mesuknya Malaikat dan tidak dikategorikan sebagai taswir.”128

 

XII. Bahaya yang ditimbulkan dari Gambar dan Photografi

 

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu hafidzahullah, menyebutkan bahwa bahaya yang ditimbulkan dari gambar dan photografi ada beberapa hal;

1. Di dalam Din dan Aqidah.

Kami melihat bahwa gambar itu merusak aqidah kkebanyakan manusia. Orang Nasrani menyembah gambar Isa dan Maryam serta salib. Orang Eropa dan Rusia menyembah para pemimpin mereka. Sebagian orang-orang sufi menjadikan gaambar para syaikh mereka di depan mereka ketika shalat, dengan alasan akan dapat menjadi khusyu’ dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau pula mereka menggantungkan di dalam rumah-rumah mereka sebagai bentuk pengagungan dan tabarruk (meminta keberkahan).

2. Bagi Akhlak para pemuda

Anda melihat bahwa jaln-jalan, rumah-rumah penuh dengan gambar para penyanyi, wanita-wanita telanjang yang membuat para pemuda selalu merindukannya kemudian untuk melampiaskan nafsunya mereka menerjang kejahatan baik dengan terang-terangan atau secara sembunyi- sembunyi. Hal tersebut akan mengeroposkan akhlak dan tabiat mereka, tidak lagi memikirkan din, bumi sebagai tempat tinggal mereka, tidal pula kesucian, kemuliaan dan jihad di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

3. Bagi material.

Hal ini adalah tidak memerlukan dalil untuk memebuktikannya, berapa ribu juta yang diinfakkan oleh banyak manusia di jalan syetan. Mereka membeli patung-patung kuda, unta dan gajah yang kemudian diletakkan di dalam rumah. Menggantungkan gambar keluarga, seorang bapak yang sudah meninggal dikenang-kenang gambarnya yang seandainya harta tersebut diberikan kepada orang-orang faqir maka akan lebih bermanfaat. Yang lebih jelek dari itu adalah apa yang dilakukan oleh seorang suami, yang memfoto dirirnya bersama istrinya di malam pengantin kemudian dipajang di dalam rumahnya untuk dilihat oleh siapa saja, seolah istrinya bukan milik dia sendiri akan tetapi milik semua manusia.129

Syaikh Abu Abdurrahman Al Atsari berkata,”Menggambar merupakan kemungkaran. Ia adalah perbuatan haram dan termasuk dosa besar, sebagaimana yang disabdakan dalam hadits Rasulullah j, begitu pula beliau pernah bersabda:

(( مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسُخْطِ النَّـاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّـاسُ ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَى النَّـاسِ بِسُخْطِ اللهِ سَخَطَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّـاسُ ))

Artinya,”Barangsiapa mencari keridhaan dari Allah, meskipun hal itu dibenci oleh manusia niscaya Allah akan meridhainya dan juga manusia. Dan barangsiapa mencari keridhaan dari manusia, padahal Allah benci akan hal itu, niscaya Allah akan benci kepadanya dan juga manusia.”(HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)”130

 

 

XIII. Bid’ah dan Kemungkaran yang ada pada Gambar

 

  1. Menggantungkan gambar para syaikh, imam, pemimpin, hakim dan sebagainya merupakan bid’ah adat.131 Meskipun mereka beranggapan bahwa dengan melakukan hal itu termasuk dari menampakkan derajatnya, mu’amalah serta syi’arnya.132
  2. Menggantungkan gambar para pemimpin merupakan sebuah kemungkaran.133
  3. Apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan menempatkan emas di kuburan dan menggantungkan gambar di sana.134
  4. Menggantungkan gambar di dalam masjid.135
  5. Menggantungkan gambar para syuhada (orang yang mati syahid) di dalam masjid.136
  6. Menaruh gambar binatang ataupun manusia di masjid.137
  7. Menempatkan gambar di dalam rumah.138
  8. Bahwa menggambar dan gambar itu merupakan kemungkaran yang harus dihilangkan dan dilenyapkan.139

 

 

XIV. Shalat di hadapan kain yang bergambar

 

Tidak diragukan lagi, bahwa shalat di hadapan kain ataupun sajadah yang bergambar akan mengganggu kekhusyu’an seseorang. Oleh karena itu, jauh-jauh Rasulullah saw pernah pernah meningatkan dalam bersabdanya:

عَنْ أَنَسٍ d قَالَ : كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ j أَمِيْطِي عَنِّى فَإِنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصَاوِيْرُهُ تُعْرِضُ لِى فِي صَلاَتِي (أخرجه البخاري )

 

Dari Anas d berkata:’Aisyah radhiyallahu ‘anha memiliki sebuah tirai yang digunakan untuk menutupi samping rumahnya, maka Nabi j bersabda kepadanya, jauhkanlah tirai itu dariku, karena sesungguhnya gambar-gambarnya mengganggu aku dalam shalat.”(HR Al Bukhari)140

Hadits tersebut menunjukkan makruhnya shalat ditempat yang ada gambarnya, dan wajib menghilangkan apa saja yang mengganggu kekhusyukan orang shalat baik yang berupa gambar atau lainnya. Dan hadits tersebut juga menunjukkan tidak batalnya shalat, sebab adanya gambar, karena nabi j tidak menghentikan shalatnya. 141

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَامَ رَسُوْلُ اللهِ j يُصَلِّى فِي خَمِيْصَةٍ لَهَا أَعْلاَمٌ فَنَظَرَ إِلَى أَعْلاَمِهَانَظْرَةً فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ : (( إِذْهَبُوْا بِخَمِيْصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِى جَهْمٍ بْنِ حُذَيْفَةَ وَائْتُوْنِي نانبجانية أَبِى جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَمَتْنِى آنِفًافِىصَلاَتِي )) ( أخرجه البخاري ومسلم )

Dari Aisyah Radliyallahuanha berkata,”Rasulullah j berdiri untuk shalat di kain yang ada gambarnya, maka beliau melihat gambar tersebut sekali pandang. Tatkala telah selesai shalat, beliau bersabda,” Pergilah kalian dengan kain ini kepada Abi Jahm bin Hudzaifah dan datangkanlah kepadaku dengan kain tebal yang tidak ada gambarnya (anbijansyah), karena sesungguhnya kain yang ada gambarnya itu, telah menggagguku dalam shalat.”(HR Al Bukhari, Muslim, Malik dan Al Baghawi)142

Keterangan hadits ini:

Abi Jahm adalah Ubaidullah (Amir) bin Hudzaifah al Qarsy al-Aduwi

– Hanyasanya Rasulullah j menyuruh membawa al-Khomishoh beliau karena ia yang telah menghadiahkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Sebagaimana hadits yang diwiyatkan oleh Malik dalam al-Muwatha’ dari riwayat yang lain dari Aisyah Shalallahu Alaihi Wasallam.

Alhatani” maksudnya adalah menyibukkanku, adapun“‘an shalatii” maksudnya adalah dari kesempurnaan dalam menghadirkan hati dalam shalat.

Imam Ibnu Daqiq Rahimahullah berkata,”Rasulullah j segera memperbaiki shalat dan menghilangkan sesuatu yang dapat merusak shalat.”143

As-Shan’any Rahimahullah berkata,” Di dalam hadits ini (hadits A’isyah) terdapat tanda atau dalil makruhnya sesuatu yang dapat mengganggu/ menyibukkan hati dalam shalat seperti lukisan dan selainnya.”144

ِAbdullah bin Sirjis d berkata, bahwa Rasulullah Shalalahu ‘alaahi wa Salam pada suatu hari shalat dan beliau mengenakan kain (daster)nya. Kemudian bersabda kepada salah seorang sahabatnya:

(( أَعْطِنِي نَمْرَتَكَ وَخُذْ نَمْرَتِي )) فَقَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ نَمْرَتُكَ أَجْوَدُ مِنْ نَمْرَتِي. قَالَ:(( أَجَلْ وَلَكِنْ فِيْهَا خَيْطٌ أَحْمَرُ فَخَشِيْتُ أَنْ أَنْظُرَ إِلَيْهَا فَيَقْتَنُنِي فِي صَلاَتِي أَوْ يُلْفِتُنِي ))

Berikaqnlah dastermu kepadaku.” Kemudian orang tersebut berkata: wahai Rasulullah, bukankah daster engkau lebih bagus daripada dasterku?, beliau menjawab,” Benar, akan tetapi di dalamnya ada benang merahnya, aku kawatir dengan melihatnya akan melalaikan shalatku.”(HR Al Baghawi)145

Al-Izz bin Abdus Salam Rahimahullah berkata,” Makruh shalat di atas sajadah yang berukiran dan berkilau-kilau ….., karena shalat adalah harus tawadhlu dan tenang. Dan orang-orang yang shalat di masjid, baik Makkah atau Madinah mereka shalat di atas tanah dan pasir karena tawadhu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”Kemudian beliau berkata,” Maka yang lebih utama adalah mengikuti rasululllah j dalam kejelian dan kejelasan perkataan dan perbuatan beliau. Barang siapa yang taat kepadanya ia akan mendapat petunjuk dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan barang siapa yang keluar dari keta’atan dan tidak mengikuti beliau, ia akan dijauhkan dari kebenaran dengan kadar seberapa jauhnya ia menjauh darinya.”146

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata,” Para Shahabat seluruhnya berpendapat bahwa makruh hukumnya memasuki gereja yang ada gambarnya dan shalat di dalamnya dan tiap tempat yang ada gambarnya dan ini benar dan tidak ada keraguan di dalamnya.”147

Al-Marghinany al-Hanafy menyebutkan tentang shalat pada tempat yang ada gambarnya dari segi tempatnya,” Yang paling sangat kemakruhannya gambar berada di depan orang yang shalat, kemudian di atas kepalanya, kemudian di kanannya, kemudian di kirinya dan kemudian di belakangnya.”148

Syaikh Al Jibrin hafidzahullah berkata,” Telah tetap hadits dari Rasulullah j “…jauhkanlah tirai itu dariku..”, semua riwayat nash ini menunjukkan akan jauhnya diterima gambar dan salib serta tulisan yang menyibukkan untuk menghadap shalat, menghapal, memberikan manfaat dari bacaan, dzikir dan lainnya. Wallahu a’lam.”149

 

XV. Awal Mula disembahnya Gambar, Patung dan Berhala

 

Dahulu kala pada zaman nabi Nuh ‘alaihis salam, hiduplah orang-orang shalih yang taat beribadah, diantara mereka adalah; Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Mereka dijadikan panutan bagi umatnya sehingga ketika mereka telah meninggal, oleh kaumnya dibuatlah gambar-gambar mereka untuk memberikan semangat dalam beribadah dengan mengingat gambar tersebut. Selanjutnya dibuatlah patung-patung yang mirip dengan kelima orang shalih tersebut, akan tetapi pada akhirnya oleh generasi penerus mereka yang tidak paham akan dibuatnya patung-patung itu mereka justru menjadikannya sebagai sesembahan.150

Hal tersebut juga diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Qur’an, Dia berfirman,” Dan mereka berkata,” Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”(Nuh: 23) Ketahuilah bahwa diantara sebab-sebab awal mula kesyirikan yang terjadi di muka bumi ini pada kaum nabi Nuh ‘alaihis salam adalah karena dibuatnya gambar yang menyerupai orang orang yang mereka sembah.151

Imam Hisyam bin Muhammad bin As Sa’ib Al Kalbi Rahimahullah berkata,” Ayahku memberi kabar kepadaku bahwa awal mula penyembahan patung yaitu tatkala nabi Adam ‘Alaihi salam telah wafat, oleh kaum Syits bin Adam mayatnya (nabi Adam) ditempatkan di sebuah gunung yang pada akhirnya diturunkan di daerah Hindia yaitu gunung Budz, ia adalah gunung yang paling subur di muka bumi.”

Ibnu Abbas d berkata,” Bani Syits mendatangi jasad nabi Adam ‘alaihis salam di gua maka mereka saling mengagungkan dan berkasih sayang sesama atasnya, kemudian berkatalah seorang dari Bani Qabil: hai Bani Qabil sesungguhnya pada Bani Syits mereka saling menghormati dan mengelilingi mayat nabi Adam ‘alaihis salam, bagaimana kalau kalian aku buatkan sebuah patung dalam rupa lima orang shalih tersebut?, kemudian oleh generasi pertama (waktu itu) dan genarasi kedua (masa Yazadz bin Muhlayil bin Qinan bin Anwasy bin Syits) patung tersebut diperlakukan sebagaimana generasi awal, akan tetapi selanjutnya generassi ketiga yang berkata,” Betapa generasi awal mengagungkan patung ini dan mereka mengharapkan syafa’at darinya.” Lalu mereka manyembahnya kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus nabi Idris ‘alaihis salam. Dia mengajak umatnya, akan tetapi mereka justru mendustainya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkatnya pada tempat yang tinggi. Dan perkara hal tersebut berlanjut sampai dijumpai oleh nabi Nuh ‘alaihis salam dan bahkan semakin parah keadaannya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang nabi.

Pada saat itu beliau (nabi Nuh ‘Alaihi Sallam) berumur 480 tahun dan beliau berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selama 120 tahun, akan tetapi kaumnya enggan menerimanya dan mendustainya. Selanjutnya Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan beliau untuk membuat kapal, lalu selesailah kapal tersebut dibuatnya dan beliau naik. Pada waktu itulah Allah Subhanahu wata’ala menenggelamkan orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk tenggelam, sedang umur beliau waktu itu 600 tahun. Nabi Nuh ‘alaihis salam hidup setelah peristiwa itu 350 tahun.”152

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata,” Dzahir dari Al Qur’an menunjukkan bahwa ia menyelisihi peristiwa tersebut dan bahwa nabi Nuh ‘alaihis salam hidup bersama kaumnya selama 950 tahun dan Allah Subhanahu wata’ala menghancurkan mereka dengan tenggelam setelah hidup bersama mereka dalam jangka waktu tersebut.”153

Imam Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa jarak antara nabi Adam dengan nabi Nuh ‘alaihima salam adalah 1200 tahun.154

Ibnu Abbas d mengatakan bahwa kelima patung orang shalih tersebut yang selanjutnya oleh bangsa Arab dijadikan sebagai sesembahan, yaitu: Wadd oleh Bani Kalb Bidaumatil Jandal, Suwa’ oleh Bani Hudzail, Yaghuts oleh Bani Murad dan Bani Ghuthaif, Ya’uq oleh Bani Hamdan dan Nasr oleh Bani Himyar.155

Islam datang untuk mengajak semua manusia kepada peribadatan kepada Allah semata, meninggalkan ibadah dari selain-Nya; baik dari para wali, orang-orang shalih, mempersamakan dengan patung, berhala, gambar, makam, kuburan dan lain sebagainya yang merupakan fenomena menuju kepada kesyirikan. Allah Subhanahu wata’ala mengutus para Rasul untuk menyeru peibadatan kepada-Nya dan menjauihi dari thaghut, sebagaiman firman-Nya:

{ وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ اَنِ اعْبُدُوااللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ }

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),” Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu” (An Nahl: 36)

Dia juga berfirman:

{ وَقَالُوْا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدَّا وَ سُوَاعًاوَيَغُوْثًا وَيَعُوْقًا وَنَسْرًا }

Dan mereka berkata,” Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”(Nuh: 23)

Sebagian manusia mengira bahwa patung-patung dan gambar-gambar adalah halal dan juga hal itu karena tidak adanya orang yang menyembahnya pada zaman sekarang ini, anggapan mereka ini tertolak dilihat dari beberapa sisi:

  1. Bahwa peribadatan kepada patung dan gambar masih berlanjut hingga zaman sekarang, seperti gambar nabi Isa dan ibunya (Maryam), mereka disembah di dalam Gereja dan bahkan sampai-sampai orang-orang Salib ruku’ kepadanya. Gambar tersebut juga dijual dengan harga yang sangat mahal serta dipajang di rumah-rumah untuk diibadahi dan diagungkan.
  2. Inilah patung para pendusta di muka bumi ini, baik pada masa lalu atau sekarang. Mereka menyingkap kepala dan menundukkan punggung mereka tatkala melewati patung tersebut, seperti patung George Washingthan di Amerika, Napoleon di Prancis, Lenin dan Stalin di Rusia dan lain sebagainya yang terpampang di jalan-jalan. Hal tersebut juga berkembang di belahan negeri Arab, mereka mengekor kepada orang-orang Kafir.
  3. Sesungguhnya patung-patung ini, setelah waktu berjalan cukup lama telah disembah dan diagung-agungkan sehingga kepala-kepala mereka tunduk. Hal ini sebagaiman yang terjadi di Eropa, Turki dan lainnya di belahan bumi ini.
  4. Rasulullah Shollallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kepada Ali untuk melenyapkan semua bentuk gambar, sebagaiman dalam sabda beliau:

Dari Abu Al Hayyaj Hayyan bin Hushain berkata: Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku,” Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutusku?, yaitu jangan kamu biarkan suatu gambar kecuali kamu musnahkannya dan jangan kamu biarkan kuburan yang menonjol kecuali kamu ratakan dengan tanah!”(HR Muslim, At Turmudzi, Abu Daud, An Nasa’I, Ahamad).156

Tidaklah mereka (para penyembah berhala) itu menyakini bahwa berhalalah yang menciptakan langit dan bumi. Akan tetapi mereka menjadikan berhala tersebut sebagai penolong dan perantara.157

 

 

XVI. Kesimpulan

 

Setelah kami perhatikan dari pemaparan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan perkataan para ulama’ seputar menggambar (tashwir) dan gambar (shurah) di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:

  • Pada dasarnya hukum menggambar makhluk hidup adalah dilarang (haram). Baik itu berupa penggambaran dengan tangan, ukiran, pahatan, cetakan ataupun relief, semua itu adalah haram hukumnya.
  • Bahwa para perupa adalah orang yang paling keras adzabnya di akhirat dan mereka diperintahkan untuk memberikan ruh pada sesuatu yang digambarnya, padahal mereka tidak akan bisa melakukannya.
  • Penggambaran adalah sama saja, baik yang berbayangan ataupun tidak.
  • Batasan dalam penamaan gambar adalah adanya wajah, maka jika gambar tersebut tidak memiliki wajah tidak dikatakan sebagai gambar yang dilarang.
  • Adanya gambar di dalam suatu rumah menjadi penyebab tidak masuknya para Malaikat.
  • Gambar yang diperbolehkan adalah berupa benda yang tidak bernyawa, diantaranya; gambar pemandangan alam, gunung, lautan, pepohonan, matahari, bulan, bintang dan semacamnya.
  • Penggambaran yang ada pada photografi, maka hal tersebut adalah bukan gambaran dari manusia melainkan sebuah alat. Dengan demikian hukumnya adalah tergantung pada penggunaannya, jika digunakan untuk perkara yang haram maka ia haram dan jika untuk perkara yang diperbolehkan maka ia diperbolehkan.
  • Berkenaan dengan TV, maka dia terlepas dari kategoei dari gambaran. Hukumnya adalah tergantung pada pemanfaatannya, kalau untuk yang haram maka hukumnya menjadi haram dan jika untuk hal-hal yanag diperbolehkan maka ia diperbolehkan.
  • Termasuk dalam kategori rukhshah adalah gambar untuk kepentingan-kepentingan yang sangat dibutuhkan atau keadaan yang dharurat, seperti;
  • Photo diri untuk paspor
  • Photo diri dalam KTP
  • Boneka atau mainan anak (khusus bagi anak) dan untuk lebih hati-hatinya adalah yang tidak menunjukkan bagian anggota tubuh (seperti mata, hidung, mulut ataupun telinga), sebagaimana yang ada pada A’isyah. Tidak seperti yang terjadi di zaman kita sekarang ini, anak-anak justru dibelikan boneka yang bisa berbicara.
  • Gambar yang ada pada perabot rumah tangga ataupun kaleng-kaleng makanan.
  • Gambar yang ada pada karpet, tikar atau yang lainnya untuk alas lantai dan diinjak atau dihinakan. Sedang jika tidak demikian, maka tidak dibolehkan.
  • Patung yang hanya berbentuk batangan saja, tanpa ada kepalanya.
  • Gambar yang ada pada buku-buku pelajaran, koran, ataupun majalah. Akan tetapi tetap berusaha untuk menghilangkannya semampu mungkin.
    • Adapun mengenai shalat dengan kain ataupun sajadah yang ada gambaranya, maka hukumnya adalah makruh.

Demikian pembahasan masalah gambar yang dapat kami tuangkan dalam kertas ini. Sudah barang tentu dalam penulisan ini masih ada kesalahan dan kekurangannya, oleh karenanya bagi pembaca sekalian yang mendapatkannya agar segera menyampaikannya kepada penulis. Semoga dari pemaparan dan penjelasan yang sederhana ini dapat memberikan kepahaman bagi kami terutama dan bagi semua pembaca yang benar-benar ingin mendalami dinul Islam ini secara menyeluruh dan mengamalkannya semampu mungkin. Kami memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza Wa Jalla untuk senantiasa berpijak kepada jalan yang benar, yang telah disyari’atkan-Nya dan telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Sehingga bisa mendudukkan segala perkara sebagaimana mestinya.

Akhirnya yang bisa kami sampaikan, bahwa segala puji hanya milik Allah Subnahahu wa Ta’ala dan shalawat serta salam kepada rasul-Nya.

 

Ditulis oleh hamba Allah yang faqir

Nurrohim bin Muhammad Thoyyib Al Kattaani

Sukoharjo, 1 Muharram 1425 H/22 Pebruari 2004 H

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Jami’ul Bayan, Imam Ath Thabari (224-310 H), Darul Fikr Beirut. Cet.1 tahun 1421 H/ 2001 M.

  1. Al Jami’ li’ahkamil Qur’an, Imam AL Qurthubi.
  2. Tafsir Al Qur’an Al Adzim, Imam Ibnu Katsir, Al Maktabah Al Ashriyah Beirut. Cet.3 tahun 2000 M/ 1420 H.
  3. Ad Durrul Mantsur At Tafsir bil Ma’tsur, Imam As Suyuthi Darul Fikr Beirut. Cet.tahun 1414 H/ 1993 M.
  4. Shahih Al Bukhari, Imam Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah Al Ja’fi Al Bukhari (194-256 H). Darus Salam Riyadh. Cet.1 tahun 1997 M/ 1417 H.
  5. Shahih Muslim, Imam Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi Abul Hasan An Naisaburi (204-260 H), Darus Salam Riyadh. Cet.1 tahun 1998 M/ 1419 H.
  6. Jami’ At Turmudzi, Imam Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah bin Musa bin Adh Dhahhak As Salmi Adh Dharir Al Bughi At TurmudziAt (200-279 H), Darus Salam Riyadh. Cet.1 tahun 1999 M/ 1420 H.
  7. Sunan Abu Daud, Imam Abu Daud As Sijistani Sulaiman bin Al ‘Asy’ats bin Syidad bin Amr Al Azdi (202-275 H), Dar Ibnu Hazm Beirut. Cet.1 tahun 1998 M/ 1419 H.
  8. Sunan An Nasa’I, Imam Abu Abdurrahman Al Hafidz Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin Bahr An Nasa’I (215-303 H), Darus Salam Riyadh. Cet.1 tahun 1999 M/ 1420 H
  9. Sunan Ibnu Majah, Imam Abu Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah Ar Rib’I Al Qazwini (209-273 H), Darus Salam Riyadh. Cet.1 tahun 1999 M/ 1420 H.
  10. Al Muwaththa’, Imam Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Al Harits Al Ashbahi Al Hamiri Abu Abdillah Al Madani (89-179 H), Darul Fikr. Cet.3 tahun 2002 M/ 1422 H.
  11. Musnad Ahmad, Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin As’ad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahl bin Tsa’labahbin Ukabah bin Sha’b) bin Ali bin Bakar bin Wa’il Adz Dzuhli Asy Syaibani Al Marwazi Al Baghdadi (164-241 H), Baitul Afkar Ad Dauliyah Riyadh. Cet. Tahun 1998 M/ 1419 H.
  12. Al Mu’jam Al Ausath, Al Hafidz Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad Ath Thabrani (260-360 H). Darul Hadits Kairo. Cet.1 tahun 1996 M/ 1417 H.
  13. Syarhus Sunnah, Imam Abu Muhammad Al Husain bin Mas’ud Al Baghawi (436-516 H), Darul Fikr Beirut. Cet. Tahun 1994 M/ 1414 H.
  14. Majma’uz Zawa’id wa Mamba’ul Fawa’id, Al Hafidz Nuruddin Ali bin Abi Bakar Al Haitsami (735-807). Darul Kutub Al Ilmiyyah Beirut. Cet tahun 1988 M/ 1408 H.
  15. Fathul Bari Syarhu Shahih Al Bukhari, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani (773- H), Darul Fikr Beirut. Cet.1 tahun 2000 M/1420 H.
  16. Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarafuddin An Nawawi Ad Damsyiqi (631-676H), Darul Kutub Al Alamiyah. Cet.1 tahun 2000 M/ 1420 H.
  17. Tuhfatul Ahwadzi Syarhu Sunan At Turmudzi, Syaikh Abdurrahman Abdurrahim Al Mubarakfuri, Darul Fikr Beirut. Cet. Tahun 1995 M/ 1415 H.
  18. Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, Syaikh Syamsul Haq Al Adzim Abadi dengan syarah Ibnul Qayyim Al Jauziyah dan tahqiq Abdurrahman Muhammad Utsman, Darul Fikr Beirut. Cet.3 tahun 1979 M/1399 H.
  19. Sunan An Nasa’I bi Syarh As Suyuthi dan Hasyiyah As Sindi (1138 H).
  20. Shahihul Jami’ Ash Shaghir, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Al Maktab Al Islami Beirut. Cet.3 tahun 1988 M/ 1408 H.
  21. Al Lu’lu’ wal Marjan fi Maa Ittafaqa ‘alaihi Al Bukhari wa Muslim, Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi.Darus Salam Riyadh. Cet.1 tahun 1994 M/ 1414 H.
  22. Riyadhush Shalihin, Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarafuddin An Nawawi Ad Damsyiqi (631-676H), Al Maktab Al Imdadiyah. Makah Cet.12. tahun 1990 M/ 1411 H.
  23. Dalilul Falihin lithuruqi Riyadhish Shalihin, Syaikh Muhammad bin ‘Allan Ash Shiddiqi, Darul Ma’rifah Beirut. Cet.2 tahun 1996 M/ 1416 H.
  24. Nuzhatul Muttaqin Syarhi Riyadhish Shalihin, Dr. Mushthafa Sa’id Al Khin dkk, Mu’assasah Ar Risalah Beirut. Cet.16 tahun 1989 M/ 1409 H.
  25. Bahjatun Nadzirin Syarhu Riyadhish Shalihin, Abul Walid Hisyam bin Ali As Sa’idi, Al Maktabah Al Islamiyah Kairo. Cet. 1 tahun 1422 H/ 2002 M.
  26. Syarhu Riyadhish Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dengan Tahqiq dan Takhrij hadits Ahmad Abdurrazaq Al Bakari dkk, Darus Salam Kairo. Cet.1 tahun 2002 M/ 1423 H.
  27. Jami’ul Ushul fi Ahaditsir Rasul Shallalahu ‘Alaihi Wasallam, Imam Majduddin Abis Sa’adat Al Mubarak bin Muhammad Atsir Al Jazari (544-606 H) dengan tahqiq syaikh Abdul Qadir Al Arna’uth, Darul Fikr Beirut. Cet.1 tahun 1985 M/ 1405 H.
  28. Al Mu’jam Al Mufahras li Alfadzil Hadits An Nabawi, Dr. I.Y. Winsink. Maktabah Birril London. Cet. tahun 1936 M.
  29. Nailul Authar Syarah Muntaqal Ahbar, Imam Asy Syaukani (-1255 H), Darul Fikr Beirut cet. 2 tahun 1403 H/1983 M.
  30. Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al Harrani (661-728 H/1263-1328 M). Mu’assasah Ar Risalah Beirut. Cet tahun 1997 M/ 1418 H.
  31. Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah, Syaikh Ad Duwais ( -1408 H). Darul ‘Ashimah Riyadh. Cet. 3 tahun 1419 H.
  32. Fatawa Al A’immah An Najdiyah Haula Qadhaya Al Ummah Al Mashiriyah Min Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Ila Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Dikumpulkan oleh Abu Yusuf Mudahhat bin Al Hasan Ali Farraj. Dar Ibni Khuzaimah, cet. 1 tahun 1421 H/2000 M.
  33. Majmu’ Fatawa wa Maqalat Al Mutanawwi’ah, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Ri’asah Idaratil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’ Riyadh, cet. 2 tahun 1416 H/1996 M.
  34. Fatawa Al Aqidah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Maktabah As Sunnah Kairo. Cet. Tahun 1992 M/ 1412 H.
  35. Majmu’atu Rasa’il Taujihaat, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Darush Shami’I Riyadh. Cet. 9 tahun 1417 H/1997 M.
  36. Fiqhus Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq, Darul Fikr Beirut, cet.4 tahun 1983 M/ 1403 H.
  37. Kitabut Tauhid alladzi Huwa Haqqullah ‘alal Ibad, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab(1115-1206 H), Jami’ah Imam Muhammad bin Su’ud Al Islamiyah Saudi Arabiya. Cet. Tahun 1991 M/ 1412 H.
  38. Taisirul Azizil Hamid fi Syarhi Kitabi Tauhid, Syaikh Sulaiman bin Abdullah (1200-1233 H), Darul Maktab Al Ilmiyah Beirut. Cet.6 tahun 1985 M/ 1405 H.
  39. Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan (1193-1295 H)dan tahqiq oleh Dr. Al Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Ali Faryan. Daru Alamil Fawa’id Makkah, cet. 6 tahun 1420 H.
  40. Al Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Daru Ibnul Jauzi Dammam. Cet. 3 tahun 1419 H/1999 M.
  41. Al Jadid fii Syarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al Qar’awi dengan tahqiq Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad. Maktabah As Suwadi Jeddah, cet. 1 tahun 1415 H/1995 M.
  42. Al Madkhal li Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah ‘ala Madzhabi Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Ibrahim bin Muhammad Al Buraikan.
  43. Fiqhus Sirah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthi. Darul Fikr Beirut, cetakan Edisi Revisi.
  44. Majallatul Buhuts Al Islamiyyah Kitab Al Jawab Al Mufid fi Hukmit Tashwir li Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Daru Ulin Nuha Riyadh, cet tahun 1413 H.
  45. Talbis Iblis, Imam Ibnul Jauzi (510-597 H). Darul Kutub Al Ilmiyah Beirut. Cet. 4 tahun 1993 M/ 1414 H.
  46. Ighatsatul Lahfan fi Masha’idisy Syaithan, Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad Ibnu Qayyim Al Jauziyah (691-751 H). Maktabah Al Mu’ayyad Riyadh. Cet. 1 1993 M/1414 H.
  47. Al I’tisham, Imam Asy Syathibi (-790 H). Maktabah Riyadh Al Haditsah Riyadh.
  48. Al I’tisham, Imam Asy Syathibi dengan tahqiq dari Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali.Dar Ibnu Affan Kearajaaa Saudi Arabia. Cet. 4 tahun 1995 M/1416 H.
  49. Mu’jamul Bida’, Ra’id bin Shabri bin Abi Ulfah, Darul Ashimah Riyadh. Cet. 1 tahun 1417 H/1996 M.
  50. Al Fatawa Asy Syar’iayah fii Al Masa’il Ath Thibbiyah Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin dan dikumpulkan oleh Ibrahim bin Abdul Aziz bin Abdurrahman Asy Syatsri. Mathba’ah Dar Ath Thayibah Riyadh cet. Tahun 1418 H.
  51. An Nihayah fii Gharibil Hadits wal Atsar, Imam Majduddin Abis Sa’adat Al Mubarak bin Muhammad Atsir Al Jazari (544-606 H) dengan tahqiq Thahir Ahmad Az Zawi dan Mahmud Muhammad Ath Thanahi, Maktabah Al Ilmiyah Beirut.
  52. Al Fa’iq fii Gharibil Hadits, Imam Az Zamakhsyari. Darul Fikr, cet. 3 tahun 1399 H/1979 M.
  53. Dosa-dosa yang Dianggap Biasa, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid. Al Maktab At Ta’awuni lid Da’wah wal Irsyad bekerja sama denga Yayasa Al Shafwa. Cet. 1 tahun 1418 H/ 1997 M.
  54. Fatwa-fatwa Pilihan, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Syaikh Muhammda bin Shalih Al Utsaimin, alih bahasa Zain Abu Wafa’ Islamic Cultural Center Dammam tanpa tahun.
  55. Al Adillah As Sathi’ah wal Barahin Al Waadhihah fii Tahrimil Askariyah Al Mu’ashirah, Syaikh Abu Abdurrahman Al Atsari. Cet. Edisi Revisi tahun 1422H.
  56. Lisanul Arab, Abul Fadhl Jamaluddin bin Makram bin Mandzur Al Afriki Al Mishri. Cet. Darul Fikr Beirut.
  57. Al Qamush Al Muhith, Imam Majduddin Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad bin Ibrahim Al Fairuz Abadi Asy Syirazi Asy Syafi’I (-817H), Darul Kutub Al Ilmiyah Beirut. Cet.1 tahun 1995 M/ 1415 H.
  58. Al Mishbah Al Munir, Imam Ahmad bin Muhammad Al Fayummi Al Muqri’i, Maktabah Lubnan Beirut. Cet. Tahun 1987 M.
  59. Al Mu’jam Al Wasith, Ibrahim Mushthafa dkk, Al Maktabah Al Islamiyah Istambul Turki.
  60. Kamus Al Munawwir Arab-Indonesia, Ahmad Warson Munawwir, ditelaah dan dikoreksi oleh KH. Ali Ma’shum dan KH. Zainal Abidin Munawwir. Pustaka Progresif Surabaya. Cet. 14 tahun1997 M.
  61. Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Mudzar. Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantern Krapyak Yogyakarta, cet.2 tahun 1997 M/1418 H.
  62. Kamus Arab-Indonesia, Prof. Mahmud Yunus. Yayasan Penerjemah/Pentafsiran Al Qur’an Jakarta tanpa tahun.

 

1 – Lisanul Arab: 4/473, Al Qamush Al Muhith: 2/44, Al Mu’jam Al Wasith: 1/528, Al Mishbah Al Munir, hal: 134, An Nihayah fii Gharibil Hadits: 3/58 dan Al Fa’iq fii Gharibil Hadits: 2/321.

2 – Al Mu’jam Al Wasith: 1/528, dan Al Fa’iq fii Gharibil Hadits: 2/321.

3 – Lisanul Arab: 4/473, Al Qamush Al Muhith: 2/44, Al Mu’jam Al Wasith: 1/528.

4Ibid, Lisanul Arab: 4/473, Al Qamush Al Muhith: 2/44, Al Mu’jam Al Wasith: 1/528.

5 Al Qamush Al Muhith: 2/44, Al Mishbah Al Munir hal:134 dan Al Mu’jam Al Wasith: 1/528.

6 – Al Mishbah Al Munir hal: 134 dan Lisanul Arab: 4/473.

7 – Lihat Al Mu’jam Al Wasith : 1/528.

8Lihat, Al Mu’jam Al Wasith : 1/528.

9Lihat, Lisanul Arab : 4/475.

10Lihat, Lisanul Arab : 4/475 dan An Nihayah fii Gharibil Hadits : 3/58.

11Lihat, Al Mu’jam Al Wasith : 1/528.

12 – Lihat Tafsir Ath Thabari: 12/50, no. 21853 dan Tafsir Al Qur’anul Azhim: 3/482.

13 – Tafsir Al Qurthubi: 14/238.

14 – Ibid.

15 – Al Madkhal li Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah ‘ala Madzhabi Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Ibrahim bin Muhammad Al Buraikan, hal. 183.

16 – HR Al Bukhari no. 5951, 5957, 5961, 7557, 7558, Muslim no. 2108, An Nasa’I no.5363, Ahamad no. 4475, 4707, 5168, 6767,6084, 6262, Al Baihaqi: 7/268, Abdurrazaq no. 19490 dan Al Baghawi no. 3219. Lihat dalam Riyadhush Shalihin Hadits no. 1678 dan Jami’ul Ushul no. 2954.

17 – HR Al Bukhari no. 5950, Muslim no. 2109, An Nasa’I no. 5366, Ahmad no. 3558, 4050., dan Al Baihaqi: 6/267. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hadits no. 1682 dan Jami’ul Ushul no. 2957.

18 – HR Al Bukhari no.5954, Muslim no. 2107, An Nasa’I no. 5365, Malik:2/966 no. Ahamad no. 24582,25063, 25070, 25225, 25360, 25361, 25906, 26149, 26308, 26336, Al Baghawi no. 3214. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hadits no. 1679 dasn Jami’ul Ushul no. 2955.

19 – HR Al Bukhari no. 5953, 7559, Muslim no. 2111, Ahmad no 7166, 7513, 9066, 9823, dan 10831, dan Al Baghawi no. 3216. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hadits no. 1683 dan Jami’ul Ushul, no. 2959.

20 – HR Al Bukhari no. 5953, 7559, Muslim no.2111, Ahmad no 7166, 7513, 9066, 9823, dan 10831, dan Al Baghawi no. 3216. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hadits no. 1683 dan Jami’ul Ushul, no. 2959.

21 – HR Al Bukhari no. 7042, Muslim no. 100/2110 dan Al Bagwawi no. 3217

22 – HR Al Bukhari no. 2225, Muslim no.2110, Ahamad no. 2811, 3394, Al Baghawi no. 3214, lafadz hadits milik Muslim. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hadits no. 1680 dan Jami’ul Ushul, no. 2956.

23 – HR Al Bukhari no. 2086, 2238, 5347, 5945, 5962, Ahamad no. 18963, 18975.

24 – HR At Turmudzi no. 2574 dan beliau berkata,”hadits hasan shahih gharib.” Juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya no. 8438 dan Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 3219.

25 – HR Al Bukhari no. 3322, Muslim no. 2106, Abu Daud no. 4155, At Turmudzi no. 2805, An Nasa’I no. 5349, Ibnu Majah no. 3649, Abdurrazq no. 19483, Al Baghawi no. 3211. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hadits no. 1684.

26 – HR Al Bukhari no. 3352, Abdurrazq no. 19485

27 – HR Al Bukhari no.5960, Muslim no.2104, Al Baghawi no. 3212. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hadits no. 1686 dan Jami’ul Ushul, no. 2973.

28 – HR Al Bukhari no.5952, Al Baghawi no. 3220

29 – HR Muslim no.2107 dan Abu Daud no. 4152. Lihat Syarhus Sunnah, no. 3222.

30 – HR At Turmudzi no. 2806, Abu Daud no. 4158, Ahmad no. 8051 dan Al Baghawi no. 3222

31 – HR Ahmad no. 8438, Abdurrazaq no. 1948 dan Al Baghawi no. 3222

32 – HR Abu Daud no. 4932 dan Al Baghawi no. 3222.

33 – HR Muslim no. 969, Abu Daud no. 3218, At Turmudzi no. 1049, An Nasa’I no. 2033, Ahmad. No. 741, 1239, 1284, Abdurrazq: 3/504. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hadits no. 1684

34 – HR Al Bukhari no.3351.

35 – HR At Turmudzi no. 1749, lihat dalam Jami’ul Ushul, no: 2960.

36 – HR Al Bukhari no.427, 434, 1341, 3573, Muslim no. 528, An Nasa’I no. 705 dan Al Baghawi no. 509.

37 HR Malik :2/966 dan At Turmudzi no: 1750, beliau berkata: hadits hasan shahih. Lihat Jami’ul Ushul no.2964

38 Lihat Fatawa Al Aqidah hal: 669, no. 398

39 HR Malik no: 1801 dan At Turmudzi no: 2805

40 HR Al Bukhari no: 2105, 3224, 5181, 5957, 5961, 7557, Muslim no: 2107 dan Malik no: 1803

41 Lihat Fatawa Al Aqidah no. 380, hal: 666-672, Al Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid: 2/435-441 dan Syarh Riyadhush Shalihin, Syaikh Al Utsaimin: 2/ 1754

42 Lihat Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari: 11/585

43 Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari: 11/588

44 Lihat Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi: 14/69-70 dan Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari: 11/588

45 Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari: 11/588.

46 Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah: 4/214, 215, 217 dan Majallatul Buhuts: 17/367

47 Lihat Fatawa Al Aqidah no. 382, hal: 666-667.

48 Lihat Fiqhus Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq: 3/ 370.

49 Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari: 11/588.

50 Lihat Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari: 11/592

51 Ibid. 11/588

52 Ibid. 11/588

53 Lihat Syarhus Sunnah: 7/97

54 Beliau adalah Al Qadhi Abul Fadhl Iyadh bin Musa bin Iyadh bin Amr Al Andalusi ( – ). Lihat Tadzkiratul Huffadz:4/94, Syadzratudz Dzahab: 4/ 238, Tahdzibul Asma’: 2/43, Mu’jamul Mu’allifin: 2/ 588

55 Lihat Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi: 14/77

56 Lihat Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari: 11/592

57 Lihat Mamu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: 22/ 140

58 Lihat Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi: 14/69-70, Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari: 11/583 dan Nailul Authar: 2/98

59 Lihat Nailul Authar: 2/100-101

60 Beliau adalah Muhammad bin Abdul Aziz As-Sulaiman Al-Qar’awi, lahir 1353 H

61 Lihat Al Jadid fii Syarhi Kitabit Tauhid, hal:440-448

62 Beliau adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah Ali Baz, lahir tahun 1330 H dan wafat tahun 1421 H. Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah: 1/30

63 Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqalat Al Mutanawwi’ah: 1/437

64 Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Utsaimin Al-Wuhaibi At-Tamimi, lahir tahun 1347 H dan wafat tahun 1422 H

65 Lihat Fatawa Al Aqidah, hal: 666

66 Lihat Fatawa Lajnah Da’imah: 1/663-665 no. 2036

67 Lihat Fiqhus Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq: 3/ 369

68 Al Madkhal li Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah ‘ala Madzhabi Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Ibrahim bin Muhammad Al Buraikan, hal. 183-184

69 Lihat Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari: 11/582

70 Lihat Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari: 11/5

71 Lihat Fathul Bari bi Syar Shahih Al Bukhari: 11/582

72 Lihat Hasyiyah Sunan An Nasa’I: 8/215

73 Beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin Musyrif bin Umar bin Umar, lahir tahun 1115H dan wafat tahun 1206H. liaht dalam Kasyfusy Syubhat:7-9, Al Jadid:7, Fathul Majid: 1/13, Tarikh Najd: 1/75, 85, Abjadul Ulum: 871, Unwanul Majd: 1/6, Ulama’ Najd Khilal Sittata Qurun Ali Bassam: 1/25-47, Ad Durarus Saniyah: 9/201, Al A’lam: 6/257, Kasyfudz Dzunun: 6/350, Mu’jamul Mu’allifin: 10/ 269

74 Lihat dalam Kitabut Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 138-139

75 Beliau adalah Abul Hasan Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab, lahir pada tahun 1193 H dan wafat pada tahun 1285 H. lihat Majmu’atur Rasa’il wal Masa’il: 2/20-24, Unwanul Majd fi Tarikh Najd: 1/191, 2/41, 46, Uqadud Durar: 54-62, Idhahul Maknun: 2/172, Hudyatul Arifin: 1/558, Ad Durarus Saniyah: 12/60, Al A’lam: 3/304, Mu’jamul Mu’allifin: 5/ 135, Masyahiru Ulama’ Najd: 78, Fathul Majid: 1/33-39,

76 Lihat Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid:2/ 798

77 Beliau adalah Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, lahir 1200H dan wafat 1233 H. Lihat Taisirul Azizil Hamid, hal 12 dan Fathul Majid: 1/24

78 Lihat Taisiru Azizil Hamid, hal: 701

79 Lihat Nuzhatul Muttaqin: 2/1150 dan 1152

80 Lihat Bahjatun Nadzirin Syarh Riyadhush Shalihin, hal: 862

81 Lihat Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi:14/72

82 Lihat Dosa-dosa yang Dianggap Biasa, hal: 119-120

83 Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah: 1/ 666-667, no 2358 dan hal: 711, no. 4127

84 Lihat Fatawa Al Aqidah, hal 661 no. 373 dan Syarah Riyadhsh Shalihin: 2/ 1755-1756

85 Fiqhus Sirah, hal. 380

86 Lihat Al Madkhal li Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah ‘ala Madzhabi Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Ibrahim bin Muhammad Al Buraikan, hal. 184

87 Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah: 1/ 701-702, no 7903

88 Lihat Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah: 4/ 225

89 Lihat Fatawa Al Aqidah, Al Utsaimin no. 377, hal: 664

90 Lihat Fatawa Al Aqidah, Al Utsaimin no. 374, hal: 662 dan no. 377, hal: 664 serta hal: 694

91 Lihat Dosa-dosa yang Dianggap Biasa, hal: 119

92 Lihat Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi:14/72

93 Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah: 1/ 666, no. 2358 dan 1/ 674, no. 4513

94 Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah: 1/ 703-704, no 2922

95 Lihat Fatawa Al Aqidah, hal: 676-677

96 Lihat Syarah Riyadhsh Shalihin: 2/ 1759

97 Al Fatawa Asy Syar’iyyah: 2/151

98 Lihat Nailul Authar: 2/97

99 HR Muslim no.2107 dan Abu Daud no. 4152. Lihat Syarhus Sunnah no. 3222.

100 Lihat Fatawa Al Aqidah hal: 662, no. 374

101 Fiqhus Sunnah: 3/ 371

102 Al Bukhari, al adab no. 6130 dan Abu Daud, al adab no. 4931.

103 Lihat Syarah Riyadhsh Shalihin: 2/ 1758

104 Lihat Fatawa Al Aqidah, no. 388, hal: 6884

105 HR Muslim no. 969, Abu Daud no. 3218, At Turmudzi no. 1049, An Nasa’I no. 2033, Ahmad. No. 741, 1239, 1284, Abdurrazq: 3/504, lihat dalam Riyadhush Shalihin Hadits no. 1684

106 HR Al Bukhari no: 2105, 3224, 5181, 5957, 5961, 7557, Muslim no: 2107 dan Malik no: 1803

107 Lihat Syarah Riyadhsh Shalihin: 2/ 1756

108 Lihat Fatawa Al Aqidah hal: 663, no. 376

109 Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah:1/ 706-707, no. 3059 dan no. 2961

110 Lihat Fiqhus Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq: 3/ 370

111 Lihat Dosa-dosa yang Dianggap Biasa, hal: 119-120

112 Fatawa Al Aqidah, no. 383, hal: 677-679

113 Lihat Majmu’atu Rasa’il Taujihaat Islamiyah: 1/67

114 Fatawa Asy Syar’iyah: 1/85

115 Lihat Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari: 11/592, Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi: 14/77, Nailul Authar: 2/99, Fiqhus Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq: 3/ 370, Fatawa Al Aqidah no. 382, hal: 666-667, Al Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid: 2/435 dan Syarhu Riyadhush Shalihin, Syaikh Al Utsaimin: 2/ 1754, Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Syaikh Abdul Aiziz bin Baz: 4/ 223, Majallatul Buhuts Al Ilmiyah: 17/ 9368, Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah: 1/ 663

116 Lihat Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari: 11/592, Al Qaulus Sadid Syarh Kitabut Tauhid: 2/435 dan Syarh Riyadhush Shalihin, Syaikh Al Utsaimin: 2/ 1754

117 Mamu’ah Rasa’il At Taujihat Al Islamiyah: 1/65-66 dan 2/517-518

118 Lihat Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi:14/72

119 Lihat Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari: 11/ 579

120 Lihat Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi:14/72

121 Lihat Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi:14/72

122 Lihat Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari: 11/ 579

123 Lihat Nailul Authar: 2/100

124 Lihat Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhush Shalihi: 2/ 1153-1154

125 Lihat Bahjatun Nadzirin Syarh Riyadhush Shalihin, hal: 862

126 Lihat Dosa-dosa yang Dianggap Biasa, hal: 119

127 Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah: 4/218-219 dan Majallatul Buhuts: 17/370-371

128 Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah: 4/215 dan Majallatul Buhuts: 17/366

129 Lihat Majmu’atu Rasa’il Taujihaat Islamiyah: 1/66-68

130 Lihat makalah syaikh Abu Abdurrahman Al Atsari yang berjudul “Al Adillah As Sathi’ah wal Barahin Al Waadhihah fii Tahrimil Askariyah Al Mu’ashirah”

131 Lihat Al I’tisham Asy Syathibi: 2/81-82 dan Mu’jamul Bida’ Ibnu Abi Ulfash, hal: 359

132 Lihat Al I’tisham Asy Syathibi dengan tahqiq dari Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali: 2/537

133 Al ‘Adillah As Sathi’ah wa Al Barahin Al Wadhihah fii Tahrim Al Askarriyah Al Mu’ashira Abu Abdurrahman Al Atsari, hal.

134 Lihat Al Madkhal Ibnul Hajj: 3/ 274 dan Mu’jamul Bida’ Ibnu Abi Ulfah, hal: 359

135 Lihat Mu’jamul Bida’ Ibnu Abi Ulfah, hal: 359 dan Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah: 1/ 690, no. 5436

136 Lihat Mu’jamul Bida’ Ibnu Abi Ulfah, hal: 359

137 Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah: 1/ 689-690, no. 1619

138 Lihat Mungkaratul Buyut Ibnu Abi Ulfah dan Mu’jamul Bida’ Ibnu Abi Ulfah, hal: 359

139 Lihat Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhush Shalihi: 2/ 1155

140 HR Al Bukhari no. 374 dan 5959

141 Nailul Author 2/ 153/ , Sabulus Salam 1/ 151

142 HR Al Bukhari no. 373, Muslim no. 556/62, Malik no. 220 dan Al Baghawi no. 523

143 Fathul Bar’I juz 8 hal: 35-36

144 Subulus Salam:1/ 151

145 HR Al Baghawi no. 524

146 Fatawa Al-Izzi bin Abdus Salam: 68

147 Al-Ikhtiyarat Al-Ilmiyah, hal. 254

148 Al-Hidayah, hal 69, dan syarh Fathul Qadir

149 Lihat Al Fatawa Asy Syar’iayah fii Al Masa’il Ath Thibbiyah Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin: 2/153

150 Lihat Mamu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: 1/357, Majmu’atu Rasa’il Taujihat Islamiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu: 2/ 517, Taisirul Azizil Hamid, hal 306-307, Fathul Majid: 1/373, Al Jadid, hal. 175, Al Qaulul Mufid: 1/367, Fatawa Al A’immah An Najdiyah Haula Qadhaya Al Ummah Al Mashiriyah Min Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Ila Syaikh Abdul Aziz bin Baz, hal. 76-77.

151 Al Madkhal li Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah ‘ala Madzhabi Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Ibrahim bin Muhammad Al Buraikan, hal. 184

152 Lihat Talbis Iblis, Imam Ibnul Jauzi: 63-64 dan Ighatsatul Lahfan fi Masha’idisy Syaithan, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah: 2/ 621-622

153 Lihat Ighatsatul Lahfan fi Masha’idisy Syaithan, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah: 2/ 622

154 Lihat Talbis Iblis, Imam Ibnul Jauzi: 63

155 HR Al Bukhari dalam Kitabut Tafsir surat Nuh, no. 4920. Lihat dalam Fathul Bari: 9/ 669-672, Jami’ul Bayan Imam Ath Thabari: 14/8616, Al Jami’ Li’ahkamil Qur’an Imam Al Qurthubi: 18/ 307-308, Tafsir Al Qur’anul Adzim Imam Ibnu Katsir: 4/ 385 dan Tafsir Ad Durrul Mantsur At Tafsir bil Ma’tsur Imam As Suyuthi: 8/293.

156 Lihat Majmu’atu Rasa’il Taujihat Islamiyah, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu: 2/ 517

157 Lihat Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: 1/361

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: