KREDIT DALAM TINJAUAN SYAR’I


  1. MUQODDIMAH

Segala puji hanya milik Allah, kita memuji -Nya, memohon pertolongan dan Ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kita dan dari kejelekan amalan-amalan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang bisa menyesatkan nya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak akan ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi tiada yang berhak diibadati melainkan Allah ‘Azzawajalla, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wasallam adalah hamba sekaligus Rasul-Nya.

Islam adalah merupakan dien yang bersifat komperhensif yang mengatur seluruh segi kehidupan manusia, baik yang berhubungan langsung antara manusia dengan Rabb nya ataukah hubungan antara manusia dengan manusia. Hubungan yang paling banyak dan sering terjadi adalah persoalan muamalah hubungan kerja sama antara manusia satu samalainya. Dalam hal ini persoalan muamalah tersebut adalah perihal jual-beli. Sementara Jual beli adalah merupakan kebutuhan manusia yang terkait dengan sesuatu yang ada pada orang lain, dan orang lain juga tidak akan melepaskan apa yang menjadi miliknya tanpa ada kompensasi pengganti yang jelas bagi barang nya.

Maka dengan diperbolehkannya jual beli sebagaimana firman Allah Ta’ala didalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 275 :” Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Dengan sendirinya terbukalah jalan bagi masing-masing pihak untuk mencapai maksud dan mendapatkan kebutuhan yang diinginkan demi kelangsungan hidup mereka.

Kemudian dengan adanya perkembangan Zaman, dan meningkatnya kebutuhan manusia akan barang serta makin sulitnya mendapat uang sebagai alat jual-beli, maka muncul suatu sistem yang disebut dengan Kredit. Sistem ini makin lama semakin meluas hingga masuk diberbagai macam sistem bisnis yang ada. Dan sistem kredit semakin lama semakin diminati banyak kalangan, disebabkan mereka terdesak untuk membeli barang tertentu yang tidak bisa didapat dengan cara tuanai, maka kredit adalah pilihan yng mungkin dilakukan.

Namun ada pertanyaan besar yang tiba-tiba muncul dibenak kita yaitu apa hukum jual beli dengan sistem kredit ? dan seandainya sistem tersebut diperbolehkan, bagaimana aturan dan kode etiknya ?

Maka dari pertanyaan inilah timbul keinginan kami untuk menjadikan nya sebagai bahan diskusi kami dan selanjutnya akan kami sajikan kepada para pembaca dengan bentuk makalah yang sederhana, dengan harapan dapat memberikan gambaran yang ringkas akan permasalahan ini. Wallahu a’lam.

  1. TA’RIF JUAL-BELI (BAI’)
    1. Menurut etimologi

Kata Bai’ diambil dari kata بَاعَ – يَبِيْعُ – بَيْعًا yang berarti menjual yaitu lawan dari kata اشْتَري yang berarti membeli.1 Sedangkan ma’na asli Bai’ secara bahasa menurut doktor Nazih Khammad adalah, “Pertukaran kepemilikan harta dengan harta.”2

    1. Menurut terminologi

Menurut istilah, Ibnu Qudamah mendefinisikan Bai’ adalah,” Pertukaran harta dengan harta dengan ketentuan memiliki dan memberikan kepemilikan.3

Sedangkan doktor Nazih khammad dalam bukunya Mu’jamul mustholahat mengatakan, ” Ada ulama’ lain yang mendefinisikan Bai’ dengan, Penyerahan kepemilikan, baik berupa harta ataupun manfaat yang mubah untuk diganti dengan harta yang pantas.” 4

III. HUKUM JUAL-BELI (BAI’)

A. Jual-beli secara umum

Jual beli dihalalkan menurut kitabullah dan sunnah serta ijma’ para ulama’.

Dalam Qur’an

Allah Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يَأْكُلوُنَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.5

Dalam Sunnah

Sementara dalam Sunnah Imam Bukhari6 meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia menceritakan : “ Ukashz, Mujinnah dan Dzul Majjaz adalah pasar-pasar yang dikenal pada masa jahiliyyah. Kemudian setelah datang Islam mereka tidak lagi mengadakan pasar-pasar tersebut, maka turunlah Firman Allah meghalalkan kegiatan tersebut ( jual-beli ) :

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ

Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia (dengan berdagang) dari Rabb mu.”7

Ijma’ Ulama’

Para Ulama’ telah bersepakat tetang diperbolehkannya jual beli secara umum8, selama tidak sampai melalaikan suatu kewajiban. Bila sampai meninggalkan hal yang wajib maka hukum jual beli tersebut menjadi haram .

Allah berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ

وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari jum’at,maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” 9

B. Jual beli secara Riba

Secara bahasa ;Riba berarti bertambah. Riba berasal dari kata رَبَايَرْبُوْارِبا yang berarti bertambah dan berkembang.10 Sedangkan menurut istilah ; Riba adalah Penambahan dalam sesuatu yang dikhususkan.11

Para ulama’ membagi riba menjadi dua macam12 yaitu : Riba Fadhl dan Riba Nasiah. Riba Fadhl adalah Jenis jual beli uang dengan uang atau bahan makanan dengan bahan makanan dengan tambahan. Sedangkan Riba Nasiah adalah Pertambahan bersyarat yang diperoleh orang yang menghutangkan dari orang yang berhutang, karena adanya penangguhan.

Dalam Hadits disebutkan pengharaman untuk enam jenis barang dalam kaitannya dengan Riba, yaitu Emas, perak, gandum, jewawut, kurma dan garam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Ahmad dari Abu Said ia berkata, rasulullah Sallallohu ‘Alaihi wasallam bersabda :

الذَّهَابُ بِالذَّهَابِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ وَاسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى، الآخِذُ وَالْمُعْطِي سَوَاءٌ

Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, garam dengan garam, sama-sama dari tangan ketangan, siapayang menambahkan dan meminta ditambahkan, sungguh ia telah berbuat riba, pengambil dan pemberi sama.

Sedangkan mengenai hukum riba dalam jual-beli, tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama’ akan keharamannya, karena adanya dalil yang jelas baik dalam Qur’an dan Sunnah serta Ijma’.

Dari Qur’an

Firman Allah Ta’ala :

الَّذِينَ يَأْكُلوُنَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.13

Dari Sunnah

Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari:

رَوَي عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسلَّمَ أَنَّهُ لَعَنَ أَكْلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ

Diriwayatakan dari Nabi Sallawllahu ‘alaihi wasallam, bahwasannya beliau melaknat para pemakan riba,yang memberi makan dengannya, kedua saksinya serta sekertarisnya.14

Ijma’ Para Ulama’

Mengenai Hukum Riba dalam jual-beli, ulama telah sepakat akan keharamannya.15 berdasarkan dalil-dalil yang shorih dari Qur’an dan Sunnah.

IV. JUAL-BELI DENGAN DUA HARGA

Bai’ atau Jual-beli adalah akad yang dihalalkan dan disyariatkan dalam islam baik dengan harga tunai atau tunda sebagai mana dalil yang telah kami jelaskan diatas. Namun ada juga jual-beli yang dilarang dalam islam, diantaranya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi yang artinya,” rasul melarang jual beli dengan dua (harga) penjualan dalam satu penjualan “.

Berkenaan dengan hadits di atas para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkannya, ada beberapa penafsiran berbeda dalam hal ini :

  1. Adalah Transaksi jual beli antara harga tunai dan harga kredit. Sedangkan harga kridit lebih tinggi dari harga tunai. Misalnya, saya jual rumah ini tunai dengan harga 100 juta, atau kredit 120 juta, kemudian pembeli memilih salah satu diantara keduanya dan sepakat. Mengenai transaksi seperti ini para ulama berselisih pendapat, ada yang melarang dan ada yang membolehkannya dan ini sebagaimana yang dikatan oleh imam malik dan syafi’i16 Jual-beli seperti ini tidak termasuk ke dalam larangan jual-beli dua akad dalam satu barang. Sebab, akadnya tetap satu, hanya penawaran harganya yang berbeda, antara tunai dan kredit, dan pembeli juga hanya diberikan pilihan satu, apakah membayar secara tunai atau secara kredit. Adapun pembahasan lengkapnya pada bab berikutnya.
  2. Adalah Transaksi jual beli antara harga tunai dan harga kredit. Sedangkan harga kridit lebih tinggi dari harga tunai. Misalnya, saya jual rumah ini tunai dengan harga 100 juta, atau kredit 120 juta. Kemudian tidak ada kesepakatan diantara keduanya harga yang mana yang dipilih. Sedangkan mengenai transaksi seperti ini para ulama melarangnya, karena ada unsur ketidak jelasan pada transaksi tersebut17
  3. Adalah transaksi yang mensyaratkan kapada pembeli terhadap barang yang sudah dibeli. Misalnya dikatakan saya jual motor ini dengan harga sekian, tapi saya juga bisa ikut memakainya. Maka transaksi jenis ini haram karena termasuk dari jenis bai’ wasyarat.18

V. HUKUM JUAL- BELI KONTAN DENGAN KREDIT

Adapun lafadz kredit dalam bahasa arab disebut dengan Taqsith yang artinya Bagian, jatah atau membagi-bagi19.

Sedangkan jual-beli kredit menurut istilah adalah Menjual sesuatu dengan pembayaran tertunda , dengan cara memberikan cicilan dalam jumlah tertentu dalam waktu tertentu dan lebih mahal dari harga tunai.20

Dan mengenai hukumnya, para ulama berselisih pendapat dalam menentukan hukum jual beli kredit sebagai berikut :

  1. Bahwa hal itu adalah batil atau terlarang secara mutlak.
  2. Diperbolehkan dengan syarat apabila dua harga itu dipisah (ditetapkan) pada salah satu harga saja. Misalnya apabila hanya disebutkan harga kreditnya saja.
  3. Bahwa hal itu tidak boleh. Akan tetapi apabila telah terjadi dan harga yang lebih rendah yang dipilih atau dibayarkan maka boleh.

Dalil madzhab yang pertama yaitu pendapat Syaikh Al-AlBani, Syaikh Salim Al Hilali dan Ibnu Hazm mereka lebih melihat dhohir dari firman Allah yang artinya,” Dan Allah meng haramkan riba”. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap bentuk tambahan dalam sebuah transaksi jual beli adalah haram, kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Maka ‘ilah’ dari persoalan ini adalah Az ‘Ziyadah’. Maka jual beli seperti ini tidak boleh.

Kemudian juga melihat dari dhohir larangan dari sabda rasulullah, bahwasanya rasul melarang jual beli dengan dua (harga) penjualan dalam satu penjualan 21 karena pada asalnya larangan itu menunjukkan batilnya perdagangan model itu.

Kemudian juga melihat dari banyaknya tafsiran dari banyak ulama’ tentang sabda Nabi “bahwasanya rasul melarang jual beli dengan dua (harga) penjualan dalam satu penjualan “.Seperti, Sammak bin Harb, Abdul Wahhab bin Atho’, Ibnu Sirrin, Thowus, Sufyan At Tsauri, Al Auza’i. Mereka menafsirkan bahwa kredit merupakan salahsatu bentuk dari jual beli yang dilarang dalam hadits diatas.22

Sedangkan madzhab yang kedua berargumentasi bahwa, larangan tersebut disebabkan oleh ketidak tahuan harga, yaitu : ketidak pastian harga; apakah harga kontan atau kredit. Al-Khaththabi berkata : “Apabila pembeli tidak tahu harga maka jual beli itu batal. Adapun apabila dia memastikan pada salah satu dari dua perkara (harga) itu dalam satu majlis akad, maka jual-beli itu sah”. Menurut Syaikh an-Nabhani, tidak ada larangan menjual dengan dua harga terhadap satu barang. Sebab, kebolehan jual-beli sebagaimana yang ditunjukkan al-Quran (QS al-Baqarah: 257) datang dalam bentuk yang umum. Artinya, seluruh bentuk jual-beli halal kecuali jika terdapat pengecualian, seperti larangan jual-beli gharar (penipuan). Beliau juga mengutip perkataan sejumlah fuqaha seperti Thawus, al-Hakam, dan Hammad yang berkata, “Tidak mengapa seseorang berkata, ‘Saya menjual kepadamu dengan tunai sekian dan dengan kredit sekian”.23

Yang terlarang dalam jual-beli kredit adalah ketika pembeli diharuskan menambah harga pada saat ada keterlambatan pembayaran dari waktu yang telah ditentukan yang dalam masyarakat kita sering disebut dengan ‘denda keterlambatan’. Demikian juga jika si pembeli meminta penundaan pembayaran dan penjual merestuinya, dengan catatan, ia harus menambah harganya. Bentuk inilah yang dilarang dalam Islam karena dapat terkategori ke dalam riba nâsi’ah yang secara tegas telah diharamkan dalam Islam.

Dalil madzhab yang ketiga adalah hadits, yang artinya :” Barangsiapa menjual dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan, maka baginya (harga) yang paling sedikit atau (kalau tidak, maka harga yang lebih tinggi tersebut adalah) riba”24

Maksud dari hadits tersebut adalah : “ bahwa dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan adalah riba”. Jadi riba itulah yang menjadi illat (alasan)nya. Dengan demikian maka larangan itu berjalan sesuai dengan illat (alasan)nya, baik larangan itu menjadi ada, ataupun menjadi tidak ada. Karenanya bila dia mengambil harga yang lebih tinggi, berarti itu riba. Tetapi bila mengambil harga yang lebih rendah, maka hal itu menjadi boleh. Sebagaimana keterangan dari para ulama, yang telah menyatakan bahwa boleh untuk mengambil yang lebih rendah harganya, dengan tempo yang lebih lama, karena sesungguhnya dengan demikian berarti dia tidak menjual dua (harga) penjualan di dalam satu penjualan. Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Artinya : Maka baginya (harga) yang paling sedikit, atau (kalau tidak maka harga yang lebih tinggi tersebut adalah riba. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mensahkan penjualan itu karena hilangnya illat (alasan) yang menjadikannya terlarang.

VI. KESIMPULAN MENGENAI HUKUM KREDIT

Dari pemaparan pendapat madzhab diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa letak permasalahan hukum jual beli kredit ini terletak pada apakah hal ini masuk dalam larangan jual beli dengan dua (harga) penjualan dalam satu penjualan, ataukah tidak? Dalam arti lain apakah ada penambahan harga sebagai konsekuensi dari ditundanya pembayaran, ataukah tidak?

Yang Jadi perbincangan di kalangan ulama’ adalah kredit yang berbeda harga seandainya dibayar kontan. Akan tetapi dari berbagai pembahasan mengenai jual beli kredit ini banyak yang berpendapat tentang kebolehan jual beli dengan kredit. Hal ini karena hadits di atas bukan merupakan nash tentang diharamkannya jual beli kredit, karena para ulama masih berselisih pendapat mengenai arti dari lafadz “ jual beli dengan dua (harga) penjualan dalam satu penjualan.” Padahal sudah maklum dalam kaidah hukum muamalah bahwa pada dasarnya semua bentuk muamalah halal kecuali kalau ada dalil yang mengharamkan.25 Ini juga dikuatkan dengan dalil-dalil yang dipaparkan oleh Syaikh Hisyam bin Muhammad Said Aali Barghosy26 berkenaan dengan diperbolehkan nya memberikan tambahan harga karena adanya penundaan pembayaran atau karena penyicilan , Yaitu Firman Allah Ta’ala :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَتَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. 27

Sedangkan kredit termasuk jenis jual beli yang dilakukan secara suka sama suka, sehingga sistim ini diperbolehkan.

Dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas, bahwa saat Rasulullah memerintahkan untuk mengusir Bani Nadzir, datanglah beberapa orang dari mereka kepada Rasul dan berkata : “ Wahai Nabi Allah ! anda mengusir kami sementara masih banyak orang yang berhutang kepada kami dan belum terbayar ? Rasulullah menjawab : “ Turunkan jumlah hutang tersebut, dan suruh bayar dengan segera . “28

Menguragi jumlah utang dan memutihkan sisanya karna untuk mempercepat waktu pembayaran, diperbolehkan menurut hadits diatas, maka menambah jumlah pembayaran karena penundaan waktu pembayaran adalah sama hukumnya.

Dan yang menjadi kesimpulan juga dari permasalahan jual beli kredit adalah, akan tetap ada perbedaan pendapat mengenai hukum kredit, akan tetapi kebanyakan ulama’ yang membahas masalah ini adalah berkesimpulan akan kebolehan sistim kredit. Dan pendapat tersebut sebagaimana kesepakatan Jumhur Ulama’ tentang kebolehan jual beli dengan sistim kredit. Diantara yang mengambil pendapat ini adalah Mazhab Syafi’iyyah, hanafiah, zaid bin ‘Ali dan Muayyidu billah.29 Wallahu a’lam.

VII. SYARAT DAN KODE ETIK BERTRANSAKSI DENGAN KREDIT

Transaksi jual beli kredit diperbolehkan dengan beberapa syarat dan kode etik yang harus dipenuhi, seandainya ada beberapa syarat yang tidak dipenuhi maka bisa jadi bentuk kredit tersebut akan menjadi rusak dan batal, bahkan bisa menjerumuskan pelakunya kepada perbuatan riba. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Harga harus disepakati diawal transaksi meski pelunasan dilakukan kemudian. Karena adanya sebuah kesepakatan ataupun Ijab dan Qobul adalah sangat menentukan dalam sebuah transaksi jual beli kredit, bahkan ini adalah menjadi syarat wajibnya dalam mengadakan bentuk jual beli Apapun. Misalnya harga motor tunai 12 juta sedang dengan kredit 15 juta. Maka kedua belah pihak (penjual dan pembeli) harus menentukan harga mana yang harus diambil kredit ataukah tunai.
  2. Pembayaran cicilan harus disepakati oleh kedua pihak kemudian tempo pembayaran harus dibatasi sehingga tidak terjadi praktek jual beli penipuan (Ghoror). Hal tersebut penting karena dengan adanya penentuan pembayaran cicilan diawal transaksi akan dapat memberikan gambaran pada pembeli yang berkaitan dengan kemampuan dan kesanggupan ia melunasi biaya kredit tersebut.
  3. Tidak diperbolehkan menetapkan sistim perhitungan bunga kredit kepada pembeli jika pelunasannya mengalami keterlambatan. Karena ini haram berdasarkan kitabullah, sunnah Rasul dan ijma’. Keharaman ini meliputi segala macam bunga yang dijadikan syarat oleh orang yang memberikan pinjaman. Dan ini yang sering dipraktekan oleh bank-bank saat ini, karena bank-bank tersebut meminjamkan kepada siapapun yang membutuhkan kemudian peminjam memberikan sejumlah uang sebagai pengganti bunga tertentu dengan prosentasi tertentu, dimana prosentasi tersebut akan terus meningkat ketika terjadi keterlambatan pembayaran dari waktu yang ditentukan.

VIII. JUAL-BELI YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN BERJANGKA ATAU KREDIT

Diriwayatakan dalam banyak hadits shahih bahwa ada beberapa jenis jual beli yang tidak boleh dilakukan secara kridit atau berjangka, salah satunya sebagaimana yang tersebut dalam hadits Nabi :

Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus dilakukan dengan takaran yang sama atau ukuran yang sama, dari tangan ketangan, apabila yang ditukarkan berlainan jenis, maka juallah sekehendak kalian asal tetap secara langsung, dari tangan ketangan. “

Semua komoditas diatas tidak boleh dibarter dengan perbedaan nilai dan dalam waktu berjangka. Tidak boleh membarter emas dengan emas dimana salah satunya dengan kontan dan yang lainnya secara kredit.

Mengenai hadits diatas Doktor Rafiq Al Mishri menyimpulkan beberapa hukum30 mengenai larangan menjual enam komoditas diatas dengan cara kridit :

  1. Emas boleh ditukar dengan emas, Perak dengan perak adalah bahwa masing-masing barang tersebut haruslah sama jenis, ukuran dan serah terima denga cara langsung atau tidak boleh dengan kredit.
  2. Emas bisa ditukar dengan perak, Gandum dengan jewawut,namun dengan syarat serah terima harus langsung bukan secara kredit dan diperbolehkan untuk tidak sama berat dan takaranya.
  3. Sedangkan apabila emas ditukar dengan gandum atau perak ditukar dengan jewawut, boleh tidak sama ukuran dan takarannya, demi mewujudkan kesetaraan harga dalam dan boleh dengan pembayaran tertunda.

IX. BENTUK-BENTUK JUAL-BELI DENGAN KREDIT

Dengan adanya syarat-syarat yang telah kami jelaskan diatas, maka tentunya kita akan bisa menilai bentuk kredit manakah yang diperbolehkan dan mana yang dilarang. Bentuk jual-beli dengan kredit sangat banyak, baik itu kredit yang diperbolehkan ataupun bentuk kredit yang dilarang. Adapun contoh sebagian bentuk kredit tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Seseorang membeli barang kepada seorang penjual secara kredit, kemudian ia menjual kembali barang tersebut kepada orang yang menjual barang tersebut karena sangat membutuhkan uang tunai, dengan harga yang lebih murah dan dibayar secara tunai, maka jual beli seperti ini adalah diharamkan dan jelas tidak diperbolehkan, dan ini disebut juga dengan jual beli bentuk ‘Innah. Mengenai jual beli ini syaikhul islam ibnu taimiyyah menyatakan dalam fatwanya, “ Jual beli ‘Innah tidak diperbolehkan menurut mayoritas ulama’ seperti, Abu Hanifah, Imam Malik, Ahmad dan ulama’ lainya.31dan ini dikuatkan dengan adanya sabda Nabi salallahu ‘Alaihi wasallam :

إِذَا ضَنَّ النَّاسُ بِالدِّيْنَارِ وَدِرْهَمٍ وَتَبَايَعُوْا بِالْعِيْنَةِ وَاتَّبَعُوْا أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَتَرَكُوا الْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ، أَنْزَلَ اللهُ بِهِمُ الْبَلاَءَ لاَيَرْفَعُهُ حَتَّي يَرْجِعُوْا لِدِيْنِهِمْ

Jika manusia sudah merasa bakhil untuk mengeluarkan dinar dan dirham,dan mereka juga berjual beli dengan sistim ‘innah dan telah mengekor sapi dan meninggalkan jihad fie sabilillah, niscaya Allah akan menurunkan kepada mereka bencana yang tidak akan diangkat-Nya, kecuali mereka kembali kepada dien mereka “. 32

  1. Seseorang membeli barang secara kredit kepada seorang pedagang, dan saat pembayarannya telah jatuh tempo, sang pemilik hutang tidak bisa melunasinya, maka pemilik piutang berkata, “ kuberikan pinjaman kepadamu agar bisa melunasi utangmu kepada ku “. Jual-beli seperti ini juga tidak diperbolehkan dan haram hukumnya, karena ini menyerupai jual-beli zaman jahiliyyah, hanya bedanya dulu dilakukan secara terang-terangan sedangkan sekarang ada tipu muslihat untuk menutupi keharamannya.
  2. Seseorang ingin membeli barang, akan tetapi ia tidak mempunyai uang untuk membayarnya secara kontan. Lalu ia membeli barang tersebut dengan kredit dan dengan harga yang lebih tinggi dibanding dengan harga tunai. Dan jual beli seperti ini diperbolehkan, karena jenis mu’amalah seperti ini yang dimaksud dalam firman Allah :

يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

Hai orang-orang yang beriman apabila kamu bermu’amallah secara tidak tunai untuk waktu yang ditentukan , hendaknya kamu menulisnya.”33

  1. Seseorang ingin membeli barang dengan tujuan akan diperdagangkan lagi, akan tetapi ia tidak mempunyai uang untuk membayarnya secara kontan, maka ia membeli barang tersebut dengan cara kredit dan tentunya dengan harga yang tinggi. Kemudian setelah mendapatkan barang tersebut ia jual didaerah lain ataupun ia jual menunggu setelah harga pasaran barang tersebut naik. Maka jual –beli seperti ini diperbolehkan . mengenai mu’amalah ini syaikhul islam Ibni Taymiyyah juga berpendapat, bahwa ini diperbolehkan berdasarkan Qur’an, as Sunnah dan Ijma’.34

5. Bahwa sebagian orang ada yang memerlukan rumah tetapi tidak mempunyai uang, lalu pergi ke seorang pedagang yang membelikan rumah tersebut untuknya, kemudian menjual kepadanya dengan harga yang lebih besar secara tangguh (kredit). Ini juga termasuk bentuk pengelabuan terhadap riba sebab si pedagang ini tidak pernah menginginkan rumah tersebut, andaikata ditawarkan kepadanya dengan separuh harga, dia tidak akan membelinya akan tetapi dia membelinya hanya karena merasa ada jaminan tambahan (riba) bagi dirinya dengan menjualnnya kepada orang yang berhajat tersebut.

6. ada orang yang membeli rumah atau barang apa saja dengan harga tertentu, kemudian dia memilih yang separuh harga, seperempat atau kurang dari itu padahal dia tidak memiliki cukup uang untuk melunasinya, lalu dia datang kepada si pedagang, sembari berkata, “Saya telah membeli barang anu dan telah membayar seperempat harganya, lebih kurang atau lebih banyak dari itu sementara saya tidak memiliki uang, untuk membayar sisanya”. Kemudian si pedagang berkata, “Saya akan pergi ke pemilik barang yang menjual barang kepada anda dan akan melunasi harganya untuk anda, lalu saya mengkreditkannya kepada anda lebih besar dari harga itu”. Dan bentuk kredit seperti ini adalah yang paling jelek35 dan masih banyak lagi bentuk-bentuknya yang tentunya tidak bisa kami sebutkan semuanya.

X. PENUTUP

Alhamdulillahi Rabbil’alamin, segala puji hanya milik Allah Rabb semesta Alam. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabiyullah Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Dengan mengharap keridhoan dari-Nya, kami selaku penulis makalah sederhana ini berharap semoga dengan adanya tulisan ringkas ini bisa menambah wawasan pembaca sekalian, walaupun tidak menutup kemungkinan pastilah didapati disana sini banyak sekali kesalahan dan kekhilafan. Seperti halnya kaca cermin yang akan menampakan segala aib orang yan bercermin, maka selayaknya sebagai seorang mukmin juga akan memberitahukan kekurangan yang ada pada diri saudaranya, lantaran perhatianya akan diri saudaranya itu, hal itu ia lakukan agar kekurangan saudaranya tadi hilang. Wallahu A’lam bisshowab.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al Qur’anul karim dan terjemahannya.
  2. Taimiyyah, Ibnu. Majmu’ Fatawa. Bairut, Muassasa Ar Risalah.1997
  3. Al Asqolani, Ahmad bin Ali bin Hajar. Fathul Barri, Bairut.2000
  4. Al Mubarok Furry, Abi Ula’ Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim. Tuhfatul Ahfadzi, Bairut.1995
  5. Al Azdi, Abi Daud Sulaiman bin ‘ast ast Asajastani. Sunan Abi Daud, Bairut.1995
  6. Sabiq, Sayyid. Fiqhus Sunnah, Bairut.1997
  7. Azzakhili, DR.Wahbah. Fiqhul Islam, Darul Fikr.Damaskus.1989
  8. Al Maqdisi, Ibnu Qudamah. Al Mughni,cet III.1992
  9. Al Jauziah, Ibnul Qoyyim. I’lamul Muwaqqi’in, Darul Jail, Bairut.
  10. As Syaukani, Muhammad bin Ali bin Muhammad. Nailul Author, Dar Fikr. Bairut.1983
  11. Ibnul Mundzir, Abi Fadhl Jamaluddin Muhammad bin Mukarram. Lisanul ‘Arab, Dar As Shodr. Bairut.
  12. As Sairozi, Fairus Abadi. Qomus Mukhid, Darul Kutub Al’Alamiyah. Bairut.1995
  13. Hammad, DR. Nazih. Mu’jamul Mustholahat. Ma’had ‘Aly lil Fikri Al Islamy. Cet.I. 1993
  14. Edisi Indonesia,Fatwa-fatwa Terkini, Darul Haq. Jakarta.2003
  15. As Syangkiti, Muhammad Al Amin bin Muhammad Al Mukhtar. Adhwa’ul Bayan, Bairut
  16. Said Aali Barghosy, Hisyam Bin Muhammad, Bai’u Taqsidh Ahkaamuhu wa Adaabuhu.Edisi Indonesia. At Tibyan.
  17. Munawwir, Ahmad Warson, Kamus Al Munawwir. Pustaka Progressif. Surabaya, cet.XXV.2002
  18. http://vbaitullah.or.id
  19. http://hisbuttahrir.or.id

1 Al Munawwir hal 124

2 Mu’jam Al Mustholahat ,hal. 83

3 Al MughniJilid. VI hal. 5

4 Mu’jam Al Mustholahat, hal. 83

5. QS. Al-Baqarah: 275

6 HR. Bukhari no : 2050 Jilid IV hal. 362

7 QS. Al Baqoroh :198

8 Al Mughni Jilid VI hal : 7 dan Fathul Barri juz IV hal .360

9 QS. Al jum’ah : 9-10.

10 Lisanul ‘Arab jilid IV hal. 304

11 Al MughniJilid VI hal. 511

12 Fiqhus Sunnah jilid III hal.135-136

13 QS. Al-Baqarah: 275

14 HR. Bukhari dalam fathul barri jilid IV hal.394

15 Al Mughni Jilid VII hal. 52 dan Adhwa’ul bayan jilid I hal.230

16 Mu’jam Al Mustholahat ,hal.87

17 Mu’jam Al Mustholahat ,hal.87

18 Al fiqh Al islam hal.513

19 Qomus Al Muhid hal.881

20 Hukmul bai’ bitaqsid, DR.Al Amin Al Haj. Hal. 11

21 Tuhfatul Ahwdzi jilid IV /1231 hal. 346

23 http://hisbut-tahrir.or.id

24 HR.Abu Daud dari Ibnu Abi Syaibah (no. 3461)

25 I’lamul Muwaqqiin Jilid I hal.344

26 Bai’u Taqsid Ahkaamuhu wa adaabuhu,edisi indonesia hal.43

27 QS. An-Nisa’: 29

28 Diriwayatkan Oleh Al Haitsami didalam Al Majma’, Jilid IV hal. 130

29 Nailul Author Jilid V hal.250

30 Bai’u Taqsid Ahkaamuhu wa adaabuhu,edisi indonesia hal.53

31 Majmu’ Fatawa Ibnu taiymiyyah jilid 29 hal.446

32 HR. Ahmad dan Abu Daud

33 QS. Al Baqoroh : 282

34 Majmu’ Alfatawa ibnu taimiyyah jilid 29 hal.499

35 Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: