MEMBACA AL FATIHAH BAGI MAKMUM DALAM SHALAT


 

I. MUQADDIMAH

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah h, Hanya kepada-Nya kami memuji, memohon pertolongan, dan memohon ampunan. Kami berlindung kepada Allah dari segala kejahatan jiwa kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tak seorangpun yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkannya oleh Allah, maka tak seoarangpun dapat menunjukkannya.

Surat Al Fatihah adalah ummul qur’an dan ruhnya, karena di dalamnya terkumpul berbagai macam pujian dan sifat yang tinggi dan mulia bagi Allah, di dalamnya ada penetapkan kerajaan dan kekuasaan Allah, hari kebangkitan dan pembalasan, serta ibadah hanyalah untuk Allah, dan di dalamnya juga ada penetapan macam tauhid, dan pembebanan.

Kemudian surat Al Fatihah ini juga mencakup do’a yang paling utama, dan permohonan yang paling agung, serta permohonan keselamatan dari jalannya orang-orang yang membangkang dan orang-orang yang sesat, kepada jalannya orang yang orang yang berilmu yang mengamalkan ilmunya.

Dalam makalah ini, kami membahas tentang hukum membaca Al Fatihah bagi makmun dalam shalat, masalah ini kami angkat karena kami memandang adanya ta’arrudh (pertentangan) antara dua dalil, yaitu sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Rasulullah bersabda :

((لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب))

Bahwa tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca al Fatihah, yang mana hadits ini menunjukkan akan wajibnya membaca al fatihah dalam shalat.

Akan tetapi di sisi lain, dalam firman Allah surat al A’raf ayat 204,

ا        

Kita diperintahkan untuk mendengarkan dan diam apabila al Qur’an dibacakan, ini berarti ketika imam membaca al fatihah dan surat dengan keras dalam shalatnya, dan bagi yang mendengarkan dalam hal ini adalah makmum, makabaginya wajib mendengar dan diam untuk mendengarkan bacaan imam.

Untuk mengetahui hukum membaca al fatihah bagi makmun, alangkah baiknya kalau kita mengetahui terlebih dahulu hukum membaca al fatihah yang dalam shalat.

II. HUKUM MEMBACA AL FATIHAH DALAM SHALAT

Dalam masalah hukum membaca Al Fatihah, empat imam madzhab bersepakat akan wajibnya membaca Al Fatihah dalam shalat dan membaca al fatihah adalah salah satu rukun di dalam rukun-rukun shalat, kecuali Hanafiyah, dan sesungguhnya yang mereka perselisihkan, hanyalah hukum dalam membaca al fatihah untuk makmum.

Berikut ini adalah pendapat empat imam madzhab tentang hukum membaca al fatihah dalam shalat :

1. Madzhab Hanafiyah :1

Menurut madzhab Hanafiyah, membaca Al fatihah bukan fardhu dalam shalat secara mutlak, baik dalam shalat sirriyah, maupun shalat jahriyyah, baik untuk imam maupun makmum, bahkan mereka memakruhkan membacanya bagi makmum.

Karena menurut mereka yang menjadi rukun atau yang wajib dalam semua raka’at shalat baik itu shalat fardhu, nafilah, dan witir serta bagi imam dan munfarid (orang yang shalat sendirian), adalah membaca ayat dari al qur’an.

Dalil mereka adalah :

    • Firman Allah :

(فاقرءوا ما تيسر من القرآن)2

Yaitu perintah membaca secara mutlak, tidak harus membaca al fatihah.

    • Tidak boleh menambah dengan khabar Ahad yang dhanni selama ada dalil yang mewajibkannya dengan dalil qath’i dalam al qur’an,
    • telah datang hadits

((إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء, ثم استثقبل القبلة فكبر, ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن))

Maka yang wajib hanya membaca apa saja yang merupakan bagian dari qur’an

    • adapun hadits

((لاصلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب))3

Hadits ini diriwayatkan oleh imam yang enam dari Ubadah bin shamit, maka hadits ini dibawa kepada peniadaan fadhilah shalat, bukan peniadaan keshahihan shalat, sebaimana hadits (لاصلاة لجار المسجد إلا في المسجد))4

2. Jumhur (selain Hanafiyah)

Jumhur ulama’ selain hanafiyah5 yaitu Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad berpendapat bahwa sesungguhnya membaca Al Fatihah merupakan salah satu rukun daripada rukun-rukun shalat, karena tidak sah shalat tanpa membacanya Al Fatihah,

Pendapat mereka ini didasarkan pada sabda Nabi :

((لاصلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب))6

وفوله أيضا : ((لاتجزئ صلاة لايقرأ فيها بفاتحة الكتاب))7

Dan berdasarkan perbuatan Nabi sebagaimana disebutkan dalam shahih muslim, dan hadits yang berbunyi,

((صلوا كما رأيتموني أصلي))

Sedangkan Syeikh ‘Utsaimin mengukapkan dalam majmu’ fatawanya, ketika ditanya tentang hukum membaca Al Fatihah dalam shalat, dia menjawab : “Para ‘Ulama’ berbeda pendapat dalam masalah bacaan Al Fatihah,” ada beberapa pendapat diantaranya :

Pendapat pertama : bahwa al fatihah tidak wajib baik itu untuk imam, maupun makmum dan untuk orang yang shalat sendiri, dan tidak wajib baik itu shalat sirriyah maupun shalat jahriyah, dan yang wajib adalah membaca apa saja yang mudah dibaca dari al qur’an dan mereka berdalil dengan firman Allah dalam surat al muzammil

     

“Karena itu Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran.” [Al Muzammil :20], dan mereka beralasan dengan sabda Nabi seorang lelaki :

اقرأ ما تيسر من القرآن 8

“bacalah apa yang mudah bagimu dari Al Quran.”

Pendapat kedua : Bahwa membaca al fatihah adalah rukun bagi hak imam, dan makmum, munfarid (orang yang shalat sendiri), dan pada shalat sirriyah dan jahriyah, dan bagi yang masbuk (orang yang tertinggal shalatnya) dan untuk yang masuk pada jama’ah sejak awal shalat.

Pendapat yang ketiga : Bahwa membaca al fatihah adalah rukun untuk imam dan munfarid (orang yang shalat sendiri) dan ia tidaklah wajib bagi makmum secara mutlak baik pada shalat sirriyah maupun shalat jahriyyah.

Pendapat ke empat : Bahwa membaca Al Fatihah adalah rukun bagi imam, munfarid (orang yang shalat sendirian) pada shalat sirriyah dan shalat jahriyyah, dan ia adalah rukun bagi makmum pada shalat sirriyyah dan tidak wajib pada shalat jahriyyah.

Dan yang rajih menurut saya (Syeikh ‘Utsaimin) : bahwa membaca Al Fatihah adalah rukun bagi imam, makmum, munfarid (orang yang shalat sendirian) pada shalat sirriyyah, dan jahriyyah, kecuali yang masbuq apabila ia mendapati imam sedang ruku’, maka kewajiban membaca Al Fatihah gugur dalam kondisi seperti ini, dan yang menjadi dalil atas pandapat ini adalah keumuman sabda Nabi ` :

((لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب))

Dan sabda Nabi ` :

((من صلى صلاة لم يقرأ فيها بأم القرآن فهو خداج))- بمعنى فاسدة

Dan juga hadits ‘Ubadah bin Shamit bahwa Nabi selasai dari melaksanakan shalat subuh maka Nabi bersabda kepada para sahabat :

((لعلكم تقرؤون خلف إمامكم ؟ قالوا : نعم يارسول الله ,قال : ((لاتفعلوا إلا بأم القرأن , فإنه لاصلاة لمن لم يقرأ بها))

Dan inilah nash-nash yang berkaitan dengan shalat jahriyyah.

Dan adapun gugurnya kewajiban membaca Al Fatihah bagi makmum yang masbuq, maka hal ini beralasan dengan dalil : hadits Abu Bakrah bahwa ia mendapati Nabi sedang dalam keadaan ruku’. Lalu ia berlari dan ruku’ sebelum masuk ke dalam shaf, kemudian masuk ke dalam shaf, maka tatkala Nabi selasai dari melaksanakan shalatnya beliau bertanya tentang siapakah yang melakukan perbuatan tadi, maka Abu Bakrah berkata : saya wahai Rasulullah, maka Nabi berkata : (زادك الله حرصا ولا تعود)))

Dan Nabi tidak memerintahkannya untuk mengulangi raka’at yang dia terburu-buru dalam mendatanginya agar ketinggalan, dan kalau Al Fatihah itu wajib maka Rasulullah benar-benar akan menyuruhnya untuk mengulanginya, sebagaimana beliau memerintahkan orang yang tidak tuma’ninah dalam shalat melaksanakan shalat untuk mengulangi shalatnya, inilah dari sisi dalil dari atsar,

III. HUKUM MEMBACA AL FATIHAH BAGI MAKMUM

Telah kita ketahui bahwa para imam telah sepakat akan wajibnya membaca Al Fatihah dalam shalat kecuali imam Abu Hanifah, dan sesungguhnya yang mereka perselisihkan adalah pada hukum membaca Al Fatihah bagi makmum.

Ada beberapa pendapat mengenai hal ini, sebagaimana diungkapkan oleh Syeikh ‘Utsaimin dalam kitab asy syarhul mumti’ 9 diantaranya :

  1. Bahwa bagi makmum tidak wajib membaca Al Fatihah secaara mutlak, baik dalam shalat sirriyyah maupun dalam shalat jahriyyah, dalilnya adalah hadits

((من كان له إمام فقراءة الإ مام له قراءة))10

Hadits ini umum mencakup shalat sirriyyah dan shalat jahriyyah, ini nash yang menunjukkan bahwa bacaan imam adalah bacaan bagi makmum.

Akan tetapi hadits ini tidak sah dari Nabi, sebagaimana Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “bahwa hadits ini diriwayatkan dari Jabir secara mauquf dan ini adalah pendapat yang shahih,

Sedangkan Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam fathul baari, “Bahwa hadits ini adalah dha’if menurut para hufadz.”11

Dan seandainya hadits ini taqdirnya shahih, hadits ini tidak menunjukkan bahwa makmum tidak wajib membaca pada sirriyyah dan shalat jahriyyah dan sesungguhnya hadits ini hanyalah menunjukkan bahwa tidak wajib membaca bagi makmum pada shalat jahriyyah saja, apabila mendengar makmum mendengar bacaan dari imam, karena hadits ini menunjukkan bahwa makmum mendengar bacaan imam maka cukuplah bacaan imam baginya, akan tetapi hadits ini dhaif sebagaimana dijelaskan di atas, dan ini juga pendapatnya Imam Abu Hanifah.

  1. Bagi makmum wajib atasnya membaca Al Fatihah pada setiap shalat baik jahriyah maupun shalat sirriyyah, dan ini berlawanan dengan pendapat yang pertama, pendapat ini berdasarkan pada keumuman sabda Nabi :

((لاصلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب))12

Dan sabda Nabi ketika beliau selesai dari melaksanakan shalat fajar ketika beliau membaca dalam shalatnya, dan berat baginya membaca, maka tatkala selesai dari shalatnya beliau bersabda :

((لعلكم تقرأون خلف إمامكم؟ قالوا : إي والله ,قال : لا تفعلوا إلا بأم القرآن, فإنه لاصلاة لمن يقرأ بها))13

Ini adalah nash sharih (jelas) dalam shalat jahriyyah, karena shalat fajar adalah shalat jahriyyah, maka berdasarkan dalil ini, membaca al Fatihah dalam shalat bagi makmum dikecualikan dari firman Allah

         14

dan juga dikecualikan dari sabda Nabi

((وإذا قرأ فأنصتوا))15

Inilah pendapat yang terkenal dari madzhab Imam Syafi’I, dan Ibnu Muflih murid Syeikh al Islam Ibnu Taimiyah : “inilah pendapat yang paling jelas, dan diantara para ulama’ yang berpendapat seperti ini adalah Laits, Auza’I, Ibnu Aun, Makhul, dan Abu Tsaur.16

  1. Bahwa membaca Al Fatihah wajib bagi makmum dalam shalat sirriyyah saja, dan tidak wajib pada shalat jahriyyah. Pedapat ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda :

((أن النبي انصرف من صلاة فقال : هل قرأ معي أجد منكم ؟ فقال رجل : نعم يارسول الله قال ما لي أنازع القرآن))

Lalu Abu Hurairah berkata, “maka orang-orang berhenti dari membaca pada saat Nabi mengeraskan bacaannya, dan hadits ini menjadi dalil bahwa perintah membaca al Fatihah dimansukhkan (dihapuskan) dengan hadits ini, sehingga membaca al Fatihah tidak wajib bagi makmum apabila imam mengeraskan bacaannya.

Karena dalam shalat jahriyyah, apabila Imam membaca maka bacaannya adalah bacaan untuk makmum, dan dalil yang menunjukkan bahwa bacaan imam adalah bacaan makmum adalah sesungguhnya makmum mengaminkan bacaan imam ketika imam mengucapkan (ولا الضالين) lalu makmum mengucapkan : (آمين) , dan kalau seandainya bacaan imam itu bukan bacaannya(makmum), maka mengucapkan (آمين) untuk bacaan imam tidak sah, karena orang yang mengaminkan do’a itu seperti orang yang berdo’a dengan dalil bahwa Nabi Musa tatkala berkata :

                                          

dan dalam nash ayat ini yang berdo’a adalah nabi Musa, para ulama’ berkata : karena musa yang berdo’a dan harun yang mengaminkan, maka Allah menisbatkan do’a pada keduanya padahal yang berdo’a cuma satu orang, akan tetapi tatkala orang yang kedua diam dan mengaminkan do’annya, maka do’anya menjadi do’anya pula, oleh karena itu kami (syeikh ‘Utsaimin) katakan: “apabila imam membaca al fatihah dan kamu diam lalu mengaminkannya maka seperti orang yang membaca, makanya membaca al fatihah tidak wajib bagi makmum dalam shalat jahriyyah apabila mendengar bacaan al fatihah imam, inilah pendapat yang dipilih oleh Syeikh al Islam Ibnu Taimiyyah.

Abdullah bin Mubarak dari Yunus dari Az Zuhri berkata : “orang yang berada di belakang imam (makmum) tidak membaca pada saat imam mengeraskan bacaannya, cukuplah bacaan imam baginya meskipun ia tidak mendengar suara imam, akan tetapi ia membaca pada saat imam tidak mengeraskan bacaanya, dan tidak layak bagi seseorang yang dibelakang imam untuk membaca bersamanya pada saat imam mengeraskan bacaannya baik dengan pelan maupun terang (keras), karena Allah berfirman dalam surat al A’raf ayat 204, saya katakan : ini adalah madzhab sekelompok ulama’ bahwa makmum tidak wajib membaca al Fatihah pada shalat jahriyyah pada saat imam mengeraskan bacaannya baik itu membaca al fatihah maupun bacaan yang lainnya.17

Di Dallam kitab Al Mughni karya Ibnu Qudama al Maqdisi disebutkan bahwa Imam beliau, Az Zuhri, Ats Tsaury, Malik, Ibnu ‘Uyainah, Ibnu Mubarak, Ishak, dan Imam Syafi’I dalam mereka berpendapat bahwa makmum apabila ia mendengar bacaan imam tidak wajib baginya untuk membaca Al Fatihah, bahkan tidak disunnahkan, berdasarkan firman Allah dalam surat al A’raf : 204, dan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda :

((مالي أنازع القرآن ؟)) قال : فانتهي الناس أن يقرؤوا فيما جهر فيه النبي .18

Pendapat Yang Rajih

Pendapat yang rajih menurut Syeikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin dalam masalah ini adalah sesugguhnya membaca Al Fatihah adalah wajib bagi makmum dalam shalat jahriyyah maupun dalam shalat sirriyyah, dan kewajiban ini tidak gugur kecuali apabila makmum mendapati imam sedang ruku’ atau imam Ia mendapati imam berdiri, akan tetapi ia tidak sempat menyempurnakannya sehingga imam ruku’, maka gugurlah kewajiban membaca al fatihah dalam kondisi seperti ini.

IV. KAPAN MAKMUM MEMBACA AL FATIHAH

Syeikh ‘Utsaimin ketika ditanya “kapan makmum harus membaca Al Fatihah bersama imam membaca Al Fatihah atau ketika imam membaca surah? Maka beliau menjawab, “yang afdhal adalah makmum membaca Al Fatihah setelah imam membaca Al Fatihah, untuk diam mendengarkan bacaan yang wajib dan merupakan rukun, karena kalau membaca Al Fatihah ketika imam membaca Al Fatihah, berarti ia tidak diam mendengarkan yang rukun, sehingga diamnya untuk mendengarkan bacaan setelah Al Fatihah yang mana hukum membaca surat setelah Al Fatihah adalah sunnah (tathawwu’), maka yang afdhal adalah diam mendengarkan bacaan yang wajib yaitu Al Fatihah, ini alasan dari satu sisi,

Sedangkan sisi lain yang menyatakan bahwa yang afdhal adalah membaca Al Fatihah setelah imam membacanya yaitu : sesungguhnya imam ketika ia membaca (ولا الضالين) sedangkan kumu tidak mengikutinya dengan mengucapkan (آمين) maka ketika itu kamu telah keluar dari jama’ah, maka yang afdhal adalah membaca Al Fatihah setelah imam membacanya.”19

Dan ada juga diantara para Ulama’ yang membaca Al Fatihah ketika imam diam, diantaranya : 20

Abu Salamah bin Abdurrahman berkata : “Imam itu mempunyai dua waktu diam, maka manfaatkanlah pada dua diamnya imam, untuk membaca fatihatul kitab (Al Fatihah) yaitu : pertama apabila imam masuk dalam shalat, dan yang kedua, ketika imam mengucapkan (ولا الضالين).

‘Urwah bin Zubair berkata : “adapun saya memanfaatkan dari dua diamnya imam pada dua waktu yaitu : pertama, apabila imam mengucapkan (غير المغضوب عليهم ولا الضالين) maka bacalah ketika itu, dan kedua ketika imam menutup bacaan surat maka bacalah sebelum imam ruku’.”

V. PENUTUP DAN KESIMPULAN

Al Hamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah yang berkat karunianya saya dapat dapat menyelasaikan makalah tentang hukum membaca Al Fatihah bagi makmum dalam shalat, yang tentunya dalam makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu, saya sebagai penyusun makalah ini memohon saran dan kritik yang membangun dari para pembaca sekalian,

Saya memohon kepada Allah yang Maha Agung kekuasanNya, agar menjadikan amalan kami ikhlas karenaNya dan berada dalam timbangan kebaikan kami, dan agar membimbing kami kepada apa yang disukai dan diridhoiNya, dan juga agar tidak menghalangi kami untuk mengambil manfaatnya dan memberi manfaatnya kepada yang selainnya. Segala puji hanya bagi Allah. Semoga shalawat tetap Allah limpahkan kepada Nabi kita, Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya sekalian, Amin.

Sebagai kesimpulan dari makalah ini bahwa :

  1. Shalat tidak sah bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah, karena Al Fatihah adalah rukun daripada rukun-rukun shalat, baik untuk imam, makmum, dan munfarid, baik shalat jahriyyah maupun shalat sirriyyah.
  2. Yang rajih dari perbedaan pendapat tentang hukum membaca al Fatihah bagi makmum adalah bahwa membaca Al Fatihah baginya adalah wajib dalam shalat jahriyyah dan sirriyyah.

 

DAFTAR PUSTAKA

    • Tafsirul qur’anil ‘Adhim, karya Al Hafidz imaduddin Abil Fida’ Ismail bin Katsir al Qarsyi ad Dimsyaqy, Daarus salam, Riyadh.
    • Al Mughni, karya Muwaffiquddin Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Qudama’ Al Maqdisy ad Dimsyaqy al Hambaly, ditahqiq oleh Dr. M.Syarifuddin Khithab dan Dr. Sayyid Muhammad Sayyid, Daarul hadits, Kairo.
    • Al Fiqhu al Islamy wa adillatuhu, karya Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaily, Daarul Fikri, Damaskus.
    • Taudhihul Ahkam min Bulughul Maram, karya Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, Maktabah Al Asady, Makkah al Mukarramah.
    • Asy Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqniq, karya Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Daarul Ibnu Jauzy, Saudi Arabia.
    • Majmu’ fatawa wa Rasail, karya Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Daarul Tsaraya, Saudi Arabia.
    • Taisirul ‘alam Syarhu ‘Umdatul ahkam, karya Abdullah bin Abdurrahman Ibnu Ali Basam, Nahdhah Al Hadits, Makkah Al Mukarramah.
    • Tuhfadhul Ahwadhi Syarah Jami’Iut Tirmidzi, karya Abul ‘Ala’ Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri, Daarul Hadits, Kairo.
    • ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, karya Al ‘Alamah Abu Thayyib Muhammad Syamsul Hak Al ‘Adhim Abady, Daarul Hadits, Kairo.
    • Sifat Shalat Nabi, Muhammad Nashiruddin Al Baani, Maktabah Al Ma’arif, Riyadh.
    • Fatawa Al Kubra, Syeikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah, Syirkah Daarul Arqam bin Abil Arqam, Bairut.
    • Al Umm, Muhammad bin Idris Asy Syafi’I, ditahqiq dan ditakhrij oleh Dr. Rifa’at Fauzi Abdul Muthalib, Daarul Wafa’,Bairut.

 

 

 

1 .Al Fiqhu Al Islamy wa adillatuhu, Dr. Wahbah Al Zuhayli. 7/830.

2 .surat Al Muzammil : 20

3..dikeluarkan oleh Bukhari,kitab adzan,bab wajibnya membaca al fatihah bagi imam dan makmum, dalam seluruh shalat, (756),dan Muslim,kitab shalat, bab wajib membaca al fatihah dalam setiap raka’at (34) (394).

4 .

5 .lihat fiqhul Islam wa adillatihi : juz 2 /833, Taudhihul Ahkam min bulughul maram :juz 3/187, Al Mughni juz 2 , hal 24.

6 .dikeluarkan oleh Bukhari,kitab adzan,bab wajibnya membaca al fatihah bagi imam dan makmum, dalam seluruh shalat, (756),dan Muslim,kitab shalat, bab wajib membaca al fatihah dalam setiap raka’at (34) (394).

7.Diriwayatkan oleh imam Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hiban dalam shahih keduanya,

8 .diriwayatkan oleh Imam Bukhari fil adzan / bab kewajiban membaca bagi imam dan makmun (757), dan Muslim fis shalat / bab wajibnya membaca al fatihah pada setiap rakaat (397)

9 .Asy syarhul mumti’ ‘ala zadi mustaqik, karya Syeih ‘Utsaimin juz 4/ hal : 172. Daaru Ibnu Jauzi.

10 .dikeluarkan oleh Imam Ahmad (339/3), dan Ibnu Majah dalam kitab shalat sunnah bab apabila imam membaca maka diamlah (850) dan Al Bukhari berkata dalam bagian bacaan orang yang di belakang imam (21) :”hadits ini tidak diakui menurut ahlu ilmi karena kemursalannya dan munqati’annya (terrputusnya)

11 .lihat, Asy syarhul mumti’ ‘ala zadi mustaqik, karya Syeih ‘Utsaimin juz 4/ hal : 172. Daaru Ibnu Jauzi.

12.dikeluarkan oleh Bukhari,kitab adzan,bab wajibnya membaca al fatihah bagi imam dan makmum, dalam seluruh shalat, (756),dan Muslim,kitab shalat, bab wajib membaca al fatihah dalam setiap raka’at (34) (394).

13 .dikeluarkan oleh Abu Daud (823ح / 1), Tirmidzi (311ح /2), dan Al Bani medha’ifkannya

14 .Al A’raf : 204

15.hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dikeluarkan oleh Mulsim.

16 Al Mughni, juz 2/ hal 119..

17 .lihat : Tafsirul Qur’an Al ‘Adhim, karya al Hafidz Ibnu Katsir, juz 2/ hal

18 .hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud (826), Tirmidzi (312), An Nasa’I (141,140/2), Ibnu Majah (848), Ahmad (240,284,485/2) dan Al Bani :Shahih.

19 .Majmu’ Fatawa wa Rasail, Syeikh ‘Utsaimin juz 13/ hal : 129.

20 .lihat Al Mughni, juz 2/hal : 119

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: