Mengisyaratkan dengan Jari Ketika Duduk Diantara Dua Sujud


 

Dalam judul maad disebutkan bahwa Rasulullah saw mengangkat kepalanya dengan bertakbir, tanpa harus mengangkat tangannya. Dari kondisi sujud beliau mengangkat kepalanya dulu sebelum beliau mengangkat tangan, kemudian duduk iftirosy, (yaitu) membentangkan kaki kirinya lalu duduk diatasanya serta menegakkan kaki yang sebelah kanan. Nasa’I menyebutkan dari Ibnu umar, ia berkata: “Dari sunnahnya shalat adalah menegakkan kaki kanan (telapak), lalu menghadapkan ke arah kiblat beserta jari-jarinya dan duduk diatas kaki sebelah kiri. Dan tidak didapatkan dari Nabi saw model duduk dalam hal ini selain hal yang demikian.

Dan beliau saw meletakkan kedua tangannya diatas paha, dan menempatkan sikunya diatas paha (pula), ujung-ujung jari tangan sejajar dengan lutut, lalu menggenggam kedua jari, lalu menlingkarkan berbentuk lingkaran (antara ibu jari dan jari tengah, perut), kemudian mengangkat jarinya, menggerak-gerakkan dan berdoa, seperti inilah yang dikatakan oleh wa’il Ibnu Hajar.11)

Adapun hadits Abu Dawud dari Abdillah Ibnu Zubair bahwa Nabi saw mengisyaratkan dengan jari apabila berdo’a sambil menggerak-gerakkannya2)

Maka ini adalah penambahan yang perlu dikaji lagi tentag pensahihannya. Mulsim di dalam hadits yang panjang menyebutkan di dalam shohihnya bahwa penambahan itu tidak ada, akan tetapi, dia berkata bahwa Rasulullah saw apabila duduk di dalam sholat menjdikan kaki kirinya diantara betis dan pahanya, lalu membentangkan akki kanannya, dan meletakkan tangan kirinya diatas paha sebelah kiri, dan tangan kanan diatas paha sebelah kanan serta engisyaratkan dengan jarinya3)

Dan juga pada hadits Abu Dawud tidak menunjukkan bahwa hal itu dilakukan di dalam sholat. Dan kalaulah hal itu dilakukan didalam sholat, sifatnya menunjukkan manf’ (peniadaan) sedangkan hadits wail Ibnu Hajar itu bersifat penetapan. Dengan begitu ia harus didahulukan4)

Dalam hal tempat dibolehkannya mengangkat jari para ulama berbeda pendapat.

    1. Menetapkan hal – mengangkat jari tangan- dan tidak membatasi tempatnya. Pendapat ini dipegang oleh Zaidah Ibnu Qudamah, Basyar Ibnul Mufadhol, Sufyan ats tauri dan sufyan al Uyainah. Meskipun kontak riwayat mereka menunukkan bahwa hal itu terjadi saat tasyahud.
    2. Bahwa mengangkat jari tangan itu pada saat tasyahud. Pendapat ini dipegang oleh Ibnu Uyaimah dalam riwayat Nasa’I (1/ 173). Syu’bah Ibnu Huzaimah di dalam shohihnya (697), dan Ahmad (4/ 319). Thobrani di dalam mu’jam al kabir (22/ 34/ 80), (3) Berbeda dengan Abdurrozaq, yang menyelisihi mereka semua berdasarkan riwayat dari Ats tsauri. Ia berkata didalam “Al-mushonif” (2/ 68/ 252), dalam riwayat Ahmad (4/ 317), Thobrani di dalam mu’jam al kabir” (22/ 34/ 81): dari Ats tsauri dari Ashim Ibnu kilaib dari bapaknya, berkata:

Aku melihat Nabi saw didalam sholat meletakkan kedua tangannya setara kedua telinganya, kemudian duduk dan membentangkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya diatas paha sebelah kiri, dan meletakkan tangan kanan diatas paha kanan, lalu mengisyaratkan (mengangkat) jari telunjuknya… lalu sujud dan telinganya sejajar dengan telinga-“

aku berkata- Al Bani-: konteks in dari pengarang sedangkan penambahannya dari Ahmad

Maka penyebutannya sujud yang kedua setelah mengangkat jari telunjuk adalah kesalahan yang jelas, karena telah menyelisih, semua periwayatan-periwayatan yang lalu dari ulama stiqoh, mereka semua tidak menyebutkan sujud setelah mengangkat jari, namun sebagian mereka menyebutan hal itu sebelum mengangkat jari, dna inilah yang betul dan mereka tidak menyebutkan sujud yang kedua.1)

Kesimpulan:

  1. Semua hadits yang berbicara tentang mengangkat jari telunjuk bersifat umum, yaitu pada saat tasahud
  2. Banyaknya perselidihan yang terjadi diantara para ulama adalah tentang hanya sekedar mengangkat jari saja atau harus menggoyangkannya juga.
  3. Bahwa Syaikh Al Bani menyebutkan bahwa para ulama’ dalam periwayatannya tidak menyebutkan adanya sujud yang kedua setelah mengangkat jari tangan.

11) Abu Dawud (579), Nasai 3/ 35, Ahmad (4/ 318) disahihkan oleh Ibnu Hiban dan Ibnu Huzaimah

2) Abu Dawud (9880 Nasa’I (3/ 37) disahihkan oleh Nawawi di dalam Majmu’ (3/ 454)

3) Muslim (579)

4) Zudul Ma’ad (1/ 231)

1) Tamamu’ minnah, hal : 214-215

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: