“Pangkat” Dalam Tinjaun Syar’i


I. muqoddimah

 

Segala puji bagi Allah robb semesta alam yang telah melimpahkan segala nikmat-Nya kepada semua hamba-Nya , yang menurunkan islam sebagai syariat yang lengkap dan sempurna hingga tak perlu lagi bagi umat-Nya untuk menambah ataupun mengurangi .Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad , pembawa bendera tauhid yang membebaskan manusia dari hinanya penyembah berhala .

Allah telah mengaruniakan kepada manusia berupa akal . Dengan akal tersebut manusia mampu membedakan mana yang haq dan yang batil . Akal yang tak difungsikan sebagaimana tujuan dikaruniakan akal tersebut, maka secara tidak sadar akal tersebut telah dikuasai oleh syaithon. Betapa tidak, kondisi zaman semakin hari semakin memperlihatkan contoh –contoh nyata akan kehinaan manusia di hadapan robb-Nya .

Banyak orang menempuh pendidikan sampai tingkat tinggi akan tetapi hal itu hanya sebagai formalitas belaka untuk mendapatkan gelar. Yang mana denganya mereka manfaatkan sebagai sarana untuk mendapatkan pangkat. Dengan bukti banyaknya orang yang memiliki gelar sarjana ,doktor dan semisalnya  akan tetapi mereka tidak bisa memberikan manfaat kepada orang lain dengan ilmu yang telah merasa mereka miliki .Bahkan dalam akhlak kesehariannya tidak mencerminkan sebagaimana akhlak yang telah Rasulullah r contohkan .

Tidak heran jika kita dapatkan banyak lembaga-lembaga tinggi di Indonesia hari ini yang memberikan peluang bagi para mahasiswa untuk mendapatkan gelar dengan mudah . Sehingga mereka merasa bangga dengan gelar yang mereka  miliki .

Kemudian apa sebenarnya yang melatarbelakangi permasalahan tersebut ?, dan bagaimana islam menanggapinya ? . Sungguh, ini adalah salah satu fitnah terbesar bagi manusia seiring berjalannya waktu yang semakin hari semakin mendekati fitnah akhir zaman. Sehingga dianggap pentingnya permasalahan tersebut , maka dalam pembahasan kali ini penulis mencoba untuk mengkaji dan mencermati permasalahan tersebut .

Terakhir semoga apa yang penyusun usahakan dapat menambah khazanah wawasan dan keilmuan kita. Sehingga kita senantiasa untuk beristiqamah dijalan-Nya. Wallahua’lam .

 

II. Pengertian

 

–  Menurut bahasa :

Kata pangkat dalam bahasa arab yaitu الجاه . Semakna dengan المنزلة              yang berarti derajat ,kemuliaan, atau kedudukan yang tinggi  ( Al-munjid :111 ) .

–         menurut istilah  :

Pangkat adalah tegaknya suatu martabat didalam hati orang-orang lain ,

atau semacam keyakinan hati mereka yang mencerminkan kesempurnaan didalam diri seseorang entah karena suatu ilmu ,keturunan ,kekuatan, rupa yang menawan atau lain-lainnya yang diyakini manusia sebagai suatu bentuk kesempurnaan .

Ibnu Qudamah berkata : “ pangkat adalah hak milik hati yang dicari –cari pengagunganya dan tingkah laku yang berkait dengannya “.

Al-Qosimy dalam kitab Tahdzib Mauidzatul Mu’minin halaman 282 berkata,” sesungguhnya dasar pangkat ialah mencari ketenaran atau kemasyhuran. Dan hal itu merupakan suatu kejelekan. Akan tetapi hal itu menjadi suatu kebaikan apabila Allah sendiri yang menjadikan kemasyhuran itu dan tidak ada keinginan sedikitpun untuk mencarinya (pangkat) dari pelakunya , misalnya kemasyhuranya karena menyebarkan dakwah islam.”

Allah berfirman : “ Negeri akhirat itu kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan dibumi, dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa .“(Qs.Al-Qashas : 83 )

Dalil-dalil yang mencela pangkat

 

– Al-Qur’an :

“ Apakah kamu puas dengan kehidupan didunia sebagai ganti kehidupan

akhirat ? padahal kenikmatan hidup didunia ini ( dibanding dengan  kehidupan ) diakhirat hanya sedikit .”( Qs. At-taubah : 38 )

“Wahai kaumku ,sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan        (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal .”( Qs .         Al-mu’min : 39 )

” Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini , yaitu : “wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak,kuda pilihan,binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia ; dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik ( syurga ) .” (Qs . Ali-imran : 14 )

 

 

 

– Sunnah :

“ Sesungguhnya kalian akan berambisi terhadap suatu kepemimpinan, dan ia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat . Sungguh baik seorang ibu yang menyusui anaknya, dan amat jelek ibu yang memisahkan anaknya dari susuannya “ ( Hr. Bukhori, Nasa’i, dan Ahmad )

“ Tiada seorang hamba yang dijadikan Allah sebagai pemimpin rakyat itu mati (dan) saat mati dia menipu rakyatnya , kecuali Allah mengharamkan baginya syurga .” (Hr. Bukhari)

“Sesungguhnya yang paling kutakutkan dari apa yang kutakutkan terhadap umatku ialah riya’ dan nafsu yang tersembunyi .” (Hr. Abu Nu’aim)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada ketampanan dan harta kalian, tetapi Allah melihat pada hati dan amalan kalian “ (Hr. Muslim)

– Perkataan Salaf :

Seseorang berkata kepada Bisyr Al- Hafy rahimahulloh ,”Berilah aku nasihat ! “. Bisyr berkata ,” jangan mencari –cari ketenaran untuk dirimu dan makanlah dari yang baik !”. Orang itu berkata menambahi ,”tidak akan merasakan nikmatnya akhirat orang yang suka agar dirinya menjadi tenar di dunia “.

Di lain kesempatan Bisyr juga berkata ,”Aku lebih suka mencari dunia dengan sepotong bambu dari pada mencari dunia dengan agama “

Ibnu Mas’ud menyampaikan nasihat kepada rekan-rekannya ,dengan berkata ,”Jadilah kalian sumber-sumber ilmu, pelita petunjuk, banyak menetap dirumah, penerang malam, hati yang selalu baru, kalian dikenal di langit dan tidak terkenal di bumi “.

Az-Zuhry berkata , “ Kami tidak melihat zuhud dalam sesuatu yang menolak pangkat . Kami melihat sesorang yang zuhud dalam makanan dan minuman serta harta . Namun ketika kami membagi-bagi pangkat , ternyata dia pun menerimanya dengan senang hati  “

 

III . Hakikat pangkat

 

Ketahuilah bahwa dasar pangkat adalah cinta kepada ketenaran . Ini merupakan bahaya yang sangat besar . Yang selamat ialah tidak mencari ketenaran . Orang –orang yang baik ialah sama sekali tidak pernah mencari ketenaran, tidak menawarkan diri agar menjadi tenar dan mencari sebab yang membuatnya bisa tenar.

Suatu ketika Abu ‘Aliyah sedang duduk, lalu ada lebih dari empat orang yang ikut duduk bersamanya, maka ia pun bangkit meninggalkan tempat itu. Begitu pula yang dilakukan Khalid Bin Ma’dan . Jika halaqahnya semakin banyak , maka ia bangkit meninggalkan tempat , karena takut dirinya menjadi tenar .

Di sisi lain pangkat dan harta merupakan dua sendi dunia . Harta adalah hak milik yang terlihat mata dan bisa dimanfaatkan . Sedangkan pangkat ialah hak milik hati yang dicari –cari pengagungannya dan tingkah laku yang berkaitan denganya. Kebersamaan harta dan pangkat merupakan dua hal yang menjadi sarana untuk mencapai kenikmatan hidup didunia. Sehingga apabila hal tersebut disertai dengan hawa nafsu maka secara tidak sadar akan dengan mudah  mengubah pola hidup yang jauh dari nilai-nilai islam. Tetapi, bagimanapun juga pangkat lebih dicintai dari pada harta .

Diantara pangkat itu ada yang terpuji  dan ada pula yang tercela. Sebab sebagaimana yang diketahui bersama, manusia harus mempunyai harta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Begitu pula ia harus mempunyai pangkat untuk keperluan hidup bersama orang lain. Sebab manusia tidak bisa lepas dari penguasa yang melindungi dan membantunya. Cinta semacam ini bukanlah sesuatu yang tercela. Sebab pangkat semacam ini hanya sekedar sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan. Jelasnya dalam masalah ini ,janganlah harta dan pangkat menjadi tujuan kecintaan .

Berbeda dengan nabi Yusuf ‘Alaihissalam. Sebagaimana sabdanya :

“ Jadikanlah aku bendaharawan Negara(Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai mejaga lagi berpengetahuan .” (Qs.Yusuf : 55).

 

Penyebab timbulnya ambisi terhadap pangkat

Hal-hal yang mengarahkan seseorang sehingga berambisi untuk mendapatkan pangkat, diantaranya :

  1. Adanya keinginan untuk mendapatkan kesenangan-kesenangan dari kehidupan dunia ini.

Penyebab adanya ambisi untuk meraih kesuksesan dengan segala fasilitas dan keistimewaan uang diperolehnya, tidak lain hanya lantaran untuk mereguk kesenangan-kesenangan duniawi, seperti harta dan kemewahan lainnya . Hal itu disebabkan, manusia teLah tergantung pada kehidupan dunia sehingga membawamya untuk mencari jalan dari pintu manapun asalkan bagi dia mudah untuk mendapatkanya. Tak peduli jalan itu halal atau haram. Perumpamaan gambaran golongan ini,yakni apabila ia diatas, dengan mempunyai segala keistimewaanya, maka akan ia jadikan semuanya berada dibawah kekuasaanya. Tentunya agar ia bisa mereguk kekayaan dan kesenangan duniawi yang fana. Karena itu ia begitu bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kedudukan tersebut.

  1. Adanya kenginan untuk bebas dari kekuasaan orang lain.

Orang seperti ini ,bila ditempatkan dalam suatuu masyarakat niscaya akan selalu bersikap dingin lebih tinggi dari yang lainnya. Bahkan bersikap takabur (menyombongkan diri) bila ada seseorang yang memang lebih pantas diatasnya.

Dampak ambisi untuk mendapatkan  pangkat

Ambisi terhadap pangkat akan membawa dampak dan akibat yang buruk bagi pelakunya maupun bagi orang lain,diantaranya :

  1. Dampak terhadap amal islami.

Ambisi terhadap pangkat bisa berpengaruh negatif terhadap amal islami. Dengan banyaknya beban, maka tidak memungkinkanya umtuk bisa istiqomah Atau konsisten . Sebab bagaimana mungkin mereka bisa beristiqomah untuk beramal sementara masalah dunia engan kegemerlapannya telah sering menipu dan memperdayakanya ?. Bila hal itu telah menyeretnya untuk melakukan pemyelewengan maka tentu saja pertolongan Allah akan jauh . Bahkan mungkin menjadi sumber malapetaka dengan dicabutnya nikmat dari Allah ta’ala. Kecuali bagi pemimpin yang benar-benar bekerja untuk menegakkan kalimatullah. Allah berfirman :

“Dan sungguh allah pasti menolong prang yang menolong (agama)-Nya “ (Qs. Al-Hajj : 40)

 

  1. Terhadap dunia pendidikan

Pendidikan merupakan sarana untuk mendidik umat menyiapkan generasi masa depan yang berpotensi . HaL ini sudah menjadi ketetapan Ilahiyah, bahwa pemahaman tentang ilmu pengetahuan setiap insan dan kesadarannya untuk beramal merupakan salah satu yang menjadi tolak ukur akan berkembangnya suatu zaman. Selain itu menjadikan keyakinan hidup seseorang semakin bertambah untuk mencapai kebahagian di dunia dan di akhirat. Sehingga menjadi sebuah tuntutan bagi setiap insan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin dan sedini mungkin.

Akan tetapi di era globalisasi ini, seakan umat tidak merasa akan pentingnya hal itu. Ilmu hanya mereka anggap sebagai formalitas untuk mencapai kebahagian hidup di dunia saja. Sedangkan untuk mencapai kebahagiaan di akhirat mereka mencukupkan hanya dengan sebatas amal tanpa adanya ilmu dalam hati mereka.

Betapa tidak, realita pendidikan masa kini memunculkan banyak lembaga yang hanya  berkonsentrasi pada kepentingan dunia. Hal ini terlihat dari banyaknya alumni-alumni perguruan tinggi negeri maupun swasta yang terdapat disetiap daerah , bahkan hampir disetiap desa pasti ada yang telah memiliki gelar sarjana .

Secara finansial hal itu tidaklah mengapa,tetapi kalau kita mau meneliti lebih dalam ternyata para alumni tersebut hanya memiliki gelar  tanpa memiliki kreatifitas ilmu diin yang bisa mereka amalkan untuk mereka sendiri maupun untuk orang lain. Sehingga bisa dikatakan bahwa mereka dalam melanjutkan studi belajarnya ketingkat yang lebih tinggi tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk mencari materi dunia  dan mendapatkan kedudukan dimuka umum.

Inilah tipu daya syaiton yang paling dahsyat, yaitu menumbuh suburkan benih-benih kecintaan manusia kepada apa yang dapat memuaskan hawa nafsunya. Kondisi inilah yang menyebabkan manusia terjerumus kepada taklid yang akhirnya pemahaman umat kepada diin semakin menurun dan kondisi zaman semakin terpuruk. Allah memberikan ancaman kepada mereka sebagaimana dalam firmannya :

“Ucapan mereka menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu “(Qs. An-Nahl : 25)

  1. Terhadap masyarakat

Masyarakat merupakan suatu komuitas yang terjalin atas hubungan sosial . Mereka yang tak memiliki pemahaman dasar tentang diin ini, akan mudah dijerumuskan oleh penguasa yang dengan mudah memerintah dan melarang atas dasar nafsunya. Mudah mempercayai dan menerima terhadap sesuatu yang bersifat syubhat(diragukan kebolehannya oleh syar”i) tanpa adanya penjelasan yang konkrit merupakan suatu hal yang sangat ironis bagi seorang muslim. Terlebih kita berada dinegara sekuler seperti ini. Dimana praktek pemilihan kepala Negara memakai sistem demokrasi yang sangat bertentangan dengan manhaj nabi shallalahu’alaihi wasallam.

Berapa banyak orang-orang bodoh terhadap diin yang mengatas namakan dirinya Jendral, Letnan ,Doktor atau mungkin Proffesor dan yang semisal dengan itu. Mereka merasa mendapatkan pangkat atau kehormatan yang  ia jadikan sebagai sarana untuk menduduki suatu kekuasaan. Mereka merasa dengan sarana itu umat akan mempercayainya. Sehingga dengan mudah ia memerintah dan melarang hawa nafsunya. Padahal hal itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk mencari ketenaran dan menumpuk materi keduniaan. Kenyataan di lapangan telah memberikan bukti yang  nyata Hal itu dapat kita lihat dari banyaknya kasus korupsi yang merajalela di negeri ini.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“…..dan siapa saja yang membuat aturan dalam islam dengan aturan yamng buruk , maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang (ikut) melakukannya tanpa dikurangi dari dosa-dosanya tersebut sedikitpun “.(Hr. Muslim ,Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah )

 

Terapi terhadap ambisi untuk mendapatkan pangkat

 

Ada beberapa terapi untuk meyembuhkan penyakit ini :

  1. Selalu mengikuti dan memperhatikan sunnah Nabi shalallahu’alaihiwasalam.

Sesungguhnya dalam sunnah beliau ada peringatan yang keras terhadap mereka yang berambisi dalam meraih pangkat. Sunnah beliau juga memperingatkan terhadap hati yang terikat kepadanya.Bahkan dalam sunnah itu pula bisa diperoleh gambaran yang mendalam bagi yang memperturutkannya dan juga gambaran tentang akibat-akibat yang bisa ditimbulkan darinya.

  1. Harus senantiasa mengingat terhadap hal-hal yang menyertainya dan akibat- akibat duniawi dan ukhrawi.

Sesungguhnya menurut fitrahnya, manusia itu bersifat suka lupa. Dan tiada obat bagi sifat lupa tersebut kecuali dengan peringatan-peringatan yang berkesinambungan. Hal itu selaras dengan ayat :

“ Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang –orang yang beriman “.(Qs.Adz-dzariat: 55)

  1. Membiasakan taat dan mendidik jiwa sedini mungkin.

Yang demikian membawa pengaruh pada waktu yang akan datang, saat menghilangkan penyakit dari hati, dan berpengaruh dalam menumbuhkan keridhaan terhadap keadaan yang sedang dialaminya. Hal ini sesuai dengan sabda rasulullah shaalallahu’alaihi wasalam :

“Beruntunglah orang yang mengambil kendali kudanya pada jalan Allah. Ia kusut rambutnya, kakinya berdebu, jika ia dalam keadaan berjaga ia tetap berjaga (melakukan tugasnya) dan jika berada di barisan belakang ia tetap dalam posisinya “. (Hr.Bukhari dan Ibnu Majah )

  1. Kasih sayang dalam mu’amalah

Tiada kasih sayang terhadap sesuatu kecuali ia ditimbang, dan tiada dicabut kasih sayang dari sesuatu kecuali disingkirkan. Maka sesungguhnya kasih sayang itu pada suatu saat akan menolong guna membebaskan hati dari ambisi terhadap pangkat.

  1. Diingatkan dengan kaum salaf dan pendirian mereka dalam menghadapi ambisi terhadap pangkat.

Sesungguhnya perilaku mereka sangat enggan terhadap masalah ini. Mereka lebih suka menjauhinya dan teramat waspada. Hal itu disebabkan mereka bisa menilai segala konsekuensi yang ditimbulkan dari ambisi tersebut.

  1. Mengingatkan perbandingan antara kedudukan di dunia dan kedudukan di akhirat berdasarkan kitabullah dan sunnah nabi shalallahu’alahi wasallam.

Firman Allah :

“Katakanlah :’Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa …….“(Qs. An-Nisa’ : 77)

Sabda nabi shalallahu’alaihi wasallam :

“Dunia ini dibandingkan dengan akhirat tidak lain kecuali seperti seseorang yang memasukkan sebuah jarinya di lautan maka perhatikanlah dengan apa ia kembali.” ( Hr. Muslim:1858, Tirmidzi:2323, Ibnu Majah:4108, dan Ahmad 4/229-230 )

Sesungguhnya peringatan ini bagi kaum yang berakal tidak menjadikan kedudukan tinggi sebagai cita-citanya. Hingga ia keluar dari dunia ini dengan selamat dan mendapat ridla allah ta’ala serta syurga-nya.

IV.  Kesimpulan

  1. Dasar seseorang berambisi mendapatkan pangkat ialah untuk mencari ketenaran .
  2. Pangkat dan harta merupakan dua sendi kehidupan. Pangkat, selain sebagai sarana untuk mencari ketenaran juga sebagai sarana untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.
  3. Keinginan untuk mencapai kebahagian hidup didunia, menuntut seseoarang untuk memenuhi kehendak tersebut. Tidak peduli dngan cara yang dibenarkan syariat maupun yang bertentangan dengannya .
  4. berambisi untuk mendapatkan pangkat tidak hanya berdampak pada pelakunya akan tetapi juga pada orang lain.
  5. Ancaman keras bagi orang-orang yang mementingkan dunia dan kebahagiaan yang kekal bagi orang –orng yang memperhatikan amal dan mementingkan akhirat.

 

V.  Penutup

Alhamdulillahi rabbil’alamin, segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad shalallahu’alaihi wasallam. Dengan mengharap keridhoan dari-Nya, kami selaku penulis makalah sederhana ini berharap semoga semoga dengan adanya tulisan ringkas ini bisa menambah wawasan pembaca sekalian, walaupun tidak menutup kemungkinan pastilah didapati banyak sekali kesalahan dan kekhilafan. Seperi halnya kaca cermin yang akan menampakkan segala aib orang yang bercermin, maka selayaknya sebagai seorang yang mukmin juga akan memberitahukan kekurangan yang ada pada diri saudaranya, hal itu ia lakukan agar kekurangan saudaranya tadi dapat tertutupi dan menjadi lebih sempurna. Wallahu a’lam bisshowab.

 

VI. Maraji’

 

1.     Al-Qur’anul karim dan terjemahannya

2. Al-munjid fil lughah, luwais Ma’luf

3. Minhajul Qosidin, Ibnu Qudamah

4. Tahdzib mau’idhatul mu’minin, Jamaluddin Al-Qosimy

5. Afatun Ala Thariq, Dr. Sayyid Muhammad Nuh

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: