Bagaimana lafadz adzan حي على الصلاة ” “ketika hujan ?



Bagaimana lafadz adzan ketika hujan yang sangat deras ?

Ada sebuah pertanyaan : apa yang harus dikerjakan oleh seorang muslim di sebuah desa yang jauh dari tempat sholat jama’ah (masjid) sekitar 200 km ? apakah dia diharuskan menjama’nya antara shalat dan ashar, jika ia tidak bisa melaksanakan shalatnya, dikarenakan kecapean yang sangat untuk melaksanakan shalat ashar ?

 

Jawabannnya :

Maka tak mengapa ia menjama’nya, orang ini menjawabnya, dikarenakan ia sibuk pada sebuah desa yang sangat jauh dari kotanya , dan bahwasannya ia mendatangi desa itu dengan keadaan yang sangat letih ba’da dzuhur.dan ditakutkan ia tidak bisa untuk menjalankan shalat ashar atau berat untuk melaksanakannya apakah ia boleh untuk menjama’ shalat ashar dengan dzuhur dan ia bisa tidur sampai maghrib ? jawabannya : ya boleh, karena jama’ itu lebih luas dari pada qashar,sedangkan qashar itu tidak mempunyai sebab-sebab yang banyak kecuali satu yaitu  Safar. Adapun jama’ itu mempunyai sebab-sebabnya terbatas. Dan disebabkan juga karena masaqqoh (memberatkan) kapan itu didapatkannya  ada sesuatu yang ( masaqqoh )memberatkan maka jama’lah.[1]

 

Ada sebuah pertanyaan, apa hukumnya bagi orang yang tidak berangkat kemasjid disebabkab hujan yang sangat deras ?

Jawabannya :

Jika hujan itu menyebabkannya baju itu menjadi basah, maka itu termasuk udzur untuk meninggalkannya shalat jum’ah dan jama’ah. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dan lafadz dari Ibnu Abbas t bahwasannya Rasulullah r berkata kepada seorang mu’adzinnya  ketika hujan :

))حدثنا مسدد قال : حدثنا إسماعيل قال : أخبرنا عبد الحميد صاحب الزيادي قال : حدثنا عبد الله بن الحارث ابن عم  محمد بن سيرين  : ” قال ابن عباس لمؤذنه في يوم مطير :  إذا قلت أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن محمد رسول الله فلا تقل حي على الصلاة: قل صلوا في بيوتكم.(( رواه البخاري ومسلم

Maka mu’adzin tadi berkata : “ Seakan-akan manusia mengingkari hal itu, maka Beliau bersabda : “ Apakah kamu semua heran dengan dengan yang demikian itu ? sungguh itu telah aku kerjakan itu kerupakan sesuatu yang lebih baik dariku. Sesungguhnya shalat jum’at itu sesuartu yang keharusan dan saya juga benci untuk keluar dan berjalan pada sebuah tanah yang sangat licin.[2]

Menurut Al Hafidz Ibnu  Hajar Al Asqolani, “ Bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas t menunjukkan boleh. Sedangkan Zain bin Munir berkata, “ Dzahir nash hadits Ibnu Abbas t bahwasannya tidak ada rukhsah untuk meninggalkan shalat jum’at. Maksud lafadz “  صلوا في بيوتكم dirukhsahkan baginya untuk meninggalkan shalat jama’ah, dan juga sebagai pemberitahuan bagi orang yang tidak hadir dan yang tidak hadir. Dan adapun tujuan mengganti lafadz “حي على الصلاة “ dengan lafadz “صلوا في بيوتكم “ maksudnya , yaitu : “ Walaupun  seorang mu’adzin tidak melafadzkan adzannya dengan “حي علىالصلاة dengan “صلوا في بيوتكم “ untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwasannya mathor itu ( hujan ) sebagai salah satu penyebab seseorang untuk tidak  mendatangi shalat jum’at di masjid berjama’ah.[3]

 

Hampir empat imam madzahib bersepakat, kecuali Imam Malik bahwa hujan bukan sebuah udzur untuk meninggalkan shalat jama’ah dan  jum’at Wallahu A’lam Bisshawab.

افإنه يجوز التخلف عن الجمعة بسبب المطر الذي يتأذى منه، بدليل ما في الصحيحين عن ابن عباس: أنه قال لمؤذنه في يوم مطير: إذا قلت أشهد أن محمداً رسول الله فلا تقل حي على الصلاة، قل: صلوا في بيوتكم، قال: فكأن الناس استنكروا ذلك، فقال: أتعجبون من ذا؟ فقد فعل ذا من هو خير مني -يعني رسول الله صلى الله عليه وسلم- .[4]

 

Dan sebagian perkataan Madzahib Al Arba’ah  di dalam permasalahan ini, Ibnu Qudamah berkata di dalam kitabnya ‘Al Mughni ‘ yang  bermadzahabkan Al Hambali : Tidak wajib baginya shalat jum’ah jika jalan yang menuju masjid itu hujan sehingga menyebabkan baju itu basah atau adanya Lumpur yang menyebabkan susahnya  untuk berjalan.[5]

Sedangkan menurut Al Malikiyah : Bahwa Hujan itu yang menjadi salah satu penyebab untuk meninggalkan shalat jum’at dan jama’ah. Ad- durdir berkata di dalam kitabnya syarh kabir mamzuhan binash kholil belaiu berkata : “ Diantara udzur untuk meninggalkan shalat jum’at dan jama’ah yaitu : ‘ sesuatu yang memberatkan dan jumpur yang tebal….

Syeikh Zakariya Al Anshary di dalam kitabnya ‘Al ghororil bahiyah syarh bahjatul wardiyah ‘ yang bermadzhabkan Syafi’ie beliau berkata : “ Diantara Udzur untuk meninggalkan shalat jum’at dan jama’ah, yaitu  ( حقن ) sakit perut, akan tetapi itu tergantung dengan keadaan waktu yang luas. Sebagaimana hujan yang membasahi baju paa wktu siang maupun malam.

IbnuNujaim di dalam kitabnya ‘ Al bahru Rooiq, beliau bermadzhabkan Al Hanafiyah, dan di dalam kitab ‘ Fathul Qadir : “ Dan adapun hujan yang deras dan takut dari  seorang sulthon ( penguasa )  yang dzalim, maka kewajiban untuk melaksanakan jama’ah dan jum’ah itu menjadi gugur. Wallahu A’lam Bish Showab.

Dimanakah yang dibolehkan untuk didirikannnya  shalat jama’ah ?

Dibolehkan shalat jama’ah disemua tempat yang suci, baik dirumah, dipadang pasir atau di masjid, Rasulullah r  bersabda :

عن رسول ِالله صلى الله عليه وسلم أنّه قال جعلت لي الْأرض مسجدا وطهورا أينمارجل من أمتي  أدركته  الصلاة فليصل

”Bumi dijadikan untukku sebagai masjid  ( tempat shalat ) dan sarana untuk bersuci, siapapun dari ummatku yang mendapatkan ( waktu ) shalat, maka shalatlah.[6]

Akan tetapi shalat fardhu lebih utama dikerjakan di masjid daripada di tempat lain, sebagaimana hadits Ziad Ibnu Tsabit t bahwasanya Rasulullah r bersabda,

صلوا أيها الناس في بيوتكم , فإن أفضل صلاة المرء في بيته إلا صلاة المكتوبة .

“ Shalatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baik shalatnya seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat “  maktubah “ ( shalat fardlu )[7]

Hal-hal  yang dibolehkan  Bagi orang yang meninggalkan shalat jama’ah  berdasarkan hal ( keadaan ) sebagai berikut ;

–         Dalam keadaan yang sangat dingin atau hujan yang deras sehingga menjadi becek yang menyulitkan baginya untuk berangkat masjid. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar t  dari Nabi r bersabda : “ Bahwasannya beliau memerintahkan kepada seorang mu’adzin untuk menyerunya untuk shalat. Kemudian mu’adzin tadi  menyeru : “

صلوا في رحالكم، في الليلة الباردة المطيرة في السفر[8]

 

–         Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas t bahwa Rasulullah r menyuruh kepada mu’adzinnya pada waktu suasana hujan, jika kamu melafadzkan : “

أشهد أن محمدا رسول الله فلا تقل حي على الصلاة قل: صلوا في بيوتكم قال: فكأن الناس استنكروا ذلك

قال: أتعجبون من ذا؟ فقد فعل ذا من هو خير مني: النبي صلى الله عليه وسلم.  إن الجماعة عزمة، وإني كرهت أن أخرجكم فتمشوا في الطين والدحض. رواه الشيخان، ولمسلم: أن ابن عباس أمر مؤذنه في يوم جمعة في يوم مطير.

Tidak diwajibkan shalat jum’at bagi orang yang jalan menuju ke masjid dalam suasana hujan yang mengakibatkan bajunya basah atau Lumpur yang memberatkan atasnya berjalan menuju masjid. Imam Malik berpendapat, bahwasannya hujan tidak menjadikannya udzur ( Rukhsah ) untuk meinggalkan shalat jum’at. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas t bahwa Rasulullah r menyuruh kepada mu’adzinnya pada hari jum’at disuasana hujan, jika melafadzkan : “أشهد أن محمدا رسول الله maka janganlah kamu mengucapkan  “   حي على الصلاة“   tetapi kamu katakan “صلوا في بيوتكم “ Seakan-akan mereka mengingkari akan hal itu, kemudian Rasulullah r bertanya : “ apakah kamu ini aneh dengan yang  demikian ? [9]

وقد روى أبو المليح أنه شهد النبي صلى الله عليه وسلم زمن الفتح وأصابهم مطر لم تبتل أسفل نعالهم فأمرهم أن يصلوا في رحالم.

sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Malih, bahwa beliau menyaksikan Rasulullah r pada waktu perang fathu makkah dan bertepatan hujan yang mengakibatkan sandal-sandal mereka susah untuk berjalan, maka Rasulullah r memerintahkan kepada mereka untuk melaksanakan shalatnya di rihal ( diatas pelana ) [10]

 

Marajie :

–         Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Shahih Fikih Sunnah

–         Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah

–         Maktabah Syamilah, Fatawa Syabakah Islamiyah

–         Ibnu Qudamah , Al Mugni

–         Ibnu Qudamah , Syarhul Kabir

–         Al Hafidz Ibnu Hajar Al asqolani, Fathul Barie fie Shahih Bukhari

 

 

 

 

 


[1] . Liqoo at babul maftuuh : 217/8 bisa di lihat di maktabah Syamilah

[2] . Fatawa Syabakah Islamiyah : 46/37  bisa lihat di maktabah syamilah

[3] . Fathul Barie : 2/488

[4] . Fatawa Syabakah Islamiyah : 172/201  bisa lihat di maktabah syamilah

[5] Fatawa Syabakah Islamiyah  : 9/5817    bisa lihat di maktabah Syamilah

[6] . Shahih Bukhari : 335 dan Shahih Muslim : 521 dari hadits Jabir

[7] . Shahih Bukhari : 731 dan Shahih Muslim : 781 bisa dilihat di kitab shahih fikih sunnah : 1/800

[8] . HR. Syaikhon. – Fikhus sunnah : 1/198

[9] . Al Mugni : 3/ 218-219

[10] . Syarhul Kabir lil Ibni Qudamah: 2/85

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: