HUKUM MLM


BISNIS MULTI LEVEL MARKETING [MLM]

MUKADDIMAH

Bisnis dengan sistem ‘Multi Level Marketing’ (seterusnya disingkat MLM) pada tahun-tahun terakhir ini begitu semarak dan menjamur ke tengah masyarakat muslim dengan berbagai produk dan perusahaannya. Hal ini tidak terkecuali terhadap aktivis dakwah. Banyak diantara mereka yang terlibat aktif dan menjadi distributor. Pro dan kontra di kalangan umat islam pun bermunculan. Oleh karena itu perlu kiranya pembahasan berkenaan dengan hukum MLM ini.

Multi level marketing (seterusnya di singkat (MLM) menjadi salah satu pilihan cara bisnis dalam era modern sekarang ini. Perkembangannya luar biasa. Di Indonesia menurut Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) terdapat hampir 200 perusahaan yang bergerak dengan sistem MLM. Jumlah pelaku bisnis sistem MLM mencapai 4-5 juta orang dan angka ini akan terus meningkat.

Akan tetapi kita harus berhati-hati dalam menyikapi bisnis MLM. Sistim ini juga mempunyai banyak kelemahan yang dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Kelemahan nyata terlihat banyak perusahaan MLM yang berkembang sekarang ini memakai konsep piramida. Entah ini disengaja atau tidak. Piramida lebih kurang mengambarkan segitiga. Mempunyai titik tertinggi di atas dan melebar ke bawah.

Apa artinya? Konsep MLM yang berkembang cenderung menguntungkan segelintir orang saja hingga beberapa orang yang berhasil mendapatkan banyak jaringan. (dalam MLM biasa disebut down line dan front line). Down line dan front line ini tentu juga melakukan hal yang sama dengan saya yakni menjual produk. Saya dapat meraup komisi dari seluruh orang yang berada di bawah jaringan saya. Saya bisa akan jadi kaya. Tetapi bagaimana orang-orang yang di bawah saya? Suatu saat akan terdapat titik jenuh (stagnant point) dan mereka tak akan mendapat apa-apa selain dari membeli produk MLM. Kelemahan lain juga nampak pada kesan pemaksaan terhadap pembelian produk. Walau tidak semua, tetapi harga pembelian produk MLM, baik untuk pemakaian sendiri atau dijual sangat mahal. Belum lagi beberapa MLM menerapkan istilah ‘’tutup point” yang memaksa anggotanya untuk mempunyai nilai jual tertentu (point) setiap akhir bulan atau tahun.

DEFINISI

Secara bahasa Multi Level Marketing ( MLM ) dapat diuraikan menjadi sebuah kalimat yang bermakna terdiri dari 3 suku kata :

Multi, berarti banyak.

Level, berarti jaringan.

Dua kalimat ini bila sama digabung beramakna bersusun atau bertingkat.[1]

Marketing, berarti pemasaran.[2]

Oleh karena itu yang dimaksud bisnis MLM secara bahasa adalah sistem pemasaran bersusun atau membuat jaringan pasar yang besar dan luas dengan bertingkat tingkat.

SISTEM BISNIS

Bisnis MLM termasuk sebagai bisnis penjualan langsung (direct selling). Konsep MLM adalah penyaluran barang (produk atau jasa tertentu) yang memberi kesempatan kepada para konsumen untuk ikut terlibat secara langsung sebagai penjual dan memperoleh keuntungan dalam garis kemitraannya.

Sebenarnya MLM yang berkembang seperti sekarang ini mengacu pada hukum Metcalt. Hukum Metcalt sendiri diambil dari nama Robert Metcalt yang dianggap pencetus teori bisnis MLM. Metcalt merumuskan sebuah teori yaitu, nilai ekonomis sebuah jaringan sama dengan jumlah pengguna atau dengan kata lain teori ini didefinisikan, nilai ekonomis sebuah jaringan sama dengan jumlah pengunanya dikuadratkan.

Penjelasan sederhana dari teori ini mencontohkan kegunaan sebuah pesawat telepon. Jika hanya ada satu pesawat telepon maka nilai ekonomisnya adalah nol. Tetapi dengan banyaknya pesawat telepon di dunia, hanya dengan satu pesawat telepon di rumah, kita dapat menghubungi ribuan nomor telepon yang kita inginkan.

Contoh lain yang tidak jauh beda adalah yang dilakukan Alex IW, dia adalah ‘’raja” MLM di bawah bendera PT Centra Nusa Insancemerlang (CNI) dengan penghasilan 3 miliar per tahun atau rata-rata 250 juta per bulan. Dia sudah empat kali mendapatkan bonus/komisi mobil mewah, dan mendapatkan rumah mewah.

Sekarang ini terdapat beberapa perusahaan MLM yang bergerak dengan prinsip Syariah. Sebut saja PT Ahadnet Internasional yang menerapkan sistem MLM dalam bidang produk kecantikan. Cerita terlama adalah tentang bonus, komisi dan mimpi-mimpi supaya cepat kaya. Hal ini harus dihindari. Motivasi MLM Syariah bukan menjadikan seseorang cepat kaya, tetapi adalah berusaha dan bekerja keras yang halal sebagai bukti iman dan takwa pada Allah SWT. Lihat saja komisi rumah mewah, mobil mewah, kapal pesiar bahkan sampai pesawat terbang pribadi sebagai bonus dari MLM konvensional.

Banyak MLM Syariah lebih memilih pergi berhaji, umrah sebagai bonus penjualannya. Semoga saja MLM Syariah dapat membantu sesama umat muslim dalam mencari rezeki yang halal dan terhindar dari larangan Allah SWT dalam berbuat dosa. Amin.[3]

Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilali menggambarkan tentang sistem bisnis MLM ini, beliau berkata, “Banyak pertanyaan seputar bisnis yang banyak diminati oleh khalayak ramai.

Yang secara umum gambarannya adalah mengikuti program piramida dalam sistem pemasaran, dengan setiap anggota harus mencari anggota-anggota baru dan demikian terus selanjutnya. Setiap anggota membayar uang pada perusahaan dengan jumlah tertentu dengan iming-iming dapat bonus, semakin banyak anggota dan semakin banyak memasarkan produknya maka akan semakin banyak bonus yang dijanjikan.

Sebenarnya kebanyakan anggota Multi Level Marketing [MLM] ikut bergabung dengan perusahaan tersebut adalah karena adanya iming-iming bonus tersebut dengan harapan agar cepat kaya dengan waktu yang sesingkat mungkin dan bukan karena dia membutuhkan produknya.

SYARAT-SYARAT UMUM DALAM JUAL–BELI

Semua bisnis termasuk yang menggunakan sistem MLM dalam literatur syariat Islam pada dasarnya termasuk kategori mu’amalah yang dibahas dalam bab al-Buyu’ (jual beli) yang hukum asalnya secara prinsip adalah boleh berdasarkan kaidah fikih (al-ashlu fil asya’ al-ibahah; hukum asal segala sesuatu adalah boleh -termasuk muamalah- adalah boleh). Selama bisnis tersebut bebas dari unsur-unsur haram maka hukumnya kembali ke asal. Disamping barang atau jasa yang dibisniskan adalah halal maka ada syarat-syarat yang harus di tepati dalam berbisnis yaitu:

1. Saling ridho

2. Jauh dari Riba (sistem bunga),

3. Jauh dari Gharar (tipuan),

4. Jauh dari Dharar (bahaya),

5. Jauh dari Jahalah (ketidakjelasan), dan

6. Jauh dari Dzulm (merugikan orang lain)

DALIL-DALIL BERKENAAN DENGAN MU'AMALAH JUAL-BELI

1. Al Qur’an

Dalam menentukan suatu hukum apabila ada suatu manfaat pada sebagian orang, maka hal itu tidak bisa menghilangkan keharamannya, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala yang menerangkan tentang hukum khomr :

y7tRqè=t«ó¡o„ ÇÆtã ̍ôJy‚ø9$# Ύţ÷yJø9$#ur ( ö@è% !$yJÎgŠÏù ÖNøOÎ) ׎Î7Ÿ2 ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9 !$yJßgßJøOÎ)ur çŽt9ò2r& `ÏB $yJÎgÏèøÿ¯R 3 štRqè=t«ó¡o„ur #sŒ$tB tbqà)ÏÿZムÈ@è% uqøÿyèø9$# 3 šÏ9ºx‹x. ßûÎiüt7ムª!$# ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# öNà6¯=yès9 tbr㍩3xÿtFs? ÇËÊÒÈ

Artinya, Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” )QS. al-Baqarah : 219)

Tatkala bahaya dari khamr dan perjudian itu lebih banyak daripada manfaatnya, maka keduanya dengan sangat tegas diharamkan. [4]

Ada banyak ayat-ayat lain yang dengan jelas mengatur dan menghukumi praktek-praktek jual-beli dalam kehidupan manusia, karena asal dari segala sesuatu itu adalah boleh, dan ini adalah pendapat jumhur. Di antara dalilnya tersebut adalah :

ö@è% $yJ¯RÎ) tP§ym }‘În/u‘ |·Ïmºuqxÿø9$# $tB tygsß $pk÷]ÏB $tBur z`sÜt/ zNøOM}$#ur zÓøöt7ø9$#ur ΎötóÎ/ Èd,yÛø9$# br&ur (#qä.Ύô³è@ «!$$Î/ $tB óOs9 öAÍi”t\ム¾ÏmÎ/ $YZ»sÜù=ߙ br&ur (#qä9qà)s? ’n?tã «!$# $tB Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÌÌÈ

Artinya: “Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat[536].” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” ( QS. al-A’raf : 32 )

@è% Hw ߉É`r& ’Îû !$tB zÓÇrré& ¥’n<Î) $·B§ptèC 4’n?tã 5OÏã$sÛ ÿ¼çmßJyèôÜtƒ HwÎ) br& šcqä3tƒ ºptGøŠtB ÷rr& $YByŠ %·nqàÿó¡¨B ÷rr& zNóss9 9ƒÍ”\Åz ¼çm¯RÎ*sù ê[ô_͑ ÷rr& $¸)ó¡Ïù ¨@Ïdé& ΎötóÏ9 «!$# ¾ÏmÎ/ 4 Ç`yJsù §äÜôÊ$# uŽöxî 8ø$t/ Ÿwur 7Š$tã ¨bÎ*sù š­/u‘ ֑qàÿxî ÒO‹Ïm§‘ ÇÊÍÎÈ

Artinya: “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS. al-An’am : 145 )

ö@è% (#öqs9$yès? ã@ø?r& $tB tP§ym öNà6š/u‘ öNà6øŠn=tæ ( žwr& (#qä.Ύô³è@ ¾ÏmÎ/ $\«ø‹x© ( Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $YZ»|¡ômÎ) ( Ÿwur (#þqè=çFø)s? Nà2y‰»s9÷rr& ïÆÏiB 9,»n=øBÎ) ( ß`ós¯R öNà6è%ã—ötR öNèd$­ƒÎ)ur ( Ÿwur (#qç/tø)s? |·Ïmºuqxÿø9$# $tB tygsß $yg÷YÏB $tBur šÆsÜt/ ( Ÿwur (#qè=çGø)s? š[øÿ¨Z9$# ÓÉL©9$# tP§ym ª!$# žwÎ) Èd,ysø9$$Î/ 4 ö/ä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ ÷/ä3ª=yès9 tbqè=É)÷ès? ÇÊÎÊÈ

Artinya: “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]“. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). ( QS. al-An’am : 151 ).[5]

3 ¨@ymr&ur ª!$# yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4

Artinya: “…padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. al-Baqarah: 275)

Dan masih banyak sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan mu’amalah khususnya dengan jual beli.

2. Hadits Rasulullah saw:

Dari Abu Said Al-Khudri ra, dari Rasulullah saw bersabda:

لا ضر ر ولا ضرار

Artinya: “Janganlah kalian membuat bahaya pada diri sendiri dan orang lain.” (HR Ibnu Majah dan ad-Daruqutni).

Juga hadits Rasululloh SAW Dari Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib berkata Rasululloh Saw bersabda:

دع ما يريبك إلى مالا يريبك

Artinya: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan untuk melakukan pada sesuatu yang tidak meragukan” (HR at-Thirmidzi dan an-Nasa’i).

Juga hadits Rasululloh SAW yang artinya: Dari Abu Abdullah an-Nu’man bin Basyir ra berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas dan diantara keduanya ada hal-hal yang syubhat dimana sebagian besar manusia tidak tahu. Barangsiapa menjaga dari syubhat maka telah menjaga agama dan kehormatannya dan barangsiapa jatuh pada syubhat berarti telah jatuh pada yang haram”. (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam satu hadits lain juga disebutkan yang artinya “Perdagangan itu atas dasar sama-sama ridha” (HR. al-Baihaqi dan Ibnu Majah)

Sedang hadits lain berbunyi, “Umat Islam terikat dengan persyaratan yang mereka buka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim)

3. Qaidah Fiqhiyah

Satu qo’idah fikih yang sangat masyhur yang artinya: “Meninggalkan kerusakaan lebih didahulukan dari mengambil manfaat”.

TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG MLM

Apakah dalam Islam bisnis sistim MLM ini diperbolehkan? Merujuk dari penerapan bisnis jaringan yang murni, sebahagian ulama berpendapat bahwa bisnis MLM hukumnya adalah mubah atau diperbolehkan. Landasan dari hukum ini adalah surah Al Baqarah 2:275 “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba“. Ayat lain yang mendukung landasan MLM berupa jaringan adalah al-Maidah 5:2 “Tolong menolonglah atas kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolong atas dosa dan permusuhan“.

Sebuah hadits Rasulullah juga dapat dijadikan rujukan yang artinya, “Perdagangan itu atas dasar sama-sama ridha” (HR Baihaqi dan Ibnu Majah). Walaupun dikatakan diperbolehkan akan tetapi MLM akan menjadi haram hukumnya jika melanggar empat prinsip utamanya yaitu, Riba (membungakan uang), Gharar (penipuan), Dharar (merugikan atau men zhalimi pihak lain), Jahalah (tidak Transparan).

Dari dalil-dalil tersebut menunjukan bahwa produk-produk yang dihasilkan MLM Syariah pun mestilah berlandaskan pada adanya transaksi yang riil atas barang atau jasa yang diperjualbelikan. Barang dan jasa ini diutamakan berupa kebutuhan pokok, bukan barang mewah yang dapat mendorong pada konsumerisme dan pemborosan. Yang tak kalah pentingnya barang dan jasa yang diperjualbelikan harus jelas kehalalannya, yang dapat dibuktikan pihak berwenang.

Terakhir, produk dan jasa harus dapat dikembalikan seandainya barang yang di beli ternyata tidak berkualitas atau rusak. Motivasi penjualan antara MLM Syariah dan konvensional juga harus berbeda. Sebagai bukti, coba perhatikan persentasi yang dilakukan oleh MLM konvensional. Biasanya mereka hanya sebentar saja memperkenalkan produk baik dari segi kualitas dan zatnya.

Persoalan bisnis MLM yang ditanyakan mengenai hukum halal-haram maupun status syubhatnya tidak bisa dipukul rata. Tidak dapat ditentukan oleh masuk tidaknya perusahaan itu dalam keanggotaan APLI (Asosiasi Penjual Langsung Indonesia), juga tidak dapat dimonopoli oleh pengakuan sepihak sebagai perusahaan MLM syariah atau bukan, melainkan bergantung sejauh mana dalam praktiknya setelah dikaji dan dinilai sesuai syariah. Menurut catatan APLI, saat ini terdapat sekitar 200-an perusahaan yang menggunakan sistem MLM dan masing-masing memiliki karakteristik, spesifikasi, pola, sistem, dan model tersendiri sehingga untuk menilai satu per satu perusahaan MLM sangat sulit sekali.

Bisnis MLM dalam kajian fikih kontemporer dapat ditinjau dari dua aspek: produk barang atau jasa yang dijual dan cara ataupun sistem penjualan (selling/marketing). Mengenai produk barang yang dijual, apakah halal atau harang bergantung kandungannya, apakah terdapat sesuatu yang diharamkan Allah menurut kesepakatan (ijma’) ulama atau tidak, begitu pula jasa yang dijual. Unsur babi, khamr, bangkai, darah, perzinaan, kemaksiatan, perjudian, contohnya. Lebih mudahnya sebagian produk barang dapat dirujuk pada sertifikasi halal dari LP-POM MUI, meskipun produk yang belum disertifikasi halal juga belum tentu haram bergantung pada kandungannya.[6]

Secara umum segala sistem perbisnisan yang didasari dengan sistem riba adalah haram. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imron ayat 130 dan surat al-Baqoroh ayat 278-279. Dalam hal ini sebagaimana bank yang dengan jelas melakukan praktek riba, maka bagi yang menabung atau menjadi penanggungnya dari pihak bank keduanya sama berdosa. Tidak ada keringanan dengan berdasar pada dlorurot. Karena semua amalan dan perbuatan akan dimintai pertanggung-jawaban. Dan yang lebih baik bagi seorang muslim adalah menjauhinya. Sungguh Allah maha mengetahui hal yang tertutup dan yang lebih tersembunyi.Wallohu'Alam[7]

Bisnis model ini adalah perjudian murni, karena beberapa sebab berikut ini, yaitu: Sebenarnya anggota Multi Level Marketing [MLM] ini tidak menginginkan produknya, akan tetapi tujuan utama mereka adalah penghasilan dan kekayaan yang banyak lagi cepat yan akan diperoleh setiap anggota hanya dengan membayar sedikit uang. Harga produk yang dibeli sebenarnya tidak sampai 30% dari uang yang dibayarkan pada perusahaan Multi Level Marketing [MLM].

Bahwa produk ini biasa dipindahkan oleh semua orang dengan biaya yang sangat ringan, dengan cara mengakses dari situs perusahaan Multi Level Marketing [MLM] ini di jaringan internet. Bahwa perusahaan meminta para anggotanya untuk memperbaharui keanggotaannya setiap tahun dengan diiming-imingi berbagai program baru yang akan diberikan kepada mereka. Tujuan perusahaan adalah membangun jaringan personil secara estafet dan berkesinambungan. Yang mana ini akan menguntungkan anggota yang berada pada level atas (Up Line) sedangkan level bawah (Down Line) selalu memberikan nilai point pada yang berada di level atas mereka. Demikian menurut Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilali. [8]

Perusahaan yang menjalankan bisnisnya dengan sistem MLM tidak hanya menjalankan penjualan produk barang, tetapi juga produk jasa, yaitu jasa marketing yang berlevel-level (bertingkat) dengan imbalan berupa marketing fee, bonus, dan sebagainya bergantung level, prestasi penjualan, dan status keanggotaan distributor. Jasa perantara penjualan ini (makelar) dalam terminologi fikih disebut samsarah/simsar ialah perantara perdagangan (orang yang menjualkan barang atau mencarikan pembeli) atau perantara antara penjual dan pembeli untuk memudahkan jual beli.[9]

Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan masalah ini adalah:

  1. Pada dasarnya jual beli dalam Islam hukum asalnya adalah boleh selagi bebas dari unsur riba', ghoror (tipuan), dan jahalah (ketidakjelasan).
  2. Disamping sistem MLM memberikan manfaat dan keuntungan yang banyak tetapi ada juga kemudhorotan dan dampak negatifnya, seperti: Obsesi yang berlebihan untuk mencapai target tertentu karena terpacu oleh sistem ini. Adanya ikhtilath, suasana yang tidak kondusif bahkan mengarah pada pola hidup hedonis ketika mengadakan acara rapat dan pertemuan. Pemanfaatan sarana kantor untuk menawarkan produk ini. Banyak di antara kaum muslimin dan aktifis dakwah keluar dari kerjaan tetapnya karena terobsesi akan mendapat harta yang banyak dengan waktu yang singkat dll.
  3. Adanya unsur kezhaliman dalam pemenuhan hak dan kewajiban, seperti seseorang yang belum mendapatkan target dalam batas waktu tertentu maka ia tidak mendapat imbalan yang setimpal dengan kerja yang telah ia lakukan sedangkan bagi mereka yang berhasil melalui target akan memperoleh imbalan yang berlebih, semakin besar perolehan targetnya semakin besar pula kelebihan imbalan tersebut.
  4. Sistem ini akan memperlakukan seseorang (mitranya) berdasarkan target-target keberhasilan materi yang mereka capai dimana pada akhirnya akan dapat memicu dan memacu seseorang untuk berjiwa materialis dan dapat melupakan tujuan-tujuan asasinya..

 

Kemunculan tren strategi pemasaran di dunia bisnis modern berupa multi level marketing memang sangat menguntungkan pengusaha dengan adanya penghematan biaya (minimizing cost) dalam iklan, promosi, dan lainnya. Disamping menguntungkan para distributor sebagai simsar (makelar/broker/mitrakerja/agen/distributor) yang ingin bekerja secara mandiri dan bebas.

Pekerjaan samsarah/simsar berupa makelar, distributor, agen, dan sebagainya dalam fikih islam adalah termasuk akad ijarah, yaitu suatu transaksi memanfaatkan jasa orang lain dengan imbalan. Pada dasarnya, para ulama seperti Ibnu Abbas, Imam Bukhari, Ibnu Sirrin, Atha, Ibrahim, memandang boleh jasa ini (Fiqhus Sunnah III/159). Namun untuk sahnya pekerjaan makelar ini harus memenuhi beberapa syarat di samping persyaratan tadi, antara lain :

  • Perjanjian antara kedua belah pihak harus jelas (QS. an-Nisa: 29)
  • Objek akad bisa diketahui manfaatnya secara nyata dan dapar diserahkan;
  • Objek akad bukan hal-hal yang maksiat atau haram.

 

Distributor dan perusahaan harus jujur, ikhlas, transparan, tidak menipu, dan tidak menjalankan bisnis yang haram atau syubhat. Distributor dalam hal ini berhak menerima menerima imbalan setelah berhasil memenuhi akadnya, sedangkan pihak perusahaan yang menggunakan jasa marketing harus segera memberikan imbalan setelah berhasil memenuhi akadnya, sedangkan pihak perusahaan yang menggunakan jasa marketing harus segera memberikan imbalan para distributor dan tidak boleh menghanguskan atau menghilangkannya (QS. al-A’raf: 85), sesuai dengan hadits Nabi SAW yang artinya, “Berilah para pekerja itu upahnya sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah, Abu Ya’la, dan Thabrani). Tiga orang yang menjadi musuh Rasulullah di hari kiamat diantaranya adalah “Seseorang yang memakai jasa orang, kemudian menunaikan tugas pekerjaannya, tetapi orang itu tidak menepati pembayaran upahya.”(HR.Bukhari)
Sedang jumlah upah atau imbalah jasa yang harus diberikan kepada makelar atau distributor adalah menurut perjanjian, sesuai dengan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad (perjajian-perjanjian) itu.” (QS. al-Maidah: 1) dan juga hadits Nabi, “Orang-orang Islam itu terikat dengan perjajian-perjanjian mereka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, hakim dan Abu Hurairah).

Bila terdapat unsur dzulm (kezaliman) dalam pemenuhan hak dan kewajiban, seperti seseorang yang belum mendapatkan target dalam batas waktu tertentu maka ia tidak mendapat imbalan yang sesuai dengan kerja yang telah ia lakukan, maka bisnis MLM tersebut tidak benar.

Dalam menjalankan bisnis dengan MLM perlu mewaspadai dampak negatif psikologis yang mungkin timbul sehingga membahayakan kepribadian, diantaranya: Obsesi berlebihan untuk mencapai target penjualan tertentu karean terpacu oleh sistem ini, suasana tida kondusif yang kadang mengarah pada pola hidup hedonis ketika mengadakan acara rapat dan pertemuan bisnis, banyak yang keluar dari tugas dan pekerjaan tetapnya karena terobsesi akan mendapat harta yang banuak dengan waktu singkat. Sistem ini akan memperlakukan seseorang (mitranya) berdasarkan target-target penjualan kuantitatif material yang mereka capai yang pada akhirnya dapat mengindikasikan seseorang berjiwa materialis dan melupakan tujuan asasinya untuk dekat kepada Allah di dunia dan akhirat (QS. al-Qashash: 77 dan QS. al-Muthaffifin: 26)

Menurut Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilali dengan melihat dan berdasarkan pada apa saja yang berhubungan dengan hal ini, maka sistem bisnis semacam ini tidak diragukan lagi keharamannya, di antara beberapa sebabnya yaitu:

  1. Ini adalah penipuan dan manipulasi terhadap anggota.
  2. Produk Multi Level Marketing [MLM] ini bukanlah tujuan yang
    sebenarnya. Produk itu hanya bertujuan untuk mendapatkan izin dalam undang-undang dan hukum syar’i.

 

Banyak dari kalangan pakar ekonomi dunia sampai pun orang-orang non muslim meyakini bahwa jaringan piramida ini adalah sebuah permainan dan penipuan, oleh karena itu mereka melarangnya karena bisa membahayakan perekonomian nasional baik bagi kalangan individu maupun bagi masyarakat umum.

Berdasarkan ini semua, tatkala kita mengetahui bahwa hukum syar’i didasarkan pada maksud dan hakekatnya serta bukan sekedar polesan lainnya. Maka perubahan nama sesuatu yang haram akan semakin menambah bahayanya karena hal ini berarti terjadi penipuan pada Allah dan Rasul-Nya, oleh karena itu sistem bisnis semacam ini adalah haram dalam pandangan syar’i.

Ada beberapa riset yang cukup baik untuk dicermati bersama, The Islamic Food ang Nutrition of America (IFANCA) telah mengeluarkan edaran tentang produk MLM halal dan dibenarkan oleh agama yang disetujui secara langsung oleh M. Munir Chaudry, Ph.D, selaku Presiden IFANCA. Dalam edarannya, IFANCA mengingatkan umat Islam untuk meneliti dahulu kehalalan suatu bisnis MLM sebelum bergabung atau menggunakannya, yaitu dengan mengkaji aspek berikut:

1. Marketing plan-nya, apakah ada unsur piramida atau tidak. Kalau ada unsur piramida yaitu distributor yang lebih duluan masuk selalu diuntungkan dengan mengurangi hak distributor belakangan sehingga merugikan down line di bawahnya, maka hukumnya haram.

2. Apakah perusahaan MLM memiliki track record positif dan baik ataukah tiba-tiba muncul dan misterius, apalagi banyak kontroversinya.

3. Apakah produknya mengandung zat-zat haram ataukah tidak dan apakah produknya memiliki     jaminan untuk dikembalikan atau tidak.

4. Apabila perusahaan lebih menekankan aspek targeting penghimpunan dana dan menganggap bahwa produk tidak penting atau pun hanya sebagai kedok atau kamuflase, apalagi uang pendaftaran cukup besar nilainya, maka patut dicurigai sebagai arisan berantai (money game)     yang menyerupai judi.

5. Apakah perusahaan MLM menjanjikan kaya mendadak tanpa bekerja ataukah tidak demikian.

Selain kriteria penilaian di atas perlu diperhatikan pula hal-hal berikut:

1. Transparansi penjualan dan pembagian bonus serta komisi penjualan, di samping pembukuan yang menyangkut perpajakan dan perkembangan networking atau jaringan dan level, melalui laporan otomatis secara periodik.

2. Penegasan motif dan tujuan bisnis MLM sebagai sarana penjualan langsung produk barang ataupun jasa yang bermanfaat dan bukan permainan uang.

3. Meyakinkan kehalalan produk yang menjadi objek transaksi riil (underlying transaction) dan tidak mendorong kepada kehidupan boros, hedonis, dan membahayakan eksistensi produk muslim atau lokal.

4. Tidak adanya excesive mark up (ghubn fakhisy) atas harga produk yang dijualbelikan di atas covering biaya promosi dan marketing konvensional.

5. Harga barang dan bonus (komisi) penjualan diketahui secara jelas sejak awal dan dipastikan kebenarannya saat transaksi.

6. Tidak adanya eksploitasi pada jenjang mana pun antar distributor ataupun antara produsen dan distributor, terutama dalam pembagian bonus yang merupakan cerminan hasil usaha masing-masing anggota.

KESIMPULAN

Kesimpulannya adalah bahwa secara umum segala sistem perbisnisan yang didasari dengan sistem riba adalah haram. Bisnis Multi Level Marketing [MLM] ini adalah alat untuk memancing orang-orang yang sedang mimpi di siang bolong menjadi jutawan. Bisnis ini adalah memakan harta manusia dengan cara yang bathil, juga merupakan bentuk spekulasi. Ini adalah bentuk riba yang nyata bahkan memakan harta yang haram Dan spekulasi ini adalah satu bentuk dari perjudian.

Mengenai beberapa bisnis yang memakai sistem MLM atau hanya berkedok MLM yang masih meragukan (syubhat) atau pun sudah jelas ketahuan tidak sehatnya bisnis tersebut baik dari segi kehalalan produknya, sistem marketing fee-nya, legalitas formal, pertanggungjawaban, tidak terbebasnya dari unsur-unsur haram seperti riba (permainan bunga atau penggandaan uang), dzulm dan gharar (merugikan nasabah dengan money game), masyir (perjudian) sebaiknya ditinggalkan mengingat pesan Rasulullah, “Janganlah kalian membuat bahaya pada diri sendiri dan orang lain.” (HR. Ibnu Majah dan Daruquthni). “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas dan diantara keduanya ada hal-hal yang syubhat dimana sebagian besar manusia tidak tahu. Barangsiapa menjaga dari syubhat maka telah menjaga agama dan kehormatannya dan barangsiapa yang jatuh pada syubhat berarti telah jatuh pada yang haram.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dan sebagaimana pesan al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib dari sabda Nabi SAW, “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan untuk melakukan pada sesuatu yang tidak meragukan.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i). Wallahu’alam bish-shawwab.

 

REFERENSI

  1. Al Qur’anul Kariim
  2. Muhammad bin Sidqi bin Ahmad bin Muhammad Al-Burnu, al-Wajiz fi Idhah Qawa’idh al-Fiqh, Cet 4, tahun 1415/1997, Mu’assasah Ar risalah Beirut.
  3. 3. Sayid Sabiq, Fiqhus Sunnah
  4. Syaikh Jaadul Haq ‘Ali Jaadul Haq, Buhuts wal fatawa Al Islamiyah fii Qodloya Mu’ashiroh, cet I, tahun 1995, Al Azhar Asy Syarif Mesir
  5. 5. Deny Setiawan SE M Ec, alumni Fakultas Ekonomi, spesialisasi Ekonomi Islam Universitas Kebangsaan Malaysiaalumni Fakultas Ekonomi, spesialisasi Ekonomi Islam Universitas Kebangsaan Malaysia
  6. Diterjemahkan dari situs www.alhelaly.com
  7. Ustadz DR. Budi Setiawan Utomo dalam buku Fiqih Aktual, Cetakan baru, terbitan GIP Kalibata-Jakarta
  8. Drs. Tri Rama K., Kamus Lengkap 1 Milyar, cetakan terbaru, tanpa tahun, Mitra Pelajar, Surabaya.

 


[1] Drs. Tri Rama K., Kamus Satu Milyar halaman 195

[2] Ibid halaman 185

[3] Deny Setiawan SE M Ec, alumni Fakultas Ekonomi, spesialisasi Ekonomi Islam Universitas Kebangsaan Malaysiaalumni Fakultas Ekonomi, spesialisasi Ekonomi Islam Universitas Kebangsaan Malaysia

[4] Diterjemahkan dari situs http://www.alhelaly.com

[5] al-Burnu, al-Wajiz fi Idhah Qawa’idh al-Fiqh, halaman 191, 197; lihat juga pada : asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul, h. 286; as-Suyuthi, al-Asybah wa Nadzir, h. 60).

[6] Ustadz DR. Budi Setiawan Utomo dalam buku Fiqih Aktual terbitan GIP.

[7] Syaikh Jaadul Haq ‘Ali Jaadul Haq, Buhuts wal fatawa Al Islamiyah fii Qodloya Mu’ashiroh juz 4 halaman 277-279

[8] Diterjemahkan dari situs http://www.alhelaly.com

[9] Sayid Sabiq, Fiqhus Sunnah juz  III/159

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: