PENYALURAN ZAKAT


 

  1. Yang Berhak Membagi Zakat

Dalam hubungannya dengan yang berhak membagi zakat, harta terbagi menjadi dua macam

  1. Harta Batinah Yaitu harta batinah yaitu seperti emas, perak, rikas, perdagangan, dan fithr. Dalam harta batinah, pemilik harta diperbolehkan membagikan zakatnya langsung kepada mustahiqnya, sebagimana pendapat syafi’iyah dan adalah ijma’ kaum muslimin
  2. Harta Dhohiroh.yaitu tanaman, hewan ternak, dan ma’adin. Adapun dalam harta dhohiroh, dalam hal boleh tidaknya bagi pemilik harta membaginya langsung kepada mustahiqnya, ada dua pendapat:

–         Pendapat syafi’i (jadid) membolehkannya  dan pendapat ini dirojihkan oleh Imam Nawawi

–         Pendapat Syafi’i (qodim) tidak boleh dan wajib menyerahkan kepada imam baik imam yang adil atau jair, ini adalah pemdapat madhab syafi’iyah

  • Diperbolehkan mewakilkan kepada imam atau orang lain  dalam pembagian zakat harta batinah. Dan yang lebih utama pemilik harta membaginya sendiri.
  • Membayarkan harta batinah kepada imam yang adil lebih utama menurut jumhur ulama karena pemilik harta yakin akan tertunainya harta dan imam lebih tahu orang yang berhak mendapatkannya. Walaupun Imam Al Baghowi berkata bahwa lebih utamanya pemilik harta membayarkan dengan sendirinya
  • Imam yang meminta zakat dhohir, maka pemilik harta harus menyerahkannya jika engan diperangi. Dan kalau meminta tambahan pemilik harta tidak wajib memenuhinya.
  • Kewajiban imam adalah mengutus As-Sa’i yang adil dan terpercaya untuk mengambil shodaqoh. Dengan syarat muslim, merdeka, adil, dan faqih dalam masalah zakat[1]

 

 

  1. b. Apakah penyaluran zakat harus mencakup delapan kelompok atau boleh sebagian dari mereka ?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa penyaluran harta zakat tidak harus meliputi kedelapan kelompok tersebut, melainkan boleh menyalurkan kepada salah satu dari mereka, pada saat kelompok yang lainnya pun ada. Sebagaimana hadits

 

Zakat diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin diantara mereka.[2]

Syafi’i  berkata bahwa penyaluran zakat harus mencakur delapan kelompok.[3]

 

  1. c. Mustahiqul zakat

Dalam penyaluran zakat, Allah Ta’ala telah menjelaskan mustahiqul zakat (orang-orang yang berhak mendapatkan zakat) dalam al Qur’an, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu’allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana[4]

Imam Ibnu Jarir At Thobari berkata bahwa tidak disalurkan as Shodaqhot kecuali kepada para fakir dan miskin serta orang-orang yang telah Allah sebutkan.[5]

Penjelasan tentang delapan golongan yang berhak menerima zakat sebagai berikut:

  1. 1. Faqir dan Miskin

Faqir secara etimilogi dalam bahasa arab yaitu orang yang sebagian tulang rusuknya terlepas, maka punggungnya menjadi patah. Adapun miskin adalah orang yang hanya berdiam diri[6]

Adapun secara terminologi, Syaihk Abu Bakar Al Jazairi berkata bahwa faqir adalah orang yang tidak mempunyai harta untuk memenuhi kebutuhannya  dan kebutuhan orang-orang yang manjadi tanggungannya, yang meliputi makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinngal, meskipun ia mempunyai harta yang memcapai nishob. Dan Orang miskin kadang-kadang kefakirannya lebih ringan dari pada orang faqir, tetapi kadang juga lebih berat namun demikian ketentuan mengenai keduanya dalam segala hal adalah sama.[7]

Adapun bagian zakat yang diberikan kepada faqir miskin adalh sebesar yang dapat mencukupi sebagian kebutuhannya atau seluruhnya, untuk dirinya sendiri atau orang-orang yang menjadi tanggungannya selama setahun penuh dan tidak boleh melebihi kadar tersebut.[8]

Imam Syafi’i berkata bahwa kebutuhan mereka tercukupi terus menerus (seumur hidup). Imam Al Baghowi berkata bahwa kadar fakir dari zakat yaitu tercukupinya kebutuhan setahun[9]

 

–         Tholibul ilmu apabila tidak mendapatkan usaha maka berhak mendapatkan zakat[10].

–         Orang yang punya harta kemudian rusak maka tergolong miskin dengan syarat ada bukti

–         Maka orang yang tersibukan dengan ibadah sehingga terhalang dari berusaha maka tidak berhak mendapatkan zakat

  1. 2. Amil

Amil zakat yaitu pemungut zakat atau orang yang mengumpulkannya, mengelolanya, dan mengontrol ukurannya serta mencatatnya di kantor khusus sehingga mereka mendapatkan upah pekerjaannya dari zakat tersebut meskipun ia orang kaya.

–         Amil Dari Keluarga Hasyim

Imam Nawawi dan Syafi’iyah berpendapat bahwa yang lebih dekat kepada kebenaran yaitu tidak diperbolehkan keluarga hasyim menjadi amil, tetapi kalau beramal secara sukarela tanpa ada upah maka diperbolehkan amil dari keluarga hasyim dan mutholib, mereka diberi upah dari baitul mal[11]

–         Syarat Amil

Syarat amil yaitu muslim, merdeka, adil dan faqih dalam urusan zakat[12].

–         Amil dan imam tidak boleh menjual zakat kecuali kondisi doruroh seperti  takut rusak[13]

  1. 3. Muallaf

Orang-orang yang yang dijinakkan hatinya ada dua macam  yaitu muslim dan kafir[14]. Dan mereka adalah pemuka kaum atau marganya.

Muallaf dari muslim terbagi menjadi empat macam

  1. Para pemuka kaum yang ditaati oleh kaumnya, yang telah masuk Islam namun niat mereka masih lemah, maka ia diberi zakat untuk memantapkan hatinya
  2. Suatu kaum yang mempunyai pengaruh besar atau kaum yang terpandang yang telah masuk Islam, mereka diberi zakat agar kaum yang lainnya dari kalangan kafir tertarik untuk masuk Islam
  3. Sekelompok orang yang perlu dijinakkan hatinya agar bersedia berjihad demi melawan kaum kafir dan melindungi kaum muslimin
  4. Sekelompok orang yang diberi zakat agar bersedia mewajibkan zakat terhadap orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat.

Muallaf dari kafir, mereka ada dua macam :

  1. Orang kafir yang diharapkan dapat masuk Islam, zakat diberikan kepada mereka dengan harapan ia semakin tertarik  kepada Islam
  2. Orang kafir yang dikhawatirkan berbuat jahat dengan diberi zakat mereka tidak berbuat kekacauan dan kejahatan. [15]
  1. 4. Riqob

Mereka terbagi menjadi tiga bagian:

  1. Budak muslim yang mukatab, mayoritas ulama membolehkan penyaluran zakat kepada mereka
  2. Memerdekan budak, menurut Madhab Maliki diperbolehkan menyalurkan zakat untuk memerdekan budak
  3. Untuk menebus tawanan muslim dari kekuasan kaum musrik.[16]

  1. 5. Ghorim

Orang yang berhutang dan berhak mendapatkan zakat terbagi menjadi tiga bagian:

  1. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan sendiri, golongan ini mendatkan zakat dengan syarat sebagai berikut:

–         Hendaknya seorang muslim

–         Bukan termasuk ahlu bait

–         Ia tidak berhutang dengan tujuan untuk mendapatkan bagian zakat

–         Adanya hutang yang melilitnya

–         Hutangnya bersifat segera

–         Orang yang berhutang tidak mampu melunasinya

  1. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan umum
  2. Orang yang berhutang karena menjadi jaminan.[17]
  1. 6. Fi Sabilillah

Fi sabilillah terbagi menjadi tiga bagian:

  1. Orang yang berjuang di jalan Allah bukan mereka yang bekerja dikantoran, golongan ini menurut mayoritas ulama berhak mendapatkan zakat
  2. Kemaslahatan perang, menurut madhab maliki diperbolehkan menggunakan bagian zakat untuk kemaslahatan jihad
  3. Jama’ah haji, mayoritas ulama (Madhab Hanafi, Maliki, Syafi’i  dan Hanabilah dalam satu riwayat) membolehkan menyalurkan zakat kepada jama’ah haji.[18]
  1. 7. Ibnu Sabil

Dinamakan demikian karena dikonotasikan dengan jalan atau orang yang ditengah perjalanan, yaitu orang yang tidak berada di negerinya dan tidak menempati rumahnya.

Golongan ini terbagi menjadi dua bagian:

  1. orang yang jauh dari negerinya dan tidak mempunyai bekal untuk kembali ke negerinya. Golomgan ini disepakati berhak mendapatkan zakat.sesuai dengan kebutuhannya dan syarat-syarat sebagai berikut:

–         Orang muslim dan bukan ahlu bait

–         Tidak mempunyai harta untuk kembali ke negerinya, walaupun di negerinya dia orang kaya.

–         Ia bersafar bukan dalam rangka bermaksiat

  1. Orang yang berada di negerinya dan hendak melakukan safar, mayoritas ulama tidak memperbolehkab penyaluran zakat kepada golongan ini walaupun syafi’iah membolehkannya.dengan syarat ia tidak mempunyai bekal.[19]

 

  1. c. Memindah Zakat Ke Negeri Lain

Seyogyanya zakat dibagikan kepada orang yang berhak di negeri tersebut, apabila dipindahkan ke negeri lain padahal di negeri tersebut ada yang berhak maka Imam syafi’i berkata boleh dalam satu riwayat dan tidak boleh dalam riwayat lain. Imam Ahmad dan Malik berkata bahwa tidak boleh memindahkan zakat ke negeri lain.

–         Apabila harta di negeri lain maka zakat dibagikan di ngeri harta berada

–         Apabila diperbolehkan memindahkan zakat, maka seluruh biaya ditangggung oleh pemilik zakat[20]. Hal 213

  1. d. Yang Tidak Berhak Mendapatkan Zakat
  1. Bani Hasyim. Yaitu Aali Ali (keturunan atau keluarga Ali), Aalu ‘Uqail, Aalu Ja’far, Aalu Abbas, Aalu Al Harits, dan Aalu Al Mutholib. Mereka tidak boleh mengambil  harta zakat, tanpa ada perbedaan pendapat diantara para ulama.[21]

Sesungguhnya sedekah atau zakat tidak layak bagi keluarga Muhammad, ia adalah ausahk (kotoran) dari manusia[22]

 

  1. Pelaku bid’ah yang membawa kepada kekafiran, mereka tidak boleh diberi zakat manurut kesepakatan para ulama.
  2. orang kafir. Ibnu Munzir berkata bahwa umat bersepakat bahwa tidak diperbolehkan menmerikan zakat kepada orang kafir, adapun dalam zakat fithr, Imam Abu Hanifah membolehkan zakat fithr untuk orang kafir.[23]

[1] Al Majmu’ 6/147-149

[2] HR.

[3] Shohih Fiqh Sunnah

[4] QS At Taubah 60

[5] Jami’ul Bayan 6/185

[6] Shohih Fiqih Sunnah 2

[7] Minhajul Muslim

[8] Shohih Fiqih Sunnah

[9] Al Majmu 6/184

[10] Idem 178

[11] 152

[12] Al Majmu, 6/151

[13] 159

[14] Al Majmu’ 6/186

[15] Shohih Fiqh Sunnah 2/

[16] Idem

[17] Idem

[18] Shohih Fiqh Sunnah 2

[19] Idem

[20] 213

[21] Idem

[22] HR

[23] Al Majmu’ 6/122

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: