SHOLAT DI RUMAH ORANG KAFIR


PROLOG

Pada dasarnya bumi diciptakan oleh Allah dalam keadaan suci dan boleh melaksankan sholat di mana saja, berdasarkan hadits dari jabir bahwasaNnya Rasululloh bersabda:

جُعِلَتْ لِى اللأَرْضَ طَهُورًا وَمَسْجِدًا فَأَيْنَمَا رَجُلٌ أَدْرَكَتَهُ الصَّلاَةَ فَلْيُصَلِّ حَيْثُ أَدْرَكَتْهُ  . متفق عليه

Artinya: “Bumi diciptakan untukku dalam keadaan suci ( bersih ) dan sebagai masjid (tempat untuk sholat) maka siapa saja yang mendapatkan waktu sholat maka sholatlah di mana saja ia berada”.

Hadits ini menunjukkan bolehnya sholat di mana saja, karena bumi itu diciptakan dalam keadaan suci dan boleh digunakan untuk sholat, namun keumuman hadits ini di takhsis (dikhususkan) oleh dalil-dalil yang melarang untuk sholat di tempat-tempat tertentu.

TEMPAT-TEMPAT YANG DILARANG UNTUK SHOLAT

Al Qodhi Ibnul ‘Arobi berkata: “Tempat yang tidak boleh digunakan untuk sholat ada 13, lalu beliau menyebutnya 7 tempat yang disebutkan dalam hadits bab ini (yaitu hadits dari Ibnu Umar bahwasanya Rasululloh melarang sholat di 7 tempat: Tempat penyembelihan hewan, di kuburan, di jalan, kamar mandi, kandang unta, di atas Baitullah) dan beliau menambahkan sholat menghadap kuburan, menghadap tembok WC yang ada najisnya, gereja, tempat ibadahnya orang-orang Yahudi, menghadap gambar, dan di dalam negara yang diadzab”.

Dan Imam al-Iroqi menambahkan: “Sholat di rumah rampasan, menghadap orang yang tidur dan yang berhadats dan sholat di dalam lembah, dan sholat di daerah yang diperoleh dengan rampasan, dan sholat di masjid dhiror, sholat di tungku perapian, maka menjadi 19 tempat”.

Dalil yang melarang untuk sholat di 7 tempat adalah hadits yang tersebut di atas. Adapun sholat menghadap kuburan, berdasarkan hadits yang melarang menjadikan kuburan sebagai masjid. Adapun sholat menghadap tembok WC adalah berdasarkan hadits Ibnu Abbas bersama 7 orang sahabat dengan lafadz: larangan sholat menghadap WC (tempat buang air).

Diriwayatkan oleh Ibnu Adi al-Iroqi berkata sanadnya tidak shohih dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab al-Mushonnif. Dari Abdillah bin Amr bahwasanya dia berkata: “Tidak boleh sholat menghadap WC. Dan dari Ali beliau berkata: Tidak boleh sholat menghadap WC. Dan dari Ibrohim beliau berkata: Mereka tidak suka sholat pada 3 tempat, maka beliau menyebutkan diantaranya WC. Dan tentang kemakruhannya ada perselisihan antara ulama’. Adapun sholat di gereja dan tempat peribadatan orang Yahudi adalah sebuah riwayat dari Ibnu Abi Syaibah didalam kitab al-Mushonnif, dari Ibnu Abbas bahwasanya beliau tidak suka sholat di dalam gereja yang di dalamnya terdapat gambar”.

Adapun larangan sholat di masjid dhiror Ibnu Hazm berkata: “Bahwasanya orang yang sholat di dalamnya tidak sah berdasarkan cerita masjid dhiror dan firman Allah Ta’alah :

لاَتَقُمْ فِيْهِ أَبَدًا

Artinya: “Dengan demikian masjid dhiror bukanlah tempat sholat .”

Adapun sholat menghadap tungku api, maka Muhammad bin Ibnu Sirin memakruhkannya, dan beliau berkata itu adalah rumah api, ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya al-Mushonnif.

Ibnu Hazm menambahkan tidak boleh sholat di masjid yang di dalamnya digunakan untuk mengolok-olok Allah dan Rasul-Nya atau bagian dari dien, atau di tempat yang di dalamnya diingkari sesuatu dari dien.

Al-Hadwiyah menambahkan: “Makruh sholat menghadap orang yang berhadats, orang yang fasiq, dan pendusta”.

Al-Imam Yahya menambahkan: “Begitu juga menghadap orang junub dan haid. Dengan demikian jumblah keseluruhannya adalah 26 tempat”.

Dan yang digunakan dalil atas makruhnya sholat orang yang berhadats adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Yahya dalam kitab Al-Intishor dengan lafadznya:

لاَ صَلَاةَ إِلَى مُحْدِثٍ لاَ صَلاَةَ إِلَى جُنُبٍ لاَ صَلَاةَ إِلَى حَائِضٍ

Dan ada yang mengatakan bahwasanya dalil atas makruhnya sholat menghadap orang yang berhadats adalah diqiyaskan dengan orang yang haidh, padahal jelas bahwasanya orang yang haidh itu memutuskan sholat, adapun menghadap orang yang fasiq adalah penghinaan padanya, seperti barang yang najis.

Adapun landasan tentang larangan sholat menghadap lampu adalah menyerupai dengan para penyembah api, dan yang lebih benar adalah tidak khusus menghadap lampu dan tungku api namun makruh secara umum menghadap api baik lampu dan yang lainnya.

Diriwayatkan dari Hasan bahwasanya beliau memakruhkanm, adapun as-Sya’bi dan Atho’ bin Abi Robah menganggap sholat di dalam gereja dan tempat peribadatan Yahudi tidak apa-apa. Dan Ibnu Sirin berpendapat bahwasanya sholat di dalam gereja itu tidak apa-apa.Bahwasanya Abu Musa al-Asy’ari dan Umar bin Abdul Aziz pernah sholat di dalam gereja dan mungkin mereka memakruhkan itu karena orang-orang Yahudi dan Nashroni menjadikan kuburan para Nabi dan orang-orang sholeh mereka sebagai masjid (tempat ibadah), sehingga tempat peribadatan itu semua mengandung kemungkinan berasal dari kuburan para Nabi dan orang-orang yang sholeh.

Adapun sholat menghadap gambar berdasarkan hadits shohih dari ’Aisyah bahwasanya Rasululloh bersabda kepadanya: Singkirkan kainmu ini dariku karena gambar-gambarnya senantiasa terpampang di dalam sholatku, sedangkan kainnya ‘Aisyah itu terdapat gambar-gambar.

Adapun dalil yang melarang sholat dinegri yang tertimpa adzab adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abi dawud dari Ali bahwasanya beliau berkata : ( Rosululloh melarangku untuk sholat dinegri babil karena negri tersebut terlaknat, dan pada sanadnya ada kelemahan.

Adapun dalil yang melarang sholat yang menghadap orang yang tidur adalah hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan Abu dawud dan Ibnu Majah namun di dalam sanadnya ada yang tidak disebut sanadnya.

Adapun dalil yang melarang sholat di dalam lembah adalah riwayat dari beberapa jalan, hadits masalah ini sebagai ganti kuburan. Al-Hafidz berkata “Ini adalah tambahan bathil yang tidak dikenal.

Adapun larangan sholat ditanah hasil rampasan adalah karena menggunakan harta orang lain tanpa seizinnya.

Sedangkan tentang orang yang junub dan haidh adalah berlandaskan hadits yang disebutkan dalam kitab Al- Intishor di atas dan juga karena orang haidh itu memutuskan orang yang sholat .

Dan ketahuilah bahwasanya orang-orang yang berpendapat atas sahnya sholat di semua tempat yang tersebut di atas atau sebagian besar daripadanya berpegang dengan hadits hadits yang shohih seperti hadits yang berbunyi,

أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلاَةَ فَصَلِِّ

Artinya: Dimana saja engkau mendapatkan waktu sholat maka sholatlah.

Adapun hadits hadits yang melarang sholat di kuburan, kamar mandi, dan lain-lain adalah hadits yang mengkhususkan dari keumuman hadits di atas, namun hadits hadits itu tidak shohih, sedangkan hadits yang tidak shohih tidak bisa digunakan untuk landasan ibadah.

Sedangkan sholat di rumah orang kafir itu tidak ada larangan padanya sehingga ia masuk dalam keumuman hadits yamng membolehkan sholat di mana saja.

Sebagaimana yang di tanyakan pada Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts al-Ilmiyah Wal Ifta’, bahwasanya ada orang yang bertanya: Kadang-kadang datang waktu sholat sedangkan saya berada di rumah orang Nashroni, lalu aku pun mengambil sajadahku dan sholat di hadapan mereka. Apakah sholat saya sah, karena saya sholat di rumah mereka ?

Jawab: Ya, sholat Anda sah, semoga Allah menambah kesemangatanmu dalam menta’atinya, khususnya dalam melaksanakan sholat 5 waktu tepat pada waktunya, dan yang wajib adalah kamu harus berusaha mengerjakannya secara berjama’ah, memakmurkan masjid selama kamu bisa melaksanakannya. (Fatwa No: 3262 jilid: 6 hal: 207)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: