SHOLAT DUA HARI RAYA


 

DEFINISI DAN PENSYARIATANNYA

Kata العيد berasal dari kata العود yang berarti الرجوع والمعاودة (kembali dan berulang-ulang), dinamakan demikian karena selalu berulang يتكرر  . Awalnya dari kata العود  lalu huruf wawu diganti dengan ya’ (ي), seperti pada kata الميقات dan kata الميزان  yang berasal dari kataالوقت  dan الوزن. Jama’ dari العيد adalah أعياد , menurut Imam al-Jauhari, dijama’kan menjadi اعياد dan bukan menjadi أعواد adalah untuk membedakannya dengan أعواد الخشب .1

Sholat ‘iedain maknanya adalah sholat hari raya ‘idul Fithri dan ‘idul Adha, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah:

عن جابر رضي الله عنه قال : قدم رسول الله صلى الله عليه و سلم المدينة ولهن يومان يلعبون فيهما فقال : ماهذان اليومان؟ قيل : كنا نلعب فيها فى الجاهلية فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : قد أبدلكم بهما خيرا منهما : يوم الأضحى ويوم الفطر

Dari Jabir, berkata: Rasulullah datang ke Madinah, sedangkan penduduk Madinah mempunyai dua hari raya yang mereka rayakan. Beliau bertanya,“ Dua hari raya apakah ini? “ Maka dijawab: “Kami merayakannya pada masa Jahiliyyah.“ Maka beliau bersabda“ Allah telah mengganti  dua hari raya ini dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘idul Adha dan ‘idul Fitri.” (HR Abu Daud no. 1134. Nasa’i no. 1557, Ahmad 3/103,178,235,250)

Sholat ‘idain ini disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah.

HUKUM SHOLAT ‘IEDAIN

Para Ulama berbeda pendapat tentang hukum sholat ‘idaini .2

Fardlu kifayah

Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan sebagian ulama Syafi’iyah. Dasarnya adalah  Firman Allah di dalam surat al-Kautsar:

فصَلِّ لِرَبِّكَ واَنحْر

Artinya: “Sholatlah kamu kepada Robbmu dan sembelihlah Qurban.“

Pendapat yang masyhur menyatakan bahwa sholat di sini adalah sholat ‘ied sedangkan asli dari perintah adalah wajib, dan Rasulullah selalu mengerjakannya. Sholat ‘ied termasuk syiar islam yang bila satu negeri sepakat tidak mengerjakannya, maka diperangi  oleh Imam/pemerintah.

Wajibnya adalah wajib kifayah karena tidak disyariatkan adzan, sehinggga hukumnya seperti sholat jenazah.

Fardlu ‘ain

Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah. Dasarnya adalah karena adanya khutbah, sehingga dihukumi seperti sholat jum’ah.

Sunnah muakkadah.

Ini adalah pendapat Imam Malik, Syafi’i dan jumhur ulama. Dasarnya adalah:

1) Ketika seorang Arab Badui datang bertanya kepada Rasulullah tentang sholat lima waktu: “Apakah saya wajib sholat yang lain?” Beliau menjawab,“ Tidak, kecuali kamu mau melakukan sholat sunnah “.

2) Sabda Rasulullah:

خمس صلوات كتبهن الله على العباد فىاليوم والليلة

Artinya: “Sholat lima waktu yang telah diwajibkan Allah atas hambanya dalam sehari semalam.“

WAKTU PELAKSANAAN SHOLAT1

a) Waktunya adalah waktu dhuha, yaitu tatkala matahari sudah setinggi tombak sampai waktu tergelincirnya matahari. Dasarnya adalah sabda Rasulullah:

عن عبد الله بن بشر أنه خرج مع الناس عيد الفطر والأضحى فأنكر إبطاء الامام و قال : إنا كنا قد فرغنا ساعتنا هذه وذالك حين التسبيح

Dari Abdulloh bin Basyar; Dia keluar bersama masyarakat pada hari raya ‘idul ‎Fitri dan ‘idul Adha lalu beliau mengingkari keterlambatan datangnya imam. Ia berkata,”Kita telah menyia-nyiakan waktu ini.” Beliau berkata seperti itu saat waktu menunjukkan bolehnya sholat tasbih.” (Hasan. H‎R Bukhori secara mu’alaq 2 / 529, Abu Dawud secara maushul no, 1135, Ibnu Majah no. 1317, al-Hakim 1 / 295, al-Baihaqi 2/282)

Maksud hadits ini, beliau menyatakan bahwa mengakhirkan waktu sholat dari yang sebenarnya, yaitu waktu sholat tasbih yang berarti setelah matahari setinggi tombak  (karena itulah waktu yang diperbolehkan sholat sunnah) adalah makruh.

b) Lebih dari itu, disunnahkan untuk menyegerakan sholat ‘idul Adha dan mengakhirkan sholat ‘idul Fitri.

روي أن النبي  e   كتب الى عمرو بن حزم  أن أخر الصـلاة الفطـر وعجـل  صلاة الأضحى – وفى رواية كتب الى عمز وابن حزم وهــو بنجران أن عجل  الأضحى وأخر الفطر وذكر الناس

Diriwayatkan bahwa Nabi menulis surat kepada Amru bin ‘Ash yang saat itu berada di Najron, “Segerakan sholat ‘idul Adha, akhirkan sholat ‘idul fitri dan berilah peringatan kepada manusia.” (Sunan al-Kubro lil Baihaqi 3/282, Syafi’i 2/232, hadits ini mursal dhoif, karena dalam sanadnya ada Ibrohim bin Muhammad ini dho’if).2

Hadits ini dijelaskan oleh hadits berikutnya :

عن جندب قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلى بنا يوم الفطر والشمس علـى قيدرمحين والأضحىعلى قيد رمح

Dari Jundub berkata: ”Nabi sholat ‘idul Fitri bersama kami saat matahari setinggi dua tombak dan sholat ‘idul Adha ketika matahari setinggi satu tombak.” (dhoif, diriwayatkan Hasan bin Ahmad al-Banna dalam kitab Al-Adha { lihat Talkhis Ibnu Najar 2/83}

Dalam sanad ini ada Ma’na bin bin Hilal bin Suwaaid , Ibnu Hajjar berkata: “Para pengkritik sepakat bahwa ia ini dusta.”

Imam  Syaukani Berkata: “Hadits yang paling baik dalam menerangkan waktu sholat ‘iedain adalah hadits Jundub di atas.”

Hikmahnya adalah: Karena dalam ‘idul Fitri ada kewajiban mengeluarkan zakat sehinggga dengan diakhirkan waktu sholat ada waktu untuk membayar dan membagikan zakat. Sedang tugas di hari ‘idul Adha adalah menyembelih kurban. Dengan disegerakannya sholat, berarti waktu menyembelih lebih luas.

Bagaimana kalau kabar tentang sholat ‘ied ini  baru diketahui setelah siang hari atau sore hari ?

Orang yang berpuasa harus segera berbuka, dan menurut  :

a) Imam ‎Malik dan Syafi’i: Tidak perlu sholat ‘ied besok harinya karena sholat ‘ied harus ada jama’ah dan khutbah ‘ied. Keduanya tidak diqodlo sebagaimana hal yang sama pada sholat jum’at. Rasulullah juga bersabda:

فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوُنَ وَ أَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحَّوْنَ

Artinya: “Fitri adalah pada hari kalian semua berbuka, adha kalian adalah pada hari kalian semua menyembelih qurban.” (Abu Dawud 1/543, Tirmidzi ‘Aridzatul  3/216, Ibnu Majjah1/531)

b) Pendapat yang kuat menyatakan mereka hendaknya melakukan sholat ‘ied besok harinya. Ini adalah pendapat Ahmad, Auza’i, ats-Tsaury, Ishaq, Ibnu Mundzir dan al-Khitobi, dasarnya:

عَنْ أَبِي عُمَيْرِ بِنْ أَنَسٍ عَنْ عُمُوْمَةٍ لَهُ مِنْ اْلأنْصَارِ قَالُوْا : غُمَّ عَلَيْنَا هِلاَلُ شَــوَالٍ فَأَصْبَحْنَا صِيَامًا فَجَاءَ رَكْبٌ فِى النَّهَارِ فَشَهَدُوْا عِنْدَ رسول الله صلى الله عليه وسلـم  أَنَّهُمْ رَأَى اْلِهلالَ بِلَأمْسِ فَأَمَرَ النَّاسَ أَنْ يُفْطِرُوْا مِنْ يَوْمِهِمْ وَ َأنْ يَخْرُجُوْا لِـعِيْدِهِـمْ مِنَ اْلغَدِّ

Artinya: Dari Umair bin Anas, dari pamannya, para shohabat Anshor mereka berkata: “Kami tertutup mendung sehingga tidak melihat hilal syawal. Paginya kami puasa. Sore hari itu juga datang rombongan (kafilah dagang–pent) lalu bersaksi di hadapan Rasulullah bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka Rasulullah memerintahkan berbuka dan untuk bersiap sholat ‘ied besok harinya.” (Shohih, Ahmad 5/38, Abu Dawud no. 1157, Nasai 1/180, Ibnu Majah no. 1653, Daruqutni 2/170, Syarhu Ma’anil Atsar 1/387, al-Baihaqi 3/316)

MASALAH TAKBIRAN

Para  ulama berbeda pendapat tentang  waktu takbiran idhul fitri:

Sejak tengggelamnya matahari malam ‘ied.

Ini adalah pendapat Sa’id bin Musayyib, Abu Salamah, Urwah, Zaid bin Aslam dan Syafi’i.

Sejak berangkat menuju tempat sholat.

Ini adalah pendapat jumhur ulama: Ali, Umar, Abu Umamah dan sebagian besar shohabat. Juga pendapat Abdurrohman bin Abi Laila, Sa’id bin Jubair, an-Nakho’i, Abu Zanad, Umar bin Abdul Aziz, Ubay bin Utsman, Abu Bakar bin Muhammad, al-Hakam, Hammad, Imam Malik, Ishaq, Abu Tsaur, dan  juga Auza’i beserta masyarakat luas.1

Adapun akhir takbir pada hari ‘Idul Fitri adalah saat imam datang untuk memulai sholat, dasar pendapat pertama:

و لتكملوا العدة ولتكبرواالله

Artinya: “Dan agar kalian menyempurnakan bilangan dan mengagungkan Allah …….”

Bisa dipahami bahwa sempurnanya bilangan puasa Raamadhan  satu bulan adalah dengan tenggelamnya matahari akhir bulan Ramadhan dan terbitnya hilal syawal. Dari situlah takbir dimulai.

Dasar pendapat yang kedua:

قاَلَ نَافِعُ : كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُكَبِّرُ يَوْمَ اْلعِيْدِ فِى اْلأَضْحَى وَالْفِطْرِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ

Artinya: Nafi’ berkata, “Ibnu Umar bertakbir pada hari ‘idul fitri dan adha beliau bertakbir dan mengeraskan suaranya.“ (Daruqutni 2 / 45, Baihaqi 3/ 279)

قاَلَ أَبُوْجَمِيْلَةَ :رَأَيْتُ عَلِيًا رَضِيَ الله عَنْهُ خَرَجَ يَوْمَ اْلعِيْدِ فَلَمْ يَزَلْ يُكَبِّرُ حَتَّى انـ‎ـتهَىَ اِلَى اْلجَـبَانَـةِ

Artinya: Berkata Abu Jamilah Masyaawah bin Ya’kub: “Saya melihat Ali keluar pada hari ‘ied, ia terus bertakbir sampai ketempat sholat.” ( Daruqutni 2/44)

Ada pendapat yang mengatakan bertakbir hanya sampai saat tiba di tempat sholat saja. Bahkan Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak ada takbir pada hari raya ‘idul fitri karena Ibnu Abbas mendengar takbir pada hari raya ‘idul fitri, maka beliau bertanya:

ما شأن الناس ؟  قيل : يكبرون ز فقال : أنجانين الناس ؟

Artinya: “Sedang apa orang-orang itu ? Dijawab: “Bertakbir.” Maka beliau menjawab : “Apa mereka sudah gila? “ (Ibnu Abi Syaibah 2/165)

Meski demikian pendapat beliau ini lemah karena ada hadits yang memerintahkan takbir sampai di tempat sholat/mau sholat, diriwayatkan:

كان يخؤج يوم الفطر فيكبر حتى يأ تى المصلى وحتى يقضى الصللاة فإ ذا قضىالصلاة قطع التكبير

Artinya: “Beliau keluar pada hari ‘idul Fitri dan bertakbir sampai tiba di tempat sholat dan melaksanakan sholat. Jika selesai sholat, beliau menghentikan takbir.” (Ibnu Abi Syaibah, Silsilah Ahadits Shohihah no. 170 )

WAKTU TAKBIR SHOLAT ‘IDUL ADHA

1)  Awal mula takbir

Para ulama berbeda pendapat :

–          Ada yang mengatakan subuh hari Arofah.

–          Ada yang mengatakan subuh hari Arofah.

–          Ada yang mengatakan ashar hari Arofah.

–          Ada yang mengatakan setelah tenggelamnya matahari hari Arofah , diqiyaskan dengan sholat ‘idul fitri.

 

Imam ash-Shon’ani (Subulus Salam 2/71-72) berkata: “Tidak ada sebuah hadits shohihpun dari Nabi dalam hal ini. Yang paling shohih adalah perkataan Ali dan Ibnu Mas’ud bahwa takbir sejak subuh hari Arofah sampai akhir hari Mina  (ashar). Dua atsar ( perkataan Ali dan Ibnu Mas’ud ) ini diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir.

Pendapat ini kuat menurut Ibnu Taimiyyah (Majmu’ fatawa 24/220) karena merupakan pendapat kebanyakan shohabat dan ulama. Pendapat ini dikuatkan oleh :1

عن محمد بن أبى بكر الثـقفي أنه سأل أنس بن مالك وهما غاديان من منى إلى عرفات : كيف كنتم تصنعون فى هذا اليوم  مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ فقال : كان يهلل المهلل منا فلا ينكر عليه ويكبر المكبر فلا ينكر عليه

Artinya: Muhammad bin Abu bakar Atsaqofi bertanya kepada Anas bin Malik saat keduanya berangkat dari Mina Ke Arofah, “Apa yang kalian kerjakan dahulu bersama Rasulullah pada hari ini?“ Anas menjawab, “Di antara kami ada yang bertahlil dan Rasulullah tidak mengingkari, sebagian yang lain ada yang betakbir dan beliau juga tidak mengingkari.” (Malik 1/337, Bukhori no. 970, 1659, Muslim 1285, Ibnu Majah 3008, Al Baihaqi 3/313, 5/112, Darimi 2/56, Ahmad  3/240, Ibnu Hibban 3847, an-Nasai 5/250)

عن ابن عمر قال : كنا مع  رسول الله صلى الله عليه وسلم فى غداة عرفة فمنا المكبر ومنا المهلل فأما نحن فنكبر

Artinya: Ibnu Ummar berkata: “Pada pagi hari Arofah kami bersama Rasululloh. Di antara kami ada yang bertahlil dam ada pula yang bertakbir. Kalau saya bertakbir.” (Muslim no. 1285, Baihaqi 5/112)

Imam Baihaqi (3/313) dan al-Hakim (1/299) juga meriwayatkan takbir sejak habis subuh hari Arofah sampai akhir hari tasyrri’. Ini dari shohabat Ali, Umar dan Ibnu Abbas.

2) akhir takbir ‘idul adha

–          Akhir/Ashar hari tasyri’ yang terakhir. Ini pendapat Umar, Ali, Ibnu Abbas, Sufyan ats-Tsaury, Abu Yusuf, Muhammad, Ahmad dan Abu Tsaur.

–          Ashar hari nahar/10 Dzulhijjah. Ini pendapat Ibnu Mas’ud, Alqomah, an-Nakho’i dan Abu Hanifah.2

–          Subuh hari tasyri’ terakhir. Ini adalah pendapat Ibnu Umar, Umar bin Abdul Aziz, Malik dan Syafi’i.3

–          Dhuhur hari tasyri’ terakhir. Ini adalah pendapat Yahya al-Anshori.4

Pendapat yang kuat mengatakan bahwa takbir tidak hanya sesudah sholat fardhu saja, namun juga di pasar, jalan, dan di tempat-tempat yang lainnya.

كان ابن عمر يكبر بمنى ذكر أحمد ذلك الأيام خلف الصلوات و على فر سه وفى فسطاطه و مجلسه و ممشاه تلك الأيام جميعا وكان يكبر فى قبته بمنى حتى نسمعه أهل المسجد فيكبرون ويكبر أهل السوق حتى ترتج منى تكبيرا

Artinya: Ibnu Umar bertakbir di Mina setelah sholat, baik di atas ranjang, kemah, tempat duduk dan jalan-jalan pada hari-hari tersebut dan dia bertakbir di kubah. Suaranya dapat didengar oleh orang yamg berada di masjid, maka mereka ikut bertakbir, serta merta ikut bertakbir pula seluruh penduduk di pasar sehingga Mina bergemuruh dengan suara takbir. (Bukhori 2/25)

Dalam hal takbir sesudah sholat wajib masih ada perbedaan pendapat:[1]

–          Bertakbir meskipun sholat sendirian. Ini adalah pendapat Imam Malik, Syafi’i, Auza’i, Abu Yahya, Muhammad dan jumhur ulama.

–          Tidak bertakbir dalam sholat sendirian. Ini adalah pendapat Ibn Mas’ud,m Ibnu Umar, ats-Tsaury, Abu Hanifah dan Ahmad.

Apakah sesudah sholat sunnah juga bertakbir ? Dalam hal ini ada dua pendapat juga:

–          Bertakbir. Ini pendapat Imam Syafi’i.

–          Tidak bertakbir. Ini pendapat Imam Malik, Ahmad, Abu Hanifah dan ats-Tsaury. Ini berdasarkan perbuatan Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud.[2]

ADAB-ADAB SHOLAT ‘IED [3]

Beberapa adab  yang perlu diperhatikan  sebelum kita melaksanakan sholat ‘ied:

1)  Mandi dan memakai pakaian yang bagus

Ibnu Umar dan Ali mandi pada hari raya. Begitu juga Alqomah, Urwah, Atho’, an-Nakho’i, asy-Sya’bi, Qotadah, Abu Zinad, Malik, Syafi’i dan Ibnu Mundzir. Ini berdasar riwayat  Ibnu Abbas dan Fakih bin Sa’ad.

أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله علسه وسلم كان يغتسل يوم الفطر والأ ضحى

Artinya: “Rasulullah mandi pada hari raya ‘idul fitri dan ‘idul adha”. (Ibnu Majjah 1/417,  Ahmad 4/76. dha’if)

عن عبدالله بن عمر قال :وجد عمر حلة من إستيراق فىالسوق فأخذ ها فأتى بها النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يارسول الله ابتع هذه نتجمل بها فىالعيد ين والوفد فقـال  النبي صلى الله عليه وسلم : إنما هذه لبا س من  لا خلاق لهم

Artinya: Ibnu Umar berkata, ”Umar mengambil sutra tebal dari pasar, lalu dia mendatangai Rasulullah dan berkata, ”Ya, Rasulullah, belilah jubah ini supaya anda dapat berhias dengannya pada hari raya dan saat menerima utusan”. Rasulullah  menjawab: “Ini adalah pakaian orang yang tidak punya bagian di akhirat ….” (Bukhori 886,948, Muslim 2068, Abu Daud 1076, Nasai 3/181, Ahmad 2/20)

Hadits ini menunjukkan kebiasaan mereka berpakaian bagus di hari  Jum’at dan ‘ied. Adapun yang diingkari adalah pakaian yang terlarang seperti sutra.

2)  Makan dahulu sebelum menunaikan sholat iedul fitri.

Dari Anas bin Maliik bahwasannya Rasululloh tidak pergi ke tempat shalat ‘ied sampai makan dulu beberapa butir kurma.’ [Bukhari 953, Tirmidzi 543, Ibnu Majah 1754, Ahmad 3/126].

Sedang di hari iedhul adha tidak makan dulu, sebagaimana dalam satu riwayat:

عن برده قال : كان النبي لا يخرج يوم الفطر حتى يطعم ويوم النحر لا يأكل حتى يرجع فيأكل من نسيكته

Artinya: Dari Buraidah, bahwasannya Nabi tidak berangkat shalat iedh fitri sampai makan dulu sedang padahari iedhul adha tidak makan sampai pulang dari sholat iedhul adha lalu makan dari sembelihan beliau.” [Tirmidzi 542, Ibnu Majah 1756, Ahmad 5/352]

3) Bertakbir sejak dari rumah sampai tiba di tempat shalat dan imam hadir untuk mengimami shalat.

4) Berjalan kaki ke tempat shalat dan pergi pulang lewat jalan yang berbeda.

عن جابر بن عبد الله : كان النبي إذا كان يوم عيد خالف الطريق

Artinya: Dari Jabir bin Abdullah, ”Pada hari ‘ied beliau pulang pergi lewat jalan yang berbeda.” [Bukhari 986, Baihaqi 3/308]

Ini adalah pendapat jumhur ulama, Imam Malik dan Syafi’i.1

5) Hendaknya shalat diadakan di lapangan kecuali dalam keadaan darurat seperti hujan dan yang semisalnya sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasululloh dan Khulafa Rosyidin.

Ibnu Mundzir mengatakan, ”Pendapat in adalah pendapat al-Auza’i dan Ahlu Ro’yi.

Imam Syafi’i berpendapat: Disunnahkan sholat di lapangan apabila masjidnya sempit, akan tetapi kalau luas lebih afdhol dilaksanakan di masjid karena masjid lebih mulia lagi bersih.

عن أبى هريرة رضي الله  عنه قال : أصبنا مطر فى يوم عيد فصلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فى المسجدز

Artinya: Dari Abu Huroiroh beliau berkata, ”Kita semua kehujanan pada hari ‘ied, maka kam mejalankan sholat berssama dengan Rasulullah  di masjid. (Abu Daud 1160, Al Hakim 1/295, Ibnu Majah 1313, al-Baihaqi 3/310)

6) Saling mengucapkan tahniah (تقبل الله منا ومنك)  “Semoga Allah Manerima Amal Kita dan Amalmu semua. “[4]

إن محمد بن زباد قال : كنت مع ابن أمامة البا هلى ة غيره من أصحاب النبي صلـى الله عليه وسلم فكانوا إذ أحمد رجعوا من العيد يقول بعضهم لبعض : تقيل الله منا ومنك وقال أحمد اسنده جييد

Muhammad bin Ziad berkata, “Saya bersama Abi Umamah al-Bahiliy dan yang lainnya dari para shahabat Rasulullah, maka apabila mereka pulang dari sholat ‘ied, mereka saling mengucapkan تقيل الله منا ومنك . [Ahmad berkata: “isnadnya bagus “].

7) Dimakruhkan membawa senjata tajam kecuali dalam keadaan terpaksa

عن سعيد بن جبير رضي الله عنه قال : كنت مع ابن عمر حين أصابه سنان الرمح فى أحمص قدمه فلزقت قد مه بالركاب فنزلت فنزعتها وذ الك بمنى فبلغ الحجاج فجا ء يعوده فقال الحجاج لو نعلم من أصابك فقال ابن عمر أنت أصبتني قال و كيف قال حملت السلاح لم يكن يحمل فيه وأد خلت السلاح الحرام ولم يكن السلاح يدخل الحرام

Dari Sa’id bin Jubair berkata, ”Saya bersama  Ibnu Umar ketika beliau terkena mata tombak di tengah- tengah telapak kaki, maka ia terjatuh dari tunggangannya. Saya turun unuk membantunya dan mencabut mata tombak itu. Ketika kami berada di Mina, al-Hajjaj menjenguknya sambil mengatakan, “Seandainya kami tahu siapa yang melukaimu.” Maka Ibnu Umar berkata,“ Kamulah yang telah melukaiku!!” Hajaj berkata,“ Bagaimana bisa terjadi yang demikian?“. Ibnu Umar menjawab,“ Kamu membawa senjata pada hari yang seharusnya tidak boleh membawanya dan kamu memasukkan senjata ke tanah haram  yang tidak boleh membawa senjata di dalamnya.” ( HR Bukhori )

Al-Hasan berkata: “Mereka semua dilarang membawa senjata kecuali mereka takut akan musuh mereka.” Pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Mundzir.1

8) Ditekankan bagi selain Imam unuk bersegera pergi ke tempat sholat ‘ied setelah menunaikan sholat  subuh walaupun matahari belum terbit. Ini adalah pendapat Hanafi, Syafi’i da Hambali. Sedangkan menurut madzhab Malikiyah disunnahkan setelah terbitnya fajar. 2

9) Hendaknya menampakkan wajah yang berseri-seri penuh kebahagiaan kepada siapa   saja yang ditemuinya dari orang-orang mukmin.3

10) Diperbolehkan membuat makanan dan minuman yang istimewa serta permainan yang mubah, sebagaimana sabda Rasulullah:

أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكرالله عز وجل

Artinya: “Hari Tasyriq adalah hari-hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allah.” (HR Muslim)

Anas berkata, “Nabi mendatangi Madinah dan mereka bersenang-senang selama 2 hari lamanya. Maka Rasulullah bersabda: “Sesunggunya Allah telah mengganti dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari ‘iedul fitri dan ‘iedul adha.” Lebih lanjut beliau berkata kepada Abu Bakar yang membentak dua budak wanita yang sedang berdendang di rumah Aisyah: ”Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita.” (HR an-Nasa’i)

TATA CARA SHOLAT ‘IED

1) Ketika tiba di mushola (masjid atau lapangan), Imam segera maju ke depan untuk mengimami. Ia menegakkan sutrah (pembatas) di depannya.

2)  Kemudian ia bertakbir tanpa ada adzan dan iqomah sebelumnya.

عَنُ أَبِي سَعِيُدِ الخدري أن النبي صلـى الله عليه وسلم كـان يخرج يوم الفطـر والأ ضحىالىالمصلى فيبداء بالصلاة

Artinya: Dari Abu Sa’id al-Khudry, “Bahwa Rasulullah  keluar ke tempat sholat pada hari raya ‘idul fitri dan adha. Yang pertama kali beliau lakukan adalah sholat.” ( HR Bukhori dan Muslim )

عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلا العيد بلا أذن ولا إقامــة وأبا بكر وعمر وعثمان

Artinya: Dari Ibnu Abbas, “Bahwa Rasululoh sholat ‘ied tanpa adzan dan iqomah, begitu juga dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman.” (Abu Daud 1147, Ibnu Majah 1274, Baihaqi 3/296)

Adapun ucapan “الصلاة جامعة “ dasarnya adalah hadits riwayat az-Zuhri yang dho’if dan mursal. Menurut Imam Nawawi, dibolehkan mengucapkan kalimat ini adalah berdasar qiyas sholat kusuf, dimana disebutkan:

عن عائشة قالت : إن الشمس خسف على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فبعث مناديا : الصلاة جامعة

Artinya: Dari ‘Aisyah, “Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah, kemudian beliau mengutus seorang utusan yang menyeru: “Ash-Sholatu Jami’ah.” (HR Bukhori 1066, Muslim 901, Abu Daud 1190, Nasai 3 / 127, Daruqutni 2/62)

3) Disunnahkan takbir tujuh kali pada rokaat pertama dan takbir lima kali pada rokaat kedua, takbir ini tidak terhitung takbirotul ikhrom dan intiqol. Disunnahkan juga mengangkat tangan ketika bertakbir.

عن عبدد الله بن عمرو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يكبر فى الفطر سبع فىالأولى و خمس فى الأخرة والقرءة بعد كلتيهما

Artinya: Dari Abdulloh bin Amru: “Rasulullah sholat ‘ied. Beliau bertakbir 7 kali pada rokaat pertama dan lima kali pada rokaat kedua. Kemudian barulah beliau membaca surat.” (Abu Daud 1151, Baihaqi 3/258, Daruqutni 2/48, Ibnu Majah 1278)

Mengangkat tangan adalah sunnah menurut Atho’, al-Auza’i, Abu Hanifah, Ahmad dan Syafi’i. Berdasarkan pendapat Umar dan riwayat Abu Humaid. Namun kedua riwayat ini lemah.1

Imam Malik  dan ats-Tsaury menyatakan tidak mengangkat tangan saat takbir. Meski demikian, para shahabat mengangkat tangan mereka ketika bertakbir. Di antara takbir, disunnahkan untuk memperbanyak tasbih  dan tahmid. Ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Syafi’i. Berdasarkan fatwa Ibnu Mas’ud kepada al-Walid bin Uqbah:

تكبر و تحميد ربك و تصلى على النيي الله صلى الله عليه وسلم وتدعوا وتكبر وتفعل مثل ذلك

Artinya: “Kamu bertakbir, bertahmid dan bersholawat lalu berdoa dan bertakbir lagi, begitu seterusnya.”Shohabat Abu Musa dan Hudzaifah berkomentar:” Ibnu Mas’ud benar.” (Baihaqi 2/240)

Adapun Imam Malik, Abu Hanifah dan al-Auza’i tidak menyukai dzikir di antara takbir, karena tidak ada riwayat yang jelas dari Rasulullah tentang itu.

4) Disunnahkan membaca antara lain:

–          Rekaat peertama; Surat Qoof  atau al-A’la.

–          Rekaat kedua; Surat al-Qomar atau al-Ghosiyah.

عن أبي واقد الليثي :  كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ فى الفطر و الأضحى بـ (ق ) و ( إقترب السا عة )

Artinya: Dari Abu Waqid al-Laitsi, “Bahwa Rasulullah membaca  surat Qoof dan al-Qomar pada sholat ‘iedul fitri dan adha.” (Muslilm 891, Tirmidzi 534, Abu Daud 1154, Nasa’i 3/83, Ibnu Majah 1282, Ahmad 5/217, Baghowi 1091,)

عن النعمان بن بشير أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قراء فى الصلاة العيد سبح اسم ربك الأعلى و هل أتك حديث الغا شية

Artinya: Dari Nu’man bin Basyir: ”Rasulullah sholat ‘ied dan membaca al- ‘Ala dan al- Ghosyiyah.” (Muslim 878, Tirmidzi 533, Abu Daud 1122, Ahmad 4/273, Ibnu Majah 1281, Darimi 368, Baghowi 1091, Nasa’i 3/184)

5) Selanjutnya seperti sholat biasa sebanyak dua rokaat.

Bagi yang ketinggalan sholat1

–        Menurut Ibnu Mas’ud, Ahmad, Syafi’i dan Ibnu mundzir: sholat dua rekaat sendirian. Ini juga pendapat Auza’i dan Abu Tsaur.

–        Menurut Abu Hanifah dan Malik: tidak ada sholat qodho.

–        Pendapat pertama lebih kuat, berdasar riwayat Ibnu Abi Syaibah (2/183) dan al-Baihaqi 3/305 bahwa Anas bila ketinggalan sholat ‘ied bersama imam di Basroh, ia sholat bersama keluarganya.2 Hadits ini diperkuat oleh Imam Bukhori. (Fathul Baary 2/ 602).

6) Khutbah sesudah sholat ‘ied hukumnya sunah, begitu juga mendengarkannya.

7) Tidak ada sholat sunnah sesudah dan sebelum  sholat ‘ied.

عن ابن عباس : أن النبي صلى الله عليه وسلم خرج يوم الفطر فصلى ركعتين لم يصلى قبلها ولا بعدها و معه بلال

Artinya: Dari Ibnu Abbas, ”Sesungguhnya Nabi keluar pada hari raya fitri dan adha dan sholat dua rokaat dan tidak sholat sebelum dan sesudahnya dan bersamanya adalah Bilal.” (Bukhori 289, Al Fath 2/204)

Demikian sekilas gambaran pelaksanaan sholat iedul fitri dan adha. Semoga bermanfaat, mohon maaf atas segala kesalahan dan atau kekurangan. Wallahu A’lam bish Shawab.


1.Al majmu’ 5 / 3, Nailul Author 3 / 248

2Al Mughni 3 / 203, Al Majmu’ 5 / 3-4, Minhajul Muslim 262, Zaadul Ma’ad 1 / 425

1 Nailul Author 3/360-361,Al Mughni 3/ 266-267

2 Nailul Author 3/360, Al majmu’5/5

11 Majmu’ Syarhu Muhadzab 5 / 46, Al Mughni 3 / 262

11 Al majmu’ syarhu Muhadzab 6 / 40

2 Ibnu syaibah 2/166, berdasar Qs 22:28

3 Al Majmu’ 5/45

4 Menurut mereka awalnya dhuur hari Arofah, mengikuti kegiatan haji.( Al Mughni  3/ 288 )

1 Majmu’ 5/45

[2] Al Mughni3/291

[3] Al Mughni 3/255

1 Salsabil fi ma’rifati dalil, 2/32, Al Majmu’ 5/15

2

1 Nailul Author 3/349-350

2 Fiqia ‘ala Madzahil arba’ah 1/318

3 Ibid 1/318

1 Al Majmu’ 5/20-21, Al Mughni 3/ 272-273, riwayat Umar dalam Baihaqi 3/243

1 Al Mughni 3/384, Al Majmu’ 5/34

2 Dhoif / munqothi’, lihat Al Sal sabil 1 / 205

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: