Shoum Syawal



Dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshari t berkata, saya mendengar Rasulullah r bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barang siapa yang puasa ramadhan, kemudian dan meneruskannya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim;1164, At-Tirmidzi;759, Abu Dawud;2416) hadits shahih.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membuat bab khusus tentang sunnahnya puasa enam hari di bulan syawal. Beliau berkata, “Ini adalah dalil yang jelas tentang sunnahnya puasa Syawal.” Dan ini juga yang menjadi dasar madzhab Syafi’ie, Ahmad, Dawud dan yang sependapat dengannya.

Adapun Imam Malik dan Abu Hanifah memakruhkannya, dengan alasan agar orang-orang tidak menganggapnya suatu yang wajib. Akan tetapi dasar yang dipakai oleh Imam Syafi’I dalam hal ini lebih sesuai dengan dalil yang shohih dan jelas, sehingga jika sudah ada ketetapan sunnah maka tidak ditinggalkan begitu saja hanya karena sebagian orang tidak mengerjakannya. Dan pernyataan “Agar orang-orang tidak menganggapnya wajib” berarti mengandung konsekuensi akan gugurnya puasa-puasa sunnah yang lainnya seperti; puasa Arafah, Asy-Syura dan yang lainnya.[1]

Imam Abul Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Al-Ahwadzi berkata, “Adapun pendapat yang menyatakan makruhnya puasa Syawal adalah bathil dan menyelisihi hadits nabi r. Bahkan mayoritas Masyayikh Hanafiyah mengatakan tidak mengapa.”

Ibnu Hammam berkata, “Menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf puasa Syawal adalah makruh, tetapi menurut mayoritas masyayikh mereka tidak.”[2]

 

Menyibak Syubhat Imam Malik

Dalam kitab Al-Muwatho’[3] Imam Malik mengatakan bahwa:

  1. Saya tidak pernah melihat seorangpun dari kalangan ahlu ilmi dan fiqh yang mengerjakannya, begitu juga para salaf. Bahkan ahlu ilmi  memakruhkannya karena khawatir menjadi suatu bid’ah.
  2. Bersambungnya antara puasa wajib –ramadhan– dengan yang lainnya, sehingga orang-orang awam akan menganggapnya wajib, dan seandainya dianjurkan niscaya mereka –ahlu ilmi– telah mengerjakannya.

 

Jawaban:

Dalam Aunul Ma’bud Al-Hafidh Syamsudin Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

  1. Ini adalah perkataan bathil. Adapun pada masa imam Malik penduduk Madinah tidak mengamalkannya, bukan berarti kaum muslimin meninggalkan seluruhnya. Karena terbukti bahwa Imam Syaif’I, Ahmad, Ibnul Mubarak serta yang lainnya pun mengerjakannya.

Ibnu Abdil Bar berkata, “Bisa jadi hadits Abu Ayyub di atas belum sampai kepada Imam Malik, padahal ini adalah hadits madani. Sehingga pernyataan beliau tidak bisa dijadikan sandaran.”

  1. Adapun kekhawatiran akan disandarkannya puasa tersebut sebagai puasa wajib adalah kekhawatiran yang berlebihan, karena puasa Syawal adalah sarana untuk memperoleh keutamaan. Dan sesungguhnya beliau –Imam Malik- tidaklah memakruhkannya –insya Allah-, karena puasa adalah perisai dan keutamaannya pun sudah jelas, -meninggalkan makan dan minum karena Allah- dan ini adalah amal kebaikan. Allah I berfirman,

وَافْعَلُوْا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Dan kerjakanlah amal kebajikan agar kalian beruntung” (Al-Haj: 77)

Dan Imam Malik tidaklah bodoh dalam masalah ini. Beliau tidaklah memakruhkannya kecuali karena khawatir bahwa jika disambung dengan puasa Syawal langsung maka orang yang bodoh dan awam akan menganggapnya wajib –seperti wajibnya ramadhan– karena disandarkan dengan ramadhan. Dan dalam sanad ini –dari jalur yang lain- ada seorang perowi yang bernama Umar bin Tsabit, dan bisa jadi beliau –imam Malik- termasuk orang yang tidak mau mengambil hadits darinya. Dan memang beliau tidak mau mengambil beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Tsabit sebagai hujjah.

Al-Qadhi Iyyadh berkata, “Mayoritas ulama mengambil hadits ini sebagai dalil, dan beliau -Imam Malik- memakruhkannya karena khawatir itu dianggap wajib.”

Namun kekhawatiran ini terbantahkan, karena puasa syawal dilaksanakan setelah iedul fitri –karena hari ied haram berpuasa– dan tidak langsung bersambung dengan ramadhan.[4]

Jadi, puasa syawal adalah termasuk sunnah[5] dan bukan makruh, apalagi bid’ah. Dan ini adalah madzhab jumhur ulama.[6] Bahkan menurut Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyebutkan bahwa dalam hal ini tidak ada perselisihan.[7]

 

Tata Cara Pelaksananaannya

Puasa Syawal bisa di kerjakan kapan saja, namun waktu yang afdhol adalah di awal bulan -setelah iedul fitri (hari kedua)- secara urut dan bersambung. Hal ini karena berarti seseorang telah bersegera dalam beramal shalih. Namun jika tidak, maka boleh mengerjakannya di pertengahan atau di akhir serta boleh berselang seling (tidak berurutan).[8] Ini juga yang dipegang oleh madzhab Syafi’ie dan pengikut Hanabilah. Sedangkan menurut imam Ahmad mengerjakannya secara berurutan atau tidak adalah sama saja, dan keutamaannya pun sama.[9]

Adapun bagi orang yang masih memiliki hutang puasa ramadhan, maka ia harus mengqadho’nya terlebih dahulu, kemudian mengerjakan puasa Syawal. Karena hadits di atas menjelaskan bahwa puasa Syawal dikerjakan setelah selesai puasa ramadhan secara utuh, dan juga karena mengqodho’ puasa adalah wajib, sedangkan puasa Syawal adalah sunnah. Oleh karena itu yang wajib lebih diutamakan dari pada yang sunnah.[10]

Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim berkata, “Jika seseorang merasa berat kalau harus mengerjakannya setelah qodho’ maka boleh mengerjakannya sebelum qodho’, hal ini berdasarkan kemutlakan hadits dari Tsauban.”[11]

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشْرِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَالِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ

“Barang siapa berpuasa ramadhan maka (puasa) sebulan  sebanding dengan sepuluh bulan, dan enam hari setelah idhul fitri maka yang demikian itulah seperti( berpuasa) satu tahun utuh” (HR. Ahmad, Nasa’I, Ibnu Majah) hadits shahih.[12]

Para ulama menjelaskan bahwa alasan mengapa seperti berpuasa satu tahun,  karena Allah I akan membalas setiap satu kebaikan dengan sepuluh pahala (1:10), sehingga puasa satu bulan sebanding dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari Syawal sebanding dengan dua bulan. Sehingga barang siapa melaksanakannya maka seolah-olah ia berpuasa satu tahun lamanya. Dan seandainya seseorang mengerjakannya setiap tahun, maka ia seperti berpuasa sepanjang hayat.[13]

Wallahu A’lam bis Showab

Refferensi:

  1. Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, Cet; I, Th; 1421 H/2000 M
  2. Al-‘Alamah Abi Thaoyib Muhammad Syamsul Haq Al-‘Adhim Adabi, Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud,Darul Fikr,Beirut,Cet;III, Th;1399H/1979 M
  3. Imam Abul Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Al-Ahwadzi, Darul Fikr, Beirut, Cet; Th; 1415 H/1995 M
  4. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, Syarh Sunnah, Darul Fikr, Beirut, Cet;  Th; 1414 H/1994 M
  5. Imam Malik, Al-Muwatho’, Darul Fikr, Beirut, Cet; III, Th’ 1422 H/2002 M
  6. Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Hajr, Kairo, Cet; II, Th; 1413 H/1992 M
  7. Syaikh Shalih bin Ibrahim Al-Bulaihi, As-Salsabil Fi Ma’rifati ad-Dalil,Maktabah Riyadh, Cet; I, Th; 1417 H/1996 M
  8. Syaikh Ibrahim bin Muhammad Salim bin Dhawayyan, Manarus Sabil, Maktabah Al-Ma’arif Linnasyr Wa At-Tauzi’, Riyadh, Cet; I, Th; 1417 H/1996M
  9. Ibnu Rusyd Al-Qurthubi An-Andalusi, Bidayatul Mujtahid,Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, Cet; I, Th;1416 H/1996 M
  10. Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Darul Kitab Al-‘Arabi, Beirut, Cet;II, Th; 1392 H/1973 M
  11. Syaikhul Islam Abi Muhammad Muwafiqudin Abdullah bin Qudamah Al-Maqdisi, Al-Kaafi Fi Fiqh Imam Hanbal, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, Cet; V,  Th;1408 H/1988 M
  12. Imam Abul Qasim Abdul Karim Muhammad bin Abdul Karim Ar-Rafi’ie Al-Qazwaini Asy-Syafi’ie, Al-‘Azis Syarh Wajiz, Darul Kutub  Al-Ilmiyah, Beirut, Cet;I, Th; 1418 H/1997 M
  13. Mahmud Muhammad Khattab As-Subki, Ad-Dinul Khalis,Cet;III, Th; 1404 H/1984 M
  14. Syaikh Abdul Azis bin Abdullah Bin Bazz, Majmu Fatawa, Cet; III, Th; 1423 H/2003 M
  15. Al-Lajnah Ad-Daimah Lilbuhutsi Ilmiyah wal Ifta’, Darul, Riyadh,Cet; III, Th; 1419H/1998 M
  16. Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, Shahih Fiqh Sunnah, Al-Maktabah At-Tauqifiyah
  17. Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Minhajul Muslim, Darul Aqidah, Kairo
  18. Syaikh Salman bin Fahd Al-‘Audah, Durus Ramadhaniyah, Cet; Th; 1425 H

 

 

 

 

 

 

@@@@@@@@@@@@@@

waru

******************

november

^^^^^^^^^^^^^^

2007

*****

^^^

*

 


[1] Syarh Shahih Muslim, 8/245, Tuhfatul Al-Ahwadzi 3/405, Syarh Sunnah 4/ 193.

[2] Tuhfatul Ah-Ahwadzi 3/404-405

[3] Al-Muwatho’:197-198

[4] ‘Aunul Ma’bud, 7/93-95, Bidayatul Mujtahid, 3/212, Ad-Dinul Kholish, 8/403-404

[5] Al-‘Azis Syarhul Wajiz;3/236, Al-Kaafi Fi Fiqh Imam Ahmad bin Hanbal; 1/363, Fiqh Sunnah; 1/449, Manarus Sabil;1/296, As-Salsabil Fi Ma’rifati Dalil; 2/186, Shahih Fiqh Sunnah; 2/134, Lajnah Ad-Daimah;10/390, Minhajul Muslim;  233

[6] Dirasah Ramadhaniyah, 110

[7] Al-Mughni; 4/439

[8], Dirasah Ramadhaniyah; 110, Lajnah Ad-Daimah; 10/391 Shahih Fiqh Sunnah; 2/134

[9] Ad-Dinul Khalis; 8/403, Fiqh Sunnah; 1/449

[10] Dirasah Ramadhaniyah; 110, Majmu Fatawa Bin Bazz; 15/392

[11] Shahih Fiqh Sunnah, 2/134

[12] Shahih Fihih Sunnah, 2/134

[13] Syarh Shahih Muslim; 8/245, Tuhfatul Al-Ahwadzi; 3/405, Syarh Sunnah; 4/193

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: