ZAKAT FITRI


Definisi Zakat Fithri

Zakat fithri yaitu shadaqah yang dikeluarkan pada akhir Ramadhan, pada malam hari Raya dan pagi harinya. Disebut  dengan zakat fithri karena ia disyariatkan ketika bulan ( Ramadhan ) telah sempurna dan pada saat umat Islam yang melaksanakan shaum sudah berbuka dari shaum Ramadhan.[1]

Al-’Allamah Ibnu Manzhur menyebutkan, arti zakat secara bahasa adalah thaharah (kesucian), pertumbuhan, barokah dan pertumbuhan. Dari kata bersinonim hal yang dikeluarkan dan pekerjaannya.[2]

Menurut Imam An-Nawawi rahimahullah, zakat fithrah dan shadaqah fithrah merupakan satu lafazh terlahir, bukan bahasa arab asli, bukan pula kata pinjaman dari bahasa lainnya, akan tetapi merupakan istilah fuqaha’. Seolah-olah dari kata خِلْقَةٌ (ciptaan), yaitu zakat untuk ciptaan  (زَكَاةُ الْخِلْقَةِ) .Penulis Al-Hawy juga mengatakan itu.[3]

Adapun secara syara’, Abdurrahman Al-Jazary berkata : “Zakat adalah penetapan hak milik tertentu untuk orang yang berhak dengan syarat-syarat yang telah ada.” [4]

Dan para ulama’ madzhab Hanbali menambahkan : “…dan dalam waktu tertentu.” [5]

Dinamakan zakat fitrah karena dengannya mewajibkan berbuka dari puasa ramadhan (tidak berpuasa lagi). Adapun penamaan lain dari zakat fitrah adalah:zakat ramadhan, zakat shaum, shadaqah fitri, shadaqah shaum, zakat al-badan, dan shadaqah ar-ru’us.

 

Disyariatkannya Zakat Fithri

Zakat fithri disyariatkan dan diwajibkan ketika shaum Ramadhan, yakni ketika bulan sya’ban tahun ke-2 Hijriah.

Diwajibkan oleh Allah Ta’ala pada bulan ramadhan 2 hari sebelum dilaksanakannya shalat ‘Ied (hari raya ‘Iedul fitri).sebab zakat fithri disandarkan kepada Ramadhan dan berbuka dari shaum. Di samping itu, tidak pernah disebutkan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat bershaum Ramadhan tanpa mengeluarkan zakat fithri.

 

Hukum Zakat Fithri

Hukum menunaikan zakat fitrah adalah wajib bagi seluruh kaum muslimin yang mampu membayarnya pada saat itu, hal ini telah disepakati oleh Jumhur Ulama’ berdasarkan dalil-dalil yang sohih diantaranya adalah firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat at taubah : 60

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيم .

Artinya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu’allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana. (QS. 9:60).

 

Juga hadits yang datang dari sahabat Abdullah bin’Umar radhiyallah ‘anhu, beliau berkata :

عن عبد الله عمر رضى الله عنهما أن رسول الله صلّى الله عليه و سلّم فرض زكاة الفطرمن رمضان صاعا من تمر أو صاعا من شعير على كل حر او عبد ذكر او انثى من المسلمين (الجماعه ).

Artinya : Dari Abdullah Bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rosulullah Sallahu ‘Alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fithrah setelah ramadlan satu sho’ dari tamar atau satu sho’ dari gandum terhadap kaum muslimin yang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan ( HR. Al Jama’ah )

Dalam lafadz lain disebutkan :

عن ابن عمر رضي الله عنه قال:فرض رسول الله صلّى الله عليه و سلّم زكاة الفطر صاعا من تمر أو صاعا من شعير على العبد و الحرّ و الذّكر و الأنثى و الصّغير و الكبير من المسلمين و أمر بها أن تؤدّى قبل خروج النّاس إلى الصّلاة   )رواه البخارى و مسلم (

Artinya:”Dari Ibnu Umar Radliyallahuanhuma ia berkata:Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah mewajibkan untuk menunaikan zakat fitrah dengan 1 sha’ kurma kering, atau 1 sha’ tepung gandum bagi setiap hamba sahaya, orang merdeka, kaum laki-laki, kaum perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin, dan beliau juga memerintahkan untuk menunaikannya sebelum orang-orang pergi mengerjakan shalat(‘Iedul Fitri)”( HR Bukhori Muslim ). Juga satu hadits lagi dari Ibnu Umar, beliau mengatakan :

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَلَى الْحُـرِّ وَ الْعَبْـدِ وَ الذَّكَرِ وَ الأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَ الْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْـلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ ( متفق عليه )

“Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fithri bagi orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar ( zakat fithri tersebut ) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan shalat ‘id ( hari Raya ).”

( Muttafaqun’alaih ).

Dalam hadits lain disebutkan :

Adapun dalil yang menunjukkan wajibnya zakat fithrah adalah hadits yang diriwayatkan olrh Al-Hafizh ‘Abdur-Razzaq dengan sanad yang shahih, dari ‘Abd bin Tsa’labah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata : Sehari atau dua hari sebelum ‘Idul Fithri, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhuthbah seraya bersabda :

 

أَدُّوا صَاعًا مِنْ بِرٍّ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ شَعِيْرٍ عَنْ كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ، صَغِيْرٍ أَوْ كَبِيْرٍ

“Tunaikanlah zakat (fithrah) satu sha’ (empat mud)[6] gandum, atau kurma kering,

atau tepung, atas setiap yang merdeka atau budak, baik kecil atau besar.”

Diwajibkan menunaikan zakat fitrah bagi seluruh kaum muslimin baik anak kecil maupun orang dewasa, laki-laki maupun perempuan, orang yang merdeka maupun hamba sahaya yang mampu menunaikannya pada saat itu, dan ini merupakan kesepakatan Jumhur Ulama’.

Zakat ini wajib dibayarkan terhadap diri sendiri dan terhadap orang-orang yang menjadi tanggungannya. Seperti isteri dan keluarga, apabila mereka tidak mampu melaksanakannya sendiri. Akan tetapi apabila mereka mampu melaksanakannya sendiri, itu lebih baik, karena mereka sendirilah yang dimaksud dalam kewajiban tersebut.

Adapun anak kecil yang belum memiliki harta maka dibebankan pada bapaknya, sedangkan istri dibebankan pada suaminya, dan budak dibebankan pada tuan(majikan)nya , namun jika istri melakukan perbuatan nusyuz(durhaka pada suaminya) sehingga menyebabkan suaminya tidak memberikan nafkah padanya maka tidak ada kewajiban suaminya untuk membayarkan zakat fitrahnya, karena zakat fitrah itu harus ditunaikan bagi seorang muslim untuk dirinya sendiri ataupun orang-orang yang ia nafkahi(seperti : istri, anak dan budak).

Sedangkan bayi yang berada di dalam kandungan Ibunya maka tidak diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah, namun kebanyakan Ahli Ilmu menghukuminya sunnah untuk ditunaikan , karena hal itu dilakukan oleh Shahabat Utsman bin ‘Affan Radliyallahuanhu.

Zakat fithri tidak diwajibkan kecuali terhadap orang yang mempunyai kelebihan dari keperluannya ketika hari malam hari Raya dan pagi harinya. Jika ia tidak memiliki kelebihan kecuali kurang dari satu sha’ maka hendaknya ia dengan kelebihan itu ( yang jumlahnya kurang dari satu sha’ ) membayar fithrinya. Hal itu berdasarkan firman Allah ta’ala :

فَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 

artinya : Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” ( At-Taghabun :16 ).

Menurut pendapat Abi Hanifah, bahwa zakat fitrah wajib bagi wanita yang punya suami maupun tidak. Adapun menurut pendapat imam Tiga, Al Laits, serta Ishaq, Sesungguhnya seorang suami wajib mengeluarkan zakat fitrah bagi seorang istrinya. Karena ia termasuk orang yang menjadi tanggungan untuk menafkahinya. Mereka juga sepakat bahwa seorang muslim tidak boleh mengeluarkan zakat bagi istri yang kafir, meskipun dalam urusan nafkah masih menjadi kewajibanya.

Adapun untuk anak kecil, menurut pendapat jumhur, jika anak tersebut memiliki harta, wajib dikeluarkan darinya dan yang mengeluarkan adalah walinya. Tetapi jika ia tidak memiliki harta sendiri, maka kewajiban zakatnya dibebankan atas orang yang menanggung nafkahnya.4

Adapun berkanaan dengan janin, menurut jumhur fuqoha’, Zakat fitrah tidak wajib atasnya.

Sedangkan imam Ibnu Hazm berpendapat:” Jika janin telah genap (dalam perut ibunya) seratus dua puluh hari sebelum menyingsingnya fajar  hari raya,  wajib dikeluarkan zakat fitrah atasnya.

Ibnu Hazm berhujjah, Bahwa Rasululloh saw telah memerintahkan untuk mengeluarkan zakat atas anak kecil  dan dewasa. Sedangkan janin termasuk dari anak kecil. Maka setiap hukum yang diberlakukan atas anak kecil berlaku juga terhadap janin. Ibnu Hazm meriwayatkan dari Utsman bin Affan bahwasanya ia mengeluarkan zakat fitrah atas anak kecil, dewasa, dan janin dalam kandungan.

Yang benar bahwa apa yang dikatakan oleh Ibnu Hazm tidaklah memilliki dalil yang kuat atas wajibnya mengeluarkan zakat fitrah atas janin. Dan salah jika dikatakan bahwa kalimat anak kecil (shoghir) dalam hadits mencakup janin yang ada dalam kandungan. Dan apa yang diriwayatkan oleh Utsman ra dan yang lainnya  tidaklah menunjukkan adanya istihbab dalam mengeluarkanya. Barang siapa yang melakukanya itu baik baginya.

Imam Syaukani menyebutkan bahwa Ibnu Mundir telah menukil sebuah ijma’ atas tidak wajibnya mengeluarkan zakat kepada janin. Sedang Imam Ahmad mengistihbabkan bukan mewajibkanya.1

 

Pemilik Harta Zakat Fithrah

Madzhab Hanbali mengatakan, “Zakat fithrah wajib atas orang yang mempunyai kelebihan makanan pokoknya dan untuk keluarganya di hari ‘Ied dan malamnya selain yang dia miliki yang itu merupakan kebutuhannya, seperti tempat tinggal, pembantu, kendaraan, pakaian sederhananya, dan buku-buku pengetahuan.” [7]

Imam An-Nawawi menjelaskan : “Tentang kecukupan  ( اليسار ) adalah orang yang punya kelebihan bahan makanan pokok hari itu untuk dirinya dan keluarganya dan orang-orang yang harus ditanggungnya pada malam hari’Iedul-Fithri.[8]

 

Syarat-Syarat Mustahiq Zakat

1. Fakir kecuali Amil, Ibnu sabil, pengarang, pejuang fisabilillah meskipun mereka termasuk orang yang kaya. Begitu juga zakat halal bagi tholibul ilmi as syar’iyyah, dikarenakan menuntut ilmu syar’i adalah fardlu kifayah, ditakutkan karena dengan cenderung untuk bekerja akhirnya ia meninggalkan kewajiban menuntut ilmu tersebut.

2.         Muslim, Tidak boleh memberikan zakat kepada orang kafir (tidak ada khilaf antar       fuqoha’ dalamhal ini)

3. Bukan merupakan tanggungan nafaqoh bagi muzakki. Yaitu kaum kerabat, istri, seperti orang tua (Keatas), anak (kebawah) hal ini diKarenakan  menafkahi mereka adalah wajib hukumnya. Boleh memberikan zakat kepada kerabatnya yang lain seperti saudara laki-laki maupun saudara perempuan, paman, bibi, dan lain sebagainya. Sesuai dengan hadits Nabi saw:”

لحديث الطبراني عن سلمان بن عامر : الصّدقةُ على المسلمين صدقةٌ وهي لذي ا لرحْمِ اثنتان, صدقةٌ و صِلَّةٌ.(الطبراني). بل اِنَّ القرابةَ اَحقُّ بِزكاَةِ المُزَكِّي قال مالكُ, أَفضلُ مَنْ وضعتَ فيهِ زَكاتكَ قَرَابَتَكَ الَّذِي لاَ تَعولُ (الفقه الاسلامي 2\885,886)

hadits At-thobrony, dari Salman bin Amir:” Sebuah Shodaqoh atas muslim adalah shodaqoh dan jika ia diberikan kepada dhawi rohim dapat dua perkara yaitu shodaqoh dan menyambung tali persaudaraan.

Bahkan kerabat itu lebih berhak atas zakat. Imam malik berkata:”Lebih utama jika kamu memberikan zakatmu kepada kerabatmu yang bukan merupakan tanggunganmu.4

4. Tidak dari Bani Hasyim

5. Baligh, berakal, merdeka. 5

 

JENIS DAN UKURAN ZAKAT FITRAH

 

Adapun jenis makanan yang boleh dipergunakan untuk membayar zakat fithri ialah makanan pokok, seperti kurma,, gandum, beras, kismis, keju kering atau lainnya yang termasuk makanan pokok manusia.

Ukuran zakat fitrah yang telah ditentukan oleh Rasululloh saw adalah satu sho’ atau sebanding dengan empat mud. Dan yang dikeluarkan adalah jenis makanan yang digunakan di negeri tersebut. Baik itu gandum, Kurma, beras, zabib, dan lain sebagainya. Malikiyah menambahkan lebih baik lagi kalau jenis  yang dikeluarkan berupa bahan makanan yang terbaik dinegeri tersebut.4

Sebagaimana perkataan Abu Said ra:

عن اَبي سعيد الخذري رضي الله عنه قَالَ كُنَّا نُخرجُ زكاةَ الفطرِ صاعًا مِن طعامٍ أَو صاعًا مِن شعيرٍ أو صاعًا مِن تمَرٍ أو صاعًا مِن أقطٍ أَوْ صاعًا مِنْ زَبيبٍ (متفق عليه)

” Kami (ketika bersama Rasululloh saw.) mengeluarkan zakat fitrah dari setiap individu baik anak kecil, Besar, hamba sahaya, merdeka, mengeluarkan satu sho’ dari makanan pokok atau satu sho’ dari susu yang kering,atau satu sho’ dari gandum, atau satu sho’ dari kurma atau satu sho’ dari zabib. 5

 

Ibnu Umar radhiyallah ‘anhu berkata, bahwa :

عن ابن عمر رضي الله عنه قال:فرض رسول الله صلّى الله عليه و سلّم زكاة الفطر صاعا من تمر أو صاعا من شعير على العبد و الحرّ و الذّكر و الأنثى و الصّغير و الكبير من المسلمين و أمر بها أن تؤدّى قبل خروج النّاس إلى الصّلاة   )رواه البخارى و مسلم (

Dari Ibnu Umar berkata “Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fithri bagi orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar ( zakat fithri tersebut ) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan shalat ‘id ( hari Raya ).”

( Muttafaqun’alaih ).

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fithri di bulan Ramadhan satu sha’ kurma atau gandum, dan gandum dan itu semua disyaratkan dengan zakat berupa makanan pokok penduduk negeri, hal ini sebagaimana dikatakan Abu Sa’id Al Khudri radhiyallah ‘anhu : “Kami membayar zakat fithri saat hari raya pada masa Rasululah satu sha’ makanan, dan makanan pokok kami adalah gandum, kismis, keju kering dan kurma.”

( HR.Al-Bukhari ).

 

Ukuran Satu Sho’

Dari keterangan dalil-dalil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa yang wajib dizakati hanya 1 sha’ baik berupa gandum atau selainnya(dari makanan yang mengenyangkan), hal ini merupakan Madzhab Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, dan seluruh Jumhur Ulama’. Sedangkan pendapat Imam Abu Hanifah membolehkan dengan ½ sha’ gandum.

Satu sho sama dengan empat mud. Menurut hanafiyah, satu mud sama dengan 1,032 liter atau 815,39 gram. satu sho’ sama dengan 4,128 liter atau 3261,5 gram. 2 Adapun menurut Imam syafi’i, Ahmad, Malik, satu mud sama dengan 0,687 liter atau 543 gram. satu sho’ sama dengan 2,748  liter atau 2176 gram3

 

Kadar zakat fitrah itu 1 sha’ kurma kering, tepung gandum, kismis, keju dan makanan lainnya.

Diperbolehkan pula menunaikan zakat fitrah dengan sesuatu yang menjadi kemampuan suatu negeri, seperti:1 sha’ beras dan lain-lain. Adapun maksud sha’ di sini adalah sha’ menurut Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yaitu 4 kali dua telapak tangan laki-laki dewasa yang betul-betul dianggap adil.

Hanyasanya yang paling utama untuk dizakati adalah makanan yang mengenyangkan, sebab makna yang dzahir(jelas) dari hadits Abu Sa’id al-Khudry Radliyallahuanhu adalah

عن أبى سعيد الخدريّ رضي الله عنه قال:كنّا نعطيها فى زمن النّبيّ صلّى الله عليه و سلّم صاعا من طعام أو صاعا من تمر أو صاعا من شعير أو صاعا من أفط أو صاعا من زبيب

فلمّا جآء معاوية و جآءت السمرآء قال:أرى مدّا من هذه يعدل مدّين

قال أبو سعيد:أمّا أنا فلا أزال أخرجه كما كنت أخرجه على عهد رسول الله صلّى الله عليه و سلّم (رواه البخارى(

Artinya,”Dari Abu Sa’id al-Khudry Radliyallahuanhu ia berkata:Kami menunaikan zakat fitrah pada zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dengan 1 sha’dari makanan, atau kurma kering, atau tepung gandum, atau susu kering(keju), atau anggur kering(kismis), maka ketika Mu’awiyah Radliyallahuanhu datang dengan membawa gandum(dari Syam). ia berkata,”saya berpendapat bahwa jika dengan  ini(gandum dari Syam) sebanyak 1 sha’ maka alangkah adil jika untuk yang selainnya adalah 2 sha”, maka Abu Sa’id Radliyallahuanhu berkata:”saya tidak akan menghapus cara pengeluarannya sebagaimana kami mengeluarkan(menunaikan)nya di zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam”. (HR. al-Bukhary)

Karena itu tidak sah jika yang dibagikan adalah makanan hewan, karena Nabi mewajibkan zakat fithri itu sebagai pemberi makan untuk manusia bukan untuk hewan.

Membayar Zakat Fithri dengan uang

Yang wajib dikeluarkan adalah makanan pokok. Adapun selain makanan pokok seperti uang atau dikiaskan dengan yang lain ini tidak diperkenankan. kecuali kalau memang terpaksa sekali. Karena yang demikian tidak pernah ditetapkan oleh Rasululloh saw. bahkan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. 6

Zakat fithri tidak boleh diganti dengan nilai nominalnya. Karena hal itu menyalahi apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Padahal Rasulullah shalallahu alaihi wasallam  bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ( روه مسلم )

”Barangsiapa melakukan amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan itu tidak diterima.” )HR. Muslim )

Disamping itu, membayar harga zakat fithri itu menyalahi praktek amalan para sahabat. Karena mereka membayar zakat fithri dengan satu sha’ makanan, tidak dengan yang lain. Di samping itu, pada zaman Nabi juga telah ada nilai tukar ( uang ). Seandainya membayar zakat fithri dengan uang diperbolehkan, tentu beliau telah memerintahkan mengeluarkan zakat dengan nilai makanan tersebut, tetapi hal itu tidak dilakukan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam.

Adapun diperbolehkannya menunaikan zakat dengan uang ,pendapat yang membolehkan zakat fithri ini dibayarkan dengan nilai tukar ( uang ) hanyalah madzhab Hanafi, tetapi pendapat tersebut lemah karena dalil yang dipergunakan tidak kuat. Menurut pendapat Asy Syafi’I disebutkan, “Tidak sah membayar zakat fithri dengan nilai nominal ( uang ), dan para ulama tidak berbeda pendapat tentangnya.” Adapun ukuran zakat fithri itu adalah satu sha’ –nya Nabi shalallahu alaihi wasallam, atau beratnya kira-kira 2,4 kg.[9]

Dan dibolehkan juga menunaikan zakat melebihi kadar yang telah ditentukan yaitu 1 sha’, tanpa memberitahukan dahulu kepada orang yang menerimanya (faqir dan miskin).

Menurut hanafiyah, boleh mengeluarkan zakat dalam bentuk uang, dirham, dinar. karena Kewajiban yang dibebankan pada hakekatnya adalah mengkayakan orang miskin dan fakir. Sebagaiman sabda Rasululloh saw.

قال رسول الله صلّىالله عليه وسلم :أغنوهُم عنِ السّوالِ في هذا اليومِ

“Kayakanlah mereka dari meminta-mita pada hari ini”

 

Sedangkan mengkayakan mereka dapat tercapai dengan uang, bahkan lebih sempurna, dan mudah digunakan.

ولا يُجْزئ عند الجمهور إِخراجُ القيمةِ عن هَذه الاصنافِ. فَمَن أَعطىَ القِيمَةَ لَمْ تُجزِئْهُ, لِقولِ ابن عمرَ: فَرضَ رسولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلّم صدقةَ الفطرِ صاعًا مِن تمرٍ وصاعًا مِن شعيٍر. فإِذَا عَدَلَ عَن ذَالكَ فَقد تَركَ المَفْرُوضِ

Sedangkan Jumhur berpendapat :”Tidak  diperkenankan mengeluarkan uang sebagai ganti dari jenis-jenis makanan pokok. Barang siapa yang membayar zakat dengan uang  maka tidak mendapatkan jaza’. Sebagaimana perkataan Ibnu Umar ra:” Jika menyelisihi dari jenis yang telah ditentukan (makanan pokok), maka ia telah meninggalkan kewajiban. 1

Dalam Al Majmu’  fi Syarh al Muhadldlab Disebutkan :

قال المصنف رحمه الله : ولايجوزُ اَخذُ القيمةِ في شيئٍ مِنَ الزَّكاةِ لإِنَّ الحقَّ للهِ تعالَى وقَد علَّقَهُ على مَا نَصَّ عَليهِ فَلاَ يجوزُ نقلُ ذالكَ الى غيرِهِ كَالأُضْحِيَّةِ لما عَلَّقَهَا عَلَى الانْعَامِ لَمْ يَجُزْ نقلُهاَ اِلى غيِرهَا

Imam An Nawawi berkata:” Tidak diperbolehkan mengambil zakat dari bentuk nominal, Karena ini adalah haq Alloh  swt yang telah ditentukan dalam nash. Maka tidak diperkenankan mengganti dengan yang lain, sebagaimana hewan sembelihan dalam Udh hiyyah yang telah ditetapkan harus dari binatang ternak, tidak boleh diganti dengan selain dari binatang tersebut.2

Waktu Membayar Zakat Fithri

Waktu membayar zakat fithri ialah ketika matahari terbenam di hari akhir pada bulan ramadhan atau malam hari Raya. Maka barangsiapa memiliki kewajiban untuk membayarnya pada waktu itu, ia wajib melaksanakannya.

Dengan demikian, bila seseorang meninggal sebelum tenggelamnya matahari sekalipun beberapa menit, maka tidak wajib baginya membayar zakat fithri. Tetapi jika meninggal setelah tenggelamnya matahari, maka wajiblah dikeluarkan zakat fithrinya. Dan jika seseorang lahir setelah tenggelam matahari, sekalipun beberapa menit, maka dia tidak wajib dibayarkan zakat fithrinya, dan jika sebelumnya maka wajib dibayarkan zakat fithrinya. Dan jika seseorang masuk Islam sebelum tenggelamnya matahari, maka ia wajib mengeluarkan zakat fithri, tetapi jika sesudahnya maka tidak wajib atasnya. Jadi pada waktu-waktu tersebut diperbolehkan untuk membayar zakat fithri yaitu sehari atau dua hari sebelum ‘id. Di dalam Kitab Shahih Al-Bukhari, dari Nafi’, ia berkata :

كَانَ اِبْنُ عُمَرَ يُعْطِي عَنِ الصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ حَتَّى إِنْ كَانَ يُعْطِى عَنْ بَنِيَّ وَكَانَ يُعْطِيْهَا الَّذِيْنَ يَقْبَلُوْنَهَا وَ كَانُوْا يُعْطُوْنَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ.

Adalah Ibnu ‘Umar membayarkan zakat fithri untuk anak-anak dan orang dewasa, dan jika beliau membayarkan zakat fithri anakku, beliau berikan kepada yang berhak menerimanya. Dan mereka membayar zakat fithri itu sehari atau dua hari sebelum ‘id.”[10]

Dari keterangan diatas menjelaskan diperbolehkannya menunaikan zakat fitroh 2 hari sebelum shalat ‘Iedul Fitri dan tidak diperbolehkan dari batasan yang telah ditentukan itu, hal ini sesuai dengan perkataan Ibnu Umar Radliyallahuanhuma.

Adapun waktu yang disunnahkan dan diutamakan untuk menunaikannya yaitu pada waktu shubuh sebelum dilaksanakannya shalat ‘Iedul Fitri Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallah ‘anhu :

عن ابن عمر رضي الله عنه قال: ……… و أمر بها أن تؤدى قبل خروج النّاس إلى الصّلاة )رواه البخارى و مسلم(

Artinya:”Dari Ibnu Umar Radliyallahuanhuma ia berkata: ……dan beliau juga memerintahkan untuk menunaikannya sebelum orang-orang pergi mengerjakan shalat(‘Iedul Fitri)”.[11]

Dalam lafadz lain disebutkan :

إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ أَنْ تُؤَدَّى قَبْـلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَة ِ( روه مسلم وغيره )

Bahwasannya Nabi memerintahkan membayar zakat fithri sebelum orang-orang pergi untuk shalat ‘id.”

( HR. Muslim dan lainnya ).

Demikian yang ditetapkan para ulama khususnya madzhab Imam yang empat. Jika mengerjakannya setelah ditegakkannya shalat ‘Iedul Fitri maka hukumnya menurut Imam Ahmad dan seluruh Jumhur Fuqaha’ adalah haram.[12]

Imam Hanafi berpendapat bahwa bolehnya mendahulukan pelaksanaan zakat fitrah 1 atau 2 hari sebelum shalat ‘Iedul Fitri.

Imam Syafi’i berpendapat bolehnya pelaksanaan zakat fitrah itu sejak di hari pertama bulam ramadhan.

Imam Maliki berpendapat bahwa secara mutlaq hukum mendahulukan pengeluarannya tidak boleh sama sekali sebagaimana shalat sebelum tiba waktunya.

Imam Hambali berpendapat sebagaimana pendapat Imam Hanafi, berdasarkan hadits

كانوا يعطون قبل الفطر بيوم أو بيومين (رواه البخارى)

Artinya:”bahwa (para Shahabat Radliyallahuanhum)menunaikannya(zakat fitrah) sehari atau dua hari sebelum dilaksanakannya shalat ‘Iedul Fitri”. (HR. al-Bukhary).[13]

Untuk lebih rincinya serta untuk lebih mudahnya waktu pembayaran zakat fitri ini dapat dibagi dalam beberapa bagian, yaitu :

1. Waktu yang dibolehkan

Yaitu mengeluarkanya satu hari atau dua hari sebelum sholat ‘ied (sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Ibnu Umar ra. Menurut Imam As Syafi’i, Boleh mengeluarkan zakat fitrah diawal bulan romadlon. Sedangkan Hanabilah berpendapat: Boleh mengeluarkan zakat fitrah dua hari sebelum hari raya.  Seperti yang diriwayatkan oleh imam Bukhori:

وكان ابن عمر رضي الله عنهما يُعطِيهَا الّذين يَقبَلونهَا. وكَانُوا يُعطون قَبلَ الفطرِ بِيومٍ أو يَومَينِ (البخاري)

Bahwasanya Ibnu Umar ra. mengasihkanya kepada orang yang menerimanya. Dan mereka mendapatkannya sehari atau dua hari sebelum  hari raya fitri. 1

2. Waktu yang afdol dan utama

Waktu yang afdol dan utama yaitu mengeluarkanzakat fitri dimulai dari terbitnya fajar hari ‘ied sampai dengan sebelum dimulainya sholat ‘ied. Sebagaiman perintah dari Rasululloh saw :

عن ابن عمر قال أَمرَ رسولُ اللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلم بِزكاةِ الفطرِ أنْ تُؤدَّى قَبلَ خُروجِ النَّاسِ الى الصَّلاةِ (زاد المعاد لابن القيم ص2 \ 20)

” Dari Ibnu Umar ra. berkata:” Rasulullah saw. memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah sebelum keluarnya manusia untuk sholat ied .” 2 Begitu juga sebagaimana perrkataan Ibnu Abbas  yang termaktub diatas.

3. Waktu mengqodlo’

Yaitu mengeluarkan zakat setelah sholat ‘ied, Hukum zakat syah dan  mendapat pahala tetapi makruh.

Kalau seseorang mengakhirkan waktu pelaksanaan zakat fitrah sedangkan ia sadar atas perbuatannya itu maka ia berdosa dan harus bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mengqadha’(tetap mengganti/menunaikan)nya, karena ia merupakan amalan yang tidak bisa bebas(kewajibannya) walaupun waktu untuk melaksanakannya telah habis, namun jika perbuatannya itu dikarenakan lupa maka ia tidak berdosa dan tetap harus mengqadha’nya.

Sabda Rasulullah saw: ”

…فمن ادَّاها قَبلَ الصَّلاةِ فهي زكاةٌ مقبولةٌ ومَن أدَّاها بَعدالصلاةِ فهي صدقةٌ من الصّدقاتِ (ابن ماجه وابو داود)

Secara dlohir hadits ini menyatakan bahwa orang yang mengeluarklan zakatnya setelah hari raya maka ia sama dengan tidak mengeluarkan zakat. Jumhur berpendapat:” mengeluarkan zakat sebelum sholat ‘ied adalah perbuatan mustahab. Mereka juga menyatakan bahwa zakat yang dikeluarkan setelah sholat ‘ied itu syah dan berpahala sampai akhir hari raya karena tujuan yang dicapai dari dikeluarkannya zakat adalah mengkayakan orang fakir dan miskin dari berkeliling dan meminta-minta pada hari itu. sebagaiman Sabda Rasululloh saw yang termaktub diatas.

Adapun mengakhirkan-akhirkan sampai akhirnya hari raya, Ibnu Ruslan berkata:”haram hukumnya menurut kesepakatan para ulama mengakhirkan waktu pembayaran zakat fitri” Dikarenakan kewajiban zakat sama dengan kewajiban sholat. Barang siapa yang mengakhirkan dari waktu yang ditentukan maka berdosalah ia.  Al mansur billah menerangkan bahwa waktu mengeluarkan zakat fitrah adalah sampai hari ketiga dari bulan Syawal 3

Sedangkan Hanabilah berpendapat  akhir dari pembayaran zakat fitrah adalah terbenamnya matahari di hari ‘ied itu 4

Dan yang perlu dititiktekankan lagi adalah bahwa tidak diperbolehkan bagi seseorang muslim mengakhirkan pembayaran zakat fithri itu setelah shalat ‘id. Jika diakhirkan setelah shalat ‘id dengan tanpa udzur syar’i, maka ia tidak terhitung sebagai zakat fithri, akan tetapi dinilai sebagi sedekah biasa. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas Radliyallahuanhuma :

من أداها قبل الصّلاة فهي زكاة مقبولة و من أداها بعد الصّلاة فهي صدقة من الصّدقات

Artinya:”(Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda):barangsiapa yang menunaikannya sebelum dilaksanakannya shalat(‘Ied Fitri) maka itu merupakan zakat yang diterima(Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka ia seperti shadaqah dari shadaqah yang biasa”.

 

Jika Ada Udzur Syar’i Untuk Membayar Pada Waktunya

Orang yang mengakhirkan pembayaran zakat fithrinya disebabkan adanya udzur syar’i adalah tidak mengapa. Seperti seseorang yang baru mendengar kabar tentang hari Raya secara tiba-tiba, sehingga dia tidak sempat membayar zakat fithri itu sebelum shalat ‘id, atau seseorang yang berharap kepada orang lain yang membayarkannya, kemudian orang tersebut lupa, maka tidak apa-apa kalau dia membayarnya setelah ‘id. Karena hal itu termasuk udzur syar’i.[14]

 

Inti Dari Kewajiban Zakat Fithri

Yang wajib adalah, zakat fithri itu harus sampai ke tangan orang-orang yang berhak menerimanya pada waktunya sebelum shalat ‘id. Bila seseorang berniat membayar zakat untuk seseorang, tetapi dia tidak bertemu orang yang dimaksud atau wakilnya maka ia harus menyerahkannya kepada orang lain yang berhak menerimanya, dan tidak boleh mengakhirkannya dari waktu yang semestinya.

Tempat Membayar Zakat Fithri

Hendaknya zakat fithri itu diserahkan kepada fakir miskin di sekitar tempat ia berada pada waktu dia mendapati hari raya itu, baik itu tempat tinggalnya atau tempat lain di wilayah kaum muslimin.

Jika seseorang tinggal di suatu wilayah yang tidak ada orang yang berhak menerimanya, maka dia boleh mewakilkan pembayaran zakat fithri tersebut kepada orang lain untuk ia laksanakan di tempat yang terdapat  orang-orang yang berhak menerimanya.[15]

 

Yang Berhak Menerima Zakat Fithri

Orang-orang yang berhak menerima zakat fithri ialah delapan golongan sebagaimana yang berhak menerima zakat mal ( harta benda ), karena zakat ini masuk dalam keumuman ayat yang disebutkan dalam dalam al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 sebagai Mustahiq Zakat (penerima zakat) yaitu :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْن والعَامِلِيَن عَلَيْهَا وَالمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُم وَفي الرِّقَابِ وَالغَارِمِيَن وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَابنِ السَّبِيلِ فَرِيْضَةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ (التوبة🙂

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu’allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana.

Hanyasanya yang lebih berhak menerimanya adalah orang fakir dan miskin demikian yang telah dilakukan oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Rasululloh saw bersabda:

قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم :أغنُوهُم عن السؤالِ فى هذَا اليومِ فَلاَ تُدفَع لِغيرِ الفُقَرَاءِ إِلاَّ عِندَ انعدَامِهِم أوْ خِفَّةِ فَقرِهِم أوْ اشْتِدَادِ حَاجَةِ غيِرهم مِن ذَوِي السِّهَامِ

” Kayakanlah mereka dari meminta-minta pada hari ini. jangan dikeluarkan kepada selain mereka kecuali kalau tidak ada sama sekali, atau ringannya kefakiran mereka atau beratnya kebutuhan selain fakir miskin itu dari golongan yang mendapatkan bagian zakat.2

Dan hendaknya tidak ada basa-basi dalam masalah zakat fithri. Yakni yang semestinya didahulukan untuk menerimanya haruslah orang yang diketahui paling membutuhkan, sehingga tidak mendahulukan ta’mir masjid, ustadz/guru ngaji, sesepuh/pengurus kampung, apalagi dimasukkan ke dalam kas masjid atau sejenisnya.

Zakat fithri itu dibayarkan kepada beberapa orang fakir atau kepada satu orang miskin saja, karena Nabi shalallahu alaihi wasallam hanya menentukan jumlah yang dibayarkan saja dan tidak menentukan jumlah yang boleh diterima seseorang.

Diperbolehkan bagi orang fakir, jika mendapat zakat fithri dari seseorang untuk membayarkannya sebagai zakat bagi dirinya atau untuk salah satu anggota keluarganya apabila ia sendiri telah menakarnya kembali atau diberitahu oleh orang yang membayar zakat fithri itu bahwa takarannya sudah sempurna dan dia yakin dengan pemberitahuan itu.[16]

Adapun pendapat Jumhur ulama mensyaratkan atas wajibnya mengeluarkan zakat atas orang fakir Jika ia memiliki makanan yang lebih untuk digunakan olehnya dan orang-orang yang menjadi tanggunganya selama hari raya. Punya kelebihan dalam tempat tinggal, harta, dan keperluan sehari-harinya. Jika ada orang memiliki sebuah rumah yang hanya digunakan untuk bertempat tinggal, atau untuk disewakan dalam rangka mencari nafkah, atau  memiliki hewan tunggangan yang digunakan untuk mengangkut atau dimanfaatkan dalam rangka memenuhi kebutuhan pokoknya, atau memiliki barang dagangan tetapi jika dikeluarkan hartanya untuk membayar zakat  tidak memenuhi kebutuhanya sehari-hari atau  akan habis untungnya, maka ia tidak ada kewajiban untuk membayar zakat. Atau jika ia memiliki beberapa kitab untuk dibaca, maka ia tidak usah menjualnya kemudian digunakan untuk membayar zakat fitrah. Orang perempuan yang memiliki perhiasan untuk dipakai, ia tidak usah menjualnya dalam rangka untuk membayar zakat. Tetapi jika ia ada kelebihan dari kebutuhan pokok,  boleh  menjualnya untuk menbayar zakat fitrah, dan kalau ini dilakukan pada hakikatnya tidak ada kerugian yang mendasar terhadap  kehidupanya.3

 

Zakat ini juga diberikan oleh orang yang faqir dari kaum muslimin di negeri yang mengeluarkan zakat tersebut, dan juga diperbolehkan dipindahkan ke negeri yang lain yang lebih membutuhkan namun tidak boleh digunakan untuk membangun masjid atau jalan umum.

Hikmah Zakat Fithri

Diantara hikmah zakat fithri ialah :

a. Bagi  pribadi dan individu muslim

  1. Menyucikan jiwa orang yang shoim dari perbuatan laghwun dan kotor. Bagi orang yang melaksanakan shiyam, zakat berfungsi sebagai pembersih dari laghwun dan rofats .Hal ini disebabkan karena as sho’im (orang yang puasa ) tidak terlepas dari melakukan kedua hal tersebut. Padahal shoum yang sempurna adalah bukan hanya syahwat perut dan kemaluan yang puasa namun lisan, pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya juga ikut melakukan puasa yaitu dengan menjauhi apa yang dilarang Allah dan RosulNya baik itu berupa perkatan atau perbuatan. Dengan demikian sangat sedikit yang selamat dari hal tersebut sehingga datanglah syari’at zakat di akhir ramadlan sebagai pembersih dari kotoran yang menempel ketika melaksanakan shiyam atau sebagai penutup dari kekurangan  sebagaimana mandi yang dapat membersihkan badan dari kotoran yang melekat padanya. sesunggunya kebaikan itu menghapuskan kejelekan.
  2. Menanam sikap rela berkorban dan suka membantu orang lain.
  3. Menghilangkan sifat bakhil dan loba pemilik kekayaan
  4. Menghindarkan pemupukan harta perorangan yang dikumpulkan atas penderitaan orang lain.
  5. Sebagai penyempurna pelaksanaan ibadah shaum, karena terkadang ada saja kekurangan dalam pelaksanaan ibadah shaum itu, atau melakukan perbuatan yang sia-sia dan dosa.
  6. Sebagai ungkapan rasa syukur terhadap nikmat Allah berupa kemampuan melaksanakan ibadah shaum secara sempurna, shalat tarawih, juga amal-amal shalih lain di bulan Ramadhan.

 

Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ فَمَنْ أدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

( أخرجه أَبوداود وابن ماجه وصحّحه الحاكم)

“Bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithrah sebagai penyucian jiwa orang yang shaum dari penyakit laghwun, rofats, dan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang fakir serta miskin.”

(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah serta dishohihkan oleh al Hakim. Adapun lengkapnya adalah: Barang siapa yang mengeluarkan sebelum sholat ied maka itu diterima dan barang siapa yang mengeluarkan setelah sholat ied maka itu adalah sedekah.1

Dalam lafadz lain Yang hampir sama juga dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata :

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْـوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ, فَمَنْ أَدَاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ. ( رواه أبـو داود وابن ماجه و المارقطني و الحاكم وصححه )

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fithri itu sebagai penyuci bagi orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan ucapan yang kotor dan sebagai pemberi makan untuk orang yang miskin, barangsiapa mengeluarkannya setelah shalat ( ‘id ) maka ia adalah shadaqah biasa.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ad Daruquthni, Al Hakim, dan dishahihkannya ).

 

b. Bagi  mujtama’ muslim

1.Zakat fithrah bagi mujtama’muslim berfungsi sebagai penebar rasa kasih sayang dan rasa gembira disetiap pejuru masyarakat terkhusus bagi fuqoro’ wal masaakin. Hal ini disebabkan hari raya ‘ied adalah hari yang penuh dengan kegembiran, maka luapan perasaan ini sudah seyogyanya bisa dirasakan juga oleh  kaum muslimin seluruhnya. Namun  fuqoro’ wal masaakin tidak dapat merasakan  perasaan ini ketika melihat orang kaya menikmati hidangan yang lezat lagi nikmat sedang dia tidak mendapatinya pada hari itu. Di sinilah Islam dengan syari’at yang sangat concern terhadap mashlahah kehidupan mensyari’akan adanya zakat guna memenuhi hajah dan mengingatkan atas pahitnya dan betapa sulitnya kehidupan mereka. Sehingga akan muncul perasaan mahabbah waa rahmah dan juga imeg bahwa masyarakat tidaklah menterlantarkan ataupun melupakan mereka pada hari dimana kaum muslimin sedang merayakan hari yang penuh kesenangan.

2.Membina dan mempererat tali persudaraan sesama umat islam

3.Berbuat baik terhadap orang-orang fakir serta mencegah mereka agar jangan sampai meminta-minta pada hari Raya, sehingga mereka bisa ikut merasakan kegembiraan sebagaimana orang-orang kaya. Dengan demikian maka hari Raya itu betul-betul menjadi milik semua orang.

4.Memenuhi kebutuhan fakir miskin agar tidak meminta-minta pada hari raya, sebagaimana sabda Rasululloh saw bersabda:

قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم :أغنوهُمْ عنِ السؤالِ فِى هذ اليَومِ (البيهقي)

5.Artinya, ” Kayakanlah mereka (fakir miskin) dari meminta-minta pada hari ini2

6.Mencegah jurang pemisah antara si miskin dan si kaya yang dapat menimbulkan masalah dan kejahatan sosial 3

 

 

 

 


[1] Lihat :Al Mukhtar, Ahkam wa Adab lil Hadits fi Syahri Ramadhan, Fatawa Az-Zakah, Syaikh Al-Jibrin, Kifayatul Akhyar.

[2] Lisanul-Arab, 14/358.

[3] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/85.

[4] Al-Fiqh ‘Alal-Madzahib Al-Arba’ah, 1/536.

[5] ibid.

[6] satu sha’ = lebih kurang 370 gram.

4 Ibid , Hal, 2/926

 

1 Fiqh zakat Yusuf Qordlowi hal 2/927

[7] ibid.

[8] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/88.

4 Al Fiqh Al Islamy, DR. Wahbah Zuhaily hal,  2/886

5 Al Fiqh Islamy DR.Wahbah Zuhaily hal, 2/878

4 Lihat Al Fiqh Islamy DR. Wahbah Az zuhaily hal,2/912

5 Muttafaq ‘alaih, Lu’lu’ wal marjan 1/237

2 Kamus kontemporer, Atabik Aliy Ahmad Zuhdi Muhdlor hal, 1161

3 Fiqh zakat Yusuf qordlowi hal, 2/946

6 Minhajul Muslim hal, 298

[9] kitab Kifayatul Akhyar hal 158

1 fiqh IslamDR. Wahbah zuhaily hal, 2/911, dan lihat Al Mughny hal, 3/65

2 Al Majmu’ Syarh Muhadldlab, An Nawawy  hal, 5/383

[10] Fathul Baary bisyarh Shahiihil Bukhaary, Imam Ibnu Hajar al-Asqalany

[11] Shahiih Muslim bisyarhin Nawawy, Imam an-Nawawy

[12] Fathul Baary bisyarh Shahiihil Bukhaary bab zakat, Imam Ibnu Hajar al-Asqalany

[13] Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid juz II, Imam al-Qurthuby

1 Taisir ‘alam Syarh Umdatul Ahkam hal,1/567, Fathul bary,  Ibnu Hajar Al Atsqolany  hal, 3/479

2 Zadul ma’ad Ibnu Qoyyim hal, 2/20

3 Nailul autar hal, 4/256

4 Al fiqh Al Islamy DR. Wahbah Az zuhaily hal 2/908.

[14] Lihat :Al Mukhtar, Ahkam wa Adab lil Hadits fi Syahri Ramadhan, Fatawa Az-Zakah, Syaikh Al-Jibrin, Kifayatul Akhyar.

[15] Lihat : Al Mukhtar, Ahkam wa Adab lil Hadits fi Syahri Ramadhan, Fatawa Az-Zakah, Syaikh Al-Jibrin, Kifayatul Akhyar.

 

2 Minhajul muslim hal, 298

[16] Al Mukhtar, Ahkam wa Adab lil Hadits fi Syahri Ramadhan, Fatawa Az-Zakah, Syaikh Al-Jibrin, Kifayatul Akhyar.

3 Fiqh zakat DR. Yusuf  Qordlowi  Hal, 2/926

1 Zad al ma’ad hal2/21,Sunan Abi Dawud  hadits no. 1609  hal, 2/111, Sunan Ibnu Majah Hadits no.      1827 hal, 1/585

2 HR. Baihaqi dengan sanad yang dloif

3 Ensiklopedi wanita , Haya binti Mubarok Al barik hal, 66

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: