ZAKAT TANAMAN DAN BUAH-BUAHAN


Kedudukan Para Ulama Mengenai Zakat

Tanaman dan Buah-buahan

 

Dalil-dalil mengenai zakat tanaman dan buah-buahan

  1. Dalil dari Alqur’an

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah :267)

  1. Dalil dari As-sunnah. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar bahwa, Nabi saw bersabda,

 

فِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْر

“Tanaman yang tumbuh karena curah hujan atau aliran  mata air maka miqdar zakat yang harus ditunaikan adalah sepersepuluh. Sedang jika tanaman tumbuh dengan disirami maka miqdar yang harus ditunaikan adalah setengahnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari). Dan diriwayatkan Jabir dari Nabi saw bahwa beliau bersabda,

فِيمَا سَقَتْ الْأَنْهَارُ وَالْغَيْمُ الْعُشُورُ وَفِيمَا سُقِيَ بِالسَّانِيَةِ نِصْفُ الْعُشْرِ

Tanaman yang tumbuh karena aliran sungai, curahan mendung maka kewajiban zakat yang harus ditunaikan adalah sepersepuluh. Sedang jika disirami (oleh pemiliknya) maka zakat setengahnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

c. Menurut Ijma’ kaum muslimin

Adapun menurut ijma’ bahwa umat islam telah sepakat secara global atas wajibnya membayar zakat terhadap segala sesuatu yang tumbuh dari bumi sepersepuluh atau setengahnya. Tapi mereka berselisih mengenai perinciaannya.

 

B. Perselisihan para mazahib mengenai zakat tanaman dan buah-buahan.

 

a. Mazhab Ibnu Umar dan Thoifah dari kalangan salaf.

Mereka berpendapat bahwa, zakat hanya diwajibkan pada empat macam bahan pokok. Ibnu Umar dan sebagian dari kalangan tabi’in dan orang-orang yang datang setelahnya berpendapat bahwa,

“Tidak ada kewajiban zakat sedikitpun dari biji-bijian yang tumbuh, selain biji gandum dan jewawut. dan tidak ada kewajiban zakat sedikitpun dari buah-buahan yang tumbuh, selain kurma dan anggur kering.” Pendapat ini diambil dari riwayat Ahmad, Musa bin Tholhah, Ibnu Abi Laila, Ibnu Mubarok, Abi Ubaid dan hal ini disepakati oleh Ibrahim dan beliau menambahinya dengan jagung. Mereka berhujah dengan perkataan Rosulullah saw, yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Darut Qutni dari Amru bin Syuaib dari bapaknya bahwa kakek berkata,

 

إِنَّمَا سَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ فِي هَذِهِ الْخَمْسَةِ فِي الْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ وَالتَّمْرِ وَالزَّبِيبِ وَالذُّرَةِ

“Sesungguhnya Rosulullah Saw, mewajibkan zakat pada lima jenis tanaman: biji gandum, jewawut, kurma kering, anggur yang sudah dikeringkan dan jagung.”(Diriwatakan Oleh Ibnu Majah)

Mereka juga berhujah dengan hadist yang diriwayatkan At-Thabrani dan Hakim dari Abi Burdah Dari Abi Musa dan Mu’ad bahwa Rosulullah ketika mengutus keduanya ke negri yaman, untuk mengajarkan ilmu dien kepada mereka, maka rosulullah menyuruh keduanya supaya tidak mengambil shodaqoh kecuali terhadap empat jenis tanaman, biji gandum, jewawut, kurma kering dan anggur yang sudah dikeringkan. Mereka berpendapat bahwa selain empat macam tersebut tidak ada nash, ketetapan ijma’ atau pun kesamaan makna yang mewajibkannya.

2. Mazhab Imam Malik dan Syafi’i

Zakat diwajibkan untuk setiap tanaman yang dijadikan makanan pokok dan bisa disimpan. Imam Malik dan Syafi’i berpendapat bahwa zakat diwajibkan untuk setiap tanaman yang dimakan, bisa disimpam dan bisa dikeringkan dari biji-bijian ataupun dari jenis buah-buahan, seperti gandum, jewawut, jagung, beras, dan jenis yang semisalnya.

Maksud dari (Muqtat) adalah sesuatu yang dijadikan oleh manusia sebagai makanannya, mereka hidup dengan mengkomsusinya baik dalam kondisi ikhtiyar dan bukan pada kondisi dhoruroh. Maka dari itu tidak ada zakat menurut mazhab Malik dan Syafi’i pada kelapa, laos, bandak, dan fustaq dan jenis yang semisalnya. Meskipun jenis-jenis diatas bisa disimpan, akan tetapi bukan dijadikan makanan pokok bagi manusia sekitarnya. dengan demikian zakat tidak berlaku pada buah apel, delima dan sejenisnya yang tidak bisa dikeringkan dan tidak bisa disimpan. Mereka berhujah dengan hadist Mu’ad bin Jabal, bahwa Rosulullah bersabada,

قأما القثاء والبطيخ والرمان والقصب والحضر فعفو عفا عنه رسول الله

“Adapun mentimun, batih, delima, bambu dan sayur-sayuran itu merupakan jenis tanaman yang dimaafkan (dibiarkan). (Diriwayatkan oleh Baihaqi didalam sunan Al-kubro). Kemudian beliau berkata, hadist-hadist dibawah ini semuanya mursal kecuali jika diriwayatkan dari berbagai jalur, sehingga satu sama lain saling menguatkan.

 

3. Mazhab Imam Ahmad

Zakat diwajibkan untuk setiap tanaman  yang bisa dikeringkan, mampu bertahan lama dan bisa ditakar

Telah dinukil dari Imam Ahmad beberapa perkataan dan yang paling jelas yaitu sebagaimana telah disebutkan didalam kitab Al-mugni bahwa zakat diwajibkan ketika terkumpulnya sifat-sifat diantaranya, bisa ditakar, bertahan lama, dan bisa dikeringkan dari biji-bijian dan buah-buahan yang ditanam oleh manusia dilahannya. Baik yang berbentuk makanan pokok seperti: gandum, jewawut, sayur-sayuran, acar, beras, jagung, tembakau. Atau dari biji-bijian seperti: kacang tanah, kacang kedelai. Atau dari rempah-rempah atau bumbu-bumbuhan seperti: jintan putih atau bentuk jintan yang lain. Atau dari benih seperti, benih rami, mentimun. Atau dari biji sayur-sayuran seperti: biji lobak dan kol.

Zakat juga diwajibkan terhadap buah-buahan seperti, kurma, kismis, mismis yang dikeringkan dan juga buah badam, kacang tanah dan kemiri.

Dalil yang dijadikan hujah adalah keumuman perkataan Rosulullah r dalam sabdanya.

فِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْر

“Tanaman yang tumbuh karena curah hujan atau aliran  mata air maka miqdar zakat yang harus ditunaikan adalah sepersepuluh. Sedang jika tanaman tumbuh dengan disirami maka miqdar yang harus ditunaikan adalah setengahnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari). Dan perkataan Muadz,

خذ الحب من الحب

ِِِِAmbilah (zakat) dari biji-bijian dari tumbuhan yang berbiji” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah).

Dengan demikian zakat wajib pada semua jenis tanaman yang termasuk  lafadz ini.

 

4. Mazhab Abu Hanifah

Zakat berlaku pada setiap tanaman  yang dihasilkan bumi. Abu Hanifah berpendapat bahwa diwajibkan zakat sepersepuluh atau setengahnya pada setiap tanaman yang dihasilkan oleh bumi. Maksudnya petani tersebut memang menanam tanaman tersebut dan mengembangkannya dilahannya sebagaimana kebiasaan yang  telah berlaku ditengah-tengah masyarakat.

Pengecualian dari macam diatas terletak pada kayu, rumput, dan bambu karena jenis tersebut manusia tidak menanamnya dilahannya. Maka dari itu Daud Adzohiri dan sahabat-sahabatnya selain Ibnu Hazm berkata bahwa setiap yang tumbuh harus dizakati dan tidak ada pegecualian. Ini adalah pendapat An-Nakho’i dalam salah satu riwayatnya dan Umar bin Abdul Aziz, Mujahid, dan Hamad bin Sulaiman. Dengan demikian mazhab Abu hanifah dan para sahabatnya mewajibkan zakat pada tebu, kunyit, kapas, katun, dan yang semisal dari keduanya, meskipun tidak termasuk sesuatu yang bisa dijadikan makanan pokok.

Wal hasil menurut pendapat Abu Hanifah bahwa diwajibkan mengeluarkan sepersepuluh dari buah semuanya. seperti, Apel, peer, buah plum, mismis, tiin, dan diwajibkan juga mengeluarkan sepersepuluh dari sayur-sayuran, seperti mentimun, semangka, melon, terong, lobak dan lobak. Mereka berhujah dengan keumuman firman Allah yang berbunyi,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah :267) dan firman Allah Ta’ala,

َوهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَءَاتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermaca-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. 6:141)

Disini nash-nash diatas tidak ada perincian antara disimpan atau tidak bisa disimpan, yang bisa dimakan dan tidak bisa dimakan dan yang bisa dijadikan makanan pokok atau tidak bisa dijadikan makanan pokok melainkan lafadz yang digunakan umum.[1]

 

Nishab pada tanaman biji dan buah

Jumhur ulama mewajibkan nishab pada biji-bijian yang mau dizakati yaitu sebanyak lima wasaq. Sedangakan Abu Hanifah berkata tidak ada nishab untuk tanaman biji-bijian dan buah-buahan. Para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini karena adanya nash yang saling kontradiktif yaitu adanya  lafadz umum yang berbunyi,

 

فِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْر

“Tanaman yang tumbuh karena curah hujan atau aliran  mata air maka miqdar zakat yang harus ditunaikan adalah sepersepuluh. Sedang jika tanaman tumbuh dengan disirami maka miqdar yang harus ditunaikan adalah setengahnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

Dan lafadz khusus yang berbunyi,

ليس فيما دون  خمسة أوسق صدقة

“Tidak ada zakat pada tanaman yang belum mencapai lima wasaq.” (Diriwayatkan oleh …).

Dengan demikian barang siapa yang membawa hukum yang khusus kepada hukum yang umum, maka dia mewajibkan nishab pada tanaman jika mau dizakati dan ini adalah pendapat yang mashur. Sedangkan siapa yang merojihkan dalil yang umum, maka ia akan berpendapat bahwa tidak harus adanya nishab untuk barang yang mau dizakati. Akan tetapi Jumhur ulama  membawa dalil yang khusus ini kepada dalil yang  umum, dengan demikian hujah yang dipegang Abu Hanifah itu lemah.[2]

Telah dikisahkan dari Ibnu Mundzir bahwa menurut ijma’ zakat tidak diwajibkan pada tanaman yang tidak mencapai nishab yaitu lima wasaq. kecuali Abi Hanifah beliau mewajibakan zakat pada semua tanaman yang tumbuh dimuka bumi kecuali kayu, rumput, dan pohon yang tidak ada buahnya.[3]

 

Kedudukan Para ulama mengenai zakat buah-buahan

 

Menurut Yusuf Qhardawi bahwa mazhab yang paling utama untuk ditarjih adalah mazhab Abu Hanifah, yaitu perkataannya: Umar bin Abdul Aziz, Mujahid, hamad, Daud dan An-Nakho’i mereka berpendapat bahwa setiap sesuatu yang dihasilkan bumi wajib dizakati. Mazhab inilah yang sesuai dengan keumuman nash Alqur’an dan as-sunnah dan mazhab ini pulalah yang sesuai dengan hikmah disyareatakannya zakat. Menurut kami, bukan suatu hikmah jika syareat hanya mewajibkan zakat pada gandum dan lainya dan membiarkan para pemilik kebun jeruk, mangga, dan apel terbebas dari kewajiban zakat. Sedangkan hadist yang membatasi sedekah hanya terbatas pada empat macam jenis tanaman ini adalah hadist yang tidak selamat dari tho’n, baik karena terputusnya sanad atau lemahnya hafalan dari sebagian para perowi hadist ini.[4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun hadist  yang berbunyi,

 

فِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْر

“Tanaman yang tumbuh karena curah hujan atau aliran  mata air maka miqdar zakat yang harus ditunaikan adalah sepersepuluh. Sedang jika tanaman tumbuh dengan disirami maka miqdar yang harus ditunaikan adalah setengahnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

Ini merupakan hadist yang telah disepakati oleh para ulama ketika menentukan miqdar yang harus diambil dari tanaman yang ditanam oleh manusia. Akan tetapi para ulama berselisih pendapat mengenai jenis tanaman yang harus dizakati.

Thoifah ulama salaf berkata, diwajibkan menunaikan zakat sepersepuluh dari setiap tanaman yang ditanam oleh manusia, baik itu berbentuk biji-bijian, buah-buahan atau yang berbentuk sayur-sayuran sedikit atau jumlahnya banyak. Hal ini sebagaimana telah diirwayatkan dari Hamad bin Abi Sulaiman, Abi Hanifah, dan Zafr.

Imam Ahmad berkata, diwajibakan menuanaikan zakat sepersepuluh dari tanaman yang bisa dikeringkan, disimpan, dan yang bisa ditakar ketika mencapai 5 wasaq atau lebih.

Ibnu Hubaib berkata, yang serupa dengan perkataan Imam Malik bahwa zakat diambil dari buah-buahan yang memiliki pangkal, baik bisa disimpan atau tidak bisa disimpan. Dengan demikian jika seseorang memiliki tanaman buah  yang mencapai 5 wasaq maka wajib ditunaikan zakatnya. Jika buah tersebut bisa disimpan seperti: buah badam, kacang tanah atau buah pala maka wajib dikeluarkan sepersepuluh darinya. Adapun jika tanaman tersebut tidak bisa disimpan seperti: buah delima, apel, jambu dan yang semisalnya maka ketika mencapai 5 wasaq harus dizakati pula. Adapun jika pemiliknya menjualnya, maka wajib menzakatinya sebesar sepersepuluh dari harganya, sedangkan jika pemiliknya tidak menjualnya maka zakat ditunaikan dengan sepersepuluh takar dari jumlah nishab yang ada.[5]

Abu Hanifah berkata, zakat diwajibkan pada setiap tanaman meskipun sedikit baik dari tanaman yang bisa dikeringkan, bisa dibersihkan atau dari buah yang bisa dijemur. Sedangkan buah zaitun yang tidak diambil minyaknya, buah anggur yang tidak dikeringkan dan buah kurma yang tidak dijadikan tamr maka dizakati dari harganya atau dari bijinya. Imam Malik berkata, jika mencapai lima wasaq kemudian dijual maka zakat diambil dari harganya.

Imam Malik berpendapat bahwa kurma yang tidak dikeringkan, buah zaitun yang tidak diambil minyaknya maka zakat diambil dari harganya, ketika mencapai lima wasaq.[6]

Sedangkan menurut kitab lajnah daimah yang diketuai oleh Syaikh Addullah bin Baz ketika ditanya tentang zakat tebu, kelapa, apel, delima, tomat, dan lainnya. Maka mengenai buah-buah ini maka tetap diwajibkan mengeluarkan zakat, yaitu diambil dari harganya, sebanyak  dua setengah persen dengan syarat sudah genap satu tahun da mencapai nishabnya.[7]

 

 

 

 

 

 

 


[1]. Fikih zakat 1/

[2]. Bidayatul mujtahid: 3/101

[3]. Nailul Author: 4/203

[4]. Fikih zakat 1/356

[5]. Majmu’ fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:25/20-21

[6]. Majmu’ fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:25/28

[7]. Lajnah daimah:9/237-241

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: