SHOLAT DI BELAKANG AHLU BID’AH


PENGERTIAN BID’AH

Bid’ah secara etimologi (bahasa) adalah tumbuh dan muncul, awal, yang baru, menciptakan.1

Bid’ah secara termonologi (istilah):

Imam asy-Syatibi mengatakan: “Bid’ah adalah menciptakan suatu jalan dalam agama yang menyerupai syariat, yang memaksudkan dengan berjalan di atasnya, sebagaimana yang dimaksudkan oleh jalan syari’ah.” 2

Syaikh al-Utsaimin mengatakan: “Bid’ah adalah sesuatu yang baru dari masalah agama yang menyelisihi perbuatan Nabi shalalahu ‘alaihi wasalam dan sahabatnya dalam masalah aqidah atau amal ” 3

SIAPAKAH AHLU BID’AH ITU ?

DR. Nasir bin Abdul Karim al-‘Aql mengatakan: “Ahlu Bid’ah adalah setiap orang yang membuat hal baru dalam masalah agama yang tidak berasal darinya, baik dalam keyakinan, perkataan atau perbuatan. Menurut ahlu ilmi mereka dibagi dua:

    1. Umum, seraya memutlakkan kalimat itu atas setiap pengikut hawa nafsu, perpcahan dan ahl bid’ah keyakinan, perkataan dan perbuatan, seperti; Khowarij, Rofidhoh, Qodariyah, Murji’ah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Ahlul Kalam (Asy’ariyyah dan Maturidiyah) Sufi, Filsafat dan Batiniyah.
    2. Khusus, yaitu khusus pada pelaku bid’ah amali seperti; pada kuburan, ahlu tawasul yang bid’ah, Sufi thoriqoh, bid’ah dalam dzikir, ziarah dan lain sebagainya.

 

Kedua pembagian itu tidak saling bertantangan tapi saling berkaitan, tapi terkadang pemutlakan terhadap ahlu bidah amaliah lebih banyak, karena lebih nampak, umum dan banyak dilakukan manusia, diketahui kalangan umum atau khusus (ahli ilmi). Adapun bid’ah i’tiqodiyah tidak diketahui kecuali ahlu ilmi, dan kebanyakan tertutup pada kalangan umum.4

Menurut Ahlu Sunnah bid’ah dibagi ke dalam beberapa bagian:

  1. Bid’ah yang tidak menyebabkan pengkafiran terhadap pelakunya. Mengenai hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama, seperti bid’ah yang dilakukan kelompok Muji’ah dan Syi’ah Mufadholah.
  2. Bid’ah yang di dalamnya terdapat perselisihan di kalangan ulama, soal benar atau tidaknya pengkafiran terhadap para pelakunya, seperti bid’ah yang dilakukan Khowarij dan Rofidhoh.
  3. Bid’ah yang para pelakunya dikafirkan menurut kesepakatan ulama, misalnya bid’ah yang dilakukan Jahmiyah murni.5

Ciri-ciri ahlu bid’ah yang kafir adalah: Orang yang mengingkari urusan yang telah disepakati ke-mutawatirannya di dalam syari’at. Seperti menghalalkan yang haram atau menghalalkan yang haram, atau berkeyakinan dengan sesuatu yang tidak pantas bagi Allah, Rasul dan kitab-Nya dari urusan nafi (peniadaan) dan itsbat (penetapan), karena itu semua merupakan tindakan mendustakan kitab dan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad seperti bid’ahnya Jahmiyah didalam mengingkari shifat Allah Ta’ala dan perkataan mereka bahwa al-Qur’an adalah makhluq. 6

Permasalahan penghalalan dan pengharaman adalah hak khusus bagi Allah, maka barang siapa menghalalkan dan mengharamkan selain yang datang dari Allah dan Rasul-Nya maka ia telah membuat suatu syari’at atau undang-undang dan barangsiapa yang membuat syari’at maka ia telah menuhankan dirinya. Bagi mereka harus dimusuhi dan dibenci dan berjihad atasnya setelah dipeingatkan. Berlepas diri dari mereka seperti berlepas diri dari orang kafir asli. 7 Dan untuk menetapkan kekafiran atas orang-orang semacam ini harus ada iqomatul hujjah atas mereka terlabih dahulu.8

Bid’ah ghoiru mukaffiroh (yang tidak menjadikan pelakunya kafir), yaitu yang tidak mendustakan kitab dan apa yang dibawa oleh Rasulullah, seperti bid’ahnya ruhaniyah yang diingkari oleh para pemuka sahabat dan tidak dikafirkan dan mereka tidak mencabut bai’atnya seperti mengakhirkan sebagian waktu sholat atau mendahulukan khutbah sebelum sholat ied (karena takut jama’ahnya bubar)…9

HUKUM SHOLAT DI BELAKANG AHLU BID’AH

Secara umum ahli bid’ah terbagi menjadi dua kelompok, pertama ahlu bid’ah yang telah divonis kafir dan kedua ahlu bid’ah yang tidak kafir. Para ulama sepakat bahwa tidak boleh sholat di belakang ahlu bid’ah yang telah divonis kafir, baik ia seorang da’i atau bukan. Hanya saja mereka berselisih dalam masalah pengulangan sholat. Abu Tsaur dan al-Muzani berpendapat bahwa bagi orang yang sholat di belakang ahlu bid’ah yang kafir karena tidak tahu, maka tidak perlu mengulangi sholat. Adapun kebanyakan ulama ahli sunnah mengharuskan makmum tersebut untuk mengulanginya, karena dia sholat dengan orang yang tidak memenuhi syarat sahnya sholat. Maka sholat di belakang ahlu bid’ah yang kafir tidak sah berdasarkan kesepakatan ulama ahli sunnah secara keseluruhan.10

Imam al-Lalika’i meriwayatkan bahwa Watsilah bin Aqsho ditanya tentang sholat di belakang Qodariyah? Ia berkata “Tidak boleh sholat di belakangnya dan jika aku sholat di belakangnya, maka aku akan mengulangi sholatku”11

Salam bin Abi Muthi’ ditanya tentang Jahmiyah, ia menjawab, “Mereka adalah orang-orang kafir, tidak boleh sholat di belakang mereka”12

Dari Abu Daud bahwa Imam Ahmad ditanya tentang tentang hukum sholat Jum’at di belakang Jahmiyah, jawabnya, ” Saya selalu mengulanginya dan kapan saja kamu sholat di belakang salah seorang yang mengatakan al-Qur’an makhluk, maka ulangilah sholatmu”13

Perlu diingat bahwa kaidah takfir ulama salaf terhadap ahli bid’ah seperti Qodariyah, Jahmiyah dan Rafidhoh hanya sekedar takfir mutlak (pengkafiran secara umum), bukan berarti berlaku setiap orang perorang dari firqoh tersebut. Bahkan pengafiran secara khusus orang per orang tidak boleh dilakukan, sebelum hujjah tegak kepadanya. Maka tidak boleh memvonis batalnya sholat setiap orang Qodariyah, Jahmiyah dan Rafidhoh hingga telah terbukti kekafiran orang tersebut dan hujjah telah tegak kepadanya bahwa dia kafir. Karena batal tidaknya sholat di belakang mereka, tergantung ada atau tidaknya adanya kekufuran orang tersebut.

Oleh karena itu Imam Ahmad tetap sholat di belakang sebagian Jahmiyah. Padahal beliau telah mengkafirkan mereka. Ini dikarenakan beliau belum menegakkan hujjah kepada orang per orang. Syaikhul Islam menjelaskan “Karena Imam Ahmad tidak mengkafirkan setiap orang Jahmiyah atau setiap orang yang dikatakan Jahmiyah, atau sepaham dengan mereka dalam sebagian kebid’ahan yang dianggap kafir. Bahkan beliau sholat di belakang penyeru bid’ah yang tak jarang banyak menyiksa setiap orang yang tidak setuju dengan pendapat mereka dengan siksaan yang pedih. Tetapi Imam Ahmad tetap tidak mau mengkafirkan salah seorang di antara mereka.”14

Sebagian pengikut atau simpatisan Jahmiyah zaman sekarang, bisa saja membuat plesetan pernyataan berupa pembolehan sholat di belakang seorang Jahmiyah berdalih dengan pernyataan Imam Ahmad di atas, padahal Imam Ahmad sholat di belakang salah seorang pemimpin yang terpengaruhi pemikiran Jahmiyah, hanya semata-mata karena hujjah belum ditegakkan, atau belum mengerti atau masih terdapat penghalang untuk dikafirkan. Hal ini bukan berarti beliau membolehkan sholat di belakang mereka, mengingat seluruh ulama salaf melarang sholat di belakang mereka kecuali sholat Jum’at, boleh tetapi harus diulangi karena dianggap batal. 15

Lajnah Daimah ditanya tentang seorang imam thowaf di kuburan dan melakukan safar bermil-mil bahkan puluhan dan mengumpulkan nadzar-nadzar serta melakukan pujian-pujian syirkiyah dan setiap pagi berdo’a: “Ya Ahmad Tijani, Ya Qutul Qulub amma taroo maa nahnu fihi min kurub……” dan juga berkata Ahmad Tijani adalah pemberi syafaat orang yang bermaksiat kepada Allah pada hari hasyr….. apakah boleh sholat di belakang imam seperti ini apa tidak? Sedangkan ada sebuah masjid kira-kira satu km yang ditegakkan as-sunnah, juga ada masjid masjid lain yang jauhnya sekitar tiga km, yang di dalamnya ditegakkan sunnah. Apakah boleh sholat di belakang ahlu bid’ah ini? Jika boleh apakah lebih utama saya sholat di masjid yang di dalamnya ditegakan as-sunnah walaupun agak jauh, atau sholat di masjid ini? Jika tidak boleh sholat di belakangnya, apakah boleh saya sholat sendirian? Dan bolehkah saya sholat di belakang imam ini untuk menjaga terjadinya fitnah?

Jawab : Dari sifat-sifat tersebut, tidak boleh sholat di belakangnya dan tidak sah kalau kamu melaksanakannya kepada orang yang sudah diketahui kondisinya. Karena ada masalah yang sangat besar yaitu adanya sifat-sifat kufriyyah dan kebid’ahan yang dapat menggugugurkan tauhid, yang dengannya Allah utus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Bagi yang tahu kondisinya hendaknya menasehatinya dan mengajarkan tauhid yang murni. Adapun toriqoh Tijaniyah termasuk masalah yang mungkar, maka jika ia menerimanya al-hamdulillah, tapi jika menolak, hendaknya menghindarinya serta sholat di masjid yang dijalankan sunnah. Dan pada diri Ibrahim telah ada suri tauladan yang baik.

öNä3ä9͔tIôãr&ur $tBur šcqããô‰s? `ÏB Èbrߊ «!$# (#qãã÷Šr&ur ’În1u‘ #Ó|¤tã Hwr& tbqä.r& Ïä!%tæ߉Î/ ’În1u‘ $|‹É)x©

Artinya: “Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”. (QS. Maryam: 48). Kamu tidak boleh sholat sendirian, tapi wajib sholat jama’ah di masjid yang ditegakkan as-sunnah. 16

Sesungguhnya mereka (orang yang berakidah rusak dan hululiyah) adalah kafir, tidak boleh sholat di belakangnya, dan tidak sah sholatnya.17 Aqidah Tijaniyah adalah aqidah kufur dan sesat, maka sholatnya tidak sah di belakang orang tersebut.18

Tidak boleh sholat bersama orang-orang sufi. Hati-hatilah berteman dengan mereka dan bercampur dengan mereka, supaya tidak terjerumus dengan mereka. Dan memilih masjid yang jama’ahnya menuntut sunnah dan rakus atasnya.19

Barang siapa mendapatkan imam yang bukan ahlu bid’ah, maka hendaknya ia sholat di belakangnya tanpa sholat di belakang ahlu bid’ah. Dan barang siapa tidak mendapatkan kecuali ahlu bid’ah kami menasehatkan padanya agar dia melepaskan dari kebid’ahannya. Kalau dia tidak menerima, sedangkan dia itu melakukan kebid’ahan syirkiyah, seperti istighotsah dengan orang mati, berdo’a kepada selain Allah, atau berkorban untuk mereka, maka tidak boleh sholat di belakangnya karena dia kafir, dan sholatnya batal, serta tidak sah menjadikan dia sebagai imam. Jika bid’ahnya bukan mukfirah seperti melafalkan niat, sholatnya sah dan sholat orang yang di belakangnya.20

Dipertegas lagi bahwa jika bid’ahnya syirkiyah seperti mereka berdo’a kepada selain Allah, nadzar kepada selain Allah dan keyakinan mereka kepada syaikh-syaikh, yang tidak berhak diberikan kecuali hanya untuk Allah, dari kesempurnaan ilmu dan ilmu-Nya dengan hal yang ghaib, maka tidak sah sholat di belakang mereka. Tapi jika bid’ahnya tidak mengandung kesyirikan, seperti dzikir sebagaimana atsar dari Nabi, akan tetapi secara bersama-sama, maka sholat di belakang mereka sah. Akan tetapi seyogyanya bagi seorang muslim mencari imam yang bukan ahli bid’ah, agar mendapatkan pahala yang besar dan jauh dari kemungkaran. 21

Sholat di belakang ahli bid’ah yang tidak dikafirkan

Adapun ahli bid’ah yang tidak dikafirkan karena kebid’ahan mereka, maka sholat di belakang mereka harus dirinci tergantung kondisi seorang imam dan para makmum itu sendiri. Sebab seorang ahli bid’ah yang tidak kafir, terkadang ada yang terang-terangan mengamalkan dan mengajak kepada kebid’ahan dan ada yang tidak demikian. Jika dia pengajak atau penyeru kepada kebid’ahan, sedangkan tidak mungkin sholat jama’ah baik sholat Jum’at, ied, jama’ah waktu haji atau sholat fardu lima waktu di suatu desa atau daerah yang tidak bisa sholat kecuali harus bermakmum bersama dia, karena bila tidak sholat bersama dia bisa berakibat sebagian jama’ah sholat terabaikan, atau takut kehilangan keutamaan sholat jama’ah bagi yang tidak menganggap wajibnya sholat jama’ah, atau meninggalkan kewajiban bagi yang menganggap wajib, maka menurut para ulama salaf dan kholaf boleh sholat di belakang ahlu bid’ah yang terang-terangan mengamalkan dan mengajak kepada kebid’ahan, dan tidak boleh meninggalkan sholat jama’ah hanya kerena imam sholat seorang ahlu bid’ah.

Barang siapa yang meninggalkan sholat jama’ah dengan alasan di atas, menurut kebanyakan ulama ahlu sunnah bisa dianggap sebagai ahli bid’ah berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

Dikisahkan Ibnu Abu Zamnin dari Siwar bin Syubaib, “Najdah Haruri pergi haji setelah mendapat restu Ibnu Zubair. Ia memimpin imam sholat sehari semalam termasuk Ibnu Umar yang sholat di belakangnya. Salah seorang bertanya: Wahai Abu Abdurahman, apakah kamu sholat di belakang Najdah al-Haruri (pendukung Khawarij)?” Ibnu Umar menjawab, ” Bila mereka mengajak marilah kita menuju kebaikan maka kita penuhi panggilan mereka. Dan jika mereka mengajak mari kita membunuh jiwa yang suci, maka kami katakan: Tidak, sambil dengan suara yang tinggi.

Ibnu Hazm berkata, “Tidak seorang pun dari kalangan sahabat menolak shalat di belakang Mukhtar, Ubaidillah bin Ziyad dan Hajjaj. Sementara tidak ada pemimpin lebih fasik dari mereka. Sebab Allah berfirman :

(#qçRur$yès?ur ’n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3“uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? ’n?tã ÉOøOM}$# Èurô‰ãèø9$#ur

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” ( Al Maidah : 2 )22

Syaikh Islam berdalil dengan kisah di atas, bahwa Khawarij tidak kafir, sebab para sahabat seperti Ibnu Umar dan yang lainnya masih mau sholat di belakang Najdah al-Haruri (pendukung Khawarij).23

Qotadah berkata, Saya bertanya kepada Sa’id bin Musayyab, “Apakah boleh kami sholat di belakang Hajjaj? Kami telah shalat berjama’ah di belakang seorang imam yang lebih buruk dari dia.”24

Imam Bukhori membuat bab dalam shohihnya: Bab iman seseorang ahli fitnah dan ahli bid’ah. Hasan al-Basri berkata, “Sholatlah dan baginya kebid’ahan itu”25

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menuturkan: “Bila seorang makmum tahu bahwa imam sholat seorang tokoh ahli bid’ah dan penyeru kepada kebid’ahan atau seorang fasik, sementara dia seorang imam ratib (tetap) dan tidak mungkin kecuali harus di belakang dia, seperti imam sholat jum’at, ied dan pada waktu haji, maka menurut ulama salaf dan kholaf, dan juga Imam Ahmad, Syafi’i dan Abu Hanifah serta yang lainnya bahwa makmum tadi boleh sholat di belakang imam tersebut. Oleh sebab itu dalam ‘aqoid mereka menyatakan boleh sholat jum’at dan ied berjama’ah di belakang imam yang baik maupun yang jahat. Begitu juga jika tidak ada imam kecuali dia, boleh sholat jama’ah di belakang dia karena sholat berjama’ah dengan seorang fasik lebih baik dari pada sholat sendirian. Inilah pendapat jumhur ulama, Imam Ahmad, Imam Syafi’i dan bahkan menurut madzhab Imam Ahmad sholat jama’ah adalah fardu ‘ain. Maka barang siapa yang tidak sholat jum’at dan jama’ah di belakang imam seorang yang jahat, menurut imam Ahmad dan lainnya dia bisa dianggap sebagai ahli bid’ah. Yang benar adalah sholat tanpa mengulanginya. Karena para sahabat sholat jum’at dan jama’ah di belakang imam yang fajir, tanpa mengulanginya. Sebagaimana Ibnu Umar sholat di belakang Hajjaj, Ibnu Mas’ud sholat di belakang al-Walid bin Uqbah, ia adalah peminum khamer sampai pernah ia sholat subuh empat rakaat. Akhirnya diajukan kepada Utsman.26

Ibnu Qudamah mengkompromikan pernyataan Imam Ahmad dan ulama sunnah, beliau berkata, “Adapun sholat jum’at sebaiknya tetap hadir dan bagi yang sholat bagi mereka harus mengulangi” Dalam riwayat lain dari beliau, “Siapa yang mengulangi berarti telah berbuat kebid’ahan” Maka secara umum tidak perlu mengulangi sholat yang dilakukan di belakang imam fasik atau ahli bid’ah, karena sholat itu diperintahkan dan tidak perlu mengulangi sebagaimana sholat-sholat yang lainnya.27

Ibnu Abul Izzi berkata, “Barang siapa yang tidak hadir shalat jum’at dan jama’ah di belakang pemimpin yang fajir, menurut kebanyakan ulama dia termasuk ahli bid’ah. Maka harus tetap shalat bersama mereka dan tidak perlu mengulang.”28

Demikian itu bila tidak mungkin mencari imam selain ahli bid’ah atau imam fasik. Tetapi bila memungkinkan, para ulama sepakat bahwa sholat di belakang ahli bid’ah berhukum makruh. Namun mereka berbeda pendapat dalam masalah sah atau tidaknya shalat. Madzhab Hanafi dan Syafi’i menganggap sah tetapi makruh. Ibnu Nujaim berkata, ” Sah dan makruh, sebab shalat telah terpenuhi syarat dan rukun tanpa ada kekurangan sedikitpun.”

Adapun madzhab Maliki dan Hambali sebagaimana dinukil para pengikut mereka terdapat dua pendapat. Pertama, wajib mengulangi sholat di belakang ahli bid’ah karena shalatnya dianggap batal. Kedua, tidak perlu mengulangi karena dianggap sah.29

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkomentar: “Perbedaan ulama dalam masalah sah tidaknya sholat di belakang imam fasik merupakan perbedaan yang masyhur di kalangan alim ulama. Yang kuat dari sisi dalil-dalil syar’i adalah sah sholat di belakang imam fasik. Asal kefasikan mereka tidak sampai pada tingkat kekufuran besar. Inilah pendapat kebanyakan ulama sunnah yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah.”30

Menaruh tangan kanan di atas tangan kiri dalam sholat adalah sunnah, dan menguraikan tangan adalah menyelisihi sunnah. Selalu qunut pada rokaat terakhir dari sholat subuh sebagaimana dilakukan oleh sebagian Malikiyah dan Syafi’iyah adalah menyelisihi sunnah, karena tidak ditetapkan oleh Nabi. Akan tetapi yang dilakukan Nabi adalah pada qunut nazilah (bahaya) dan beliau qunut pada sholat witir. Maka jika imam menguraikan tangannya dalam sholat dan mengkontinyukan qunut pada sholat subuh, ahlu ilmi menasehatkan dan memberi petunjuk untuk mengamalkan sunnah, jika menerima alhamdulillah, jika enggan dan mudah untuk sholat jama’ah di belakang yang lainnya, hendaknya sholat di lainnya demi menjaga sunnah. Jika sulit, sholat di belakangnya demi menjaga jama’ah. Dan sholatnya tetap sah.31

Hukum sholat di belakang imam yang mencukur jenggot, meninggalkan iftitah, membaca basmalah dengan pelan, memanjangkan ruku’ dan dzikir jama’ah setelah sholat?

Mencukur jenggot adalah haram, mencukurnya adalah fasik. Jika ia tahu bahwa mencukurnya adalah haram, dan ia tetap melakukannya, sholat di belakangnya tetap sah. Berkenaan dengan meninggalkan iftitah tidak menghalanginya untuk sholat di belakangnya, karena iftitah hukumnya sunnah bukan wajib. Adapun basmalah dibaca sirr (pelan) dan kami tidak mengetahui adanya dalil yang menunjukkan membacanya dengan jahr (terang). Tapi mengeraskannya tidak membatalkan sholat dan tidak menghalanginya untuk sholat di belakangnya. Karena perselisihan diantara mereka adalah masyhur, dan yang benar menurut sunnah adalah tidak mengeraskannya. Adapun tidak memanjangkan ruku’ dan sujud jika hal itu merusak ketenangan (tuma’ninah) maka sholatnya tidak sah, dan tidak sah keimamannya. Adapun berdo’a berjama’ah dan bershalawat atas Nabi secara bersama-sama setelah sholat adalah bid’ah, karena Rasul tidak pernah melakukan hal itu, begitu pula para sahabatnya. Rasulullah telah bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ

Artinya: “Barang siapa yang beramal tidak ada perintah dari kami, maka tertolaklah amalan teresebut” ( HR. Muslim) 32

Sholat di belakang imam yang menguraikan tangannya ketika sholat adalah sah, karena memegang kedua tangan setelah takbiratul ihram dan sebelum ruku’ serta memegangnya ketika berdiri setelah ruku’ dan sebelum sujud adalah termasuk sunnah dalah sholat, tidak membatalkan sholat dengan meninggalkannya. Dan sah mengikuti imam yang memgang tangannya atau tidak.33

Imam yang tidak diketahui keadaannya

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dasar Ahlu sunnah wal jama’ah: Bahwa mereka melakukan sholat jum’at, merayakan hari raya dan berjama’ah. Jika imam itu mastur (tertutup) tidak menampakkan kebid’ahan dan tidak berbuat kejahatan, maka sholat di belakang mereka boleh sesuai dengan kesepakatan imam yang empat dan imam yang lainya. Tidak ada seorang imampun mengatakan tidak boleh sholat kecuali di belakang orang yang diketahui batinnya. Bahkan kaum muslimin setelah wafatnya Nabi melaksanakan sholat di belakang muslim yang mastur (tertutup, tidak diketahui kebid’ahannya) tapi jika terlihat kebid’ahan atau kejahatan pada diri orang yang sholat, dan memungkinkan ia sholat di belakang orang yang mubtadi’ atau fajir bersamaan dengan kemungkinan ia sholat dengan yang lainnya, maka kebanyakan ahlu ilmi menganggap sah sholatnya makmum. Ini adalah madzhab Syafi’i dan Abu Hanifah, dan ini juga pendapat salah satu dari madzhab Malik dan Ahmad. Adapun jika tidak memungkinkan sholat kecuali di belakang ahli bid’ah atau fajir seperti sholat Jum’at di belakang imam ahli bid’ah atau fajir sedangkan di sana tidak ada lagi sholat Jum’at maka ini boleh menurut keumuman ahlu sunnah wal jama’ah. Ini pendapat empat imam tanpa ada perselisihan.

Sebagian ada orang yang tidak mau sholat kecuali di belakang orang yang benar-benar telah dikenalnya dikarenakan telah tersiarnya paham sesat. Hal ini dibolehkan, bahkan merupakan anjuran. Diriwayatkan bahwa imam Ahmad mengatakan hal seperti itu ketika ditanya seseorang dan beliau tidak mengatakan bahwa sholat tersebut tidak sah.

Ketika Abu Amru Utsman bin Marzuq berkunjung ke negeri Mesir, ia memerintahkan para sahabatnya agar tidak melakukan sholat kecuali di belakang orang yang sudah mereka kenal. Karena pada waktu itu raja-raja di negeri itu menampakkan kesyi’ahannya dan termasuk golongan Batiniyah Malahidah yang menyebabkan tersebarnya bid’ah di Mesir. Setelah ia wafat, negeri-negeri itu ditaklukkan oleh raja-raja yang berpaham sunnah seperti Shalahuddin, sehingga muncullah kalimat yang menentang Rafidhah. Dan berkembanglah sunnah dan ilmu di sana. Maka sholat di belakang imam yang yang tidak diketahui keadaannya diperbolehkan menurut kesepakatan kaum muslimin. Barang siapa mengatakan bahwa sholat di belakang orang yang tidak diketahui keadaannya haram atau batil, berarti ia menyalahi ijma’ ahli sunnah wal jama’ah. Para sahabat telah sholat di belakang orang telah diketahui kejelekan mereka, seperti ibnu Mas’ud dan sahabat lainnya sholat di belakang al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, ia telah meminum khomer. Dan dia pernah sholat subuh empat rakaat, sehingga Utsman bin Affan menjilidnya. Abdullah bin Umar dan sahabat lainnya juga pernah sholat di belakang Hajjaj bin Yusuf, dan sahabat serta tabi’in juga sholat di belakang ibnu Abi Ubaid, ia tertuduh dengan berbuat ilhad dan penyeru kepada kesesatan. 34

Jika imam nampak seorang muslim, sedang kedaannya tidak diketahui dari segi aqidahnya dan tidak diketahui penyimpangan dalam aqidahnya, maka sholat di belakangnya sah dan boleh memakan sembelihannya.35

Ibnu Qudamah berkata: “Bila serang sholat di belakang orang yang tidak jelas statusnya, dan tidak adanya penghalang dari keimaman, maka sholatnya makmum sah. Karena asal status muslim adalah selamat, dan jika sholat di belakang orang yang diragukan keislamannya, tetap sholatnya dianggap sah”.36 Ibnu Aqil berkata: “Tidak ada pengulangan jika tidak diketahui statusnya secara mutlak.”37

Ibnu Hazm berkata: “Sesungguhnya sholat di belakang orang yang dikiranya muslim kemudian diketahui bahwasanya ia adalah kafir atau ia adalah ‘abits atau belum baligh, maka sholatnya sempurna. Karena Allah ktidak membebani untuk mengetahui apa yang ada pada hati manusia.38

Tidak wajib bagi orang yang mendiami sebuah desa untuk menanyakan kondisi imamnya, dan ia boleh sholat di belakangnya, kecuali jika ia melihat darinya mengingkari agama. Karena hakekat muslim adalah husnudzon (baik sangka) dengan mereka sampai jelas penyimpangannya.39

KESIMPULAN

Jadi hukum sholat di belakang ahlu bid’ah adalah sebagai berikut:

  1. Sholat di belakang imam kafir tidak sah karena amalannya rusak oleh kekufuran. Kecuali imam sholat jum’at yang tidak mungkin mencari imam selainnya, maka boleh sholat dan wajib mengulang. Sebab itu mengandung dua kemaslahatan, pertama untuk memenuhi panggilan Allah (al-Jumu’ah: 9), dan untuk memunaikan sholat sesuai dengan syariat secara sah.
  2. Boleh sholat di belakang ahli bid’ah muslim yang menampakkan kebid’ahan. Dengan syarat tidak ada selainnya tanpa harus mengulangi. Tapi hukum asal tidak boleh sholat di belakang ahlu bid’ah yang menampakkan kebid’ahan, dalam rangka memberi pelajaran dan peringatan. Namun, bila tindakan itu menimbulkan mudharat yang lebih besar seperti terabaikannya sholat lima waktu dengan berjama’ah, maka boleh. Karena ulama selalu memilih bahaya yang paling ringan dalam segla hal, ketika tidak bisa dihindarkan semuanya.
  3. Makruh sholat di belakang ahli bid’ah muslim yang menampakkan kebid’ahan, bila masih mungkin sholat di belakang imam yang adil.
  4. Wajib melakukan sholat di belakang ahlu bid’ah yang menyembunyikan kebid’ahannya, bila tidak ada selainnya dalam rangka merealisasikan syiar sholat jum’at.
  5. Sholat bersma imam yang adil lebih utama daripada sholat di belakang ahlu bid’ah yang tersembunyi bid’ahnya, agar kaum makmum melakukannya secara sempurna.
  6. Boleh sholat di belakang imam yang tidak jelas statusnya, karena hukum asal setiap orang Islam berstatus adil.

Jadi sikap ulama salaf di atas dalam rangka untuk memberi sanksi kepada ahlu bid’ah agar kembali kepada sunnah, bila tidak mampu mengubah dengan cara pendekatan persuasif. Sebab sikap keras dan persuasif adalah jalan untuk menyadarkan ahlu bid’ah.40

CARA MENGINGKARI DAN DAKWAH KEPADA AHLI BID’AH

Seyogyanya bagi seorang da’i tahu apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang, bijaksana dalam menyuruh dan melarangnya, serta menimbang-nimbang diantara kemaslahatan-kemaslahatan yang ada dan mengedepankan hal yang rojih (kuat) atas yang marjuh (lemah). Dan melihat pada kerusakan-kerusakan (mafasid) kemudian mengikuti yang lebih ringan untuk menahan bahaya yang lebih besar. Jika antara kemaslahatan dan mafasid bertentangan ternyata kemaslahatan lebih kuat, maka ia mengambilnya. Dan jika mafasidnya lebih kuat, maka ditinggalkan. Oleh karena itu seyogyanya dia menetapkan as-sunah dan menjabarkannya, dan mengingkari bid’ah serta menjelaskannya pada manusia, akan tetapi dengan hikmah, mau’idhoh hasanah dan berbantahan dengan baik. Allah berfirman:

äí÷Š$# 4’n<Î) ÈÎ6y™ y7În/u‘ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr&

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” ( An-Nahl: 125)

Dan itu tidak dinamakan fitanan (ujian).41

Maka kewajiban seorang muslim jika berada di tengah-tengah kaum muslimin adalah melakukan sholat jum’at dan sholat berjama’ah bersama mereka, serta mencintai kaum mukmin dan tidak memusuhi mereka. Jika ia melihat sebagian mereka melakukan kesesatan dan kekeliruan, sedang ia mampu untuk meluruskan dan membimbing mereka, maka hendaklah ia lakukan. Tetapi jika tidak mampu maka Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Demikian juga bila ia mampu mengangkat pemimpin muslim yang lebih utama, hendaklah ia melakukannya. Jika ia tidak mampu melakukan semua itu, maka sholatlah di belakang orang yang lebih mengetahui Kitabullah dan sunnah Rasul, serta mereka yang lebih mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana Rasulullah bersabda:

يؤمّ القوم أقرأهم لكتاب الله فإن كاموا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة, فإن كانوا في السنة سواء فأقدمهم هجرة, فإن كانوا في الهجرة سواء, فأقدمهم سنّا

Artinya: “Jama’ah diimami oleh yang lebih pandai membaca Kitabullah. Jika sama-sama pandai membaca Kitabullah, maka didahulukan orang yang lebih mengetahui tentang sunnah. Jika sama juga dalam mengetahui as-sunnah, maka didahulukan yang ikut hijrah. Dan apabila sama-sama ikut hijrah, maka dahulukanlah yang lebih tua.” (HR. Muslim-Abu Daud dari Abu Musa al-Badri)

Kalau pemutusan hubungan terhadap pelaku bid’ah dan kedurhakaan lebih membawa kemaslahatan, hendaklah ia melakukannya. Sebagaimana Nabi mengucilkan ketiga sahabat yang menolak ikut perang Tabuk sampai taubat mereka diterima Allah. Sedang jika imam dipegang oleh orang lain, tanpa seizinnya, dan meninggalkan sholat jama’ah dan sholat jum’at di belakangnya tidak menimbulkan maslahat syar’iyyah, maka tindakannya merupakan kebodohan dan kesesatan. Ia telah menolak bid’ah dengan bid’ah.42

Ibnu Umar sholat di belakamg al-Halajj, siapakah dia?

Imam Ahmad sholat ied dan jum’at bersama Mu’tazilah.

Ibnu Mas’ud sholat di belakang al-Walid bin Uqbah (peimpin pemabuk) sholat subuh 4 rokaat.

REFERENSI

  1. Ibnu al Mandzur, Lisan al Arab.
  2. Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa.
  3. Ibnu Taimiyah, Minhajus sunnah An Nabawiyyah.
  4. Dr. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili, Mauqif ahlu sunnah wal jama’ah min ahli al ahwa wal bida’, Penerbit Al Ghura’ah Al Atsriyah, 1415 H.
  5. Fatawa Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts al Ilmiyah wal ifta’.
  6. Muhammad Abdul hadi Al Mishri, Ahlu Sunnah wal jama’ah ma’alim intilaqoh al kubra.
  7. Dr. Nasir bin Abdul Karim Al Aql, Dirasat fil ahwa wal firaq wal bida’.
  8. Imam Syatibi, Al I’tisham.
  9. Ibnul Izzi, Syarh Aqidah At Thohawiyah. Tahqiq : Syu’aib AL Ar Nauth dan Abdul Muhsin At Tuirki.
  10. Ibnu Qudamah, Al Mughni.
  11. Ibnu Hajar al Atsqolani, Fathul Bari, Dar Fiha, cet. 2, 1425 / 2000.
  12. Ibnu Hazm, Al Muhalla.
  13. Ma’arijul qobul.

1 Ibnu al Mandzur, Lisanu al ‘Arabi hlm. DR. Nasir bin Abdul Karim Al ‘Aql, Dirosat fil ahwa wal firoq wal bida’, hal 30-31

2 Imam Syatibi, Al I’tisom 1/37

3 DR. Nasir bin Abdul Karim Al ‘Aql, Dirosat fil ahwa wal firoq wal bida’, hal 32

4 ibid, hal : 32-33

5 Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 3 : 248, Ahlu sunnah wal jama’ah Ma’alimul intilaqoh al Kubra, Muhammad Abdul Hadi Al Mishri, hal. 193.

6 Ma’arijul qobul : 3/1228.

7Muhammad bin Sa’id Al Qohtoni, Al-wala’ wa al-bara’ fi al-islam : 141.

8 Ma’arij al-qobul 3/1229

9 ibid : 3/1229).

10 Dr. Ibrahim bin Amir ar Ruhaili, Mauqif ahli sunnah wal jama’ah min ahlil ahwa wal bida’, hlm : 215-216 (terj)

11 Syarh ushul I’tiqod ahli sunnah wal jama’ah 2 / 731, dinukil dari Maqifu ahli sunnah : 216

12 ibid

13 Masail Imam Ahmad, Abu Daud : 43

14 Majmu’ Fatawa, 7 / 507-508

15 Daru suniyah : 3/197-198, Kasy Syubhataini, 20-21. dinulil mauqif …, 218.

16 Fatawa Lajnah Daimah lil buhuts al ilmiyah wal ifta : 7 / 361, no : 3093

17 Ibid, 7 / 362, no : 6825

18 Ibid, 7 / 359, no : 359

19 Ibid, 2 / 302, no : 6250

20 Ibid, 7 / 364-365, no : 12087

21 Ibid, 7 / 353, no : 949

22 Muhalla, 4 / 302, dinukil dari Mauqif : 220

23 Ibnu Taimiyah, Minhajus sunnah an Nabawiyah, 5 / 247

24 Ushul Sunnah, Ibnu Abu Zamnin 3 / 1005, mauqif : 221

25 Fathul Bari : 2 / 244

26 Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa , 23 / 200

27 Ibnu Qudamah, Al Mughni , 3 / 22

28 Ibnu Abil Izzi, Syarh aqidah Thohawiyah, hlm. 532

29 Dr. Ibrahim bin Amir ar Ruhaili, Mauqif ahli sunnah wal jama’ah min ahlil ahwa wal bida’, hlm : 226

30 Majmu’ fatawa, bin Baz 2 / 327

31 Fatawa Lajnah Daimah lil buhuts al ilmiyah wal ifta : 7 / 367, no : 2017

32 Fatawa Lajnah Daimah lil buhuts al ilmiyah wal ifta : 7 / 368-369, no : 4215

33 Fatawa Lajnah Daimah lil buhuts al ilmiyah wal ifta : 7 / 364, no : 3635

34 Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 3 / 175-176.

35 Fatawa Lajnah Daimah lil buhuts al ilmiyah wal ifta : 7 / 365, no : 7503

36 Ibnu Qudamah, Al Mughni 3 / 23, Masail imam Ahmad bin HAmbal, 2 / 25

37 Masail imam Ahmad bin HAmbal, 2 / 25

38 Ibnu Hazm, Al Muhalla, 4 / 51

39 Fatawa Lajnah Daimah lil buhuts al ilmiyah wal ifta : 7 / 363, no : 6114

40 Dr. Ibrahim bin Amir ar Ruhaili, Mauqif ahli sunnah wal jama’ah min ahlil ahwa wal bida’, hlm : 230-232.

41 Fatawa Lajnah Daimah lil buhuts al ilmiyah wal ifta : 2 / 475-476

42 Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 3 / 179.

2 Komentar to “SHOLAT DI BELAKANG AHLU BID’AH”

  1. hebat marojiknya banyak banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: