Biografi Imam Mawardi



Zaman Al-Mawardi

Kekhalifahan Abbasiyah yang gemilang telah memberikan suasana paling cocok bagi kemajuan ilmu pengetahuan, dan secara tepat dikenal sebagai zaman keemasan peradaban Islam. Pada masa pemerintahan inilah Khalifah Ma’mun ar-Razid yang termasyur itu mendirikan Darul hukama (Rumah Kebijaksanaan), yang manfaatnya sebagai laboratorium penerjemahan dan kerja penelitian membuka jalan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Perkembangan intelektual selama era ini telah mencapai tingkatan yang tidak ada tolok bandingannya dalam sejarah Islam. Khalifah-Khalifah dan Amir-amir saling menyaingi dalam melacak karya-karya tulis dan melindungi ilmu pengetahuan. Salah seorang bintang intelektual yang besar pada zaman ini adalah Al-Mawardi, yang menjadi terkenal sebagai pemikir politik Islam yang pertama, dan termasuk pada barisan pemikir-pemikir politik yang terbesar dari abad pertengahan. Dari kedudukan sebagai Qadhi, meningkat menjadi Duta Keliling Khalifah, dan telah membereskan banyak kekacauan politik yang rumit bagi negaranya. “Al-Khatib of Baghdad,” demikian tulis seorang orientalis, “Mengenai otoritas Abu Ali Hasan Ibn Da’ud, menceritakan bahwa penduduk Basrah selalu membanggakan tiga orang ilmuwan negara mereka dan karya-karyanya, yaitu:

  1. Khalid ibn Ahmad (wafat 175 H) dengan karyanya Kitab Al-Amin,
  2. Sibawaih (wafat 180 H) dengan karyanya Kitab An-Nahw, dan
  3. Al-Jahiz (wafat 225 H) dengan karyanya Al-Bayan wat-Tabiyan.

Kepada tiga nama ini masih bisa ditambahkan nama keempat, Al-Mawardi, seorang penasehat hukum yang terpelajar, dan ahli ekonomi politik dari Basrah, dengan bukunya Al-Ahkam us-Sultaniyah. Karya ini merupakan master-piece dalam literature politik keagamaan Islam.”

Imam Abu Hasan Ali bin Muhammad Al-Mawardi hidup pada seperempat terakhir abad ke’empat hijriah dan paroh pertama abad kelima hijriah, yaitu pada era Bani Abbasiyah kedua.

Kondisi Politik

Jika kita mengamati kondisi dunia islam pada zamannya, dunia islam  telah terbagi kedalam tiga  Negara yang tidak akur dan saling mendendam terhadap yang lain. Di Mesir terdapat Negara fathimiyyah. Di Andalusia terhadap Negara Bani Umayyah. Di Irak, Khurasan, dan daerah-daerah timur secara umum terdapat Negara Bani Abbasiyah.

Hubungan antara khalifah-khalifah Bani Abbasiyah dengan Negara Fathimiah di Mesir didasari permusuhan sengit, sebab masing-masing dari keduanya berambisi untuk menghancurkan yang lain. Hubungan Bani Abbasiyah dengan khalifah-khalifah Bani Ummayyah di Andalusia juga dilandasi permusuhan sejak Bani Abbasiyyah meruntuhkan sendi-sendi Negara Bani Ummayyah, dan untuk itu darah tercecer disana-sini.

Itulah kondisi eksternal Negara Bani Abbasiyyah. Adapun kondisi internal khalifah di Baghdad dan sekitarnya, sesungguhnya pemegang kekuasaan yang sebenarnya di Baghdad adalah Bani Buwaih. Mereka adalah orang-orang Syiah fanatik dan radikal. Mereka berusaha dengan menekan ummat dan khalifah sendiri tidak mempunyai peran penting ibarat sebagai symbol belaka, bahkan ia adalah barang mainan ditangan mereka.

 

Kondisi Sosial

Pada zamannya, kehidupan mewah dan hedonisme berkembang luas dikalangan khalifah-khalifah , gubernur-gubernur dan para pejabat kenegara’an. Pada sa’at para khalifah dan para gubernur-gubernur sedang menikmati hidup dengan serba mewah, kita lihat kemiskinan yang parah, dan kelaparan menggrogoti daging kebayakan manusia hingga mereka menjadi seperti mayat-mayat diam yang tidak bergerak, sebab paceklik terjadi di Baghdad, dan kota-kota lainnya, hinga manusia terpaksa memakan bangkai pada tahun 423 H, 449 H, dan 456 H.

Kondisi Ilmiah

Kondisi keilmiyahan pada zamannya adalah munculnya fenomena taklid (fanatik buta) terhadap para Imam-imam Madzhab. Sebab langka sekali ada diantara pengikut madzhab-madzhab yang keluar dari madzhab Imamnya dan metodologi ijtihadnya.

Biografi Al-Mawardi

Kelahiran dan nasabnya

Dialah imam besar, ahli fiqh, ahli ushul fiqh, dan pakar tafsir Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi.  Ia dilahirkan di Basrah pada 364 H/974 M, dalam satu keluarga Arab yang membuat dan memeperdagangkan air mawar, dan karena itu mendapat nama julukan “Al Mawardi.”

 

Kehidupannya

Dia menerima pendidikannya yang pertama di Basrah, dan Baghdad selama dua tahun.  belajar ilmu hukum dari Abul Qasim Abdul Wahid as-Saimari, seorang ahli hukum madzhab Syafi’i yang terkenal. Kemudian, pindah ke Baghdad untuk melanjutkan pelajaran hukum, tata bahasa, dan kesusastraan, dari Abdullah al-Bafi dan Syaikh Abdul Hamid al-Isfraini. Dalam waktu singkat ia telah menguasai dengan baik pelajaran-pelajaran Islam, termasuk hadits dan fiqh seperti juga politik, etika dan sastra.

Ia menjabat hakim dibanyak kota secara bergantian. kemudian diangkat sebagai qadhi al-Qudzat (Hakim Tertinggi) di Ustuwa, sebuah distrik di Nishabur. Pada 429 H, ia dinaikkan kejabatan kehakiman yang paling tinggi, Aqda al-Qudhat (Qadhi Agung) di Baghdad, jabatan yang dipegangnya dengan hormat sampai pada saat wafatnya. Dia ahli politik praktis yang ulung, dan penulis kreatif mengenai berbagai persoalan sepeti agama, etika, sastra dan politik. Ia termasuk pakar fiqh pengikut-pengikut madzhab imam Syafi’i.

Ia hidup pada masa pemerintahan dua khalifah : Al-Qadir billah (381-422H) dan Al-Qa’imu  BIllah (422-467H).

Khalifah Abbasiyah al-Qadir Billah (381 – 422 H) memberinya kehormatan yang tinggi, dan Qa’imam bin Amrillah 391 – 460 H Khalifah Abbasiyah ke-26 di Baghdad mengangkatnya menjadi duta keliling dan mengutusnya dalam berbagai misi diplomatic ke negara-negara tetangga maupun ke negara satelit. Kenegarawannya yang arif bijaksana, untuk sebagian besar bertanggung jawab dalam memelihara wibawa kekhalifahan di Baghdad, yang merosot di tengah-tengah para raja dari warga Saljuk dan Buwaihid, yang hampir sepenuhnya berdiri sendiri dan terlalu berkuasa. Al Mawardi dilimpahi berbagai hadiah berharga oleh Saljuk, Buwaihid dan amir-amir yang lainnya yang diberinya nasehat-nasehat bijaksana yang sesuai dengan martabat kekhalifahan Baghdad.

Sebagai eksponen Madzhab Syafi’I, Al-Mawardi adalah seorang ahli hadits terkemuka. Sayang sekali tak ada karyanya mengenai persoalan ini yang masih tersimpan. Tak diragukan bahwa sejumlah hadits dari dia telah dikutip dalam Ahkam As-Sulthaniya, A’lam Nubuwat, dan Adab ud Dunya wad-Din. Pegangannya pada hadits bisa laku ternyata dari karyanya A’lam un- Nubuwat. Keterangannya tentang perbedaan antara mukjizat dan sihir dalam pengertian ucapan-ucapan nabi, menurut Tsah Kopruizadah adalah yang “terbaik diriwayatkan sampai masa itu.”

Sebagai seorang penasehat politik, Al-Mawardi menempati kedudukan yang penting diantara sarjana-sarjana Muslim. Dia telah mengkhususkan diri dalam soal ini, dan diakui secara universal sebagai salah seorang ahli hukum terbesar pada zamannya. Dia mengemukakan fiqh madzhab Syafi’i dalam karya besar yang unggul Al-Hawi, yang dipakai sebagai buku rujukan tentang hukum madzhab Syafi’i oleh ahli-ahli hukum kemudian hari, termasuk al-Isnavi yang sangat memuji buku ini. buku ini terdiri dari 8.000 halaman, dipadatkan oleh al-Mawardi dalam satu ringkasan 40 halaman berjudul Al-Iqra.

Al-Mawardi mempunyai reputasi tinggi di kalangan orang-orang lama dalam barisan juru ulas Al-Quran . Ulasannya yang berjudul Nukat-wa’luyun mendapat tempat tersendiri diantara ulasan-ulasan klasik dari Al Qusyairi, Al-Razi, Al-Isfahani, dan Al-Kirmani. Tuduhan bahwa ulasan-ulasannya yang tertentu mengandung kuman-kuman pandangan Mu’tazilah tidaklah wajar, dan orang-orang terkemuka seperti Ibn Taimiyah telah memasukkan karya Al-Mawardi ke dalam buku-buku yang bagus mengenai persoalannya. Ulasannya atas Al-Qur’an popular sekali, dan buku ini telah dipersingkat oleh seorang penulis. Seorang sarjana Muslim Spanyol bernama Abul Hasan Ali telah datang jauh dari Saragosa di Spanyol, untuk membaca buku tersebut dari pengarangnya sendiri.

Al-Mawardi juga menulis sebuah buku tentang perumpamaan dalam Al-Qur’an, yang menurut pendapat As-Suyuti merupakan buku pertama dalam soal ini. Menekankan pentingnya buku ini, Al-Mawardi menulis, “salah satu dari ilmu Qur’an yang pokok adalah ilmu ibarat, atau umpama. Orang telah mengabaikan hal ini, karena mereka membatasi perhatiannya hanya kepada perumpamaan, dan hilang pandangannya kepada umpama-umpamanya yang disebutkan dalam kiasan itu. Suatu perumpamaan tanpa suatu persamaan (misal), ibarat kuda tanpa kekang, atau unta tanpa penuntun.”

Al-Mawardi, sekalipun bukan mahasiswa biasa dalam ilmu politik, adalah ahli ekonomi politik kelas tinggi dan tulisan-tulisannya yang spekulatif politis dianggap sangat bernilai. Karyanya yang monumental, Al-Ahkam As-Sultaniyah, mengambil tempat yang penting diantara risalah-risalah politik yang ditulis selama abad pertengahan. Dia telah menulis empat buku tentang ilmu politik yaitu :

1.Al-Ahkam Ash-Sultaniyah (hukum mengenai kenegarawan).

2.Adab al-Wazir (etika menteri).

3.Siyasat ul-Malik (politik raja).

4.Tahsil An-Nasr wat-Ta’jit uz-Zafar (memudahkan penaklukan dan mempercepat kemenangan).

Dari empat buku ini, dua yang pertama telah diterbitkan. Al-Ahkam us-Sultaniyah, yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk Perancis, dan Urdu, merupakan karya-karya tiada ternilai mengenai hukum masyarakat Islam. Dalam isi buku ini, dia telah mengikuti karya Asy-Syafi’i, kitab Al-Umm, Adab al-Wazir yang menguraikan fungsi perdana menteri, dan memberikan pandangan-pandangan yang sehat mengenai administrasi umum. Suatu bacaan yang luas menguraikan kewajiban-kewajiban dan hak-hak istimewa perdana menteri banyak dihasilkan di negeri-negeri Islam, tetapi karya Al-Mawardi, Adab al-Wazir, adalah yang paling luas dan penting mengenai persoalannya, yang meliputi hampir semua tahap tentang hal yang berseluk-beluk ini.

Tulisan-tulisan Al-Mawardi yang bersifat politik, maupun yang religius, mempunyai pengaruh besar atas penulis-penulis yang kemudian tentang persoalan ini, terutama di negeri-negeri Islam. Pengaruhnya bisa terlihat pada karya Nizamul Mulk Tusi, Siyasat Nama, dan Prolegomena karya Ibn Khaldun. Ibn Khaldun, yang diakui peletak dasar sosiologi, dan pengarang terkemuka mengenai ekonomi politik tak ragu lagi telah melebihi Al-Mawardi dalam banyak hal. Menyebutkan satu-persatu kemestian seorang penguasa, Ibn Khaldun berkata, “Penguasa itu ada untuk kebaikan rakyat. Kemestian adanya seorang penguasa timbul dari fakta bahwa manusia harus hidup bersama-sama; dan kecuali ada orang yang memelihara ketertiban, maka masyarakat akan hancur berantakan.” Dia mengamati: “Selamanya ada kecenderungan tetap dalam suatu monarki Timur kepada absolutisme, kepada kekuasaan tiada terbatas, tiada dihiraukan, begitu pulalah kecenderungan gubernur-gubernur orang Timur kepada kebebasan bertambah-tambah besar kepada kekuasaan pusat. Sebelumnya, Al-Mawardi telah menunjukkan kekuasaan tak terbatas dari gubernur-gubernur selama kemerosotan kekhalifahan Abbasiyah, ketika kedudukan gubernuran itu telah diperoleh melalui perebutan kuasa, dan penguasa pusat hanya memiliki kontrol yang lemah terhadap mereka.

Demikianlah Al-Mawardi menonjol sebagai pemikir besar politik yang pertama dalam Islam, tulisan-tulisan maupun pengalaman-pengalaman praktisnya dibidang politik telah berumur panjang dalam membentuk pandangan politik penulis-penulis yang lahir kemudian.

Guru-gurunya

Ia belajar hadis di Baghdad pada:

  1. Al-hasan bin Ali bin Muhammad Al-Jabali (sahabat Abu Hanifah Al-Jumahi)
  2. Muhammad bin Adi bin Zuhar Al-Manqiri.
  3. Muhammad bin Al-Ma’alli Al-Azdi
  4. Ja’far bin Muhammad bin Al-fadhl Al-Baghdadi.
  5. Abu Al-Qasim Al-Qushairi.

Ia belajar fiqh pada:

  1. Abu Al-Qasim Ash-Shumairi diBasrah.
  2. Ali Abu Al-Asfarayni (Imam madzhab Syafi’I di Baghdad)., dll.

Murid-muridnya

Diantaranya adalah:

  1. Imam besar, Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Ali Al-Khatib Al-Baghdadi.
  2. Abu Al-Izzi Ahmad bin kadasy.

Buku-Buku Peninggalannya

Diantara buku-buku karangannya adalah sebagai berikut:

Pertama; Dalam fiqh,Yaitu:

  1. Al-Hawi Al-Kabiru
  2. Al-Iqna’u

Kedua; Dalam fiqh politik, Yaitu:

  1. Al-Ahkamu As-Sulthaniyyah
  2. Siyasatu Al-Wizarati wa Siyasatu Al-Maliki
  3. Tashilu An-Nadzari wa Ta’jilu Adz-Dzafari fie Akhlaqi Al-Maliki wa Siyasatu Al-Maliki
  4. Siyasatu Al-Maliki
  5. Nashihatu Al-Muluk

Ketigal; Dalam Tafsir, Yaitu:

  1. Tafsiru Al-Qur’anul Karim
  2. An-Nukatu wa Al-Uyunu
  3. Al-Amtsalu wa Al-Hikamu

Ke’empat: Dalam sastra, Yaitu:

Adabu Ad-Dunya wa Ad-Dini

Kelima; Dalam Aqidah, Yaitu:

A’lamu An-Nubuwah

Pujian Para Ulama Terhadapnya

Sejarawan Ibnu Al-Atsir berkata: “Imam Al-Mawardi adalah seorang Imam.

Abu Fadhl ibnu Khairun Al-Hafidz berkata: Al-Mawardi adalah orang hebat. Ia mendapatkan kedudukan tinggi dimata sulthan. Ia adalah salah seorang imam, dan mempunyai karya tulis bermutu dalam berbagai disiplin Ilmu.

Al-Khatib Al-Baghdadi berkata: Al-Mawardi termasuk tokoh ahli fiqh madzhab Imam Syafi’i. Aku menulis darinya dan ia adalah orang yang berintegritas tinggi.

Ada diantara para Ulama diantaranya adalah Imam Ad-Dzahabi  yang menuduhnya sebagai Mu’tazili, tetapi oleh para ulama yang lain diantaranya Ibnu Subki, dan Ibnu Hajr menyangkal hal itu. Walaupun memang benar bahwa ada sebagian pendapat-pendapatnya yang sejalan dengan pendapat sekte Mu’tazilah, diantaranya adalah pertama, pendapatnya berkaitan tentang kewajiban hukum dan pengamalannya apakah hal tersebut berdasarkan syariat atau akal? Al-Mawardi berpendapat bahwa hal tersebut berdasarkan akal.  Kedua, pendapatnya tentang penafsiran satu ayat Al – A’raaf, ia berkata : “ Allah tidak menghendaki penyembahan berhala-berhala.

Wafatnya

Al-Mawardi wafat pada bulan Rabiul Awwal tahun 450 H/1058 M dalam usia 86 tahun. sesudah menjalani karier yang cemerlang.

Referensi:

v   Nizham Ad-Daulah wa Al-Qadha wa Al-Urf Fie Al-Islam, Dr. Samir Aliyah.

v   Seratus Muslim Terkemuka, Jamil Ahmad.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: