BIOGRAFIABU HURAIROH


  1. Biodata Singkat Abu Hurairoh

Nama beliau yang sebenarnya sebelum masuk islam adalah Abu Syamsi, kemudian setelah beliau masuk islam ia diberi nama oleh Rasulullah dengan nama Abdurrahman bin Shohrin Adduwaysie , adapun kemudian ia dijuluki dengan Abu Hurairah karena Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seeokor kucing, yang selalu diberi makan, digendongnya, dibersihkannya dan diberi tempat. Kucing itu selalu menyertainya seolah-olah bayang-bayangnya. Inilah sebabnya ia diberi gelar “Bapak kucing”    Semoga Allah ridlo kepadanya dan menjadikannya ridla kepada Allah….!

 

  1. Otaknya Menjadi Gudang Pembendaharaan Pada Wahyu.

Sahabat mulia Abu Hurairah termasuk salah seorang yang memiliki bakat yang istimewa, beliau mempunyai bakat yang luar biasa  dan kekuatan ingatannya. Abu Hurairah mempunyai kelebihan dalam seni menghafal dan menyimpan apa yang didengarnya, ditapungnya lalu dihafalkan hingga ia tak pernah melupakan satu kata atau satu hurufpun dari apa yang telah ia dengarnya, sekalipun usia telah bertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah ia mewakafkan hidupnya lebih banyak untuk mendampingi Rasulullah sehingga termasuk orang yang terbanyak menghafal dan menerima hadits dari Rasulullah.

Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membikin hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah. Mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalah gunakan ketenarannya dalam meriwayatkan hadits dari Nabi Saw; hingga sering mereka mengeluarkan sebuah hadits dengan menggunakan kata-kata ”bekata Abu Hurairah….”

Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah dan kedudukannya selaku penyampai hadits dari Nabi  Saw. Menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usah susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di telah dihabiskan oleh tokoh-tokoh ulama hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berkhidmat kepada hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan kedalamnya.

Abu Hurairah berhasil lolos dari jaringan kepalsuan dan penambahan-penambahan yang sengaja hendak diselundupkan oleh kaum perusak kedalam islam, dengan mengkambing hitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya.

Beliau adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi islam, dengan segala perubahan yang ia buat. Dari orang upahan menjadi induk orang yang mengupah atau majikan, dari seorang yang terlunta-lunta ditengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan! Dan dari seorang yang sujud kepada batu-batu yang disusun, menjadi orang yang beriman kepada Allah. Beliau berkata ; _“Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin, aku menerima upah sebagai pembantu pada Basrah binti Ghazwan demi untuk mengisi isi perutku. !aku lah yang melayani keluarga itu bila sedang ingin berpergian, sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Bushrah, maka segala puji bagi Bagi Allah yang telah menjadikan agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah ikutan umat…!”

Ia datang kepada Nabi Saw pada tahun ketujuh hijriyah sewaktu beliau berada di khoibar; ia memeluk islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan, dan semenjak ia bertemu dengan Nabi Saw dan berabaiat kepadanya, hampir-hampir ia tidak pernah berpisah lagi dari padanya kecuali pada saat-saat waktu tidur. Begitulah berjalan selama empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah Saw, yakni sejak ia masuk islam sampai wafatnya Nabi, pergi ke Maha Tinggi. Kita katakan, “Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan sampai keapada seluruh perbuatan dan pendengaran.

Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat kesempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan penting dalam berbakti kepada agama Allah, beliau adalah orang yang mampu melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajaran agama, pada waktu memang ada para sahabat yang mampu menulis, tetapi jumalah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat hadits-haits Rasulullah.

Sebenarnya Abu Hurairah bukanlah seorang penulis, ia hanyalah seorang yang menghafal, disamping memiliki kesempatan dan mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak pula perniagaan yang akan diurus.

Ia pun menyadari bahwa ia termasuk orang yang masuk islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti rasul terus menerus dan secara tetap mengikuti majelisnya, kemudian disadari pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, serta semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan doa Rasul, agar pemilik bakat ini deberi Allah berkat.

Ia menyiapkan dirinya menggunakan bakat dan kemampuan karuia ilahi untuk memikul tanggung jawab dan memelihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian. Dan beliau adalah seorang yang misikin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka dia hadir disaat yang lainnya absen keran kesibukan, dan disuatu hari Rasil pernah berbicara kepada para sahabat :

مَنْ يَبْسُط رِدَاءَهُ حَتّي يَفْرَغُ مِنْ حَدِيْثِيْ ثُمَّ يَقْبِضُهُ إِلَيْهِ فَلَا يَنْسَى شَيْئًا كَانَ قَدَ سَمِعَه ُمِنِّيْ

 

“Siapa yang membentangkan surbannya hingga selesai pembicaraanku, kemudian ia meraihnya kedirinya, maka ia takkan terlupa akan suatupun dari apa yang telah didengarnya dari padaku.” (HR. Bukhori no 2047, Muslim 2492)

 

Maka kuhamparkan kainku, lalu ia berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu kederiku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa  yang aku dengar dari padanya. Demi Allah kalau bukan karena tidak adanya ayat didalam kitabullah niscaya tidak akan ku kabarkan kepada kalian sedikitpun ! ayat ini adalah ;

¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbqßJçFõ3tƒ !$tB $uZø9t“Rr& z`ÏB ÏM»uZÉit7ø9$# 3“y‰çlù;$#ur .`ÏB ω÷èt/ $tB çm»¨Y¨t/ Ĩ$¨Z=Ï9 ’Îû É=»tGÅ3ø9$#   y7Í´¯»s9’ré& ãNåkß]yèù=tƒ ª!$# ãNåkß]yèù=tƒur šcqãZÏ軯=9$# ÇÊÎÒÈ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, (Qs. Albaqarah 159)

Oleh sebab itu ia harus saja memberitakan, tak suatu pun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarangnya, hingga pada suatu hari Umar berkata kepadanya, “Hendaklah kamu hentikan menyampaikan kabar dari Rasulullah! Jika tidak maka akan kukembalikan kamu ketanah Daus.

Tetapi larangan ini tidak mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah, hal itu hanyalah sebagai pengukuhan dari suatu pandangan yang dianul oleh Umar, yaitu agar ornag-orang islam dalam jangka waktu tersebut, tidak mebaca dan menghafalkan yang lain, kecuali Al-Qur’an sampai ia mantap dan melekat dalam hati sanubari dan pikiran.

Al-Qur’an adalah kitab suci Islam, undang-undang dasar dan kamus lengkapnya, dan terlalu banyaknya cerita tentang Rasulullah, terlebih lagi saat menyusul wafatnya Saw, saat sedang dihimpunnya Al-Qur’an, dapat menyebabkan kesimpangan dan campur baur yang tak perlu terjadi.

Oleh karena itu Umar berkata kepadanya, “Sibukkanlah dirimu dengan Al-Qur’an karena dia adalah kalamullah.” Dan katanya lagi, “Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah, kecuali yang mengenai amal perbuatannya, “

Dan sewaktu beliau mengutus Abu Musa Al-As’ary ke Irak ia berpesan kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum yang dalam masjid mereka terdengar bacaan al-qur’an seperti suara lebah. Maka biarkanlah seperti itu dan jangan engkau bimbangkan mereka, dengan hadits-hadits, dan aku menjadi pendukaung kamu dalam hal ini.

Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya  terhadap dirinya dan ia teguh juga terhadap dirinya dan memenuhi amanat, hingga ia tak mau menyembunyikan suatu pun dari hadits  dan ilmu selama diyakininya bahwa menyebunyikan adalah dosa dan kejahatan.

Pada suatu hari Marwan bin Hakam, bermaksud ingin menguji kemampuan hafalan  dari Abu Hurairah, maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan hadits dari Rasulullah, sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balik dindig. Sesudah berlalu selama satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali, dan dimintanya membacakan hadits-hadits yang dulu itu yang telah ditulis oleh sekretarisnya, ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah, walau  sepatah katapun.

Ia berkata tentang dirinya, “Tak ada seorang pun dari sahabat-sahabat Rasul yang lebih banyak menghafal hadits dari padaku, kecuali Abdullah bin Amr bin Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak..!”

Abu Hurairah termasuk ahli ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, selalu melakukan ibadat bersama-sama istrinya dan anak-anaknya semalam-malaman secara bergiliran; mula-mula ia berjaga-jaga sampai sambil shalat sepertiga malam kemudian dilanjutkan oleh istrinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh putrinya..,”dengan demikian tak ada saat pun yang berlalu setiap malam dirumah Abu Hurairah, melainkan berlangsung disana ibadat, dzikir dan shalat. !

Karena keinginannya memusatkan perhatian untuk menyertai Rasul, ia pernah menderita kepedihan lapar yang jarang diderita orang lain. Rasa sakit menggigit perutnya, maka diikatnya batu dengan surbannya dengan kedua tangannya, lalu terjatuhlah ia dimasjid sambil menggeliat-geliat kesakitan hingga sebagian sahabat menyangkanya ayan, padahal sama sekali bukan..!

Abu Hurairah hidup sebagai seorang ahli ibadah dan seorang mujahid, tak pernah ia ketinggalan perang, dan tidak pula dari ibadat. Dizaman Umar bin Khatthab ia diangkat sebagai seorang amir untuk daerah Bahrain, sedang umar sebagaimana yang kita ketahui adalah seorang yang keras dan teliti terhadap pejabat-pejabat yang diangkatnya. Apa bila ia mengangkat seseorang sedang ia mempunyai dua pasang pakaina, maka sewatu meninggalkan jabatannya nanti, haruslah orang itu hanya mempunyai dua pasang pakain juga, malah lebih utama kalau ia memiliki satu pasang saja! Apabila waktu meninggalkan jabatan itu terdapat tanda-tanda kekayaan, maka ia takkan luput dari interogasi Umar, sekalipun harta tersebut berasal dari hartanya yang halal! Suatu dunia lain yang di isi oleh Umar dengan hal-hal luar biasa dan mengagumakan..!

Rupanya sewaktu Abu Hurairah memangku jabatan sebagai kepala daerah Bahrian ia telah menyimpan harta yang berasal dari sumber yang halal. Hal ini diketahui oleh Umar, maka ia pun dipanggilnya kemadinah, dan Umar berkata, “Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah ? maka beliau menjawab, “Aku bukan musuh Allah dan tidak juga kitab-Nya, akan tetapi aku menjadi musuh orang yang memusuhi keduanya dan aku bukanalah orang yang mencuri harta Allah ! dari mana kamu peroleh sepuluh ribu itu ? beliau menjawab kuda kepunyaanku beranak pinak dan pemberian orang berdatangan. Kembalikan harta itu keperbendaharaan negara (baitul mall).

Abu Hurairah menyerahakan hartanya itu kepada Umar, kemudian ia mengangkat tangannya kearah langit sambil berdoa. “Ya Allah ampunilah Amirul Mukminin…’

Tak selang beberapa lamanya. Umar memanggil  Abu Hurairah kembali dan menawarkan jabatan kepadanya diwilayah baru. Tapi ditolaknya dan dimintanya maaf karena tak dapat menerimanya. Kata Umar kepadanya, “Kenapa apa sebabnya?” jawab Abu Hurairah; “Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, punggku tidak dipukul…!’ kemudian katanya lagi: “Dan aku takut menghumi tanpa ilmu dan bicara tanpa belas kasih..”

Pada suatu hari sangatlah Abu Hurairah rindu hendak ketemu dengan Allah, selagi orang-orang mengunjunginya dan mendoakannya supaya cepat sembuh dari sakitnya, ia sendiri berulang-ulang memohon kepada Allah dengan berkata, “Ya Allah sesungguhnya aku sudah sangat rindu hendak bertemu dengan-Mu Semoga Engkau pun demikian..!”  dalam usia 78 tahun, tahun yang ke-59 H ia pun berpulang kerahmatillah, disekeliling orang-orang shalih penghuni pandam pengkuburan Baki’, ditempat yang beroleh berkah, disanalah jasadnya dibaringkan..! dan sementara orang-orang yang mengiringi jenazahnya kembali dari kuburan, mulut dan lidah mereka tiada henti-hentinya membacakan hadits yang disampaikan Abu Hurairah kepada mereka dari Rasulullah yang mulia.

 

  1. Periwayatan Hadits

Beliau adalah salah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah, beliau meriwatkan hadits sebanyak 5374 hadits. Dan lebih dari 800 orang yang meriwatkan hadits darinya.

 

  1. Guru-Guru dan Murid-Muridnya

u   Guru-guru besar Abu Hurairah

Ø   Umar bin Khattab

  • Ibnu Abbas
  • Ali bin Abi Tholib
  • Hasan bin Tsabit Almundzir
  • Hamil bin Basroh bin Waqosh
  • Saad bin Malik bin Sinan bin Ubaid
  • Aisyah binti Abi Bakar
  • Abdullah ibnu Salam bin Harits
  • Abdullah ibnu Utsman bin Amir
  • Utsman bin Affan
  • Ubay bin Ka’ab
  • Usamah bin zaid
  • Ka’ab bin Mati’
  • Basroh bin Abi Basroh

 

u      Murid-Murid Abu Hurairah

  • Ibrahim bin Ismail
  • Ibrahim bin Ibrahim
  • Ibrahim bin Abdullah
  • Ubad bin Anas
  • Abdullah bin harmuz
  • Abu Walid Maula Amru khodas
  • Abdul Malik bin Abi Hurairah
  • Marwan bin Hakam
  • Suud bin Malik
  • ‘urak bin Malik
  • ‘amir bin Saad bin Abi waqash
  • Muhammad bin Mungkadir
  • Atho’
  • Urwah bin Zubair

 

  1. Derajat Udul dan Tsiqoh

Pada dasarnya semua sahabat mereka adalah Udul dan Tsiqoh, dan Abu Hurairah adalah merupakan seorang sahabat yang paling tinggi derajat Udul dan Tsiqohnya diantara sahabat-sahabat yang lain.

 

  1. Tempat Tinggal dan Wafatnya Abu Hurairoh

Sebelum beliau meninggal beliau bermukin di Madinah, kemudian pada tahun 57 H beliau wafat, dan kemudian dikuburkan di Baqi’

  1. Rinkasan Singkat Biodata Abu Hurairoh

Nama                   : Abdurrahman bin Sohrin

Nama Ibu             : Maimunah binti Shobih

Nasab                  : Ad-Dausy Al-Yamany

Julukan                 : Abu Hurairoh

Tempat Tinggal     : Madinah

Wafat                   : Madinah 59 H

 

  1. Daftar Pustaka

&             AlQur’an Al-Karim

&             Mukhtashor shohih bukori

&             Shohih Muslim

&             Tarikh Tasryi’ Al-Islamy. Manna’ul Qatthan. Maktabah Wahbah, Mesir, Cet ke 5/2005 M

&             Tarikh Tasryi’ Al-Islamy, Hudloir Bik, Darul Ihya’, Indonesia

&             Rijal Haular Rasul , Kholid Muhammad Kholid, Edisi Indonesia, Cv Diponogoro, Bandung Cet ke 16/2000 M

&             Tarikh Khulafa’, Imam Suyuty, Maktab Al’asriyah, Beirut 1979 M

&             Alkitab Mu’tamar Al’aly Ar-Rabi’ Lissiroh Wa Sunnah An-Nabawiyah, Al-Azhar, November 1985 M

&             Riyadlus Sholihin, Imam An-Nawawi, Dar As-Salam Riyadh Cet Ke 13/1991 M

 

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: