Hudzaifah Ibnul Yaman


Pemegang rahasia Rasulullah SAW

Silsilah Keturunan

Beliau adalah Hudzaifah bin Husail bin Jabir Al ‘Absi Al Yamani, Abu Abdillah.[1] Al Yaman, ayah Hudzaifah, adalah Hisl, dikatakan Husail, orang Makkah dari bani ‘Abbas. Oleh karena hutang darah dalam kaumnya, ia terpaksa menyingkir dari Makkah ke Yatsrib (Madinah). Di sana dia minta perlindungan pada Bani ‘Abd Asyhal dan bersumpah setia pada mereka untuk menjadi keluarga dalam persukuan Bani ‘Abd Asyhal. Kemudian ia kawin dengan perempuan suku Asyhal. Dari perkawinannya itu lahirlah anaknya, Hudzaifah. Maka hilanglah halangan yang menghambat Al Yaman untuk memasuki kota Makkah. Sejak itu dia bebas pulang pergi antara Makkah dan Madinah. Namun begitu, dia lebih banyak tinggal dan menetap di Madinah.[2] Nama Al Yaman adalah penamaan dari kaumnya, karena sumpahnya untuk orang-orang Yaman, sedang mereka adalah kaum ansor.[3]

Awal Keislamannya

Ketika Islam memancarkan cahayanya ke Jazirah Arab, Al Yaman termasuk salah seorang dari sepuluh orang Bani ‘Abbas untuk menemui Rosulullah SAW dan menyatakan Islam dihadapan beliau.. Semua itu terjadi sebelum hijrah Rosulullah ke Madinah. Sesuai dengan garis keturunan yang berlaku di negeri Arab, yaitu menurut garis keturunan bapak(patriachal), maka Hudzaifah adalah orang Makkah yang lahir dan dibesarkan di Madinah.

Hudaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua ibu  bapaknya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan pertama. Karena itu Hudzaifah telah Islam sebelum ia bertemu muka dengan Rosulullah SAW.[4]

Periwayatan Hadits

Para sahabat yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah : Abu Wail, Zir bin Hubaisy, Zaid bin Wahab, Rib’i bin Hirosy, Silah bin Zufir, Tsa’labah bin Zahdam, Abu ‘Aliyah  Ar Riyayi, Abdurrahman bin Abi Laila, Muslim bin Nuzair Abu Idris Al Khoulani, Qois bin Ubad, Abul Bakhtari, Na’im bin Abi Hindi, Hammam bin Harits.

Jumlah hadits yang diriwayatkan olehnya dalam shohihain adalah 12 hadits. Sedangkan dalam shohih bukhori 8 hadits, Muslim 17 hadits.[5]

Keistimewaan Hudzaifah Ibnul Yaman

Rasulullah SAW menilai, dalam pribadi Hudzaifah Ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan yang menonjol :

Pertama :  cerdas tiada bandingan, sehingga ia dapat meloloskan diri dalam situasi     yang serba sulit.

Kedua :  cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan.

Ketiga :  memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi, sehingga tak seorangpun dapat mengorek yang dirahasiakannya

Sudah menjadi salah satu kebijaksanaan Rosulullah, berusaha menyingkap keistimewaan para sahabatnya, dan menyalurkannya sesuai dengan bakat dan kesanggupan yang terpendam dalam pribadi masing-masing mereka. Yakni menempatkan seseorang pada tempat yang selaras.

Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum muslimin di Madinah adalah kehadiran kaumYahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat, yang dilancarkan mereka terhadap Rasulullah dan para sahabatnya. Maka dalam menghadapi kesulitan itu Rosulullah mempercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang, baik kepada para sahabat yang lain atau kepada siapa saja. Dengan mempercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rosulullah menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Dan karena itu, Hudzaifah Ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan ” Shohibu sirri Rosululloh” (Pemegang rahasia Rosululloh).

Pada suatu ketika, Rosulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya, dan membutuhkan ketrampilan luar biasa untuk mengatasinya. Karena itulah beliau memilih orang yang cerdas, tanggap dan disiplin tinggi. Peristiwa itu terjadi pada puncak peperangan Khondak. Kaum muslimin telah lama dikepung rapat oleh musuh, sehingga mereka merasakan ujian yang berat, menahan penderitaan yang hampir tak tertanggungkan, serta kesulitan-kesulitan yang tak teratasi. Semakin hari situasi semakin gawat, sehingga menggoyahkan hati yang lemah. Bahkan menjadikan sementara kaum muslimin berprasangka yang tidak wajar terhadap Allah SWT.

Namun begitu, pada saat kaum muslimin mengalami ujian berat dan menentukan itu, kaum Quraisy dan sekutunya yang terdiri dari kaum musyrik, tidak lebih baik keadaannya dari pada yang dialami kaum muslimin. Karena murka Nya, maka Allah azza wa jalla menimpakan bencana kepada mereka dan melemahkan kekuatannya. Allah meniupkan angin topan yang amat dahsyat, sehingga menerbangkan kemah-kemah mereka, membalikkan periuk, kuali dan belanga, memadamkan api, menyiram muka mereka dengan pasir dan menutup mata dan hidung mereka dengan tanah.

Pada situasi genting dalam sejarah setiap peperangan, pihak yang kalah adalah yang lebih dahulu mengeluh dan pihak yang menang ialah yang dapat bertahan menguasai diri melebihi lawannya. Maka dalam detik-detik seperti itu, amat diperlukan informasi secepatnya mengenai kondisi musuh, untuk menetapkan penilaian dan landasan dalam mengambil putusan melalui musyawarah.

Ketika itulah Rasulullah membutuhkan ketrampilan Hudzaifah Ibnul Yaman, untuk mendapatkan info-info yang tepat dan pasti. Maka beliau memutuskan untuk mengirim Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat.

Hudzaifah bercerita : “Malam itu kami (tentara muslim) duduk berbaris, Abu Sofyan dengan dua baris pasukannya kaum musyrikin Makkah mengepung kami sebelah atas. Orang-orang Yahudi Bani Quraidhoh berada disebelah bawah. Yang kami kuatirkan ialah serangan mereka terhadap para wanita dan anak-anak kami. Malam sangat gelap. Belum pernah kami alami gelap malam yang sepekat itu, sehingga tidak dapat melihat anak jari sendiri. Angin bertiup sangat kencang, sehingga desirnya menimbulkan suara bising yang memekakkan. Orang-orang lemah iman, dan orang-orang munafik minta izin pulang kepada Rasulullah, dengan alasan rumah mereka tidak terkunci. Padahal sebenarnya rumah mereka terkunci.

Setiap orang yang minta izin pulang, diberi izin oleh Rosululloh, tidak ada yang dilarang atau di tahan beliau. Semuanya pergi dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kami  yang tetap bertahan, hanya tinggal 300 orang.

Rosululloh berdiri dan berjalan memeriksa kami satu persatu. Setelah beliau sampai ke dekatku, aku sedang meringkuk kedinginan. Tidak ada yang melindungi tubuhku dari udara dingin yang menusuk-nusuk, selain sehelai sarung butut kepunyaan istriku, yang hanya dapat menutupi hingga lutut. Beliau mendekatiku yang sedang menggigil, seraya bertanya, ” Siapa ini ?”

” Hudzaifah ! ” jawabku.

“Hudzaifah! Tanya Rosulullah minta kepastian. Aku merapat ke tanah, sulit berdiri karena sangat lapar dan dingin.

” Betul, ya Rosululloh!” jawabku.

“Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh, pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti, dan laporkan kepadaku segera…..!” kata beliau memerintah.

Aku bangun dengan ketakutan dan kedinginan yang sangat menusuk. Maka mendo’a Rosululloh, “Wahai Allah! Lindungilah  dia, dari hadapan, dari belakang, kanan, kiri, atas dan dari bawah.”

Demi Allah! Sesudah Rosululloh selesai mendo’a, ketakutan yang menghantui dalam dadaku, dan kedinginan yang menusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar dan perkasa. Tatkala aku memalingkan diriku dari Rosululloh, beliau memanggilku dan berkata,” Hai, Hudzaifah! Sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai,dan kembali melapor kepadaku!”

Jawabku, ” Saya siap, ya Rosululloh!”

Lalu aku pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Aku berhasil menyusuf ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah aku anggota pasukan mereka. Belum lama aku berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.

Katanya, ” Hai, pasukan Quraisy! Dengarkanlah aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat kuatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdangar oleh Muhammad. Karena itu telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”

Mendengar ucapan Abu Sufyan itu, aku segera memegang tangan orang yang di sampingku seraya bertanya, “Siapa kamu?”

Jawabnya, “Aku si Anu, anak si Anu!”

Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, ” Hai, pasukan Quraisy! Demi Tuhan! Sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraidzah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu berangkatlah kalian sekarang, dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat.”

Selesai berkata begitu, Abu Sufyan langsung mendekati untanya, dilepaskannya tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rosululloh tidak melarangku melakukan sesuatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sungguh telah kubunuh Abu Sufyan dengan pedangku.

Aku kembali ke pos komando menemui Rosululloh. Kudapati beliau sedang sholat di tikar kulit, milik salah seorang istrinya. Tatkala beliau melihatku, didekatkannya kakinya kepadaku dan diulurkannya ujung tikar menyuruhku duduk di dekatnya. Lalu ku laporkan kepada beliau segala kejadian yang kulihat dan kudengar. Beliau sangat senang dan bersuka cita, serta mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT.

Hudzaifah sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang muafik selama hidupnya. Sehingga kepada para kholifah sekalipun, yang mencoba mengorek rahasia tersebut tidak pernah bocor olehnya. Sampai-sampai kholifah Umar bin Khottob RA, apabila ada orang muslim yang meninggal, dia bertanya, “Apakah Hudzaifah turut menyolatkan jenazah orang itu?” Jika mereka jawab, ada, beliau turut menyolatkannya. Bila mereka katakan tidak, beliau enggan menyolatkannya.

Pada suatu ketika, Kholifah ‘Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik, “Adakah diantara pegawai-pegawaiku orang munafik?”

Jawab Hudzaifah, “Ada seorang!”

Kata ‘Umar, “Tolong tunjukkan kepadaku, siapa?”

Jawab Hudzaifah, “Ma’af Kholifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”

“Seandainya Aku tunjukkan, tentu Kholifah akan langsung memecat pegawai yang bersangkutan.” kata Hudzaifah bercerita.[6]

Rosulullah SAW pernah bertanya kepada Hudzaifah, ” Tulislah untukku jumlah manusia yang telah melafalkan keislamannya!” Maka kami menulis untuknya ( bahwa jumlah mereka ) seribu lima ratus orang.[7]

Hudzaifah juga juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Al Qur’an, sesudah Kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum muslimin. Dan Hudzaifah hamba Allah yang sangat takut kepada Allah. Dia takut melanggar perintah dan larangan Allah, dan sangat takut akan siksa Nya.

Kepemimpinan dan Jihad Hudzaifah

Hudzaifah menjadi gubernur Madain pada saat kepemerintahan Umar, sampai terbunuhnya Utsman. Saat beliau datang ke Madain, mereka berduyun-duyun keluar untuk menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru diangkat serta dipilih oleh Amirul Mukminin Umar r.a.

Mereka pergi menyambutnya, karena lamalah sudah hati mereka rindu untuk bertemu muka dengan sahabat nabi yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar mengenai kesholehan dan ketaqwaannya, begitu pula tentang jasa-jasanya dalam membebaskan tanah Irak.

Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. Ia mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang, sedang kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam sedang mulutnya sedang mengunyah…!

Demi ia berada ditengah-tengah orang banyak dan mereka tahu bahwa orang itu tidak lain Hudzaifah Ibnul Yaman, maka mereka jadi bingung dan hampir-hampir tak percaya. Tetapi apa yang akan diherankan…? Corak kepemimpinan bagaimana yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar? Hal itu dapat difahami, karena baik di masa kerajaan Persi yang terkenal itu atau sebelumnya, tak pernah diketahui adanya corak pemimpin semulia ini.

Hudzaifah meneruskan perjalanan sedang orang – orang berkerumunan dan mengelilinginya. Dan ketika dilihat bahwa mereka menatapnya seolah-olah menunggu amanat, diperhatikannya air muka mereka, lalu katanya, “Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah!

Ujar mereka : “Di manakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah?

Ujarnya : “Pintu rumah pembesar! Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengiakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan !”

Suatu pernyataan yang luar biasa disamping sangat menakjubkan! Dari ucapan yang mereka dengar dari wali negeri yang baru ini, orang-orang segera beroleh kesimpulan bahwa tak ada yang lebih dibencinya tentang apa saja yang terdapat di dunia ini, begitu pun yang lebih hina dalam pandangan matanya dari pada kemunafikan. Dan pernyataan ini sekaligus merupakan ungkapan yang paling tepat terhadap kepribadian wali negeri baru ini, serta sistem yang akan ditempuhnya dalam pemerintahan.[8]

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali pada perang Badar. Karena saat itu beliau sedang pergi sama bapaknya keluar kota madinah. Dalam perjalanan pulang, mereka ditangkap oleh orang kafir Quraisy. Tanya mereka, “Hendak ke mana kalian ?”

Jawab kami, “Ke madinah!”

Tanya mereka, “Kalian hendak menemui Muhammad ?”

Jawab kami, “Kami hendak pulang ke rumah kami Madinah !”

Mereka tidak bersedia membebaskan kami, kecuali dengan perjanjian bahwa kami tidak akan membantu Muhammad, dan tidak akan memerangi mereka. Sesudah itu barulah mereka dibebaskan.

Dalam perang Uhud, Hudzaifah turut memerangi kaum kafir bersama ayahnya, Al Yaman. Dalam peristiwa itu Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang dengan selamat, tetapi ayahnya syahid di tangan kaum muslimin sendiri, bukan oleh kaum musyrikin.[9]

Cukuplah sebagai bukti, ia merupakan orang ketiga atau kelima dalam deretan tokoh-tokoh terpenting pada pembebasan seluruh wilayah Irak. Kota-kota Hamdan, Rai, dan Dainawar, selesai pembebasannya di bawah komando Hudzaifah.

Dalam pertempuran besar Nahawand, orang-orang Persi berhasil menghimpun 150.000 tentara. Amirul Mukminin Umar memilih Nu’man bin Muqorrin sebagai panglima Islam, sedang kepada Hudzaifah dikirimnya surat agar ia menuju tempat itu sebagai komandan tentara Kufah.

Kepada para pejuang itu Umar kirim surat, yang isinya : “Jika kaum muslimin telah berkumpul, maka masing-masing panglima hendaklah mengepalai anak buahnya, sedang yang akan menjadi panglima besar adalah Nu’man bin Muqorrin. Seandainya ia tewas, maka panji-panji komando hendaklah dipegang oleh Hudzaifah, kalau ia tewas pula, diganti Jarir bin Abdillah…”

Amirul Mu’minin masih menyebutkan beberapa nama lagi, ada tujuh orang yang memegang kepemimpinan secara berurutan.

Kedua pasukan pun berhadapanlah….  Pasukan Persi berjumlah 150 ribu tentara, sedang kaum muslimin 30 ribu pejuang. Perang pun berkobar, suatu pertempuran yang tak ada tolak bandingnya, perang terdahsyat dan paling sengit dikenal oleh sejarah…!

Panglima besar kaum muslimin gugur sebagai syahid, tapi sebelum bendera menyentuh tanah, panglima yang baru telah menyambutnya dengan tangan kanannya, dan angin kemenanganpun meniup dan menggiring tentara maju ke muka dengan semangat penuh dan keberanian luar biasa. Panglima baru itu tiada lain Hudzaifah ibnul Yaman.

Bendera segera disambutnya, dan dipesankannya agar kematian Nu’man tidak disiarkan sebelum peperangan selesai. Setelah Hudzaifah memegang bendera, ia menerjang pasukan Persi sambil menyerukan :

“Allahu Akbar, Ia telah menepati janjiNya, Allahu Akbar, telah dibela tentara Nya”

Lalu diputarlah kekang kudanya ke arah anak buahnya, dan berseru :

“Hai Umat Muhammad, pintu-pintu surga telah terbuka lebar, siapa sedia menyambut kedatangan tuan-tuan….! Jangan biarkan ia menunggu lebih lama….! Ayuhlah wahai pahlawan-pahlawan Badar…! Majulah pejuang-pejuangUhud, Khondak dan Tabuk…!”

Dengan ucapan-ucapannya itu, Hudzaifah telah memelihara semangat tempur dan ketahanan anak buahnya. Sehingga perang berahir dengan kekalahan pahit bagi pasukan Persi, suatu kekalahan yang jarang ditemukan bandingannya.

Dialah seorang pahlawan di bidang hikmat, ketika sedang tenggelam dalam renungan, pahlawan di medan juang, ketika berada di medan laga. Pendeknya ia seorang tokoh dalam urusan apa juga yang dipikulkan atas pundaknya, dalam setiap persoalan yang membutuhkan pertimbangannya.[10]

Kesempurnaan Fikiran dan Jiwanya

Sungguh Hudzaifah telah dikaruniai fikiran jernih, menyebabkannya sampai pada suatu kesimpulan, bahwa dalam kehidupan ini sesuatu yang baik itu adalah yang jelas dan gamblang, yakni bagi orang yang betul-betul menginginkannya. Sebaliknya yang jelek ialah yang gelap atau samar-samar, dan karena itu orang yang bijaksana hendaklah mempelajari sumber-sumber kejahatan ini dan kemungkinan-kemungkinannya.

Demikianlah Hudzaifah RA. terus menerus mempelajari kejahatan dan orang-orang jahat, kemunafikan dan orang-orang munafik. Berkatalah ia : “Orang-orang menanyakan kepada Rosulullah saw, tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya.”

Pernah bertanya :“Wahai Rasululloh, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini, apakah dibalik kebaikan ini ada kejahatan?” “Ada” ujarnya.”Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan?, tanyaku pula. “Memang, tetapi kabur dan bahaya.” “Apa bahaya itu ?”.”Yaitu segolongan umat mengikuti sunnah bukan sunahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah!” “Kemudian setelah kebaikan tersebut masihkah ada lagi kejahatan ?” tanyaku pula. “Masih”, ujar Nabi, “yakni para tukang seru di pintu neraka. Barang siapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam neraka !

Lalu kutanyakan pada Rasululloh : “Ya Rasulullah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian…?” Ujar Rasulullah: “Senantiasa mengikuti jama’ah kaum Muslimin dan pemimpin mereka !” “Bagaimana kalau mereka tidak punya jama’ah dan tidak pula pemimpin ?” “Hendaklah kamu tinggalkan golongan-golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian.”

Nah, tidakkah anda perhatikan ucapannya : “Orang-orang menanyakan kepada Rosulullah saw, tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya…!

Hudzaifah juga pernah berkata : “Sungguh saya akan membeli agamaku sebagian dengan sebagian yang lain, karena saya takut akan hilang semuanya.”[11]

Hudzaifah Ibnul Yaman menempuh kehidupan ini dengan mata terbuka dan hati waspada terhadap sumber-sumber fitnah dan liku-likunya demi menjaga diri dan memperingatkan manusia terhadap bahayanya. Dengan demikian ia menganalisa kehidupan dunia ini dan mengkaji pribadi orang serta meraba situasi.

Pengalaman Hudzaifah yang luas tentang kejahatan dan ketekunannya untuk melawan dan menentangnya, menyebabkan lidah dan kata-katanya menjadi tajam dan pedas. Hal ini diakuinya kepada kita secara ksatria, katanya : “Saya datang menemui Rasulullah saw, kataku padanya :”Wahai Rasulullah, lidahku agak tajam terhadap keluargaku, dan saya kuatir kalau-kalau hal itu akan menyebabkan saya masuk neraka.” Maka ujar Rasulullah saw : “kenapa kamu tidak beristighfar ?” “Sungguh saya beristighfar kepada Allah tiap hari seratus kali.”

Hudzaifah adalah sahabat yang imannya teguh dan kecintaanya mendalam. Disaksikan bapaknya yang telah beragama Islam tewas di perang Uhud, di tangan srikandi Islam sendiri, yang melakukan kekhilafan karena menyangka, sebagai orang musyrik! Hudzaifah melihat dari jauh pedang sedang dihujamkan kepada ayahnya, ia berteriak, “Ayahku … ayahku ….. jangan ia ayahku…” Tapi qadha Allah telah tiba.

Ketika kaum muslimin tahu hal itu, merekapun diliputi suasana duka dan membisu. Tetapi sambil memandangi mereka dengan sikap kasih sayang dan penuh pengampunan, katanya, “Semoga Allah mengampunu tuan-tuan, Ia adalah sebaik-baik Penyayang.”

Kemudian dengan pedang terhunus ia maju ke daerah tempat berkecamuknya pertempuran dan membaktikan tenaga serta menunaikan tugas kewajibannya. Akhirnya peperangan pun usailah, dan berita tersebut sampai ke telinga Rasulullah SAW. Maka disuruhnya membayar diyat atas terbunuhnya ayahanda Hudzaifah (Husail bin Yabir) yang ternyata ditolak oleh Hudzaifah, dan disuruh membagikannya kepada kaum muslimin. Hal itu menambah sayang dan tingginya penilaian Rasulullah terhadap dirinya.[12]

Kisah Wafatnya

Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya tengah malam.

Hudzaifah bertanya kepada mereka,”Pukul berapa sekarang?”

Jawab mereka,”Sudah dekat Subuh,”

Kata Hudzaifah,”Aku berlindung kepada Allah, dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka.”

Kemudian dia bertanya,”Adakah tuan-tuan membawa kain kafan?”

Jawab mereka,”Ada.!”

Kata Hudzaifah,”Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya umtukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika aku tidak baik dalampandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku.”

Sesudah itu dia mendo’a,”Wahai Allah! Sesungguhnya engkau tahu, bahwa aku lebih suka fakir dari pada kaya, aku lebih suka sederhana dari pada mewah, dan aku lebih suka mati dari pada hidup.”

Sesudah mendo’a begitu ruhnya berangkat. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan.Semoga Allah melimpahkam rahmatNya. Beliau menghadap illahi di Madain setelah kematian Utsman pada tahun 36 hijriyah.[13]

Referensi :

1. DR.Abdurrahman Ra’fat Basya, Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah shalallahu ‘alai wa salam ( Shuwaratum min Hayatis Shahabah ), Media Dakwah

2.  Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Az Zahabi, Siyar A’lam An Nubala, Darul Fikr,Cet.Pertama, 1417 H / 1997 M.

3. Khalid Muhammad  Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah ( Rijal haular Rosul ), CV.DIPONEGORO Bandung, Cet.XI, 1995

WASSALAM….

Bekasi,   17 Ramadhan 1426 H

20   Oktober   2005 M


[1]Imam  Az Zahabi, Siyar A’lam An Nubala, 4 / 30

[2] Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaratum min Hayatis Shahabah, 3 / 53

[3]Imam  Az Zahabi, Siyar A’lam An Nubala, 4 / 31

[4] Ibid 4 / 34

[5]Imam Az Zahabi, Siyar A’lam An Nubala, 4 / 31.

[6] Dr.Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaratum min Hayatis Shahabah, 3 / 4 – 64. Khalid Muhammad  Khalid, Rijal haula  Rasul, 238-239

[7] HR. Ahmad, Musnad, 9 / 23319

[8]Khalid Muhammad  Khalid, Rijal haula Rosul, hal 231-232

[9]Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaratum min Hayatis Shahabah, 3 / 55-56

[10] Khalid Muhammad  Khalid, Rijal haula Rasul, 240-241

[11] Dinukil dari Abu Na’im, Haliyatul Auliya, 1 / 278

[12] Khalid Muhammad  Khalid, Rijal haula Rasul, 232-237

[13] Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaratum min Hayatis Shahabah, 3 / 64-65.  Khalid Muhammad  Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, 242-243. Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Az Zahabi, Siyar A’lam An Nubala, 4 / 35.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: