URWAH BIN ZUBAIR



” Barang siapa yang ingin melihat laki-laki penduduk janah, maka hendaknya ia melihat Urwah bin Zubair”.

(Abdul Malik bin Marwan)

Pagi itu, matahari memancarkan benang-benang cahaya keemasan diatas Baitul Haram, menyapa ramah pelataarannya yang suci. Di Baitullah, sekelompok sisa-sisa sahabat Rosulullah dan tokoh-tokoh tabi’in tengah mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukan sudut-sudutnya dengan do’a-do’a yang sholih.

Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekeliling Ka’bah agung yang tegak berdiri ditengah Baitul Haram dengan kemegahan dan keagungannya. Mereka memanjatkan pandangan matanya dengan keindahannya yang menakjubkan dan berbagi cerita diantara mereka, tanpa senda gurau yang mengandung dosa.

Didekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Seakan-akan mereka adalah bagian dari perhiasan masjid, bersih pakaiannya dan menyatu hatinya.

Keempat remaja itu adalah Abdullah bin Zubair dan saudaranya yang bernama Mus’ab bin Zubair, saudaranya lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi adalah Abdul Malik bin Marwan.

Pembicaraan mereka semakin serius. Kemudian seorang diantara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan cita-cita yang didambakan. Maka khayalan mereka melambung tinggi kealam luas dan cita-cita mereka berputar mengitari taman hasrat mereka yang subur.

Mulailah Abdullah bin Zubair angkat bicara :” Cita-citaku adalah menguasai seluruh hijaz dan menjadi khalifahnya”.

Saudaranya, Mus’ab menyusulnya :” Keinginanku adalah dapat menguasai dua wilayah Irak dan tak ada yang merongrong kekuasanku”.

Giliraan Abdul Malik bin Marwan berkata :” Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas sebelum bisa menguasai seluruh dunia dan menjadi kholifah setelah Muawiyyah bin Abi Sufyan”.

Sementara itu Urwah diam seribu bahasa, tak berkata sepatahpun. Semua mendekati beliau dan bertanya :” Bagaimana denganmu, apa cita-citamu kelak wahai Urwah ? Beliau berkata :” Semoga Allah memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia kalian, aku ingin menjadi alim (orang berilmu dan mau beramal), sehinggga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabnya, sunah nabi-Nya dan hukum-hukum agama-Nya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki jannah dengan ridlo Allah.

Hari-hari berganti serasa cepat. Kini Abdullah bin Zubair dibai’at menjadi kholifah menggantikan Yazid bin Muawiyyah yang telah meninggal. Dia menjadi hakim Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan Irak yang pada akhirnya terbunuh di Ka’bah, tak jauh dari tempatnya mengungkapkan cita-citanya dahulu.

Sedangkan Mus’ab bin Zubair telah mengusai Irak sepeninggal saudaranya Abdullah bin Zubair dan akhirnya juga terbunuh ketika mempertahankan wilayah kekuasaannya.

Adapun Abdul malik bin Marwan, kini menjadi khalifah setelah ayahnya wafat dan bersatulah suara kaum muslimin pasca terbunuhnya Abdullah bin Zubair dan saudaranya Mus’ab, setelah keduanya gugur di tangan pasukannya. Akhirnya, dia berhasil menjadi raja dunia terbesar pada masanya.

Bagaimana halnya dengan Urwah bin Zubair ? kita ikuti kisahnya dari awal…….

Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Urwah bin Zubair bin A’wam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul U’za bin Qusay bin Kilab Al-Qursyi Al-Asadi.

Beliau lahir satu tahun sebelum berakhirnya masa khalifah Al-Faruq. Yaitu pada tahun dua puluh dua ada juga yang memgatakan bahwa beliau lahir pada tahun dua puluh tiga hijriyah. Dalam sebuah rumah yang paling mulia dikalangan kaum muslimin dan paling luhur martabatnya.

Adapun ayahnya bernama Zubair bin Awam :”Hawariyu” (pembela) Rosulullah dan orang yang pertama yang menghunus pedangnya dalam islam serta termasuk salah satu diantara sepuluh orang yang dijamin masuk surga.

Sedangkan ibunya bernama Asma binti Abu Bakar Ash-Sidiq yang dijuluki dzatun nithoqoin {pemilik dua ikat pinggang).

Kakek beliau dari jalur ibu adalah Abu Bakar Ash-Sidiq, khalifah Rosulullah yang menemani beliau di sebuah goa.

Sedangkan nenek dari jalur ayahnya adalah Shofiyah binti Abdul Muthalib yang juga bibi Rosulullah.

Bibinya adalah Ummul Mukminin, bahkan dengan tangan Urwah bin Zubair sendirilah yang turun ke liang lahat untuk meletakan jenazah Ummul Mukminin.

Urwah adalah saudara kandung Abdullah bin Zubair, tetapi tidak dengan Musa’b karena dia bukan berasal dari ibu yang satu.

Maka siapa lagi kiranya yang lebih unggul nasabnya dari beliau ? Adakah kemulian di atasnya selain kemulian iman dan kewibawaan islam.

Demi merealisasikan cita-cita yang didambakan dan harapan kepada Allah yang diutarakan di sisi Ka’bah yang agung tersebut, beliau amat gigih dalam usahanya dalam mencari ilmu. Maka beliau mendatangi dan menimbanya dari sisa-sisa para sahabat Rosulullah yang masih hidup.

Beliau mendatangi rumah demi rumah mereka, sholat di belakang mereka, menghadiri majlis-majlis mereka. Beliau meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Tholib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub Al-Anshori, Usamah bin Zaid, Said bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Nu’man bin Basyir dan banyak pula mengambil dari bibinya Aisyah Ummul Mukminin. Pada gilirannya nanti, beliau berhasil menjadi satu diantara fuqoha sab’ah (tujuh ahli fiqih) Madinah yang menjadi sandaran kaum muslimin dalam urusan agama. Mereka fuqoha sab’ah itu adalah Said bin Musayyib, Urwah bin Zubair, Al-qosim bin Muhammad, Khorijah bin Zaid, Abu Bakar bin Abdurrohman bin Al-Harits bin Hisyam, Sulaiman bin Yasar, dan Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah.

Banyak ulama yang telah meriwayatkan hadits dari beliau diantaranya adalah anaknya Abdullah, Utsman, Hisyam, Muhammad, Yahya, cucunya Umar bin Abdullah, Muhammad bin Ja’far, Sulaiman bin Yasar, Sa’ad bin Ibrohim, Tamim bin Salmah As-Sulami, Abu Zinad dan masih banyak lagi ulama yang lainnya.

Para pemimpin yang sholih banyak meminta pertimbangan kepada beliau baik tentang urusan ibadah maupun negara karena kelebihan yang Allah berikan kepada beliau. Sebagai contonya adalah Umar bin Abdul Aziz, ketika beliau diangkat sebagaai gubernur di Madinah pada masa Walid bin Abdul Malik, orang-orangpun berdatangan untuk memberikan ucapan selamat kepada beliau.

Usai sholat dzuhur, Umar bin Abdul Aziz memanggil sepuluh fuqoha Madinah yang dipimpin oleh Urwah bin Zubair. Ketika sepuluh ulama tersebut telah berada di sisinya, maka beliau melapangkan majelis bagi mereka serta memuliakannya. Setelah bertahmid kepada yang berhak dipuji beliau berkata :” Saya mengundang Anda semua untuk suatu amal yang banyak pahalanya, yang mana saya mengharapkan Anda semua agar sudi membantu dalam kebenaran, saya tidak ingin memutuskan suatu masalah kecuali setelah mendengarkan pendapat Anda semua atau seorang yang hadir diantara kalian. Bila kalian melihat seseorang mengganggu orang lain atau pejabat yang melakukan kedzoliman, maka saya mohon dengan tulus agar Anda sudi melaporkannya kepada saya. ” Kemudian Urwah bin Zubair mendoakan baginya keberuntungan dan memohon kepada Allah agar senantiasa menjadikan beliau tetap lurus dan tidak menyimpang.

Sungguh, telah tekumpul pada diri Urwah bin Zubair antara ilmu dan amal. Beliau membiasakan shaum di musim panas dan sholat di waktu malam yang sangat dingin. Lidahnya senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah, senantiasa bersanding dengan kitabullah dan tekun membacanya. Beliau menghatamkan seperempat Al-Qur’an setiap siang dengan membuka mushaf, lalu sholat  malam membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan hafalan. Tak pernah beliau meninggalkan hal itu sejak remaja hingga wafatnya melainkan sekali saja. Yakni ketika peristiwa mengharukan yang sebentar lagi kami akan beritakan kepada Anda.

Dengan menunaikan sholat, Urwah bin Zubair memperoleh ketenangan jiwa, kesejukan pandangan dan jannah di dunia. Beliau tunaikan sebagus mungkin, beliau tekuni rukun-rukunnya secara sempurna dan beliau panjangkan sholatnya sedapat mungkin.

Telah diriwayatkan bahwa beliau pernah melihat seseorang menunaikan sholat secepat kilat. Setelah selesai, dipanggilnya orang tersebut dan ditanya :” Wahai anak saudaraku, apakah engkau tidak memerlukan apa-apa dari Rob-mu yang maha suci ? Demi Allah, aku memohom kepada Robb-ku segala sesuatu sampai dalam urusan garam.

Urwah bin Zubair seorang yang ringan tangan, longgar dan dermawan. Diantara bukti kedermawanannya itu adalah manakala beliau memiliki sebidang kebun yang luas di Madinah dengan air sumurnya yang tawar, pepohonan yang rindang serta buahnya yang lebat. Beliau pasang pagar yang mengelilinginya untuk menjaga kerusakannya dari binaang-binatang dan anak-anak yang usil. Hingga tatkala buah telah masak dan membangkitkan selera bagi yang memandangnya, dibukalah beberapa pintu sebagai jalan masuk bagi siapapun yang menghendakinya.

Begitulah orang-orang keluar masuk kebun Urwah sambil merasakan lezatnya buah-buahan yang masak sepuas-puasnya dan membawa sesuai dengan keinginannya. Setiap kali memasuki kebun, beliau mengulang-ngulang firman Allah :

Iwöqs9ur øŒÎ) |Mù=yzyŠ y7tF¨Zy_ |Mù=è% $tB uä!$x© ª!$# Ÿw no§qè% žwÎ) «!$$Î/

” Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ” Masya Allah, laa quwwata illah billah” (sesunguhnya atas  kehendak Allah semua itu terwujud. Tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)….”  {al-kahfi : 39}

Suatu masa dizaman kholifah Al-Walid bin Abdul Malik, Allah berkehendak menguji Urwah dengan suatu cobaan yang tak seorangpun mampu bertahan dan tegar selain orang yang hatinya subur dengan keimanan dan penuh keyakinan.

Tatkala Amirul Mukminin mengundang Urwah untuk berziarah ke Damaskus. Beliau mengabulkan undangan tersebut dan mengaajak putra sulungnya. Amirul Mukminin menyambutnya dengan gembira, memperlakukannya dengan penuh hormat dan melayaninya dengan ramah.

Kemudian datanglah ketetapan dan kehendak Allah, laksana angin kencang yang tak dikehendaki penumpang perahu. Putra Urwah masuk kandang kuda untuk melihat kuda-kuda piaraan pilihan. Tiba-tiba saja seekor kuda meyepaknya dengan keras hingga meyebabkan kematiannya.

Belum lagi tangan seorang ayah ini bersih dari tangan penguburan puteranya, salah satu telapak kakinya terluka . Betisnya tiba-tiba membengkak, penyakit semakin menjalar dengan cepatnya.

Kemudian bergegaslah Amirul Mukminin mendatangkan para tabib dari seluruh negeri untuk mengobati tamunya dan memerintahkan untuk mengobati Urwah dengan cara apapun.

Namun para tabib itu sepakat untuk mengamputasi kaki Urwah sampai betis sebelum penyakit menjalar keseluruh tubuh yang dapat merenggut nyawanya.

Jalan itu harus ditempuh. Tatkala ahli bedah telah datang dengan membawa pisau untuk mnyayat daging dengan gergaji untuk memotong tulangnya, tabib berkata kepada Urwah : ” Sebaiknya kami memberikan minuman yang memabukan agar Anda tidak merasakan sakitnya diamputasi”. Akan tetapi Urwah menolak : ” Tidak perlu, aku tidak akan menggunakan yang haram demi mendapat afiat (kesehatan). Tabib berkata : ” Kalau begitu kami akan membius Anda ! ” Beliau menjawab : ” Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah.

Ketika operasi hendak dimulai, beberapa orang mendakati Urwah, lalu beliau bertanya : ” Apa yang hendak mereka lakkukan ? ” Lalu dijawab : ” Mereka akan memegangi Anda, sebab bisa jadi Anda nanti merasa kesakitan lalu menggerakan kaki dan itu bisa membahayakan Anda. ” Beliau berkata : ” Cegahlah mereka, aku tidak membutuhkannya. Akan kubekali diriku dengan dzikir dan tasbih”.

Mulailah tabib menyayat dagingnya dengan pisau dan tatkala telah sampai tulang, diambillah gergaji untuk memotongnya. Sementara itu Urwah tak henti-hentinya mengucapkan : ” Laa ilaaha Illallah Allah Akbar “, sang tabib terus melakukan tugasnya dan Urwah juga terus bertakbir hingga selesai proses amputasi itu.

Setelah itu dituangkanlah minyak yang telah dipanaskan mendidih dan dioleskan di betis Urwah bin Zubair untuk menghentikan pendarahan dan menutup lukanya. Urwah pingsan untuk beberapa lama dan terhenti untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an di hari itu. Inilah satu-satunya hari dimana beliau tidak bisa melakukan kebiasaan yang beliau jaga semenjak remajanya.

Ketika Urwah tersadar dari pingsannya, beliau meminta potongan kakinya. Dibolak-baliknya sambil berkata : ” Dia (Allah) yang membimbing aku untuk membawamu di tengah malam ke masjid, Maha Mengetahui bahwa aku tak pernah menggunakannya untuk hal-hal yang haram”.

Kemudian dibacanya syair Ma’an bin Aus :

Tak pernah ku ingin tanganku menyentuh yang meragukan

Tidak juga kakiku membawaku kepada kejahatan

Telinga dan pandangan matakupun demikian

Tidak pula menuntun ke arahnya pandangan dan pikiran

Aku tahu, tidaklah aku ditimpah musibah dalam kehidupan

Melainkan telah menimpa orang lain sebelumku.

Kejadian tersebut membuat Amirul Mukminin, Al-Walid bin Abdul Malik sangat terharu. Urwah telah kehilangan puteranya, lalu sebelah kakinya. Maka dia berusaha menghibur dan menyabarkan hati tamunya atas musibah yang menimpanya tersebut.

Bersamaan dengan itu, dirumah kholifah datang satu rombongan Bani Abbas yang salah seorang diantaranya buta matanya. Kemudian Al-Walid menanyakan sebab musabab kebutaannya. Dia menjawab : ” Wahai Amirul Mukminin, dulu tidak ada seorangpun dikalangan Bani Abbas yang lebih kaya dalam harta dan anak dibanding saya. Saya tinggal bersama keluarga di suatu lembah di tengah kaum saya.

Mendadak munculah air bah yang langsung menelan habis seluruh harta dan keluarga saya. Yang tersisa bagi saya hanyalah seekor onta dan seorang bayi yang baru lahir. Onta tersebut sangat liar dan dia lari dari saya. Maka saya taruh bayi itu di atas tanah lalu saya kejar onta tadi. Belum seberapa jauh, saya mendengar jerit tangis bayi itu. Saya menoleh dan ternyata kepalanya telah berada di mulut serigala, dia telah memangsanya. Saya kembali , tapi tak bisa berbuat apa-apa lagi karena bayi itu sudah habis dilahapnya. Lalu serigala tersebut lari dengan kencangnya. Akhirnya saya kembali mengejar onta liar tadi sampai dapat. Tapi begitu saya mendekat dia menyepak dengan keras hingga hancur wajah saya dan buta kedua mata saya. Demikianlah, saya dapati diri saya kehilangan semua harta dan keluarga dalam sehari semalam saja dan hidup tanpa memiliki penglihatan.

Kemudian Al-Walid berkata kepada pengawalnya : ” Ajaklah orang ini menemui tamu kita Urwah, lalu mintalah agar dia mengisahkan nasibnya agar beliau tahu bahwa ternyata masih ada orang yang ditimpa musibah lebih berat darinya.

Tatkala beliau diantarkan pulang ke Madinah dan menjumpai keluarganya, Urwah berkata sebelum ditanya  : ” Janganlah kalian risaukan apa yang kalian lihat. Allah telah memberiku empat orang anak dan Dia berkehendak mengambil satu. Maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Aku dikaruniai empat kekuatan lalu hanya diambil satu, maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Dia mengambil sedikit dariku dan masih banyak yang ditinggalkan-Nya untuk-ku. Bila Dia menguji sekali, kesehatan yang Dia karuniakan masih lebih banyak dan lebih lama darinya”.

Demi melihat kedatangan dan keadaan imam dan gurunya, maka penduduk Madinah segera datang berbondong-bondong kerumahnya untuk menghibur.

Yang paling baik diantara ungkapan teman-teman Urwah adalah dari Ibrahim bin Muhammad bin Tholhah : ” Bergemberilah wahai Abi Abdilah, sebagian dari tubuhmu dan puteramu telah mendahuluimu ke jannah. Insya Allah yang lain akan segera menyusul kemudian. Karena rahmat-Nya, Allah meniggalkan engkau untuk kami, sebab kami ini fakir dan memerlukan ulmu fiqih dan pengetahuanmu. Semoga Allah memberikan manfaat bagimu dan juga kami. Allah adalah wali bagi pahala untukmu dan Dia pula yang menjamin kebagusan hisab untukmu.

Cerita yang lainnya adalah ketika Urwah mendengar bahwa saudaranya Abdullah bin Zubair terbunuh beliau datang menghadap Abdul Malik bin Marwan dan berkata : ” Saya ingin Anda menyerahkan pedang saudaraku Abdullah bin Zubaair kepadaku, dia menjawab :  ” Pedang itu berada diantara pedang-pedang yang lainnya dan aku tidak dapat membedakan mana pedang saudaramu. Maka Urwah berkata : ” Jika Anda datangkan pedang itu kepadaku niscaya aku dapat membedakannya. Maka ketika pedamg-pedang itu dihadirkan kehadapan beliau, beliau mengambil sebuah pedang yang sudah retak tetapi masih tajam, kemudian berkata : ” Inilah pedang saudaaraku Abdullah. Abdul Malik bertanya kepada beliau : ” Apakah anda mengetahuinya sebelum ini ? Beliau menjawab : ” Tidak, beliau kembali bertanya : ” Bagaimana anda mengetahuinya ? Beliau menjawab : ” Nabigho Adz-Dzibyani berkata :

Mereka tidak memiliki aib meskipun pedang-pedang mereka

Telah retak karena membunuh banyak tentara (berperang)

Urwah bin Zubair menjadi menara hidayah bagi kaum muslimin. Menjadi petunjuk jalan kemenangan dan menjadi da’I selama hidupnya. Perhatian beliau yang paling besar adalah mendidik anak-anaknya secara khusus dan generasi Islam secara umum. Beliau tidak suka menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk memberikan petunjuk dan selalu mencurahkan nasihat demi kebaikan mereka.

Tak bosan-bosannya beliau memberikan motivasi kepada para puteranya untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Beliau berkata : ” Wahai putera-puteriku, tuntutlah ilmu dan curahkan seluruh tenagamu untuknya. Karena, kalaupun hari ini kalian menjadi kaum yang kerdil, kelak dengan ilmu tersebut Allah menjadikan kalian sebagai pembesar kaum”. Lalu beliau melanjutkan : ” Sungguh menyedihkan, adakah di dunia ini yang lebih buruk dari pada seorang tua yang bodoh”.

Beliau anjurkan pula kepada mereka untuk memperbanyak sedekah, sedangkan sedekah adalah hadiah yang ditujukan kepada Allah. Beliau berkata : ” Wahai anak-anakku, janganlah kalian menghadiahkan kepada Allah dengan apa yang kalian merasa malu menghadiahkannya kepada para pemimpin kalian, sebab Allah Maha Mulia, Maha Pemurah dan lebih berhak didahulukan dan diutamakan”.

Beliau senantiasa mengajak orang-orang untuk memandang suatu masalah dari sisi hakikatnya. Beliau berkata : ” Wahai putera-puteriku, jika engkau melihat kebaikan pada seseorang maka akuilah itu baik, walaupun pada pandangan banyak orang dia adalah orang jahat. Sebab setiap perbuatan baik itu pastilah ada kelanjutannya. Dan jika melihat pada seseorang perbuatan jahat, maka hati-hatilah dalam bersikap walaupun dalam pandangan orang-orang dia adalah orang baik. Sebab setiap perbuatan ada kesenimambungannya. Jadi camkanlah, kebaikan akan melahirkan kebaikan setelahnya dan kejahatan akan melahirkan kejahatan setelahnya”.

Beliau juga mewasiatkan agar berlemah  lembut, bertutur kata yang baik dan berwajah ramah. Beliau berkata : ” Wahai putera-puteriku, tertulis dalam hikmah : ” Jadikanlah tutur katamu indah dan wajahmu penuh senyum, sebab hal itu lebih disukai orang dari pada suatu pemberian”.

Sebagai contoh adalah kisah yang dicerikan oleh Muhammad bin Al-Munkadir : ” Aku bertemu dengan Urwah bin Zubair. Dia menggandeng tanganku sambil berkata : ” Wahai Abu Abdillah. ” Aku jawab, Labbaik”.

Urwah berkata : ” Aku pernah menjumpai ibuku Aisyah , lalu beliau berkata : ” Wahai anakku, demi Allah, ada kalanya selama 40 hari tak ada api menyala di rumah Rosulullah untuk lampu atupun memasak. ” Maka aku bertanya : ” Bagaimana anda berdua hidup pada wakti itu ? ” Beliau menjawab : ” Dengan korma dan air”.

Urwah hidup hingga usia 71 tahun. Hidupnya penuh dengan kebajikan, kebaktian dan diliputi ketaqwaan. Ketika dirasa ajalnya sudah dekat dan dia dalam keadaan shaum, keluarganya mendesak agar beliau mau makan, tetapi beliau menolak keras karena ingin berbuka di sisi Allah dengan minuman dari telaga Al-Kautsar yang dituangkan dalam gelas-gelas perak oleh para bidadari cantik di jannah. Beliau wafat di desanya yang bernama fur’un yaitu di daerah yang bernama Robdzah, jarak daerah  ini dengan  kota Madinah adalah perjalanan empat malam, daerah ini dipenuhi dengan pohon kurma dan air. Beliau wafat pada tahun sembilan puluh tiga atau ada yang mengatakan sembilan puluh empat dan dikuburkan disana.

 

 

Referensi :

  • Tarikh tasyri al-islami oleh Manna’ Qothon
  • Tahdzib at-tahdzib oleh Ibnu Hajar Al-Asqolani
  • Suar Hayatu At-Tabi’in oleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: