Utsman Bin Affan


(23H-35H/644-656M

Nasab dan Kelahirannya

Beliau adalah Utsman bin Affan bin abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murah bin Ka’ab bin Luay bin Gholib al-Quraisy al-Umawi al-Makki[1]. Pada masa jahiliyah beliau  memiliki nama panggilan Abu Amr, dan  pada masa islam beliau dipanggil Abu Abdillah atau Abu Laila.

Beliau dilahirkan di Thaif pada tahun ke’enam dari tahun gajah atau  47 tahun sebelum hijroh. Ia lebih muda dari nabi enam tahun[2].

Bapaknya bernama Utsman, seseorang yang berprofesi sebagai pedagang dan meninggal sa’at berdagang ke Syam.

Sedangkan Ibunya bernama Arwa binti Karis bin Rabi’ah bin Habib bin Abdi Syams bin Abdi Manaf, yang kemudian menganut islam dan menjadi penganut islam yang baik dan Istiqomah. Sedangkan Neneknya adalah Ummu Hakim al-Bidha binti Abdul Muthalib bin Hisyam, dia merupakan kembaran ayah Rasulullah n , Abdullah. Dengan demikian ibunya Utsman adalah anak perempuan bibi Rasulullah n.

 

Perawakannya

Beliau berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, wajahnya tampan,  putih kemerahan. dan di wajahnya terdapat sedikit bekas cacar. Janggutnya lebat dengan tulang-tulang persendian yang besar dan kedua bahunya yang  lebar, betisnya gempal, tangannya panjang. gigi depannya indah, rambut kepalanya menutupi kedua telinganya, memakai semir kuning. Dia menempeli giginya dengan emas[3].

 

Keislamannya

Sahabat Utsman a memeluk islam dengan perantara’an dakwah Abu Bakar Ash-Shidik a. Beliau termasuk kelompok As-Sabiqunal Awalun (Orang-orang yang pertama kali masuk Islam), bahkan termasuk salah satu dari sepuluh orang sahabat yang diberi kabar gembira masuk jannah (al-Asyrah   al-Mubasyirun bil Jannah).  Dan juga beliau merupakan orang yang pertama kali berhijroh dikalangan para sahabat. hijroh yang pertama kali adalah ke Negeri Habasyah bersama istrinya Ruqayyah  yang diikuti oleh kaum Muslimien, yang kedua adalah ke Madinah. Rasulullah n bersabda:

إِنْ كاَنَ عُثْماَنُ الأول مَنْ هَاجَرَ إَلى اللهِ عَزَوَجَلَ بعَدَ لوُطٍ

“Sesungguhnya Utsmanaadalah orang yang pertama kali berhijroh setelah Nabi Lut q [4].

Utsman a termasuk sahabat yang sangat dekat dan dicintai oleh Rasulullah n. Kepadanya Rasulullah n menikahkan putrinya yang bernama Ruqayah dan dari pernikahan dengannya Utsman dikarunia seorang anak yang bernama  Abdullah yang meninggal pada tahun ke’empat hijriah pada umur 6 tahun. ketika terjadi perang Badr, Ruqayyah jatuh sakit sehingga ia tidak dapat mengikuti peperangan, karena merawat istrinya itupun atas izin dari Rasulullah n dan beliau menetapkan baginya pahala peserta perang badr. Tak lama kemudia Ruqayyah pun wafat dan Utsman amerasa sedih, seakan-akan hubungannya dengan Rasulullah n telah terputus. Maka Rasul pun menikahkan dengan putrinya yang lain, yaitu Ummu Kulsum. Hanya saja pada tahun yang ke-7 H  Ummu Kultsum pun meninggal dunia. Rasulullah n tidak memiliki putri  lagi untuk dinikahkan dengan Utsman bin Affan a sehinga beliau bersabda: “kalau saja, Aku mempunyai anak perempuan yang ketiga, niscaya akan aku nikahkan lagi dengan Utsman. Untuk itu Utsman adigelari dengan sebutan Dzu Nuraini, karena hanya dialah yang pernah menikahi dua puteri Rasulullah n .

Setelah Utsman a ditinggal oleh dua putri Nabi n , beliau menikahi sejumlah istri diantaranya [5]:

  1. Fakhitoh binti Ghozawan bin Jabir, dan dari pernikahan dengannya beliau dikarunia anak laki-laki yang bernama Ubaidillah al-Asfhar.
  2. Ummu Amru binti Jundab bin Amru Al-Azdiyah, dengannya dikarunia 4 anak laki-laki, yaitu Amru, Kholid, Aban, Umar dan 1 anak perempuan yang bernama Maryam .
  3. Fatimah binti Walid bin Abdu Syams al-Makhzumiyah, dengannya dikarunia dua anak laki-laki yaitu Said dan Walid, dan 1 anak perempuan bernama Ummu Sa’id.
  4. Ummul Banin binti Uyaynah bin Hisn al-Fazariyah, dan dengannya dikarunia 1 anak laki-laki bernama Abdul Malik.
  5. Ramlah binti Saibah bin Rabiah, dengannya dikaruniai  Aisyah, Ummu Aban, dan Ummu Amru.
  6. Nailah binti Furafishah bin Ahwas, dengannya dikarunia seorang anak perempuan yaitu Maryam.
  7. Ummu Walad, dikarunia seorang anak perempuan yaitu Ummul Banien.

Ketika Utsman syahid hanya ada 4 istri yang bersamanya, yaitu Nailah, Ramlah , Ummu Banien, Fakhitoh binti Ghazawan,. Dan didalam suatu Riwayat Utsman mentalak Ummu Banien ketika dimasa pengepungannya.  Dan dari pernikahannya dengan 9 istri ia dikaruniai 16 anak, terdiri dari 9 anak laki-laki yang 3 orang meninggal ketika masih kecil yaitu Abdullah al-Asfhar,  Abdullah dan Abdul Malik. Dan 6 anak perempuan

 

 

Sifat dan perangainya

Utsman a dikenal dengan seorang sahabat yang memiliki dua sifat utama yang sangat menonjol dalam dirinya, yaitu:

Pertama :  Pemalu

Tidak ada seorang pun yang memiliki rasa malu yang melebihinya, dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa Rasulullah n  bersabda:

أَََصْدَقِ أُمَتِي خَيَاءً عُثْمَانُ

“Umatku yang benar-benar pemalu adalah Utsman.

Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah, seraya dia berkata: “Pada suatu hari  ketika Rasulullah n sedang duduk-duduk dan betisnya terbuka , Abu Bakar meminta Izin untuk masuk , maka Rasulullah  n mengizinkannya tanpa mengubah posisinya. Lalu Umar a juga  datang meminta izin untuk masuk, dan diizinkan oleh rasul tanpa mengubah posisinya, akan tetapi ketika sahabat Utsman ameminta izin,  Rasulullah  n cepat-cepat menurunkan pakaiannya, sehingga Aisyah d berkata : “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berkemas-kemas untuk menerima kedatangan  Abu Bakar dan Umar sebagaimana anda lakukan terhadap kedatangan Utsman. Rasul pun menjawab : “Sesungguhnya Utsman itu adalah seseorang yang pemalu , dan aku khawatir kala aku memberinya izin dalam keada’an itu ia tidak jadi menyampaikan keperluannya kepadaku.

Dalam lafadz yang lain  Rasulullah n mengatakan :

أَلاَ أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتـَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ

“Tidak pantaskan aku merasa malu kepada seseorang yang malaikatpun malu kepadanya (HR. Muslim).

Ibnu As-Sakir meriwayatkan dari Al-Hasan bahwa disebutkan dihadapannya  bagaimana perasa’an malu Utsman. Dia berkata: “Jika saja dia berada disudut rumah, sedangkan pintunya sa’at  itu tertutup kemudian ia menanggalkan pakaiannya untuk disirami air, maka dia tidak akan mengangkat tulang punggunggnya karena rasa malunya.

 

 

Kedua: Dermawan

Sejarah islam telah mengabadikan prestasi dan sumbangsih beliau terhadap perjuangan islam.

Ketika perang tabuk yang pasukannya dikenal dengan Jaisyul Usyrah (pasukan yang berada dalam kesulitan), sebuah ekspedisi dalam misi memerangi Emperium Romawi super power dunia ketika itu. Tatkala itu pasukan islam berada dalam kesulitan yang sangat, sahabat Utsman mempersembahkan segala kebutuhan para mujahidien berupa kuda, onta, makanan, dan harta sehingga kesemuanya diperkirakan berjumlah 900 ekor Onta, 50 ekor kuda ditambah lagi 1000 dinar yang ia letakan dibilik Rasulullah n hingga Rasul menerimanya dan bersabda:

ماَ ضَرَّ عُثْمَانُ مَاعَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ

Tidak ada yang membahayakan Utsman terhadap apa yang dilakukannya hari ini  [6].

Atau dalam hadis yang lain:

مَنْ جَهِزَ جَيْشَ العُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةَِ

“Barang siapa yang mempersiapkan perlengkapan Jaisyur Usyrah, maka baginya adalah jannah [7].

Sebelumnya, pada masa-masa awal setelah hijrahnya kaum Muslimien ke Madinah Utsman a telah membeli sumur Ru’mah (Bi’ru Ru’mah) seharga 20.000 dirham , dari seorang yahudi . Alur ceritanya, ketika musim panas tiba dan sumur-sumur Madinah banyak yang kering. Kaum Muslimien membeli air telaga yang jernih itu dari si Yahudi. Rasulullah n mengharapkan sekiranya diantara sahabatnya ada yang bersedia membeli telaga itu, hingga airnya dapat dialirkan kepada kaum Muslimien tanpa membayar. Maka sahabat Utsman membelinya dan menyerahkannya kepada kaum Muslimien. Rasulullah n pun bersabda:

مَنْ حَفَرَ بِئْرَ رُوْمَةِ فَلَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menggali (membeli) sumur Ru’mah maka baginya adalah jannah.

Indikasi yang lain yang menunjukan kemurahan Sahabat Utsman bin Affan a adalah Tatkala Penganut agama Allah l semakin banyak, masjidpun menjadi penuh sesak, Rasulullah n mengharapkan kiranya ada diantara Kaum Muslimien ada yang bersedia membeli sebidang tanah yang berdekatan dengan masjid itu, agar masjid bertambah lapang dan luas. Untuk kedua kalinya, tidak ada orang lain yang menyambut harapan Rasulullah n (karena kondisi yang tidak memungkinkan), kecuali Sahabat Utsman a. ditemuinyalah pemilik tanah dan bangunan-bangunan yang berdekatan dengan masjid kemudian dibelinya semua dengan harga yang tinggi.

Juga pada masa kekhilafahan Abu Bakar As-Sidiq a,  ketika kaum Muslimien mengalami musim paceklik dan kemarau yang sangat, sahabat Utsman bin Affan  telah menyumbangkan ratusan onta yang penuh dengan muatan gandum, minyak dan anggur.

Dan masih banyak kisah tentang kedermawanan shahabat mulia ini, namun ditengah  hartanya yang melimpah, menantu Rasulullah n ini mampu untuk hidup bersahaja. Syurahbil bin Muslim pernah bercerita: Utsman menyediakan makanan bagi kaum Muslimien seperti makanan raja-raja, padahal ia sendiri hanya makan dengan minyak dan cuka.  Dikatakan pula oleh Abdullah bin Syadad : ” Saya melihat Utsman berkutbah pada hari jum’at dengan memakai pakaian yang harganya hanya empat atau lima dirham saja, padahal ia seorang Amirul Mukminien.

Sejarahwan Islam yang ternama, Imam Ath-Thabari, mengutip pidato khalifah Islam yang ketiga itu sebagai berikut: “Ketika kendali pemerintahan dipercayakan kepadaku, aku pemilik unta dan kambing paling besar di Arab. Sekarang aku tidak mempunyai kambing atau unta lagi, kecuali dua ekor untuk menunaikan ibadah haji. Demi Allah tidak ada kota yang aku kenakan pajak di luar kemampuan penduduknya sehingga aku dapat disalahkan. Dan apa pun yang telah aku ambil dari rakyat aku gunakan untuk kesejahteraan mereka sendiri. Hanya seperlima bagian yang aku ambil untuk keperluan pribadi (yaitu yang dari Baitul Mal) di luar itu tidak ada. Uang itu dibelanjakan untuk orang yang pantas menerimanya, bukan untukku, tapi untuk kaum Muslimin sendiri. Tidak satu sen pun dana masyarakat disalahgunakan. Aku tidak mengambil apa pun dari dana tersebut. Bahkan apa yang aku makan, dari nafkahku sendiri.”

Masa Kekhilafahannya (1 Muharram 24 H/ 7 November 644 M)

Utsman a menjadi khalifah  yang ketiga sepeninggal Umar bin Khatab a. Setelah beliau dibaiat oleh para sahabat pada malam senin pada usia 70 tahun. Dalam menjalankan pemerintahannya beliau masih mengikuti kebijakan dua pendahulunya terkhusus dalam da’wah islam  dan jihad fisabilillah .

Diantara pejabat-pejabat dekatnya adalah [8]: (1) sekretarisnya adalah Marwan bin Hakam, (2) Qodinya adalah Ka’ab bin Sawar, (3) Pembantunya adalah Khomron bin Aban, (4) kepala kepolisian adalah Abdullah bin Qonfadz at-Taimy.

Penaklukan pada masa pemerintahanya[9]

Masa  pemeritahannya , dipenuhi dengan banyak penaklukan sebagai penyempurna penaklukan dimasa pemerintahan Umar aPenaklukan yang beliau lakukan selalu berlanjut, baik melalui jalur darat maupun jalur laut.

  • Di Wilayah Barat

Orang-orang Iskandariah memberontak pada tahun 25 H/645 M, yang kemudian ditaklukan oleh Amr bin al-Ash a.

Utsman a mengizinkan pasukan islam untuk melakukan penaklukan keseluruh benua Afrika. Maka, berangkatlah Abdullah bin Sarh hingga menaklukan Tharablis. Kemudian mereka berhadapan dengan Byzantium di Sabithlah dan berhasil mengalahkan mereka pada tahun 27 H/647M.

Dengan demikian, bergabunglah  Wilayah Barqah, Tharablis, dan wilayah barat Mesir, serta sebagian Nawbah kedalam pemerintahan islam.

Sedangkan Muawiyyah a melakukan serangan ke Siprus melalui jalur laut dan berhasil menaklukannya pada tahun 28 H/648 M. Pada masa pemerintahan Umar a, sahabat Muawiyah berkali-kali meminta kepada khalifah agar diperkenankan untuk merebut Syprus melalui jalur laut, maka Umar pun tidak mengizinkannya untuk melakukan penyerbuan melalui laut, namun Utsman ajustru mengizinkannya.

 

Perang Dzatush Shawari (31H/651M)

Perang ini merupakan perang laut pertama yang dialami kaum muslimien. Dimasa pemerintahan Utsman a kaum muslimien telah memiliki pasukan laut. Pasukan islam berhadapan dengan pasukan Romawi dipantai Kilikiya. Pasukan Romawi mengalami kekalahan yang sangat telak dalam perang ini. Panglima yang bernama kaisar konstantin terbunuh.

Sahabat Muawiyyah terus melakukan penyerangan ke wilayah Romawi hingga mencapai Amurriyyah, sebuah wilayah dekat Ankara, pada tahun 33 H/653M.

  • Di Wilayah Timur

Panglima Umair bin Utsman sampai ke Farghanah pada tahun 29 H/649 M. sedangkan Abdullah al-Laytsi mencapai Kabul, Abdullah at-Tamimy sampai kesungai Hindustan dan Said bin Ash berhasil menaklukan Jurjan.

Persia melakukan pemberontakan, namun berhasil dipatahkan oleh Abdullah bin Amir a. Akhirnya, Panglima Persia Yazdajir melarikan diri ke Karman, kemudian ke Khurasan dan terbunuh ditempat tersebut. Sedangkan wilayah-wilayah yang memberontak (Bughot), kembali berhasil ditaklukan.

Demikianlah penaklukan terjadi, yang pada masanya telah terjadi perluasan beberapa wilayah kedalam pangkuan islam. Misalnya di Afrika, Siprus, Armenia, Sind, Kabul, farghanah, Balakh dan Afghanistan. Kemudian dilakukan penaklukan ulang terhadap negeri-negeri yang melanggar perjanjian seperti di Persia, Khurasan, atau Babul Abwab.

 

Peristiwa Fitnah

Sebagian besar masa pemerintahan Utsman adilalui dengan keamanan, stabilitas, dan kemakmuran. Namun demikian, Allah l  menghendaki pada akhir masa pemerintahannya terjadi gejolak. Terjadi fitnah kubra yang kemudian mengakibatkan terbunuhnya sahabat Utsman  a secara terdzalimi dan terjadi perpecahan ummat serta renggangnya kesatuan mereka.

Syahidnya Khalifah

“Bukakanlah dan beritakanlah kepadanya bahwa ia akan masuk surga  setelah bala yang menimpanya” [10], demikianlah sabda Rasulullah n      Kepada Abu Musa a,, Ketika ada seseorang yang mengetuk pintu, dan ternyata orang tersebut adalah sahabat Utsman a. Maka Abu Musa menyampaikan kepadanya sabda Nabi saw, lalu Utsman mengucap”Alhamdulillah” lantas Ia berkata: “Kepada Allah kami memohon pertolongan.”

Indikasi lain yang menunjukan akan terbunuhnya Utsman sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu As-Sakir dari Zaid bin Tsabit, dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah n  bersabda: “Utsman datang kepadaku,dan pada sa’at itu ada malaikat bersamaku, dia berkata; Dia akan mati syahid dan akan dibunuh oleh kaumnya. Sesungguhnya kami sangat malu kepadanya.

Apa yang disabdakan Rasulullah n  menjadi kenyata’an, Utsman awafat dimasa-masa fitnah. Kebencian yang membara dalam dada-dada orang-orang yang dengki terhadap para shahabat menyebabkan terjadinya fitnah yang mengakibatkan terbunuhnya lelaki yang mulia menantu Rasulullah n ini ditangan para pemberontak setelah beliau dikepung selama 40 hari.

Beliau syahid menjelang terbenamnya matahari dalam keada’an shoum, sabar dan ikhlas.  dan  wafat pada hari jum’at 18 Dzul  Hijjah 35 H. dikuburkan pada malam sabtu, antara maghrib dan isya dipemakaman Baqi. setelah menjadi khalifah selama 12 tahun, ketika itu beliau berusia 82 tahun [11].

Imam Ibnu katsir dalam al-Bidayah Wa an-Nihayah, dan Imam Ad-Dzahabi di Dalam Siyar A’lam an-Nubala meriwayatkan [12]: “Suatu hari beliau shalat subuh, setelah selesai beliau menghadap kepada manusia dan berkata ; “Sesungguhnya tadi malam aku bermimpi  bertemu Rasulullah n , dan aku melihat Abu Bakar dan Umar, mereka berkata kepadaku, ” Bersabarlah wahai Utsman sesungguhnya engkau akan berbuka bersama kami, maka aku bersaksi kepada kalian bahwa pagi ini aku berpuasa dan aku inginkan atas siapa yang beriman kepada Allah l   dan hari akhir agar keluar dari tempat ini dalam keada’an selamat. Lantas beliau meminta mushaf lalu menyibukan diri dengan membacanya dan belum sampai mushaf itu terlipat, mereka telah membunuhnya sedang beliau tetap dalam keada’an membaca.

 

 

 

 

Sahabat Hudzaifah bin Yaman a mengatakan;

أول الفتن قتل عثمان , و أخرالفتن خروج الدجال , والذي نفسي بيده لايموت رجل وفي قلبه مثقل  حبة من حب قتل عثمان إلا تبع الدجال إلا تبع الدجال إن أدركه وإن لم يدركه أمن به في قبره

“Fitnah yang pertama kali terjadi adalah terbunuhnya Utsman, sedangkan fitnah yang terakhir adalah turunnya dajal. Demi Allah yang jiwaku berada ditangannya, tidak akan mati seorang pun yang didalamnya ada rasa senang atas kematian Utsman, kecuali dia pasti akan mengikuti Dajjal jika orang itu sampai pada zaman dajjal. Jika dia tidak sampai kezaman Dajjal, maka dia  beriman kepada Dajjal didalam kuburnya”[13].

Keutama’annya[14]

  1. Orang ke’empat dari kalangan laki-laki yang masuk islam setelah Abu Bakar, Zaid bin Haritsah dan Ali bin Abi Thalib g.
  2. Orang yang telah mempersiapkan perbekalan Jaisul Usyrah.
  3. Rasulullah n telah menikahkannya dengan dua putrinya Rukoyyah dan Ummu kulsum.
  4. Beliau tidak pernah menyanyikan lagu-lagu,tidak pernah mengangan-angankan sesuatu, tidak pernah memegang kemaluannya dengan tangan kanannya sejak ia masuk islam, dan tidak pernah melakukan zina dan mencuri dizaman jahiliyah maupun islam.
  5. Beliau Menghatamkan Al-Qur’annya didalam satu raka’at shalat malam.
  6. Utsman senantiasa berpuasa Dahr.
  7. Tidaklah hari jum’at datang kecuali beliau akan membebaskan  budak.
  8. Ada seratus empat puluh enam hadis yang diriwayatkannya.
  9. Beliau adalah khalifah yang pertama kali memperluas Masjid Nabawi sebagai respon terhadap keinginan Rasulullah n  sa’at masjid tersebut semakin sempit. Beliau membangunnya dengan batu berukir, dan tiang-tiangnya terbuat dari batu.

10.  Penghimpun Al-Qur’an dalam satu mushaf.

11.  Penyatu cara membaca (Qiroat) dalam satu mushaf ketika terjadi perbeda’an dan perselisihan dibeberapa Negara-negara islam.

 

Hal-hal yang pertama kali dilakukan Utsman Radhiallahu Anhu[15]

  1. Orang yang pertama kali memberi tanah kepada siapa yang berhak menerimanya.
  2. Orang yang pertama kali menjadikan binatang mendapatkan perlindungan diladang-ladang.
  3. Orang yang pertama kali merendahkan suaranya disa’at takbir.
  4. Orang yang pertama kali memerintahkan muadzin mengumandangkan adzan sebanyak dua kali pada hari jum’at. Sekaligus yang memberi bayaran kepada para Muadzin.
  5. Orang yang pertama kali tertegun dalam mengucapkan khutbah.
  6. Orang yang pertama kali mendahulukan khutbah hari raya daripada  shalat.

 

Pujian Para Ulama dan Tokoh Kepadanya

Abu Nu’aim berkata tentangnya “Bagiannya disiang hari adalah kedermawanan dan Shiyam, sedangkan dimalam hari sujud dan Qiyamul Lail, ia diberi kabar gembira dengan surga atas bala yang menimpanya [16].”

Disebutkan dalam sebuah riwayat yang shahih dari Abu Bakar ash-Shidiq  a bahwa beliau mendikte Utsman  untuk menuliskan wasiatnya ketika akan meninggal dunia. Ketika sampai pada masalah tentang kekhilafahan, Abu Bakar jatuh pingsan. Maka Utsman menuliskan nama Umar a ketika Abu Bakar  siuman, dia berkata: “Nama siapa yang engkau tulis? Utsman menjawab: “Umar. Abu Bakar berkata: “Seandainya kamu menulis namamu sendiri, maka sebenarnya kamu layak untuk menjabatnya.”

Sahabat Ali bin Abi Thalib aberkata : Sesungguhnya Utsman adalah orang yang paling menjaga  menyambung tali kekeluarga’an dan paling bertakwa diantara kami [17].

Abdurrahman bin Hathib t dia berkata: Saya tidak pernah melihat seorang pun dari sahabat Rasulullah n bicaranya lebih sempurna dan lebih baik darpada Utsman, namun sayangnya dia adalah seorang lelaki yang takut untuk berbicara [18].

Muhammad bin Sirin berkata: Orang yang paling menguasai masalah manasik haji adalah Utsman, dan setelahnya adalah Abdullah bin Umar[19].

Abdurrahman bin Mahdi berkata: “Dua sifat yang tidak dimiliki utsman dan tidak dimiliki Abu Bakar maupun Umar : Kesabarannya sa’at dikepung hingga terbunuh serta penghimpunan mushaf dalam bentuknya yang sekarang[20].

Juga beliau adalah seorang sahabat yang selalu menghidupkan malamnya dengannya Qiyamul Lail, dan menghatamkan Al-Qur’an dalam satu raka’at. Ketika sahabat Utsman  dibunuh oleh para pemberontak yang menyusup kedalam rumahnya, maka istrinya Nailah yang berada di sampingnya ketika itu berkata: ”

لَقَدْ قَتَلْتمُوْهُ وَأنَهَ لَيُحْيُِ اللَّيْلِ فَيَخْتَمُ الْقُرْانَ فِي رَكْعَةٍ

“Sungguh kalian telah membunuhnya, sesungguhnya ia adalah seorang lelaki yang selalu menghidupkan malamnya dengan Qiyamul Lail dan menghatamkan Al-Qur’an dalam satu raka’at.

 

Nasihat-nasihatnya

لَوْ طَهُرَتْ قُلَوْبُكُمْ ماَ شَبِعَتْ مِنْ كَلاَمِ اللهِ وَمَا أُحِبُ أَنْ يَأتِيَ عَلىَّ يَوْمٌ إلِاَّ أَنْظُرُ فِي كَلاَمِ اللهِ

“Jika hati kalian telah bersih, niscya ia tidak akan pernah merasa kenyang dari kalam Allah (Al-Qur’an), dan tidak ada hari yang kedatangannya aku sukai, kecuali ketika itu aku membaca kalam Allah. (Hilyatu Awliya, 7/300 )

Referensi

  1. Tarikh Khulafa, Imam Suyuti, Maktabah al-Asriyah, Beirut, 1409 H/1989 M.
  2. Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-dzahabi, Darul Fikr, Beirut, Cet I: 1417 H/1997 M.
  3. al-Bidayah Wa an-Nihayah, Ibnu katsir, Maktabah As-Sofa, Qohiroh, Cet I: 1423 H/2003 M.
  4. al-Jawhar as-Samin fie Siyar al-Khulafa Wa al-Muluk Wa as-Salatien, Ibrahim bin Muhammad Al-Ala’I.
  5. at-Tarikh al-Islam al-Khulafa Ar-Rasyidun, Mahmud Syakir, Maktab Al-Islami, Cet I; 1400 H/1980 M.
  6. Utsman bin Affan, Muhammad Ridho, Maktabah Isya, Qohiroh, Cet II; 1383 H/1964 M.
  7. Ilmu dan Ulama, Abu Bakar Jabir al-Jazairi.
  8. Sejarah Islam, Ahmad al-Usairy, Akbar Media Eka Sarana, Jakarta, Cet I: Muharam 1423 H/April 2003 M.
  9. Fitnah Kubro (Tragedi pada masa sahabat), Prof. Dr. Muhammad Amhazun, LP2SI Al-Haramain, Jakarta, Cet I;1999 M.
  10. Utsman bin Affan, Muhammad Haikal.

 

 

 


[1] .Siyar A’lam An-Nubala , 2/ 566,  Tarikh Khulafa, hal. 169, Jawharu Samin hal. 44,  Utsman bin  Affan , hal. 8,  Fitnah Kubro, hal. 251, dan Ilmu dan Ulama, hal. 194.

[2] . Utsman bin Affan , hal. 8, Tarikh Al-Islam.

[3] .Siyar A’lam An-Nubala , 2/567, Al-Bidayah wa An-Nihayah, 7/155 , Tarikh Khulafa, hal . 171, Jawharu Samin, hal. 44, Utsman bin Affan, hal. 11.

[4] . Utsman bin Affan, hal. 15.

[5] . Al-Bidayah wa An-Nihayah , 7/ 179, Tarikh Al-Islami , Utsman bin Afan, hal. 9.

[6] . HR. Tirmidzi, dan Hakim.

[7] . HR. Bukhori.

[8] . Jawharu Samin, hal. 44.

[9] . Sejarah Islam , hal. 167-168

[10] . Siyar A’lam An-Nubala , 2/ 570.

[11] . Al-Bidayah wa An-Nihayah, 7/153, Jawharu Samin, hal. 44.

[12] . Al-Bidayah wa An-Nihayah, 7/ 147 , Siyar A’lam An-Nubala,  2/ 607-608.

[13] . Al-Bidayah wa An-Nihayah, 7/155, Tarikh Khulafa, hal .184.

[14] . Sejarah Islam hal 171, Tarikh Khulafa, hal. 169-171, Al-Bidayah wa An-Nihayah, 7/ 147, Siyar A’lam An-Nubala 2/ 572.

[15] . Tarikh Khulafa, hal. 187.

[16] . Hilyatul Auliya, 1/55

[17] . Utsman bin Affan, hal. 69

[18].  Tarikh Khulafa, hal. 170.

[19] . Ibid , hal. 170.

[20] . Ibid, hal. 185.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: