Archive for ‘fiqih’

Januari 25, 2011

HUKUM SHALAT LAIL ( NAFILAH ) BERJAMAAH


  • Muqadimah

Shalat lail merupakan salah satu shalat sunnah yang mempunyai banyak keutamaan. Ia juga merupakan titian para sahabat dalam meraih munajat kepada Allah di luar ibadah yang di wajibkan. Rosulullah j sebagai seorang nabi yang sudah mendapat jaminan dari Allah berupa ampunan dosa dan jaminan masuk jannah tak pernah ketinggalan melaksanakan ibadah yang satu ini baik dalam keadaan mukim atau safar.

read more »

Iklan
Januari 24, 2011

PUASA SUNNAH


بسم الله الرحمن الرحيم

SHAUM SYAWAL

Dalil Disyariatkanya Shaum Enam hari pada bulan syawal : Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah :

Bersumber dari Abi Qotadah Ra, bahwa rasulullah bersabda :

من صام رمضان ثم اتبعه من شوال كان كصيام الدهر

“ Barangsiapa yang shoum Ramadhan kemudian diikuti enam hari sesudahnya, maka dia seperti shaum setahun “. { HR Muslim : 1164, At Tirmidzi: 759 , Abu daud : 2433 } Dalam riwayat yang lain ,bersumber dari  Tsuban Rasulullah saw bersabda :

read more »

Januari 24, 2011

SHALAT TATHAWWU’


A. Pengertian shalat Tathawwu’

Tathawwu’ secara bahasa artinya adalah nafilah yakni segala kelebihan yang baik.[1] Allah Ta’ala  berfirman: “Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang terbaik baginya.” (Al Baqarah: 184)

Jadi Tathawwu’ adalah perbuatan yang dilakukan suka rela oleh seorang muslim atas kemauan sendiri, yang bukan merupakan kewajiban baginya.[2]

read more »

Januari 24, 2011

SHALAT TARAWIH


 

SEBAB PENAMAAN

Kata tarawih adalah bentuk jamak dari dari kata “tarwihah” yang artinya istirahat pada tiap-tiap empat roka’at. Kemudian tiap empat roka’at dari shalat malam disebut juga dengan istilah tarawih. Hal ini didasarkan pada riwayat Imam al-Baihaqi dari Aisyah Radliyallahu’anha:

كان رسول الله سلى الله عليه وسلم يصلي أربع ركعات في الليل ثم يتروح فأطال حتى رحمته

Artinya: “Rasulullah shalat malam empat raka’at lalu istirahat lama sekali sehingga saya merasa iba kepada beliau”.

read more »

Januari 24, 2011

WAKTU-WAKTU YANG DILARANG UNTUK MELASANAKAN SHALAT


  1. a. Batasan waktu-waktu yang dilarang

Para Ulama berbeda pendapat tentang waktu-waktu yang dilarang di dalamnya untuk mengerjakan shalat.

Madzhab Hambali menyatakan bahwawaktu-waktu itu dimulai dari setelah shalat shubuh sampaimatahari naik setinggi tombak, dan dari setelah shalat ‘ashr sampai matahari terbenam, serta ketika matahari tepat berada di atas permukaan bumi sampai condong sedikit ke barat.

read more »

Januari 24, 2011

ZAKAT TANAMAN DAN BUAH-BUAHAN


Kedudukan Para Ulama Mengenai Zakat

Tanaman dan Buah-buahan

 

Dalil-dalil mengenai zakat tanaman dan buah-buahan

  1. Dalil dari Alqur’an

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah :267)

read more »

Januari 24, 2011

SHOLAT DUA HARI RAYA


 

DEFINISI DAN PENSYARIATANNYA

Kata العيد berasal dari kata العود yang berarti الرجوع والمعاودة (kembali dan berulang-ulang), dinamakan demikian karena selalu berulang يتكرر  . Awalnya dari kata العود  lalu huruf wawu diganti dengan ya’ (ي), seperti pada kata الميقات dan kata الميزان  yang berasal dari kataالوقت  dan الوزن. Jama’ dari العيد adalah أعياد , menurut Imam al-Jauhari, dijama’kan menjadi اعياد dan bukan menjadi أعواد adalah untuk membedakannya dengan

read more »

Januari 24, 2011

Seputar Masalah Sholat dan Khutbah ‘Ied


1. Dzikir diantara Takbir
                Tidak benar dari Nabi, ada dzikir tertentu di antara takbir-takbir dalam shalat ‘Ied. Namun telah ada riwayat dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu, bahwa ia berkata tentang shalat 'Ied; "Diantara dua takbir memuji Allah Azza wa Jalla dan menyanjung Allah (Riwayat a-Baihaqi (3/291) dengan sanad yang kuat).
                Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam diam sejenak di antara dua takbir dan tidak didapati dari beliau dzikir terntentu di antara takbir-takbir itu. Tetapi disebutkan dari Ibnu Mas'ud, bahwa ia berkata; "Memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. (Zaadul Ma'aad (1/443)
                Masalah dzikir diantara takbir hampir sama dengan pendapat masalah mengangkat tangan saat takbir 7 dan 5 kali.
                Disebutkan tidak benar Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengangkat kedua tangannya bersama takbir-takbir Ied. Tetapi Ibnul Qayyim mengatakan "Adalah Ibnu Umar radhiyallahu'anhu dengan perhatiannya dalam mengikuti sunnah beliau mengangkat kedua tangannya bersama setiap takbir. (Irwa'ul Ghalil (3/112-113)
                Jadi kita bisa melihat bahwa kedua hal tersebut diatas boleh dilakukan hanya saja yang takbir dengan mengangkat tangan dan membaca dzikir diantara takbir adalah dicontohkan oleh Sahabat. Sedangkan yang tidak mengangkat tangan dan tidak membaca dzikir diantara takbir yang dicontohkan Nabi  shallallahu 'alaihi wasallam.
Syaikh Bin Baz dan Al-‘Utsaimin mengomentari, "Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
  
read more »
Januari 24, 2011

Bagaimana lafadz adzan حي على الصلاة ” “ketika hujan ?



Bagaimana lafadz adzan ketika hujan yang sangat deras ?

Ada sebuah pertanyaan : apa yang harus dikerjakan oleh seorang muslim di sebuah desa yang jauh dari tempat sholat jama’ah (masjid) sekitar 200 km ? apakah dia diharuskan menjama’nya antara shalat dan ashar, jika ia tidak bisa melaksanakan shalatnya, dikarenakan kecapean yang sangat untuk melaksanakan shalat ashar ?

read more »

Januari 24, 2011

SHOLAT TAHYATUL MASJID


 

(1). Perintah sholat tahiyatul masjid

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ السَّلَمِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

Dari Abu Qatadah bahwasanya Rasulullah bersabda,” Apabila salah seorang di antara kalian masuk masjid hendaklah sholat dua raka’at sebelum ia dduk.” Dalam riwayat lain :

فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ

” Hendaklah ia tidak duduk kecuali setelah sholat dua raka’at.”[1]

read more »